Seperti yang sudah ia duga, Hinata mengetahui keberadaannya. Hinata tersenyum simpul melihat sayap besar dan kokoh itu kini berada tepat di depan atasnya. Helai demi helai bulu hitam mengkilap itu berjatuhan menuju gravitasi bumi. Tak jarang dari bulu-bulu itu bertengger indah di puncak kepala Hinata.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Hinata diiringi dengan seulas senyum.

"Memastikan keadaanmu, aku takut terjadi apa-apa dengamu."

.

.

DEVIL AND THE BAD BOY

.

.

Uchiha Sasuke.

Ya, itulah nama lelaki bersayap hitam itu. Perawakannya yang dingin membuat beberapa iblis enggan berteman dengannya. Ditambah lagi ia berada di bawah naungan klan Uchiha, klan terkejam numero uno di Kerajaan Iblis. Maka, Sasuke akan memilih siapa yang pantas menjadi temannya dan pantas menjadi bawahannya. So, dapat dikatakan Sasuke hanya berteman dengan iblis kelas atas. Itupun harus mendapatkan persetujuan dari ayahnya, Uchiha Fugaku.

Bagi sebagian iblis, bersahabat dengan klan Uchiha merupakan sebuah kehormatan. Mereka akan memperlakukan anggota klan tersebut dengan baik, seakan-akan mereka hanyalah budak. Tapi bagi Hinata, itu tidak berlaku. Semua itu terbukti dengan perlakuan Hinata kepada Sasuke.

Bugh!

Satu kepalan melayang ke ubun-ubun putra bungsu Uchiha Fugaku itu. Hinata tersenyum puas karena telah memukul Sasuke, tangannya telah lama tidak melakukan ritual tersebut. Sedangkan Sasuke hanya bisa meringis kesakitan sambil mengusap puncak kepalanya.

"Hinata, tak bisakah kau menyambutku dengan baik?" gerutu Sasuke yang membuat Hinata tertawa geli.

"Hehehe… maaf Sasuke, tapi tanganku ini sangat meindukan kepalamu yang seperti batu itu." balas Hinata. Beberapa detik kemudian suasana hening, derai tawa Hinata semakin lama semakin meredam.

"Sasuke, bagaimana kau tahu aku ada disini?" sambung Hinata, Sasuke hanya bisa tersenyum simpul.

"Kakakmu yang memberitahuku, lagipula kenapa kau tak segera pulang Hinata? Hanabi terlihat depresi mengerjakan tugas sekolahnya." Sasuke menutup sayap lebarnya dan mendekati Hinata. Angin malam yang tadinya menyejukkan berubah menjadi dingin, dengan cepat Hinata menggosok-gosokkan telapak tangannya.

"Sasuke, sebaiknya kita berbicara di dalam. Disini sangat dingin." Sasuke mengangguk dan berjalan memasuki kamar Naruto dengan berwibawa. Hinata melangkah menuju dapur membuat minuman hangat sedangkan Sasuke tampak meneliti ruangan yang baru ia kunjungi.

"Kamar ini sangat bersih! Aku terkesan dengan pemilik kamar ini." puji Sasuke yang menghirup aroma bunga mawar segar di atas meja.

"Kau akan terkejut melihat keadaan kamar ini jika kau datang 10 jam lebih awal Uchiha." balas Hinata dan memutar bola matanya malas, tangannya masih sibuk menuangkan air panas menuju gelas yang telah ia cuci.

"Benarkah? Tapi jujur kamar ini sangat bersih Hinata! Dan, apakah kau tinggal bersama seseorang?" Sasuke membuka lembaran-lembaran buku yang tersusun di meja belajar.

"Ya, tapi lebih pantas dianggap sebagai iblis!" gerutu Hinata dengan kesal.

"Maksudmu, dia berasal dari Kerajaan Iblis?" tanya Sasuke polos.

"Bukan Sasuke, tapi sikapnya itu sama dengan iblis. Bahkan kadang aku ragu menyatakan diriku sebagai iblis dari klan Hyuga setelah melihat tingkah pemilik kamar ini."

"Maksudmu, ia lebih kejam darimu?"

"Ugh, berhenti membahas dia Sasuke! Dan kenapa kau mengunjungiku? Bukankah seharusnya sekarang kau mempersiapkan pesta kelulusanmu sebagai mahasiswa?" sahut Hinata heran.

"Pesta itu tidak penting, lagipula pesta itu tidak akan mengubah pendirian ayahku Hinata." imbuh Sasuke pasrah.

