Sehun berbalik arah dan meninggalkan keinginannya untuk mengunjungi Luhan. Rasa bersalahnya memaksanya untuk berbalik.

"Sehunnie." Panggilan lembut seseorang membuatnya berbalik ke belakang. Memperlihatkan air mata yang menggenang di pelupuk.

"Eomma."

"Ayo ikut eomma. Eomma ingin menceritakan banyak hal padamu, nak."

.

.

.

Kim jie ya present

.

.

Cita dan cinta

.

.

Kaihun

,

,

Warning : typoo bermekaran, mpreg, crackpair, alur lambat

Disini jiejie tidak menggunakan tanda untuk memisahkan flashback. But, italic for flashback.

Dan disini akan mulai banyak memunculkan flashback. Atau mungkin memang full flashback. Tapi tenang aja, flashback akan diusahakan urut walau tidak sepenuhnya. Mohon pengertiannya.

.

.enjoy.

Don't be silent readers, karena yang silent silent itu nyeremin.

.

.

Disinilah dua orang itu berada.

Di sebuah bukit tempat keluarga mereka camping dulu. Dan Sehun bersumpah, dia masih mendengar tawa keluarga mereka. Tawa yang dulu pernah berderai. Tawa yang tak kan pernah terdengar sama lagi.

Sehun dan Suho duduk tepat di tempat keluarga mereka selalu berkumpul saat camping. Di bawah pohon rindang yang kini hanya tampak beberapa daunnya yang berwarna kecoklatan dengan danau jernih yang terbentang tak jauh dari situ.

"Sehun tahu?" pertanyaan Suho membuatnya menoleh. Suho memilih berbaring beralaskan dua tangannya yang ditekuk.

"Manusia itu seperti daun. Daun hidup mengikuti siklus musim." Suho tetap memejamkan mata tanpa membukanya hanya untuk menatap Sehun yang memandangnya penuh tanya.

"Begitupun manusia. Sehun tahu artinya?"

Suho tersenyum kecil tanpa membuka mata. Tahu bahwa Sehunnya menggeleng.

"Manusia juga berkembang seperti daun di musim semi. Akan menemukkan gunanya di dunia seperti daun yang menyejukkan di musim panas. Manusia pun akan terhalang masalah seperti daun terhalang salju di musim dingin." Suho berhenti sejenak dan membuka matanya. Menatap Sehun penuh arti.

"Dan manusia pun akan gugur seperti daun di musim gugur, akan mati jika sudah waktunya. Selanjutnya tergantikan oleh manusia yang baru. Begitupun selanjutnya."

Sehun menunduk, kini dia mengerti yang akan disampaikan eomma nya.

"Kematian bukan salah siapa siapa, nak. Kematian telah di atur oleh Tuhan. Semua kematian itu sama sama akan terjadi pada siapapun, hanya berbeda dari apa yang terjadi sebelum kematian itu. Dan Tuhan memilihmu untuk menjadi 'hal' sebelum kematian appa."

Suho menyentuh sisi pipi Sehun dan menariknya untuk menatapnya.

"Eomma tidak menampik jika kematian appamu bermula dari dirimu. Tapi eomma pun tidak menampik jika itulah cara Tuhan menguji manusia. Eomma tetap menyayangimu seperti anak eomma. Tidak sebelum atau sesudah peristiwa itu." Kini pria manis itu menampilkan senyum untuk putera bungsunya.

"Lupakanlah hal di masa lalu, kita sudah tidak hidup disana. Kita hidup disini sekarang, esok, dan sampai Tuhan menginginkan. Appa juga pasti akan bersedih saat ini, nak." Jemarinya mengelus pipi anaknya itu.

"Maukah kau berjanji pada eomma untuk melupakan segalanya, menemui hyungmu dan memaafkan Jongin?"

Sehun melepaskan tangan Suho dari sisi wajahnya dan menggeleng.

"Setelah apa yang aku lakukan pada appa, pada hyung dan setelah Jongin menabrak hyung, semua tidak akan bisa semudah itu, eomma." Suho tersentak. Sehun tahu tentang hal itu?

"Aku tahu dari surat di kamar hyung." Jelas Sehun.

"Eomma tahu kau kecewa karena kami tidak memberitahumu, kami minta maaf."

"Tidak akan lebih kecewa jika Jongin bertanggung jawab saat itu." Gumam Sehun.

"Mungkin ini saatnya untuk mengatakan yang sebenarnya."

