Miracle In December
Writer/Author: Na U-Young
Main Cast : Huang Zi Tao (Tao)
Kris & / Wu Yi Fan
Other Cast : Xi Luhan (Luhan)
Oh Sehun (Sehun)
Wu Ji Han (OC)
Genre : Romance, Angst, Hurt-Comfort, Brothership, YAOI.
Rate : T – M
Warning : Dont like dont read, no bash, no flame, no war. My own story
no copast, Typo, Kesalahan EYD harap dimaklumi.
Summary : "Tuhan... Permintaan terakhirku di bulan desember ini yaitu aku ingin melihatnya untuk yang kedua kalinya, kesekian kalinya atau yang terakhir kalinya jika kau masih mengizinkan aku untuk bernapas, walau mata ini tertutup lagi, walau raga ini tidak bisa bergerak setidaknya aku bisa merasakan kehadirannya."
CHAPTER 3...
.
.
.
.
Seoul's Hospital
"Maaf Wu Jihan-ssi Nyawa anak anda tidak bisa kami selamatkan... kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya."
Seorang dokter yang baru saja memeriksa keadaan Yi Fan keluar dari ruangan dimana Yi Fan di rawat. Dengan mimik yang penuh duka, dokter itu mengucapkan bela sungkawa nya pada pria paruh baya yang merupakan sahabatnya yang kini terdiam menangis saat ia menyampaikan berita duka ini. Ia sungguh tak tega, ia tahu anak yang selalu dicari sahabatnya ini sangatlah terpukul. Apa mau dikata sudah Tuhan berkehendak lain.
DEG
"YIFAAANNN! Hiks... anakku Taebum-ah... anakku... aku telah membunuhnya... aku pembunuh Tae... hiks..."
Wu JiHan menangis meronta sembari menarik jas putih yang dikenakannya sahabatnya yang berprofesi sebagai dokter. Hingga tubuh dokter itu ikut terguncang akibat rontaan, amarah dan rasa sedih yang di alami laki-laki paruh baya ini.
"JiHan-ssi... maafkan aku... aku sudah berusaha menyelamatkan nyawanya namun Yi Fan kini sudah berada bersama Tuhan. Relakan dia hyung..."
Dokter yang di ketahui bernama Taebum berusaha menenangkan Ayah dua anak ini. Ia terus merangkul dan mengusap punggung yang tidak sekokoh lagi seperti saat muda dulu.
"Untuk masalah operasi mata Yi Fan, kita bisa melakukannya segera saat anak itu tiba. Kumohon... kau harus tabah dan kuat hyung..."
Wu JiHan hanya mampu menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti sambil menahan tangisnya yang akan keluar lagi. Bertemu lagi dengan anaknya dan berpisah kembali dengan anaknya.
.
.
At Luhan Bakery
CKIEET...
Suara mobil dengan kecepatan sedang itu berbunyi karena gesekan antara ban dan aspal akibat sang pengemudi yang meng-rem mobilnya dengan tergesa-gesa berhenti di sebuah toko roti milik kekasihnya.
"Lu... bagaimana keadaan Yi Fan? Mana Zi Tao?" Tanya pria jangkung yang berdiri dihadapan sang kekasih yang menatapnnya sedih.
"Sehunie... Yi Fan sekarat. Ia sudah dilarikan kerumah sakit terdekat. Dan orang yang telah menabraknya akan bertanggung jawab akan hal ini. Aku takut Sehunie... kasihan Zi Tao. Hiks..." Tangis Luhan pecah dengan penuh simpati Sehun merangkul dan menenangkan sang pujaan hatinya yang saat ini rapuh.
"Ne... tenanglah Lu. Aku yakin Tuhan akan menyelamatkannya. Kau tenanglah sayang. Sekarang bangunkan Zi Tao, kita harus segera ke Rumah Sakit sekarang."
"Ne... Senunnie..." Luhan menggangguk patuh dan berjalan ke arah seorang anak yang tertidur di sebuah sofa panjang berwarna putih.
"Zi Tao... Zi Tao... bangun... kita ke Rumah Sakit ne... hiks..."
