New Fate

.

Shingeki no Kyojin disclaimer by Isayama Hajime-san

New Fate disclaimer by Author Shigeyuki

Cerita gila di kehidupan gila,

Musuh yang sama, dengan jalan yang berbeda

Beuuuh

Kata-katanya mantab -,-b

.

Fuih... akhirnya author kembali yaa ~ setelah sekian lama readers menunggu untuk kedatangan author (ko kaya lirik lagu ya? ._.)

Beribu gomen author sebar buat readers, karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan cerita, jadi author vakum cleaner.. eh maksudnya vakum, vakum aja ga pake cleaner, nanti abang levi naksir author dong gara-gara ada vakum cleaner (baaaah :G)

Yu langsung ke cerita aja kalo beg-beg-begitu

RnR please

Dont like dont read

Author bikin ini buat yang suka aja hahaha

.

.

Chapter 7 begin

Hari baru setelah hancurnya dinding Rose dan penyerangan raksasa lapis baja. Eren sudah pulih dan bisa kembali dalam penelitiannya bersama Hange. Hanya bersama Hange. Karena hanya wanita nyentrik itu yang bisa ia percayai saat ini. Begitu pula Hange, hanya bisa mengandalkan Eren.

Eren belum berbicara lagi dengan ayahnya, Grisha Jaeger, sejak pertama kali mereka bertemu lagi. Atau lebih tepatnya, Eren menghindari Grisha. Bahkan Eren sama sekali tidak membalas senyuman yang sengaja Grisha tujukan padanya. Dia masih teramat marah pada orang yang seharusnya disebut ayah itu.

Hal yang sama dilakukan Hange pada Irvine, dan sekarang bertambah pada Levi juga. Bukanlah tanpa alasan. Semua itu berasal dari sebuah kejadian 2 hari lalu, dimana Hange ingin membagi kegundahan hatinya tentang sang komandan pada Levi. Tapi berakhir begitu saja dengan balasan Levi yang sangat ganjil.

"Tidak ada hal mencurigakan yang komandan lakukan. Kau pasti keliru. Aku mempercayai komandan melebihi apapun." balas Levi saat itu.

Satu hal yang membuat Hange begitu memikirkan hal ini. Selama ia mengenal Levi, ia tidak pernah mendengar pria pendek itu memanggil 'komandan' pada Irvine, meskipun didepan petinggi lain. Sebanyak apapun Levi menghormati Irvine, hubungan mereka berdua tidak terlihat seperti atasan dan bawahan. Levi pasti akan langsung mendecih sebal jika ia dipaksa memanggil sang komandan seperti semestinya seorang bawahan memanggil atasannya.

Sejak hari itu Hange tidak bicara lagi dengan Levi. Ia merasa dirinya sendirilah yang tetap sama seperti dulu. Dirinya tidak berubah seperti kedua rekannya. Atau hal paling buruk yang pernah Hange pikirkan adalah bahwa Irvine dan Levi sedang dikendalikan, oleh seseorang yang memiliki sebuah tujuan tersendiri. Musuh sesungguhnya. Meskipun mustahil, Hange sangat percaya akan adanya cuci otak, para psikopat, serum hilang ingatan, dan berbagai hal lain lagi yang bisa membuat seseorang kehilangan dirinya yang dulu. Ya seperti yang dialami Irvine dan Levi.

Saat ini kedua peneliti yang tengah menjauh dari orang yang disayangi masing-masing sedang berada dalam satu meja diskusi. Sebenarnya ini ruang pribadi Hange, mereka tidak akan bisa menggunakan ruangan rapat yang biasa karena akan langsung diawasi oleh sang komandan. Ya kedua orang ini sudah saling bercerita tentang orang yang mereka hindari saat ini. Dan keduanya saling mengerti karena merasa dalam kondisi yang sama. Keduanya hanya bisa menghela napas dan saling tersenyum getir. Siapa yang harus mereka percayai sesungguhnya?

"Baiklah Eren, bagaimana kalau kita mulai tentang Reiner Braun?" Usul Hange yang mulai menata kertas-kertas bertuliskan laporan hasil introgasinya dengan Reiner Braun, si raksasa lapis baja.

Eren mengangguk tanda setuju. Hange yang melihat respon tersebut langsung mengalihkan pandangannya pada laporan di tangannya.

"Reiner Braun adalah kadet baru yang seangkatan dengan Annie, kurasa kau sudah tahu tentang itu. Setelah mendesaknya, akhirnya dia mengatakan beberapa hal, meskipun tidak semua ia katakan."

Eren menenggak ludahnya sendiri. Bersiap dengan hasil kesaksian musuh mereka selama ini.

"Dia bilang, semua ini ia lakukan untuk balas dendam. Dan ia tidak sendiri, masih ada musuh kita yang akan menyerang. Entah itu dalam wujud raksasa maupun menjatuhkan kita dari dalam. Dan dari kesaksian yang barusan, aku rasa salah satunya adalah Irvine. Dia menjatuhkan dari dalam pasukan, memecah belahnya."

