New Fate
Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime
Jalan cerita berbeda dengan anime/manga yang asli. Tanpa ada maksud untuk mempengaruhi yang aslinya.
Mungkin akan ada typo yang nyempil, jadi bersiaplah untuk memaklumi.
Chapter 3, wah wah.. Baru permulaan tapi nyenengin nih. Banyak yang nanya dimana Mikasa cs berada, nah author sengaja gak munculin mereka diawal. Makanya, baca setiap kelanjutannya yaa ^^ Mikasa cs pasti ada kok.
Dan semua pertanyaan lain yang ditanyain para readers belum akan dijawab sama author. Mending cari tau sendiri dengan baca fictnya, hwahaha #tawanista
Lalu, masalah... susumu atau susume itu. Author sih dengernya susumu, jadi nulisnya juga susumu. Tapi ternyata susume ya? Hehe gomen
Author cewe apa cowo? Coba tebaaak? Hohoho
Kira-kira aja tulisan macam gini tulisan spesies apa.
Tebar bunga buat semua readers yang setia baca fict ini. Arigatou gozaimasu minna-san ^o^
Sekali lagi, ditunggu setiap cuap-cuap readers.
Happy reading
RnR
Chapter 3
"Aku hanya ingin menyapa Eren."
Hening. Semuanya terpaku pada objek besar dihadapan mereka. Objek yang memegang tali baja manuver 3D kopral mereka, membuat ia melayang diudara dengan ekspresi tak jauh berbeda dengan bawahannya dibawah sana.
Suara jelas yang serak itu berhasil membuat pemikiran mereka tentang raksasa semakin membingungkan, semakin kabur dan meminimkan segala perkiraan menang selama ini. Apa maksudnya ini?
Eren, sebagai orang yang menjadi tujuan sang rasasa berbulu datang tampak tak berkedip sedikitpun. Ia tampak.. takjub, takut, bingung, dan segala perasaan lainnya berkecambuk nyata dalam pikirannya.
Beberapa menit terhening dalam kebingungan, Levi memutar tubuhnya, memaksakan diri untuk lepas dari cengkraman si raksasa. Ia nekad memotong tali baja miliknya sendiri dan membiarkan dirinya jatuh dari ketinggian yang cukup untuk membuat sebuah cedera. Tapi pria itu tak mengeluh sakit setelah mendarat dengan keras diatas rerumputan liar. Malah yang ia lakukan setelahnya adalah langsung berlari secepat yang ia bisa, mengitari tubuh raksasa itu sambil menancapkan pedangnya pada setumpuk daging yang berdiri didekatnya ini. Terus berlari sampai luka sayatan dikaki sang raksasa sudah benar-benar melingkar dipergelangan kaki. Raksasa itu terjatuh kehilangan keseimbangan. Bisa didengar gauman suara raksasa itu memekakan telinga siapa saja yang berjarak kurang dari 10 meter darisana. Namun setelahnya si raksasa bisa mendudukkan tubuh besarnya. Dan ia berbicara lagi.
"Wah wah, aku baru ingat. Kau prajurit terkuat umat manusia itu kan? Ternyata memang hebat walau tanpa menggunakan manuver."
Perkataan itu membuat semuanya semakin mengeluarkan keringat dingin. Raksasa ini tahu tentang umat manusia. Sangat cerdas.
Tiba-tiba mata kelam raksasa itu tertuju pada Eren, yang juga tengah menatapnya tak percaya.
"Sudah lama tidak melihatmu, Eren. Kau sudah besar ternyata."
Tubuh Eren menegang. Ia merasa sangat familiar dengan cara bicara suara raksasa ini. Tapi ia ragu untuk mengambil kesimpulan. Atau lebih tepatnya tidak berani mengambil kesimpulan yang bahkan dirinya sendiri takut mengakuinya. Ini hal paling membingungkan yang pernah ia alami selama hidup.
"Kau... siapa?" Eren akhirnya mengeluarkan suaranya.
Raksasa itu tampak menyeringai. Dan sepertinya ia tidak berniat untuk mengatakan dirinya siapa.
