"Hiks, apa salahku dimasa lalu hingga kau menghukumku seperti ini hiks."
"AARRGGHH."
Dan sisa siang itu dihabiskan Sehun untuk menangis meratapi nasibnya dan keluarganya.
.
.
.
Kim jie ya present
.
.
Cita dan cinta
.
.
Kaihun
.
.
Warning : typoo bermekaran, mpreg, crackpair,alur lambat.
Jiejie butuh saran. Don't be silent readers. Karena yang silent silent itu nyeremin
.
Italic for flashback.
Enjoy.
.
Jongin terdiam sembari menatap ponselnya. Hatinya bimbang, apakah dia harus menghubungi Sehun atau tidak. Dia merasa bersalah, tentu saja. Tapi egonya yang menyebalkan itu yang membuatnya membentak Sehun kemarin.
Sungguh itu hanya faktor emosi saja. Jongin merasa bersalah tentang keadaan hubungannya dengan Sehun, juga tentang appa Sehun. Secara tidak langsung Jongin berperan dalam drama itu.
Jongin tersentak merasakan tepukan di bahu kirinya. "Chanyeol hyung."
"Sedang apa kau disini? Kenapa tidak pulang? Tugas sudah selesai, Jong."
"Aku hanya-..."
"Masalah Sehun? Hubungi saja dia." Jongin mengangkat kepalanya. "Selesaikan masalah kalian, sebelum kalian menyesal."
"Tapi, hyung-..."
"Kau tau? Kau adalah orang ter egois yang pernah aku temui. Jika kau memang mencintainya, kau juga harus mampu berkorban untuk mendapat kebahagiaan. Apalagi dia mencintaimu, amat mencintaimu."
"Bagaimana hyung tau?" Chanyeol menghela nafas.
"Kau ini bodoh atau bagaimana? Dia telah menunggumu selama delapan tahun, melupakan fakta bahwa kau pernah meninggalkannya, menyakitinya. Melupakan kenangan buruknya tentang appanya hanya demi kau, kkamjong. Dan kini kau malah bertanya bagaimana aku tau? Semua orang yang mendengarnya pasti tau hal itu, bodoh." Ucap Chanyeol ngga nyantai #apaitu.
"Terima kasih, hyung." Senyum Jongin tersemat, kini dia yakin. Tangannya mengetikkan nomor yang telah dihafal diluar kepalanya. Senyum itu luntur saat mendengar suara operator lah yang menjawabnya.
"Sial!" umpatnya. Disebelahnya Chanyeol tertawa.
"Jika mencintainya, kejarlah dia. Saat dia pergi menjauh dan tak dapat kau gapai lagi, saat itulah kau merasa... galau." Chanyeol tertawa diakhir kalimat, dan berjalan pergi untuk pulang. Meninggalkan Jongin yang menatapnya aneh.
'Tadi menyemangatiku, sekarang membuatku down, orang ini benar-benar'
Sedangkan Chanyeol menghentikan senyumnya begitu dia keluar dari markas pemadam kebakaran, tergantikan oleh senyum kecil.
"Kenapa hanya mengorbankan cita-citamu saja tak mau? Aku bahkan mengorbankan ginjalku demi 'dia'." Ponsel Chanyeol berdering, pemuda tinggi itu segera mengangkat panggilannya.
"Halo?"
"..."
"Iya iya, aku dalam perjalanan, tunggulah sebentar."
"..."
"Aku tahu, hm, aku juga mencintaimu."
Chanyeol tersenyum lebar setelah mengembalikan ponsel putih miliknya kedalam tas. Tak lupa dia mengambil sebuah jaket dari dalam tas dan memakainya.
Dia berjalan ringan dengan senyum tak luntur dari bibirnya. Sesekali merapatkan jaketnya.
"Jaket couple ini benar-benar hangat, atau mungkin karena dia yang membelikannya?" gumam Chanyeol. Chanyeol tidak memakai ranselnya, dia hanya membawa tas itu ditangan kirinya.
Membiarkan sebuah nama di jaket bagian belakangnya terekspos jelas. Menunjukkan jika nama itulah yang selalu bersamanya.
