"Kumohon, temani aku disini…" bisik Naruto, napas pria itu menabrak pipi putih Hinata hingga gadis berambut hitam itu merasa geli. Tak hanya berhenti di situ saja, Naruto membawa tubuh mungil Hinata ke dalam dekapannya hingga posisi Hinata kini tertidur di atas kasur sambil dipeluk oleh Naruto yang tertidur lelap. Lagi dan lagi, Hinata mencoba melepaskan pelukan itu tapi tetap saja tidak bisa. Hinata merasa sesak karena hanya bisa menukar oksigen dengan bau keringat Naruto plus bau alkohol yang menyeruak ke indra penciumannya, dengan kesal Hinata merutuk dalam hati,
"Naruto, sebenarnya maksudmu apa sih?"
.
.
DEVIL AND THE BAD BOY
.
.
Cahaya mentari berusaha menerobos ruangan kotor itu melalui celah-celah jendela yang dipenuhi oleh debu. Agas yang menari-nari indah di awan-awang menambah kesan kotor pada sudut kamar, tapi sepasang muda-mudi yang (bukan) kekasih tampak nyaman mengikuti alur mimpinya tanpa memperdulikan sinar matahari yang telah berusaha membangunkan mereka atau agas yang tengah fokus menghinggap di kulit dan mulai bekerja agar dua insan itu dapat menghentikan mimpi mereka dan melanjutkannya dengan kehidupan nyata. Well, sepertinya usaha kedua ciptaan Tuhan itu tidak sia-sia. Terbukti dengan pergerakan kelopak mata Naruto yang mulai terangkat, dengan susah payah pemuda itu membuka matanya seakan-akan ada beban berat yang terletak tepat di atas kelopak matanya. Kesadaran lelaki itu belum sepenuhnya terisi, tapi tuntutan pendidikan memerintahkannya untuk bangun dan bergegas menuju kampus. Seketika Naruto melirik jam dinding yang entah mengapa tengah bertengger di samping pot lidah buaya.
'Masih jam tujuh pagi, sebentar lagi saja…' pikir Naruto dan mulai berniat menyambungkan mimpi indahnya tadi malam, sedetik kemudian Naruto tersentak dan bangun dari tidurnya dengan keadaan khawatir.
"Ya Tuhan, sebentar lagi dosen akan masuk!" pekik Naruto cemas, lelaki itu berusaha untuk beranjak dari kasur dan membersihkan diri sekenanya. Tapi apa mau dikata, tubuh Naruto tertahan seakan-akan dirinya tengah dipegang oleh seseorang. Merasa aneh, Naruto menyibakkan selimutnya dan membuangnya secara asal, betapa terkejutnya Naruto saat melihat seorang gadis tengah tertidur pulas di sampingnya dan kini memeluk pinggangnya seakan-akan ia adalah bantal guling empuk.
"AAAAAGGHH!" teriak Naruto lalu mendorong tubuh kurus gadis itu hingga sang gadis tersungkur di atas tumpukan buku. Spontan Hinata terbangun dan memegang punggungnya yang berinteraksi langsung dengan sudut buku ensiklopedia.
"Agh, ittai…" ringis Hinata pelan, tangannya masih sibuk mengelus bagian punggung yang terasa sakit, sedangkan Naruto terlihat sangat shock dan detak jantungnya yang tak beraturan. Deru napasnya bertempo lebih cepat dengan tangan gemetar.
"Si… siapa kau? Ke… kena… kenapa kau di… disini? Kena… kenapa kau ti… tidur di kasurku?" ucap Naruto terbata-bata, napasnya tersengal-sengal seperti telah melakukan lari sprint tingkat kelurahan.
Mendengar suara itu Hinata menghentikan kegiatannya (mengelus-elus punggung yang mungkin terdapat lecet disana) dan menatap Naruto dengan geram. Iblis cantik itu langsung berdiri lalu memandang Naruto lekat-lekat.
