BoBoiBoy dan seluruh karakter yang terlibat di dalamnya itu milik Animonsta Studios! Saya hanya meminjam mereka dalam pembuatan fanfiksi ini.

Warning: Alternative Universe, BL, OOCness, possible typo(s), harem!Fang, DLDR.

Prompt 4: Gak Mau Populer (Request from viziha)

.

.

||.||.||.||

.

.

Menjadi populer dalam sekolah itu sangat menyenangkan—tidak pada konteks tertentu sebenarnya. Tapi sebenarnya menjadi seorang yang populer dalam sekolah itu sangat menyebalkan binti membuat pusing, kau tahu mengapa?

Alasan pertama, jika ia sedang berjalan melewati koridor kelas pasti akan selalu diikuti oleh sebuah teriakan-teriakan gak jelas yang berkumandang keras—terutama dari para gadis-gadis.

Alasan kedua, pasti orang itu akan selalu dibuntuti oleh banyak orang, sehingga ketika sedang melakukan suatu aktivitas pasti akan terganggu dengan mereka.

Dan alasan ketiga—alasan utama, pasti nantinya akan banyak orang yang jatuh cinta padanya sehingga mereka akan membuat suatu komunitas. Mereka juga akan mencari segala informasi tentangnya sehingga mereka bisa mengetahui bagaimana cara agar dapat mendapatkan hatinya.

Tuh kan, menjadi populer itu sangat menyebalkan binti membuat pusing. Tapi karena menjadi populer di sekolah merupakan impiannya semenjak ia duduk di sekolah dasar, ia harus memiliki alat pengukur kesabaran yang memiliki angka tinggi.

Ia adalah Fang, pemuda uhukcantikuhuk tampan dengan tatapan tajam bagaikan elang yang tengah menerkam mangsanya. Ia selalu terlihat elegan sehingga ia selalu dikejar-kejar oleh para gadis, bahkan kaum adam pun ikut mengejar dirinya. Sebegitukah aura pesona yang dipancarkan oleh dirinya? Hanya sang Maha Penciptalah yang tahu akan hal itu.

Seperti apa yang dikatakan sebelumnya, Fang harus memiliki alat pengukur kesabaran yang memiliki angka yang tinggi. Karena mungkin alat seperti itu dapat ia gunakan untuk saat ini—ya, kini ia sedang dikelilingi oleh satu—ah tidak, empat pemuda yang diyakini olehnya bahwa mereka itu kembar, hanya warna mata dan style berpakaian mereka yang berbeda.

Tunggu, memang mereka kelihatan kembar, tapi kenapa nama depan mereka bisa sama semua sementara nama belakang mereka berbeda? Apa itu nama marga? Ah, tidak mungkin—berhenti berpikiran aneh seperti itu, Fang.

"Fang, apa kau mau ikut kencanku malam ini?" tanya Api dengan nadanya yang kelewat antusias. "Malam ini aku akan membawamu ke festival dan melihat pertunjukkan api bersama…" Tangannya mulai menggemgam pelan telapak tangan Fang yang lebih kecil darinya itu sembari menatap mata cokelat Fang dengan mata oranye miliknya—seolah memohon.

"Tidak." balas Fang tegas. "Malam ini aku harus mempelajari materi Matematika karena besok aku ada ujian Matematika…"

Api pun menunduk lesu, kemudian terdengarlah tawa Taufan yang telah meledak begitu menggelegar. "Kasihan, ajakanmu ditolak Fang. Kalau ingin mendapatkannya, kau harus pintar berkata-kata agar ia terpikat dengan mudah." Kemudian mata biru Taufan beralih menuju Fang. "Hei, Fang! Apa kamu tahu apa persamaan kamu dengan lukisan Monalisa?"

Fang menyirit, ia merasa aneh dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Taufan. "Lukisan yang dibuat oleh Dr. Leonardo da Vinci itu 'kan?" Taufan hanya mengangguk untuk mengiyakan. "…memangnya ada persamaan aku dengan lukisan itu?"

"Tentu saja ada!" Taufan menjawab dengan begitu antusias. "Kau dan lukisan itu sama-sama indah…"

Seketika terdengarlah suara jangkrik yang berkumandang dengan begitu keras, sukses sudah Taufan berhasil membuat sebulir keringat mulai menempel pada pelipis mereka semua—minus Taufan.

