Sampai kapan pertanyaan pertanyaan itu tidak akan terjawab? Sampai kapan hyungnya akan seperti ini? Pemuda itu lelah. Sangat.

Tubuh Luhan begitu kurus sekarang. Dan luka di wajahnya...

Memang sudah memudar, tapi tetap saja tidak bisa seperti semula.

"Hyung tetap tampan bagaimanapun keadaannya." Sehun akhirnya memilih menyandarkan tubuhnya ke sofa di belakang tubuhnya dan memeluk Luhan semakin erat. Merasakan kulitnya bersentuhan dengan tubuh Luhan yang begitu kurus.

Memilih menenggelamkan wajahnya pada bahu Luhan dan menumpahkan air matanya saat mendengar gumaman Luhan. Kata yang dulu sering didengarnya saat Luhan masih seperti dulu.

"Hyung menyayangimu, Sehun."

.

.

.

Kim jie ya present

.

.

Cita dan cinta

.

.

Kaihun

,

,

Warning : typoo bermekaran, mpreg, crackpair, alur lambat

Disini jiejie tidak menggunakan tanda untuk memisahkan flashback. But, italic for flashback.

Dan disini akan mulai banyak memunculkan flashback. Atau mungkin memang full flashback? Tapi tenang aja, flashback akan diusahakan urut walau tidak sepenuhnya. Mohon pengertiannya.

.

.enjoy.

Don't be silent readers, karena yang silent silent itu nyeremin.

.

.

Suara dentuman musik memekakkan telinga. Seorang DJ dengan earphone menutup telinganya masih sibuk dengan segala peralatannya dan piringan hitam yang terlihat mengkilap. Menciptakan musik yang memenuhi penjuru ruangan. Lampu remang tergantung pas di atas ruangan. Dengan pencahayaan yang minim membuat suasana semakin panas di antara kerumunan orang yang mencoba mencari kepuasan ataupun sekedar melarikan diri dari kehidupan.

Disudut ruangan. Terlihat seorang pemuda dengan kaus putih dan celana jeans belel sedang menikmati rokoknya di atas sofa berwarna merah.

Disinilah tempat yang menjadi saksi hatinya hancur untuk ke sekian kali. Bersama dengan rokok dan berbotol botol minuman dia mengenang masa lalu.

"Jongin, apa kau yakin?" tanya pemuda bermata bulat bernama Kyungsoo, jelas dari suaranya dialah yang tidak yakin.

"Ya, hanya dengan ini dia bisa membenciku dan melupakanku." Ucap Jongin dengan nada bergetar.

"Kau tidak yakin dengan itu, kau bisa membuat ini tidak menjadi rumit. Ku rasa, Sehun mau menunggumu." Jemarinya memutari pinggiran gelas ber kaki panjang yang ada di hadapannya.

"Aku tahu, tapi aku tidak akan sanggup menerima kenyataan jika akhirnya nanti Sehun lelah menunggu dan memutuskan untuk meninggalkanku. Jadi, lebih baik ku akhiri saja." Ujar Jongin.

"Kau terlalu kekanakan, kau tahu?" ucap Moonkyu yang ada di hadapan Jongin. tangannya sibuk mengambil sebatang rokok dari bungkusnya. Mengambil pemantik yang tergeletak di hadapannya bersama botol botol minuman beralkohol dan asbak yang terlihat berkilat tertimpa cahaya remang remang dari lampu yang menggantung di atap bar.

"Kau hanya belum mencoba, bung." Ucap Moonkyu sekali lagi. Mencoba meyakinkan Jongin untuk merubah keputusannya.

"Tidak, kawan. Kurasa ini yang terbaik. Lagipula, aku tidak pergi untuk seminggu, sebulan atau setahun. Aku pergi selama beberapa tahun! Aku tidak akan tahu berapa lama aku disana dan berapa lama aku akan kembali." Jawab Jongin dengan penuh penekanan di setiap suku kata.

"Yang aku bingung, untuk apa kau pindah?" Moonkyu menghisap rokok itu dengan perlahan. Mencoba merasakan zat perusak itu memasuki paru parunya. Mulutnya terbuka kecil untuk mengeluarkan asap beracun itu tepat di muka Jongin.