"Apa menurut anda, Grisha juga begitu?"

Wanita berkaca mata itu berpikir sejenak.

"Aku belum tahu. Mungkin semuanya akan jelas sebentar lagi, mungkin."

"Bagaimana dengan Annie?"

Hange sedikit tersentak. Bagaimana bisa Eren mulai meragukan orang yang ia pilih sendiri sebagai rekan.

"Kenapa berpikir seperti itu?"

"Ah? Tidak, hanya saja.. aku rasa Annie memiliki hubungan baik dengan Reiner. Aku melihat Reiner melambaikan tangannya sambil tersenyum saat Annie aku pilih waktu itu. Awalnya aku tidak memikirkannya, tapi setelah hari penyerangan itu.. tak ada salahnya jika aku mulai meragukan Annie."

"Tapi.. bukankah Reiner menyerang Annie saat menjadi raksasa?"

"Anda benar. Tapi apa terpikir oleh anda jika saja Reiner sengaja membuat dirinya tertangkap dan mengatakan apa yang telah anda tanyakan padanya? Atau seseorang menyuruhnya untuk melakukan penyerangan itu agar privasi seseorang terlindungi."

Hange membulatkan matanya. Baru pertama kali ia menemukan orang dengan pemikiran seekstrem Eren. Apa yang dikatakan bocah emerald itu memang mungkin saja terjadi. Dan sejauh ini, apa yang Eren pikirkan memang selalu nyata terjadi. Apa ini sebuah anugerah bagi Eren? Entahlah. Hanya anak itu yang tahu.

"Luar biasa.. kau bisa berpikir sejauh itu. Tidak salah jika kau memang anak Grisha-sensei." Ucap Hange tanpa berpikir. Namun setelahnya ia menutup mulutnya sendiri, merasa bersalah karena telah membawa-bawa nama Grisha dalam pembicaraan mereka.

"Tak apa Hange-san, aku memang anaknya kan. Itu sudah takdirku." balas Eren yang menyadari rasa bersalah yang Hange tunjukan padanya.

"Ah, aku jadi ingat sesuatu yang mungkin berhubungan dengan penyerangan dari dalam yang anda katakan tadi." Eren langsung mengalihkan pembicaraan agar kecanggungan segera menghilang.

"Apa itu?"

"Saat Grisha menemuiku setelah hari penyerangan itu, dia bilang aku harus berhati-hati pada komandan Irvine. Aku rasa.. mungkin ada hubungannya dengan keanehan beliau yang anda katakan."

Lagi-lagi Hange tersentak. Mata coklat itu mengkilat seketika. Bisa terlihat keringat dingin mulai mengucur dengan cepat dipelipisnya.

Saat itu tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu dari luar. Otomatis keduanya berhenti melakukan apa yang mereka bicarakan. Berkas-berkas yang berserakan di meja pun segera dirapikan kembali sebelum Eren membuka pintu untuk melihat siapa yang telah mengganggu rapat mereka. Dan ternyata orang itu adalah Grisha, ya Grisha Jaeger.

Kening Eren langsung berkerut seketika melihat kedatangan ayahnya.

"Ada perlu apa?"

"Eren? Kenapa kau ada disini? Aku ingin membicarakan sesuatu dengan Hange. Bawahannya bilang aku bisa menemuinya di ruangan pribadi Hange. Jadi.."

"Silahkan masuk Grisha-sensei." Sahut Hange yang masih duduk didalam.

Seketika Eren langsung mendelik pada Hange, sepertinya mereka memang sudah akrab dilihat dari beraninya Eren mendelik pada rekan penelitinya itu.

Eren tak bisa melakukan apapun. Lagipula ini ruangan pribadi Hange, jadi merupakan hak sang pemilik membiarkan siapa yang boleh masuk. Akhirnya Eren kembali ke tempat duduknya. Grisha mengikuti dan duduk disamping putranya. Terlihat harmonis dan tidak dalam waktu yang bersamaan.

"Jadi, apa yang ingin anda bicarakan Grisha-sensei?" Tanya Hange.

Grisha tampak mempersiapkan apa yang akan ia katakan, mengumpulkan segenap tekad yang ia kumpulkan sebelum ia memutuskan bekerja sama dengan militer. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas yang ia bawa. Beberapa lembar sobekan kertas dan sebuah tabung bening berisikan cairan berwarna hijau cemerlang. Cairan yang terlihat sangat familiar bagi Eren.

"Aku akan mengatakan semua yang aku tahu."

Ditatanya sobekan-sobekan kertas itu diatas meja, dengan urutan yang seharusnya. Kemudian ditatapnyalah mata sang anak yang terlihat penuh tanya dan ambisi yang meluap. Grisha menyukai cara mata itu mengilat menatapnya.

"Eren, akulah raksasa yang bertemu denganmu saat ekspedisi waktu itu."

