.
.
.
Kim jie ya present
.
.
Cita dan cinta
.
.
Kaihun
,
,
Warning : typoo bermekaran, mpreg, crackpair, alur lambat
Disini jiejie tidak menggunakan tanda untuk memisahkan flashback. But, italic for flashback.
Dan disini akan mulai banyak memunculkan flashback. Atau mungkin memang full flashback? Tapi tenang aja, flashback akan diusahakan urut walau tidak sepenuhnya. Mohon pengertiannya.
.
.enjoy.
Don't be silent readers, karena yang silent silent itu nyeremin.
.
Suho berdiri di balkon kamar. Memejamkan mata dan menikmati setiap hembusan angin yang menerpa tubuhnya. Membiarkan sebuah ingatan menyeruak masuk dalam pikirannya yang terasa lebih ringan dari pada sebelumnya.
Semuanya terjadi begitu cepat. Dan Suho tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Semua di sekelilingnya terlihat putih. Matanya terpaku disatu titik, jasad suaminya. Suho berjalan dengan langkah yang terasa berat menghampiri jasad Kris yang diletakkan diatas kasur mereka.
Biasanya, Suho akan mengomel saat Kris berbaring di ranjang mereka dengan keadaan kotor. Dan berakhir dengan Kris yang mengomel karena titah Suho untuk membersihkan hasil perbuatannya, sedangkan Suho akan menonton suaminya dan sesekali tertawa.
Tapi kali ini sungguh, Suho tidak akan marah pada Kris asal suaminya itu bangun. Dan dia harus menerima kenyataan, tidak akan ada Kris yang mengotori ranjang, tidak akan ada Kris yang mengomel padanya, tidak akan ada Kris yang membersihkan ranjang mereka. Dan, tidak akan ada cinta Kris yang biasanya selalu melingkupinya.
Dengan tangan bergetar dia membelai sisi wajah Kris yang masih terasa panas meski sudah setengah jam lebih. Membuktikan betapa gahar api membakar tubuhnya.
"Hey, Wufan." Suho memanggil Kris dengan panggilan kesayangannya. "Kenapa kau diam saja? Biasanya jika aku memanggilmu seperti itu, kau akan menciumku." Suho tersenyum pedih.
"Ayo bangun dan cium aku." Dan kalian pasti tahu jika Suho tengah menangis, kan?
"Kau bilang, ingin berlibur ke Cina. Kau bilang ingin bertemu orang tuamu. Kau tahu? Sekarang orang tuamu lah yang akan menemuimu."
Pria dengan senyum angelic itu mengusap kelopak mata Kris yang terpejam. "Hey, buka matamu sayang. Bagaimana dengan anak kita? Hiks... ba-bagimana dengan a-aku? Kau tega padaku?"
Jongdae terdiam dibalik pintu. Mendengarkan suara tangisan Suho yang begitu menyayat hati. Dua orang itu sudah dia anggap seperti saudaranya sendiri. Dia mengangkat tangannya, menatap dua tangan itu yang telah gagal menyelamatkan saudaranya.
"Maafkan aku." Dan dengan tangan itu dia menutup wajahnya dan menangis dalam diam.
Kini Suho telah sepenuhnya mengikhlaskan. Telah sepenuhnya menerima semua ujian yang menerpanya bertubi tubi.
Mungkin ini juga balasan untuk dirinya yang menikah dengan Kris tanpa restu dari orang tua kandungnya. Orang tuanya bersikeras menentang hubungannya dengan Kris karena Kris pernah menikah sebelumnya.
Suho tetap menikah dengan Kris dan memilih pergi dari rumahnya.
Pria itu memilih masuk ke dalam daripada memikirkan hal hal yang sudah jelas tidak dapat terulang lagi.
=/=\=
Tidak pernah sebelumnya Sehun merasa begitu bersalah seperti saat itu. Saat dirinya menginjakkan kaki ke rumahnya yang penuh dengan orang.
"Kenapa ramai sekali?" bingung Sehun saat dilihat didepan rumahnya ramai orang berlalu lalang memakai pakaian serba hitam.
