Senandung Masa Puber


Remaja, satu masa di mana akan banyak kejadian menarik di dalamnya

Cinta, Persahabatan, dan Perpisahan

Semua terangkum dalam masa itu


Created By Ryuzuma

Naruto merupakan hak Masashi Kishimoto

Alur speede dan Maju-mundur, OOC, Rate T

Typo masih perlu banyak perbaikan


Chapter 2

Mereka kembali ke kelas tepat ketika bel istirahat berbunyi. Karena acara hukuman itu sekarang Sakura dan keempat rekannya tepar di bangkunya masing-masing. Mereka duduk dengan posisi persegi. Sakura duduk di bangku saft depan banjar tiga, Hinata saft depan banjar 4, Temari saft dua banjar tiga, Tenten saft dua banjar empat dan Ino saft dua banjar lima. Dengan duduk seperti itu memudahkan mereka berbagi akses untuk mengobrol dan sedikit bocoran untuk mencontek juga temapt itu sangat strategis. Itulah kiat-kiat mudah mengahadapi Ujian atau Ulangan.

"Itu hukuman paling menyebalkan" Gerutu Sakura membuat ke tiga rekannya mengangguk kompak, semenara satu kepala lainnya tak menyauti malah terlihat tersenyum dari pertama mereka menginjakkan kaki di kelas

"Kau benar Sakura" Temari membenarkan disusul Tenten yang menganggukan kepalanya

"Tapi kurasa tidak berlaku untuk Ino. Apa yang terjadi padamu Nona sampai bibirmu itu dari tadi tak berhenti tersenyum?" Tanya Hinata menengok kearah tempat duduk Ino

"Nikmatilah hukuman kalian kawan, jangan merasa iri dengan hukumanku" Celetuk Ino lalu membenamkan wajahnya dilipatan tangannya yang terpajang di atas mejanya. Sudah dapat dipastikan bahwa saat ini Ino bukan sedang menangis melainkan sebaliknya. Kalian lebih tahu itu.

Tenten menjawabnya dengan satu dengusan pelan "Tentu Nona" Sindirnya kemudian

"Kau tahu tadi shion mandi pake air cucian kain pel" Ucap Temari dengan tawa mengejeknya

"Benarkah? Itu sangat menyenangkan" Sakura menyauti perkataan Temari sambil memperlihatkan senyuman yang tak beda dengan milik Temari

"Kurasa wajahnya akan terlihat sangat gembira" Timpal Hinata membayangkan bagaimana Shion akan berteriak histeris karena baju seksi kebanggaannya tercuci bersih dengan air lecek dari hasil celupan kain pel toilet. Tolong garisi air celupan kain pel toilet.

"Bahkan dia sampai lari terbirit-birit saking bahagianya, beruntung aja dia tak minta jatah tambahan" Jawab Tenten membuat ketiga rekannya tertawa puas mendengarnya

Tak perlu mereka tanya apa penyebanya Temari dan Tenten melakukan perbuatan itu pada Shion, masing-masing dari mereka sudah tahu betul tingkah laku gadis arogan itu. Menyebalkan.

"Kalian baik-baik saja di toilet cowok?" Tanya Temari membuat wajah Sakura dan Hinata memerah kompak

Temari yang langsung sadar dengan rona wajah Sakura dan Hinata yang memerah langsung berfikiran negatif "Kalian tidak melihat yang aneh-aneh kan?" Tanya Temari takut.

Dengan cepat Sakura menggelengkan kepalanya sebagai jawaban tidaknya "Tentu aja tidak, tak ada masalah ko di toilet cowok, yah kecuali keadaan yang sudah seperti sarang akamaru tentunya" Ucap Sakura sedikit membumbuinya dengan kebohongan. Hinata tak berniat menyela perkataan Sakura karena dia tahu pasti akan memalukan jika kejadian tadi sampai ketelinga orang lain bahkan satu gang nya "Iyakan Hinata?" Tanya Sakura dengan intonasi menyuruh gadis indigo itu mengikuti alur pembicaraannya barusan

"Yah, tidak ada masalah yang berarti ko" Jawab Hinata sebisanya

"Hey kalian bisa membohongi seluruh dunia kecuali kita bertiga" Selidik Tenten dengan seringainya memaksa Sakura dan Hinata mau tak mau harus membuka mulut

"Apa jangan-jangan kalian melihatnya?" Temari sangat antusias dengan tema toilet cowok ini, Hinata dan Sakura tak tinggal diam dengan acara pemaksaan buka mulut teman-temannya.