"Brengsek, kau!" maki Jongin.

"Terima kasih." Ucap Moonkyu cuek. Efek sedativ mulai bereaksi dengan tubuhnya.

"Aku tidak tahu. Yang jelas eommaku begitu memaksaku untuk pindah. Dan aku akan masuk ke sekolah pemadam kebakaran setelah itu, aku tidak bisa menolak."

"Maksudmu kau menuruti eommamu hanya karena di tempatmu tinggal nantinya akan ada sekolah pemadam begitu?" tanya Kyungsoo heran. Jongin mengangguk tanpa suara.

"Brengsek kau, Kim Jongin!" umpat Moonkyu kesal, hampir saja menekankan rokoknya pada kulit Jongin, yang untung atau sialnya ditahan Kyungsoo. "Kau mengorbankan perasaanmu hanya karena cita-citamu!"

"Aku tidak sepenuhnya salah, Kim Moonkyu! Aku hanya ingin menjadi seperti appa tiriku!" protes Jongin.

"Terserahmu sajalah, kau bahkan sudah lupa wajah appa tirimu seperti apa." Gerutu Moonkyu.

Jongin menoleh ke samping begitu merasakan tepukan di sampingnya.

"Jong, jika aku bukan sahabatmu, aku tidak akan sudi membantumu seperti ini." Ucap Kyungsoo tajam.

"Ayolah kyung, sekali ini saja. Ini permintaan sahabatmu."

"Awas jika Jongdae tahu akan hal ini, aku benar benar akan menendangmu ke neraka."

"Kau memang yang terbaik." Ucap Jongin dengan senyum bodohnya.

"Bagaimana aku memiliki sahabat yang gila seperti ini." Ucap Kyungsoo dramatis.

Moonkyu hanya memperhatikan dua pemuda beda tinggi itu dengan malas. Matanya beralih ke ponselnya yang bergetar. Dilihatnya layar itu.

"Oh, dari Sehun." Ucapan Moonkyu berhasil mengalihkan dua orang yang sedari tadi berdebat.

"Bagaimana?" tanya Kyungsoo.

"Dia berkata dia telah berada di depan gang ini, mungkin sebentar lagi akan sampai." Matanya yang coklat memandang Jongin.

"Kau bisa menghentikan ini sekarang, firasatku mengatakan ini tidak akan berjalan baik kedepannya." Ucap Moonkyu.

"Itu hanya firasat." Ucap Jongin pelan dan ragu. Sejauh Jongin bersahabat dengan Moonkyu, firasatnya sel-...

"Kau tahu, kadang firasatku selalu tepat." Moonkyu menoleh ke arah pintu yang baru saja terbuka, dan terlihatlah Sehun yang mengedarkan pandangannya ke dalam.

"Ayo, ayo! Cepat bergerak, kawan. Aku mulai lelah menasehatimu, bung." Ucap Moonkyu. Tubuhnya berdiri. "Aaah, pegal sekali." Ucapnya sembari memukul bahunya pelan. Putung rokoknya telah dia tekan ke asbak, menghilangkan warna api pada ujungnya.

"Jongin, jika kau yakin, ayo kita mulai sandiwara ini." Jongin tidak manjawab, mata onyxnya berkilat penuh kesakitan saat melihat sosok Sehun yang masih mengedarkan pandangannya. Hatinya semakin berdentum saat melihat Moonkyu menghampiri Sehun, memulai dramanya.

Tanpa kata, tangan tannya mulai melingkari pinggang Kyungsoo, menarik pemuda berstatus sahabatnya itu naik ke pangkuannya.

"Ayo... kita mulai." Ucap Jongin dengan mata terpejam. Kyungsoo hanya memandang sahabatnya sendu. Tangannya mulai bergerak menyusuri wajah sahabatnya, mengikuti drama. Dari ekor matanya, Kyungsoo melihat Sehun berjalan pelan dengan pandangan kosong ke arah mereka.

"Jongin, jangan pernah menyesal." Ucap Kyungsoo. Wajahnya didekatkan ke wajah Jongin, dan berhenti beberapa centi saat suara Sehun menyeruak masuk. Membuat mereka menoleh.

"Jongin! a-apa yang kkau-..."

