New Fate
Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime
New Fate © Shigeyuki
Masuk chapter 4 nih~ yeeee
Updatenya mendingan kan? Gak lama-lama amat trus gak cepet-cepet amat. Ya gitu deh
Sebenernya author bingung sebingung-bingungnya. Ide cerita mentok sangat. Tapi ya apa daya.. Author terlanjur terjerumus dalam pemikiran liar ini.
Terimakasih bagi semua yg memberi review dan semangatin author buat lanjutin ni fict.
Makasih semakasih-makasihnya.
Jika ada pertanyaan yang terngiang-ngiang diotak readers semua, maaf sekali gak akan author jawab langsung. Maklum itu teknik penulis biar tulisannya terus dibaca.. Buahahaaha
Nah, selamat menikmati tulisan liar ini
Happy reading
RnR
.
.
.
.
.
Chapter 4
.
.
MataEren perlahan terbuka. Dan langsung membelalak setelah mengumpulkan semua kesadarannya.
"A-aku?!"
Menyadari Eren sudah sadar dari pingsan, Hange langsung menghampirinya.
"Apa kau ingat dengan apa yang terjadi padamu?"
Keringat dingin turun perlahan dari pelipis Eren. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi padanya, tepatnya sebelum dirinya berbaring diatas kereta kuda ini. Misi memang belum berakhir. Irvine sengaja untuk membiarkan semuanya istirahat dulu, juga menunggu Eren sadar agar bisa diminta keterangan jelas atas apa yang terjadi.
Eren mencoba memutar ingatannya. Kembali mengingat bagaimana dan apa yang ia lakukan.
"Aku... Menemukan cairan aneh dan meminumnya. Tanganku terluka dan lalu.."
"Kau berubah menjadi raksasa." sambung Hange.
Kembali Eren membelalakkan kedua mata emeraldnya. Antara percaya dan tidak.
"Aku? Berubah menjadi raksasa? K-kenapa bisa?"
Hange mendudukkan dirinya disamping Eren. Menyilangkan kedua tangannya didepan dada. Tatapannya sangat serius sekarang.
"Itu yang kami pikirkan. Kenapa kau bisa berubah menjadi raksasa. Menurut analisa kasarku, itu berhubungan dengan cairan yang kau minum."
Eren terhening sendiri. Memutar otak adalah hal yang ia lakukan saat ini. Sambil berpikir, ia juga mendengarkan perkataan Hange selanjutnya.
"Tubuhmu berada ditenguk raksasa yang kau jelma. Saat itu kau tidak sadar dan melekat erat dengan dagingnya. Kami mencari tabung cairan yang kau minum itu tapi sayangnya sudah sangat hancur sampai tidak bisa diidentifikasi. Suara ledakan saat kau berubah menghancurkan gubuk itu. Untung saja squad Levi tidak mengalami cedera serius karena ledakan itu. Jika mereka sampai mati, kita tidak memiliki saksi mata lagi."
Saat Hange sibuk mengatakan semuanya, Irvine datang menghampiri mereka berdua.
"Bagaimana keadaanmu Eren?" si pria bermanik safir bertanya.
"Cukup baik, terimakasih komandan."
Hening. Irvine dan Hange saling bertatapan melihat Eren yang tampak sangat pucat dan jauh dari kata baik-baik saja. Ini masalah berat memang. Menyadari kenyataan diri sendiri bisa berubah menjadi musuh umat manusia selama ini bukanlah hal yang sepele. Ditambah Eren masihlah sangat muda untuk memikirkan hal-hal berat yang menyangkut kehidupan manusia. Umur seusia Eren biasanya lebih menghabiskan waktu untuk bersenang-senang atau mungkin ada beberapa yang baru menjadi kadet. Baru menjadi tunas dari pohon-pohon tegak dimasa depan.
"Tujuan misi kita kali ini tidak tercapai." ucap Irvine.
Bocah emerald menoleh. Merasa bersalah juga karena telah ceroboh meminum cairan itu. Jika saja ia tidak meminumnya, mungkin mereka bisa memeriksa kandungan cerita itu, bahkan bisa memperbanyaknya untuk melakukan uji coba kegunaan.
"Tapi sebagai gantinya kita mendapatkan teka-teki baru yang aku rasa akan semakin mendekatkan kita pada musuh sebenarnya umat manusia."
Perkataan Irvine ada benarnya. Ah tidak, memang benar, tidak salah lagi.
