New Fate
Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime
New Fate © Shigeyuki
Chapter 5~ Yohoooo ^o^
Tidak menyangka akan sampai sejauh ini..
Arigatou minna-san #bungkuk
Berkat kalianlah author semangat lanjutin fict ini.
Dan, otouto, terimakasih juga ^^
.
Selama ini author disuapin komen-komen berharga dari readers, itu baik untuk pertumbuhan chapter berikutnya lho
Naah, seperti biasa pesen author,
Hati-hati ada typo yang mungkin nyempil seenaknya, awas juga ada bahasa atau rangkaian kata aneh, waspada cerita maksa dan ngawur tingkat ujian nasional.
Demo, please enjoy
RnR
.
.
.
.
Chapter 5
.
Annie Leonhart. Gadis bersurai pirang cemerlang dengan manik biru tajam. Gadis dengan kepribadian tidak mudah didekati ini selalu tampak menyendiri, bahkan bersama angkatannya, angkatan 104.
Saat pemilihan divisi kemiliteran, ia adalah salah satu orang yang akan pergi meninggalkan lapang setelah dipersilahkan pergi bagi orang yang tidak berminat masuk pasukan pengintai. Tapi tiba-tiba dibenaknya teringat perkataan seseorang beberapa waktu lalu.
"Kau harus masuk pasukan pengintai, dan temui Eren Jaeger sebagai rekannya."
Baru satu langkah Annie akan melangah pergi, ia berhenti dan kembali berbalik. Akhirnya tetap berdiri disana sebagai orang yang akan masuk pasukan pengintai, seperti orang-orang yang masih berdiri juga disekitarnya.
Dan disinilah ia sekarang, menjadi orang yang ternyata dipilih incarannya -Eren Jaeger- sebagai orang uji coba, atau lebih kejamnya disebut kelinci percobaan. Ia tidak tahu apa yang akan diujikan padanya. Saat salah satu petinggi pasukan pengintai menyuruh para anggota baru berbaris dilapangan, mereka hanya diberitahu akan ada pemilihan orang untuk diuji. Tidak diberitahu diuji mengenai apa. Dibalik wajah datar itu tersimpan kebingungan akut.
Setelah digiring berjalan menuju ke sebuah ruangan -yang bisa disebut lab- oleh Nanaba, Annie dipersilahkan menghampiri Eren dan Hange yang sudah menunggu disana. Nanaba keluar setelahnya.
Tinggallah mereka bertiga didalam ruangan. Annie tak banyak bicara, atau lebih tepatnya tidak berbicara sama sekali. Toh pastinya ia akan mendapatkan penjelasan dari kedua orang didepannya ini sebentar lagi.
Annie bisa melihat Eren memasukkan sebuah cairan berwarna hijau bening kedalam suntikkan.
Melihat itu Annie merasa kepalanya pening seketika. Bukan bukan, bukan karena dia takut pada suntikkan itu tapi ia merasa mengingat sesuatu. Sesuatu yang berhubungan dengan suntikkan dan cairan hijau itu. Sesuatu yang selama ini ia lupakan karena sebuah alasan.
Perlahan Annie memegang kepalanya. Mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi padanya.
Diingatannya muncul sesosok pria, yang ia rasa adalah ayahnya. Ya itu ayahnya. Dibayangan ingatan samar-samar itu, Annie mengingat apa yang dikatakan ayahnya.
"Annie! Annie!"
Ia ingat saat itu dirinya masih berumur 15 tahun. Mundur beberapa langkah melihat tingkah ayahnya yang aneh dihari itu.
"Annie! Ayah berhasil mencuri satu percobaan milik Jaeger-sensei!"
Saat itu Annie heran karena tiba-tiba raut wajah ayahnya berubah menjadi sedih. Tapi ia tak mau untuk bertanya.
"Annie, akan percuma jika ayah menjelaskannya sekarang karena cairan ini akan mengacaukan ingatanmu. Tapi suatu saat kau pasti akan mengingat semuanya. Annie, dekati anak Jaeger-sensei dan buat dia menjadi kawanmu. Bantu ayah membalaskan dendam ayah."
