New Fate

Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime

New Fate © Author Shigeyuki

Takdir baru yang tak disangka-sangka. Kawan dan musuh yang masih disembunyikan takdir.

Warning : AR, Typo bertebaran, kalimat aneh, maksa, ngasal, dan mungkin sedikit OOC.

Siap-siap kantung muntah jika tidak sanggup baca.

Chapter 6 ini sengaja author panjangin dari biasanya gpp ya? Jadi publish-nya juga lama gpp ya? Tapi ini siap dinikmati kok..

Jujur, author sangaaaaat senang membaca review dari para readers. Ternyata banyak yg penasaran~

KiseYuzuriha? Merasa sangat familiar... Jika iya itu kau, otouto, tumben sekali meninggalkan jejak.

.

Aa, Author juga sebenernya penasaran sama Irvine, kok author bikin Irvine jadi gitu ya?

Melly Guslow pun bernyanyi.. Ada apa dengan Irvine~

Haa, author pengen ketawa nista dulu boleh yak?

Buahahahahahahaha xD

Please enjoy

RnR

Readers adalah semangat author

.

.

.

.

.

Chaprer 6

.

.

.

Annie kalah dalam pertarungan satu lawan satu dengan raksasa lapis baja. Raksasa Annie yang dielu-elukan sebagai salah satu karti As pasukan pengintai kini sudah hampir lenyap karena menguap.

Hange tidak menyangka hal ini akan terjadi, ia langsung memerintahkan bawahannya membawa tubuh Annie yang masih terjebak di tengkuk raksasa, dalam keadaan tidak sadar.

Tapi apa yang diperintahkan Hange tidak bisa dengan mulus diindahkan. Raksasa lapis baja menghalang-halangi para prajurit. Bahkan setengah dari mereka sudah tinggal nama karena remuk diinjak ataupun diremukkan. Pemandangan mengerikan itu membuat bayang-bayang kekalahan kembali terlihat dimata semua orang. Harapan mereka hanya tinggal satu, raksasa Eren.

Kekacauan mengalami peningkatan ekstrim. Asap kekalahan terlihat dimana-mana. Meski seluruh warga sipil sudah diungsikan, pekik histeris diganti oleh suara para prajurit. Hey, mereka tetap manusia yang memiliki rasa takut pada musuh ganas sebesar itu kan. Tidak ada salahnya berteriak histeris untuk pertanda bahwa dirinya sudah berada di depan mulut raksasa, siap dilahap.

Eren melihat pemandangan menakutkan itu dalam sudut pandang raksasa. Tubuhnya seakan remuk membawa batu besar dipundahnya ini. Sungguh, jalan yang ia gunakan sangatlah berbeda dengan pemikiran awal. Ia tidak pernah terpikirkan bahwa dirinya akan mengalami tugas berat dibalik kendali tengkuk raksasa.

Selama Eren berjalan menuju gerbang yang hancur, ia dapat menyadari ada beberapa pasukan elit yang melindunginya dari raksasa lain. Ternyata meskipun Eren dalam wujud raksasa, raksasa yang asli masih mengenali bau manusia untuk dimangsa.

Suara gemuruh jauh dibelakangnya seolah memberitahunya akan apa yang terjadi. Eren harus segera menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu agar bisa melihat hal yang terjadi dibelakangnya itu.

Tanpa disangka, dua raksasa menghampiri raksasa Eren, hendak menyerang.

Para pasukan elit yang berjaga dibawah langsung mengambil tindakan sebelum dua raksasa itu sempat mendekati Eren.

Dengan sudut mata yang memandang ke bawah, terlihat bagaimana para pasukan elit itu dengan lincah menghabisi raksasa dengan sekali tebas. Tidak heran kenapa mereka disebut pasukan elit.

Tinggal beberapa langkah lagi Eren bisa mencapai dinding. Dengan sedikit menggeram, ia melangkah semakin mantap.

Dan sebuah serangan datang. Raksasa lapis baja tiba-tiba berlari menghampirinya, langsung menghantam tubuh raksasa Eren. Mendapat serangan itu, Eren terpelanting sehingga batu yang ia bawa terlempar ke depan. Beruntung sekali karena batu itu tepat menutup lubang di dinding. Tapi tetap tidak beruntung bagi Eren, dia langsung mendapat serangan dari raksasa lapis baja. Ini benar-benar tidak mudah.