Dalam percakapa ini, regu Levi mulai membentuk formasi bertarung. Tanpa Levi dan Petra. Karena ternyata rasa sakit dipundaknya mulai terasa sehingga Petra harus segera memberikan tindakan pertolongan, sebelum cederanya semakin parah.
"Kau, siapa?" Eren kembali mengulangi pertanyaannya dan lagi-lagi hanya dibalas dengan seringai tajam.
"Aku bilang kau siapa?! Kau raksasa macam apa?! Kau tahu segalanya tentang dunia manusia berarti kau tahu dan mengerti betul jenismu sendiri kan?! Ayo katakan! Katakan semua yang kau ketahui tentang raksasa! Kenapa kalian memangsa kami?! Kenapa hanya manusia?! Padahal kalian bisa bertahan berabad-abad tanpa memakan kami! Apa salah kami pada raksasa sampai kalian memakan kami hah?!"
Emosi Eren meluap. Berjuta pertanyaan keluar begitu saja dalam pikirannya. Saat si raksasa terfokus pada mata penuh emosi Eren, Erd dan Gunter bersiap memancapkan pedang pada mata raksasa itu. Dan mereka berhasil melakukannya. Dari bawah, Levi memberikan intruksi.
"Jangan sampai membunuhnya! Kita akan mengintrogasinya setelah misi ini!"
"Ryokai!"
Tapi yang ada setelahnya, selain mata raksasa itu yang mengeluarkan asap, tubuhnya pun mulai berasap pekat, menutupi jarak pandang mereka. Melihat itu, Levi langsung bangkit berdiri, tak mempedulikan rasa sakit yang masih memyertainya, menuju kepulan asap yang memutupi hampir seluruh tubuh raksasa itu. Jangan, jangan sampai raksasa ini akan mati dan menghilang seperti raksasa-raksasa lainnya. Maka salah satu kunci terbongkarnya rahasia raksasa akan sirna begitu saja.
Gunter, Erd, dan Auro mengikuti apa yang dilakukan kaptennya. Mereka menebus asap tebal itu. Dengan harapan si raksasa tidak menguap atau semacamnya.
Mata mereka tak bisa melihat sekitar karena adanya kepulan asap tadi. Seperti tersesat didalamnya.
Angin kencangpun datang. Membuat kepulan asap pergi searah dengan tujuan angin. Sedikit demi sedikit namun sudah sangat jelas apa yang dihadapkan pada mereka.
Semuanya membelalakkan mata. Sosok raksasa berbulu itu sudah menghilang. Tak terlihat lagi. Hanya menyisakan asap yang kini sudah menipis.
"A-apa maksudnya ini..."
"Mustahil.."
Eren menundukkan kepalanya. Mengingat-ingat mata raksasa yang menatapnya tadi. Terasa sangat.. familiar.
"Semuanya! Kembali tunggangi kuda kalian!" komando Levi.
Dengan sigap merekapun kembali menaiki kuda masing-masing. Siap untuk melakukan komando selanjutnya dari kapten mereka.
"Kita harus melaporkan hal yang terjadi tadi pada komandan. Erd, beri sinyal untuk istirahat."
"Hai!"
Sinyal sudah diberikan. Tinggal menunggu hal selanjutnya, dibarengi dengan perasaan kacau akibat apa yang mereka alami beberapa menit lalu. Dan Eren mengeratkan genggaman kunci ditangannya. Hal ini semakin membingungkan. Amat sangat membingungkan.
Akhirnya, setelah Irvine menerima sinyal untuk istirahat dari Levi, ia memutuskan untuk menghentikan perjalanan sejenak. Mengingat Levi tidak pernah mengusulkan untuk istirahat saat misi berjalan, Irvine yakin hal yang terjadi sangatlah serius sampai harus menghentikan perjalanan.