"..."
"Nghh... Ge... Yi Fan ge?" Tao menggeliatkan badannya saat mendengar seseorang memanggilnya. Tapi seketika ia berhenti dan terkejut. Suara yang ingin ia dengar mengapa bukan suara Yi Fan. Kemana kakaknya kini, tanyanya dalam hati.
"Ne... kita menemui Yi Fan ge di Rumah Sakit Tao. Kau maukan?" Luhan menggigiti bibirnya tidak tahan lagi menahan air matanya saat dirinya dihadapkan dengan rapuhnya sosok remaja yang ada dihadapannya bingung dan masih mencerna apa yang dibicarakan Luhan pada Tao.
DEG...
"Yi Fan ge... Ani... Luhan ge... aku ingat Yi Fan ge... dia kecelakaan karena diriku ge! Ppali... temui Yi Fan ge... aku ingin bertemu dengannya ge... jebaal..." Tao yang sudah mengingat apa yang telah terjadi beberapa jam lalu segera membenarkan posisinya menjadi duduk dan mencengkram baju Luhan yang duduk berjongkok di depannya.
"Ne... kau doakan saja ne, semoga Yi Fan ge cepat sadar kembali. Kau harus kuat ne... apapun yang terjadi kau harus mengikhlaskan nya ne. Kasihan Yi Fan jika ia tau adiknya yang sangat manis ini bersedih." Ujar Luhan sembari mengusak surai hitam milik Tao yang menggangguk mengerti dan tersenyum kecut sambil menahan tangis.
"Oke... kajja..." Sehun memotong percakapan Luhan dan Tao lalu segera menuntun Tao untuk berjalan memasuki mobilnya.
.
.
.
Seoul Hospital
Sesampainya di Rumah Sakit Sehun, Luhan dan Zi Tao segera bertenya kepada pusat pelayanan informasi di Rumah Sakit tersebut.
"Permisi nona, kami ingin bertanya ruangan untuk laki-laki bernama Wu Yi Fan ada diruangan mana sekarang?" Tanya namja berkulit hampir albino yang terlihat tergesa-gesa.
"Wu Yi Fan? Sebentar. Saudara Wu Yi Fan baru saja dipindahkan ke ruang jenazah. Ruangannya ada di lantai 1 ini tepatnya disebelah kanan dari lorong itu. Silahkan anda mengikuti petunjuk yang menunjukkan arah ruangan yang tersedia."
"Tunggu ruang Jenazah? Apa tidak salah?" Tanya Luhan berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
"Ne... benar." Ujar pegawai itu.
DEG
DEG
"Jenazah? Ruang jenazah? Yi Fan ge...! Andwae... Ini tidak mungkin Luhan ge, Sehun hyung ini mustahil. Hiks... andwae Yi Fan!" Tao langsung histeris, tubuhnya menolak. Ia meronta, menagis sejadi-jadinya.
'Bagaimana bisa Yi Fan ge yang tadi pagi sehat-sehat saja. Kenapa ia sekarang? Apakah ia benar telah meninggalkan aku Tuhan? Kenapa? Salah apa aku Tuhan?' Tao menjerit didalam hatinya. Semua berlalu terlalu cepat. Ini mustahil ujarnya membatin sambil menangis terisak dipelukan Luhan.
"Kau harus kuat Tao. Yang tabah ne... kita akan keruang rawat Yi Fan sekarang." Luhan memberikan pengertian pada Tao yang menenggelamkan wajahnya yang basah di dada Luhan. Sehun yang melihat keadaan Tao yang sangat terpukul dan kehilangan sahabatnya sangatlah terluka.
'Kenapa jadi begini Tuhan?' Sehun mengusak surai coklat karamelnya dan berjalan dibelakang mengikuti Luhan dan Tao yang saling bergandengan tangan.
.
.
"Sehunie... tolong kau jaga Zi Tao sebentar. Aku akan menemui orang itu." Ujar Luhan menunjuk kearah seorang pria paruh baya yang yang sedang berdiri di dalam ruangan tempat Yi Fan dirawat sebelum meninggalkan Sehun dan Tao yang sedang duduk di depan ruangan jenazah.