"Tidak!" Sergah Sakura stratik sambil mengibar-ngibarkan telapak tangannya. Tapi lihatlah seringai di wajah Temari dan Tenten semakin lebar. Semakin menuntut dan akhirnya kedua kucing kecil terpojok tak berdaya.

"Sungguh kami tidak melihatnya" Ucap Hinata gugup karena sorot mata dua sahabatnya itu terus mendesak Sakura dan Hinata buka mulut "Hanya mendengarnya, itu juga pelan" Lanjut Hinata dengan wajahnya yang sudah dapat disamakan dengan kepiting rebus

Tenten dan Temari tertawa puas melihat tingkah kedua sahabatnya yang bisa dibilang sangat konyol dengan nasib yang super menjengkelkan menurutnya.

"Hey kalian tolong jangan teriak-teriak. Aku sedang konsentrasi" Protes Ino sambil mengangkat wajahnya dari lipatan tangan yang merasa acara melamunnya terganggu dengan suara tawa reka-rekannya.

"Sejak kapan kau bisa berkonentrasi" Sindir Sakura

"Sejak tadi di parkiran" Jawab Ino sambil nyengir kuda. Sakura, Hinata. Temari dan Tenten kompak menyipitkan matanya mencoba meminta penjelasan lebih lanjut. Maspus kau Nona Yamanaka empat lawan satu akan sangat berat. Dan mau tak mau kau akan membeberkan semua alasan kau tersenyum sedemikian banyaknya hari ini. Inilah salah satu cara yang membuat persahabatan akan sangat menarik. Tak ada rahasia diantara persahabatan.

Ino mulai bercerita bagaimana kronologi kejadian di TKP ─Stop! It's not breaking news─ mulai dari umpatan-umpatannya pada mobil yang menjadi tersangka sampai sang superman yang menyelamatkannya dari ketidakberdayaan gadis itu. Bak mendengarkan dongeng sebelum tidur keempat rekan lainnya termunggut-munggut mendengarnya.

"Kalian tahu jatuh cinta itu ternyata manis, so sweety" Ucap Ino menyudahi acara mendongengnya membuat keempat rekannya tersenyum lega. Nah loh kenapa tersenyum lega? Alasannya karena semakin lama Ino bercerita akan semakin pulas mereka tertidur. Dan semakin mereka pulas tertidur akan semakin sulit untuk kembali normal. Dan akan sangat membahayakan jika mereka sampai pada keadaan abnormalnya.

"Lebay" Timpal Sakura dan ketiga lainnya kompak. Tapi sayang Nona Yamanaka ini memang sedang mabuk dengan yang namanya madu cinta. Dan pada kenyataanya cinta memang lebay. Apalagi cinta pertama di masa putih abu

"Ke kantin nyok. Cari makanan" Ajak Hinata yang merasa perutnya butuh pasokan tenaga

"Tinggal 5 menit lagi" Ucap Temari mengingatkan setelah sejenak menengok jam tangan yang terpajang di lengan kirinya. Ah percuma kau mencoba mengingatkan orang yang sengaja melupakannya. Itu akan sangat sia-sia

"Bisa diatur" Jawab Tenten enteng sambil bangkit dari tempat duduknya disusul empat rekannya. Mereka menghambur keluar kelas menuju kearah koperasi sekolah. Yah di KHS tempat berburu makanan itu ada yang dinamakan koperasi dimana pengelolanya adalah pihak sekolah dan kantin yang merupakan milik pihak swasta a.k.a orang luar yang menyewa lahan diarea sekolah. Letaknya cukup berjauhan. Dan anehnya fungsi kantin disana udah berlipat ganda, selain dari pada tempat berburu pengganjal perut juga tempat mojok siswa pacaran kerana letaknya yang jauh dari pantauan ruang guru dan kepala Sekolah.

Konoha High School adalah sekolah yang memprioritaskan kedisiplinan di setiap siswanya. Banyak peraturan yang dibuat untuk mengingat siswa tetap berjalan pada arah yang sudah mereka atur. Tapi tetap saja bukan, peraturan ada untuk dilanggar. Dengan prinsip seperti itulah Go Hoshi menganggap semua yang mereka kerjakan adalah sebagian dari rencara pendiri sekolah. Dan itu adalah pendapat konyol yang mereka ciptakan sediri.