"Seharusnya aku yang bertanya kepadamu, kenapa kau menarikku ke kasurmu hah? Apakah kau tak tahu, jika kasurmu itu sempit? Bahkan aku tak mendapatkan signal mimpi tadi malam karena tidur di kasur minimalis mu itu." jawab Hinata kasar, mendengar jawaban itu Naruto naik pitam. Apa-apaan gadis ini? Kenapa ia malah menyalahkan Naruto?
"Ini tidak ada hubungannya dengan kasurku! Dan apa maksudmu menghina kasurku? Kalau kau tidak ingin tidur di kasurku kenapa kau tak pulang lalu tidur di spring bed empukmu dan angkat kaki dari kamarku!" balas Naruto emosi, jujur baru kali ini ia beradu argument dengan seorang wanita di waktu sepagi ini.
Tunggu, sepertinya Naruto melupakan sesuatu. Sekilas ia lihat jam dinding yang tak menempel di dinding dengan cepat.
"Aku terlambaaaaat!" teriak Naruto yang membuat burung-burung gereja terbang menjauh dari atap apartemen. Entah jurus apa yang dipakai Naruto, tapi sekarang Naruto telah berpakaian rapi dengan rambut kuningnya yang terlihat lepek. Hinata yang merasa jijik pergi menjauh dari Naruto dan membuka pintu kamar apartemen dengan santai, tiba-tiba pergelangan tangannya digenggam oleh Naruto yang tengah memandangnya tajam.
"Kau mau kemana heum?" tanya Naruto lengkap dengan tatapan mengintimidasi. Hinata meneguk salivanya kasar, sepertinya gadis itu merasakan hawa yang tak mengenakkan.
"A… aku mau pergi." cicit Hinata pelan, Naruto tersenyum miring mendengarnya.
"Setelah kau membuat kamarku berantakan kau pergi begitu saja? Kau pikir kau ada dimana Nyonya?" sahut Naruto, emosi Hinata langsung naik saat mendengar ucapan Naruto tadi.
"Maaf Tuan Naruto yang terhormat, tapi aku tidak pernah ikut campur dalam kegiatan membuat kamarmu ini seperti kapal Titanic yang telah karam! Jika kau menuduhku telah melakukan ini maka kau hemmmpphh…." ucapan Hinata terhenti karena Naruto tengah membekap mulutnya dengan tangan kekarnya.
"Aku tidak ingin mendengar alasanmu Nyonya, yang terpenting di saat aku pulang nanti kamar ini telah bersih dan tak ada debu secuilpun yang menghinggap disini. Mengerti?" Hinata hanya bisa mengangguk pasrah, Hinata hanya ingin mulut dan hidungnya terbebas dari tangan Naruto. Dan Naruto langsung melepaskan tangannya lalu mengusak surai Hinata pelan.
"Bagus, dan jangan pernah berencana kabur dari sini sebelum aku mengusirmu." Hinata kembali mengangguk, kini Hinata telah seperti korban sekap dan Naruto yang berperan sebagai pencuri. Hinata meratapi nasib buruknya dan memasang ekspresi sedih. Naruto tersenyum simpul lalu meninggalkan Hinata dan berlari menuju kampusnya.
Baiklah, sepertinya Naruto telah termakan dengan raut wajah Hinata. Siapa bilang Hinata tengah bersedih, justru kini gadis itu menyunggingkan senyuman liciknya dan mengambil sebuah sendok lalu mengubahnya menjadi sebuah kunci. Hinata mencoba kunci buatannya sendiri dan berhasil! Gadis itu melangkahkan kakinya meninggalkan kamar bernomor 38, tapi perasaan bersalah menggerayangi batinnya. Hinata masih ingat bahwa kebaikan itu harus dibalas dengan kebaikan, pemuda bernama Naruto itu telah mau mengizinkannya untuk beristirahat di kamarnya. Dan sekarang, Hinata seharusnya membalas kebaikan Naruto bukan? Well, anggap saja ini hutang budi, dengan malas Hinata memasuki kamar itu kembali dan berencana untuk membersihkan kamar yang lebih mirip dengan gedung tua. Hinata mendesah melihat kondisi kamar Naruto, karena ia tak tahu harus dimulai dari mana. Semuanya tempat sama, sama-sama dalam keadaan berantakan. Hinata berjalan mendekati cermin dan melihat pantulan dirinya disana, dengan lirih gadis itu bergumam,
'Selamat menjadi babu Hinata…'
҉҉҉
"Naruto, kau terlihat kebingungan. Ada masalah?" tanya Kiba, salah satu teman Naruto.