"Maksud eomma?" Pemuda itu mengernyitkan dahinya.

"Maaf, kami tidak ingin hubunganmu dengan Jongin memburuk sehingga kami tidak memberitahu hal ini. Tapi ternyata tidak. Bahkan lebih buruk." Suho menghela nafas.

"Saat Jongin menabrak Luhan, dia tidak sadarkan diri karena benturan dikepalanya dan Jongin terkena amnesia jangka pendek." Sehun tahu amnesia jenis itu, orang yang mengalaminya tidak akan mengingat hal yang terjadi sebelumnya. "Itulah yang membuat Appa mu tidak lagi menyukai Jongin. karena Jongin menabrak Luhan hingga jari Luhan harus di amputasi." lanjutnya.

'Biarlah Sehun tidak mengetahui tentang kejadian di bar waktu itu. Dan tentang Jongin adalah anak tiri Yifan.' Batin Suho kecut. Sudah cukup tekanan yang diterima anaknya.

"Kami tahu itu dari dokter, dan sepertinya itu yang membuat Yixing-ibunya- membawa pindah Jongin."

Jadi Jongin benar benar tidak tahu?

Sehun hanya terdiam, membiarkan pikirannya mengembara. Melihat itu, Suho tersenyum lembut. Mencoba memberikan pengertian pada puteranya.

"Eomma memang tidak tahu detailnya, tapi seharusnya kau tidak perlu membenci pemadam kebakaran hanya karena mereka tidak bisa menyelamatkan appa dan Luhan. Dan juga karena kebakaran kau kehilangan appa dan Luhan." Jemarinya mengelus lembut kepala Sehun.

"Sebaliknya, pemadam kebakaran adalah pekerjaan yang dibanggakan appamu, nak."

Lagi-lagi Sehun hanya diam.

x.x.x

Sehun ingat, saat saat terakhir dia bisa bertemu dengan appanya. Saat yang seharusnya dia bisa habiskan bersama appa, hyung dan eommanya. Bukan malah mengatakan hal menyakitkan pada mereka.

Padahal Kris rela meminta cuti dan berakhir dengan kemarahan atasannya. Tapi Sehun tidak peduli.

Sehun berjalan pelan sembari mencoba mengenakan jaket biru nya. Tangannya menarik narik lengan jaketnya yang terlihat kusut. Keningnya mengernyit saat mendengar suara ribut dari arah ruang tamu. Inginnya sih dia berlalu mengambil dompetnya yang tertinggal di kamar. Tapi keributan itu berhasil menarik perhatiannya.

"Saya minta maaf." Ucap suara yang Sehun tahu itu appanya.

"Aku tidak butuh permintaan maafmu Wu. Yang aku butuh profesionalitasmu sebagai pemadam kebakaran."

"Apa sih yang mereka debatkan?" monolog Sehun. Kepalanya mengintip dari samping tembok untuk melihat lebih jelas.

Di ruang itu ada appanya yang berdiri sembari menundukkan kepala, berhadapan dengan seseorang yang dikenal Sehun sebagai atasan appanya. Hyung dan eommanya terlihat sama sama menundukkan kepala di belakang appanya.

'Pertunjukkan apa lagi?' batin Sehun bosan.

"Maaf kan saya, Sooman-ssi. Tapi saya berjanji hanya cuti hari ini saja. Saya hanya ingin menghabiskan waktu saya dengan keluarga saya." Jawab Kris.

"Kau di tunjuk menjadi kepala pemadam dan hanya begini profe-..."

"Oh." Gumam Sehun sebelum kembali melangkah ke kamarnya. Dia tidak mau ikut campur, toh appanya yang dimarahi, bukan dirinya.

"Untuk apa dia meminta cuti, tidak ada kerjaan saja."

Sekarang waktunya Sehun bersiap.

Sehun meremas kepalanya. Menyandarkan kepalanya ke pohon di belakang. Kepalanya berdenyut kala ingatan menyakitkan menyeruak.

"Sehun, kau mau kemana, nak?" tanya Suho.

"Aku akan pergi ke rumah Jongin, katanya dia akan pergi hari ini, eomma." Jawab Sehun masih sibuk dengan simpul sepatunya.

"Appa sedang sakit, apa kau tidak ingin melihatnya sebentar?" Suho mengeluarkan suara lagi.

"Aa-..."

"Sehunnie." Panggil Kris.