Annie mengingat perkataan itu. Tapi tidak setelahnya. Kepalanya terlalu pening jika dipaksa untuk terus berpikir. Ini sudah batas maksimalnya.
Merasa ada yang aneh pada Annie, Hange mendekati gadis itu. Menepuk pelan pundak Annie yang tampak sedikit gemetar.
"Apa yang terjadi padamu? Apa kau sakit?" tanya Hange.
Annie mengarahkan tatapannya pada Eren. Sedikit menyelidik. Setelahnya ia menurunkan kembali tangan yang sempat ia gunakan untuk sedikit menahan sakit kepalanya.
"Aku baik-baik saja, kapten Hange." balas Annie.
"Baguslah, kalau begitu bisa kita lakukan percobaannya sekarang kan?"
Annie mengangguk. Memperhatikan Hange yang melangkah memunggunginya. Sedikit seringai terlihat dibibir Annie. Apa yang ia pikirkan sekarang? Tidak ada yang tahu.
Hange kembali berbalik menghadap Annie. Kemudian mempersilahkan Eren melanjutkan semuanya. Kini majulah pria brunette itu menuju Annie, dengan suntikan yang masih ditangannya.
"Annie-san, maaf telah memilihmu seenaknya tanpa membicarakan percobaan apa yang kami lakukan. Tapi aku rasa kau orang yang tepat untuk melakukan perubahan perlawanan umat manusia."
Annie tetap diam dalam berdirinya. Diam-diam Hange memperhatikan ekspresi Annie. Dari awal sebenarnya ia sudah merasa ada yang ganjil terhadap gadis itu, entah apa. Tapi Hange tetap diam dan hanya menyimpan kecurigaan itu dalam hati. Ia hanya akan mengumpulkan setiap hal ganjil yang terjadi pada Annie dan melakukan serangam telak jika sesuatu yang tidak sesuai rencana terjadi. Pemberontakan misalnya.
Eren meminta Annie untuk duduk di kursi yang sudah disiapkan diruangan lab itu. Gadis itu menurut dalam diam.
"Kami sedang melakukan percobaan menciptakan raksasa dari manusia. Dan cairan yang ada didalam suntikan ini adalah cairan yang bisa membuat itu semua mungkin."
Annie melirik suntikan ditangan Eren. Tak ada bedanya dengan cairan yang dilihatnya dulu.
"Dan terpaksa kami menggunakanmu sebagai percobaan pertama. Aku akan menyuntikkan ini kedalam tubuhmu."
Eren terlihat sedikit tertekan. Ia tidak menyangka akan bisa melakukan sejauh ini. Ia takut cairan ini gagal dan malah akan merenggut nyawa seseorang tak berdosa, yang baru dikenalnya ini. Satu kesalahan kecil saja sudah sangat beresiko. Tapi tak ada jalan lain selain mencoba ramuan raksasa ini. Eren harus menguatkan keyakinannya.
"Aku anggap kau bersedia."
Annie mengangguk sebagai tanda bahwa ia memang menyetujuinya.
Saat itulah Eren mulai melakukan tugasnya sampai selesai. Jarum suntik itu berhasil menembus daging, cairannya ditekan agar masuk kedalam tubuh.
Tidak terlalu sakit memang. Tapi cukup berbekas.
Eren kemudian mengusap bekas suntikkan dengan kapas yang sudah diberi alkohol. Tak disangka setelah melakukan itu Eren tersenyum hangat pada Annie. Senyuman penuh harap agar percobaan ini berhasil. Annie mengumpat dalam hati.
"Nah sekarang kita lakukan percobaan diluar. Aku juga pernah menggunakan cairan raksasa seperti tadi, jadi aku juga akan melakukan percobaan setelah ini."
Hange tetap mengawasi.
Mereka bertiga sudah berada dihalaman belakang markas. Beberapa prajurit juga berada disana untuk berjaga-jaga jika saja rencana gagal.