"Sekarang bersiaplah untuk kembali. Kami sudah mengambil apa yang bisa dijadikan bukti. Untung saja ledakan itu tidak menghasilkan api jadi masih ada yang bisa kita ambil."
Eren hanya mengangguk. Ini belum berakhir. Tapi baru saja akan dimulai.
Entah karena beruntung atau apa. Selama perjalanan pulang ekspedisi ini, pasukan pengintai tidak menemukan satu raksasapun. Padahal selama ini selalu ada menyertai berangkat dan pulangnya mereka dari ekspedisi.
Hal janggal ini disadari oleh beberapa orang. Irvine pastinya, lalu Levi Hange dan Mike. Mata mereka tak henti memancarkan aura waspada melirik pada dataran luas sejauh mata memandang. Memang tidak ada raksasa. Ini ganjil sekali.
Tak terasa mereka sudah hampir mendekat ke gerbang dinding. Mereka akan masuk lagi ke dalam sangkar seumur hidup ini.
Eren, yang ternyata tak memiliki kekuatan untuk menunggang kuda sendiri akhirnya tetap berada di kereta kuda yang menjadi alasnya saat berbaring tak sadarkan diri tadi. Matanya masih terlihat sayu dan lemah. Menjadi raksasa ternyata menguras energi dan emosi yang sangat banyak. Eren tak berdaya dan hanya bisa duduk menghadap ke samping kereta, diselimuti jubah hijau pasukan pengintai.
Mata sayu itu tiba-tiba menangkap sebuah objek yang terlihat cukup jauh. Seperti kuda dengan kereta, ditunggangi seseorang. Namun arah kereta kuda itu tidak searah dengan pasukan pengintai. Eren tidak terlalu memikirkan hal itu. Ia berpikir mungkin itu hanya petani garam yang baru kembali. Eren terlalu lelah untuk memikirkannya dengan logika, sedang tidak mau mengambil resiko dari terlalu kerasnya ia berpikir seharian ini. Ia cukup menganggapnya dengan sepele, dan berakhir. Takkan berbuntut apapun.
Lagipula kereta yang ditunggangi Eren ini sudah memasuki gerbang, jadi ia tidak bisa melihat lagi kereta kuda berbeda arah itu. Ekspedisi yang berakhir melelahkan, baginya, sebagai objek penelitiannya sendiri nanti.
Satu hari berlalu setelah ekspedisi itu. Eren terpaksa harus beristirahat setelahnya dan baru bisa ditemui hari ini. Eren langsung diminta menemui para petinggi pasukan untuk mengadakan perundingan atau bisa disebut juga rapat.
Dan disinilah ia sekarang, bersama orang yang tak asing lagi baginya di pasukan pengintai ini. Irvine, Levi, Hange, dan Mike.
"Nah Eren, apa ada yang akan kau sampaikan?" Irvine mempersilahkan.
"Baik. Aku telah melakukan beberapa kali percobaan berubah menjadi raksasa lagi. Aku mengingat apa yang aku lakukan sebelum berubah waktu itu. Dan aku ingat sebelumnya aku terluka oleh pedang Erd-san. Saat aku akan mengambil pedang yang jatuh, sebuah percikan keluar dari tanganku dan terjadilah."
4 orang petinggi itu menunggu penjelasan Eren selesai. Mereka rasa belum cukup apa yang dikatakan anak ini.
"Aku belum mencoba melukai diri sendiri karena itu sangat beresiko jika aku melakukannya didalam ruangan. Jadi aku akan melakukannya diluar nanti."
Beberapa detik setelah itu Irvine mengangguk mengerti. Kemudian langsung menatap Hange untuk mempersilahkan wanita nyentrik itu membacakan laporan yang telah ia buat dari ekspedisi kemarin, hal-hal yang sudah ia teliti khususnya.
"Aku telah mengambil sample darah Eren saat pingsan waktu itu. Dan mengujinya di labku. Setelah itu aku juga mengambil sample darah raksasa yang ditangkap kemarin. Saat dibandingkan keduanya memiliki persamaan. Asal kalian tahu, darah raksasa tidak akan menguap jika diambil dari raksasa yang masih hidup. Jadi.. Aku mengambil sample darah raksasa lagi, mencampurnya dengan kristal yang ditemukan Levi, dan memasukkan beberapa cairan kimia lain."
"Apa yang terjadi setelahnya?"
Hange mengeratkan tautan kedua jarinya.