Setiap tahun ajaran berakhir dan merupakan tahun ajran baru siswa diberikan 100 poin modal, setiap kali mereka melanggar peraturan itu poin tersebut akan berkurang sesuai jumlah yang tercantum dalam buku Kitab Peraturan Sekolah. Dalam buku tersebut banyak aktivitas yang dapat mengurangi poin dan salah satunya adalah PACARAN. Yah, hal yang padahal sangat menyenangkan─untuk sebagian orang─ saja dilarang. Kemabli pada prinsip Go Hoshi. Peraturan ada untuk dilanggar. Dan sebaian penghuni KHS menyetujui argemen itu sehingga mereka mencuri-curi waktu untuk dapat berduaan dengan pesangannya. Dan kantinlah yang menjadi sarana yang menunjang kegiatan ilegal itu.

Baru saja sampai muka koperasi bel sudah memanggil mereka. "Gimana dong?" Tanya Ino

"Abaikan, ngaret 5 menit langit ga bakalan buat langit jatuh" Ucap Sakura menganggap remeh. Keempat rekannya menurut bak kerbau yang dicocoki hidungnya. Satu kejurang maka semuanya akan terjun kejurang pula. Yah memang langit gak bakalan jatuh tapi iblis akan mengamuk.

"Kenapa kalian masih disini?" Ujar suara ngebas dari belakang. Sudah dapat dipastikan siapa pemiliknya yang bahkan dengan volume rendah pun dapat mengguncang dunia. Akan sangat berbahaya jika kembali terkena terkamannya. Mungkin bukan hanya akan terdampar di toilet dan parkiran tapi bisa jadi terdampar di neraka. Bahkan dengan badan yang mungkin sudah tinggal separuhnya lagi (?)

Satu-dua-tiga

Isarat Sakura yang langsung dimengerti personil lain. Dengan cepat mereka menerobos keluar koperasi bahkan tak menyadari mereka menabrak guru menyebalkan itu hingga dia terduduk dipangkuan lantai koperasi. Dan berkali-kali mengumpat karena ulah Go Hoshi.

Mereka berlima terengah-engah dan menghentikan acara larinya di belokan kela XI setelah yakin Ibiki –sensei tak mengejar mereka. "I'm hungry beb" Gumam Ino memegangi perutnya. Jika kasus nya seperti ini mau tak mau harus ada yang mengalah..

"Kalian ke kelas dulu saja, aku yang kekantin. Kalau bergerombol pasti guru-guru curiga" Usul Tenten yang langsung disetujui empat rekan lainnya. Tentu saja ini menguntungkan personil lain. Sebelum mereka berempat caw ada seringai aneh mengiringi langkah Tenten, kau lupa sesuatu yang fatal Tenten.

Tenten berbalik arah, namun rasannya ada yang lupa hingga dia menghentikan langkahnya sebentar "Woy uangnya!"Teriaknya tapi sayang mereka sudah kabur bahkan terhitung sangat cepat. Memang sangat tahu kondisi.

Gadis berambut cepol dua itu mengambil jalan memutar ke taman belakang dengan alasan takut dicegat Ibiki-sensei jika melewati jalan yang sama. Tapi untuk kedua kalinya langkahnya berhenti tepat ketika telinganya mendengar suara perempuan yang sedang marah-marah dengan intonasi yang cukup tinggi. Dengan cekatan Tenten mulai berjingjit mencoba menyaksikan pertunjukan gratis itu. Sayang jika dilewatkan. Bak maling yang memastikan kondisi barang curiannya Tenten mengintip dibalik dinding.

Seorang gadis berambut cokelat tua yang Tenten ketahui adalah rekan satu angkatan dengan nya hanya saja mereka berbeda kelas dan Tenten tidak terlalu mengenalnya kini sedang bersama seorang pemuda dengan mata bulan serupa Hinata "Bukannya itu Neji-senpai yah" Ucap Tenten sambil menatap lekat-lekat wajah kakak kelasnya itu memastikan apakan benar yang tengah berdebat itu adalah saudara Hinata. Setelah yakin bahwa itu adalah Neji, sebenarnya Tenten berniat tak menguping pembicaraan orang yang merupakan saudara sahabatnya sendiri itu. Tapi langkanya ia urungkan dan kembali mensiagakan telinganya.