"Kiba, kau berbakat membaca isi hati seseorang. Seharusnya kau mengambil psikologi bukan sastra Jepang." perkataan Naruto itu sukses membuat lubang hidung Kiba kembang kempis saking bangganya.
"Kau bisa saja Naruto, ngomong-ngomong apa masalahmu?" sambung Kiba yang tak bisa mengontrol pergerakan lubang hidungnya.
Naruto menoleh dan memandang Kiba dengan mata sayu, sejenak pemuda itu berpikir. Sepengetahuannya Kiba ini tak bisa menjaga rahasia, atau bahasa kasarnya mulutnya ember. Ditambah lagi, tak pernah dicatat oleh sejarah jika Kiba memecahkan sebuah permasalahan. Bukankah itu alasan yang tepat untuk tidak menceritakan masalahnya?
"Ini hanya masalah kecil, tenang saja Kiba." jawab Naruto sambil menghembuskan napasnya. Kiba yang merasa kurang senang, kembali bertanya kepada Naruto.
"Ooh sobatku yang malang. Kau tak usah malu menceritakan masalahmu kepadaku. Aku akan menjaga agar semua orang tidak tahu, atau mungkin aku akan mencari jalan keluarnya! Ingatlah Naruto, masalah itu sama dengan rumput. Jika kau tak mencabutnya maka ia akan semakin besar dan menganggu, jika kau hanya memotongnya maka ia akan tetap tumbuh lagi karena akarnya masih tetap berkembang di dalam tanah. Begitu juga dengan masalah, kau tak boleh membiarkannya tumbuh dan mengganggu hidupmu, kau juga harus menyelesaikan masalah itu sampai ke intinya, dan orang yang tepat untuk menyelesaikan itu adalah aku! Inuzuka Kiba!" titah Kiba dengan panjang x lebar x tinggi. Tak disangka Kiba dapat mengubah tema pembicaraannya dari psikologi menjadi pertanian.
Naruto hanya bisa tersenyum (yang dipaksakan) dan membiarkan temannya itu berbangga diri dengan penuturannya tadi. Sedang Naruto mendecak dalam hati,
"Kau pikir aku percaya dengan ucapanmu itu apa?"
"Tapi kau tahu Naruto, sesungguhnya aku juga memiliki masalah…" lanjut Kiba dan menunjukkan ekspresi sedihnya.
"Masalah? Apa masalahmu Kiba?" tanya Naruto ingin tahu, karena bagaimanapun ini merupakan sebuah keajaiban! Kiba yang gayanya berandalan itu memiliki masalah? Hello, bahkan berita ini lebih hangat dibanding acara persepsi pernikahan selebritis yang ditayangkan oleh beberapa stasiun tv nasional.
"Aku, aku tak sanggup untuk menceritakannya Naruto." kata Kiba, mendengar itu hati Naruto langsung terenyuh. Sepertinya Kiba memiliki masalah yang berat.
"Kiba jika kau tak bisa menceritakannya sekarang, tak apa. Mungkin kau harus mencari waktu yang pas sampai kau dapat menceritakannya padaku." Kiba langsung menggeleng.
"Akan kuceritakan sekarang Naruto…" Naruto langsung memasang telinganya dengan baik, ia mempersiapkan stereo gendang telinganya yang paling baik. Kiba menarik napas dan menghembuskannya secara perlahan.
"Jadi…" buka Kiba dengan ragu.
"Ya, jadi ada apa Kiba?" semangat Naruto sangat menggebu-gebu sekarang.
"I… itu… anu…"
"Itu apa?"
"Sebenarnya…"
"Apa yang terjadi sebenarnya?"
"Akamaru hilang Naruto."
Tek…
Tok…
Tek…
Tok…
Baiklah, sebagai makhluk normal Naruto benar-benar tidak mengerti dengan perkataan Kiba tadi. Oh, tentu Naruto paham maksud dari berita itu, bahwa Akamaru hilang. Hanya saja letak permalasahannya itu ada dimana?