Hange yang mengawasi pergerakan Eren, tidak melakukan apa-apa. Ia hanya larut dalam pemikirannya sendiri. Selain itu, ia juga diminta untuk tidak mencampuri pertarungan raksasa oleh Irvine. Disamping memikirkan apa maksud Irvine, Hange juga berpikir bahwa.. sepertinya raksasa lapis baja adalah manusia yang berubah menjadi raksasa, seperti Eren dan Annie. Ia sangat yakin akan kemungkinan itu. Dan jika raksasa lapis baja adalah manusia, berarti raksasa kolosal juga manusia. Bagaimana bisa raksasa kolosal yang merupakan raksasa paling besar mampu pergi dengan cepat setelah menembus dinding? Ditambah dengan fakta bahwa pergerakan raksasa kolosal itu sangat lambat, semakin tidak mungkin dia melarikan diri dengan cepat kan? Datang dengan tiba-tiba dan pergi juga dengan tiba-tiba.

Geraman raksasa kembali terdengar. Hange semakin mengerutkan alisnya. Diam-diam melirik pada Irvine yang berdiri jauh darinya. Menatap pria blonde itu dengan penuh kecurigaan. Hanya itu yang bisa ia lakukan kan? Disaat apa yang dilakukan Irvine bertujuan untuk kebebasan umat manusia, semencurigakan apapun dirinya, Hange tetap harus mengikuti apa yang ia katakan. Irvine pasti tahu banyak. Sejak... adanya perubahan raksasa dari manusia ini.

Irvine menyadari tatapan Hange dari tadi, juga tatapan Levi disampingnya. Tatapan meminta penjelasan. Tapi tentu saja Irvine tidak akan memberi penjelasan apapun padanya. Apapun yang terjadi, mungkin. Baiklah, sekarang terlalu banyak orang yang menaruh kecurigaan padanya. Dan jujur, itu sangat mengganggu kegiatannya.

Selama orang-orang terjerembab dalam pemikiran masing-masing. Raksasa Eren sudah mulai menguap. Dan lihat, raksasa lapis baja masih berdiri dengan angkuh disana. Apa yang bisa dilakukan para prajurit? Memotong tengkuknya? Melemparinya meriam? Hey.. itu raksasa lapis baja, lapis baja berarti dilapisi baja. Tidak mudah dilawan hanya dengan meriam dan dua bilah pisau. Mungkin baginya hanya sebuah sayatan kecil dari potongan kaca dan lemparan batu kerikil.

Dengan cepat Irvine menyuruh asistennya untuk melakukan rencana yang telah disiapkan sejak tadi.

"Siapkan semuanya!"

"Baik, komandan!"

Asistennya itupun langsung memberi aba-aba pada prajurit yang lain untuk bersiap menyerang.

Levi mengeluarkan pedangnya. Mata birunya melirik ke sekitar tempat ia berdiri. Ternyata Irvine berencana menangkap raksasa lapis baja hidup-hidup.

"Aku akan mencabut kecurigaanku padamu jika kau mempercayaiku untuk tahu apa yang kau rencanakan dan apa yang kau tahu." ucap Levi tiba-tiba.

Irvine melirik sesaat. Mata safirnya berkilat saat mendengar hal itu.

"Kau kira aku tidak mempercayaimu?"

Kali ini Levi yang melirik. Pertanyaan aneh.

"Jika kau mempercayaiku kau tidak akan menyembunyikan sesuatu dariku. Kau bahkan tidak memberitahuku akan melakukan rencana penangkapan ini. Apa maksudmu?"

Dengan kasar Irvine menghembuskan napasnya. Sejak kapan Levi jadi selogis ini? Padahal dulu dia tidak pernah tidak sejalan dengannya seperti ini. Atau masih sejalan? Tapi berbeda paham karena kesalahpahaman?

"Terkadang tidak semua yang harus kau ketahui, Levi. Terkadang ada hal yang sebaiknya tidak kau ketahui."

"Tapi terlalu banyak yang kau sembunyikan."

"Oh ya?"

Belum sempat Levi mengatakan apa yang harus dilakukan, asisten Irvine menyatakan kesiapan penyerangan. Jadi berakhirlah perbincangan mereka, dengan hasil yang masih ambigu.

Irvine maju beberapa langkah, untuk memudahkannya melihat bagaimana rencananya dilaksanakan.

"Tembak!" pekiknya dengan keras.

Suara gemuruhpun terdengar setelahnya. Panah dengan tali baja menyerbu dengan bertubi-tubi ke arah raksasa lapis baja. Sangat banyak. Otomatis raksasa lapis baja langsung menutup tenguknya dengan kedua tangan. Keadaannya terdesak sekarang. Ternyata jika diserah dengan bersamaan panah-panah tajam itu berhasil menembus kerasnya kulit si raksasa.