"Oh, Sehun, ada apa?" tanya Jongin pelan. Moonkyu memandang sahabatnya kasihan. Pintar sekali Jongin berakting, mungkin dia bisa menjadi aktor setelahnya dan melupakan cita-citanya menjadi pemadam kebakaran.

"B-bagaimana kau bisa mengatakan itu! AKU KEKASIHMU, JONGIN!" bentak Sehun dengan nafas terengah. Jongin mengeratkan pelukannya pada pinggang Kyungsoo. Inilah saatnya.

"K-kalau begitu, kita putus saja." Ucap Jongin. Sehun membelalakkan mata. Itu tadi Jongin kan?

"Ttidak."

"Ayolah, Wu. Jangan egois. Aku sudah bosan denganmu, beberapa tahun sudah cukup membuatku muak." jongin menelan ludahnya. Apa ucapannya terlalu menyakitkan? "Aku sudah mendapat penggantimu, iya kan, baby?" tanya Jongin pada pemuda di pangkuannya.

Kyungsoo tersenyum meremehkan ke arah Sehun. "Tentu, apa yang kau harapkan dari dia?"

"Jongin! ku peringatkan sekali lagi, jika ini adalah dramamu agar aku memutuskanmu, ini benar benar tidak lucu."

"Itu kan harapanmu, kalau aku sih tidak." Ucap Jongin cuek. Terkesan tidak peduli.

"Sekarang pergilah, aku sudah tidak membutuhkanmu lagi. Kau membosankan." Ucap Jongin sebelum memagut bibir Kyungsoo.

Cukup sudah!

"BAIKLAH! INGAT INI BAIK BAIK KIM JONGIN, SAAT KAU BERTEMU DENGANKU LAGI, DAN KAU MEMINTAKU UNTUK MENJADI KEKASIHMU ATAU MEMAAFKANMU, AKU TIDAK AKAN MENERIMANYA HINGGA KAU BERSUJUD DI KAKIKU!" bentak Sehun. Air mata telah mengalir melewati pipinya.

"Baguslah, karena hal itu tidak mungkin ku lakukan." Ucap Jongin dengan seringai menyebalkan.

"Aku membencimu, brengsek!" umpat Sehun sebelum pergi meninggalkan semuanya dibelakang.

Jongin menghela nafas begitu bayangan Sehun menghilang dari kerumunan.

"Bagaimana perasaanmu sekarang, bung?" tanya Moonkyu yang sedari tadi berdiri disebelah Sehun.

"Entahlah, aku tidak tahu." Ucap Jongin sembari mengacak rambutnya frustasi. Kyungsoo berdiri dan meninggalkan tempat itu dalam diam.

Moonkyu mengangkat bahunya menanggapi ucapan Jongin. dia meraih sebungkus rokok dan pemantik yang tadi digunakannya. Bibirnya terbuka mengatakan sesuatu sebelum berjalan keluar menghilang dari kerumunan. Sesuatu yang membuat Jongin begitu menyesali perbuatannya tadi. Sepertinya setelah ini persahabatannya dengan Moonkyu terancam putus.

"Kau tahu? aku pernah berpikir kalau kau akan membahagiakannya. Maka dari itu aku mengalah dari persaingan kita dulu. Tapi ternyata aku salah. Dan kau tahu? Aku lebih dulu mencintainya. Mencintainya dari SD, mencintainya dalam diam, mencintainya tanpa mengungkapkan, walau akhirnya aku harus mengalah demi sahabatku. Dan perlu kau tahu, menyuruhku melakukan hal tadi sama saja menghancurkanku, karena aku masih begitu mencintainya."

Orang itu tertawa sinis. Memilih bangkit saat melihat orang yang dulu menjadi sahabatnya memasuki tempat itu. Dia bahkan tahu bagaimana perjuangan orang bodoh itu saat meminta Sehun kembali padanya.

'Munafik sekali.' Batinnya.

Dan Kim Moonkyu memilih menghilang dan pergi. Dia bahkan telah menyerah untuk yang kesekian kali demi Jongin, sahabatnya.

.../...