Kini Irvine yang baru turun dari kudanya langsung menghampiri Levi. Alisnya sedikit berkerut melihat Levi tengah duduk dirawat oleh Petra. Melihat kedatangan Irvine, Levi menyuruh Petra untuk meninggalkan mereka. Dan Levi mempersilahkan Irvine untuk duduk dibatang kayu dihadapannya. Ini berarti pembicaraannya akan sangat memakan waktu.
"Kau terluka?" Irvine bertanya.
"Ini bukan masalah. Yang kita hadapi sekarang lebih penting."
Raut wajah Irvine semakin serius. Jika Levi saja sampai terluka seperti ini, pastilah apa yang dimaksud Levi tentang masalah yang dihadapi itu benar adanya. Masalah besar.
"Apa?"
"Raksasa berbulu yang bisa berbicara."
Mata serius Irvine berkilat. Sesaat setelah itu ia mempersilahkan Levi mengatakan hal selanjutnya.
"Raksasa itu lebih menyerupai monyet daripada manusia. Bisa berbicara dan sangat misterius. Saat kami mencoba melumpuhkan raksasa itu, dia menghilang meninggalkan asap tebal. Seperti datangnya raksasa kolosal dulu."
"Jadi, asap hitam yang terlihat tadi itu untuk raksasa.. berbulu?"
Levi mengangguk. Kemudian menggerakan tangan kepada Eren yang berada tak jauh dari tempat mereka berbincang, memintanya untuk menghampiri. Dengan sedikit ragu, Eren pun menuruti intruksi tersebut.
"Setelah itu apa?" Irvine bertanya lagi. Tidak terlalu peduli dengan datangnya Eren.
"Raksasa itu berkata ingin menyapa Eren."
Barulah Irvine menoleh pada objek yang dibicarakan.
"Apa kau mengenalnya, Eren?" Levi memastikan.
"Tidak. Aku sama sekali tidak mengenal raksasa itu. Aku baru pertama kali melihatnya. Tapi.. aku merasa tidak asing dengan mata dan cara bicaranya. Ingatanku samar-samar."
Irvine memejamkan matanya, tampak berpikir. Dalam hening, tiba-tiba Eren menyuarakan isi pikirannya.
"Apa masuk akal jika raksasa itu.. adalah manusia?"
"Maksudmu?"
Eren memainkan jari tangannya, kebiasaan saat berpikir keras. Mimik seriusnya terlukis disaat seperti ini. Pelik sekali.
"Aku pernah berbicara tentang melawan raksasa dengan raksasa kan? Maksudku.. bagaimana jika ada orang lain yang memiliki pemikiran sama denganku dan bahkan selangkah lebih maju sampai bisa menciptakan raksasa sesungguhnya. Aku yakin raksasa berbulu yang tadi itu adalah manusia. Tatapan matanya.. sangat manusiawi. Aku.. aku.. aku tidak mengerti tentang hal ini tapi firasatku kuat dalam perkataanku."
"Orang lain dengan pemikiran gila sepertimu? Tch. Yang harus dipikirkan, jika memang raksasa itu adalah manusia, apa tujuannya sama dengan kita? Tujuan atas nama umat manusia? Bagaimana jika tujuannya bertentangan? Menghancurkan umat manusia misalnya? Kita kalah satu poin jika memang dia selangkah lebih maju." komentar Levi.
Permainan yang dilakukan tangan Eren terhenti, mata hujau itu tampak bingung seketika. Jas putih yang ia pakai seolah ingin terbebas dari tubuh yang dipenuhi peluh itu, dilihat dari gerakan tipis setiap ujungnya karena angin yang berhembus.
"Eren, apa kau bisa membuat serum yang bisa membuat manusia menjadi raksasa setelah ekspedisi ini selesai?" tiba-tiba Irvine bertanya, tidak ada waktu lagi memang.
"A-ah? A-akan kuusahakan.. tapi mungkin akan memakan waktu berhari-hari. Dan sampel raksasa yang aku miliki sudah habis oleh percobaan lain."
Mendengar hal itu Levi merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sesuatu dari dalam sana. Dituntukkannyalah benda itu pada Eren. Sebuah kristal berukuran sebesar jari kelingking.
"Apa itu?"