"Kau yakin tak akan menyesal memilihnya?" Tanya Neji pada gadis di depannya itu.

"Tak akan pernah. Lagipula dia lebih mengerti kebutuhanku dibanding senpai" Jawab gadis itu cuek sambil memutar matanya dilanjut dengan melipat tangannya didepan dadanya membuat Tenten langsung menilai gadis itu terlalu angkuh "Dengar baik-baik yah senpai, pacaran itu bukan hanya makan angin" Bisiknya kemudian membuat Neji sedikit terkejut dengan ucapan gadis itu sementara Tenten terlihat kasihan dengan sosok Hyuga Neji tersebut. Terlalu melankolis fikir Tenten.

"Oh ya! Arigato untuk satu bulan membosankannya" Ucap gadis itu beanjak meninggalkan Neji. Takut terpergok tengah mengintip, Tenten cepat memojokan dirinya agar tak terlihat oleh gadis tengil itu. Ah entah kenapa Tenten kesal sendiri melihat gadis yang tak lebih dari ATM berjalan itu. Ah mungkin karena rasa solidaritas pada saudara Hinata.

"Mau sampai kapan kau menguping disana" Ucap Neji entah pada siapa. Padahal gadis yang menjadi rekan adu jatosnya tadi sudah pergi meninggalkannya. Tenten menengok kanan-kiri melihat siapakah yang Neji ajak bicara tapi nihil disana tak ada siapapun kecuali dirinya. DIRINYA. Kenyataan itu membuat Tenten tersadar akan bahaya yang kini sedang menantinya. "Hah mampus aku" Gumam Tenten menundukkan kepalanya tapi naas saat ia menegakkan kembali dia malah terlonjak kaget mendapat Neji kini berdiri didepannya "Ah.. senpai" Sapa Tenten seolah tak terjadi apapun

Tenten menggaruk kepalanya yang tak sama sekali gatal sambil tersenyum ala pepsodent. "Hehe aku gak denger apa-apa ko suwer" Ucap Tenten menyakinkan dengan mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf v

"Haiiisss memalukan! Awas kau kalau sampai kejadian ini sampai tersebar" Ancam Neji. Jelas saja dia tak akan percaya kalau Tenten tak mendengar perdebtannya dengan Yukori─nama gadis itu─ hanya dengan melihat tingah kohainya yang sudah seperti maling jemuran yang tertangkap basah dan Neji pastikan Tenten mendengarnya. Tenten akan menjadi radio yang pasti dengan senang hari mengoceh tentang pertengkarannya dengan gadis itu.

"Kau merasa malu karena aku mendengarnya? Tapi kenapa kau tak merasa malu ketika harga dirimu diinjak-injak seperti itu?" Tanya Tenten membuat Neji menatap kearahnya

"Jangan berbicara seolah kau pernah mengalaminya" Jawab Neji dingin. Bukan Tenten namanya jika takut hanya dengan sikap dingin lawan bicaranya ini. Neji salah orang jika mengajak Tenten berdebat karena pada dasarnya semua peronil Go Hoshi adalah ahli beradu argumen termasuk Tenten.

"Aku memang belum pernah, eh ralat takan pernah mengalaminya. Tapi aku taku kapan aku harus mempertahankan harga diriku" Sindir Tenten "Tapi itu berlaku bukan untuk pengecut sepertimu" Lanjut Tenten membuat Neji sedikit gemas dengan sindiran Tenten yang cukup runcing itu

"Kenapa? Kau merasa pengecut?" Tanya Tenten lagi setelah melihat raut wajah Neji yang mulai mengeras.

Neji mengganti mimik nya kembali dengan senyuman dan kini malah Tenten yang bingung dengan reaksi pemuda bermarga Hyuga itu "Kau membuatku ingin menggiggit lidah tajam mu itu" Ucap Neji pelan namun sukses membuat Tenten merona dan gelagapan. Hey sadarkan dirimu Tenten!

Tenten mengerjap-ngerjapkan matanya kemudian menelan silvanya guna membahasi rongga tonggorokannya yang mengering seketika karena ocehan tak bermutu Neji barusan "Sial! Aku ini kenapa?" Umpat hati Tenten

"Kau membuatku ingin menamparmu" Jawab Tenten mencoba membalikkan kondisi jantungnya yang tiba-tiba saja menambah dengytannya.