"Haah, walaupun hanya namamu, rasanya tetap hangat." Tangannya bergerak mengelus jaket bagian bawah pundak. Dimana disitu terdapat nama seseorang yang begitu dia tinggikan.
"Aku mencintaimu, Byun Baekhyun." Senyumnya semakin melebar saat matanya bertumbuk pada kotak beludru merah yang ada di tangannya.
"Byun Baekhyun, maukah kau menjadi pasanganku? Ah, tidak, itu terlalu mainstream." Gumamnya.
"Aku telah memberikan ginjalku padamu, kini giliranmu membalasku, berikan hatimu padaku selamanya dan aku akan mengikhlaskan ginjalku plus hatiku akan ku berikan sebagai bonus? Ah, sempurna." Dia tertawa tanpa mempedulikan orang orang yang menatapnya aneh.
"Tampan tapi gila." Gumam seorang ahjumma yang dilewat Chanyeol. Yah, itulah Chanyeol saat sedang belajar, melamar?
Ups...
x.x.x.
Sehun mengerikan.
Itulah yang disimpulkan. Matanya memerah dan bengkak, rambut acak acakkan dan lengan jaket yang basah, oh jangan lupakan lututnya yang kotor karena tadi berlutut sambil meraung tanpa peduli celananya kotor akan tanah.
Dia memasuki rumahnya diiringi tatapan aneh dari para maid. Suho memberitahunya bahwa eommanya itu sedang menjenguk hyungnya. Dan Sehun menolak untuk ikut saat diajak. Kini dia melangkah menuju sebuah kamar bercat putih dengan ukiran nama 'Prince room'
Sehun terkekeh pelan dengan mata memanas saat mengingat betapa narsisnya pemilik kamar ini, yang tak lain adalah hyungnya.
Dia mendorong pintu itu, menyalakan saklar yang berada disamping pintu. Ruangan itu bersih, sangat bersih malahan. Karena Suho selalu menyuruh para maid untuk membersihkannya, dengan harapan suatu saat nanti putra sulungnya kembali dan memakai kamar itu.
Pemuda bermata bengkak itu duduk di pinggiran kasur berspreikan klub sepakbola MU. Klub favorit kurusnya meraba kasur itu. Dingin. Tentu, tak pernah ada yang meniduri tempat itu.
Sehun berbaring, menutup matanya sambil terisak. Tanpa sadar, aroma khas hyungnya menuntunnya ke alam mimpi.
"Hyung, aku masuk ya." Ucap Sehun yang berdiri di depan pintu.
"Iya, Sehunnie masuk saja." Sehun segera masuk dan melesat duduk dipinggiran kasur, memperhatikan hyungnya yang tengah berbaring sembari tersenyum senang.
"Hyung kenapa?" tanya Sehun heran.
"Tidak apa apa, hyung hanya senang, hyung diterima di Seoul University." Ucap hyungnya dengan setitik air mata terjatuh dari mata rusanya.
"Waah... selamat ya hyung." Yang Sehun tahu, hyungnya begitu bahagia karena kabar itu, Sehun bahkan ingat betapa giat dan rajin hyungnya belajar, hingga tidak keluar kamar kecuali waktunya makan.
"Terima kasih Sehunnie, hyung besok akan memberitahu appa, appa pasti senang. Bahkan appa rela mengantar jemputku saat test." Mendengar kata appa, Sehun kembali murung.
"Sehunnie, kenapa?"
"Tidak."
"Sehun bisa cerita pada hyung." Hyungnya memposisikan dirinya duduk menghadap Sehun.
"T-tadi aku bertengkar dengan appa karena Jongin." Ucap Sehun pelan.
"Kenapa bisa? Ceritakan yang lengkap hunnie." Ucap sang hyung, mengingat bahwa appanya tidak menyukai orang bernama Jongin itu.
"J-jongin pindah, dan aku tidak diberi tahu, sepulang sekolah aku kerumahnya, ternyata dia telah pergi." Suara Sehun mulai bergetar. "Di halte aku bertemu appa, appa menjemputku dan mengatakan kalau Jongin bukan orang yang baik. P-padahal aku mencintai Jongin, hyung."