"Aku belum bisa menyempurnakan cairan itu. Warnanya belum berubah menjadi hijau seperti cairan yang diminum Eren."
Tak ada yang berkomentar. Semua masih terlarut dalam analisa pribadi. Tapi keheningan itu tidak bertahan lama karena seseorang mengetuk pintu dari luar dan membukanya setelah dipersilahkan. Munculah seseorang dari sana. Orang itu adalah Nanaba. Ia memberikan hormatnya terlebih dulu. Barulah mengatakan maksud dari kedatangannya.
"Para kadet sudah menunggu." ucapnya.
"Baiklah. Kita lanjutkan nanti."
Irvine pun berdiri dari duduknya. Bermaksud untuk menemui apa yang menunggu dirinya ditempat yang berbeda.
Banyak orang berseragam militer dengan lambang pelatihan berkumpul menghadap sebuah panggung besar. Orang-orang itu tak henti saling bercakap tentang divisi militer apa yang akan mereka pilih hari ini. Apakah memilih pilihan yang riskan, atau biasa saja.
Diantara orang-orang itu terdapat beberapa orang tangguh. Orang-orang yang sebelumnya juga telah dinilai dan mendapat rangking 1 sampai 10 prajurit terbaik angkatannya. Sepuluh orang terbaik itu mendapat kesempatan untuk masuk polisi militer dengan mudah. Tapi semuanya kembali pada keputusan pribadi masing-masing.
Tatapan penuh keyakinan beberapa orang terlihat pasti dengan pilihan yang akan mereka ambil. Beberapa lagi masih bingung. Beberapa lagi juga terlihat tidak peduli dengan komandan divisi yang akan berpidato didepan sana beberapa saat lagi.
Percakapan kecil mereka terhenti saat seseorang yang ditunggu datang. Dengan wibawa yang sangat terlihat jelas, pria blonde itu mulai menyampaikan apa yang harus disampaikan.
"Selamat malam. Aku Irvine Smith, komandan dari pasukan pengintai. Hari ini, kalian akan memilih pasukan kalian. Jujur saja, aku disini ingin membujuk kalian agar mau bergabung dengan pasukan pengintai. Selama penyerangan raksasa, kalian sudah tahu betapa mengerikannya mereka dan begitu terbatasnya kekuatan kalian."
Beberapa orang menenggak ludah. Tiba-tiba merasa tegang setelah mendengar apa yang dikatakannya tadi. Orang-orang yang sempat akan memilih divisi ini mulai merasa ragu kembali.
"Tapi, pertarungan ini membawa umat manusia selangkah menuju kemenangan yang belum pernah kita rasakan. Karena keberadaan dokter Eren Jaeger. Dia sudah membuktikan dengan berbagai penelitian yang ia lakukan, tidak diragukan lagi.. dia berada dipihak umat manusia. Dengan bantuannya kita juga dapat mengetahui mereka lebih jauh."
Tapi apapun yang terjadi, apapun yang mereka hadapi sekarang, apa yang menjadi musuh mereka, tetap saja harus dihadapi. Tetap saja harus mereka musnahkan, bukan menunggu giliran untuk dimakan. Saatnya melakukan perubahan dalam bertindak. Melakukan perlawanan nyata atas nama umat manusia.
"Dengan kenyataan ini, siapa saja yang masih ingin mempertaruhkan nyawanya, tetap disini. Tanyakan pada diri kalian sendiri. Apa kalian bersedia memberikan detak jantung kalian untuk umat manusia. Sekian. Siapa saja yang ingin bergabung dengan pasukan lain, silahkan pergi."
Banyak orang memilih pergi dari tempat itu. Tidak memilih divisi yang mereka sebut divisi bunuh diri ini. Hanya orang-orang teguh dalam pendirian yang bertahan berdiri melawan arus kencang mereka yang pergi. Dengan sekuat tenaga, mengikat tekad dalam diri mereka agar tidak lepas dengan mudah.
Irvine tersenyum penuh arti. Merasa bangga bahwa umat manusia masih memiliki jiwa pemberani seperti mereka.
"Apa kalian bersedia untuk mati?"
"Kami tidak akan mati!"
Pria itu kembali tersenyum. Semakin yakin dengan kekuatan mereka diesok hari dan seterusnya.
"Souka.. Aku suka ekspresi wajah kalian. Selamat datang di pasukan pengintai! Ini adalah pengorbanan yang sejati! Berikan seluruh jiwa kalian!"
