BoBoiBoy dan seluruh karakter yang terlibat di dalamnya itu milik Animonsta Studios! Saya hanya meminjam mereka dalam pembuatan fanfiksi ini.
Warning: Alternative Universe, OOCness, possible typo(s), genderbend, fluff gagal, Gajeness, DLDR.
Prompt 8: Menunggu
.
.
||.||.||.||
.
.
"Ingat ya, Boboiboy. Jika kau berhasil menikahi Fang nanti, maka kau harus menjaganya dengan baik! Karena kondisi tubuh Fang itu sangat lemah, maka dari itu kau jangan sampai membuat tubuhnya merasa lelah!"
"Iya, Kakek! Boboiboy berjanji kalau nanti Boboiboy tidak akan pernah melakukan hal itu pada Fang!"
"Nah, itu baru cucu Kakek!"
.
.
Dentuman detik jarum jam mulai memenuhi seisi ruangan ini, hanya ada seorang perempuan bermahkotakan surai pendek hitam kebiruan dalam ruangan ini. Menunggu dan menunggu, itulah yang dilakukannya kini. Menunggu sang behalan hatinya kembali ke rumah karena jarum jam telah menunjukkan pukul tiga pagi—lewat dari jam lemburnya.
Seharusnya perempuan itu sudah terlelap dalam alam mimpinya, mengingat kondisi tubuhnya yang sangat tidak mendukung, namun ia tetap harus menunggu sang suaminya walau hingga sang raja tata surya muncul di ufuk timur sekalipun—ia tidak peduli.
Manik hitam cermelang di balik lensa cekungnya menatap meja kecil berkayu oak di dekatnya, terdapat beberapa plastik bening dan potongan kertas kecil yang sudah tak berbentuk tersusun tidak tertatur di sana. Kemudian maniknya berpaling kembali menatap jarum jam dinding, pandangannya mulai mengabur diakibatkan kurangnya mengistirahatkan tubuhnya, namun ia harus tetap terjaga.
Sudah hampir tiga hari sang belahan hatinya itu tidak kembali ke rumah dari pekerjaannya. Hal apa yang membuatnya tidak pulang? Apa dia tidak merindukan istrinya yang masih setia menunggunya?
Berbagai pertanyaan mulai menampak dalam pikirannya, dan itu semua hampir membuat perempuan itu frustasi. Namun ia harus menahan semua gejolak emosi dalam dirinya itu, mengingat dirinya sulit untuk mengeluarkan emosinya.
Indera pendengarannya mulai menangkap suara samar, namun ia tahu kalau itu suara pintu kayu yang sedang didorong ke dalam—pertanda ada seseorang yang masuk ke dalam rumahnya. Perempuan bersurai hitam keunguan itu membenarkan posisi kacamatanya, kemudian mulai berdiri dan menghampiri suara itu berasal. Dugaannya sangat tepat, kini di depannya berdirinya sosok pria jangkung dengan kondisi berantakan yang sangat tidak asing baginya.
"Aku pulang, Fang …"
Perempuan itu berusaha untuk menaikkan kedua sudut bibirnya. "Selamat datang, Boboiboy …"
Boboiboy mulai melepaskan sepatu berkulit cokelat, sementara Fang mulai membantu melepaskan blazer yang pria itu kenakan dan membawakan bawaannya. Kemudian mereka berdua berjalan perlahan menuju ruangan pribadi mereka. Boboiboy mulai menjatuhkan tubuhnya tepat di atas tempat tidur, pria itu mulai merasakan hilang penatnya perlahan. Manik cokelanya berpaling menatap Fang sedang merapikan pakaiannya di sebuat pengait sebelum perempuan itu duduk tepat di sampingnya.
"Kau tidak mau mandi dulu?"
"Tidak, aku sudah sangat lelah untuk melakukannya. Kau tahu sendiri bagaimana rasanya bekerja selama hampir tiga hari berturut-turut dengan waktu istirahat yang kurang, kan?"
Fang hanya bisa melemparkan senyum tipis pada suaminya itu. "Sifatmu tidak berubah ternyata, ya."
Pria itu hanya membalas dengan gumaman kecil, kemudian ia mulai duduk sembari mendekati istrinya. "Jangan-jangan kau menungguku selama itu, ya?" Fang tidak menjawab pertanyaan itu, ia hanya memalingkan wajahnya. "Kenapa kau menungguku? Kau tahu sendiri kan kondisi tubuhmu bagaimana …" Fang hanya mengangguk kecil. "Sudah kukatakan berkali-kali padamu agar kau menjaga kondisi tubuhmu, bahkan aku pernah dinasehati oleh Kakek karena tidak menjagamu dengan baik."
Fang hanya bisa tertawa kecil saat melihat wajah Boboiboy yang mulai masam. "Iya, iya. Maafkan aku. Aku hanya rindu padamu saja, makanya aku rela untuk menunggumu walau selama ini."
Wajah masam Boboiboy mulai memudar, memunculkan sinar kebahagiaan dari manik cokelatnya sembari menaikkan kedua sudut kedua tangannya mendekap tubuh sang istri yang lebih kecil darinya, menyalurkan perasaan yang mendekap pada dirinya, membuat rona merah mulai menghiasi wajah cantiknya Fang. Perempuan itu mulai memejamkan kedua matanya, ia hanya bisa menyamankan diri dalam dekapan pria itu.
"Tidak salah aku menikahimu …"
"Hehe, dasar gombal …"