Saking seriusnya melihat penyerangan itu, Levi mengingat sesuatu. Ada yang terlupakan sebelumnya. Dan itu..

"Irvine! Apa Eren sudah dikeluarkan dari tubuh raksasanya?"

Irvine tersenyum diam-diam, kemudian kembali memasang wajah serius.

"Bawa dia sekarang!"

Tanpa berpikir lagi Levi langsung memakai peralatan 3DMG untuk menuju raksasa Eren yang tengah menguap. Jika benar-benar terlambat Eren akan melebur bersama daging raksasa itu.

"Tembak lagi!" Irvine berseru.

"Tapi komandan! Levi heichou sedang ada dibawah juga!"

"Dia memiliki insting yang bagus, jadi tidak usah hiraukan dia. Kau mau kita kehilangan raksasa incaran kita?"

"T-Tidak komandan! Maafkan saya!"

Seringai kembali terlihat saat tembakan panah kembali meluncur dengan cepat, seolah diperlambat disaat yang sama Levi sudah mengeluarkan tubuh Eren yang tak sadarkan diri, membopongnya menjauh dari medan perang. Tidak menyadari tembakan tengah diluncurkan kembali.

"Aku ingin kau tidak banyak bicara untuk sebentar saja. Hanya sebentar, aku tidak akan membunuhmu sungguhan." Irvine bermonolog.

Entah kenapa, satu panah meleset dari target sesungguhnya. Meleset pada objek bergerak disekitar raksasa lapis baja.

Mata Levi membesar, ia langsung melempar tubuh Eren yang tak berdaya yang ia bawa. Eren adalah orang penting di pasukan sekarang, tidak boleh mati dengan konyol seperti ini.

Dan hasilnya, Levi yang mendapatkan panah itu. Tepat diperut sebelah kanan. Darah dari mulutnya perlahan turun. Levi menggeram dalam hari, menggertakkan giginya hingga terdengar suara gemeletuk. Ia melepaskan panah diperutnya dengan paksa. Rasa sakitpun menjalar hebat.

"Irvine.."

Jika ia akan mati hari ini, ia bersumpah akan menghantui Irvine selamanya.

"Jangan harap aku akan menurutimu setelah ini, ukh.."

Akhirnya Levi tumbang. Sepertinya panah itu menghancurkan organ dalamnya.

Hange, yang kebetulan melihat apa yang terjadi dibawah sana, terkejut menyadari Levi tumbang. Ia pun sadar akan adanya darah, ini bahaya. Hange langsung turun, berlari menghampiri Levi yang tergeletak setengah sadar.

"Levi! Kau masih sadar kan?! Aku akan membawamu ke markas!"

"Ukh.. bawa Eren saja. Aku akan menyusul nanti."

Hange tersenyum meremehkan. Selalu saja..

"Aku tahu kau prajurit terkuat umat manusia, tapi saat terluka tetap saja kau membutuhkan pertolongan. Tidak selamanya kau bisa melakukan semuanya sendiri."

"Kau terlalu banyak... membuang-buang waktu. Bocah dokter itu harus cepat dibawa."

"Iya iya aku tahu. Tapi.. apa.. dia?"

Levi semakin merasakan rasa sakit dilukanya itu. Merasa mengerti tentang apa yang ditanyakan Hange, Levi menjawabnya dengan gumanan mengiyakan, sudah tidak sanggup untuk banyak berbicara. Darah yang keluar juga sudah bergelimpah dipermukaan yang menahan tubuhnya. Apa ini akhir untuk Levi?

"Jangan bercanda akan mati sekarang, itu tidak lucu, Levi."

Hange berusaha menghibur diri sendiri dengan ucapannya. Menyakini bahwa Levi akan baik-baik saja setelah ini. Dia tidak boleh meremehkan prajurit terkuat kan?

Wanita itupun meminta prajurit lain untuk mengevakuasi Levi dan Eren. Hange masih harus menyelesaikan tugasnya menangkap raksasa hidup-hidup. Ya meski ia baru diminta beberapa menit yang lalu sebelum penyerangan dimulai. Ia sama-sama tidak diberitahu akan adanya rencana ini. Tugas tetaplah tugas. Irvine tetaplah komandan, orang yang berkuasa penuh.

