.
.
.
Kim jie ya present
.
.
Cita dan cinta
.
.
Kaihun
,
,
Warning : typoo bermekaran, mpreg, crackpair, alur lambat
Disini jiejie tidak menggunakan tanda untuk memisahkan flashback. But, italic for flashback.
Dan disini akan mulai banyak memunculkan flashback. Atau mungkin memang full flashback? Tapi tenang aja, flashback akan diusahakan urut walau tidak sepenuhnya. Mohon pengertiannya.
.
.enjoy.
Don't be silent readers, karena yang silent silent itu nyeremin.
.
"Luhan." Panggil Kris saat mereka telah menempuh setengah perjalanan.
"Iya, appa." Jawab Luhan, masih berkonsentrasi dengan jalan.
"Appa sangat menyayangimu, nak. Sangat sangat menyayangimu. Di kehidupan selanjutnya, jadilah anakku lagi."
"Appa bicara apa, sih. Aku akan menjadi anak appa lagi, di kehidupan yang bagaimanapun." Sahut Luhan.
"Setelah ini, tolong jangan benci adikmu. Karena kalian sama sama anak yang appa banggakan. Appa sangat senang denganmu menjadi anak appa. Tolong maafkan semua perbuatan appa jika appa tak sengaja menyakitimu."
Luhan menoleh pada Kris yang tengah memandang lurus jalanan.
"Appa tahu? Appa membuatku takut."
"Sepertinya appa tidak bisa melihatmu menikah dengan Xiumin. Kau bisa meminta Sehun menjadi walimu." Luhan tidak mengerti dengan keadaan ini, tapi air matanya mengumpul di ujung pelupuk.
"Ap-appa, berhentilah bicara yang tidak tidak. Appa pasti akan menjadi waliku saat berjalan di altar. Appa-..."
"Appa sangat sangat menyayangimu." Suara Kris terdengar begitu tulus sekaligus pedih. Membuat air mata yang ditahan Luhan lolos begitu saja.
"Aku... juga menyayangi appa."
Mimpi itu terus berulang di setiap tidur Luhan. Mimpi yang seharusnya menjadi kenangan terakhirnya bersama sang appa. Menjadi sokongan rasa sakit yang terus mengalir dari setiap nadinya.
Tapi mimpi itu tak lagi datang dalam tidurnya kali ini. Saat dirinya terlelap dalam dekapan adiknya. Dekapan yang dirindukannya sejak delapan tahun yang lalu.
Dan Luhan sangat bahagia. Melebihi bahagia saat Xiumin datang dengan membawakan bunga bleeding heart kesukaannya. Melebihi bahagia saat Suho membawakannya setumpuk coklat manis yang meleleh di dalam mulutnya. Bahkan melebihi saat ahjumma perawat baik hati yang mengunjunginya setiap Luhan telah diberikan suntikan yang bahkan dia tidak tahu apa itu.
Luhan terbiasa tidur setiap dia diberikan suntikan itu. Dan itu bisa sampai tiga kali sehari.
Suntikan pertama, dia tetap di bayangi mimpi itu.
Suntikan kedua, yang syukurnya digagalkan oleh Sehun. Dia bermimpi sangat indah. Serasa tidak ingin untuk bangun.
Dan untuk sore ini, dia tidak diberi suntikan entah karena apa. Yang jelas. Setelah bertemu adiknya. Luhan tidak lagi merasa tersiksa dengan tidurnya.
Luhan, sungguh merasa senang.
-...-
=.=.=.=.=
Biar ku jelaskan sebuah kejadian yang telah membuat keluarga itu kehilangan kebahagiaan. Peristiwa berkesinambungan yang membuat para pemerannya terpuruk begitu dalam.
.
.
.
...
Kris buru buru keluar saat mobil yang ditumpanginya bersama Luhan telah berhenti. Pria yang masih tampak gagah meski sudah memiliki dua anak itu berjalan menuju mobil pemadam tanpa melepaskan pandangannya ke arah rumah yang telah terbakar hampir setengahnya itu.
"Ketua." Sapa seorang pemadam anggota tim-nya.
"Bagaimana? Kenapa belum bisa di padamkan? Adakah korban jiwa?" buru Kris.
"Kami belum tahu, ketua. Kami sudah berusaha memadamkannya, tapi angin membuat kebakaran semakin meluas. Mengenai korban jiwa, kami belum tahu, kami baru datang, tapi menurut keterangan saksi, Nyonya Zhang dan anaknya telah pindah. Dan kami belum tahu apakah masih ada yang didalam, ketua." Ucap seorang lagi dengan kepala menunduk.
"BODOH! BAGAIMANA MUNGKIN KALIAN TIDAK MEMERIKSANYA TERLEBIH DAHULU? ANAKKU BISA SAJA MATI MENJADI ABU DI DALAM SANA!" teriak Kris marah.
