BoBoiBoy dan seluruh karakter yang terlibat di dalamnya itu milik Animonsta Studios! Saya hanya meminjam mereka dalam pembuatan fanfiksi ini.

Warning: Semi-Canon, OOCness, possible typo(s), little Shōnen-ai, OC inside, Gajeness, DLDR.

Prompt 11: Padang Rumput, Gadis Kecil, Cheesecake (Thanks to IcedCappuccino)

.

.

||.||.||.||

.

.

Cahaya mulai menusuk mata, membuat bocah itu menyiritkan keningnya. Bocah itu mulai mengambil langkah kecil di atas lautan hijau nan segar ini. Menyusahkan memang kembali ke rumah jika melewati padang rumput, tapi ini demi kebaikannya—maksudnya, agar bocah itu tidak bertemu dengan rival abadinya itu.

Bocah itu sedikit berdecak kesal. Benaknya mulai mengumpulkan kepingan-kepingan memorinya hingga menjadi satu, memunculkan seberkas film singkat di mana di dalamnya terdapat kejadian kecil—yang untuk kesekian kalinya—yang membuat sepasang rival itu perang adu mulut.

"Hei, Boboiboy! Kau cari masalah lagi denganku, hah?!"

"Siapa yang mencari masalah denganmu, aku hanya berkata dengan jujur; aku lebih hebat darimu. Kau sendiri yang bilang—"

"Aku hanya bilang kau hebat, bukan berarti kau lebih hebat dariku—tentunya aku lebih hebat!"

"Apa katamu—?!"

"Cari masalah denganku!?"

Ia terus mengambil langkah ke depan, melintasi padang rerumputan hijau yang luasnya tak dapat dihitung oleh kasat mata. Asal dirinya dapat pulang dan tidak bertemu dengan rivalnya itu untuk sementara waktu, maka usahanya ini tidak akan sia-sia.

Langkahnya terhenti sesaat ketika telinganya menangkap suara isak tangis kecil, sepasang mata hitam cermelangnya mulai menyapu sekelilingnya—mencari sosok yang tengah mengeluarkan isak tangisnya. Sesaat sepasang matanya sedikit melebar ketika menangkap sosok gadis kecil yang tengah duduk di bawah pohon sembari menelungkupkan wajahnya di antara kedua kakinya yang sengaja ia peluk.

Spontan bocah itu berjalan mendekati sosok gadis kecil itu, kemudian ia mulai duduk di sebelah gadis kecil itu yang masih mengeluarkan isak tangisnya. "Kenapa kau menangis sendiri di sini?"

Sosok gadis kecil itu sedikit terlonjak kaget, spontan ia mendongakkan wajahnya agar matanya dapat menangkap sosok bocah yang tengah duduk di sampingnya. "Kau siapa?"

Bocah bermata hitam cermelang itu sedikit bergumam bingung. "Aku Fang, kau—?"

"Aku Faith …"

Sesaat Fang mengamati sosok gadis kecil itu; helaian biru keunguan sebahu yang melindungi kepalanya dari sinar ultraviolet, mata hitam cermelang dibalik lenca cekung yang diberi frame dan bingkai ungu.

Entah kenapa aku merasa kalau aku dan Faith memiliki persamaan, ujar Fang dalam benaknya.

"Ngomong-ngomong—Faith, kenapa kamu menangis?" Fang kembali bertanya pada gadis kecil itu sembari memberikan sedikit senyuman—yang tidak kontras.

"Tadi aku bertengkar dengan teman baikku, aku merasa tidak enak padanya. Jadi—" ujar Faith yang kemudian dilanjutkan dengan beberapa isakan tangis kecil.

Seketika Fang merasa ada sengatan listrik aneh yang membuat tubuhnya sedikit bergetar hebat saat ia mendengarkan apa yang dialami oleh Faith. Kepalanya mulai sedikit menunduk, hatinya mulai menjadi tak karuan—entah itu harus marah, sedih, ataupun senang.

"Mungkin cara yang tepat adalah dengan meminta maaf pada temanmu itu, karena dengan maaf masalah dapat terselesaikan." Tiba-tiba saja kalimat itu terucap keluar begitu saja dari mulutnya Fang, membuat Faith sedikit melebarkan sepasang matanya.