"Permisi Tuan... aku adalah sahabat dari korban Wu Yi Fan." Luhan membungkuk hormat pada laki-laki paruh baya yang menjadi tersangka dalam kasus ini. Siapapun, Luhan tetap menghormatinya sekalipun orang itu tersangka. Ia tidak boleh gegabah.
"Nak... kumohon maafkan aku... aku sudah berusaha. Aku... sudah berusaha untuk menyelamatkan anakku apapun yang terjadi. Hiks..." Ujar pria itu sambil membunkukkan badannya karna merasa sangat bersalah. Namun... tunggu anak? Luhan bingung dengan perkataan orangtua ini.
"Maksud Tuan? Anak? Siapa? Anak siapa? Aku sungguh tidak mengerti..."
"Wu Yi Fan. Ia adalah anakku. Anak yang selama ini aku cari. Aku sudah mencarinya beberapa tahun belakangan ini. Saat aku tau ia tinggal disebuah apartemen sederhana, hatiku sungguh bahagia hingga aku berlari menuju mobilku dan melajukan kecepatan mobilku sesegera mungkin agar aku dapat bertemu dengan anakku. Namun... aku... aku... hiks... aku membunuhnya... hiks..."
BRUKK...
Tubuh pria paruh baya tersebut langsung terduduk lemas dilantai Rumah Sakit yang dingin. menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang berkerut.
"Hiks... Yi Fan...!" Luhan langsung menolehkan kepalanya pada salah satu jenazah yang berbaring tertutup kain polos. Ia berjalan sambil menahan tangisnya. Air matanya bercucuran, dan terisak pilu. Tubuhnya bergetar saat ia mencoba memberanikan diri membuka kain penutup Yi Fan.
DEG...
"Yi Fan... hiks... kenapa kau cepat sekali meninggalkan kami eoh? Dasar tiang listrik... apa hiks... kau tidak kasihan dengan uri Zi Tao. Bukankah kau berjanji akan merayakan ulang tahunnya eoh? Ia ingin sekali naik bianglala bersamamu. Sungguh... aku tidak sanggup mengurusnya. Aku hiks... tidak mampu. Aku sayang dengannya, tapi apalah arti diriku yang tidak sebanding denganmu. Aku tau kau sangat sayang dengannya... ah... ani... kau terlalu mencintainya. Banguunnn Yi Fan..." Luhan mengguncang-guncangkan pelan tubuh orang yang sudah tidak memiliki nyawa lagi.
"Nak... aku berjanji... aku berjanji akan mempertanggung jawabkan semuanya. Apapun demi menebus kesalahanku. Aku akan melakukan apapun." Pria paruh baya itu bangkit dari duduknya dan berdiri disamping Luhan yang masih menggoyang-goyangkan tubuh Yi Fan.
"Anda akan mempertanggung jawabakannya Tuan? Bagaimana? Tidak mungkinkan anda mengembalikan Yi Fan seperti semula?"
"Aku sudah berjanji pada Yi Fan untuk membuat Tao dapat melihat, nak. Ia menyuruhku untuk mendonorkan matanya untuk Zi Tao. Jadi kumohon bantuanmu. Setelah Zi Tao dapat melihat kembali aku berjanji akan merawatnya seperti anakku sendiri. Aku akan membawanya tinggal bersamaku."
"Jika itu kehendak Yi Fan, aku menyetujuinya Tuan. Kumohon sayangilah Zi Tao. Ia anak yang sangat rapuh dan ketergantungan dengan Yi Fan. Aku mengandalkan anda Tuan." Luhan membungkuk dan tersenyum miris mendengar pertanggung jawaban dan permohonan mulia Yi Fan untuk adik tercintanya Tao.
"Baik... aku akan segera mengurus semuanya... dan siapa nama mu nak?" Tanya Tuan Wu.