Pemuda itu memeluk tubuh Sehun yang bergetar.
"Tidak apa apa, semua akan baik-baik saja."
Sehun terbangun dengan nafas terengah. Ingatan itu selalu berputar akhir-akhir ini. Membuat rasa bersalahnya semakin besar.
"Hyung maaf, seharusnya hyung saat ini sudah bahagia dan memiliki anak, tapi aku mengacaukannya." Gumamnya miris.
Matanya tertuju pada sebuah kertas usang yang ujungnya terlihat dari lemari kecil di samping tempat tidur.
"Surat?" gumam Sehun.
Tangannya terulur untuk mengambilnya. Kertas itu sepertinya sudah diremas dengan keras sehingga tekukannya begitu kentara. Itu adalah tulisan hyungnya.
Dibacanya tulisan itu dengan khidmat, mencoba meresapi kata per kata yang ditulis oleh tangan hyung yang begitu disayanginya.
To : appa
Appa, aku sudah diterima di Seoul University. Ku harap appa bangga padaku, aku akan berusaha segiat mungkin agar appa bangga padaku.
Aku akan menjadi uisa terhebat di Seoul, dan appa bisa berhenti menjadi pemadam kebakaran. Appa tak perlu bekerja dalam bahaya, karena aku akan membiayai semua kebutuhan keluarga kita.
Terima kasih telah mengantar jemputku saat test, aku tahu, appa sempat berdebat dengan atasan appa saat appa meminta cuti. Appa memang appa yang terbaik, dan aku bangga memiliki appa sepertimu.
Terima kasih telah mau menerimaku sebagai anakmu, aku menyayangi appa, seperti aku menyayangi eomma dan Sehunnie. Appa, jangan terlalu keras dengan Sehun, aku tidak ingin dia membenci appa. Appa jangan membenci Jongin hanya karena Jongin pernah menabrakku hingga jari manis kananku harus diamputasi.
Aku sungguh sudah memaafkan Jongin, karena itu hanya kecelakaan, dia tidak bersalah. Walau, aku tidak bisa memakai cincin pernikahan tentunya. Hehe
Kumohon, aku tidak ingin keluarga kita menjadi rumit.
Oh ya, appa harus menepati janjimu ya, hehehe^^
Aku sudah berhasil masuk SU dengan nilai tertinggi, sekarang restui aku dengan Xiumin ya. Walaupun aku tahu, appa akan tetap merestui kami walaupun aku tidak masuk ke SU sekalipun. Jika appa bertanya kenapa, mungkin aku akan mengatakan "karena kita pasangan anak-orang tua yang paling keren" hehehe.
Minggu depan, akan kubawa Xiumin dan appa bisa menentukan tanggal pernikahan. :-D
Aku menyayangimu, appa.
Sehun tidak bisa menahan air matanya, jadi dia sudah menggagalkan pernikahan Xiumin hyung dengan hyungnya? Oh, betapa jahatnya kau Wu Sehun.
Dan, jari manis? Sehun tidak pernah tahu jika Jongin yang menabrak hyungnya. Dia sungguh kecewa. Kecewa pada Jongin karena telah menabrak hyungnya meskipun itu kecelakaan, kecewa pada keluarganya karena tidak memberitahu apa apa, dan kecewa pada dirinya sendiri yang hanya terus membenci appa nya tanpa tahu yang sebenarnya.
Dan Sehun, menemukan dirinya menangis kembali sambil mencengkeram dada kirinya.
x.x.x
Bel rumah sehun berbunyi, menandakan ada yang sedang bertamu. Salah seorang maid membuka pintu itu dan menunduk saat mengetahui siapa yang ada dihadapannya.
"Sehun ada?"
"Ada, tuan." Ucap maid itu pelan.
"Tolong katakan padanya ada yang ingin bertemu, tapi jangan katakan itu dariku."
"Baik, tuan-..."