Kalimat yang tadi Fang lontarkan membuat kepingan-kepingan semangat pada gadis kecil itu mulai terkumpul menjadi satu dalam dirinya, ia mulai menghapus jejak air mata yang sempat menggenangi matanya. "Baik! Akan aku lakukan!"

Faith mulai bangkit berdiri, kemudian ia mulai membuat langkah kecil namun dalam tempo cepat dan mulai meninggalkan Fang yang masih duduk di bawah pohon itu. "Terima kasih untuk sarannya ya, Kak Fang!"

Seluas senyum hampa terkembang manis di wajahnya Fang, matanya sudah tidak menangkap sosok gadis kecil itu. Sejenka ia mengambil napas, kemudian mengeluarkannya dalam satu hembusan pasrah.

"Mungkin aku juga harus minta maaf padanya juga …"

*)(*(*)*

Sesaat sepasang mata hitamnya menatap bangunan yang sangat tidak asing bagi dirinya, ia telah tiba di depan rumah dari sang rival—dan pada akhirnya usahanya untuk kembali ke rumah tanpa bertemu dengan rivalnya hanya menjadi secercah harapan kosong saja. Ah—ia tidak peduli, asalkan perasaan aneh yang bergelonjak dalam dirinya itu dapat sedikit pencerahan.

Baru saja Fang akan mengucapkan salam, tiba-tiba saja bocah yang tengah dicarinya itu keluar dari rumahnya. Membuat masing-masing sepasang mata mereka saling bertemu sesaat, kedua pasang mata itu saling memancarkan sinar aneh yang sulit diterjemahkan oleh mereka.

"Boboiboy—" Fang mulai menyerukan nama sang rivalnya. "Maafkan aku untuk kejadian yang tadi, masalah siapa yang paling hebat di antara kita. Aku—" Suaranya begitu bergetar, seolah lidahnya keluh untuk mengeluarkan rangkaian kata. Wajah bocah berkacamata itu sedikit menoleh ke samping untuk tidak bertemu dengan tatapan mata dari rivalnya.

Seulas senyum simpul tercipta di wajah Boboiboy, bahkan kini tawa kecil juga ikut keluar dari mulutnya. "Anggap saja kejadian tadi itu hanya candaan, kau tidak perlu meminta maaf—karena seharusnya aku yang minta maaf."

Fang hanyut dalam diam, bocah itu tidak tahu apakah saat ini waktunya untuk merasa senang atau tidak, perasaan aneh masih berkecamuk dalam benaknya. Mata hitamnya berusaha untuk menatap bocah di depannya yang masih melemparkan senyum padanya.

"Ngomong-ngomong—Fang, apa kau mau makan cheesecake yang baru saja aku beli tadi?" tanya Boboiboy sembari menyodorkan sepiring kecil di mana di atasnya terdapat sepotong kue kecil yang dilapisi oleh softcream yang begitu menggiurkan.

Sebelah alis Fang sedikit terangkat saat ia mendengar tawaran dari sang rivalnya itu. Keraguan sedikit melanda hatinya. "Aku—"

"Ah, ayo!"

Boboiboy seenaknya memotong kalimat Fang yang belum selesai sembari menarik lengan kecil dari bocah berkacamata itu ke tempat di mana mereka bisa duduk. Bocah bertopi dinasaurus orange itu kembali menyodorkan sepotong cheesecake pada Fang, dan bocah berambut biru keunguan itu tak bisa mengelak untuk menolak tawaran dari rivalnya itu.

"Terima kasih …" ucap Fang cepat. Kemudian ia mulai mengambil sepotong cheesecake itu tanpa menatap wajahnya Boboiboy, rasa panas mulai menjalar di sekitar wajahnya—kini ia yakin kalau wajahnya tengah memerah.


Hanya sekedar info saja, OC dalam drabble ini itu merupakan Fang versi perempuan yang disajikan dalam sosok gadis kecil lho /?

EDITED:

Ah, maaf untuk prompt yang kemarin. Aku malah update doc yang sama, padahal sudah aku cek dan itu sudah benar tapikenapa jadi berubah? Tapi ya sudahlah, yang penting untuk me-reupdate prompt 11.

And I say thanks to Yukrty The Fantasy Girl so much yang telah protes(?) padaku karena kecerobohanku ini.
Sekali lagi mohon maaf untuk ketidanyamaannya. ^^