.
.
.
Kim jie ya present
.
.
Cita dan cinta
.
.
Kaihun
,
,
Warning : typoo bermekaran, mpreg, crackpair, alur lambat
.
.enjoy.
Don't be silent readers, karena yang silent silent itu nyeremin.
.
Keluarga.
Satu hal yang dengan tidak sengaja pernah Sehun buat hancur.
Dia tahu, sangat tahu dan mengerti. Semua permasalahan ini berawal darinya. Dan harus di akhiri olehnya juga. Tidak baik menjadi pengecut dan memilih menyembunyikan diri di tumpukan hal bernama penyesalan tanpa tindakan untuk menebus segalanya. Dan kini, dia akan memulai langkah untuk memperbaikinya.
Semua dimulai dari pertemuannya dengan Luhan, hyung-nya.
Sejak pertemuan itu, semuanya terasa lebih ringan daripada sebelumnya. Meski belum sepenuhnya berakhir. Lebih baik lagi, setelah pertemuan itu, keadaan Luhan meningkat drastis. Dan Sehun sangat senang sekaligus menyesal. Jika dia tahu seperti ini, kenapa tidak dari dulu dia bertemu Luhan? Tapi itu sudah terjadi. Hingga matahari berhasil dia telan pun hal itu tidak akan terulang.
Sehun telah bertemu Xiumin lagi setelah memilih menghindari pemuda itu sejak dirinya tahu bahwa pernikahan Xiumin dan Luhan gagal karenanya.
Di bawah terik matahari kemarin, Sehun telah membicarakan semuanya kepada Xiumin. Dengan keberanian penuh, Sehun berlutut didepan Xiumin dan meminta maaf atas semua hal beruntun yang berporos kepadanya.
Sehun kira, Xiumin hanya akan diam dan meninggalkannya dengan kemarahan karena dengan berani mengungkit masa lalu yang Sehun tahu telah dikubur dalam dalam di hati Xiumin.
Tapi ternyata dugaannya salah.
Pemuda itu dengan lembut merangkulnya. Membawanya pada dekapan seorang kakak yang begitu terasa menguar dari setiap inci tubuh Xiumin.
Xiumin berbalik berterima kasih pada Sehun karena telah bersedia bertemu dengan Luhan. Berterima kasih karena telah membuat Luhan setidaknya menjadi lebih baik.
Tak dipungkiri, Sehun bahagia.
Hyung-nya mencintai dan dicintai orang yang tepat.
Sehunpun telah meminta maaf pada eomma-nya. Bersimpuh di hadapan orang yang membuatnya ada di bumi ini. Menangis dihadapannya dan berulang kali meminta maaf.
Suho hanya diam dan memandang Sehun nanar. Pria pendek itu kemudian menampar Sehun hingga Sehun tersungkur ke samping. Tapi kemudian memeluknya dengan erat.
Mengatakan bahwa Sehun bodoh karena berpikir Suho membencinya. Dan dalam hati Sehun membenarkan. Dia bahkan tidak menyadari atau mungkin tidak memikirkan kasih sayang Suho karena sibuk dengan penyesalannya sendiri.
Kini, bebannya hanya satu.
Tentang Jongin.
Sehun tidak bisa berpikir terlalu jauh tentang pemuda itu.
Hari ini adalah hari pernikahannya dengan Jongin. dan Sehun memilih berdiri di depan sebuah danau berwarna hijau yang dipenuhi daun maple berwarna coklat yang mengambang diatasnya.
Seharusnya kini Sehun berada di altar pernikahan bersama Jongin dan mengucap sumpah sehidup semati. Kemudian mereka telah memulai perjalanan rumah tangga.
Tapi Sehun terlalu bimbang untuk hal itu.
Dia masih amat sangat mencintai pemuda itu, terlepas dari semua kesalah pahaman ini. Sehun kecewa. Tidak pada Jongin, tapi lebih kepada dirinya sendiri.
Terus menghindari Jongin dan menolak semua jenis komunikasi dengan kekasihnya.
Dia tahu, lebih dari siapapun, bahwa dia sangat kekanakan dalam hal ini. Tapi sebuah pembelaan muncul dari pikirannya. Hey, dalam kasus ini -kehilangan segalanya karena dirinya sendiri dan terpuruk selama bertahun-tahun- tidak masalah menjadi cengeng. Karena sesungguhnya, setelah semua ini, dia menyimpulkan. Semuanya hanya proses pendewasaan. Proses kesiapan mental menghadapi kematian, menghadapi perasaan yang meledak-ledak dan menghadapi rasa bersalah yang mengakar.