"Hai!" balas para kadet pasukan pengintai baru serempak.
Mereka bukanlah kadet sembarangan. Mereka telah hebat karena dapat menahan rasa takut mereka selama ini. Mereka adalah prajurit yang gagah berani. Akan dihargai sepanjang masa.
Dan hari itu terasa berakhir dengan cepat.
Eren berlari mencari Hange dikoridor markas. Peluhnya tak terhitung lagi yang jatuh menembus kemeja putih yang dikenakannya. Secepat mungkin ia harus memberitahu apa yang baru saja ia lakukan.
Akhirnya ia menemukan sosok yang ia cari diujung koridor. Langsung saja tanpa basa basi ia mengatakan semuanya.
"Hange-san! Hange-san!" yang dipanggilpun menoleh.
"Aku berhasil menyempurnakan cairan yang anda buat!"
"Ha? Benarkah?"
Eren memberhentikan diri, jarak tubuhnya dirasa cukup untuk berbincang dengan Hange. Napasnya terengah pelan. Menunjukkan sisi kedewasaannya, tidak seperti sebelumnya.. berlari-lari dikoridor.
"Aku menambahkan larutan yang aku miliki dari ayahku dulu. Dan itu berhasil membuat cairannya berubah warna seperti seharusnya!"
"Bagus. Sekarang ayo melakukan uji coba."
Si pria brunette sedikit tersentak. Langsung berkata ''eh?" dalam hati. Ia tidak memikirkan sejauh itu.
"Kebetulan sekali kita mendapat prajurit baru. Kau bisa memilih diantara mereka, siapa yang akan menjadi objek uji coba."
"Ano.. Hange-san. Kenapa.. bukan aku saja yang diuji?"
Suara tawa lepas terdengar menggema dari mulut Hange. Seperti baru mendengar sebuah lelucon garing.
"Kita tidak bisa membuktikan ramuannya berhasil atau tidak pada orang yang pernah mencobanya. Kita membutuhkan orang baru, Eren."
Dan Erenpun terdiam.
Mata emerald milik Eren tak henti melirik satu per satu kadet yang berbaris rapi dihadapannya. Ternyata Hange tidak main-main. Ia benar-benar menyuruh Eren untuk memilih diantara mereka untuk dijadikan uji coba. Gila memang. Tapi tak ada jalan lain.
"Bagaimana, Eren?" tanya Hange untuk kedua kalinya karena Eren tak kunjung memutuskan.
"Ano.. Hange-san, kenapa harus prajurit baru yang dipilih?"
"Karena mereka belum tahu sejauh kita. Dan ingat, jangan memilih orang yang sekiranya handal dalam bertarung. Jika percobaan gagal dan dia mati, berarti kita kehilangan satu kekuatan manusia."
Lagi-lagi Eren terhening sendiri. Sampai ia berdiri dihadapan salah satu kadet wanita dibarisan depan. Dia berambut hitam sebahu dengan tatapan tajam, tak jauh dari Levi. Cukup lama Eren berdiri disana. Entah karena apa. Tertarik kah?
"Jangan dia, Eren. Dia lulusan terbaik angkatan ini, Mikasa Ackerman."
Sekejap Eren merasa sangat kagum pada gadis didepannya ini. Ia tak menyangka gadis cantik sepertinya menjadi paling kuat.
Eren sadar bahwa ia terlalu lama membuang-buang waktu. Tapi jujur, memilih sesuatu memang hal yang sangat berat. Apalagi ini mempertaruhkan nyawa orang lain.
"Kenapa aku harus memilih ini, Hange-san? Kenapa.. anda bisa mengambil keputusan berat seperti ini?"
Mimik Hange berubah serius.
"Karena dunia memang tempat yang kejam, Eren."
Tak ada alasan lagi bagi Eren untuk lari dari kenyataan ini. Ia harus memilih. Hange benar, dunia memang kejam. Saat itulah Eren menunjuk seseorang yang berdiri di barisan kedua. Seorang wanita.
"Aku memilih dia, Hange-san." yakin Eren.
Hange tersenyum.
"Bagus, Eren.. Kau memilih Annie Leonhart."
Yattaaaa~ chapter ini selesai nih ^^
Kalo nemu typo maaf yaaa
Ditunggu reviewnya readers ')
Tetep baca kelanjutannya, ok?
See you next chapter
-Author Shigeyuki-
