Karena semua di mulai dari delapan tahun lalu. Delapan. Angka yang tidak pernah putus.
Dan Moonkyu tidak ingin merubah angka itu. Tidak sekarang atau sampai nanti. Tidak ingin memutuskan takdir itu. Biarkan semua menjadi berputar dan tak berujung.
Seorang Kim Moonkyu tertawa sinis. Peduli apa dengan hati.
Tidak ada Kim Moonkyu, sahabat Jongin. tapi sekarang, Kim Moonkyu, calon ayah dari Kim Jongin. bahkan marga mereka sama. Bukankah itu serasi? Moonkyu memang telah gila. Lalu kenapa?
Dunia memang...
Kejam.
.
.
.
Kim jie ya present
.
.
Cita dan cinta
.
.
Kaihun
,
,
Warning : typoo bermekaran, mpreg, crackpair, alur lambat
Disini jiejie tidak menggunakan tanda untuk memisahkan flashback. But, italic for flashback.
Dan disini akan mulai banyak memunculkan flashback. Atau mungkin memang full flashback? Tapi tenang aja, flashback akan diusahakan urut walau tidak sepenuhnya. Mohon pengertiannya.
.
.enjoy.
Don't be silent readers, karena yang silent silent itu nyeremin.
.
Pemuda itu berdiri disana sendiri. Berdiri tegak menantang angin. Kini, senyum tulus telah mulai tersemat kembali di bibirnya.
Dia telah bertemu hyungnya.
Setidaknya Sehun telah menghilangkan satu batu yang mengganjal di hatinya. walaupun harus menahan pahit saat berada di sana. Tapi dia tidak memungkiri hatinya senang saat bertemu kembali dengan hyungnya setelah delapan tahun berlalu.
Sehunpun telah mencoba mengikhlaskan. Dia telah berumur hampir dua puluh lima. Harus sudah bisa mendewasakan dirinya. Tidak seperti saat berusia enam belas. Masih berapi api dan labil.
Tekadnya tidak ingin menjadi seperti dulu.
Sehun jadi teringat dengan Moonkyu. Sahabatnya sejak SD yang menghilang di pertengahan ajaran semasa kuliah dulu. Sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan Moonkyu. Bukannya dia tidak ingin mencari Moonkyu.
Saat Jongin kembali lagi ke kehidupannya setelah tiga tahun pergi. Moonkyu lah yang menemaninya. Saat Jongin terus berusaha agar Sehun kembali padanya, Moonkyu juga selalu melindunginya yang terlanjur benci pada Jongin.
Tapi saat Kyungsoo mengatakan hal itu. Bahwa kejadian di Bar itu hanya sandiwara, dengan Moonkyu ikut andil di dalamnya. Tak dapat di bohongi, Sehun pun merasa kecewa. Sahabatnya yang disangka benar benar dipercayainya tega menyembunyikan hal itu.
Namun Sehun pun tak menutupi jika dia yang dapat meneruskan hidup ini juga karena sokongan semangat dari Moonkyu. Sempat ingin mencari Moonkyu, tapi pemuda itu tak dia temukan di manapun. Kini Sehun hanya dapat berdoa, dimanapun dia Moonkyu berada, dia selalu diliputi kebahagiaan.
Sehun merindukan orang itu. Saat dia mengingatkan Sehun kala itu.
Putera bungsu keluarga Wu itu kini melangkah menyusuri trotoar. Matanya memandang kosong ke depan. Setelah pembicaraannya dengan Moonkyu tadi, rasa kecewa dan sakit kembali menguasai hatinya.
Sehun tidak ingin menangis. Dia bukan orang yang cengeng. Tapi di khianati kekasih di hadapanmu sendiri itu tentu sangat menyakitkan. Lebih lagi dia baru lulus sekolah menengah atas. Umurnya masih muda dan labil, apa yang bisa dilakukan bocah labil seperti dia? Tak terasa air mata kembali mengalir.
"Air mata, bodoh. Jongin, bodoh. Sehun, bodoh!" Sehun sibuk mengumpat sepanjang jalan. Dia berjalan dengan pelan, tak mempedulikan sang surya yang telah kembali ke peraduannya. Sungguh, setelah pertengkarannya dengan Kris dan Jongin yang berubah sudah cukup membuatnya frustasi.