"Benda ini jatuh saat aku menyayat pergelangan kaki raksasa berbulu tadi. Aku langsung menangkap dan menyimpannya. Kristal ini aku temukan juga saat raksasa itu menghilang didalam asap. Jumlahnya memang tidak banyak tapi aku yakin ini bisa dijadikan sampel juga."
Eren menerima kristal itu. Dan ia mencoba menekannya. Satu kesimpulan yang ia dapat, kristal itu sangatlah keras. Ia yakin hanya dengan cairan kimialah kristal ini dapat hancur.
"Tunggu, jika raksasa berbulu yang kau maksud adalah manusia, darimana dia berasal? Kenapa dia berada diluar dinding? Hanya ada satu kemungkinan jika memang benar. Raksasa itu.. ikut bersama kita dalam ekspedisi ini. Anggota pasukan pengintai."
Hening. Pertanyaan-pertanyaan dalam kepala masing-masing semakin bertambah. Memperburuk kondisi saja. Pemikiran biasa saja tidak akan bisa memecahkan teka-teki sulit seperti ini. Hanya orang yang bisa memikirkan hal palinh gila saja yang bisa memikirkannya. Dan orang-orang itu, tak banyak berada didunia ini. Hanya ada satu dari seratus orang. Dan coba hitung berapa orang lagi manusia didunia kecil bersangkar ini? Selalu berkurag setiap harinya.
"Dengar, aku tidak akan mengatakan hal ini pada sembarang orang. Kalian berdua juga harus seperti itu. Aku hanya akan memberitahu beberapa prajurit kepercayaanku. Kita harus tetap waspada. Kita tak pernah tahu siapa musuh yang sedang bersembunyi dalam kedok umat manusia. Siapapun harus diwaspadai."
"Apa aku boleh mengatakannya pada squadku?"
"Tidak."
"Tapi, mereka menyaksikan sendiri kejadiannya."
"Kita tidak tahu apa raksasa itu memiliki kawan atau tidak."
Levi terdiam sesaat. Ada benarnya juga perkataan sang komandan.
"Aku mempercayaimu keputusanmu." ucap Levi akhirnya.
"Sekarang kita lanjutkan lagi perjalanan menuju hutan raksasa. Anggap ini hanya istirahat dan pengecekan senjata saja."
Pertemuan pun berakhir. Bersiap untuk melanjutkan ekspedisi. Apapun yang terjadi.
Sekitar 30 menit setelah perjalanan kembali dimulai, hutan raksasa kini berada di depan mata. Hutan dengan pohon yang jauh lebih tinggi dari pohon biasanya ini tampak menyeramkan dan mengeluarkan aura mengancam, meski sejauh mata memandang tidak terlihat raksasa yang datang mendekat.
Mata Eren tak henti terlihat takjub juga waspada pada setiap objek yang ia tangkap. Ia masih dibingungkan dengan berbagai hal. Yang sibuk berkecimpung dalam otaknya saat ini adalah anggapannya tentang Ape Titan -sebutan raksasa berbulu dari Hange, salah satu orang yang diberitahu tentang hal yang terjadi- adalah manusia. Jika anggapannya benar, berarti anggapan itu juga akan berlaku untuk raksasa kolosal bahkan juga raksasa lapis baja. Karena raksasa kolosal langsung menghilang setelah berhasil menembus dinding dan membuat raksasa lain masuk meneror manusia.
Seluruh pasukan pengintai masuk ke dalam hutan raksasa. Tapi ada beberapa kelompok yang diminta menunggu diluar hutan, untuk memastikan ada raksasa yang datang.
Deretan kuda terus berlari. Dan saat tepat berada di tengah-tengah hutan, Irvine menyuruh semuanya berpencar mencari ruangan yang mereka cari. Intruksi dituruti. Kini semua kelompok memacu kuda mereka ke bagian penjuru hutan seperti yang sudah direncarakan sebelum ekspedisi benar-benar dilaksanakan. Saat ada kelompok yang menemukan bangunan, akan ditembakkan sinyal asap berwarna kuning sebagai tanda.