Setelah memastikan Levi dan Eren sudah dibawa ke tempat yang aman untuk ditangani, Hange melangkah menuju raksasa lapis baja. Mengangkat dirinya dengan peralatan manuver untuk berdiri diatas gedung yang tepat menghadap wajah sang raksasa yang tak berkutik karena tertahan banyak tali baja.

Mimik Hange terlihat sangat serius. Tidak menyadari Irvine sudah berada dibelakangnya untuk mengawasi.

"Akhirnya kita bisa saling bertatapan seperti ini." ucap Hange masih serius.

Tentu saja raksasa lapis baja tidak merespon apa-apa. Dia hanya bungkam dalam posisi yang sama.

"Sebenarnya kau siapa? Apa tujuanmu? Menyerang dua raksasa kami seenaknya."

Masih tak ada respon. Hal itu membuat Hange semakin muak pada raksasa dihadapannya. Kenapa tidak? Raksasa ini sudah terlalu banyak membuat kerusakan. Menjatuhkan banyak korban juga. Dan kekesalannya semakin memuncak saat topeng kemanusiaan Irvine dipakai.

Hange berbalik. Mendapati. Irvine berada dibelakanngnya, Hange langsung menatap pria itu. Memberi kode untuk mengambil alih mengintrogasi raksasaa ini, meskipun sia-sia hasilnya.

Irvine mengerti maksud Hange dan ia melangkah menempati posisi Hange tadi. Sedangkan wanita nyentrik itu memacu peralatannya. Dengan suasana hati yang semakin buruk, ia melayang menuju belakang raksasa lapis baja. Berdiri sedikit jauh dari target. Menunggu waktu berjalan agar misinya berhasil.

Selama proses menunggu, langit diatasnya berubah kelam. Cahaya matahari sore yang tadinya bersinar dengan sangat indah melatari teror menyakitkan ini, mulai tertutup awan hitam. Siap untuk mengguyur dunia kecil itu dengan tangisan langit. Miris sekali. Hange merasa sudah kehilangan salah satu orang panutannya, orang yang paling dipercaya dalam hidupnya. Kenapa jadi seperti ini.. padahal dulu Irvine tidak pernah seperti itu, sengaja menyakiti anak buahnya.

Ditatapnya langit yang muram. Alisnya yang dari tadi berkerut menahan emosi sedikit demi sedikit merileks dengan sendirinya. Helaan napas terdengar.

Saat setitik air jatuh diatas wajahnya, Hange langsung mengangkat kedua pedangnya dengan mantap, hendak melaksanakan tugasnya, mengiris tengkuk raksasa lapis baja dan mengeluarkan orang didalamnya.

Tidak disangka saat Hange melayang diudara dan menyerang tengkuk itu, si raksasa tidak sekeras yang ia bayangkan. Pedang miliknya bisa menembus daging itu seperti pada raksasa biasa. Tentu saja Hange tidak mengiris dengan sembarangan, jika tidak bisa-bisa orang yang ada didalamnya ikut teiris.

Asap putih menyembur dari bekas sayatan Hange, membuat dia terpental akibat kuatnya semburan asap itu. Tapi untungnya Hange menancapkan gear-nya pada tubuh si raksasa. Jika kehilangan pandangan sedikit saja ia akan kehilangan apa yang terjadi didepannya.

Hange berusaha semakin mendekat pada sumber keluarnya asap, melebarkan sayatan itu untuk melihat orang didalamnya.

Ia sudah bersumpah dalam hati, ia tidak akan terkejut jika ternyata orang didalamnya adalah orang yang ia kenal, anak buahnya, atasannya, atau mungkin prajurit baru. Hatinya sudah bulat untuk mengorek informasi dari objek tawanannya saat ini.

Dengan hanya 2 bilang pedang, Hange sekuat tenaga menyayat daging dihadapannya. Ia merasa sudah semakin dekat ia menemukan orang didalamnya. Dan bingo, dapat.

"Ternyata kau.."

Tak ada rasa terkejut sama sekali. Hange hanya menunjukkan ekspresi yang sama saat menatap langit tadi.

"Reiner Braun."

Misinya selesai dengan cepat. Mendapat salah satu musuh yang diincar selama ini. Dengan bayaran yang sangat besar tentunya.

Disaat seperti ini Hange malah mengingat masa lalu. Mungkin hujan ini mengingatkannya. Itu hanya kenangan kecil.. kenangan yang ia pegang sebagai kepercayaan seumur hidup. Tapi mungkin tidak lagi, tidak lagi seumur hidup.

Hujan semakin deras terjadi.

.

.

Saat itu Hange masihlah pemula, anggota baru pasukan pengintai yang belum tahu apa-apa tentang pengorbanan. Umurnya masih sekitar 16 tahun.