Sehun tidak munafik jika dia menyesal telah mengusir Jongin tempo lalu. Menyuruhnya pergi dari hidupnya. Mencoba mengubur dalam dalam perasaan sakit bergejolak saat mengucapkan hal itu.
Pemuda itu menutup matanya, mencoba menikmati setiap hembusan angin yang menerpa setiap inci tubuhnya. Hatinya lega, walau masih sedikit mengganjal. Sekali lagi, sedikit mengganjal.
Walaupun hanya sedikit, dia sudah sangat senang. Setidaknya dia telah menghilangkan sebagian besar batu itu.
Pemuda itu tidak lelah. Sama sekali tidak lelah walaupun telah berdiri hampir satu jam disana.
Tak mempedulikan awan awan kelabu menggantung di atas langit siap menumpahkan kristal kristal air dari dalamnya. Yang jelas, dia hanya ingin menenangkan diri.
Angin tetap setia berhembus mengitari Sehun. Pun dengan hembusan nafas terengah dari arah samping badannya. Kaosnya yang berwarna putih berkibar pelan di balik blazer abu-abunya yang-...
Tunggu.
Hembusan nafas?
Sehun sontak menoleh kesamping dan terlihat begitu terkejut saat melihat Jongin dengan nafas terengah dan keringat bercucuran berdiri disampingnya.
-...-
Sehun terdiam, mencoba menyelami wajah Jongin yang begitu dia rindukan. Dan entah kenapa, wajah Jongin terlihat begitu bersinar, membuatnya terpesona untuk kesekian kali. Betapa dia begitu mencintai orang dihadapannya ini.
"Sehun." Panggil Jongin saat dia telah berhasil menetralkan suaranya. Kedua tangannya berada di pundak Sehun, memutar si empu untuk menghadapnya.
"Aku sudah tahu semuanya." Jongin buru buru bicara saat melihat Sehun akan membuka suara.
"Tidak, dengarkan aku. Aku tidak ingin kau menyangkal dan menyuruhku pergi lagi. Demi Tuhan, Sehun! Beberapa hari tak bertemu denganmu saja membuatku seperti orang gila!" Sehun mengernyitkan dahi. Lantas, saat Jongin meninggalkannya waktu itu hingga bertahun-tahun itu bagaimana keadaannya? Jongin terlihat baik-baik saja saat pertama kali bertemu Sehun lagi, Jongin yang bertambah kurus dan berantakan tidak masuk hitungan. Tapi Sehun tetap diam. Memberikan kesempatan bicara.
"Aku sudah bertanya pada Ibuku, dan sekarang aku akan menjelaskan semuanya. Terlepas dari kau mau memaafkanku atau tidak, kau harus tahu, kalau aku mencintaimu. Ternya-..."
Sehun memeluk Jongin dengan tiba-tiba. Tak ingin mendengar Jongin melanjutkan ceritanya. Sungguh, Jongin yang bercerita dengan ekspresi yang begitu menyedihkan, mau tak mau menyakitinya. Dan Sehun telah lelah tersakiti.
"Aku tahu, aku tahu semuanya. Jangan bicara lagi." Gumam Sehun.
Jongin tersenyum lega. Semua kekhawatiran akan Sehun yang menolaknya sirna sudah. Pelukan ini telah meyakinkannya. Kini, dia optimis.
"Sekarang ikut aku."
"Huh?" Sehun semakin bingung saat Jongin menggenggam tangannya dan menariknya untuk berlari.
"Jongin, ada apa? Kita akan kemana?" tanya Sehun disela acara 'Lari-larian' itu. Rambut coklat madunya yang telah memanjang bergerak seirama dengan langkahnya. Poninya yang panjang itu bergerak tersapu angin. Jongin menoleh kebelakang dan mengumpat saat menatap Sehun yang terlihat begitu manis dimatanya.
"Shit! Kau harus menyiapkan tenagamu." Ucapnya saat melihat sebuah tanjakan. Dengan penuh kesadaran, Jongin menggendong Sehun seperti-...