"Sekarang, coba lukai diri sendiri." ucap Hange mengomandoi Eren dan Mikasa.
Eren melirik Annie sesaat, melihat gadis itu siap dengan pisau kecil ditangannya. Eren tidak memiliki alat tajam apapun untuk melukai dirinya. Tidak mungkin jika ia meminjam pisau kecil itu pada Annie. Harga diri.
Berpikir. Dan ia menemukan caranya sendiri. Menggigit tangannya dengan sekuat tenaga mungkin akan berhasil. Patut dicoba. Eren siap dengan tangan kanan yang sudah didekatkan pada mulutnya, siap untuk menggigit.
Grauup
Darah keluar dari tangannya. Melihat itu Annie mengikuti hal yang sama, melukai tangannya.
Hange mengerutkan alis heran. Tidak terjadi apa-apa pada keduanya. Apa mereka gagal?
"Hange-san, tidak terjadi apa-apa. Bagaimana ini?" Eren bertanya.
Yang ditanya tampak berpikir. Permasalahan pelik ini ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Tidak selancar sebelumnya.
"Coba lagi!" perintahnya.
Tak ada pilihan lain bagi Annie dan Eren selain melakukan apa yang dikatakan Hange. Berharap sesuatu terjadi setelahnya.
Mencoba memperdalam luka yang telah mereka buat ternyata tidak membuahkan hasik apapun selain rasa sakit yang mendera hebat. Keringat dingin sudah muncul dipermukaan kening Hange. Pasti ada yang menghambat perubahan mereka. Tapi apa? Jika saja ternyata ramuan yang telah masuk ke tubuh dua orang itu hanya bisa membuat berubah satu kali, lalu bagaimana dengab Annie? Pasti ada yang salah jika memang seperti itu. Sebab Annie baru memasukkan ramuan itu tadi.
Hange menutup kedua matanya sesaat.
Setelahnya ia menatap Annie dan Eren bergantian. Mungkin mereka butuh waktu.
"Hari ini cukup sampai disini saja. Kalian istirahatlah." ucap Hange kemudian.
Masih ada hal yang belum terungkap. Ah tidak, masih banyak.. sangat banyak. Sampai kapan takdir akan menyembunyikan kebenaran itu?
.
.
Pasukan pengintai tengah berkumpul di ruang makan untuk menikmati makan malam mereka. Mereka duduk bersama rekan masing-masing, entah itu satu angkatan, satu tim, atau satu kampung halaman.
Para petinggi pasukan pun berada di tempat yang sama. Ya.. dengan porsi makan malam yang berbeda tentunya.
Para anggota baru berada dalam satu meja. Saat itu mereka sibuk membicarakan perkiraan mereka tentang rencana para petinggi terhadap Annie, orang yang dipilih sebagai bahan uji coba. Dengan tetap waspada agar prajurit lain tidak mendengar pembicaraan mereka. Annie tidak berada bersama mereka sekarang, entah berada dimana anak itu.
Salah satu dari angkatan 104 dengan wajah seperti kuda, Jean Kristein, dengan seriusnya membuka pembicaraan mereka malam itu.
"Menurut kalian, apa yang sedang dilakukan para atasan kita?"
"Tidak ada." balas seseorang berkepala pelontos.
Jean memasang wajah kesal setelahnya. Jangan-jangan yang merasa ganjil dengan tindakkan atasannya hanyalah dia.
"Tidak mungkin tidak ada yang mereka lakukan jika tiba-tiba mengumpulkan kita dan memilih Annie untuk melakukan sesuatu. Kita tidak tahu apa yang akan mereka lakukan pada dia kan?"
Mikasa Ackerman dan teman masa kecilnya, Armin Arlent, ikut memikirkan apa yang dibicarakan Jean. Begitu juga dengan pria berbadan besar, Reiner, dan pria jangkung, Berlthod.
"Mungkin ada hubungannya dengan Eren-sensei." guman Armin pelan namun masih bisa didengar oleh yang lain.
