BoBoiBoy dan seluruh karakter yang terlibat di dalamnya itu milik Animonsta Studios! Saya hanya meminjam mereka dalam pembuatan fanfiksi ini.
Warning: Semi-Canon, OOCness, possible typo(s), little Shōnen-ai/Boys Love, Screw EYD, Bahasa Frontalness, Bullying, Gajeness, DLDR.
Prompt 14: SOMETHING! (Terinspirasi dari lagu Syahrini - Sesuatu)
.
.
||.||.||.||
.
.
Dari pada kagak ada kerjaan, iseng-iseng mata cokelatnya menatap sosok bocah landak ungu yang lagi sibuk menjawab semua soal dari Pak Guru Papa Zola di whiteboard. Mata cokelat Boboiboy sibuk memandang setiap inci tubuh bocah landak yang keliatan eksotis itu—dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sungguh nggak ada kerjaan banget dia emang.
Memori kenangan indah datang menyerbu otaknya. Di mana menunjukkan proyeksi gambar ketika dia—bersama keempat kawan baiknya—berhasil ditembak pake Pistol Emosi Y. Kenapa namanya bukan Pistol Emosi Cinta atau Pistol Bunuh Dirih atau Pistol Bikin Punya Anak? Lupakan bagian ini.
Emang efeknya terasa setelah beberapa menit kemudian, dan dirinya merasa yang paling apes karena sifatnya yang penuh semangat berubah jadi seorang yang patah semangat seperti seorang istri yang baru saja dianiaya sama suaminya, jadi tukang galau gak jelas—sama halnya dengan penulis ceritanya.
Walau dirinya yang paling apes, tapi ia kudu bersyukur karena berkat senjata aneh yang dibikin sama Adu Du itu Boboiboy mendapatkan asupan yang nggak akan ia dapat selama hidupnya alias langka.
Kenapa coba?
Kalian ingat saat Fang jadi kayak gadis perawan yang lebaynya tingkat akut setelah ditembak pake Pistol Emosi Y? Oh mana mungkin kalian lupa karena itu adegan yang paling langka dalam animasi ini, mana fans girl itu bocahlumayan banyak lagi.
Balik lagi ke cerita.
Berkat Pistol Emosi Y si anak landak ungu itu jadi ala banci taman lawang terdekat. Pokoknya out of character abis deh. Dan hal itulah membuat Boboiboy klepek-klepek sesaat.
Gimana dia nggak klepek-klepek sama itu landak? Coba kalian ingat lagi adegan itu.
Tingkah lakunya …
Suaranya …
Gayanya …
—apa lagi ya? Yeah—intinya pas si Fang tertembak pistol itu semua unsur yang di dalam dirinya langsung berubah jadi ala perempuan.
Oh, yang paling diinget sama Boboiboy adalah bunga Kembang Sepatu yang nyelip di telinga Fang. Ouch—itu malah membuat daya pesonanya makin terpancar sempurna.
Dan ia nggak akan pernah lupa saat Fang menyeret paksa dirinya dengan cara menarik salah satu kakinya. Itu adalah masa-masa yang paling bikin imej-nya jatuh ke bawah! Oh ia sudah nggak tahu lagi harus taroh di mana itu mukanya, malu broh!
Woi, Boboiboy! Harusnya kau fokus dengan materi yang lagi diterangin sama Fang di depan. Tunggu, sejak kapan Fang selesai ngerjain semua soal di whiteboard dan sekarang itu bocah ungu kudu ngejelasin apa yang ditulisnya.
Makanya lu jangan ngelamun terus, Tuan Boboiboy.
"Nah itulah kira-kira cara untuk mengerjakan soal dari Pak Guru Papa …"
Sebenarnya itu guru punya niat buat ngajar enggak sih? Kok ngomongnya seolah terpaksa seperti itu.
Dan di saat bersamaan suara gemuru bel listrik berkumandang kenceng seantero sekolah hingga memaksa semua murid kudu bawa kapas tiap hari buat antisipasi biar kuping mereka nggak budeg sesaat. Ini pertanda bahwa kebahagiaan murid sudah tiba—jam sekolah telah selesai.
