"Kenapa semuanya menjadi rumit? Bahkan aku masih memakai cinicn ini, tapi kau tak disisiku." Ucapnya sembari mengelus cincin di jemari kirinya.
Dan kini, Xiumin menunduk dan menangis dalam diam.
.
.
.
Kim jie ya present
.
.
Cita dan cinta
.
.
Kaihun
,
,
Warning : typoo bermekaran, mpreg, crackpair, alur lambat
.
.enjoy.
Don't be silent readers, karena yang silent silent itu nyeremin.
.
.
x.x.x.
Sehun berjalan dengan gontai menuju ruang keluarga. Beberapa menit yang lalu, sepuluh menit sebenarnya, salah satu maidnya mengatakan jika ada yang ingin bertemu dengannya. Kini Sehun berharap tamunya itu tidak mati kebosanan menunggu dirinya yang sibuk dengan kamar mandi dan mata bengkaknya.
Langkahnya terhenti, dia memandang punggung tegap orang yang membelakanginya. Sehun kenal betul sosok itu. Oh, mungkin harapannya berubah. Semoga orang itu bosan dan memilih meninggalkan rumah itu, agar Sehun bisa menghabiskan harinya di kamar dengan sekotak tisu.
Perlahan, pemuda itu membalikkan badannya. Matanya menatap tepat pada mata coklat Sehun. Sedangkan yang ditatap? Hanya bisa diam membeku tanpa kata, bahkan hingga sosok itu berada di hadapannya pun. Dia tetap terdiam.
"Sehun, maafkan aku." Begitu ucapan itu terlontar dari bibir penuh pemuda dihadapannya, barulah Sehun mengumpulkan kesadarannya yang sebelumnya terpecah.
"Untuk... apa?" tangan tan Jongin –pemuda tadi- meraih jemari putih Sehun, mendekatkannya ke bibirnya sebelum Sehun menariknya. Melihat itu, Jongin hanya menghela nafas pelan.
Sehun berjalan melewati Jongin, duduk di sebuah kursi yang menghadap langsung ke perapian yang sama sekali tidak menguarkan kehangatan. Jongin mengikuti Sehun dan berlutut di hadapannya.
"Untuk kemarin, maaf, ada kebakaran dan aku dibutuhkan."
"Hanya kemarin?" tanya Sehun pelan. Sangat pelan, bahkan hanya terdengar seperti bisikan.
"Sehun-..."
"Lalu bagaimana dengan apa yang terjadi pada hyungku?" tanya Sehun dingin.
"A-apa maksudmu?" tanya Jongin bingung. Apa sih yang di bicarakan Sehunnya.
"Sebegitu tak pentingkah masalah hyungku hingga kau sama sekali tidak ingat, eh tuan Kim?" ucap Sehun sarkastik.
Ok, Jongin semakin tidak mengerti.
"Sehun, aku benar-benar tidak ingat. Tapi apapun itu, aku minta maaf."
"KAU MENABRAK HYUNG KU!" jeritan Sehun menggema.
"A-apa? B-bbagaimana-..."
"Bagaimana aku tau? KENAPA KAU MELAKUKAN ITU? KENAPA TIDAK MEMBERITAHUKU?" air mata Sehun mengalir bebas dari mata coklatnya yang kini menatap penuh dendam pada Jongin. Jongin yang dulu mencintainya, tak disangka menjadi sebegitu brengseknya.
"Maafkan aku, tapi sebenarn-..."
"KAU PEMBOHONG! Kau brengsek! Kau egois, Jongin." Jongin bangkit dan memeluk tubuh kurus Sehun, tak mempedulikan pukulan yang mendera dadanya karena Sehun terus berontak. Sakit itu tidak seberapa, daripada hatinya yang berdentum ngilu sedari tadi.
"Maafkan aku, bisakah kau memaafkanku, hunnie?"