"Jongin! turunkan aku bodoh! Kau pikir aku karung beras yang bisa kau gotong seperti ini?! JONGIIINN." Teriak Sehun kesal. Jongin hanya tertawa mendengar teriakan Sehun.
"Berpeganglah, Hunnie." Ucap Jongin yang menambah kecepatannya. Sehun sontak mencengkeram kemeja belakang Jongin.
"Orang ini! Darimana asal tenaganyaaa!" gerutu Sehun.
Jongin hanya terus berlari dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Sedikit lagi, mereka akan bahagia. Dia optimis, sebersit perasaan bahwa Sehun akan menolaknya lagi memang terus terlintas. Jika Sehun menolaknya lagi kali ini, dia tidak tahu harus di apakan perjuangannya beberapa hari yang lalu.
"JONGIIN! KAU INGIN MEMBUNUHKU?! CEPAT TURUNKAN AKU DAN BIARKAN AKU BERJALAN DENGAN KAKIKU SENDIRI!" teriak Sehun.
"Tidak bisa! Kau harus menyiapkan tenagamu untuk nanti!"
Sehun mengernyitkan keningnya. Kepalanya pusing, Jongin berlari seperti kesetanan dan membuat kepalanya terpantul. Lagipula, kepalanya menghadap bawah, aliran darah menuju otaknya sekarang. Dan Sehun semakin pusing. Memang ada apa dengan nanti?
Pikiran Sehun terhenti saat dia mendengar suara cekikikan tawa dari kiri kanannya. Dan Jongin pun telah berhenti berlari, melainkan berjalan dengan sangat pelan. Hey, sejak kapan rumput di bawahnya berubah menjadi lantai?
Kepalanya menengadah dan matanya membulat kemudian.
Di kiri kanannya terlihat orang orang terdekatnya dan Jongin ada Baekhyun dan Chanyeol yang tertawa dengan menutup mulutnya. Sehun yakin, jika tangan tangan itu tidak menutupi mulut keduanya, dipastikan tawa mereka akan menggelegar hingga atmosfer. Tidak berlebihan jika mengingat mereka berdua semasa SMA, yang tawanya lebih seperti provokasi untuk tawuran dari pada tawa yang benar benar tawa.
Juga ada Suho yang duduk bersama Yixing, mereka berdua tersenyum geli melihatnya dengan posisi digendong-ala-karung-beras oleh Jongin.
Xiumin dan Luhan duduk disebelah Suho. Ya Tuhan! Luhan terlihat sangat tampan. Hyung-nya apakah sudah sembuh? Benar benar sembuh? Melihat Luhan disana dengan senyum menenangkan dan pandangan matanya, meyakinkan Sehun bahwa Luhan sudah sangat-sangat-sangat baik. Ya Tuhan, kebahagiaan ini. Kyungsoo dan Jongdae pun terlihat disana.
'Tempat apa sebenarnya ini?' batin Sehun.
Jongin menurunkan Sehun disampingnya dan membiarkan Sehun meng-connect-kan pikirannya.
Pemuda bermarga Kim ini tersenyum tampan untuk Sehun.
"JONGIN! KAU?!"
"Iya, hunnie."
"Tapi, tapi kenapa-..."
"Ssssttt... cukup diam dan jawab iya." Dia menggenggam tangan Sehun. Menandakan acara akan segera dimulai.
"Kim Jongin, bersediakah kau menjadi pendamping dari Wu Sehun, bersama di saat susah dan senang, kaya dan miskin, hingga maut memisahkan?" ucap Seorang pendeta yang berdiri disana.
Dengan mantap, Jongin menjawab. "Iya."
Pendeta itu menanyakan hal yang sama pada Sehun. Sehun tidak segera menjawab, dan itu membuat Jongin khawatir. Apa dia masih tidak dimaafkan?
Mata Sehun bergerak liar, dan bertumbuk pada mata rusa Luhan yang lebih terlihat bernyawa.
Luhan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Bibirnya bergerak tanpa suara. Dan Sehun dapat menangkap kata itu. "Berbahagialah, adikku."
"Ya." Dengan kata itu, mata Jongin berkaca-kaca. Sebegini bahagiakah dia? Sebegitu mencintai Sehun kah dia? Dalam hati dia berterimakasih pada Tuhan telah mempertemukannya dengan Sehun.