Langsung saja semua murid lari berhamburan dari dalam gedung sekolah, bahkan yang duluan cabut adalah Pak Guru Zola. Kini hanya tinggal itu bocah landak dan bocah dinosaurus di kelas yang sibuk merapikan barang-barang mereka yang berserakan di atas meja.
Sesaat mata Boboiboy memicing ke arah bocah landak itu, kembali memandang tubuh Fang yang menurutnya sudah masuk ke dalam standar seksi. Itu mata rasanya nggak mau lepas memandangnya.
Oh, ya Tuhan—mataku ini nggak bisa lepas memandang Fang? Seperti ada sesuatu yang ngeganjel di diri ini, tapi diri ini nggak tahu apa itu …, batin Boboiboy.
Demi mengetahui apaan sih yang bikin kokoro-nya resah hati, Boboiboy dengan pede bertanya, "Fang, kamu tahu tidak mengapa aku tidak bisa berhenti menatapmu?"
"Meneketehe[1] …" Nggak menoleh, Fang menjawab cuek bebek.
Sesaat itu bocah dinosaurus itu memanyunkan mulutnya, ia mulai sebel karena Fang nggak berhasil membantu pertanyaannya yang bikin kepalanya puyeng.
"Something something~ Something something in my heart. Something something~ Something something in my mind." [2]
Fang keselek sama ludahnya sendiri. Kupingnya langsung sakit ketika mendengar nyanyian Boboiboy yang mulai nge-random nggak jelas gitu. Mana dia masih nyanyi lagi, bocah berkacamata itu lupa bawa kapas masalahnya.
"Woi, kamu jangan nyanyi! Suaramu sumbang, tahu!"
Kesel—yah, kini bocah landak itu kesel dengan cara melampiaskannya lewat buku setebal kamus yang dilempar ke arah Boboiboy. Kini kupingnya tidak lagi mendengar suara sumbang, melainkan suara rintihan sakit.
"Kamu jahat!"
"Lagian aku suruh kamu buat berhenti nyanyi, malah kamu indahkan!"
Seketika mata cokelat Boboiboy mulai berkaca-kaca. "Padahal aku cuman ingin tahu apa yang sejak tadi membuatku terus melihatku, tapi kau jahat padaku! Seharusnya uke-ku itu kudu bersikap baik padaku …"
Fang keselek ludahnya lagi untuk yang kali keduanya. Ini juga kali keduanya bocah landak ungu itu kembali melemparkan buku setebal kamus—cuma jumlahnya aja yang lebih banyak.
Boboiboy berulang kali mengelus kepala benjolnya. "Walaupun kamu marah, kamu tetap thunder overwhelming storm equator~" [3]
… demiapah itu bocah dinosaurus oren ngomong itu? Wah, korek kuping siap menghadang dirimu kini, Fang.
Sebesit lintasan memori muncul di dalam kepalanya. Memutarkan proyeksi di mana beberapa waktu lalu Fang mengajak Boboiboy buat nonton konser artis sensasional—siapa ya namanya? Syahroni? Makaroni? Berponi? Akh—Fang lupa siapa nama itu artis, intinya itu weh.
Fang menyadari satu hal—jangan-jangan teman—rival—satu ini ketularan sifat dari artis itu! Waduh, dunianya bentar lagi kiamat nih—hanya bercanda kok. Tapi bener sumpah, Fang salah ngajak orang ternyata pada waktu itu.
"SEJAK KAPAN KAMU JADI SEALAY DIA, BOBOIBOY!?"
Boboiboy, bocah berusia tigabelas tahun, yang kepengen tahu apa yang ngeganjel hatinya, kini harus berbaring lemah di rumah sakit karena cidera yang sangat parah berkat bocah ungu itu—dan pelakunya kini sedang diceramahi Pak Guru Zola.
[1] Meneketehe, bahasa yang sering saya gunakan—yang artinya 'mana kutahu'.
[2] Something something~ Something something in my heart. Something something~ Something-something in my mind, itu merupakan sepenggal lagu dari judul lagu yang telah saya sebutkan sebelumnya, yang merupakan juga merupakan terjemahan Inggris saya yang ngaco …
[3] Thunder overwhelming storm equator, merupakan terjemahan Inggris saya yang ngaco berikutnya, yang artinya adalah 'cetar membahana halilintar badai'.