"Aku selalu memafkanmu! Saat kau meninggalkanku, saat kau menyakitiku, saat kau melakukan semuanya dengan semaumu tanpa memikirkanku, bahkan setelah kata maafmu mulai terdengar seperti dusta aku tetap masih memaafkanmu, aku telah banyak memaafkanmu, Kim Jongin!"
Sepasang lengan tan itu semakin mengeratkan pelukannya.
"Tak bisakah kau memaafkanku sekali lagi? Kali ini saja." Pinta Jongin.
"Aku lelah, Jongin. Aku lelah."
"Lupakan semuanya, hun. Tolong, kita mulai dari awal."
"Kenapa kau berkata seperti itu hiks... appaku tidak akan kembali walau aku melupakan semua itu." Suara Sehun kian melemah.
"Pergilah Jongin, pergilah untuk sebentar saja. Biarkan aku memutuskan ini semua, biarkan aku berpikir."
"Hun, aku akan selalu ad-..."
"Tidak Jongin, tidak kali ini. Beri aku waktu memaafkanmu dan memaafkan diriku sendiri."
Helaan nafas kembali keluar dari kurve Jongin. Dia bangkit setelah sebelumnya menyempatkan diri memandang Sehun yang terdiam dengan tatapan kosong.
"Dan Sehun, aku, aku benar benar tidak mengerti tentang apa yang terjadi dengan hyungmu."
Oh, ucapan Jongin tadi telah menghancurkan pikiran Sehun tentang segala sesuatu tentang 'memaafkan Jongin'. Air mata kembali menggenang di sudut mata coklatnya, bagaimana bisa Jongin melupakan hal itu? Sehun kembali kecewa.
Jongin buru-buru berlutut lagi saat melihat kekasihnya kembali meneteskan kristal bening itu. Sebelum gerakannya terhenti oleh ucapan Sehun.
"Pergi." Ucap Sehun dalam.
"Sehun-..."
"PERGI! JANGAN KEMBALI SEBELUM KAU MENGINGAT KESALAHAN YANG TELAH KAU PERBUAT PADA HYUNGKU!"
Sehun mendorong tubuh Jongin hingga terhuyung kebelakang. Jongin masih kukuh dalam pendiriannya. Tapi suara Sehun berikutnya meluruhkan semua tekadnya tadi.
"Kumohon." Suaranya terdengar lemah dan putus asa, dibalut dengan nada kesedihan dan air mata yang menghiasi wajah pucat Sehun. Jongin tak akan sanggup berada disitu lebih lama tanpa berbuat apapun. Niat hati ingin memeluk Sehun, membiarkan Sehun membagi bebannya. Tapi sepertinya...
"Aku pergi." Ucap Jongin yang sama sekali tidak direspon. Dan suara debuman pintu tertutup kembali menghantarkan Sehun dengan kesedihannya.
./././
Suho mengigit bibirnya menahan tangis. Putera sulungnya bahkan tidak ingin bertemu dengannya. Seberapakah penderitaan puteranya sehingga dia begitu malu untuk bertemu dengan eommanya sendiri.
Tangan kurusnya menghapus aliran air mata yang entah sejak kapan mulai menuruni pipinya yang putih. Pandangannya bertumbuk pada cincin di jari manisnya.
"Kris, kenapa kita menjadi seperti ini? Aku merindukanmu." Ucapnya pelan. Angin musim membelai pelan surai hitamnya.
"Bagaimana aku menjalaninya? Bagaimana aku menghapuskan luka Sehun kita agar dia melupakan semuanya dan bertemu dengan Luhan?"
Dielusnya nisan yang berdiri dengan kokoh. Meremasnya dipinggiran untuk meluapkan perasaan sakit tak kasat mata yang mendera organ dalamnya.
"Mungkin akan lebih baik jika dulu kau memberitahu Sehun tentang Jongin. Seharusnya kau tidak memendamnya sendiri dan membiarkan Sehun membencimu." Kini senyuman penuh luka yang ditunjukkan Suho. Ingatannya berputar kala itu.