"Aku Xi Luhan"
"Baiklah aku permisi dulu." Tuan Wu meninggalkan ruangan jenazah anaknya dan segera mengurus segala keperluan administrasinya untuk pendonoran mata Yi Fan untuk Tao diikuti Luhan yang berjalan keluar menghampiri kekasihnya Sehun yang setia menenangkan Tao agar berhenti menangis.
"Zi Tao... apa kau ingin menjenguk Yi Fan ge?" Tanya Luhan sambil berjongkok menyelasraskan dengan posisi Tao yang sedang duduk.
"Ne... Luhan ge... aku ingin bertemu dengan Yi Fan ge. Apa dia baik-baik saja?" Tanya Tao polos.
DEG...
Luhan terkejut akan pertanyaan yang dilontarkan Tao. Hingga ia menengadahkan kepalanya menatap Sehun yang diliputi rasa khawatir. Hingga Sehun tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebagai pertanda bahwa semua akan baik-baik saja.
"Ne Tao... Yi Fan sekarang sedang tidur. Kau jangan ribut eoh. Kasihan Yi Fan ge... bukankah ia lelah seharian ini bekerja." Bohong Luhan.
"Ne... Tao mengerti ge. Tao kan anak pintar. Kris ge... hiks... sudah bekerja keras.. hiks.. demi Tao. Hehe..." Disela-sela tangisnya Tao mencoba untuk menguatkan hatinya dengan tersenyum memamerkan ketegarannya.
"Kajja..."
.
"Mana Yi Fan ge?" Tanya Tao bingung sambil menarik-narik lengan kaos milik Sehun.
"Itu... Ia sedang tidur Tao." Ujar Sehun sambil mengiring tubuh Tao untuk mendekati ke salah satu ranjang rawat untuk pasien. Tao mencoba meraba-raba tubuh yang kini ada dihadapannya. Ia raba mulai dari ujung kaki kris, lengan, dada hingga mengusap pelan wajah dan rambut Yi Fan.
"Yi Fan ge... ini Tao, ge. Apa Yi Fan ge sangat nyenyak tidurnya hingga tidak sadar Tao ada disini. Hihi... Gege... hiks... cepat sembuh yah. Tao ingin dipeluk gege lagi..."
Luhan yang tak mampu menahan tangis segera merapatkan tubuhnya pada sang kekasih Sehun dan menenggelamkan wajahnya guna meredam isak tangisnya saat melihat ketegaran Tao yang masih berharap bahwa Yi Fan kembali. Sehunpun tidak tahan menahan air matanya walau suara tangis yang hampir tak bersuara. Hanya merengkuh erat tubuh mungil Luhan sambil sesekali mencium puncak rambut orang yang tercinta. Hingga datang seorang pria paruh baya yang hanya berdiri menyaksikan percakapan ketiga namja yang berbeda pesona itu.
"Lu ge, Sehun hyung... kenapa Yi Fan ge tidak menjawab pertanyaan Tao?"
DEG...
Luhan langsung melepas pelukkannya dari Sehun dan mendekati Tao yang mencari keberadaannya. Lalu ia menyadari Mr. Wu yang berdiri menganggukkan kepalanya tersenyum khawatir.
"Zi Tao... Yi Fan kan sedang beristirahat. Tao harus beristirahat juga ne. Supaya besok bisa melihat Yi Fan lagi."
"Melihat? Apa maksud Lu ge?"
"Ani... maksud ge, supaya Tao bisa menjenguk Yi Fan ge lagi. Tao jangan sampai sakit apa kau tega Luhan ge dan Sehun hyung dimarahi sama Yi Fan ge?"
"Uuum... ne baiklah. Lalu siapa yang akan menjaga Yi Fan ge?"
"Biar Sehun hyung saja yang akan menunggu disini. Kau dan Luhan ge istirahat dulu dirumah. Semua akan baik-baik saja kok." Ujar Sehun mengusap bahu Tao dan tersenyum sedih menatap Luhan yang menutupi mulutnya dengan tangan menahan tangis.
"Luhanie... aku akan mengurus semuanya. Kau pulanglah duluan, aku akan menelponmu jika ada sesuatu." Luhan mengangguk dan mendaratkan ciuman singkatnya dibibir tipis Sehun lalu beranjak pergi meninggalkan Rumah Sakit bersama Tao.