Luhan menahan lengan Kris saat appanya itu hendak memasuki rumah dengan api yang menyala dengan begitu gagahnya.
"Appa jangan masuk, appa bisa terbakar."
"DIDALAM SANA ADIKMU, LUHAN. APPA TIDAK BISA DIAM SAJA."
"TAPI APPA JUGA BISA MATI!" teriak Luhan. "AKU TIDAK MAU APPA MATI."
Kris memandang anaknya sendu. "Nak, appa akan kembali padamu. Appa janji. Appa tidak pernah memohon pada siapapun, tapi kali ini appa memohon padamu, Lu. Biarkan appa masuk."
Mata Luhan sudah memerah. "Jangan menangis, lelaki keren tidak menangis." Dengan itu, Luhan memeluk erat appanya sebelum membiarkan appanya pergi.
"Berjanjilah." Kris mengangguk dan mengacak surai anaknya itu.
Langkahnya yang lebar membawa Kris masuk ke rumah dengan api yang masih mengelilinginya.
"CEPAT MINTA BANTUAN! APA YANG KALIAN LIHAT?!" bentak Luhan pada pemadam lain yang hanya menundukkan kepalanya.
"Tuhan, lindungi appa, lindungi Sehun." Luhan hanya bisa berdoa memohon keselamatan orang yang disayanginya. Matanya terus memperhatikan tim appanya yang terus berusaha memadamkan api.
Luhan merasa trenyuh melihat orang orang itu, masih dengan gigih menyemprotkan air ke arah bangunan itu. Mereka pun menangis, sama sepertinya. Sama sama berdoa memohon keselamatan Kris.
"Tuhan, lihatlah. Bukan hanya aku yang menangis akan keselamatan appa, tapi orang orang itu juga. Tolong, jangan kecewakan kami."
...
Sehun menidurkan dirinya pada kasur berukuran king size itu. Setelah berperang dengan batinnya dia memilih menginap di Hotel dan pulang sekaligus minta maaf pada appa dan hyungnya besok.
Jantungnya berdentum ngilu sedari tadi.
"Ada apa sebenarnya? Kenapa perasaanku tidak nyaman sekali." Gumamnya. Matanya yang coklat memandang jendela yang sengaja dia buka. Bintang bersinar begitu terang. Anginpun bertiup lumayan kencang.
"Kasihan sekali rumah Jongin, pasti apinya sangat besar karena angin itu." Dia menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Aku sudah tidak peduli." Ucapnya sebelum menutup mata.
...
"SEHUN! SEHUNNIE! KAU BISA MENDENGAR APPA, NAK?!" Kris tak mempedulikan tenggorokannya yang mengering setelah sepuluh menit terus berteriak.
"APPA MOHON, SEHUN. MUNCULLAH DIHADAPAN APPA SEKARANG. AYO SELAMAT BERSAMA! SETELAH INI APPA BERJANJI AKAN MERESTUIMU DENGAN JONGIN!"
Air mata telah mengalir sedari tadi, ini ketiga kalinya dia menangis. Pertama saat Sehun lahir, karena anak itu tidak menunjukkan tanda kehidupan. Tapi syukurlah, Tuhan menjawab doanya, setelah upaya dari dokter, Sehun akhirnya menangis.
Yang kedua, saat Luhan kecelakaan dan kehilangan jemarinya. Dan inilah yang ketiga. Kris terus memanjatkan doa didalam hati, berharap Tuhan mengabulkan doanya.
"SEEHUUNN! APPA SUNGUH MENYAYANGIMU, MAAFKAN APPA, NAK. MAAFKAN APPA. DIMANA DIRIMU SEKARANG! APPA MOHON, SEHUUN." Kris sungguh putus asa. Air mata tidak hentinya mengalir.
Sungguh, Kris lelah. Fisiknya lelah, rumah mantan istrinya sungguh luas. Lebih mirip mansion daripada rumah, sebenarnya. Hatinya pun lelah, apa yang harus Kris lakukan setelah ini. Dia tidak bisa menjamin, hidupnya akan baik baik saja jika Sehun benar benar... Kris tidak mampu membayangkannya.
Kris jatuh berlutut menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Menghalangi air mata yang terus keluar, menetes dari sela jarinya. Bahunya berguncang hebat. Dia sungguh merasa gagal menjadi seorang appa.
Pria bermarga Wu ini mengedarkan pandangannya kesekeliling dengan mata merahnya. Api bergejolak seolah memanggilnya untuk menari bersama.
"Mungkin inilah akhirnya, semoga aku bisa berkumpul bersama keluargaku di surga nantinya. Appa menyayangimu, Sehun dan Luhan. Dan aku mencintaimu, Suho. Maafkan semua kesalahanku. Aku sangat sangat mencintai kalian." Itu adalah ucapan terakhir seorang Wu Yifan sebelum api menyambar tubuhnya.