"O yah?" Tanya Neji dengan seringainya. Neji berjalan maju sementara Tenten sudah tersudut disana. Semakin maju, semakin maju dan..

"Ahh aku harus cepat-cepat ke kantin" Ucap Tenten sebagai batu loncatan dari masalah ini. Tangan gadis itu mendorong paksa tubuh Neji sampai jalan kabur terbuka untuknya. Melihat celah itu seketika Tenten melesat meninggalkan Neji yang kini tengah tertawa melihat reaksi Tenten yang menurutnya lucu itu

"Gadis sableng! Bakhan ini bukan jam istirahat" Gumam Neji yang entah sejak kapan melupakan pertengkarannya dengan Yukori beberapa menit lalu.

Dibelahan dunia lainTenten sedang mengumpat kebodohan dirinya sendiri "Memalukan!"


Seperti biasa Temari menjadi pemimpin mereka. Setelah meninggalkan Tenten tanpa memberinya uang mereka berniat kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran selanjutnya. Tangan gadis berkuncir empat itu mulai mengetuk pintu pelan "Perimisi sensei, maaf kami terlambat" Izin Temari membuka pintu dan masuk diikuti tiga rekan lainnya. Langkah Temari berhenti sebentar yang tentu saja akan memberhentikan enam kaki lainnya "Sensei baru" Ucap Temari pelan yang langsung direpon dengan lirikan ke tiga rekannya pada sosok yang kini duduk di bangku depan kelas itu. Mereka memang tak pernah melihatnya di kompleks sekolah ini.

"Mata pelajaran apa yah?" Tanya Sakura yang dijawab gelengan dua rekannya. Dua rekannya? Mana satu kepala lainnya. Ah lihat lah Ino tengah membuka mulutnya tak sadar dan matanya terus saja menatap lekat sensei baru itu. Temari, Sakura dan Hinata menatap bingung aksi Ino itu

"Apa yang kau makud superman mu itu dia?" Selidik Hinata

Ino hanya menjawabnya dengan anggukan pelan. Ternyata guru baru itu punya daya hipnotis yang kuat, terutama untuk Nona Yamanaka ini

"Kenapa kalian malah berdiri disana? " Sindir sensei itu yang langsung dituruti Sakura dan kawan-kawan "Siapa lagi yang belum masuk? Atau bangku disana memang kosong?" Tanya pria muda yang bergelar guru muda itu

"Anu sensei Tenten izin ke toilet dulu" Alasan Sakura

"Baiklah! Karena hanya tinggal atu orang sisiwa yang belum hadir saya langsung saja memperkenalkan diri" Ucap sensei baru itu sambil bengkit dari duduknya kemudian berjalan ketengah kelas. Beberapa siswi terlihat antusias dengan perkenalan itu, termasuk Ino.

"Perkenalkan nama saja Shimura Sai, saya mahasiswa Universitas Jepang dengan program study yang diambil adalah pelajaran matematika" Raut wajah yang awalnya terlihat antusias tapi setelah mendengar pelajaran yang dia pegang adalah matematika langsung membuat semua murid tersebut mengibarkan bendera putih. Seganteng-gantengnya guru kalau dia adalah guru matematika maka dia merupakan salah satu zona berbahaya. "Tapi.." Sai menggantung perkatannya "Saya disini bukan sebagai guru, beberapa bulan kedepan saya ditugaskan di sekolah ini untuk mencari tahu minat rekan-rekan terhadap pelajaran matematika untuk tugas skripsi saya. Jadi mohon kerjasamanya" Ucap Sai mengakhiri perkataanya dengan ber-ogiji didepan kelas

"Oh ternyata masih mahasiswa" Gumam Sakura "Jadi tadi kita bilang sensei itu terlalu sopan dong" Lanjutnya

"Begitulah" Jawab Hinata sama acuhnya dengan Sakura

Ino mengangkat tangannya padalah tak ada sesi tanya jawab disana "Boleh saya bertanya?" Tanya Ino tapi sebelum Sai memperbolehkan Ino sudah melontarkan pertanyaannya terlebih dahulu "Senpai sudah punya kekasih?" Tanya Ino to the point tanpa bertele-tele langsung shoot saja dan golll...