Baru sekali dirinya mengikuti ekspedisi luar dinding. Dan menurutnya itu adalah mimpi buruk. Baiklah, dia memang tidak takut pada raksasa, tapi dia takut pada pengorbanan. Dengan mata kepalanya sendiri Hange melihat bagaimana rekan-rekan seangkatannya tewas lebih dulu. Menyakitkan memang. Dia tidak lagi memiliki teman untuk mengobrol. Karena Hange adalah satu-satunya yang selamat dari angkatannya. Entah ini harus dibanggakan atau tidak.

Namun setelah ia berkenalan dengan kapten regunya saat itu, Irvine Smith, ia mulai berpikir bahwa keselamatan yang ia alami adalah keberuntungan yang harus dibanggakan. Dengan begitu ia bisa melanjutkan peejuangkan rekannya yang telah pergi lebih dulu. Dengan begitu Hange bisa menciptakan kehidupan tanpa dinding yag selama ini membelenggu semua orang. Manusia diciptakan bukan untuk hidup dibatasi dinding. Mereka hidup untuk menikmati seluruh permukaan bumi, tanpa dibatasi apapun, bebas. Hange bangkit darisana.

Beberapa minggu setelahnya, Irvine memperkenalkan Hange pada anggota baru pasukan pengintai yang langsung direkrut oleh kaptennya itu sendiri.

"Hange, ini Levi. Mulai sekarang dia akan menjadi asistenku."

Hange tersenyum ramah pada orang baru itu. Mengulurkan tangan untuk berjabat tangan tapi tidak diindahkan oleh lawannya.

"Dia memang seperti itu, mulailah untuk terbiasa." ucap Irvine mencoba untuk menjelaskan.

Hari itu ketiganya pergi ke halaman belakang HQ untuk membicarakan strategi yang ditugaskan pada Irvine, juga untuk saling membuka diri sebagai rekan seperjuangan.

"Jadi seperti itu, formasi ini memang sangat beresiko tapi jika berhasil akan meminimalisir korban yang mati." ucap Irvine sebagai akhir pembicaraan mereka tentang strategi ekspedisi luar dinding.

Hange mengangguk-angguk mengerti, sedangkan Levi tampak biasa saja, tidak peduli apa rencananya yang ia pikirkan adalah proses.

"Ano, kenapa anda merekrut Levi?"

Irvine yang sedang melipat kertas formasi miliknya berhenti seketika setelah mendengar pertanyaan Hange. Kemudian pria blonde itu tersenyum santai sambil melanjutkan melipat kertas ditangannya.

"Dia bisa diandalkan. Ya kan, Levi?"

Levi mendecih. Merasa dijadikan alat tapi tetap saja patuh.

"Dulu Levi pembunuh bayaran di dunia kejam ibukota. Aku menemukannya saat bertugas kesana. Awalnya memang sulit untuk membawanya kemari, tapi lihat sekarang?"

Hange sedikit terkejut saat tahu masa lalu Levi. Bukan terkejut karena takut atau semacamnya, tapi terkejut karena Irvine bisa menaklukan pembunuh bayaran itu dan dijadikan prajurit matang yang pastinya bukan produk gagal.

"Nee Levi, kenapa menerima ajakan kapten Irvine?" tanya Hange penasaran.

Pria yang ditanya mendelik, sebenarnya tidk mau mengungkit tentang ini. Namun ya apa boleh buat, memberitahukannya pada gadis nyentrik ini sepertinya tidak masalah.

"Aku ingin mengakhiri dunia kejam yang sempit ini. Semuanya busuk jika terus berada dalam kandang yang sama."

Alasan yang tidak benar-benar tulus.

"Dan memberikan artian kebebasan yang sesungguhnya pada semua orang, agar mereka sadar."

Hange melihat kilatan tekad di mata biru milik Levi. Sepertinya alasan yang ini benar-benar tulus. Baguslah jika orang-orang yang sadar akan kebebasan yang terbelenggu ini semakin bertambah. Mungkin akan terwujud sesuatu yang nyata nantinya.

"Kita akan mewujudkan itu bersama jika melakukan tindakan sekarang juga. Musuh kita sama, jadi tujuan kita juga harus sama."

Senyuman mengembang terlihat diwajah Hange. Senang memiliki orang kepercayaan dan teman baru. Semoga semuanya bertahan hidup lebih lama agar impian itu terwujud. Jika tidak bertindak sekarang, kapan lagi. Jika mereka tidak berani melakukannya, siapa lagi. Jika musuh sudah ada didepan mata, tunggu apa lagi.