Sehun hanya mengangkat bahunya cuek dan mulai memasuki pekarangan rumahnya. Dia mematung didepan pintu saat melihat eommanya tengah menangis meraung disamping sebuah peti mati berwarna hitam.
Perasaannya mendadak tak karuan. Bola matanya bergulir mencoba menangkap sosok appanya. Hey, dimana orang itu?
Sehun tetap mencoba berfikir positif. Itu bukan appanya. Appanya masih baik baik saja sejak kemarin, dan Sehun yakin appanya tidak memiliki riwayat penyakit parah ataupun gangguan jantung. Jadi, Sehun percaya itu bukan appanya.
Tapi, kemarin ada kebakaran besar. 'Appa sedang cuti kan.' Batinnya meyakinkan. 'Tapi, tentang firasat Monnkyu?' batinnya mulai goyah. Masalahnya, firasat Moonkyu selalu tepat. Sehun menggelengkan kepalanya menghilangkan bayangan itu.
Pemuda itu pun melangkah menghampiri kerumunan orang orang berpakaian hitam yang berdiri didepan peti. Otomatis membuka jalan ketika melihat Sehun, satu satunya orang yang tidak mengenakan pakaian hitam.
Langkahnya terhenti saat berada dibelakang eommanya. Tangannya mencoba menepuk pundak Suho untuk mendapat perhatian atas kehadirannya, dan berhasil. Suho menoleh ke belakang dan menghambur ke pelukan putera bungsunya.
"Eomma, ada apa ini?" tanya Sehun dengan suara tercekat. Dia mempertahankan senyum yang sedari tadi tersemat disana.
"Appamu hunnie, appamu." Ucap Suho pelan dengan masih terisak.
"Ada apa dengan appa? Appa ada di kamar ya? Appa masih sakit?" tanya Sehun. Kini lengkungan di bibirnya malah terkesan miris. Sehun tidak bodoh, tentu saja. Dia dapat melihat siapa yang terbaring di atas peti mati itu.
Dirinya bukan lagi anak tiga tahun. Dia telah mengerti arti saat seseorang dibaringkan diatas peti mati. Dia sudah tahu sejak dia tidak melihat Kris disana. Sehun tahu, di dalam peti itu adalah appanya. Terlihat jelas dari ekor matanya. Tapi Sehun hanya mampu memandang lurus. Dia hanya menegarkan hati.
Terlihat seorang pria menghampiri mereka. Tangannya terangkat untuk mengusap kepala Sehun.
"Jongdae hyung." Panggil Sehun. Dia melepas dekapannya pada Suho dan membiarkan Suho dirangkul oleh orang didepannya.
"Suho hyung, lebih baik kau beristirahat sebentar, kau belum makan dari tadi malam." Ucapnya.
"Tidak Jongdae-ya, aku ak-aku-..."
"Eomma, makanlah, aku tidak mau eomma sakit." Pinta Sehun. Dan Suho hanya berlalu dalam diam.
"Sehunnie." Panggil Jongdae saat Suho telah menghilang dibalik kerumunan orang.
"Ne." Jawab Sehun pelan. Jongdae menatap iba pada Sehun. Bagaimana anak ini tidak meneteskan air mata? Bahkan orang orang disini sibuk dengan air matanya sendiri.
'Mungkin dia masih bingung.' Batin Jongdae.
"Appamu tel-..."
"Tolong jangan ditegaskan." Potong pemuda itu. "Sesungguhnya, aku hanya ingin menghibur diri." Lanjutnya. Kepalanya yang sedari tadi menunduk mendongak menatap lawan bicaranya.
Mata Sehun memerah dan berkaca-kaca. Tapi si pemilik enggan untuk membiarkan tetesan air keluar dari bola matanya.
"Tapi-..."
"Sehunnie!" ucapannya terpotong oleh suara bernada ceria. Sehun menoleh ke sumber suara. Dia tercekat melihat wajah hyung kesayangannya yang melepuh sebagian.