"...Jongin."
x.x.x
Xiumin duduk terdiam di sebuah kafe. Dia hanya terdiam tanpa menyentuh minuman dihadapannya. Matanya mengarah pada sebuah cincin di jari manis kiri dan kanannya. Dia menghela nafas.
"Kau sungguh tidak apa apa?" tanya Xiumin.
"I'm sure, darling."
"Lalu kenapa aku tidak boleh menjengukmu saat dirumah sakit?" Xiumin kembali bertanya.
"Aku hanya tidak ingin kau khawatir, sayang." Ucap pemuda dihadapannya yang masih menikmati bubble tea taro.
"Justru sikapmu lah yang mencurigakan." Ucap Xiumin penuh selidik.
"Minnie, aku benar benar tidak apa-apa, jika aku sedang sakit tentu aku tidak sedang berada di hadapan kekasihku yang manis ini." Dan jawaban pemuda itu membuat Xiumin terdiam dengan wajah memerah, membuat kekehan keluar dari dua belah kurve kekasihnya.
"Bagaimana kalau lima?" tanya namja itu tiba-tiba.
"Apa yang lima?" tanya balik Xiumin.
"Anak kita."
"Lima? Eh, tunggu, maksudmu ini adalah acara lamaran?"
"Bisa dibilang seperti itu."
"Tidak romantis sekali, tapi karena aku begitu mencintaimu seperti kau mencintaiku, aku menerima lamaranmu yang begitu-sangat-sungguh-terlalu tidak romantis, tuan Wu."
Pemuda itu terkekeh dan mengeluarkan sesuatu dari saku blazernya.
"Aku memang bukan orang yang romantis, aku juga tidak bisa menjamin kebahagiaanmu, banyak pemuda lain diluar sana yang lebih romantis, lebih tampan, lebih kuat, dan lebih baik dariku, tapi aku berjanji akan menjagamu seumur hidupku, akan mencintaimu sepenuh nyawaku, sesuatu yang mungkin tak akan kau temukan pada pemuda lain."
Xiumin terdiam dengan mata memanas.
"Jadi, maukah kau melengkapi ku? Menjadi wadah menampung rasa cintaku? Would you be mine? Anata wa genkkon simasu ka?"
Tanpa kata, Xiumin mengangguk dengan senyum dan air mata yang mengalir.
"Terima kasih, sungguh."
"Tidak, seharusnya aku yang berkata seperti itu, terima kasih, telah menerimaku yang tidak sempurna ini." Kemudian namja dihadapannya terdiam. Membuat Xiumin bingung.
"A-apa aku mengatakan sesuatu yang menyinggungmu?"
"T-tidak, a-akulah yang tidak sempurna disini Xiuminnie."
"Apa maksudmu?" pemuda itu menunjukkan tangan kanannya, tepatnya jemarinya yang hanya terdapat empat jari.
"Ya Tuhan." Pekik Xiumin.
"Apa kkau yakin ingin menjadi pengantinku?" tanya pemuda itu pelan. Xiumin terdiam.
"A-aku tahu kau akan malu kedepannya, aku tidak ingin kau mengalami hal itu." Pemuda itu menundukkan kepalanya, mengabaikan bubble tea yang sedari tadi digelutinya.
Matanya tersentak saat melihat sebuah jari manis yang terulur disamping tangan kanannya. Dia mendongak.
"X-xiumin?"
"Kenapa dengan kehilangan salah satu jari aku menjadi berubah pikiran? Aku masih punya satu jari manis, dengan aku menerima lamaranmu aku telah menjadi milikmu, semua jemariku, ragaku, dan jiwaku sekalipun. Aku akan melengkapimu." Ucap Xiumin dengan senyum. Pemuda itu ikut tersenyum. Menggenggam jemari kecil itu dengan jemarinya yang tidak lengkap.
Orang dihadapan Xiumin itu membuka kotak beludru merah yang berada diatas meja dan mengambil satu cincin dan disematkannya di jari manis kanan Xiumin, selanjutnya di jari manis kiri Xiumin.