"Belum, kau mau mendaftar?"Tanya Sai balik. Ino bukannya menjawab, dia malah terlihat grogi dan hilang kendali saat Sai berkata demikian "Ahaha aku bercanda" Lanjut Sai yang langsung direspon raut wajah Ino yang kecewa.

"Mungkin kita akan bertemu satu minggu dua kali" Ucap Sai "Kalau begitu saya tinggal dulu" pamit Sai membereskan barang bawaannya kemudian berjalan menuju pintu kelas. Saat di luar kelas Sai berpapasan dengan gadis yang berambut cepol dua tengah membawa sekeresek penuh makanan

"Kau Tenten?" Tanya Sai melihat Tenten yang berjalan kearah kelas yang baru saja dia tinggalkan. Tenten mengangguk "Ahh, ternyata toilet udah beralih fungsi menjadi kantin" Ucap Sai tapi tentu saja Tenten tak mengerti ucapan pemuda yang bahkan tak ia kenali itu. Dengan tanpa rasa bersalah atau lainnya Tenten melengos pergi meninggalkan Sai

"Murid-murid yang kocak" Gumam Sai kemudia melanjutkan perjalanannya "Sama kaya aku dulu"


Semua murid berbondong-bondong menghambur keluar kelas. Beberapa menit lalu bel pulang sudah berbunyi nyaring membuat perasaan yang semula galau menjadi kembali cenat-cenut, bahkan untuk personil Go Hoshi yang notabennya hanya mengikuti tidak lebih dari setengah hari pelajaran saja dan sisanya mereka sibuk dengan pekerjaan tak bermutu seperti biasanya saja udah membuat mereka berteriak frustasi.

"Kalian duluan saja, aku mau latihan Taekwondo dulu" Ucap Sakura masih membereskan beberapa buku yang sempat tertidur di mejanya dengan sembarang itu.

"Hari Senin yah. Oke lah! Kita tinggal" Pamit Hinata keluar dari ruang kelas disusul ketiga rekan lainnya sambil melambaikan tangan kearah Sakura yang masih terlihat sibuk dengan buku-bukunya

"Hem" Jawab Sakura yang merupakan kata lain dari iya dan tak pernah terdeteksi oleh kamus bahasa manapun

Karena kelas sudah kosong, Sakura semakin cepat membereskan barang-barang di mejanya yang berserakan. Entahlah ditinggal sendiri di dalam kelas tetap saja masih terasa aura mitisnya walaupun dia sudah mengenal sekolah ini kurang dari tiga tahun. Konon dulunya kelas ini adalah kerajaan setan, desas-desus itu memang hanya gosip belaka tapi tetap saja itu menyeramkan. Sakura cepat menresletingkan tas ranselnya dan beranjak keruangan latihan Taekwondo. Hanya ada segelintir siswa saja selama Sakura berjalan menuju ruang latihan, mungkin karena jam pelajaran sudah habis fikir Sakura.

Sesampainya di ruang latihan Sakura celingak-celinguk sendiri karena baru dia saja yang yang berdiri disana. Ruangan yang cukup luas ini hanya berisikan matras yang menutup lantai jadi Sakura langsung saja membanting tasnya asal dan duduk menunggu rekannya lain. Untuk sekedar mengusur rasa bosannya dia membaca komik yang dia sembunyikan di kantong ajaib ranselnya. Yah, KOMIC dilarang masuk arena sekolah, sungguh aturan yang membosankan bukan? Benar, sekolah ini memang membosankan

Lima belas menit berlalu masih saja belum aja rekan-rekan satu tim nya yang muncul. Dari posisi duduk sekarang sudah tengkurap sambil menaikan kakinya ke udara beruntung komik bisa sedikit mengusir kebosanannya. Sakura menghentikan acara membacanya sebentar saat gendang telingnya mendengar bunyi yang berfrekuensi kecil namun cukup jelas di telinga Sakura. Bunyi musik aliran Rock yang Sakura sangat hapal, L'Arc en Ciel yah itu lagu milik band dengan nama Jepang Laruku itu kini tengah mendayu pelan entah dari arah mana, tapi kemungkinan bukan dari dalam ruangan ini. Sakura adalah penggemar berat band tersebut, apalagi personil nya Hyde. Oh My Gosh meskipun sudah berumur tapi masih tetap berkharisma menurut gadis bernama asli Haruno Sakura ini.