"Ada-ada saja kau, Taufan," gumamam tidak diperlukan sama sekali itu dikeluarkan dari bibir tipis Fang.

"Gombalanmu itu sudah basi! Apa kau yakin jika Fang akan tersipu malu dengan gombalan anehmu itu?" Halilintar berkata sarkartik, bahkan mata merah miliknya hampir menunjukkan sinar keangkuhan. "Lebih baik aku akan segera membawa Fang pergi dari sini menuju kamar hotel yang telah kupesan. Lalu aku akan mengunci pintu dan menutup jendela, dan akhirnya kami berdua dapat melakukan itu dengan tena—aduh!"

Sukses sudah Halilintar membuat ketiga saudaranya dan Fang memukul keras kepalanya secara beruntun, sehingga menimbulkan kesan bakpao merah yang disusun dari terbesar hingga terkecil yang menempel tepat di atas kepalanya dengan indah—menurut definisi mereka. "Dasar otak udang!"

"Apa kesalahanku?" Halilintar bertanya dengan nada yang dibuat-buat. "Lagipula jika aku mendapatkan Fang, maka aku akan melakukan itu semua…"

"…dan aku tidak akan membiarkanmu untuk mendapatkanku jika seperti itu pada akhirnya," sambung Fang yang sengaja memotong kalimat Halilintar. Lagipula jika ia membiarkan mulut—kotor mungkin— Halilintar terus dibiarkan, yang ada hanya nanti ia akan menemukan dirinya di rumah sakit jiwa.

Gendang telinga Fang menangkap gumaman dari Gempa, salah satu dari mereka yang mengelilingi dirinya—yang sepertinya juga masih mempunyai akal sehat. Mata emas miliknya mulai bergerak memutar, kemudian ke kiri dan ke kanan, menunjukkan bahwa ada sinar keraguan yang dipancarkan dari mata emasnya itu.

"Itu… besok aku juga ada ujian Matematika, jadi apa kau mau belajar bersamaku malam ini?" ajak Gempa sembari melemparkan senyumnya pada Fang.

Hal itu berhasil membuat senyuman Fang terkembang manis di wajahnya. "Tentu saja! Kebetulan ada materi yang tidak kumengerti, mungkin kau bisa mengajariku nanti…"

"Baiklah, nanti jam tujuh malam, aku akan datang ke rumahmu." Dan Gempa mendapatkan jawaban anggukan kepala dari Fang.

Api, Taufan, dan Halilintar hanya bisa menjatuhkan rahang mulut bawahnya hingga lebar maksimal sebagai rasa keterkejutnya. Mereka hanya tidak percaya bagaimana adik mereka yang paling muda itu bisa membuat Fang menerima ajakannya dengan mudah. Oh mungkin dewi Fortuna belum ada dipihak kalian bertiga.

"Lalu bagaimana dengan pertunjukkan apinya?"

"Lalu bagaimana dengan kata-kata indahku tadi? Kau belum membalasnya…"

"Lalu bagaimana dengan malam pertama kita?"

Fang tidak mendengar celotehan dari mereka bertiga—masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Kini ia dan Gempa sedang berjalan bersama, meninggalkan mereka bertiga dengan keadaan syok stadium akhir.

Menjadi populer memang tidak mudah. Tunggu, jika menjadi populer itu membuat dia harus mendengar berbagai ajakan yang ditawarkan, gombalan-gombalan aneh, dan juga impian gila, maka— "Kalau begitu, aku tidak mau jadi populer!" kata Fang histeris.

"Eh?"

.

*.*.*

.

Author's Note:

Duh… sudah lama saya tak menulis humor~~ makanya gaya bahasanya jadi aneh begitu. Mohon maklum ya, ini bentuk kegilaan saya akibat tugas yang diberikan oleh guru sadokis yang berbobot /? Btw, prompt ini dibuat khsusus untuk request bikin harem!Fang sama BBB kuasa empat /?

Prompt kemarin kurang memuaskan ya? Yeah, habisnya FF di fandom ini kebanyakan unsur romance-nya sih, jarang ada unsur family, friendship, dan segala macam yang lainnya. Padahal kebanyakan tokoh dalam fandom ini kan anak-anak. Makanya saya putuskan bahwa dalam FF ini setiap prompt-nya berbeda genre. Yeah, ini juga sebagai bentuk penghormatan saya pada Animonsta Studios, bisa jadi…

Yeah, tetap tunggu kelanjutan di prompt berikutnya! ^^