Waktu seolah berhenti. Ah bukan, bukan berhenti. Lebih tepatnya terasa lebih lama dan mencekam. Denting jam terdengar menggema diruangan itu. Udara terasa menipis saat perkataan selanjutnya terdengar dengan lancar tanpa keraguan.

"Akulah orang yang telah menyobek lembaran-lembaran penting pada buku yang kalian temukan di gubuk itu. Aku juga yang menyimpan cairan aneh yang membuatmu bisa berubah menjadi raksasa."

Masih tidak ada reaksi ucapan dari Eren dan Hange. Mereka berdua masih menunggu Grisha mengatakan selebihnya.

"Akulah yang bertanggung jawab atas segala masalah tentang raksasa."

Saat perkataan itu terlontar, Eren langsung berdiri dari duduknya. Menatap Grisha dengan amarah yang meluap.

"Apa.. maksudmu?" Tanya Eren dengan emosi yang tertahan dikepalanya.

"Ini semua terjadi sejak aku mengenal Albert Leonhart, teman lamaku."

.

Grisha masih berumur sangat muda. 20 tahun ia sudah berhasil menemukan berbagai penemuan, salah satunya adalah serum yang bisa mengakhiri penjajahan raksasa. Ya, Grisha sudah tahu bahwa raksasa itu berasal dari ketiadaan. Entah siapa yang menciptakannya pertama kali, namun Grisha yakin bahwa seseorang yang menciptakan raksasa memang ingin menghancurkan keberadaan manusia di muka bumi, dengan cara yang kejam.

Saat menemukan serum itu, Grisha ditemani oleh teman seumurannya. Nama rekannya itu adalah Albert Leonhart, pria bermata biru yang sudah ia kenal sejak kecil. Hubungan mereka berdua sudah seperti saudara, meskipun Grisha selalu unggul dalam berbagai hal, Albert selalu setia sebagai sahabat karibnya. Sampai sebuah masalah memaksa keadaan untuk berubah.

Albert jatuh cinta pada orang yang menjadi kekasih Grisha saat itu, Carla. Albert tidak mengatakannya pada Grisha, ia hanya bungkam dan diam-diam memandangi Carla saat wanita itu sengaja mengunjungi Grisha ditempat penelitian. Albert hanya menunggu sampai mereka berpisah nanti.

Sampai suatu hari hal yang tidak diinginkan terjadi.

"Albert, aku akan menikah dengan Carla. aku sudah melamarnya dan dia setuju."

Saat mendengar pernyataan itu, Albert hanya bisa mengepalkan kedua tangannya, menahan emosi. Dalam hati ia ingin memukul orang dihadapannya, untuk segala kekesalan yang ia pupuk selama ini, untuk selalu berada diatasnya, untuk memiliki apa yang ingin ia miliki, untuk senyuman ramah yang membuatnya muak.

"Grisha, aku membencimu."

Hanya satu kata itu yang berhasil dilontarkan oleh Albert karena setelahnya ia langsung menghilang dari hadapan Grisha. Tanpa mengucapkan selamat atau apapun lagi. Itu terakhir kalinya Grisha bertemu Albert.

Pernikahan tetap ia lakukan. Dan penyempurnaan serum yang ia ciptakan juga terus dilakukan, sendiri. Tapi saat ia akan memulai, ia menyadari satu hal. Bahwa serum itu sudah tidak ada lagi di tempatnya. Serum itu hilang.

Grisha menyimpannya dengan aman tentu saja. Ia menyimpan didalam sebuah kotak dengan kode yang hanya dirinya dan Albert yang tahu. Setelah mengingat berbagai hal, akhirnya Grisha mengambil kesimpulan bahwa Albert yang mengambilnya. Keheningan malam itu hanya bisa Grisha nikmati dengan keheningan yang lain. Grisha mulai merasa bersalah. Albert membencinya karena ia melakukan apa yang membuat Albert muak, meskipun Grisha tidak tahu sebanyak apa yang ia lakukan sampai membuat Albert membawa serum yang sangat menentukan nasib umat manusia.

,

Dilain tempat Albert tengah duduk di kediaman barunya. Pandangannya kosong sambil memegang tabung tertutup berisi serum yang ia curi. Rasa muak yang menyelimuti dirinya saat ini hanya membuatnya semakin berpikir tentang apa yang akan ia lakukan.

"Grisha.. aku setia padamu. Tapi kau tidak pernah memikirkan bagaimana perasaanku saat dilampaui begitu banyak. Sekarang aku mengerti.. kenapa orang yang membuat raksasa sangat ingin menghancurkan manusia, karena manusia selalu egois. Kau mungkin tidak tahu bahwa aku.. adalah keturunan asli orang yang membuat raksasa. Keluarga Leonhart. Aku diam selama ini karena awalnya aku ingin menghentikan penderitaan manusia, tapi sekarang.."

Sebuah seringai terlihat, disusul dengan suara tawa yang arogan.