"Wakili aku yang tidak sempurna ini. Selama kau masih memakainya, aku berjanji akan selalu disisimu. Kau boleh melepasnya jika kau sudah bosan denganku yang seperti ini." Xiumin menggeleng.
"Terima kasih, Xiumin. Aku tidak menyangkan akan menjadi seperti ini."
Air mata Xiumin menetes dari sudut mata sipitnya.
"Dan aku tidak menyangka akan menjadi seperti ini." Tangannya menghapus aliran air mata yang kian deras itu.
"Kenapa semuanya menjadi rumit? Bahkan aku masih memakai cinicn ini, tapi kau tak disisiku." Ucapnya sembari mengelus cincin di jemari kirinya.
Dan kini, Xiumin menunduk dan menangis dalam diam.
Te Be Ce
Udah tau alasan Kris appa membenci Jongin? Buat pertanyaan "kenapa Kris ngga suka sama Jongin?" udah di ungkap, eh, tapi belum dink. #digiles. Bukan Cuma itu yang membuat Kris appa membenci Jongin.
Dan buat pertanyaan lain akan di ungkap di chapter chapter berikutnya. Oh ya, tentang Jongin sama Sehun nikah itu... tergantung vote #nyengir.
Kalau banyak yang mau KaiHun nikah, ya.. ayok. Kalau ngga ya, gitu... #apasih
jiejie butuh saran. Ini update sambil minta minta waktu (karena curi curi itu dosa) ditengah cobaan bernama UAS yang tengah melanda.
Do'a in jiejie ya~
Oh ya, ff ini kayaknya ngga akan segera tamat dalam chapter dekat. Selain karena ngaretnya jiejie, juga jalan cerita yang panjang, sepanjang jalan kenangan. Jadi, pendapat readers-nim gimana?
Ok, akhir kata.
Mind to review?
Kin ocean : thanks for review^^ chap ini udah panjang kan? Maaf kalau kurang, lagi kere waktu nih.
Levy. C. fiverz : huueee, aku juga penasaran. Betewe, thanks for review^^
Sukha1312 : yap, Sehun punya saudara. Flashback akan terjadi bertahap(?). Thanks for review^^
Daddykaimommysehun : ini udah panjang kok –kayaknya- lagi miskin waktu nih. Jongin hanya muncul di saat yang tepat –sok misterius- chapter depan, bakalan muncul kok Jonginnya. Thanks for review^^
Nagisa kitagawa : aduh, jangan disate. Kalau Jongin disate sekarang ntar siapa yang jadi Castnya jiejie? Ntar aja disatenya kalau udah tamat #disantetJongin. Thanks for review^^
Lovekaihun : ok, tapi ngga janji bakal kilat ya. Thanks for review^^
Leeyeol : sip, ini udah next. Thanks for review^^
Milkteamilk : penjelasan akan bermunculan secara sistemik(?)Thanks for review^^
Thiiya : bakalan dijelasin di chapter chapter berikutnya. Thanks for review^^
Izz. Sweetcity : sip, bakal semangat kok –kayaknya- Thanks for review^^
Andrian. Stevano : tahan.. bakalan dijelasin kok. Tapi bertahap. Sabar ya(?) sip. Bakalan semangat kok. Thanks for review^^
Oktaviarita. Rosita : jangan bingung bingung, ntar pusing lho~ bakal dijelasin ke depannya.
Nha. shawol : ngga apa apa, chap kemaren emang rada bikin bingung –kayaknya- aku sendiri aja bingung(?)Thanks for review^^
Urikaihun : ngga apa-apa, kamu review di chapter 32 yang belum tentu ada aja aku udah seneng #apaancoba. Thanks for review^^
Guest : di hatiku~ hehehe. Thanks for review^^
Youngchanbiased : aku juga penasaran(?)Thanks for review^^
Dia. Luhane : thanks, hohoho, ciee,, didoain ni(?) sip, ini udah lanjut. Thanks for review^^
Istrinya sehun bininya kai : bisa iya bisa tidak. Sip, Thanks for review^^
Purplegyu : ngga apa apa, ini udah dilanjut kok. Thanks for review^^
...