Dia sungguh tidak ingin pulang. Sehun merasa bersalah, tentu saja. Tapi yang membuatnya tak habis pikir adalah kenapa appanya tidak mengatakan yang sebenarnya saja tentang Jongin. jadi dia tidak perlu salah faham dan berakhir dengan merenggangnya hubungan Sehun dengan keluarganya.
"Aku memang kecewa dengan Jongin, tapi sepertinya aku lebih kecewa dengan appa yang tidak jujur dari awal." Ucap Sehun pelan.
"Sekarang aku membenci appa dengan alasan lain." Suaranya begitu lemah.
Sehun menghela nafas saat sebuah pesan dari Moonkyu diterimanya.
'Rumah Jongin terbakar.'
Jemarinya yang tergolong lentik untuk ukuran seorang pria itu bergerak di atas layar ponselnya.
'Aku sudah tidak peduli.'
Selang beberapa detik, sebuah pesan balasan membuat ponselnya bergetar kecil.
'Kau tidak ingin datang? Ku rasa appamu ada disana.'
Sehun memutar bola matanya bosan. Kalau memang Kris ada disana, lalu kenapa?
'Tidak mau.'
'Ku rasa kau harus datang, Hun. Ini sudah senja dan ku tebak kau belum pulang. Datanglah ke sana dan pulang bersama appamu.'
"Oh ayolah, aku bukan seekor anak itik yang tidak bisa pulang sendiri." Gerutunya.
'Aku sedang tidak ingin membahas orang itu.'
Di seberang sana, Moonkyu berdecak kesal. Jantungnya berpacu cepat. Kenapa sahabatnya ini begitu keras kepala.
"Kadang aku menyesal memiliki firasat yang begitu tepat." Dia mengetikkan balasan dengan cepat, dentuman di organ vitalnya terasa aneh. 'Aku tidak tahu kau sedang memiliki masalah apa dengan appamu, tapi apapun itu. Cepatlah temui appamu.'
"Hah, ku harap anak ini tidak terlalu keras kepala kali ini." Pemuda berambut hitam ini menepuk dadanya pelan. Tangan satunya membuka pesan dari Sehun yang baru saja masuk.
"Sialan." Umpatnya pelan saat membaca pesan Sehun.
'Tidak. Aku. Tidak. Mau. Bertemu. Dengan. Pria. Itu.'
Moonkyu memutuskan menelepon Sehun untuk memberikannya kultum. Ah, sepertinya tujuh menit terlalu lama. Yang pasti Moonkyu akan membuatnya secepat mungkin. Walaupun Moonkyu urakan, dia termasuk pemuda yang pandai bicara jika dia mau, bisa mengintimidasi orang yang berbicara dengannya hanya lewat kata. Dan orang ini akan mencoba kemampuannya yang sudah lama tertidur untuk menyadarkan pemuda cadel yang sangat menyebalkan sewaktu-waktu.
Dan yang terdengar selanjutnya bukanlah rentetan kalimat bernada intimidasi yang keluar dari celah bibir Moonkyu, melainkan umpatan kesal karena bocah itu telah menonaktifkan ponselnya.
"Maaf Hunna, tapi aku tidak bisa menjamin akan baik seterusnya." Ucapnya frustasi.
=====/========
Xiumin mengelus kepala Luhan yang tengah terlelap. Tunangannya itu sempat memberontak saat melihat tak ada Sehun disana. Terus memanggil Sehun sebelum dia datang ke kamar rawat itu.
"Seberapa besar kesakitanmu, Lu? Ini sudah delapan tahun dan kau tidak juga kembali?" gumamnya pedih.
"Kapan kau akan menikahi ku, sayang?"
Tangan itu mengelus sisi wajah Luhan. Sungguh, dia masih sangat mencintai orang ini sebagaimanapun rupanya. Dan memilih pergi daripada terisak untuk kesekian kali di hadapan orang yang dicintainya.
Meninggalkan Luhan yang bergelut dengan mimpinya.
Kris sedang terduduk menyandar pada kepala ranjang bersama Luhan yang duduk di pinggir ranjang sembari memberikan obat untuknya saat ponselnya bergetar.
"Sebentar." Ucap Kris membuat Luhan menarik kembali tangannya yang mengangsurkan obat.