Seorang pemuda bernama Sehun pernah dengan tidak sengaja menyia-nyiakan cinta yang dengan jelas disuguhkan di hadapannya. Cinta sahabatnya dari SD. Cinta dari orang yang rela mengikutinya dari belakang selama hampir berjam jam dan melihatnya menangis. Cinta dari orang yang dengan lapang dada merelakan perasaannya demi Sehun. Cinta yang bahkan tidak pernah Sehun tahu jika hal itu pernah ada dari sahabatnya.

Itu dulu, delapan tahun yang lalu.

Sehun berjalan dengan gontai. Sudah setengah jam lebih dia berjalan. Tidak ada lagi air mata yang keluar dari mata coklatnya. Hanya terlihat jejak jejak air mata yang mengering di pipinya.

"Kenapa sakit sekali?" monolog Sehun.

Dia memilih berhenti di sebuah taman. Mendudukkan diri di bawah pohon maple yang terlihat begitu rimbun. Sehun begitu lelah hari ini, mulai dari pertengkaran dengan appanya dan kini hubungannya yang putus dengan Jongin. dia mulai menyandarkan punggungnya yang terlapisi jaket ke batang kokoh sang pohon.

"Sakit sekali, seharusnya aku mendengarkan appa." Ucapnya pedih. Air mata mulai terbentuk lagi.

"Cobalah merelakan, belajarlah untuk tersenyum, semua masalah tidak akan terasa begitu berat setelah kau berhasil melaluinya." Sehun tersentak mendengar suara itu. Suara orang yang dikenalnya.

"Moonkyu-ya?" panggil Sehun.

"Hm." Terdengar gumaman dari arah belakang pohon. Tempat Moonkyu bersandar. Mereka saling membelakangi.

"Kau mengikutiku?" tanya Sehun.

"Menurutmu?" Moonkyu berbalik bertanya.

"Entahlah, mungkin iya." Sehun mendongakkan kepalanya, menatap rimbunnya daun maple di atasnya.

Tangannya menutup hidungnya yang bersentuhan dengan asap rokok.

"Ya Tuhan, kau merokok?" pekik Sehun, mencoba mencari hal yang bisa mengalihkan pikirannya dari Jongin.

"Memang kenapa?"

"Berhentilah menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan, Kim Moonkyu!" ucap Sehun kesal.

"Baiklah, baiklah." Senyum Moonkyu sedikit mengembang.

"Cepat buang benda berbahaya itu." Ucap Sehun dari balik pohon.

"Tidak."

"Kau bisa terbunuh, Moonkyu-ya." Suara Sehun terdengar begitu lugas, memancing tawa pemuda itu.

"Hey, kenapa tertawa?!"

"Kau mengkhawatirkanku, tuan?" Kekehan masih terdengar dari belakang. Membuat Sehun heran. Orang ini kenapa tertawa saat membicarakan kematian.

"Dengan atau tanpa merokok, aku akan tetap mati, hunna." Ada perasaan bahagia saat Moonkyu memanggilnya dengan panggilan masa kecil mereka, membuat senyum kecil terbit dari bibir tipis Sehun. Tapi kemudian lenyap saat mengingat ucapan Moonkyu tadi.

"Tapi kau sama saja mempercepat kematianmu."

"Tidak ada yang mempercepat, aku akan mati jika Tuhan menginginkan aku untuk itu." Sehun terdiam, tidak bisa membantah ucapan sahabatnya itu.

"Hei, Hunna."

"Hm?" gumaman Sehunlah yang menjadi jawabannya. Moonkyu mematikan rokok yang sedari tadi di hisapnya. Melempar bungkus rokok yang masih tersisa banyak ke dalam tempat sampah tak jauh dari situ.

"Aku akan berhenti."

"Itu bagus, ka-..."

"Ku rasa hidupku akan indah setelah aku melepaskannya, aku tidak akan bisa mendapatkannya meski sekuat apapun aku mencoba." Sehun hanya tersenyum dan menjawab ucapan Moonkyu tanpa tahu arti dari setiap kata yang baru saja terurai dari bibir sahabatnya.

"Nah, itu lebih baik dan-..." Sehun terus saja berbicara untuk menghilangkan perasaan sakit yang mendera hatinya, bahkan terus bercerita dengan nada ceria tak mempedulikan air matanya mengalir menuruni wajahnya.