"Chagi, bagaimana kalau kita mampir ke bar sebentar?" tawar Kris. Saat mereka melewati sebuah bar yang cukup terkenal disitu.
"Tidak Yifan, anak-anak pasti sudah menunggu kita."
"Ini sudah hampir tengah malam, anak-anak pasti sudah tidur. bagaimana jika satu jam saja, aku akan membayar sewa kamarnya." Suho tampak berpikir. Sebelum akhirnya tersenyum nakal.
"Bukankan memang seharusnya kau yang membayar, tuan Wu?"
"Jadi?"
"Kau sudah tahu jawabannya, tuan Wu."
"Baiklah, aku tidak janji ini akan satu jam, nyonya Wu." Seringai Kris mengembang.
Dua pasang insan ini melangkah memasuki bar, mendudukkan diri di sebuah kursi merah disudut ruangan, dan memesan beberapa minuman dengan kadar alkohol yang 'cukup'.
"Kenapa tidak langsung saja?" tanya Suho heran.
"Kau benar-benar tidak sabar, eh? Tenanglah darling, malam masih panjang." Ucap Kris menggoda. Muka Suho memerah. "Bukan begitu." Bantahnya.
Sejenak Suho terpaku. "Kris." Panggil Suho.
"Ada apa chagi?"
"Lihatlah." Kris mengikuti arah pandang istrinya dan terpaku setelahnya. Sorot matanya menajam dan rahangnya mengeras menahan amarah. Dia bangkit dengan tergesa sebelum kembali jatuh terduduk di kursi yang ditempatinya tadi. Istrinya menariknya duduk.
"Kenapa?" Suho cukup tahu situasi bahwa suaminya ini tengah sangat marah.
"Jangan membuat keributan, ini tempat umum." Ingatnya dengan nada lembut. Tak ingin membuat Kris terpancing amarah. Dan Kris sudah cukup dewasa untuk tidak melakukan hal-hal kekanakan, tentu saja.
"Bocah itu ternyata brengsek! Dia hanya mempermainkan Sehun." Geram Kris.
"Lebih baik kita segera beritahu Sehunnie, aku tidak ingin dia terluka nantinya." Ucap Suho prihatin.
"Tidak." Suho menoleh dengan pandangan heran. Yang tadi marah itu benar Kris kan?
"Aku hanya tidak ingin Sehun bersedih-..."
"Tapi bukankah jika kau tidak memberitahu Sehun, dia akan lebih tersakiti lagi?" potong Suho.
"Jongin sudah ku anggap seperti anakku sendiri, Sehun juga pasti akan lebih sedih jika dia tahu sosok Jongin yang sebenarnya. Aku tidak mau Sehun membenci Jongin."
"Kenapa kau membela Jongin?" Suho semakin bingung.
"Ada banyak hal yang mungkin orang lain tidak akan pernah mengerti, termasuk kau."
Air mata Suho mengalir lebih deras. Dadanya sungguh sesak mengingat sebuah kenyataan yang dia tahu baru-baru ini.
"Kenapa kau tidak mengatakan jika Jongin adalah anak tiri-mu bersama orang itu?! Kenapa menyembunyikannya Kris! Sekarang aku tahu, kenapa kau tidak mampu menatap wajah Jongin lebih dari lima menit. Apa kau masih mencintainya? Lalu kau anggap apa hubungan kita?" tangisannya semakin keras terdengar.
Kenapa dia harus tahu hal ini dari berkas-berkas yang ada di meja Kris? Kenapa Kris tidak memberitahunya sendiri? Banyak pertanyaan yang tak terjawab berkeliaran di pikirannya.
Tangannya memukul mukul tanah pemakaman itu, menimbulkan ceceran tanah menempel di kulit tangannya yang putih.
"Apa lagi yang kau sembunyikan dariku?! Jangan bilang jika kau pernah tidur dengan orang itu lagi dibelakangku, hah?!" emosinya meluap.