Para pejuang baru dan lama yang menyatukan tekad bersama. Siap melawan musuh besar umat manusia selama ini. Tidak akan puas hanya dengan melempar satu panah, tidak akan berhenti sampai musuh terakhir jatuh. Sampai dua sayap yang terpampang dipunggung mereka merasakan kebebasan yang nyata, terbang dengan indahnya menyorakkan kemenangan. Jiyuu no tsubasa.

.

.

.

Senyuman kecut menghiasi wajah Hange yang sudah basah kuyup karena hujan. Mengingat bagaimana masa lalu, kejadian 8 tahun lalu itu, miris sekali. Irvine tampaknya sudah berbeda jalan dengannya dan Levi. Mulai memberontak kah? Atau tujuannya sudah berubah? Tidak lagi untuk kebebasan umat manusia. Tidak ada yang tahu. Tidak pernah ada..

Hange memutuskan untuk kembali ke markas. Untuk pertama kalinya ia ingin merasakan istirahat dulu. Padahal dulu dia tidak pernah kenal kata istirahat. Masalah emosi ternyata memang lebib berat. Apalagi menyangkut kepercayaan dan rasa dikhianati. Sekarang ia ingin membiarkan dirinya sedikit berpikir jernih. Baru setelah itu menjenguk Levi. Dan lalu bertanya semampunya pada Irvine. Hanya itu. Terdengar sederhana tapi langkah Hange terasa berat baginya. Terkadang hal kecil bisa terasa sangat berat jika datangnya bertubi-tubi. Seperti yang dihadapi Hangr saat ini. Terlalu miris.

.

.

.

Cahaya lampu minyak menerangi seisi ruangan itu. Jendela yang terbuka menghembuskan angin malam yang cukup dingin setelah guyuran hujan sore tadi. Cahaya yang minim itu memperjelas keberadaan orang yang terduduk melamun diatas ranjang. Pria brunette dengan mata emerald tengah memikirkan apa yang terjadi padanya, pada Annie, pada para prajurit, dan raksasa lapis baja yang terlihat samar-samar dalam ingatannya.

Misi dirinya menjadi raksasa untuk pertama kalinya sudah selesai, dan berakhir dengan sangat ambigu.

Eren tahu sesuatu, setelah mendapat informasi dari Hange beberapa menit lalu. Mereka berhasil menangkap raksasa lapis baja, yang ternyata adalah kadet angkatan 104 yang baru masuk beberapa waktu lalu, seangkatan dengan Annie. Eren juga diberitahu bahwa Levi mendapat serangan salah sasaran yang disengaja. Satu yang tidak Eren mengerti, kenapa raut wajah Hange sangat berbeda dari biasanya. Ada yang terjadi si pasukan pengintai, yang tidak ia ketahui itu apa. Berhubungan dengan orang-orang penting disana.

Eren merutuk dalam hati. Jika saja ia tidak kehilangan kesadaran setelah kalah melawan raksasa lapis baja, ia mungkin tidak akan melewatkan apa yang terjadi. Tidak akan setidakmengerti ini.

Mata emeraldnya menerawang jauh keluar jendela yang terlihat gelap. Perban dikepalanya seolah menyadarkannya bahwa dirinya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja pasca transformasi siang tadi.

Ia tidak merasa hidup saat ini. Otaknya berusaha untuk terus berpikir, bagaimana caranya menyelesaikan semua hal yang ia mulai. Tidak mungkin kan dia mengundurkan diri dari semua misi ini. Tidak mungkin ia dengan teganya menghancurkan harapan besar yang ia bawa dipundaknya. Tidak semudah itu mengakhiri apa yang ia mulai sendiri. Itu membutuhkan keberanian yang sangat besar, juga tidak takut resiko yang akan didapat dari tindakannya itu.

Ini harus diakhiri saat musuh benar-benar lenyap. Harus berakhir saat mereka berhasil mencapai tujuannya. Ia tidak mau lagi bemimpi akan dunia luar, ia ingin merasakannya dengan nyata, dengan tubuh yang ia pakai.

Perasaan takut mulai mencuat saat Eren menyadari bergitu banyak prajurit yang gugur saat misi hari ini. 214, itu jumlah yang dikatakan Hange. Dan korban terluka 156, termasuk Levi.