"Aku akan menghancurkan apa yang selama ini kau perjuangkan, Grisha. Aku.. dengan tanganku sendiri akan membuat penderitaan umat manusia terus berlanjut, dan membuatmu tidak bisa melakukan apa-apa sampai mati. Aku akan menghancurkan perjuanganmu, merenggut kebahagiaanmu, bahkan Carla.. aku tidak akan segan membunuhnya untuk membuatmu menderita."

Pria itu kini penuh ambisi. Ambisi untuk terus melanjutkan apa yang diperbuat leluhurnya dulu. Perasaan untuk balas dendam telah membuatnya tak lagi melihat cahaya.

.

.

Tahun-tahun berlalu. Karena hilangnya serum yang ia buat dengan susah payah, Grisha masih belum bisa membuat kembali serum itu. Bahan yang langka membuatnya terus terhambat dalam pembuatan. Sampai anaknya tumbuh besar, serangan raksasa yang membuatnya terpisah dari anak dan istrinya, terlupakan dan tidak tahu keberadaan sang anak dimana.

Grisha memiliki ide baru selagi mencari bahan langka yang ia butuhkan. Ia membuat dirinya sendiri mampu berubah menjadi raksasa. Meski beberapa kali mengalami kegagalan, Grisha akhirnya berhasil menjelma menjadi raksasa berbulu yang bisa berbicara.

Setelah ia tahu bahwa anaknya bekerja sama dengan militer untuk tujuan yang sama dengannya, Grisha bergegas mengikuti perkembangannya. Pergi lebih awal keluar dinding dan mengambil beberapa berkas yang sangat rahasia dari ruang rahasia miliknya. Bukan karena ia tidak ingin Eren menemukannya, namun ia khawatir bahwa dalam pasukan ada musuh yang bersembunyi. Kaki-tangan Albert, yang sudah sangat lama tidak ia temui.

Grisha sengaja menyimpan cairan yang bisa membuat manusia berubah menjadi raksasa di ruangan itu agar Eren menemukannya, dan bisa mempelajarinya. Grisha memang tidak memiliki rencana untuk ikut bergabung dengan militer seperti anaknya sampai ia bertemu dengan Irvine. Ia tahu banyak tentang komandan pasukan pengintai yang terkenal berwibawa itu, tapi ia merasa ganjil dengan seringai kejam yang tidak sengaja ia lihat saat melintas disekitar markas pasukan pengintai. Seringai itu sangatlah ia kenal. Namun Grisha enggan untuk mengakui pemikiran gilanya tentang hal ini. Akhirnya ia memutuskan untuk ikut bergabung, ia harus melindungi anaknya dari Irvine, yang ia yakini memiliki banyak andil dari semua kejadian penyerangan raksasa di dinding Rose. Grisha teramat yakin.

.

.

.

Eren sama sekali tidak berkedip mendengarkan cerita panjang yang ia dengar dari ayahnya, begitu pula dengan Hange. Keduanya masih larut dalam pemikiran masing-masing. Antara percaya dan tidak dengan apa yang mereka dengar barusan. Tapi tanpa disangka Eren langsung mengerutkan dahinya, dengan tidak sopan menggebrak meja dan memandang sang ayah dengan tatapan tajam.

"Kenapa aku harus percaya? Kau sudah menghilang begitu lama dan tiba-tiba muncul menceritakan segala hal yang tidak berdasar itu!"

Hening. Grisha hanya menatap balik Eren yang tengah menatapnya penuh amarah. Pria paruh baya itu memejamkan matanya sesaat, menghela napas sebelum akhirnya kembali berbicara.

"Aku sudah mengatakan apa yang terjadi sebenarnya, tinggal bagaimana kau menanggapinya. Aku tidak bisa memaksamu percaya padaku kan, Eren?"

Kerutan didahi Eren semakin mendalam. Bukan ini yang ingin ia dengarkan.

"Dan Hange-san, aku harap kau bisa membantuku mencari bunga kehidupan, bahan terakhir yang aku butuhkan untuk mengakhiri penderitaan ini."

"A-aa baik."

Grisha merapikan kembali lembaran-lembaran kertas dihadapannya, menjadi satu tumpukan. Kemudian dengan sopan ia memberikannya pada Hange, mempercayai wanita itu untuk menyimpan berkas penting miliknya.

"Aku tidak tahu keberadaan Albert saat ini, tapi aku mempercayai anda untuk menyimpan semuanya. Hanya anda yang tidak dikendalikan saat ini. Tindakan yang tepat menjauhi komandan Irvine, orang yang paling jelas mengalami perubahan. Setelah kita mendapatkan bunga kehidupan itu, aku menjanjikan kebebasan umat manusia."

Grisha membawa tas serta jas putihnya, membungkuk kemudian menghilang dibalik pintu, menyisakan keheningan antara Eren dan Hange. Sangat terlihat jelas adanya perang batin pada Eren, antara harus mempercayai Grisha atau tidak. Terpuruklah sudah.