Special operating squad menuju kearah utara hutan. Sesekali mereka melirik kesana-kemari, mencari apa yang menjadi tujuan mereka.
"Naa Eren, apa kau memiliki bayangan tentang ruangan yang ayahmu katakan itu?" Levi bersuara.
"Ah, itu.. tidak. Aku tidak memiliki bayangan sama sekali."
"Tch, payah."
Kuda terus berlari sampai Levi berseru untuk berhenti. Kenapa? Karena dihadapan mereka, sekitar 10 meter jauhnya, berdiri sebuah bangunan kecil dari kayu rapuh. Levi berbalik dengan kudanya menghadap Eren.
"Apa itu ruangannya?"
Eren mengerutkan alis, menguatkan keyakinannya. Setelah mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Levi, ia memajukan kudanya sendiri menuju bangunan yang memang tampak terkunci itu. Diikuti oleh Levi dan bawahannya.
"Petra, berikan sinyal asap pada yang lain." perintah Levi.
"Hai!"
Asap kuning meluncur keatas. Membentuk sebuah garis lurus sampai ketinggian melampaui pohon di hutan raksasa ini.
Bangunan sudah berada dihadapan Eren. Bocah itu menenggak ludahnya sendiri. Kemudian turun dari kudanya. Menuju pintu rapuh yang terkunci.
Eren sedikit ragu saat mengeluarkan kunci yang ia miliki. Ia takut hasilnya akan mengecewakan. Tapi ia tetap harus membukanya, apapun balasan dari misi ini. Mengecewakan maupun tidak.
Sebelumnya Eren berbalik badan, melihat satu per satu orang yang berdiri dibelakangnya, menunggu Eren membuka pintu itu.
"Tunggu apa lagi?" gerutu Auro tidak sabar.
Dengan rasa yakin yang setengah telah sirna, ia membalikkan badannya lagi. Bisa dilihat bagaimana peluh sudah menguasai dirinya. Tangannya sedikit gemetar. Eren harus bisa menguasai dirinya, harus. Tangannya ini telah membuat harapan bagi banyak orang. Lakukan. Lakukan, Eren terus membatin.
Klek...
Kunci dimasukkan. Perlahan Eren menggerakkan tangannya agar bisa menggerakkan kuncinya juga. Memutar kunci itu agar membuka ruangan yang menjadi misteri selama ini.
Berhasil. Kunci itu berhasil membuka pintu. Peluh dipelipis Eren turun menuju pipi. Matanya berkedip beberapa kali, mempersiapkan diri untuk melihat lebih jelas ke dalam sana.
Eren melebarkan terbukanya daun pintu agar ia dapat masuk ke dalam juga agar cahaya bisa masuk ke dalam ruangan yang remang-remang ini.
Ia berhasil masuk. Matanya menyipit memperhatikan benda-benda yang beada didalam ruangan. Dua buah meja besar disudut ruangan, sebuah kursi kayu tua didepan jendela kecil. Lemari berisikan tabung-tabung reaksi juga toples berisi berbagai macam cairan. Ada juga lemari berisi buku-buku tebal yang sudah usang. Sarang laba-laba terlihat disana-sini. Debupun langsung menyergap saat pertama kali pintu terbuka.
Eren semakin memasuki ruangan. Diikuti Levi juga anak buahnya. Melihat kondisi tempat yang sangat jauh dari kata bersih, Levi langung berceloteh.
"Tch, sudah berapa lama tempat ini terbengkalai? Menjijikkan."
Ditengah ruangan terdapat sebuah meja kecil. Diatas meja kecil itu terlihat sebuah tabung reaksi berisi cairan hijau. Eren langsung tertarik pada benda itu. Dengan perasaan masih ragu, ia mengangkat tangannya, hendak meraih tabung reaksinya. Tapi gerakannya terhenti saat mendengar suara Levi.
"Aku rasa ada orang yang datang kemari juga beberapa waktu lalu. Lihat buku yang berantakan dibawah sini."
Eren menoleh. Ternyata memang ada beberapa buku yang tergeletak diatas lantai.