Perubahan manusia menjadi raksasa ternyata seberesiko ini. Keberhasilan pasukan pengintai menangkap raksasa lapis baja harus dibayar dengan banyak pengorbanan. Jika ini terus dilanjutkan, entah berapa banyak lagi nyawa yang hilang. Menentang takdir ternyata memang sangat berbahaya. Keberanian macam apa yang dimiliki Eren sampai melakukan sejauh ini. Juga ketakutan macam apa gang membuatnya merasa ragu-ragu. Tidak bisa dimengerti.

Satu perkataan yang membuat Eren bertahan dan akan melanjutkan apa yang ia mulai, dunia memang kejam. Harus berani juga melakukaan sesuatu yang kejam. Membuang rasa kemanusiaan yang tertanam dalam diri sendiri.

Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu yang memisahkan ruangan ini dengan koridor. Eren langsung memfokuskan diri pada siapa yang mengetuk pintu diluar sana.

Setelah dipersilahlan masuk, orang itu terlihat. Sangat berpengaruh dengan reaksi yang Eren keluarkan. Perasaannya langsung bercampur aduk saat tahu sosok siapa itu.

"A-ayah..?"

Sosok yang dipanggilnya dengan ayah tersenyum tipis. Berjalan menghampiri ranjang Eren dan duduk dikursi yang memang menghadap langsung pada posisi Eren, kursi yang juga digunakan oleh Hange sebelumnya.

"Bagaimana kabarmu, Eren?"

Eren masih terdiam. Mencerna apa yang ia dengar dan apa yang ia lihat saat ini. Sangat tiba-tiba dan tidak disangka. Kenapa ayahnya, Grisha Jaeger bisa ada disini?

"Tidak mungkin baik-baik saja setelah melakukan transformasi itu ya.. Jadi, Eren, bagaimana perkembangannya?"

Eren mengerjapkan mata. Ini memang terjadi sekarang, bukan merupakan halusinasi semata.

"Tunggu, ayah, kenapa baru muncul sekarang? Kau berada dimana selama ini?"

Grisha tersenyum kecut. Bukan keinginannya meninggalkan anak satu-satunya begitu lama seperti ini, sama sekali bukan maunya.

"Maafkan aku, Eren. Banyak yang harus ayah siapkan."

"Siapkan? Siapkan apa?"

Tatapan sayu ditunjukannya. Yang ia hadapi sangatlah berat.

"Apa ayah tidak diberi kesempatan untuk melepas rindu?"

Saat Grisha hendak memeluk Eren, anaknya itu langsung menahannya. Dengan tatapan serius, Eren mengamati ayahnya. Ada sedikit aura kemarahan dimatanya.

"Tidak. Selama ini meninggalkanku sendiri tanpa jejak, memangnya aku bisa membuka hati dengan mudah? Tidak, ayah. Kau menyembunyikan sesuatu dariku, aku juga bisa melakukan hal yang sama."

Grisha kembali duduk dikursinya. Ternyata Eren sudah berubah banyak. Pemikiran dengan logika dan sikap tangguh yang dewasa. Berkembang begitu banyak selama tidak ia awasi. Rasa bersalah menyeruak begitu saja tanpa diminta.

"Dengar, Eren.. Ayah harus mempersiapkan diri untuk melawan musuh ayah. Musuh umat manusia. Awal pertentangan raksasa dengan manusia."

"Aku juga melakukan itu, ayah! Tapi apa yang dihasilkan ayah selama ini? Kurasa tidak ada."

"Bukan seperti itu. Ayah sudah memutuskan untuk membantumu dalam kesatuan militer. Tapi ingat satu pesan dariku, jangan terlalu percaya pada komandan Irvine. Dia bukan dirinya yang sebenarnya."

Eren membelalakkan matanya. Seolah berbicara "apa maksudmu?" dengan tersirat.

"Apa maksud... ayah?"

"Awasi saja gerak-geriknya. Ayah harus pergi sekarang, rapat dengan komandan Pixis."

Grisha berdiri dan mengusap pucuk kepala Eren dengan lembut, terseyum hangat lalu berjalan menuju pintu. Langkahnya terhenti saat satu pertanyaan terlontar dari mulut sang anak.

"Kenapa.. sampai komandan Irvine juga? Kenapa ayah.. bisa menuduhnya seperti itu?"

Sebuah senyuman kembali terlihat.

"Seperti yang kau tahu dari banyak orang, karena dunia ini kejam."

Lagi. Jawaban itu lagi yang didapatnya dari pertanyaan yang serupa pula. Yang ia lihat setelahnya adalah pintu yang tertutup. Menandakan bahwa dirinya sendiri lagi didalam ruangan itu. Hanya sendiri.