"Eren.." panggil Hange pada Eren yang masih asyik sendiri dengan pikirannya.

"Aku rasa kau harus mulai mempercayainya. Kau tahu itu."

Bunga kehidupan. Bunga berwarna merah darah yang dipercayai hanya sebagai mitos selama ini. Bunga yang hanya hidup ditempat tertentu yang tak banyak orang mengetahuinya. Bunga dengan kegunaan menakjubkan yang sama sekali tidak diketahui orang-orang. Begitu yang tertulis dikebanyakan buku. Tak ada informasi lain yang istimewa. Kebanyakan menyatakan bahwa bunga itu tidak pernah ada dan hanya merupakan khayalan para pendeta. Tak banyak orang yang menganggap bunga itu benar-benar ada. Salah satunya adalah Grisha.

Bunga itu menurutnya adalah salah satu bahan utama membuat serum pemusnah para raksasa. Bukanlah tanpa alasan yang jelas, namun dulu sekali, Grisha pernah ditunjukan sebuah buku oleh kakeknya yang menyatakan awal keberadaan raksasa. Dari sana Grisha tahu bahwa kakeknya adalah salah satu orang yang menyadari asal mula raksasa dari ketiadaan. Buku itu sangat rahasia. Ditulis sendiri oleh sang kakek sebagai bukti pengalamannya. Namun buku itu langsung dibakar sesaat setelah Grisha dipersilahkan membacanya. Kakeknya sangat mempercayai Grisha akan menyelamatkan keberadaban umat manusia. Tidak seperti orang-orang diluar sana yang menyerah sebelum tahu asal muasal musuh mereka. Itulah sebabnya Grisha menghapal setiap komposisi yang ia dapat dari buku itu untuk memusnahkan musuhnya.

Bahan-bahan yang lain tidak aneh, hanya satu yang membuatnya teramat sulit untuk dibuat. Ya bunga kehidupan itu. Bunga yang disebut sebagai bunga yang tumbuh setiap sepuluh tahun sekali.

Bunga itu hanya bisa dipetik saat malam hari, itu yang dikatakan sang kakek. Jika dipetik saat siang, bunga itu akan melebur seperti pasir dan hanya menyisakan ketiadaan. Bunga yang sangat misterius.

Grisha tahu mendapatkan bunga itu bukanlah hal yang mudah. Dulu saja, ia menemukan bunga itu diatas mayat prajurit yang sudah membusuk dimakan waktu. Bukankah lebih pantas jika bunga itu disebut bunga kematian daripada bunga kehidupan? Sekarang ia tidak tahu akan menemukan bunga kehidupan itu dimana. Tantangan yang cukup sulit karena berhadiahkan kemenangan umat manusia akan raksasa.

Grisha saja tidak tahu dimana ia bisa menemukan bunga kehidupan, apalagi Hange, yang baru mempercayai keberadaan bunga itu. Ya tadinya ia adalah salah satu dari banyaknya orang yang tidak mempercayai adanya bunga kehidupan, itu hanya tahayul baginya, dulu, sekarang ia yang tidak percaya akan berusaha mencari sesuatu yang menurutnya tahayul itu. Dari setiap penjelasan yang Grisha berikan tadi sore padanya, Hange mulai menyusun berbagai rencana pencarian bunga yang melibatkan anak buahnya, dan mungkin beberapa kadet baru yang ia percayai. Tanpa memberitahu Irvine tentunya. Bunuh diri jika ia memberitahu komandannya itu.

Saat dirinya sibuk menuliskan beribu rencana ditemani lampu minyak yang membuat ruangannya terlihat temaram, seseorang mengetuk pintu. Tanpa keraguan dan memikirkan siapa yang berada dibalik pintu, Hange langsung memersilahkannya masuk.

Barulah wanita itu menyesal setelah melihat sosok dihadapannya saat ini. Itu Levi.

Perasaan malas berbicara mulai muncul dipermukaan dahi Hange. Tiba-tiba ia ingin sekali mengulang kejadian barusan dan berpura-pura tidak berada didalam ruangan ini.

"Ini aku." ucap Levi, datar.

Tentu saja Hange mengangguk dengan malas. Meskipun lampu diruangannya temaram, tapi ia bisa melihat dengan jelas dan tidak cukup bodoh untuk tidak tahu orang dihadapannya ini siapa.

"Maksudku, ini aku, yang biasa, sebelum Irvine menyuntikan sesuatu padaku."

Barulah Hange tersentak dan mulai tertarik dengan apa yang Levi katakan. Mungkin sisi yang lain dari pria itu telah nampak, sisinya yang biasa.

"Menyuntikan sesuatu?" Hange mengulang perkataan yang menjadi kata kunci ketertarikannya.