"Dari siapa, appa?" tanya Luhan.
"Dari Sooman-ssi. Ku rasa dia tadi sudah memberikan izin." Jawab Kris heran.
"Bisa di loudspeaker, appa? Aku ingin tahu." Pinta Luhan.
"Kau memang ingin tahu segala hal." Cibir Kris bercanda yang di hadiahi kekehan putera pertamanya.
'Halo kris.' Ucap suara di seberang.
"Iya, Sooman-ssi." Jawab Kris hormat.
'Sebenarnya aku tidak ingin meneleponmu untuk mengatakan hal ini, tapi kali ini tim di bawah pimpinanmu sedang mengalaksanakan tugas. Dan berhasil tidaknya mereka akan berpengaruh pada karirmu.'
"Tapi mereka termasuk anggota junior dan belum berpengalaman. Walaupun ada Jongdae disana." Ucap Kris ragu.
"Markas sedang sibuk, tidak ada waktu untuk memikirkannya." Jawab Sooman tak peduli. 'hah, orang ini.' Batin Kris kesal.
" Semoga tim saya berhasil. Jika boleh saya tahu, rumah siapa yang terbakar?"
'Tak jauh dari rumahmu, kurasa. Jika tidak salah, rumah nyonya Zhang.'
"Maaf, maksud anda Zhang yixing? Pria yang memiliki anak bernama Kim Jongin?" tanya Kris. Suaranya terdengar panik. Luhan pun memusatkan pendengarannya. Dia berharap bukan rumah itu yang terbakar.
'Iya, bagaimana kau tahu?'
"Maaf Sooman-ssi, ada yang harus saya urus. Saya akan matikan teleponnya." Tanpa mendengar jawaban dari atasannya itu, Kris langsung mematikan sambungannya.
Kris panik bukan main. Begitupun Luhan yang mencoba menenangkan appanya, meskipun dirinya jauh dari kata itu.
"Aku harus kesana, Lu. Sehun ada di rumah Jongin."
"Aku ikut. Appa bersiaplah, aku akan siapkan mobil di bawah." Ucap Luhan. Kris hanya mengangguk sebagai jawaban. Terlalu panik untuk sekedar bicara.
-...-
Kini giliran Suho yang masuk ke ruang rawat Luhan. Dia telah mendengar bahwa siang tadi Sehun berkunjung ke sini. Hatinya menjadi lebih lega. Setidaknya Sehun telah bertemu dengan Luhan. Dirinya sungguh tak tega anaknya terus berkubang pada rasa bersalah.
Suho memilih duduk di pinggir ranjang Luhan. Mengusap peluh yang mengalir dari dahi puteranya. Matanya bertumbuk pada cincin di jari manis kananya. Mengingat terakhir kali dia mendengar suara Kris yang penuh cinta.
Luhan berlari menuruni tangga dan hampir menabrak eommanya.
"Luhan, jangan lari lari, kenapa terburu-buru?" tanya Suho.
"Rumah Jongin kebakaran." Tak perlu penjelasan panjang untuk membuat Suho mengerti.
"Ya Tuhan! Sehunnie."
"Eomma tunggu saja dirumah, aku dan appa akan kesana." Luhan mencoba memberikan pengertian. Dia memeluk eommanya sebelum berlari ke arah Mobil di depan rumah.
"Yifan!" pekik Suho saat melihat suaminya akan terjatuh dari tangga. Dengan sigap dia membantu Kris berjalan.
"Kau yakin tidak apa apa?" tanya Suho khawatir.
"Tidak apa apa, jagalah kesehatanmu. Aku mencintaimu, ingat itu." Ucap Kris saat mereka berdua telah berdiri di samping Mobil dengan Luhan di dalamnya.
"Hey, ada apa denganmu? Aku juga mencintaimu, jadi lekas pulang dan bawa Sehunnie." Kris hanya diam dan mengecup bibir Suho dalam. Dan beralih pada kening istrinya itu.
"Aku pergi." Dan bayangan mobil itu menghilang di tikungan, menyisakan Suho dengan perasaannya yang berkecamuk.
"Lindungi keluargaku, Tuhan."
-...-
Tbc.
Hollaaa
Jiejie sengaja membuat chapter ini jadi pendek.
Karena ke depannya akan jadi full flashback. Ngga apa apa kan?