"Apa maksudmu Sasuke?" kening Hinata berkerut tak mengerti. Gadis itu meletakkan secangkir kopi hangat dan Sasuke langsung menyesapnya dengan elegan.

"Ayahku masih tak merestui hubunganku dengan Sakura." Hinata berhenti meneguk minumannya dan menatap Sasuke tidak percaya.

"Ke… kenapa Sasuke?"

"Aku juga tidak tahu Hinata. Tapi yang jelas, ayahku mengatakan bahwa kini ia sedang menunggu calon istri yang baik untukku dan lebih baik dari Sakura." mendengar penuturan Sasuke, tangan Hinata tiba-tiba gemetar. Jari-jari lentiknya seakan tak mampu untuk menopang gagang cangkir yang tengah dipegangnya.

"Hinata, bisakah kau menolongku?" mohon Sasuke penuh harap.

"Menolong apa?" Hinata meneguk minumannya ragu-ragu.

"Bisakah kau pulang sekarang dan meminta ayahku untuk mengizinkan pernikahanku dengan Sakura?"

Hinata menghentakkan cangkirnya dengan keras ke meja kayu yang ada di hadapannya. Matanya langsung membulat dan menatap Sasuke dengan angker.

"Kenapa harus aku Sasuke?"

"Karena ayahku hanya mau mendengarkan semua ucapanmu Hinata. Bukan aku, kakak atau ibuku."

Hinata tertegun mendengar ucapan Sasuke, kepalanya menunduk bersalah.

"Tapi,Sasuke jika aku kembali sekarang. Itu sama saja aku bunuh diri."

"Apa maksudmu Hinata? Aku tidak mengerti." Sasuke mengetukkan jarinya ke sisi cangkir dan menatap Hinata dengan heran.

"Suatu saat nanti kau akan mengerti Sasuke." Sasuke terdiam, mulutnya bungkam. Dengan cepat ia habiskan kopi di dalam cangkir dan menaruhnya kembali di atas meja.

"Baiklah kalau begitu, aku tak akan memaksamu Hinata. Dan aku dengar kau harus membunuh jika ingin kembali." ucap Sasuke sambil menghembuskan napasnya.

"Yah, memang seperti itu." jawab Hinata yang mulai mendongakkan kepalanya.

"Kalau kau ingin pulang, cukup bunuh pemilik rumah ini. Atau kau bisa memutilasinya dan menjual organnya di pasar online." saran Sasuke lalu berdiri dari sofa yang telah menopang tubuhnya. Hinata yang mendengarnya tertawa kecil dan ikut berdiri.

"Sepertinya aku harus pulang Hinata, senang berbicara denganmu lagi." Sasuke melangkahkan kakinya menuju jendela dan mulai merentangkan sayap hitam besar andalannya.

"Maafkan aku Sasuke, aku tidak bisa memenuhi permohonanmu." Imbuh Hinata pelan, Sasuke menoleh ke belakang dan tersenyum simpul.

"Tak apa, aku menghargaimu Hinata." Sasuke mengusak surai Hinata pelan dan kembali mendekati jendela, tapi itu sempat terhenti karena Hinata menahan lengan kiri Sasuke.

"Aku akan pulang saat pesta pernikahanmu dan Sakura belangsung. Jadi, jika kau ingin cepat pulang maka cepatlah urus masalah percintaanmu ini!" sahut Hinata lalu menepuk lengan Sasuk dengan pelan. Sasuke kembali tersenyum.

"Ku pegang perkataanmu Hinata."

Wuuuushh~

Sayap lebar itu terbang di langit malam yang gelap dengan kecepatan tinggi. Kepakan sayapnya sangat jelas terlihat bagi Hinata, rasa rindu kepada keluarga dan teman-temannya di Kerajaan Iblis sekelebat muncul. Sedetik kemudian, Hinata menutup jendela dan mencuci dua cangkir yang telah digunakan tadi.

Suara decitan pintu terdengar jelas di telinga Hinata, tampak lelaki berkulit sawo matang bermata biru sapphire memasuki kamar 38 dengan wajah pias.

"Aku pulang." ucap Naruto datar, ransel yang tersandang di pundaknya langsung dilempar dan mendarat di atas sofa. Hinata menoleh ke pintu masuk dan berjalan mendekati Naruto.