"Aa. Dia menyuntikan sesuatu padaku sebelum aku benar-benar sembuh dari luka yang aku dapat saat penyerangan itu. Setelah disuntik oleh cairan aneh itu, tindakan dan ucapanku sangat bertolak belakang dengan pikiranku. Aku merasa sadar dan tidak dalam waktu yang bersamaan. Aku tahu sesuatu yang disuntikannya itu adalah sesuatu yang membuat aku terlihat menurut padanya dalam berbagai kasus."

Tanpa berhenti mendengarkan dengan seksama, Hange mempersilahkan Levi untuk duduk disalah satu kursi.

"Aku bisa sadar dan tidak. Setelah diselidiki selama beberapa hari, efek suntikan itu akan hilang selama 2 jam sehari. Jadi untuk pertama kalinya aku akan memohon padamu. Aku tahu kau seorang ilmuan, jadi aku memintamu membuat obat penawar dari cairan aneh itu. Agar aku bisa menyelidiki Irvine lebih jauh tanpa kecurigaan darinya."

"Ide bagus. Mungkin aku juga akan meminta bantuan pada Grisha-sensei, dia lebih tahu tentang hal seperti ini."

"Tunggu, aku ingat bahwa Irvine menyuruhku untuk menganggap Grisha sebagai musuh. Apa itu ada hubungannya dengan semua ini?"

"Ya. Sangat berhubungan."

Dapat terlihat sebuah kilatan di mata Levi. Perasaannya sedang kacau, seperti pikirannya. Ia tidak tahu kapan dirinya akan sadar dan tidak. Ia tidak tahu waktu tepatnya ia akan menjadi boneka mainan Irvine. Ia hanya bisa menghitung selama 2 jam jika ia mendapatkan kesadarannya. 2 jam yang singkat untuk menyelidiki apa yang sebenarnya Irvine lakukan. Apa tujuan pria itu. Hadiah apa yang ia nanti sampai melakukan hal sejauh ini.

"Aku tidak tahu akan berada dalam kondisi ini sampai kapan." tiba-tiba Levi kembali bersuara.

"Tenang saja, aku akan segera membuat penawarnya. Dengan begitu penyelidikan kita bisa terus dilakukan padanya."

"Aa.. aku harap kau memegang perkataanmu, Hange."

"Tentu saja." Balas Hange dengan acungan jempol yang terlihat menjanjikan.

"Ah kemarin, aku mendapat hal yang semakin ganjil dari Irvine."

"Apa itu?"

"Seingatku dia tidak suka minum teh, tapi sepanjang hari dia selalu meluangkan waktu untuk minum teh walaupun dia sedang sibuk. Itu aku sadari saat 2 jam berhargaku itu. Dan dia.. lebih sering menyeringai."

"Mungkin dia memikirkan rencana jahatnya."

Levi bangkit berdiri. Bermaksud untuk menyudahi kunjungannya.

"Aku akan pergi sekarang, agar Irvine tidak curiga dengan 2 jam waktu luangku ini."

Hange mengangguk mengerti. Matanya memandang punggung Levi yang mulai berjalan. Suara pintu dibuka terdengar, tapi Levi tak kunjung melangkah keluar, pria itu menoleh dengan wajah seriusnya pada Hange. Dan mengatakan hal terakhir percakapannya dengan Hange hari ini.

"Kurasa Irvine yang kita hadapi saat ini adalah yang palsu. Firasatku mengatakan Irvine yang asli sedang disekap di suatu tempat rahasia."

.

Eren tak henti memandangi cahaya jingga yang berkumpul dalam satu objek bernama matahari diujung barat. Ia baru saja menyelesaikan penyelidikan terhadap lembaran yang diberikan Grisha pada Hange. Mata emerald itu tampak bosan namun tetap antusias melihat bagaimana cahaya itu akan segera menghilang diiringi tenggelamnya sumber cahaya.

Jujur saja, saat ini Eren enggan memikirkan apapun. Ia merasa lelah. Memikirkan hal yang sama setiap hari dan tak kunjung menemukan jalan keluar. Disaat ia hampir menemukannya, selalu ada hal tambahan yang membuatnya semakin bingung, dan akhirnya kembali memiliki jarak dengan hasil akhir.

Raksasa berasal dari makhluk hidup yang telah mati. Entah itu manusia, hewan, maupun tumbuhan. Itu yang tertulis di lembaran yang ia baca beberapa jam lalu. Tidak semua mamusia, hewan dan tumbuhan bisa berubah menjadi raksasa. Hanya makhluk hidup yang mati dan masih berada dipermukaan tanah. Teramat mustahil memang, tapi cukup masuk akal jika melihat bagaimana takdir manusia yang membelenggu saat ini, takdir yang terdengar mustahil.

Dulu sekali, seseorang menciptakan musuh umat manusia yang masih ada sampai detik ini. Entah bagaimana orang itu menanamkan zat yang bisa menimbulkan perubahan raksasa, yang jelas, semua saksi mata telah lenyap dan mungkin menjadi salah satu raksasa yang berkeliaran diluar dinding.