"Dengan ini, kalian telah sah menjadi pasangan." Suara tepuk tangan dengan meriah memenuhi gereja itu.
Jongin memeluk Sehun, dan dengan senang hati Sehun membalasnya. Dia begitu senang. Amat sangat.
"Bodoh! Kenapa kau tidak membiarkanku berganti pakaian? Tidak sakral sama sekali, tidak keren." Gerutu Sehun, meskipun begitu dia tetap tersenyum. Walaupun mereka menikah dengan menggunakan pakaian renang di peternakan ayam, Sehun sudah sangat bersyukur.
Jongin tergelak. "Kita bisa membuat album foto setelah ini, atau pernikahan ulang?" tawa Jongin. tapi Sehun heran, ada yang tidak beres dengan nada suara Jongin, meskipun tersamarkan oleh suara tepuk tangan yang begitu ramai. "Tapi, aku membutuhkanmu tanpa pakaian setelah ini."
Muka Sehun memerah. Dia buru buru melepas pelukannya dan menghadap kedepan. Memberikan senyum terbaiknya pada orang orang yang sudah dia anggap sebagai keluarganya, mengabaikan mukanya yang memerah dan Jongin yang tertawa di sebelahnya dan menggenggam tangannya erat namun lembut.
Dibalik tembok kokoh gereja itu. Berdiri seorang pemuda dengan pakaian serba putih di sebelah pintu masuk. Dengan putung rokok di sela bibirnya, dia menghisap benda itu. Menikmati benda yang selalu berada bersamanya saat dia terpuruk.
Setelah itu, membuangnya ke tanah dan menginjaknya dengan sepatunya yang juga berwarna putih. Orang itu berjalan menuju pinggir jalan, dan tersenyum saat terlihat sebuah mobil Jeep melaju dengan kecepatan tinggi, sangat malah.
"Sudah datang rupanya." Dia melangkahkan kaki semakin mendekati jalan, bahkan tepat di jalur yang dilewati mobil itu.
BRAAKK.
Bertepatan dengan suara itu. Tubuh sang pemuda terpental dan menghantam aspal yang keras. Terseret dengan begitu sadis dari tempat awal. Tuxedonya yang serba putih mulai berubah menjadi merah saat darah yang keluar dari setiap benturan dan goresan merembes.
Dia tidak berkata apapun. Hanya senyum tulus yang tidak pernah dimunculkan lagi setelah kejadian itu.
"Hey, Tuhan. Bawalah aku pelan pelan, ya." Matanya menutup sejenak sebelum kembali terbuka. Meresapi rasa sakit karena tulangnya yang remuk, juga denyutan di kepalanya.
"Kim Moonkyu telah melepaskan Wu Sehun. Untuk selamanya." Matanya menutup, tanpa membuka sampai kapanpun.
END.
/
/
EPILOG.
Tujuh tahun kemudian.
"NO WAY! Sera tidak mau menjadi pemadam kebakaran! Jonghun oppa saja! Pokoknya Sera tidak mau."
"Sera harus mau menjadi pemadam kebakaran, nanti Sera bisa jadi keren seperti Jongdae ahjussi. Juga seperti Grandpa dan daddy. Biar oppa yang jadi dokter seperti mommy."
"Shireo, kenapa tidak Jonghun oppa saja? Sera kan perempuan."
"Memang Sera tidak mau keren?"
"Jadi Dokter juga keren!"
"Sera tidak akan keren jika jadi Dokter. Percaya saja lah, Sera mengalahlah pada oppa."
"Mommy~"
Anak bernama Sera mulai merajuk pada sang Mommy-nya yang sedang sibuk dengan alat masaknya.
"Jonghun oppa, jangan memaksa Chera. Dan Chera, berhenti berteriak pada Jonghun oppa." Ucapnya.
Sang Daddy yang sedari tadi hanya duduk dan memperhatikan kedua anaknya yang tak henti hentinya berdebat mulai angkat bicara.
"Memang kenapa Chera tidak mau menjadi pemadam kebakaran?" tanya Jongin pada anak bungsunya yang berumur enam tahun.
"Daddy,berhenti memanggilku dengan Chera. Itu panggilan mommy untukku. Daddy kreatiflah sendiri." Protes Sera.
"Itu lebih menghemat." Jawab Jongin cuek.