"Appa." Jawab Sehun pelan, di tatapnya wajah Kris yang pucat itu.

"Kemana?" pertanyaan simple itu dengan mudah dimengerti Sehun.

"Kerumah teman." Kris tentu tau Sehun berbohong.

"Bisakah, bisakah kau menemani appa sebentar saja?" tanya kris. Tangan kanannya menopang tubuhnya pada meja yang berada tak jauh darinya.

"Tapi ap-..."

"Kali ini saja, Sehun."

"Sehun akan menemani appa besok saja. Hari ini Jongin akan pergi."

"Appa sudah berkali kali berkata padamu, jauhi Jongin. Dia sama sekali tidak pantas untukmu."

"Yang bisa menilai Jongin pantas atau tidak untukku, itu hanya aku sendiri." Geram Sehun.

"Dengarkanlah appamu!" hardik Kris dengan suara parau.

"Berhentilah menasehatiku! Perhatikan saja dirimu sendiri."

"Sehunnie, tolong temani appa hari ini saja." Pinta Kris dengan suara lemah. Oh, tapi hal itu tentu tidak akan berpengaruh untuk Sehun yang terlanjur benci pada appanya. Walaupun Sehun masih ragu dengan hal itu.

"Aku bisa menemani appa tiap hari! Tapi Jongin akan pergi hari ini, dan aku hanya punya kesempatan hari ini. Jangan egois setelah semua yang kau katakan pada ku tentang Jongin." ucap Sehun dingin.

Suho hanya memandang keduanya sendu.

"Hunnie, eomma mohon temani appamu sebentar ya."

"Bahkan walau eomma memintanya, kali ini aku tidak akan terbujuk." Dua orang lain memandang puggung anaknya sendu.

"Sehunnie!" panggil Kris saat anaknya akan membuka pintu.

"Appa minta maaf untuk yang selama ini, tapi appa hanya ingin yang terbaik untukmu, nak."

Punggung Sehun terlihat menegang sesaat. "Terlambat."

"Sehun!" kali ini suara Luhan yang membuat Sehun terhenti.

"Hyung mohon untuk kali ini, appa sedang sakit. Dia meluangkan waktu-..."

"Aku tahu, hyung. Aku tidak meminta appa sakit, aku juga tidak meminta appa untuk meluangkan waktu. Itu bukan urusanku." Jawab Sehun datar.

"SE-..."

"Sudahlah lu, biark-..."

"Dengarkan 'appa mu', Wu Luhan." Ucap Sehun dengan menekankan kata appa mu. Tangannya menarik kenop pintu dan membantingnya begitu dia telah berada di luar. Membuat tiga orang yang ada di dalam menutup mata karena kaget.

"Yifan." Panggil Suho pelan.

"Aku... tidak apa-apa." Ucap Kris dan berlalu begitu saja. Suho memandang punggung suaminya yang terlihat begitu memprihatinkan.

"Luhan." Kini Suho beralih pada anak sulungnya.

"Eomma, maafkan aku, aku tidak bisa mencegah Sehun pergi. Aku... tidak bisa membuat mereka kembali seperti dulu. Sehun membenc-..." ucapan Luhan terhenti karena pelukan Suho melingkupi tubuhnya.

"Tidak, nak. Sehun sama sekali tidak membencimu atau appa. Dia tidak..." suara Suho terhenti disitu. Dia tidak bisa menahannya. Dan akhirnya dia terisak dalam dekapan puteranya. Tanpa tahu Sehun belum selangkahpun beranjak dari luar pintu.

x.x.x

Tidak pernah sekalipun Sehun merasa begitu sesak di hatinya selain saat mengenang masa lalunya. Dia masih bimbang tentang Jongin setelah penjelasan eommanya. Entahlah, mungkin hari ini saatnya dia membiarkan perasaannya mengalir.

Mengingat bagaimana sahabat SD-nya, Moonkyu memberitahunya tentang Jongin. menjadi awal sandiwara ini berasal.

Sehun memandang kosong jalanan di hadapannya. Hatinya dilingkupi perasaan sakit tak kasat mata yang menumbuk tepat di hatinya. Apakah... dia keterlaluan?

Tapi perasaaan marah akan kata kata appanya kembali terngiang di pikiran. Ucapan appanya yang menghina Jongin sebagai orang brengsek masih membekas. Dia tidak suka jika Jongin di hina seperti itu. Lagipula Jongin adalah pemuda yang baik. Appanya saja yang tidak tahu.