"Tuan, aku Sehun teman dari Yi Fan." Sehun memperkenalkan dirinya sopan dan berusaha tetap tenang.
"Aku Wu JiHan, dan aku adalah ayah kandung Yi Fan. Aku memang bersalah nak, namun aku sudah berjanji mengabulkan permintaannya sebelum ia tiada."
"Apa itu Tuan Wu?"
"Yi Fan ingin mendonorkan matanya untuk Tao. Kumohon bantuannya untuk pengoperasian besok."
.
.
"Lu... Tuan Wu bilang operasi pendonoran mata akan dilakukan besok. Kita harus buat skenario agar Tao bisa di operasi besok." Ujar Sehun setelah merebahkan tubuhnya disamping Luhan. Sehun baru saja pulang dari Rumah Sakit dan ia ingin melihat keadaan kekasihnya dan Tao.
"Apakah semua akan baik-baik saja Sehunie?"
"Tao adalah anak yang kuat. Ia pasti bisa melalui ini semua. Yang terpenting Tao harus bisa di operasi besok. Kau mengerti apa yang harus kau lakukan ne?" Tanya Sehun.
"Iya aku mengerti. Jja... kita sebaiknya lekas tidur." Ujar Luhan sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan Sehun.
"Good night Deer..."
.
.
"Tao er... baby...!" Seorang namja tampan berdiri merentangkan kedua tangannya menyambut sang adik yang terdiam terpaku dihadapannya.
"Kemarilah Tao..." Ujar namja itu mengulurkan tangan kanannya untuk meraih tangan Tao.
'Ge... itukah Kau Yi Fan ge?' Tanya nya pada sesosok namja dewasa dengan keadaan pakaian yang bersih dan rapi tersenyum teduh.
'Tunggu... bagaimana aku bisa melihat sosoknya Tuhan. Benarkah orang yang ada dihadapanku ini adalah Yi Fan ge...' Sejenak Tao memejamkan matanya dan menghirup napas dan di keluarkannya lagi. Perlahan ia membuka kembali mata pandanya dengan pandangan yang sedikit mengabur. Ia mengernyitkan alisnya dan mencoba membiasakan cahaya yang masuk di retinanya.
DEG...
"Kau... kau siapa?" Tanya Tao yang langsung melepaskan tangan yang semula digenggam oleh Yi Fan. Namun, dibalas senyuman teduh menatap takjub karna akhirnya adiknya bisa melihatnya kini.
"Aku Wu Yi Fan... Gege tertampan milik seorang Huang Zi Tao." Ujar Yi Fan mengelus surai hitam adik laki-lakinya sayang.
"Benarkah kau Yi Fan ge?"
Tao mengulurkan tangannya hendak menyentuh wajah Yi Fan yang sangat ia rindukan dengan mata yang terbuka. Tidak... ia tidak ingin menutup matanya lagi jika ia bisa melihat Yi Fan di depannya kini. Berkedip pun ia merasa sangat menyesalinya. Tao ingin menatap terus wajah tampan Yi Fannya.
"Ah... benar... ini Yi Fan ge... Wu Yi Fan yang tertampan milikku seorang. Milik Huang Zi Tao. Tapi... mengapa Tao bisa melihat ge? Apa Tuhan baru saja mengabulkan doa Tao?"
GREP...
Yi Fan langsung memeluk erat tubuh Tao, sesekali diciumnya puncak kepala Tao menghirup aroma vanila yang menguar natural dari tubuh Tao. Ia tersenyum, hingga setetes air mata milik Yi Fan keluar beegitu saja. Sungguh ia tak mampu menahannya lagi.
"Ne... Tuhan sudah berkehendak Tao. Ia mengabulkan semua doa-doa kita. Doa agar kau bisa melihat. Dan kau senangkan?"
"Ne... Tao sangat... sangat bahagia... Uum.. Ge, aku ingin melihat wajahmu lagi bolehkah?" Yi Fan melonggarkan pelukkannya dan membungkukan sedikit tubuhnya mendekatkan wajahnya tepat di wajah Tao.