"Daddy pelit." Tambah Jonghun.
"Daddy tidak pelit Jonghun, jika daddy pelit mungkin kalian sudah menderita busung lapar." Ucap Jongin yang dibalas teriakan kesal dari Sehun karena Jongin dengan seenak dengkulnya berkata sarkastik pada anaknya.
"Jadi Chera, kenapa Chera tidak mau menjadi pemadam kebakaran?" tanya Jongin halus.
"Chera tidak mau, itu berbahaya." Jawab Sera. Kakinya yang menggantung di kursi dia ayunkan kedepan dan belakang.
"Tapi menjadi dokter juga berbahaya, lho." Kompor Jongin.
"Iiih, Sera tidak mauu~ Mommy~" ucap Sera yang akhirnya merengek pada sang mommy. Dan merengut tidak suka saat mommynya sibuk sendiri. Jongin tersenyum geli. Dan beralih pada Jonghun, jagoan kecilnya.
"Kalau Jonghun-..."
"Sudah selesai~" Jongin menoleh, melihat Sehun menghidangkan makanan di atas meja makan. Dan mencuri satu kecupan di pipi istrinya saat Sehun menunduk.
"Jongin!" pekik Sehun. Dia memilih melepaskan apronnya dan duduk di samping Sera, berhadapan dengan Jongin. mengangkat tempat nasi dan memberikannya pada piring keluarga kecilnya. Mereka pun mulai makan setelah sebelumnya berdoa.
"Jonghun kenapa tidak mau menjadi pemadam kebakaran?" Jongin masih kekeuh pada pertanyaannya.
"Karena Jonghun ingin menjadi Dokter."
"Itu bukan jawaban yang sesuai, Jonghun." Ucap Jongin malas.
"Sera juga ingin menjadi Dokter!" ucap Sera semangat.
"Jika Chera ingin menjadi Dokter, harus rajin belajar." Ucap Sehun mengelus rambut putrinya.
"Sera memang pintar." Suara Sera terdengar begitu yakin.
"Jonghun juga mau jadi Dokter." Suara Jonghun menyeruak.
"Kenapa semua menjadi Dokter? Kalian semua tega membiarkanku terkucil?" protes Jongin.
"Jonghun memang sayang pada Daddy, tapi Jonghun tetap tidak mau."
"Kenapaaa`~" rengek Jongin. benar benar tidak sesuai usia.
"Jonghun tidak mau menjadi hitam seperti daddy, Jonghun sangat puas dengan kulit seperti mommy." Ugh, Jongin begitu tertohok.
"Sera juga. Jongdae ahjussi bilang, kalau daddy hitam karena menjadi pemadam kebakaran dan kalau menjadi pemadam kebakaran sejenis daddy jarang mandi, sehingga jadi dekil dan kusam. Seperti daddy." Tambah Sera.
Jongin mematung. Akalnya berputar.
Sehun yang menyadari aura hitam dari tubuh Jongin segera angkat suara.
"Jonghun oppa dan Chera, ayo kita beli es krim." Ajaknya meraih tangan Sera dan Jonghun. Melangkah pergi dari area berbahaya itu.
Tik
Tik
Tik
Suara jarum berdetik menemani Jongin yang masih memproses segalanya.
Kemudian-...
"JJOONGDAAEE HYUUUNNGGG! KAU APAKAN PIKIRAN ANAKKUUU!"
Jauh diseberang sana.
"Haattchii." Jongdae menggosok hidungnya. "Apa ada yang sedang membicarakanku?" pria itu mengangkat bahu dan kembali meraih buah mangga didepannya.
"Chagi~ apakah sudah dapat?" teriak sebuah suara dari bawah.
"Sebentar, Kyunggie. Ini masih on the way."
REALLY END.
DAN BERAKHIR DENGAN TIDAK ELITNYA...
Terimakasih buat para readers yang masih setia mantengin ff saya. Saya sendiri juga mungkin tidak bisa meneruskan bahkan menamatkan ff ini jika tanpa bantuan kalian semua. Dan juga MaaF kalau endingnya nggak sesuai sama bayangan readers sekalian.
Big thanks buat yang pernah mampir untuk review. Dan tak lupa juga buat para silent readers yang masih setia silents. #udahkayamauperpisahan
Akhir kata
Terima kasih^^