"Aku memberitahukan semua yang ku alami denganmu dan apa yang ku dapat?! Kenapa kau tidak bisa mempercayaiku, brengsek?!" bahunya bergetar hebat. Mulutnya tak henti mengeluarkan isakan yang menyedihkan.
"Di kehidupan selanjutnya, tolong percayalah padaku." Suho bangkit, menepuk nepuk bagian pakaiannya yang kotor akan tanah. Dan melangkah pelan meninggalkan pusara suaminya.
-...-
Sehun melangkah menyusuri jalanan kota. Sesekali membenahi kemejanya yang terlihat sedikit kusut. Setelah mengetahui kenyataan tentang hyungnya. Dia telah memantapkan diri.
Sehun akan mampir ke makam appanya setelah berkunjung ke tempat Luhan –hyungnya-.
Sreet~
Langkahnya berhenti mendadak saat sebuah kejadian menyeruak memasuki ingatannya.
"Hyung hiks..."
"Ya Tuhan, kau kenapa Sehunnie?" tanya Luhan.
"Hiks... kemarin Jongin berkata padaku, tanggal kepindahannya akan di undur."
"Bukankah itu bagus? Kenapa kau malah menangis?"
"Tapi, dia menghindariku terus. Padahal hanya tinggal hari ini dan besok aku dapat bertemu dengannya. Setidaknya dia memberikan sedikit hal yang dapat ku kenang nantinya." Racau Sehun. Luhan membawa adiknya itu ke rengkuhannya dan mengusap punggungnya yang bergetar pelan.
"Mungkin dia punya alasan Hun-ah." Ucap Luhan menenangkan.
"Tapi kenapa dia tidak memikirkan perasa-..."
"Berhentilah menangis." Sehun mendongak, mencari sumber suara dingin nan tajam yang baru saja terdengar. Itu bukan suara hyungnya tentu saja. Suara itu terkesan berat dan penuh akan wibawa.
"Appa." Ucapnya pelan. Kris –appa Sehun- berjalan mendekati anak bungsunya yang tengah dalam rengkuhan Luhan. Menariknya hingga berdiri.
"SUDAH APPA KATAKAN UNTUK BERHENTI BERHUBUNGAN DENGAN BRENGSEK ITU!" Sehun terbelalak mendengar bentakan appanya.
"LIHATLAH, DIA HANYA BISA MEMBUATMU MENANGIS! APA YANG KAU HARAPKAN DARINYA?"
"Appa, Jongin tidak seperti itu. M-mungkin, aaku terlalu cengeng dan-..."
"Kau terlalu kekanakan! Appa menyekolahkanmu di sana untuk menjadi anak yang pintar, berbakti dan menuruti orang tuanya! Bukan malah hanya menangis dan menangis karena orang yang sama sekali tidak bertanggung jawab!"
"Apa maksud appa dengan tidak bertanggung jawab!" Sehun mulai terpancing emosi.
"Appa, jangan emosi dulu." Ujar Luhan menengahi. Mata kris bertumbuk pada jari manis kanan milik Luhan.
"Appa hanya ingin yang terbaik."
"Yang terbaik untuk appa belum tentu yang terbaik untukku!"
"Sesekali menurutlah seperti hyungmu!" sentak Kris. Emosi yang tadi hampir berhasil direndamnya kembali membuncah.
"Kenapa appa selalu membela hyung?! Selalu berkorban untuk hyung?! Untuk apa kau mempunyai anak sepertiku jika kau selalu mengutamakan hyung dari pada aku? Kau anggap aku apa?! Lebih baik bunuh saja aku! Atau kau saja yang mati dengan segala hal tentang pemadam kebakaran yang menjadi pekerjaan yang selalu kau banggakan!"
'PLAAK'
Sehun memegangi tamparan di pipi kirinya. Itu bukan berasal da-...
"BAGAIMANA BISA KAU BERKATA SEPERTI ITU?! DIA APPAMU WU SEHUN! DIA MENYAYANGIMU SAMA SEPERTIKU! Kenapa kau tega seperti itu padaku? Pada appa?" tamparan itu berasal dari tangan Luhan.