Kris tidak berteriak, tidak pula menangis. Dia tersenyum dan mengingat kenangan bersama keluarganya dalam panas yang meliputinya.
"Selamat tinggal." Ucapnya sebelum kehilangan kesadaran, kehilangan nyawanya.
T_TT_TT_T_TT_T
Luhan terlihat begitu menyedihkan, dia telah menangis sedari tadi. Tubuhnya begitu lemas. Tapi Luhan tidak butuh minum atau vitamin. Dia hanya ingin appa dan adiknya muncul dari rumah yang masih di lingkupi api –meskipun kecil- dan tersenyum kepadanya sembari berkata "Kami datang." Dan dia akan memeluk mereka dengan senang hati.
Tapi harapan itu pupus sudah, sudah lima belas menit lebih appanya belum keluar. Mungkin lima belas menit tidak begitu lama, tapi beda ceritanya jika apinya begitu besar, apalagi sebagian rumah yang terbuat dari kayu. Bahkan hanya lima menit, kau bisa terbakar hangus.
Cukup! Cukup sudah Luhan menunggu seperti orang bodoh. Selamat atau tidak, dia akan masuk ke rumah itu untuk menyelamatkan appa dan adiknya.
"Luhan-ssi! Kau mau kemana?!" pekik para pemadam yang masih memegang selang besar.
"Menyelamatkan keluargaku." Ucap Luhan dingin.
"Jangan gegabah, Luhan-ssi. Kau bisa saja terbakar." Peringat salah satu pemadam.
"Jadi maksudmu aku harus menunggu appa dan adikku berubah jadi abu?!" ucap Luhan emosi.
"LUHAN-SSI! JANGAN KESANA!"
Luhan terus berlari, tak mempedulikan teriakan anggota tim appanya. Masa bodoh, dia akan lebih menyesal saat menemukan dua orang yang disayanginya sudah... ah, lupakan.
Pemuda ini menerobos pintu rumah yang hanya tinggal rangka. Dia terus berjalan memutari tempat itu. Kakinya sesekali tersandung serpihan serpihan tembok yang masih cukup besar atau balokan kayu yang tergeletak tak beraturan.
"APPA! SEHUN!" dia mengeluarkan suaranya yang sudah serak sedari tadi. Walau sakit, dia tetap berteriak memanggil dua orang itu.
"SEHUN! MAAFKAN HYUNG! KELUARLAAH." Luhan menjerit sekeras-kerasnya. Matanya memerah karena asap dan sakit di hatinya.
"APPAA! KAU BILANG AKAN MENIKAHKAN AKU DENGAN XIUMIN! HENTIKAN PERMAINAN INI DAN KEMBALII!" pipinya telah basah oleh air mata.
Diluar sana, para pemadam terus mengerahkan tenaganya untuk memadamkan api di bagian barat yang masih berkobar. Di dalam, Luhan tetap melangkahkan kakinya, tak dipedulikan lengannya yang bersentuhan dengan percikan percikan api.
Matanya terus memperhatikan sekitar, tak menyadari sebuah batu bata tergeletak dihadapannya dan membuatnya terjatuh. Tangannya bergesekan dengan lantai yang penuh dengan serpihan serpihan batu dari tembok rumah.
Tak sengaja matanya bertumbuk pada sesuatu di hadapannya. Nafasnya tercekat. Beberapa detik diisi dengan keheningan, tak ada suara selain suara para pemadam yang terdengar dari arah barat dan suara api yang terdengar begitu bergemuruh melahap semua dihadapannya.
Luhan hanya memandang sesuatu itu dengan pandangan kosong.
Tes.
Satu tetes air mata lolos dari matanya, disusul tetes tetes lain yang ikut berjatuhan. Suaranya hilang entah kemana. Otaknya sedang menyusun segala keterangan yang diterima oleh pandangannya.
Padahal, tadi pagi dia masih bersama appanya. Padahal, tadi pagi dia masih bisa menyuapi appanya yang mendadak manja itu. Padahal, tadi pagi dia masih bisa melihat appa dan eommanya yang saling berpegangan sambil tertidur dengan kepala saling bertumpu dan dia menidurkan diri di pangkuan sang eomma.
Seingatnya, siang tadi dia bertaruh untuk menonton pertandingan bola nanti malam. Seingatnya, siang tadi dia mendengar appanya akan mengajarinya memasak untuk makan malam. Seingatnya, dia mendengar appanya esok akan mengajak dia dan keluarganya berlibur ke Cina, kampung halaman appanya.
Tapi. Hal. Itu. Tidak. Akan. Terjadi.
Luhan menanamkan kata kata itu di pikirannya.