Tangannya yang putih meraih ponsel yang ada di saku jaketnya. Benda persegi panjang itu bergetar, menandakan ada panggilan masuk. Kening Sehun mengernyit saat melihat nomor tak dikenal yang muncul di layar ponselnya. Dengan ragu jempolnya menggeser tombol hijau.

"Halo, Sehun?" panggil suara pria dari seberang telepon.

"I-iya?" jawab Sehun pelan.

"Aku Moonkyu, Hun." Ucap seseorang yang mengaku bernama Moonkyu itu.

"Aa, Moonkyu-ya, ada apa?" tanya Sehun. Kini suaranya tidak terdengar ragu.

"Begini, emm, a-aku-..."

"Tidak apa-apa, katakan saja." Ucap Sehun meyakinkan. Ada apa sih dengan Moonkyu? Sehun rasa semenjak dia mengenal Moonkyu dari SD, dia tidak pernah punya riwayat penyakit gagap, sebaliknya Moonkyu orang yang cadas.

"Ugh, sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya. Tapi-..."

Ada jeda sejenak sebelum pemuda itu melanjutkan. Sehun mengernyitkan keningnya, dari tadi suara pemuda ini tidak begitu jelas karena suara berisik yang entah apa berdentum dari seberang.

"Hey, kenapa beris-..."

"...-Jongin berada di bar galaxy bersama Kyungsoo." Suara Sehun tertelan kembali. Sehun tentu kenal dengan Kyungsoo. Do Kyungsoo. Orang yang pernah dekat dengan Jongin pada awal kelas sebelas.

"Aku tidak tahu harus bagaimana, jadi aku menelponmu." Kini giliran Moonkyu yang mengernyitkan kening. 'Sehun masih hidup kan?' batinnya ngeri.

"Hey, kau masih disana? Hallo."

"O-oh, y-ya aku mendengarmu." Terdengar helaan nafas dari Moonkyu.

"Jadi, mau kah kau datang ke sini sebelum Jongin mabuk dan akhirnya memesan kamar dengan Kyungsoo." Oh, ucapan Moonkyu terdengar frontal sekali.

"E-em, nan-nanti ku hubungi." Suara Sehun terdengar ragu.

"Baiklah, tapi apa kau tidak ingin aku melakukan sesuatu? Seperti memukul Jong- aaww!" ucapan Moonkyu terpotong karena pekikannya sendiri. Sehun terlalu sibuk dengan pikirannya walau hanya untuk menanyakan ada apa dengan Moonkyu.

"Terima kasih." Sehun menutup sambungan telepon dan memutar arah menuju halte bus.

"Sebenarnya ada apa, Jongin?" tanya Sehun.

Sehun menghela nafas. Dia merasa lebih cepat tua akhir akhir ini dengan menghela nafas.

Yang jelas, dia mulai melangkah dan memantapkan hatinya untuk bertemu Luhan. Hyungnya.

xxx...xxx

SEHUN POV

Entahlah. Aku tidak bisa mendeskripsikan perasaanku sekarang. Aku bingung, sangat. Apa yang akan kulakukan nanti saat aku berhadapan langsung dengan Luhan hyung?

Aku terlalu takut untuk menemuinya setelah semua ini. Delapan tahun memang bukan waktu yang singkat. Tapi bagiku, hahh, sudahlah.

Setelah aku tergelincir dalam kenangan masa lalu, aku telah memantapkan hati. Sudah cukup lama aku membiarkan Luhan hyung berdiri disana sendirian. Benar benar sendirian, tanpa aku, adiknya.

Dan aku sudah cukup menyesal telah membuat hyung kehilangan semua kebahagiaannya. Tidak lagi. Aku tidak akan membuatnya menungguku terlalu lama lagi. Penantian hyungku telah cukup, pun dengan ku.

Disinilah aku sekarang. Didepan ruangan Luhan hyung berada. Ya Tuhan, kuatkan aku.

Tanganku bergetar. Begitupun seluruh tubuhku.

Tuhan, seberapakah penderitaan Luhan hyung sekarang hingga dia harus berteriak meraung seperti itu. Suaranya sampai pada pendengaranku yang mematung disini. Tak cukupkah ujian untukku hingga harus mendengar suara Luhan hyung yang seperti itu.

Tapi bagaimanapun, aku harus kuat. Untuk eomma, untuk appa, untuk hyung dan untuk diriku sendiri.