Di belakangnya Moonkyu hanya menunduk memandang rumput. Dia tidak bodoh menyadari suara Sehun yang terdengar tercekat.

Dia... tidak bisa apa-apa.

Langkah kakinya membawanya kembali ke tempat ini. Tempat kedua kalinya dia merelakan Sehun.

Jangan tanya kenapa Moonkyu kesini. Dia sendiri tidak tahu.

Moonkyu menghisap rokoknya kuat dan menghembuskan asapnya ke udara. Membiarkan asap rokok itu bersatu dengan partikel partikel oksigen.

Tertawa karena kebodohannya dulu. Tertawa karena cintanya dulu. Tertawa karena kehidupannya yang sekarang.

Dulu, kehidupannya tidak seperti ini.

Orang tuanya kaya. Dia bersekolah di sekolah elite. Tapi lagi lagi, itu dulu.

Ayahnya mati bunuh diri karena perusahaannya bangkrut. Ibunya menjadi pelacur dan akhirnya mengakhiri hidupnya karena tekanan dari orang orang. Lalu dirinya harus apa?

Dan yang menjadi beban hatinya. Sehun sama sekali tidak tahu, atau bahkan tidak mencari tahu sedikitpun tentangnya. Memang apa harapannya? Moonkyu hanya ingin saat dia tidak datang di acara musim panas masa kuliahnya dulu dan tidak pernah terlihat di kampus karena Moonkyu memilih berhenti kuliah, Sehun mencarinya atau mungkin mengunjungi rumahnya. Tapi tidak.

Sama. Sekali. Tidak.

Dia kecewa, tentu saja. Tapi apa berlebihan jika dia tidak pernah bisa benci pada Sehun?

Yang menjadi kenyataan lebih pahit. Sehun mulai terasa jauh darinya saat telah menginjak empat tahun Jongin datang kembali ke kehidupan mereka.

Tapi lagi lagi, Moonkyu hanya orang yang mencintai Sehun. Bukan yang dicintai Sehun. Apa disini Moonkyu terlihat seperti memuja Sehun? Terobsesi? Ya Tuhan! Dia benar benar mencintai pemuda itu. Lalu harus apa?

Kembali lagi, itu dulu.

Sekarang, Moonkyu tidak peduli pada apapun. Hatinya kebas jika boleh jujur. Walaupun itu Sehun. Tidak lagi.

Ponsel di saku celananya bergetar, panggilan masuk.

"Iya?" terdengar suara wanita dari seberang menjawab ucapannya.

"Iya, sayang. Tentu, aku segera kesana, Yixing-ah. Tidak, aku tidak bertemu Jongin." Moonkyu bangkit dari duduknya dan berjalan santai menuju halte bis.

"Tidak, tidak perlu dijemput. Apalagi meminta Jongin, dia kan tidak tahu tentang kita , sayang. Ahaha, aku tahu calon anakku itu begitu keras kepala. Iya, sampai nanti." Dia memasukkan ponselnya ke saku.

Karena semua di mulai dari delapan tahun lalu. Delapan. Angka yang tidak pernah putus.

Dan Moonkyu tidak ingin merubah angka itu. Tidak sekarang atau sampai nanti. Tidak ingin memutuskan takdir itu. Biarkan semua menjadi berputar dan tak berujung.

Seorang Kim Moonkyu tertawa sinis. Peduli apa dengan hati.

Tidak ada Kim Moonkyu, sahabat Jongin. tapi sekarang, Kim Moonkyu, calon ayah dari Kim Jongin. bahkan marga mereka sama. Bukankah itu serasi? Moonkyu memang telah gila. Lalu kenapa?

Dunia memang...

Kejam.

Tbc.

Jiejie sengaja langsung update couple{double}

Soalnya belum tahu kapan lagi bisa update di tengah tengah jadwal magang yang mencengangkan(?)

Sebenernya jiejie sempet bingung mau pilih siapa buat jadi peran sahabat Sehun dari SD. Tapi waktu buka buka file di hp dan ngeliat fotonya Sehun bareng sama Jongin ama Moonkyu. Jadi milih Moonkyu. Ngga apa apa kan readers-nim?

Akhir kata

Mind to review?