Tidak ada hari esok, nanti malam saja tidak akan pernah ada.
Dengan penuh kekuatan, Luhan mencoba meloloskan kata dari tenggorokannya.
"Appa..." dia mulai memanggil. "Appa tahu, aku bukan lelaki yang keren." Ucapnya dengan suara tercekik.
"Aku menangis, aku menangis." Dia mengulang kalimat itu.
"Ap-appa berjanji untuk kembali padaku, appa berjanji menikahkanku dengan Xiumin, appa berjanji akan mengantarku ke Universitas seminggu sekali, dan appa berbohong. Jadi appa juga bukan lelaki yang keren."
Tangannya mengguncang tubuh yang sudah tidak bisa dikenali itu, tapi Luhan tahu itu appanya. Terlihat dari cincin pernikahannya dengan eommanya yang melingkar di jari manis Kris.
"Hey, appa bangunlah. Ayo pulang dan temui eomma. Appa bilang akan mengajariku memasak dan membantu eomma, eomma pasti repot sekarang. Hey, appa. Ayo bangun." Ucapnya dengan nada biasa, namun kemudian terdengar pedih. Luhan mengguncang tubuh tanpa nyawa itu semakin kencang.
"HEY! WU YIFAN AYO BANGUUUNN HIKS... JANGAN MENIPUKU! JANGAN MENJADI PENGECUT, BRENGSEK! JANGAN BERPURA-PURA SEPERTI INI HIKS..." Luhan berteriak, berharap bisa membangunkan Kris. Namun... tak ada sahutan.
"JANGAN BODOH! JANGAN BERBOHONG! HIKS... JANGAN TINGGALKAN AKU! Appa... jangan pergi." Tiba tiba, Luhan merasa beban yang begitu berat berdenyut di kepalanya.
"AARRGGHH!" tangannya menjambak dan memukuli kepalanya sendiri, dan gerakan itu semakin menguat saat sebuah tawa meluncur dari bibirnya.
"Hahahahaha." Mata rusanya yang memerah menatap jasad Kris dan tertawa lagi.
Matanya melebar saat dia menoleh kesamping, api yang cukup besar menyambar wajahnya. Dia membuka matanya saat terasa panas di wajahnya. Dan benar, sebagian wajahnya terbakar. Melepuh. Dan kalian tahu responnya? Luhan tertawa dengan sangat riang.
Para pemadam telah berhasil memadamkan bagian barat, mereka memutuskan masuk untuk mencari Kris dan Luhan.
Seorang pemadam bernama Jongdae menemukan Luhan yang duduk memeluk lututnya sambil tertawa pelan menatap jasad seseorang yang Jongdae pastikan itu pasti jasad Kris. Kepalanya menunduk, berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Kris, orang yang membuatnya bisa menjadi wakilnya. Menjadi pemadam yang disegani. Dan sekarang...
"Luhan." Pria ini memanggil nama pemuda di depannya. Luhan menoleh, membuat Jongdae terkejut. Terkejut karena wajah rupawan luhan yang sebagian melepuh, dan yang paling membuatnya kaget. Luhan menoleh dengan senyum yang begitu mengerikan.
Belum sempat rasa kagetnya hilang, Luhan tertawa dan kembali menghadap jasad Kris. Tak lupa dengan racauan yang keluar dari Luhan.
"Wakil ketua, ap-..." ucapan salah seorang pemadam tertelan begitu saja saat melihat peristiwa itu.
"Luhan ayo, pulang." Ujar Jongdae. Luhan menoleh menatap Jongdae penuh dendam. Dan detik berikutnya terdengar teriakan Luhan.
"TIDAK! KAU TIDAK LIHAT AKU SEDANG BERMAIN BERSAMA APPA?!."
Jongdae berkata dengan nada bergetar. "Kita... akan membawa appa. Dan kau bisa bermain lagi." Ucapannya membuat orang orang disitu menatapnya shock, kecuali Luhan tentunya. Senyum menawan yang diwariskan Kris tersemat di bibirnya.
Luhan bangkit dan menepuk celananya yang kotor, kemudian berjalan keluar sembari meracau.
"Hehehe, aku bermain bersama appa. Nanti kita akan makan malam bersama, dan, dan, emm... apa lagi yaaa~ hahaha, aku akan mengajak appa jalan jalan, lalu, lalu-..." Luhan berhenti sejenak dan menoleh ke belakang. "Ayo cepat, aku tidak sabar bertemu eomma dan makan malam."
Jongdae menatapnya sendu. Kakinya yang terbalut boot melangkah menghampiri Luhan.
"Maaf." Ucapnya sebelum melayangkan pukulan ke tengkuk Luhan. "Bawa jasad ketua, kita... pulang."
-...-
Tbc.
Chapter depan penuh dengan flashback.