END SEHUN POV

Kenop pintu itu berputar dengan sangat lambat. Terbuka dengan pelan. Membiarkan suara jeritan dari dalam merangsek keluar dengan begitu leluasa.

Sehun masuk selangkah dengan gemetar. Matanya membulat melihat Luhan yang memberontak di atas ranjang. Para perawat yang menanganinya tampak kewalahan. Tidak ada lagi Luhan yang baik, ramah dan penurut. Kini, dia terlihat begitu mengenaskan.

"LEEPASS! LEPASKAN AKUUU!" teriaknya menyayat.

Para perawat masih sibuk dengan simpul yang mengikat tangan Luhan. Dua orang memegang tangan Luhan yang telah diikat jadi satu dengan kain putih. Sedang dua lainnya berkutat dengan kaki Luhan yang menendang nendang udara. Sehun menutup pintu itu pelan. Tapi telah membuat orang disitu menolehkan kepalanya, begitupun dengan Luhan yang menatapnya penuh harap.

'Luhan hyung.'

Luhan dengan kekuatan entah dari mana berhasil mendorong dua orang yang mengekang lengannya saat mereka lengah. Turun dari ranjang dan menubruk kaki Sehun yang mematung. Jemarinya yang terbebas meremas erat celana Sehun.

"TOLONG AKUU... HIKS, LUHAN TIDAK SALAH! LUHAN TIDAK SALAH!"

Sehun masih tetap diam. Membiarkan Luhan menangis sambil mencengkeram kakinya. Baru saat perawat perawat itu akan kembali menyeret Luhan, dia buka suara.

"Jangan." Ucapnya saat dua perawat terlihat akan mengangkat Luhan yang berteriak.

"Apa?" tanya salah satunya.

"Jangan sentuh Luhan hyung."

"Memangnya anda siapa? Pasien ini sudah harus disuntik penenang, jadi anda jang-..."

"Aku-..." potong Sehun cepat. Hyungnya akan disuntik penenang? Dan apa katanya tadi? Harus sudah? Tak perlu waktu lama dia bisa menyimpulkan bahwa hyungnya telah disuntik penenang berkali kali. Semakin kuat dugaannya saat mengingat ucapan Suho yang mengatakan bahwa Luhan sudah tiga bulan lebih dalam keadaan 'benar benar tidak baik.'

Mereka berniat membunuh hyungnya? Yang benar saja!

Sehun adalah seorang dokter. Meskipun sudah hampir enam hari mangkir dari tugasnya.

"...-Aku adiknya." Lanjut Sehun kemudian. Perawat itu menatap Sehun tak percaya. Sehun sendiri maklum akan tatapan itu. Walau bagaimanapun, dia tak pernah sekalipun menginjakkan kakinya kemari.

"Dia adiknya, kalian keluarlah."

Sehun tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Itu Xiumin hyung. Jelas sekali.

Akhirnya mereka itu meninggalkan dua orang itu.

Setelah tak ada seorangpun diruangan selain dirinya dan Luhan yang masih saja menangis ketakutan, Sehun berlutut, mensejajarkan dirinya dengan Luhan, hyungnya yang telah delapan tahun dengan tega tak pernah dia temui.

Tanpa menatap Luhan, pemuda ini melepaskan simpul tali yang cukup kuat di pergelangan tangan Luhan yang pucat.

"Apa... apa yang telah aku lewatkan?" gumamnya masih dengan simpul itu.

"Apa... Luhan hyung makan dengan baik? Apa Luhan hyung tidur dengan nyenyak? Dan apa Luhan hyung... menderita?" kini mata coklat Sehun beradu dengan mata rusa Luhan yang berair. Tangannya mengusap aliran air mata yang berasal dari mata itu.

"Apa Luhan hyung merindukanku? Atau Luhan hyung membenci-..."

"Sehun?" ucapan Luhan memotong kata kata Sehun. "Sehun? Sehun? Kau Sehun? Sehun adikku?" kejarnya.

Sehun mengangguk dengan air mata yang mulai turun. Luhan melebarkan senyum leganya.

"Adikku? Adik Luhan? Sehun baru datang? Sehun ingin bermain dengan Luhan?" tanya Luhan dengan tangis. "Luhan sangaaat merindukan Sehun. Sehun kenapa baru datang? Luhan ingin bermain bersama dengan Sehun. Hahahaha." Tawa itu terdengar begitu menakutkan di telinga Sehun.