"Eren-sensei? Kalau tidak salah dia seumuran dengan kita kan? Hebat sekali bisa menjadi dokter diumur semuda itu." Connie -si pria pelontos- berkoar.
"Bagaimana kalau kita bertanya saja padanya?" Mikasa akhirnya akat bicara.
Semua menatap gadis bersurai hitam itu heran. Kenapa mengusulkan tindakan nekad itu? Untung-untung jika dokter itu ramah, bagaimana jika tidak? Pikir semuanya dalam diam.
"Kita kan tidak kenal padanya.."
"Aku kenal." Mikasa menjawab.
Terlihatlah ekspresi 'eh?' diwajah orang-orang itu.
"Bagaimana bisa?"
"Aku pernah ditolongnya saat masih kecil."
Hening. Hanya terdengar suara riuh orang-orang disekitar mereka. Banyak pertanyaan yang muncul dibenak masing-masing kepala. Tapi enggan untuk bertanya karena mimik Mikasa menunjukkan kalau dia tidak mau ditanya lebih dari perkataannya tadi. Jadi mereka memilih untuk bungkam sementara.
Saat itu prajurit dimeja lain sudah keluar dari tempat itu. Menyisakan bangku mereka saja yang masih terisi. Para petinggi pasukan juga keluar satu per satu. Eren yang memang satu meja dengan para petinggi berdiri terakhir, hendak akan keluar.
Saat Eren melewati meja angkatan 104 yang masih penuh itu, Jean langsung berdiri. Menghalangi langkah Eren untuk menuju luar.
Eren menatap heran. Sedikit terganggu dengan ekspresi serius Jean dihadapannya.
"Ada apa?"
Tiba-tiba Jean langsung mencengkram pundak Eren dengan erat, menambah kesan pentingnya apa yang akan ia tanyakan. Eren mengerjap. Masih merasa heran.
"Jaeger-sensei! Apapun yang sedang kalian rencanakan, tolong, berhasillah!"
Pemikiran sederhana itu menyeruak dipikiran Eren. Apapun yang terjadi, Eren dan para petinggi pasukan yang lain juga pasti memperjuangkan keberhasilan rencana ekstrem mereka ini. Meski nyawa taruhannya.
Eren menyingkirkan tangan Jean dipundaknya dengan lembut. Dengan keyakinan yang telah dipupuknya selama ini, ia menatap orang-orang disekitarnya juga. Dan menyadari keberadaan gadis yang sangat familiar dengannya, Mikasa.
"Tanpa disuruhpun, kami akan memperjuanglan itu. Meski harus dibayar dengan banyak nyawa." balas Eren mantap.
Semuanya terhening. Melihat keyakinan di mata emerald dokter itu sudah membuat mereka sedikit yakin akan rencana yang bahkan mereka tidak ketahui tersebut. Mereka harus mengerti jika saja para petinggi memang merahasiakannya dari prajurit baru. Waspada pada kemungkinan penyusup menyamar diantara mereka yang tak berdosa.
"Maaf telah menahanmu, Jaeger-sensei." ucap Jean kemudian. Mempersilahkan Eren untuk melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
Mereka tak mengatakan apa-apa setelahnya. Hanya diam dalam pemikiran masing-masing.
.
.
Setelah berpikir seharian di ruang kerjanya, Hange akhirnya menemukan satu hal yang tidak ia sadari sebelumnya tentang perubahan raksasa itu. Tujuan. Ya, tujuan. Seseorang yang akan berubah menjadi raksasa haruslah memiliki tujuan yang jelas.
Pemikiran itu tidaklah datang sendirinya. Irvine juga ikut andil dalam menemukan hal yang kurang dalam percobaan mereka beberapa waktu lalu. Dengan santainya Irvine mengatakan 'mungkin tujuannya harus jelas'. Perkataan santai itu nyatanya membuat Hange memutar otak dengan cepat. Dan bingo. Ternyata hal yang kurang itu berhasil membiat Eren dan Annie berubah menjadi raksasa sekarang, di halaman belakang HQ.