"Tentu saja boleh... kau bahkan bisa melihat diriku yang terus ada didirimu setiap hari bahkan selamanya."
"Diri gege ada di didiriku? Maksudnya apa ge? Bukankah gege memang seharusnya bersamaku terus. Iyakan ge?" Tanya Tao sambil mencengkram kuat bahu Yi Fan.
"Benar baby panda. Aku akan selamanya ada denganmu. Apapun keadaannya aku tetap ada didirimu bahkan hingga sosok yang akan menggantiku pun sudah sudah semakin dekat denganmu?"
"Gee!" Tao langsung menubruk tubuhnya memeluk tubuh Yi Fan dengan sangat kuat. Seolah-olah tak ingin melepaskannya lagi.
'Tidak... tidak saat ini Tuhan... aku mohon' Tao terus berdoa dan terisak sambil terus menghirup aroma manly yang menguar sangat wangi dan menenangkan. Aroma ini... ia tidak akan pernah melupakannya seumur hidup.
"Aku mencintaimu Tao..."
"..."
"Aku sungguh mencintaimu. Mencintai semua yang ada di dirimu Tao. Berbahagialah... demi gege mu Wu Yi Fan."
"ANIYO! GE! Jangan melepas pelukanku ge... aku masih ingin seperti ini ge... kumohon..." Tao terus mengeratkan pelukkannya saat Yi Fan berusaha melepaskannya. Yi Fan tersenyum miris akan sikap posesif adiknya. Ia pun merasa berat. Namun sekali lagi... ia bisa apa. Ia hanya pasrah dan merelakan semuanya yang telah diatur indah oleh Tuhan. Mungkin ini yang terbaik.
"Tao baby... maukah kau melihat wajahku lagi? Bukankah kau senang memiliki gege yang tampan... hehe..."
"Ne... Tao mau..." akhirnya Tao melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah sang kakak yang tersenyum cerah.
"Mata, hidung, bibir dan rambutmu sangat indah ge... aku menyukainya." Tao meraba seluruh permukaan wajah Yi Fan sambil tersenyum senang. Hingga tangan Yi Fan ikut terjulur menghentikan pergerakan Tao dan mengecup jari serta punggung tangan kanan Tao dengan sayang.
"Semua akan baik-baik saja Tao. Gege akan berusaha memanjatkan doa pada Tuhan agar kita bisa terus bersama. Kau maukan berdoa juga?"
"Uum... Tao pun akan berdoa. Demi aku dan gege. Aku... aku sangat mencintaimu ge."
"Kau memang yang terbaik Tao er. Tutuplah matamu..."
"ANIYO! Tao tidak mau...! Nanti bagaimana kalau gege meninggalkan Tao? Tidak mau!"
"Geez... kau masih keras kepala juga eoh! Padahal gege Cuma ingin menciummu. Masa kau tidak mau... ya sudah..." Yi Fan pura-pura merajuk dan memalingkan wajahnya sembari berdiri tegang menyilangkan tangannya.
GREP...
Tao langsung menarik baju Yi Fan hingga tubuh Yi Fan sedikit membungkuk.
BLUSH...
Tao dan Yi Fan sama-sama menampakkan rona merah di pipi keduanya. Tao tiba-tiba mencium bibirnya hingga Yi Fan tersadar dan mulai melumat bibir yang sangat manis dan penuh menurutnya. Hingga lenguhanlah yang keluar dari bibir Tao saat Yi Fan menghisapnya kuat. Namun mengapa dirasa ciuman ini mulai mulai melonggar tanya Tao bingung dalam hati. Hingga ia membukakan matanya kembali.
DEG...
Dilihatnya sosok Yi Fan yang perlahan menghilang bagaikan tersapu asap putih. Seketika Tao melepaskan tautan bibirnya dengan Yi Fan. Dan Yi Fan hanya tersenyum sambil menyentuh bibir Tao yang penuh dengan saliva entah milik siapa.