Satu-satunya cara untuk melenyapkan raksasa adalah dengan memasukan serum pada salah satu raksasa, dengan begitu mereka akan musnah, bersamaan. Seperti sebuah sihir memang. Tapi itu yang ditulis dari buku ayahnya. Ya ayahnya.

Kini Eren tidak tahu harus memulai dari mana. Mulai dari mencari bunga kehidupan secara diam-diam? Memaafkan ayahnya? Mengungkap kedok Irvine? Atau memikirkan cara lain jika serum dengan bunga kehidupan itu tidak berfungsi seperti yang diharapkan? Eren hanya bisa merutuk dalam hati. Ia benar-benar membutuhkan ketenangan, untuk sesaat saja.

Ya ia tahu. Dengan menikmati matahari terbenam akan sedikit membuatnya tenang seketika, hanya sedikit. Ditambah dengan usapan lembut angin sore yang membuat helaian brunette miliknya diam-diam ia nikmati juga. Sampai ia tidak menyadari siapa yang tengah berdiri disampingnya saat ini, tersenyum penuh kasih sayang.

"Sudah lama sekali aku tidak melihatmu setenang ini, Eren." Ujar seseorang dengan helai brunette yang sama dengan Eren.

Awalnya Eren ingin menoleh setelah mendengar suara yang berhasil membuatnya sedikit kaget. Tapi nyatanya Eren tetap memandang jauh ke objek didepan sana. Orang yang sempat ia pikirkan beberapa detik lalu ternyata berada disampingnya sekarang. Sang ayah.

Sebuah tawa miris terdengar dari mulut Grisha yang juga memandangi objek yang sama seperti Eren.

"Ternyata kau masih marah."

Hening sesaat.

"Itu merupakan hal yang sulit bagiku." Eren bersuara.

"Apa itu?"

"Marah dan memaafkanmu. Keduanya sulit."

Grisha tak menanggapinya. Atau lebih tepatnya ia tidak tahu harus merespon apa dari pernyataan Eren. Grisha menyadari setiap kesalahannya, tapi tetap terasa sakit saat anaknya sendiri merasa sulit memaafkannya.

"Aku mencari banyak alasan untuk marah padamu. Dan payahnya semua alasan itu aku rasa tidak masuk akal bagiku. Alasan yang begitu kekanakan dan egois. Dan aku.. tidak tahu kenapa aku merasa sangat sulit untuk memaafkanmu."

".. souka..."

Eren kini menengadahkan kepalanya, memandangi awan senja yang berarak dengan menakjubkan.

"Tapi aku mempercayaimu." Ucap Eren yang masih menengadah.

Diam-diam Grisha tersenyum. Meski ia masih melihat jiwa kekanakan pada Eren, ternyata ada jiwa lain yang terlihat dengan jelas. Jiwa yang menunjukkan anaknya ini sudah dewasa dalam menghadapi masalah. Rasa bangga tiba-tiba meluap begitu saja. Grisha sasar bahwa dirinya tidak ikut andil dalam terbentuknya jiwa dewasa Eren, tapi tetap saja rasa bangga itu menyelimutinya saat ini.

"Dan aku tidak mungkin untuk tidak mengakui bahwa kau adalah ayahku. Aku harus.. memanggilmu ayah lagi seperti dulu. Begitu kan?" Eren menoleh.

Grisha tampak tersenyum. Tak ada yang bisa menyangkal kebahagiaan yang tersirat diwajahnya. Ini sudah lebih dari cukup, baginya.

"Apa sekarang aku boleh memelukmu, Eren?"

"Untuk formalitas? Tentu."

Akhirnya Grisha bisa merasakan kembali bagaimana memeluk putra yang jelas-jelas sangat ia rindukan ini. Meski pertemuan pertama mereka tidak sebaik yang dibayangkan, namun tak apa karena waktu akan membantunya membuat apa yang hilang darinya kembali. Mengembalikan senyuman polos yang tertutupi ambisi.

"Tadaima.. Eren."

"Mm, okaerinasai. Otô-san."

.

"Kalian mengerti?" Seru Hange tegas namun pelan pada beberapa orang yang ia percayai untuk misi rahasianya.

"Hai!" Balas mereka yang sudah mengerti dengan misi yang baru saja Hange jelaskan pada mereka.

Di ruangan bawah tanah markas pasukan pengintai ini terkumpul bawahan dan kadet baru yang Hange percayai. Diantaranya ; Nicolas Colton, Nanaba, Mike Zacarius, Jean Cristhein, Mikasa Ackerman, Connie Springer, Sasha Braus, Armin Arlent, Thomas, dan Mina Carolina. Selain itu disana juga telah hadir Eren beserta ayahnya, yang tentu saja akan ikut andil dalan misi ini, misi pencarian bunga kehidupan.

Hange memilih orang-orang itu dengan alasan yang sangat khusus. Melihat dari bagaimana cahaya mata dari mereka, seberapa besar tekad yang tertanam disana. Dan mereka lah orang-orang pilihannya, tanpa keraguan sedikitpun.