"Kenapa kau lama sekali eoh?" tanya Hinata dengan kesal, kilatan geram ia arahkan kepada sepasang iris biru itu. Sedangkan Naruto hanya membalasnya dengan senyuman miring.

"Memangnya kenapa? Kau merindukanku ya?" goda Naruto dan mendekatkan wajah tampannya ke wajah cantik Hinata, tangan kanannya terangkat dan mengusap pipi putih Hinata dengan lembut. Sontak kulit putih itu berubah menjadi merah muda, Naruto yang melihat itu hanya bisa tersenyum nakal.

"Ugh, simpan saja untuk mimpimu Naruto!" Hinata mendorong tubuh Naruto dengan kuat hingga tangan Naruto terlepas dari wajah Hinata. Dengan kilat Hinata menunduk agar wajahnya yang merah dapat ditutupi oleh rambut hitam panjangnya. Naruto mengendikkan bahunya tak peduli lalu melihat keadaan kamar yang telah dibersihkan oleh Hinata.

"Pekerjaanmu bersih juga." komentar Naruto, kakinya berjalan kesana-kemari untuk melihat setiap sudut kamarnya.

"Ya, aku tahu, dan aku juga menangkap beberapa binatang peliharaanmu." tambah Hinata sambil menenteng beberapa kotak yang ditutupi oleh sehelai kain.

"Binatang peliharaan?" ucap Naruto bingung, Hinata menganggguk mengiyakan.

"Ya. 127 kecoak, 36 tikus dan seekor anjing putih. Aku tak menyangka kau merawat mereka sampai jumlahnya sebanyak ini." lapor Hinata layaknya pembawa acara cuaca di televisi.

"Kau memujiku atau menghinaku? Dan, anjing putih? Aku tidak memelihara anjing putih."

"Lalu kau pikir ini apa? Kelinci putih bertaring yang dapat menggonggong?"

Sreeeet~

Kotak itu dibuka dan terlihat seekor anjing putih yang tengah tertidur pulas tanpa memperdulikan kapasitas oksigen di dalam kotak itu di saat kotak masih tertutup. Kelopak matanya enggan terbuka dan bulu-bulu putihnya ditutupi seheleai kain biru yang digunakan sebagai selimut.

"Waa… Akamaru!" pekik Naruto dan langsung menggendong Akamaru tanpa pri-keanjingan(?). Mimpi si anjing itu langsung terputus dan disambung dengan kenyataan bahwa kini ia sedang digendong oleh lelaki berambut kuning.

"Baiklah ternyata makhluk itu adalah Akamaru yang dapat menggonggong." simpul Hinata tiba-tiba.

"Bukan, nama anjing ini Akamaru. Kenapa dia ada disini?"

"Aku tak tahu, tapi aku menemukannya di dalam mesin cuci. Dia kekurangan oksigen dan asupan makanan." jawab gadis bermata lavender tersebut sambil menggendikkan bahunya tak peduli.

"Kiba pasti senang jika rangka tubuhnya telah ditemukan!"

"Siapa Kiba?"

Naruto memutar bola matanya jengah dan menjawab dengan malas, "Temanku."

"Jadi temanmu hewan semua?" lagi-lagi Hinata mengambil sebuah kesimpulan dengan entengnya. Entah mengapa, rasa ingin tahu Hinata meningkat mendengar penuturan Naruto. Namun beda halnya dengan Naruto yang terusik akan suara Hinata.

"Berhentilah berbicara, aku sedang menelpon Kiba."

"Jadi hewan bisa menelpon juga!" sorak Hinata, bola matanya berbinar tak percaya.

"Berisiiiiik!"

.

.

Televisi mempertontonkan sebuah variety show bertemakan 'Mari menggeledah tas selebritis yang tengah naik daun'. Hinata menangkup wajahnya cemberut dan memperhatikan layar yang menghadap kepadanya sambil memperlihatkan seorang artis dengan ekspresi (sok) terkejut bahwa ia tengah diwawancarai.

"Jadi, sehari-hari Anda membawa apa saja ke lokasi syuting?" tanya reporter berbaju hitam lengkap dengan logo stasiun tv di lengan atas bajunya.

"Euumm… Aku cuma bawa perlengkapan make-up aja. Itupun tidak banyak, karena aku lebih suka yang natural." jawab si artis sambil mengeluarkan alat-alat make-up dari tas coklat miliknya dan sangat mirip dengan Doraemon yang mengeluarkan barang-barang masa depan dengan tergesa-gesa.