.

.

.

Prajurit terkuat umat manusia itu 'hampir' mati. Nyaris diujung maut saat darah dari lukanya terus keluar tak henti. Untung saja orang yang menangani Levi adalah dokter Grisha, orang profesional dalan bidang kedokteran.

Kekuatan pasukan pengintai akan berkurang jika dia benar-benar mati kan. Jadi disinilah dia sekarang, terbaring tak berdaya diatas tempat tidur ruang perawatan. Ini sudah dua hari dari kejadian itu, tapi si pria raven belum diperbolehkan untuk pergi dari ruangan ini.

Untuk pertama kalinya pagi ini Irvine datang menjenguk. Tidak membawa apa-apa, hanya membawa segudang kekesalan bagi Levi. Topeng kemanusiaan untuk apa datang menemuinya?

"Tch, sebuah kehormatan bagiku dijenguk oleh komandan pasukan pengintai, orang yang juga bertanggung jawab tentang lukaku ini."

Irvine hanya tersenyum menanggapi sambutan kedatangannya. Tidak terlalu tersinggung karena memang itu yang terjadi.

"Untuk apa kau datang kemari?"

"Kau jadi banyak bicara ya."

"Kau bercanda? Aku memang orang yang suka berbicara dari dulu."

Tawa garing terdengar. Hanya untuk basa-basi ringan saja sebenarnya, agar pembicaraannya tidak terasa terlalu berat didengar.

Mimik seriuspun muncul tak lama kemudian.

"Levi, maafkan aku soal kejadian 2 hari lalu. Tapi dengarkan aku, kita harus mencurigai Grisha-sensei sebagai musuh kita yang sebenarnya."

Levi menatap heran. Dia sudah diberitahu bahwa Grisha datang dan bergabung dengan militer seperti anaknya, tapi ia baru dengar jika pria berstatus dokter itu patut dicurigai. Entah ini omong kosong atau apa.

"Kenapa beranggapan seperti itu?"

Irvine menjatuhkan pandangan pada segelas air yang berada di meja nakas. Memperhatikamnya dengan asal namun tetap seksama.

"Grisha-sensei kembali ke kawasan ini bersamaan dengan kepulangan kita dari ekspedisi luar dinding kemarin. Ada kemungkinan dia orang yang membawa sobekan buku yang ada di gudang dalam hutan raksasa yang kita temukan, juga orang yang menyimpan cairan untuk berubah menjadi raksasa. Tidak mungkin semua itu dilakukan tanpa maksud tertentu kan?"

"Kenapa kau sangat yakin?"

"Karena dia datang seperti raksasa lapis baja, tiba-tiba dan didapatkan dengan mudah."

Levi mengerutkan alisnya. Tidak terlalu yakin akaan perkataan sang komandan. Dia tidak bisa terlalu mempercayainya setelah apa yang ia perbuat. Dia bukan anjing yang selalu patuh pada tuannya setiap saat, bukan anak burung yang selalu dikekang dalam sarang oleh induknya.

"Siapa bilang aku akan langsung percaya?"

Seringai dikeluarkan Irvine, berbarengan dengan dikeluarkannya suntikan berisi cairan berwarna biru bening.

"Jika kau tidak percaya, aku akan membuatmu percaya. Selalu percaya dan patuh padaku."

Dengan cepat suntikan itu ditancapkan pada tangan kiri Levi. Levi langsung meringis saat cairan didalam suntikan memasuki tubuhnya. Dan kinerja otaknya terasa berantakan setelah itu. Ada yang mengganggu pikirannya. Ia merasa sadar dan tidak secara bersamaan. Tubuh dan perkataannya seolah telah diatur, secara paksa.

"Kau percaya padaku kan? Musuh kita Grisha-sensei."

"Ya, komandan."

Levi sudah terikat pada skenario Irvine. Pihak mana yang akan menang? Perang dalam satu kesatuan akan segera dimulai.

.

.

-TBC-

.

.

Konflik semakin panas nih

Dalang dibalik misteri raksasa juga belum terbongkar

Levi dikendalikan

Perang topeng kerjasama antara Grisha dan Irvine

Semakin penasaran kah?

Jika iya, BAGUS! Buahaahaahaa

Ini udah agak panjang dari biasanya kan? Atau kerasa ga panjang-panjang amat?

Aduh gomenne kalau sama sekali tidak memuaskan

Arigatou sudah membaca sejauh ini~

Tunggu chapter selanjutnya yaaa

Ja ne ^^

-Author Shigeyuki-