"Tapi heichou, darimana anda tahu ada orang yang datang kemari? Bisa saja kan buku itu memang berada disana sejak dulu." ucap Auro.
Levi mendelik. Jujur saja, ia tidak suka cara berbicara Auro yang tampak meniru seseorang itu, membuatnya muak.
"Bodoh sekali jika tidak menyadari hal ini. Lihat, buku-buku ini telah dibersihkan dari debu. Tidak seperti benda lain yang tertutup debu juga sarang laba-laba. Itu artinya ada orang yang datang."
"A-ah.. anda benar."
Mendengar penjelasan Levi tadi, Eren menjatuhkan pandangannya lagi pada tabung reaksi dihadapannya. Benda ini juga tidak berdebu sedikitpun. Apa itu artinya benda ini sengaja disimpan oleh orang yang datang kemari? Siapa yang tahu.
Levi membawa satu buku yang tergeletak disana, kemudian membukanya. Tapi ternyata buku yang ia pegang telah sobek dibeberapa bagian. Seperti memang sengaja. Menyadari itu, Levi memeriksa satu buku lagi dan hasilnya sama. Bahkan yang ini lebih banyak lembaran yang hilangnya. Ia mencoba membuka buku lain yang terjatuh. Tapi yang lainnya tidak meninggalkan bekas sobekkan atau semacamnya. Buku yang tidak kehilangan lembarannya itu adalah buku kedokteran.
"Naa Eren, kurasa orang yang datang kemari sebelum kita telah membawa apa yang kita cari."
Eren mengernyit.
"Maksudnya?"
"Lihat ini, dua buku ini telah disobek beberapa lembar. Dan sobekkan ini sangat rapih, tidak mungkin disobek oleh binatang. Aku yakin buku ini merupakan jawaban semua pertanyaan kita."
Empat bawahannya beserta Eren memasang wajah bertanya-tanya akan keyakinan Levi.
"Ah baiklah, coba lihat lembaran buku yang pertama."
Mereka langsung melihat apa yang tertera dilembaran pertama. Tulisan tangan bertuliskan 'Manusia dan raksasa'. Setelah itu Levi membuka lagi lembaran selanjutnya. Disana terlihat sketsa gambar yang menyamakan tubuh manusia dengan raksasa. Lembaran setelah itu terlihat tulisan 'Alasan raksasa mema-', tulisan itu menggantung karena lembaran itu hanya sebagian. Hanya memperlihatkan tulisan itu saja. Dan lembaran-lembaran setelahnya, sekitar 6 lembar juga hilang. Hanya berlanjut pada kumpulan tulisan rumus kedokteran tentang penyakit manusia.
Buku kedua ditunjukkan juga oleh Levi. Jika yang ini dari lembaran pertama sudah menghilang. Dan banyaknya lembaran yang disobek ada 13 lembar. Sisanya hanya berisi catatan pengetahuan tentang raksasa yang sudah diketahui oleh banyak orang. Tidak terlalu istimewa.
"Ini yang kita cari dan kita terlambat."
Tak ada yang mau mengomentari lagi. Cukup hanya menenggak ludah dan mengitari ruangan ini lagi. Berharap masih ada yang bisa mereka dapat selain buku yang tak menghasilkan apa-apa.
"Ano.. Levi heichou, menurutmu ini cairan apa?" Eren bertanya.
Levi berjalan mendekat, membuat suara hentakan kakinya terdengar.
"Mencurigakan. Aku tidak yakin itu apa."
Eren mengangkat tabung reaksi. Memperhatikan isinya dengan seksama.
"Aku akan mencoba meminumnya." ucapnya yakin.
"Hah?"
Dan Eren langsung meneguk cairan didalam tabung reaksi. Cairan yang memang hanya terisi 1/4 volume tabungnya itu langsung berpindah tempat ke dalam lambung Eren.
"Kau nekad atau memang haus hah?"
Eren tidak merasakan hal aneh apapun terjadi padanya. Rasa cairan yang ia minum kurang-lebih seperti air minum biasa. Eren mulai berpikir jangan-jangan itu adalah air lumut.