Ya setelah mengetahui hal yang kurang itu Hange memang langsung meminta Eren dan Annie untuk mencobanya, masih dibawah pengawasannya tentu.
Kini raksasa berambut brunette bermata hijau berdiri dengan teriakan khasnya. Juga raksasa -yang bertubuh seperti wanita- dengan rambut pirang khas Annie berdiri tak jauh dari raksasa Eren.
Dengan mata berbinar, Hange menatap kedua raksasa dihadapannya ini. Tiba-tiba merasa sangat yakin bahwa mereka akan berhasil.
"Apa kalian berdua bisa mengerti apa yang aku katakan?" Hange berteriak.
Tak ada balasan dari keduanya tentu. Hanya raungan untuk mengiyakan pertanyaan itu. Hange semakin senang.
"Woaa! Suge suge! Berarti rencana penaklukan dinding Shina akan benar-benar kita lakukan!"
Hange tidak main-main. Ia memang akan melakukannya.
Ditengah kesenangan Hange untuk menguji raksasa Eren dan Annie, seseorang datang dengan tergesa. Memanggil Hange dengan wajah penuh peluh karena berlari ke tempat ini.
"Hange-san! Dinding Rose telah hancur! Raksasa kolosal... datang lagi menghancurkan dinding!"
Tak dipungkiri lagi keterkejutan Hange. Wajahnya berubah serius lagi.
"Tunggu intruksi dari Irvine. Kita harus bersiap-siap." ucapnya.
Orang itu berlalu pergi setelah memberi hormat. Menyisakan Hange dan dua raksasa yang masih berdiri disana.
"Kesuksesan percobaan ini ternyata harus cepat-cepat diuji keberhasilannya. Eren, Annie, kalian akan menjadi kartu As kami."
.
.
Orang-orang berlarian dengan histeris menghindari raksasa yang terus berdatangan dari lubang di dinding yang dibuat raksasa kolosal beberapa menit lalu. Baru beberapa menit tapi sudah memakan korban yang tidak sedikit jumlahnya.
Tragedi menyakitkan beberapa tahun lalu kembali terulang. Kenangan pahit para warga yang juga mengalami kejadian yang dulu kembali memghantui mereka. Mereka tidak bisa terus berlari menghidar dan bersembunyi dari raksasa. Mereka pasti akan ditemukan dengan mudah. Mereka membutuhkan bantuan nyata dari militer.
Disaat yang sama para prajurit dari garisson hanya bisa mengefakuasi sebagian warga, dibantu oleh polisi militer.
Para prajurit trainee juga ikut turun ke lapangan meski rasa takut menjalar hebat dalam diri mereka. Wajar saja, ini tugas pertama mereka menghadapi raksasa langsung seperti ini. Jadi tak sedikit juga yang berakhir menjadi santapan raksasa tanpa sempat menggunakan kedua pedang ditangan mereka.
Untunglah pasukan pengintai datang saat raksasa semakin banyak menyerbu.
Prajurit pasukan pengintai yang memang sudah biasa berhadapan dengan raksasa, dengan lihai terus bergerak menggoreskan pedang di tenguk raksasa yang mereka temui. Tidak ada lagi kata 'sayatan kurang dalam' bagi mereka yang sudah sangat terbiasa.
Disamping menghabisi raksasa-raksasa itu, pasukan pengintai juga sempat menangkap satu raksasa hidup untuk diuji seperti biasa. Dan tak usah ditanya lagi siapa yang menyuruh mereka menangkap raksasa itu hidup-hidup.
Ini baru perlawanan biasa yang dilakukan pasukan pengintai. Mereka belum menggunakan kartu As baru yang mereka miliki. Karena keadaan belum terlalu mendesak, kecuali raksasa yang terus berdatangan dari luar dinding. Mungkin saat ini mereka harus menggunakan kartu As itu. Pion berharga siap bertempur.
"Dengar, Eren, Annie, kalian harus membawa batu besar didekat gereja untuk menutupi lubang yang dibuat raksasa kolosal!" perintah Irvine.