"Hahahaha. Sehun akan bermain bersama Luhan."

"Maafkan Sehun, hyung. Maafkan Sehun. Aku seh-..."

"Sehun akan pergi? Meninggalkan Luhan lagi? SEHUN JANGAN PERGI!" teriak Luhan histeris sambil mencengkeram tangan Sehun. Menimbulkan bekas merah yang membuat si empu meringis.

"Ah, hyung, lepaskan, sakit." Rintih Sehun. Luhan sontak melepaskan cengeraman mautnya.

"Maafkan Luhan, Luhan sudah menyakiti Sehun, Luhan sudah nakal, tapi Sehun jangan tinggalkan Luhan." Luhan menangis sambil terisak hebat. Sang adik menarik Luhan ke pelukannya, ikut menumpahkan kesedihannya.

"Aku tidak akan meninggalkan hyung, Sehun janji." Ucap Sehun menenangkan.

Sehun mengeratkan pelukannya saat merasakan tubuh Luhan melemas dalam pelukannya. Hyungnya jatuh tertidur.

"Sebenarnya seberapa besar penderitaanmu hyung? Apakah lebih berat dariku yang menjadi sebab ini semua?" Sehun mengusap sisi wajah Luhan yang terlihat begitu damai dengan senyum kecil.

"Apa hyung sebegitu bahagianya bertemu denganku? Apa hyung tidak marah karena separuh wajahmu harus menjadi seperti ini? Apa hyung kesepian sebelumnya? Apa hyung akan bahagia dengan wajah hyung yang rusak saat hyung sudah... sembuh?"

Sampai kapan pertanyaan pertanyaan itu tidak akan terjawab? Sampai kapan hyungnya akan seperti ini? Pemuda itu lelah. Sangat.

Tubuh Luhan begitu kurus sekarang. Dan luka di wajahnya...

Memang sudah memudar, tapi tetap saja tidak bisa seperti semula.

"Hyung tetap tampan bagaimanapun keadaannya." Sehun akhirnya memilih menyandarkan tubuhnya ke sofa di belakang tubuhnya dan memeluk Luhan semakin erat. Merasakan kulitnya bersentuhan dengan tubuh Luhan yang begitu kurus.

Memilih menenggelamkan wajahnya pada bahu Luhan dan menumpahkan air matanya saat mendengar gumaman Luhan. Kata yang dulu sering didengarnya saat Luhan masih seperti dulu.

"Hyung menyayangimu, Sehun."

End.

Eh, tbc kok tbc.

Hooreeeee...! akhirnya jiejie update lagi .

Doa in jiejie yang lagi magang ya kawan, supaya fic ini cepet cepet kelar.

Jiejie lagi magang di Rumah Sakit yang orang orangnya begitu nyebelin bin nyeremin.

Rovi. Mvpshawol

Iya, makasih ^.^ #terharunggajelas. Thanks for review ^.^

Urikaihun

Thanks for review ^.^

Smg

Alurnya emang dibuat lambat. Maaf kalo jadinya malah ngebosenin, heheh, itu di luar kendali jiejie#hallah. Tentang Thehun yang nangis terus, jiejie juga bingung, kalau nggak di buat nangis nanti malah jadi aneh ^.^ ngga kok, reviewnya ngga bikin nyesek :-D Thanks for review ^.^

Dia. Luhane

Jongjong Cuma anak tiri kok, jadi yaa... Thanks for review ^.^

Levy. C. Fiverz

Disini udah brojol kok, Thanks for review ^.^

youngChanBiased

Thanks for review ^.^

Sukha1312

Ini udah lanjut kok, Thanks for review ^.^

Milkteamilk

Hehehe Thanks for review ^.^

Izz. Sweetcity

Sip, udah keluar Luhannya. Thanks for review ^.^

Istrinya sehun bininya kai

Iya sip, Thanks for review ^.^

Nha. Shawol

Ini udah next kok, Thanks for review ^.^

Daddykaimommysehun

-.- Thanks for review ^.^

Azloef

Thehun tipe tipe anak badung kaya yang review ini, ups, hehehe Thanks for review ^.^

Bibigembalasapi

Ini juga pendek kok chapternya, hehe. Thanks for review ^.^

Kin ocean

Iya. Iya. Iya. Thanks for review ^.^

Nagisa kitagawa

Ngga kok, Kris ngga sengkulih. Tapi udah pernah nikah. Thanks for review ^.^