Erd mengeluarkan satu pedangnya, ia hendak memotong tali yang tergantung sembarangan menutupi pandangannya. Setelah selesai, Erd tidak memasukkan lagi pedangnya untuk berjaga-jaga. Saat itulah Eren mundur dua langkah, tak sengaja mengenai tangannya sendiri pada pedang Eren yang terbuka. Bahkan sampai Erd menjatuhkan pedangnya saking kaget akan gerakan Eren yang tiba-tiba.
"A-ah.. Gomennasai Erd-san. Akan aku ambil."
"Bukan apa-apa, Eren-sensei.. Maaf sudah melukai tanganmu."
Tepat saat Eren berjongkok untuk membawa pedang yang terjatuh, sebuah percikan keluar dari tangannya dan..
Jgeerrh!
Semuanya terjadi begitu cepat. Rombongan Irvine yang baru saja datang ke tempat ruangan itu berada terkejut mendengar suara ledakan yang sangat keras berasal dari dalam ruangan sampai bangunan yang tak besar itu hancur berkeping-keping. Asap putih mengepul ke udara.
"A-apa itu?"
Irvine membelalakkan mata. Darisana sangat tampak jelas.. sebuah kepala.. raksasa.
"I-itu raksasa, komandan!"
Perkataan salah satu bawahan Irvine memang tidak salah. Saat kepulan asap semakin menipis, semakin terlihat apa yang menjadi objek penglihatan mereka saat ini. Raksasa, dengan tubuh yang belum sempurna, hanya sebatas pinggang, terlihat.
Squad Levi yang saat kejadian itu terjadi terlempar tengah melihat juga objek yang mendadak datang itu.
"Kenapa.. bisa?"
Irvine menghampiri Levi, untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Levi, dimana Eren?"
Tanpa berkata apapum, masih terpaku pada objek didepan sana, Levi menggerakkan tanganya, menunjuk raksasa yang baru jadi.
Irvine tampak bingung. Ia bertanya lagi untuk memastikan apa yang ia tangkap itu benar.
"Raksasa itu.. Eren?"
"Iya." akhirnya Levi menggunakan suaranya untuk menjawab.
"Woaa! Woaaa! Ada apa ini? Raksasa darimana ini?!" pekik Hange yang malah kegirangan melihat penampakan yang terjadi.
Irvine semakin memperhatikan raksasa berambut coklat gondrong itu. Semakin menyelidik pada sorot mata hijau yang terlihat. Warna mata itu memang mata Eren, tidak salah lagi. Ini benar-benar harus diselidiki lebih lanjut.
"Bagaimana bisa?"
"Eren.. sebelumnya telah meminum cairan aneh yang ada disana."
"Apa?"
Setelahnya Levi mendecih, ia mengeluarkan pedangnya dan melangkah menuju raksasa Eren juga anak buahnya yang terlihat marah dan emosi pada orang berstatus dokter itu sambil bersiap menyerang Eren.
"Apa tujuanmu sebenarnya?!"
"Kau sengaja membawa kami kesini untuk menghancurkan kami kan?!"
"Ayo jawab pertanyaan kami Eren!"
"Kami bisa langsung mencabik dagingmu seperti pada raksasa lain!"
"Jangan-jangan kau bersekongkol dengan raksasa berbulu tadi! Pantas saja raksasa itu mengenalmu!"
"Ayo jelaskan ini semua!"
Bergantian, empat bawahan Levi itu berkoar mengintrogasi Eren. Dengan emosi yang meluap dibarengi rasa takut.
"Kalian, tenanglah." seru Levi, berdiri membelakangi raksasa Eren.
"Heichou! Menjauhlah darisana! Dia berbahaya!"
"Justru kalian yang berbahaya."
"Biarkan kami mencabik dagingnya, heichou!"
"Tidak akan kubiarkan."
"Heichou!"
"Sebaiknya tenangkan dulu diri kalian dan biarkan aku yang mengurus ini. Harusnya kalian bersyukur karena tidak mati setelah ledakan tadi."