"Ano.. Kapten Hange, kenapa Annie tidak ikut dalam misi ini?" Tanya Jean yang merasa heran sendiri.

Mendengar pertanyaan itu, Hange langsung mengarahkan pandangannya pada Eren. Bermaksud untuk mempersilahlan bocah emerald itu menjawab. Dengan sigap Eren pun langsung menanggapi.

"Kemungkinan besar dia bekerja sama dengan musuh."

"Musuh?" Connie tampak penasaran.

"Annie adalah anak dari Albert Leonhart, musuh kita yang sesungguhnya." Grisha langsung menimpali.

Semuanya langsung diam. Mereka memang sudah mendapat penjelasan yang sangat detail sebelum mendapat penjelasan tentang misi. Sebesar itulah Hange, Eren dan Grisha memercayai prajurit tangguh dihadapan mereka ini.

"Apa.. kita akan menggunakan raksasa lagi untuk bertarung?" Kali ini Armin yang bertanya.

Grisha menghela napas. Dalam hati sangat menyayangkan kenyataan perubahan itu.

"Jika keadaannya mendesak, akan kita gunakan. Meski resikonya sangat besar."

Semuanya kembali terhening. Larut dalam pemikiran masing-masing lagi. Resiko perubahan manusia menjadi raksasa memang sangat besar. Efek samping penggunaan kekuatan itu akan membunuh pengguna yang memiliki tubuh rentan ataupun fisik yang lemah sedikit demi sedikit. Menghancurkan dari dalam. Seperti bom yang larut dalam jaringan tubuh. Mereka akan meledak dalam waktu yang berbeda sehingga menghancurkan jaringan sedikit demi sedikit. Kematian yang menyakitkan.

"Nah jadi, kita akan menjalankan misi ini didalam misi lain dan saat kita senggang. Yang menemukan bunga itu segera beritahu kami."

Anggukan mengerti terlihat.

Saat itu tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang terbentur berkali-kali pada papan kayu, seperti sebuah ketukan yang dipaksakan. Otomatis suara itu membuat semua orang memasang telinga mereka dengan seksama, menyangka-nyangka suara apa itu.

Hange memutuskan untuk memeriksanya sendiri. Ia membawa lampu minyak disudut ruangan untuk menerangi jalannya. Tidak mau membiarkan dirinya terjebak dalam rasa penasaran, Eren memutuskan untuk mengikuti Hange. Dan yang lain -yang sebenarnya tidak kalah penasaran- hanya bisa melihat kepergian mereka berdua, menunggu hasil.

Hange dan Eren menyusuri lorong berdebu itu perlahan. Semakin mereka mendekati sebuah pintu usang, semakin suara ketukan itu terdengar keras. Tak salah lagi, suara yang menginterupsi mereka memang berasal dari sesuatu dibalik pintu usang itu. Pintu yang Hange ketahui sebagai gudang senjata yang sudah tidak dipakai lagi selama bertahun-tahun.

Setelah Eren dan Hange berhenti didepan pintu itu, keduanya saling bertatapan, meyakinkan diri untuk segera membuka pintu.

Suara pintu terbuka terdengar. Dan kedua pasang iris berbeda warna itu langsung membelalak. Tidak percaya dengan objek yang berada dihadapan mereka saat ini, dalam keadaan terikat, mulut tersumpal, mata ditutup kain, dan yah.. keadaan itu jauh lebih sengsara daripada tahanan penjara. Jauh lebih sengsara. Keduanya yakin orang yang terikat itu masih dalam keadaan sadar meski mereka yakin juga keberadaannya disana bukanlah sehari dua hari, dilihat dari mulai tumbuhnya rambut-rambut kasar di sekitar mulutnya. Keduanya yakin benar, siapa orang dalam keadaan menyedihkan itu.

"Irvine?!"

Dan semuanya akan menuntut penjelasan yang setimpal. Setimpal dengan kenyataan aneh yang sangat mengerikan untuk diakui kenyataannya. Bahwa seorang Irvine Smith, komandan pasukan pengintai, mendapat tindakan tak mendasar ini. Apa yang terjadi sebenarnya, akan mereka ketahui setelah membongkar semuanya. Semua yang bahkan berada di dalam lubang terkecil sekalipun. Tidak akan diberi ampun. Tidak akan pernah.

.

.

-TBC-

.

Wohohooohoo

Author masih lanjutin ceritanya. Entah akan dipercepat tamat atau ngga, tapi ending ceritanya udah nemu ko. Dakara, matte kure ^^

summary chapter selanjutnya,

Irvine ternyata disekap! Lalu siapa Irvine yang mereka hadapi selama ini?

Hampir ke klimaks nih, hampir, hahaha

Tetep tunggu kelanjutannya yaaaa

Sekali lagi gooomeeeen karena keterlambatan author yang keterlaluan ini .

.

Ja, see you next chapter

With love

-Author Shigeyuki-