"Cih, dasar penipu! Aku tahu kalau ia hanya mengeluarkan seperdelapan alat-alat kecantikannya. Bahkan aku yakin kalau ia menggunakan tiga produk bedak sekaligus." kritik Hinata pedas, suasana hatinya yang sangat jauh dari kata bahagia berujung kepada sindiran secara sarkasme. Mendengar itu, Naruto memutuskan sambungan teleponnya dengan Kiba dan menduduki sofa tepat di samping Hinata.

"Kau kenapa sih? Daritadi selalu saja mengkritik seseorang, kalau kau tidak suka dengan artis itu ucapkan secara langsung! Jangan ngedumel di rumah orang!" ucap Naruto seraya mengelus punggung Akamaru di pangkuannya.

"Kau pikir kenapa aku seperti ini? Aku ingin pulang dan meninggalkan ruangan ini! Tapi sampai sekarang kau tidak mengizinkanku pulang, bahkan aku telah membersihkan kamarmu yang hampir sama dengan gudang tua." oceh Hinata yang hanya dibalas tatapan datar oleh Naruto. Pemuda bersurai kuning itu menghembuskan napasnya dan kembali mengelus punggung Akamaru.

"Baiklah kalau begitu, silakan kau pergi dari sini. Dan terima kasih telah membersihkan kamarku." sahut Naruto, Hinata sontak berdiri dan memasang senyum sumringah dengan lebarnya.

"Syukurlah! Kalau begitu aku pergi dulu!" Hinata melambaikan tangannya dan berjalan cepat menuju pintu, langkahnya diperbesar agar waktu untuk tiba di depan pintu tidak berlangsung lama. Dengan kilat gadis itu memasang sandal dan memegang gagang pintu dengan bahagia. Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah lucu Hinata yang persis seperti anak TK yang dijemput oleh orang tuanya.

`Bye bye Naruto, kuharap aku tidak berurusan denganmu lagi…` ucap batin Hinata lalu menatap pintu kayu dihadapannya.

Deg!

Tidak ada hujan, tidak ada petir Hinata membulatkan matanya dengan sempurna. Ia baru menyadari sebuah fakta yang amat sangat menyakitkan. Fakta yang mengharuskan gadis bermata lavender itu untuk menetap di bumi dan melakukan pembunuhan, ditambah lagi ia tak mau pulang ke Kerajaan Iblis dengan sebuah alasan, jika ia pergi disini makan ia harus tinggal dimana? Bahkan ia tak punya uang untuk membeli sebuah tempat yang pantas untuk berlindung. Sebenarnya ia sih terima jika tidur di depan kios, tapi kalau nanti ia bertemu dengan orang mabuk (seperti Naruto) dan meminta membersihkan kamarnya yang mungkin lebih parah dibanding ruangan yang ia pijak ini? Big No!

"Hmm… Naruto…" panggil Hinata dengan pelan, kepalanya menunduk malu.

"Ada apa? Kau tak bisa membuka pintunya?" tanya Naruto polos, kegiatan mengelus punggung Akamaru terhenti sejenak. Mendengar penuturan Naruto, Hinata menggeleng pelan, rambut hitamnya bergerak lamban.

"Lalu kenapa?" Naruto kembali bertanya. Hinata menatap Naruto dalam-dalam sambil memasang ekspresi memohon.

"Bolehkah aku tinggal disini untuk sementara?"

"EEEEHHH?!"

.

.

.

TBC

Mwuhehehehe… chap ini berakhir dengan tidak elitnya! Yosh, Megumi berterima kasih buaaanyaaak buat semua readers yang udah mau meluangkan waktunya untuk membaca fic abal ini… dan Megumi tau ini enggak panjang, tapi kurikulum 2013 memaksa daku untuk bertemu dengan buku-buku setiap malam. Tugas yang menumpuk dan ulangan yang selalu menyusul. Bweeeh… letih pisan euy!

Dan Gomen kalau ketemu Mr. Typo di chap ini, soalnya Megumi nggak ada waktu buat ngedit, jadi tolong dimaklumi ya teman...

Sekedar spoiler, chap depan Hinata bakal kasih tahu sama Naruto kalau dia itu berasal dari mana. Dan yang pengen tahu reaksi Naruto tunggu chap depan, ok?

Big Thanks To :

Saikari Nafiel, I Love Erza, blackschool, mangetsuNaru, Madrid, MORPH, Durara, My Perfect Hyuga, Guest.

Segitu dulu area bacotku!

The last of my bacot : review pliss…