"Temui aku di halaman belakang jika kau ingin mendengar sebuah cerita." Ucap Jongdae menepuk pundak Sehun dan berlalu.
Kini atensi Sehun berpusat pada Luhan, hyungnya.
"Luhan hyung."
"Sehunnie baru pulang? Kenapa baru pulang? Padahal Luhan hyung semalaman bermain bersama appa hingga appa kelelahan lho. Lihatlah sekarang appa tertidur disana." Ucap Luhan sembari menunjuk peti tempat Kris terbaring.
"L-luhan hy-..."
"Sehunnie, appa menjadi hitam ya? Kita harus membawanya ke salon." Kata Luhan. Dia melangkah menghampiri peti mati itu. Tangannya telah bersiap di bawah punggung Kris untuk mengangkat appanya itu. Orang orang disana termasuk Sehun langsung memekik.
"Luhan hyung, j-jangan lakukan itu." Sehun belum mengerti sepenuhnya tentang apa yang terjadi. Kenapa dengan Luhan?
"Kenapa? Kenapa kalian semua tidak memperbolehkanku membawa appa? D-dia appaku! DIA APPAKU! KALIAN SEMUA JAHAT! LUHAN BENCI PADA KALIAN!" tubuh Luhan bergetar ketakutan. Dia menarik tangannya dan berjongkok sembari memeluk dirinya sendiri. Menatap takut orang orang yang memandangnya iba.
Sehun bahkan belum memproses semuanya dan dia kembali mendengar ucapan Luhan.
"Kenapa Luhan tidak boleh menyentuh appa? Memang Luhan salah apa? Luhan baik kok, Luhan tidak jahat." Mata Luhan bergerak liar dan berhenti pada satu titik. Lilin lilin yang terletak tak jauh darinya. Luhan berteriak histeris.
"ITU! DIA YANG JAHAT! DIA YANG MEMBUAT APPA MENJADI HITAM! DIA YANG JAHAT BUKAN LUHAN! LUHAN TIDAK SALAH!" teriak Luhan sebelum menangis. Sehun memandang benda yang ditunjuk Luhan. Api.
Sehun berjongkok dan memeluk Luhan yang meronta.
"Ssst... iya, Luhan hyung tidak jahat. Hyung tidak jahat." Ucap Sehun.
Air mata yang ditahannya telah lolos dari bendungan yang sedari tadi dia buat. Persetan dengan menguatkan hati. Yang dia butuh sekarang hanyalah menangis.
"Hiks, Luhan bukan pemuda keren seperti appa. Luhan menangis hiks." Gumam Luhan. Sehun hanya mengeratkan pelukannya.
"Lu-luhan tidak salah, Sehunnie. Hahahaha." Sehun tersentak dan semakin mendekap Luhan erat saat tangisan Luhan berubah menjadi tawa yang begitu ceria tapi terdengar begitu menyeramkan sekaligus.
"Hahahaha~"
Orang orang disana, yang sebagian besar adalah anggota tim pemadam, menundukkan kepalanya. Berbeda dengan Suho yang menatap kejadian itu dengan kaku. Dari semalam, dia tidak ingin bertemu Luhan. Dia hanya takut, takut melihat Luhan yang menjadi seperti ini. Putera kebanggaannya, putera yang selalu menemaninya, telah... bahkan Suho terlalu takut untuk memikirkannya.
Sehun melihat seorang pemuda manis tak jauh dari tempatnya mendekap Luhan yang masih saja meracau dan sesekali tertawa. Dia memandang orang itu, dengan isyarat agar dia mendekat. Tapi orang itu hanya menggeleng dan tersenyum, memilih menghapus aliran air matanya dan berlalu begitu saja.
Dia tahu, sekarang adalah masa masa yang sangat sulit baginya. Melihat orang yang dicintai bertransformasi menjadi seperti orang gila, atau bahkan memang gila. Semua tidak bisa seperti dulu, walaupun dia tahu, jika orang itu adalah orang yang setia. Tapi di uji seperti ini, bagaimanapun, juga membutuhkan waktu untuk menata hati.