"Tunggu Kiba, jadi letak masalahmu itu dimana?" tanya Naruto, Kiba hanya berdecak sebal.
"Naruto, anjingku Akamaru menghilang! Kau pikir itu bukan masalah!" jelas Kiba kesal.
"Tapi Kiba, bukannya di rumahmu masih banyak anjing? Kalau Akamaru hilang, kan masih ada yang lainnya."
"Kau tak mengerti Naruto! Akamaru itu belahan jiwaku, rima detak jantungku, cahaya hatiku yang pilu, berlian pada kalbuku, mimpi indah disetiap tidurku, dan penyusun rangka tubuhku!" ucap Kiba layaknya sastrawan yang membaca puisi di atas pentas.
Naruto hanya bisa mengangguk tak berarti, setahunya walau nilai biologinya selalu anjlok namun penyusun rangka tubuh itu berupa tulang, bukan Akamaru. Kali ini Kiba gagal mengubah tema pertanian menjadi kedokteran. Dan Naruto telah mengancang-ancang untuk meninggalkan Kiba yang gundah gulana karena kehilangan anjingnya yang lebih mirip seperti ABG labil yang kehilangan kekasih di Ramayana.
҉҉҉
Hinata menghempaskan tubuhnya ke atas sofa yang telah ia amankan dari kemasan junk food dan sepertinya mulai terurai. Gadis itu melepas lelah karena telah berhasil menyelamatkan kamar ini dari keadaan yang lebih miris lagi, dan baru Hinata ketahui bahwa kamar Naruto ini cukup luas dan nyaman. Yah,asal kau mau membersihkan secara rutin. Hinata membuka jendela dan membiarkan angin malam menerpa kulit bayinya, suasana damai malam hari membuat perasaan Hinata tenang. Tiba-tiba sehelai bulu terbang mengawang di hadapannya hingga mata Hinata menjadi juling sementara, dengan cepat Hinata menangkap bulu itu dan memegangnya. Gadis itu mengelus bulu hitam itu dengan perlahan, sedetik kemudian iblis cantik itu tersentak. Dengan cepat ia menengadah dan menatap langit malam dengan intens.
Seperti yang sudah ia duga, Hinata mengetahui keberadaannya. Hinata tersenyum simpul melihat sayap besar dan kokoh itu kini berada tepat di depan atasnya. Helai demi helai bulu hitam mengkilap itu berjatuhan menuju gravitasi bumi. Tak jarang dari bulu-bulu itu bertengger indah di puncak kepala Hinata.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Hinata diiringi dengan seulas senyum.
"Memastikan keadaanmu, aku takut terjadi apa-apa dengamu."
.
.
.
TBC
Bushh... (ceritanya asap keluar menyambut Megumi)
Megumi datang! Ada yang kangen sama Megumi?/ Ogah banget kangen sama lu/ Ok fix!
Ini lanjutan dari chapter kemarin/ Please deh, semua orang juga tahu!/ Ya mana tahu ada yang nggak tahu./ Readers : *ngasah golok pake batu lonjong zaman megalitikum/
Nah, gimana sama chap ini teman? Apakah masih mengecewakan? Dan makasih buat yang udah ngoreksi kesalahan penulisanku di chap kemarin, itu terjadi karena awalnya aku bikin kakaknya Hinata itu cewek. Dan berdasarkan pertimbangan yang telah proporsional *ceilaah. Aku tukar Neji jadi kakaknya (congrats!) dan lupa edit dialognya. Sekali lagi, makasih buat yang udah ngerevisi, duuuh… makin sayang deh sama readers *ketcup satoe satoe.
Big thanks to :
blackschool, uzuuchi007, , , kiki, guest, hqhqhq, durara, guest, musashi, Hyuuzumaki Shadowink NHL, Misti Chan.
Next, makasih buat yang udah kasih review n follow n fav. Dan sepertinya waktu Megumi udah habis (kayak Arya diguna aja) so,
The last of my bacot : review pliss…
Bushhh…