Tampaknya raksasa Eren dan Annie mengerti akan tugas mereka itu. Dan keduanya langsung berlari menuju tempat beradanya batu besar yang dimaksud Irvine.
Setelah itu ternyata ada seseorang yang menunggu penjelasan disamping Irvine, yaitu Levi. Orang yang menaruh kecurigaan baru-baru ini.
"Kenapa kau terlihat sangat mengerti akan hal ini? Apa yang kau sembunyikan yang aku tidak tahu?" tanyanya.
Belum sempat Irvine menjawab, datang lagi seseorang yang tampaknya juga menuntut penjelasan.
"Komandan, apa... maksud kedua raksasa tadi? Apa... mereka sekutu kita?" ternyata itu Jean.
"Kau akan mengerti nanti. Fokuslah pada tugasmu."
Irvine berlalu pergi dengan manuver 3D-nya. Meninggalkan Levi dan kadet 104 itu.
"Tsk. Dasar topeng kemanusiaan." Levi mengumpat. Dan lalu meninggalkan Jean yang masih dalam kebingungan. Musuh masih banyak, tidak mungkin mereka terus berleha-leha dalam kebingungan kan.
.
.
"Graauuuuuu!"
Suara pekikan raksasa Eren terdengar nyaring saat ia berhasil mengangkat batu besar. Sedangkan Annie berjaga disampingnya.
Pergerakan mereka berdua diawasi juga oleh beberapa orang kepercayaan Hange dan beberapa orang dari garisson. Bersiaga jika saja hal yang tidak diinginkan terjadi. Ya meski dari pasukan garisson sendiri masih menaruh ketidakpercayaan pada 2 percobaan aneh pasukan pengintai ini.
Raksasa Eren mulai melangkah dengan tangan yang membopong batu besar dipundaknya. Jarak dari tempat mereka berada sekarang dengan dinding yang hancur cukup jauh. Akan sangat membutuhkan energi yang banyak untuk itu.
Tiba-tiba terdengar suara benturan keras. Suara itu berasal dari dinding yang sudah berlubang diujung sana. Orang-orang bisa melihat apa yang terjadi sebenarnya setelah kepulan asal mulai menipis. Dan ketakutan itu kembali mencuat.
"I-itu... Raksasa lapis baja.."
Suara kematian terasa menyertai gerakan cepat raksasa lapis baja. Gerakan cepat menuju tempat raksasa Eren dan Annie berada. Semua orang menyingkir diiringi histeris.
Api bisa terlihat keluar dari mulut raksasa itu.
Semakin dekat, semakin dekat, dan akhirnya raksasa lapis baja benar-benar berada didepan mereka. Tepatnya langsung meninju raksasa Annie.
Menerima pukulan itu, Annie melindungi sasaran pukulan dengan kristal-kristal yang tiba-tiba tumbuh dari permukaan kulit. Seperti sebuah reaksi perlindungan.
Para prajurit bingung harus melakukan apa. Pertarungan antar raksasa baru mereka lihat kali ini. Untunglah Irvine datang dan memberi perintah.
"Tetap berjaga! Dan Eren, lanjutkan tugasmu membawa batu!"
Tak ada yang bisa menghentikan pertarungan mendadak antara raksasa Annir dengan raksasa lapis baja. Yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa raksasa lapis baja hanya menyerang raksasa Annie? Tidak dengan raksasa Eren atau para prajurit yang mencoba menembakkan senapan padanya? Ada yang janggal. Termasuk Irvine, yang diam-diam menyeringai melihat pertarungan antar raksasa itu. Apa yang sebenarnya terjadi?
.
.
-TBC-
.
.
Chapter ini udah dulu aja ya... Mentok.
Pokonya masalah semakin banyak.
Semakin banyak juga hal yang belun terungkap.
Hohoho~ author seneng kalo berhasil bikin readers penasaran
Nista sekali...
Tetep tunggu chapter selanjutnya dan kasih review yaaa
Ok, see you next chapter
Ja ne
-Author Shigeyuki-