"Xiumin hyung." Gumam Sehun.
=.=.=.=.=.=.=
"Jongdae hyung." Panggil Sehun.
"Kau datang, Sehun." Sehun mengangguk dan mengambil tempat di sebelah Jongdae. Mereka duduk disebuah bangku taman yang dulu Kris beli dan diletakkan di halaman belakang. Sehun sempat tersenyum kecil membayangkan bagaimana hebohnya Suho saat Kris mengangkat bangku itu sendiri dari toko yang berada tiga atau empat blok dari sini.
"Jadi..." ucap Jongdae menggantung.
"Aku tidak tahu, hyung. Semua terjadi begitu cepat. Aku tidak mengerti."
"Kau memang tidak mengerti. Kau tidak berada disana. Dan secara tidak langsung, kau berperan langsung dalam peristiwa ini. Maaf mengatakannya-..." pria itu mengangkat kedua kakinya ke atas bangku dan memeluk keduanya.
"...-Tapi kau harus tahu, terlepas dari bagaimana reaksimu setelahnya, tapi, aku mohon, kau harus bisa menerimanya. Dan kembalilah meneruskan hidup dengan ini sebagai pengingatmu."
Sehun mengangguk. Hatinya berdentum. Semua ini berpusat padanya, karenanya.
Jongdae memulai ceritanya.
"Aku mendengar cerita awal dari Ibumu. Tentang kekasihmu, pertikaian dengan appamu-..." Jongdae segera melanjutkan ketika melihat raut muka Sehun yang berubah murung.
"...-Aku tidak bermaksud untuk mengingatkanmu, tapi kau harus tahu. Aku mengatakannya dari pandanganku, dari sudut netral yang tidak tahu apa-apa."
Sehun meremat jemarinya yang bertautan. Firasatnya, kata kata selanjutnya yang akan keluar dari celah bibir Jongdae akan meruntuhkan pertahanannya.
"Rumah kekasihmu terbakar, appamu kira kau ada disana karena ucapanmu sebelum pergi, appamu memasuki rumah yang terbakar itu seperti kesetanan, dan kau pasti tau akhirnya." Ucapan Jongdae berakhir pedih.
"Maaf mengatakannya, tapi aku sungguh kecewa denganmu, Hun." Jongdae berdiri, berjalan selangkah sebelum berhenti karena pertanyaan Sehun.
"Ba-bagaimana dengan Luhan hyung?"
Pria bermarga Kim itu hanya bisa menghela nafas, mencoba meredam emosinya. Walau bagaimanapun mereka sedang berduka, Sehun juga, dan semua bukan sepenuhnya salah Sehun.
Sehun berharap harap cemas. Tanpa dijelaskan, dari cerita Jongdae, hyungnya itu pasti menyusul Kris. Itu adalah alasan dari luka di separuh wajah Luhan. Sehun merasa miris.
"Lebih baik kau bawa hyungmu itu ke rumah sakit."
Sehun mendesah lega. Mungkin Luhan hanya kelelahan sehingga hyungnya menjadi seperti itu. Sekarang, Sehun harus fokus untuk menyembuhkan wajah Luhan di rumah sakit...
"Jiwa."
"Apa maksudmu?" tanya Sehun heran. Jiwa? Barusan Jongdae mengatakan rumah sakit, lalu melanjutkan dengan jiwa. Maksudnya, rumah sakit... jiwa? Sehun gelagapan.
"H-hyung, ma-maksudmu Luhan hhyung? Jangan bercanda!"
"PADA KENYATAANNYA MEMANG SEPERTI ITU!" sentak Jongdae. Pria itu menangis. Menangis karena musibah yang menimpa orang orang yang dia sayangi. Terlebih lagi, dia menganggap orang yang sudah seperti keponakannya sendiri menjadi tersangka.
Jongdae memilih meninggalkan tempat itu dengan segala kepedihannya. Pun dengan Sehun yang mematung.
"Ini semua... karenaku?" gumamnya yang hilang tersapu angin.
Kini, Sehun sepenuhnya menyesal.
t.b.c