"Aku mencintaimu Tao. Till the end of time. Berbahagialah... Saranghae..." Sosok Yi Fan kini benar-benar hilang entah kemana angin telah membawa tubuh itu.
DEG...
"YI FAN! YI FAN! JANGAN PERGI... KAU DIMANA GE! JANGAN TINGGALKAN TAOO!" Tao menjerit, berteriak dan segara membuka kembali matanya entah mengapa tertutup lagi. Padahal ia baru saja melihat Yi Fan nya.
'Gelap? Dimana ini Tuhan? Dimana Yi Fan?' Batinnya bingung kenapa dengannya.
Dengan tergesa-gesa Tao bangun dari kasurnya, menyibak selimut tebalnya dan beranjak berlari tergesa. Ia berharap dapat bertemu dengan Yi Fan saat ini juga. Hingga ia lengah akan sesuatu hal. Saat berlari Tao tidak sadar ada tangga di ujung lorong, tubuhnya oleng terjatuh dari beberapa anak tangga hingga kepalanya kini terlihat darah segar yang keluar dari pelipis dan hidungnya.
"Tao!" Sehun terkejut mendengar suara riuh dari samping kamarnya dan Luhan langsung berlari keluar kamar dan menyalakan lampu sebagai penerang ruangan. Ia tenggokkan kepalanya melihat pintu kamar yang Tao tiduri terbuka. Dengan langkah yang tergesa dan hatinya berdegup kencang saat melihat sesosok orang yang sangat dikenalnya terlentang tidak sadarkan diri.
"TAO!"
.
.
Seoul Hospital
"Saudara Huang Zi Tao mengalami geger otak ringan. Dan ia mengalami sedikit keretakan di kaki kirinya. Namun itu masih bisa kita lakukan perawatan untuk kesembuhannya. Masalah pengoperasian matanya kita tunda sementara hingga lusa. Baiklah saya permisi dulu." Pamit seorang dokter setelah memeriksa keadaan Tao yang masih belum sadarkan diri. Sehun, Luhan dan Mr. Wu menatap prihatin dan khawatir dengan keadaan Tao. Sehun terus menenangkan Luhan yang terus terisak. Ia sendiri bingung harus mengucapkan kata apa lagi untuk kekasihnya.
"Kita harus segera memakamkan Yi Fan. Terlebih masalah pengoperasian kita harus melaksanakannya segera sebelum Tao sadar." Setelah mengucapkan itu Mr. Wu beranjak keluar dari ruang rawat Tao. Ia bingung dengan masalah berat yang menimpanya. Ia sangat bersalah dan sangat prihatin dengan Tao yang terlihat rapuh.
.
.
.
TBC
Ayyooo ada gaakk yang nangis...?
Gumawo yang udah Review, Fave & Follow. Ya walau yang review sedikit tapi aku masih menghargai yang udah mau meluangkan waktu reader yang baca dan nge respon FF tersedih yang pernah ku buat. JUJUR! Aku yang buatnya ini nangis sampe tisu habis buat ngelap air mata sama ingus. Mana lagi demam & Flu. Tapi aku tetap pengen buat karna masih ada yang menghargai FF ku ini. Mohon REVIEW nya lagi PLEASE...! Mohon dukungannya & koreksi atau masukannya karna aku gak ngedit lagi, gak kuat takut nangis lagi. Hiks... "REVIEW YA...!"
Maaf baru bisa repiu...
Lvenge : Tepat ada yg dead. Hehe... Tapi tenang aja Tao gak akan kesepian kok...^^
SFA30, Aiko Michishige, Icegreentealatte, Chikari, Xyln : Oke... thank U... maaf yah aku lama post chap baru...^^
Fanoy5 : Cup... cup... aku yg buat juga nangis. Hahaha... Makasih yah...^^
VijnaPutri : Waah... feel nya dapet ya... syukurlah... senang deh..^^ iyah, tunggu aja di chap berikutnya yah.
Celindazifan : Uwiih... Nyentuh banget? Ini udah lanjut lagi. Makasih yah...^^
-KTS-