Sakura beranjak keluar ruangan yang tepat berhadapan dengan taman samping sekolah dan disana lah irisnya melihat pemuda tengah tertidur dengan iringan lagu tersebut. Jarak Sakura dengan pemuda berambut reaven itu tak terlalu jauh karena itu Sakura bisa melihat kelopak matanya yang tertutup rapat.

"Siapa dia?" Tanya Sakura yang sebenarnya penasaran ingin menanyai ketertarikan pemuda itu dengan band yang Sakura gemari tersebut, tapi sayang dia tengah tak sadarkan diri dan Sakura pun tak begitu hapal dengan wajah pemuda ini yang dapat dipastikan adalah murid sekolah ini karena seragam yang ia kenakan saat ini sama dengan milik Sakura dan ia juga berada di lingkungan Konoha High School.

"Kau sedang apa?" Tegur suara membuat Sakura langsung berbalik kearah suara

Sosok yang Sakura kenal sebagai mahasiswa jurusan matematika kini berdiri di sampingnya "Kau?" Ucap Sakura entah berupa pertanyaan atau pernyataan karena dia bergumam dengan nada yang tak jelas karena orang yang tak disangka-sangka nya berdiri berdampingan dengan Sakura

"Dia Uchiha Sasuke, senpaimu" Ungkap pemuda berkulit pucat itu sambil memperhatikan arah pandangan Sakura tadi. Sakura mmenyernyitkan keningnya bingung pasalnya bagaimana orang ini tahu nama pemuda disana sedangkan dia baru hari ini ada disekolah ini. "Aku alumnus sekolah ini juga, dua tahun lalu" Jelasnya seakan membaca kebingungan Sakura

"Ahh" Jawab Sakura mengangguk "Tapi kenapa aku tak pernah melihatnya?" Tanya Sakura karena merasa asing dengan wajah Sasuke. Yah meskipun murid di sekolah ini jumlahnya puluh ribuan tetap saja aneh kerana dia selama duduk di kelas X dan sekarang kelas XI tak pernah melihat pemuda emo itu

"Haha kau bercanda?" Tanya Sai dengan tawanya membuat Sakura memutar matanya jengkel "Makanya jangan terlalu fokus dengan kumpulan konyolmu itu" Lanjut Sai yang sedikit dibenarkan Sakura. Bagi Go Hoshi selain mereka berlima yang lain adalah orang asing. Bahkan mereka tak banyak berinteraksi dengan orang sekelasnya apalagi dengan kakak kelasnya. Mungkin ada beberapa yang mereka tahu namanya tapi itupun hanya segelintir orang saja. "Mau ku sampaikan salammu padanya?" Tanya Sai kemudian yang langung di jawab dengan melebarnya kelopak mata Sakura

"Nani?" Ucap Sakura stratik, jelas bukan itu yang Sakura maksud. Dia hanya tertarik dengan apa yang dia dengar bukan dengan apa yang dia lihat meskipun Sakura akui pemuda itu memang tipe nya bahkan mungkin terlalu sempurna untuknya


Sekarang

"Haha kau tau itu awal kesengsaraan kita" Ucap Temari sambil mengaduk jus mangga nya yang sepuluh menit lalu ia pesan

"Gimana kabar Neji, Hinata?" Tanya Tenten menengok kearah saudara Neji tersebut

Hinata meneguk minumannya sebelum menjawab pertanyaan Tenten barusan "Masih seperti dulu saja" Jawab Hinata pendek, dia tahu semakin ia membeberkan informasi Neji kepada Tenten maka akan semakin sakit hati Tenten. Jadi cukup dengan kalimat singkat itu saja

"Cieeh yang masih sayang sama mantannya" Sindir Sakura yang langsung ditimpali Ino

"Emang kamu engga?" Skak matt, Sakura membungkam tak bisa menjawab lagi

"Kita masih mencintai mereka" Ucap Hinata dijawab anggukan keempat rekannya

TBC


Aduh Ryu mau berangkat kerja, jadi cepet2 Updatenya

Gomen kalau banyak typo, soalnya sama ekali gaada waktu buat benerin

Gomen juga review nya belum Ryu bales pokoknya Arigato yang udah post Reviewnya

Jaa nee...