Bukannya takut, emosi Sehun semakin meninggi.
"Oh, sekarang kau akan membela orang ini? Silahkan, bela saja dia. Di rumah ini hanya aku yang bodoh, ya kan? Bagaimana kau tahu jika orang tua ini menyayangiku jika dia bahkan hanya memperhatikanmu?"
"KAU HANYA TIDAK TAHU JIKA APPA MEMPERHATIKANMU! DIA BAHKAN TIDAK MEMBERITA-..."
"LUHAN CUKUP! DIA MEMANG TIDAK BERGUNA! ANAK MACAM APA YANG MELAWAN ORANG TUANYA HANYA UNTUK BERSAMA SEORANG BRENGSEK!"
"CUKUP MENGATAKAN KALAU JONGIN BRENGSEK, WU YIFAN. KAULAH BRENGSEK YANG SEBE-..."
"HENTIKAN!" pekikan seorang lagi menghentikan umpatan Sehun.
"KENAPA TIDAK KALIAN BUNUH SAJA AKU DARIPADA MELIHAT KELUARGANYA HANCUR, HAH?"
Kris hanya memandangnya sejenak sebelum memilih melangkahkan kaki pergi. Luhan memilih melakukan hal yang sama. Sedangkan Sehun menunduk menyembunyikan matanya yang telah memerah.
"Eomma harap kau bisa memilih, nak." Ucap Suho sebelum melangkah meninggalkan Sehun.
Sehun berbalik arah dan meninggalkan keinginannya untuk mengunjungi Luhan. Rasa bersalahnya memaksanya untuk berbalik.
"Sehunnie." Panggilan lembut seseorang membuatnya berbalik ke belakang. Memperlihatkan air mata yang menggenang di pelupuk.
"Eomma."
"Ayo ikut eomma. Eomma ingin menceritakan banyak hal padamu, nak."
t.b.c. (di bold biar keliatan)
ohohohorat.
Huaahh, akhirnya update lagi.
Bagaimana readers-nim chapter ini? Review + kelanjutan pair kaihun mau dibagaimanakan(?) ya~
Jiejie bahagia sekali, UAS sudah terlewati walau belum tahu hasilnya gimana #pundung lagi.
Mungkin akan tamat satu atau dua chapter lagi. Mohon pendapatnya.
Jiejie besok pensi lho~ mau nari nari kaya kepiting bakar(?) doa in jiejie ya~
Akhir kata.
Mind to review?
Istrinya Sehun Bininya Kai : bersatu? Kaya mermaid man ama barnekel boy(tulisannya gimana sih) dong? Luhan sedang meditasi mungkin^^ thanks for review^^
Daddykaimommysehun : kejaaarrrr! #teriak gaje. thanks for review^^
Sukha1312 : ok, selama masih ada ide dan mood pasti bakal di lanjut, eh tapi entah dink :-P thanks for review^^
Nagisa kitagawa : luhan masih disembunyiin dan akan dikeluarkan di waktu dekat :-P iya, iya, KaiHun nikah, tapi... entahlah :-P thanks for review^^
Kin ocean : itu masih dalam pemikiran^^ thanks for review^^
Levy. c. fiverz : sip, udah di next ;-) thanks for review^^
Urikaihun : hohoho, bisa diatur, wani piro? thanks for review^^
Rinirhm30 : em... nikah ngga ya? thanks for review^^
Baixiangurls : bisa iya bisa ngga^^ thanks for review^^
Dia. Luhane : hyung Sehun = Luhan. Tersiksa ya? thanks for review^^
Izz. Sweetcity : ok, udah di next. thanks for review^^
Nha. shawol : iya, udah di lanjut kok, thanks for review^^
Bibigembalasapi : ditendang? #celingukan. thanks for review^^
Utsukushii02 : iya, no what what(?) Luhan nyasar^^ thanks for review^^