Akhirnya bawahan Levi menurunkan pedang masing-masing. Walaupun kerutan marah dialis mereka masih terlihat, dihiasi juga dengan keringat dingin yang keluar.
"Levi! Tubuh raksasa itu mulai berasap lagi! Cari keberadaan Eren dalam tubuh itu!" Irvine berteriak.
Tanpa banyak bicara lagi, Levi berlari mengitari tubuh raksasa. Ia masih mengira-ngira dimana Eren berada. Ia juga heran sendiri kenapa Irvine tahu tubuh Eren berada didalam tubuh raksasa, bukan menjadi raksasa. Tapi dengan cepat Levi menghilangkan pemikirannya, ia tetap harus mempercayai Irvine.
Dengan sigap Levi menggoreskan pedangnya pada lengan raksasa. Tapi ia tak menemukan apapun selain gumpalan daging yang tersayat.
Levi beralih menancapkan tali baja miliknya yang tinggal satu kepermukaan atas kulit raksasa Eren. Dengan begitu Levi bisa menuju bahu tubuh besar itu dan mengira-ngira lagi keberadaan Eren.
Ia sempat berpikir bahwa kelemahan raksasa itu ada ditenguknya. Apa mungkin Eren berada dititik lemah? Saat itu Levi mendengar suara Hange dari bawah sana, menyerukan intruksi untuk Levi.
"Coba sayat ditenguknya! Mungkin Eren ada disana!"
Akhirnya dengan cepat Levi menuju bagian belakang raksasa dan kemudian menyayat tenguk itu dengan hati-hati. Ternyata benar bahwa Eren ada disana.
Levi mencoba menarik tubuh Eren yang lengket dengan daging raksasa. Pekerjaannya ini bertambah sulit karena Eren tak sadarkan diri.
"Tch, menyusahkan saja."
Saat setengah tubuh Eren sudah terlepas, Levi menyadari satu hal. Bahwa tangan kanan Eren melepuh. Hanya menyisakan.. tulang. Hal itu terjadi karena panasnya suhu raksasa yang menjebak tubuh Eren didalamnya.
Levi sempat kaget dan bertanya-tanya apakah Eren masih hidup atau tidak. Tapi bukan itu yang harus ia lakukan sekarang. Ia harus cepat-cepat mengeluarkan tubuh Eren agar tubuh anak ini tidak melepuh lebih banyak. Pria bersurai hitam itu memutuskan untuk menggunakan pedangnya untuk memisahkan daging yang melekat. Dan berhasil. Ada banyak hal yang harus ia tanyakan pada Eren setelah ini, tentunya jika ia masih hidup. Juga pada Irvine, Levi ingin tahu sejauh mana atasannya itu mengetahui hal ini. Padahal dalam sejarah dirinya masuk militer, juga Irvine, baru pertama kali ini mereka melihat adanya manusia yang berubah menjadi raksasa. Ini terlalu ganjil jika memang sebuah kebetulan. Sangat terlihat ganjil.
TBC
Bingung buat ending chapternya. Jadi begitu deh..
Emang suara ledakan tuh "Jgeerh" ya? Author bingung jadi gitu deh suaranya -_-
Masalahnya makin banyak nih~ Eren berubah jadi raksasa, Ape Titan yang menghilang, seseorang yang datang ke ruang rahasia, Irvine yang mengetahui tentang perubahan raksasa, dan lalu.. Daging Eren yang melepuh menyisakan tulang. Bagaimana nasib Eren selanjutnya?
Mikasa cs belum dateng nih, tapi bersabar yaa~ chapter depan mungkin mereka muncul.
Maaf jika ada typo atau kesalahan nama gelar [?]
Terimakasih sekali karena baca fict aneh ini ^^
Tunggu kelanjutannya yaaa~ kan lagi musim liburan nih, jadi mungkin ga akan ngaret atau lebih tepatnya diusahain buat ga ngaret.
Baiklah, see you next chapter~
-Author Shigeyuki-
