"Ada apa? Kau tak bisa membuka pintunya?" tanya Naruto polos, kegiatan mengelus punggung Akamaru terhenti sejenak. Mendengar penuturan Naruto, Hinata menggeleng pelan, rambut hitamnya bergerak lamban.
"Lalu kenapa?" Naruto kembali bertanya. Hinata menatap Naruto dalam-dalam sambil memasang ekspresi memohon.
"Bolehkah aku tinggal disini untuk sementara?"
"EEEEHHH?!"
.
.
DEVIL AND THE BAD BOY
.
.
WARNING : Di chapter ini, sudah dipastikan Hinata bakal OOC bgt! Jadi, bagi yang kurang berkenan jika hime OOC, silahkan klik tombol x.
.
.
Tunggu dulu, sepertinya ada yang aneh di sini. Beberapa menit yang lalu, gadis ini sangat ingin keluar dari kamar Naruto seolah-olah ia mendapatkan amnesti dari presiden dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat. Tapi sekarang, ia malah ingin bernaung lebih lama di tempat yang ia pijak kini melupakan keinginannya untuk pulang secepat mungkin.
"A… apa maksudmu? Bukankah kau sangat ingin pergi dari kamarku?" protes Naruto dengan keras. Pemuda itu yakin bahwa gadis di hadapannya ini tengah merancang sebuah rencana jahat! Mungkin ia ingin mencuri barang berharga? Ooh… jangan bercanda, tak ada barang berharga di kamar ini selain kartu uno yang warnanya telah memudar. Atau, sebenarnya gadis ini adalah tahanan yang kabur dari penjara? Namun, tak ada karakteristik penjahat di wajahnya, bahkan tak ada codet maupun tattoo di lengannya. Aaaah, mungkin saja perempuan ini menyukai Naruto dan tak ingin berpisah dari Naruto? Yups, sudah diputuskan pasti itu alasannya! Naruto yakin, gadis itu tak ingin berpisah darinya dan takut kala rindu melanda batinnya. Ouuh, gadis yang romantis!
"Aku tidak menyukaimu pemuda bodoh! Untuk apa aku menghabiskan waktuku hanya untuk merindukanmu? Cih!" decih Hinata yang muak dengan pemikiran bodoh Naruto, Naruto membelalakkan matanya dan mengambil sapu yang terletak di sampingnya.
"Ke… kenapa ka… kau bis… bisa tahu pi… pikiranku hah?" Naruto mulai tergagap dan menunjuk Hinata dengan ujung sapu yang telah berhasil ia dapatkan. Hinata menatap Naruto dengan jengah dan menarik sapu yang dipegang Naruto. Dengan sekali gerakan, tangkai sapu itu berhasil terbelah dua. Kaki Naruto mulai gemetar, sepertinya ia tengah di ujung tanduk sekarang.
"Itu tidak penting, aku hanya ingin tinggal di sini sementara. Setelah itu, aku akan pergi dan tak akan mengusik kehidupanmu lagi." balas Hinata lalu membuang tangkai sapu itu ke tong sampah. Hinata sangat suka jika pemuda yang sempat menjadikan dirinya sebagai babu itu ketakutan, seakan-akan ia memenangkan Grammy Awards dan mendapat tepuk tangan yang meriah dari para penggemarnya.
"Bu…bukankah kau ingin pulang?" tanya Naruto gelagapan, Hinata mendesah dan berjalan menuju jendela. Menerawang kelamnya langit malam dan tersirat kerinduan di sinar matanya.
"Aku tak bisa pulang…"
"A… apa kau tak punya uang untuk pulang? Ka… kalau begitu, biar aku pinjamkan uang untukmu. Kau tak usah khawatir, aku tidak akan meminta ganti rugi!" Naruto menyuguhkan beberapa lembar uang kertas yang ia ambil dari dompetnya ke arah Hinata. Dengan cepat Hinata merebut dompet Naruto dan memasukkan kembali uang kertas yang telah dikeluarkan pemuda jabrik itu lalu mengembalikannya ke si empunya. Naruto menyimpan dompet tua itu ke dalam saku dan menatap Hinata dengan was-was.
"Aku tidak perlu uang untuk pulang, hanya saja…"
"Hanya saja apa?"
"Hanya saja, rumahku bukan disini." ucap Hinata masih menatap langit malam. Sudah cukup rasanya Naruto bersabar, tapi gadis ini masih tetap berulah. Naruto menjejal saku celananya dan mengambil dompet yang sempat ia simpan dan melemparnya ke kepala Hinata dengan kesal.
"Auugh, Kenapa kau melemparku!" lawan Hinata seraya mengelus ubun-ubunnya sebagai tempat mendaratnya dompet tua Naruto.
"Yak, kau mencoba membodohi ku ya! Tentu saja rumahmu bukan di sini! Sudah jelas ini kamarku!" ujar Naruto geram, ia tahu kalau IQ nya tidak sampai 160. Tapi ia masih tetap bisa berfikir kalau ucapan Hinata itu terdengar bodoh. Kakek kakek di seberang jalanpun tahu kalau ini adalah kamar Naruto, bukan rumah Hinata.
"Eerrgh… maksudku rumahku bukan di bumi!"
"Kalau bukan di bumi, rumahmu di mana lagi Nyonya?" sahut Naruto meremehkan, dengan pongahnya Naruto berkacak pinggang dan menyenderkan punggungnya di dinding.
"Rumahku, di Kerajaan Iblis."
Tik…
Tok…
Tik…
Tok…
"BWAHAHAHAHAHAHA…" tawa Naruto pecah saat detik kelima setelah Hinata mengucapkan di mana rumahnya. Hinata menutup kedua telinganya karena takut jika gendang telinganya berpindah tempat setelah mendengar tawa yang begitu menggelegar.
"Kenapa kau tertawa?"
"Kau pikir aku ini bocah ingusan yang masih menonton kartun di Minggu pagi dan percaya dengan Kerajaan Iblis yang kau bilang itu ha? Aku sudah cukup tua untuk mengetahui hal-hal seperti itu!" Naruto menghapus air mata yang sempat terjatuh di sudut matanya dan berusaha menahan tawa untuk menghargai gadis di hadapannya ini.
"Tapi aku serius, aku adalah iblis dari Kerajaan Iblis Naruto!"
"Benarkah? Kalau begitu, aku adalah Pangeran dari Handsome Planet yang turun ke bumi untuk menjerat gadis-gadis cantik di Jepang. Dan kau tahu, sesungguhnya sepeda motor yang kupakai setiap hari itu adalah ufo yang telah dimodifikasi."
"Kau pikir itu lucu ha?" cibir Hinata, Naruto langsung diam tak berkutik dan menatap Hinata dengan kesal.
"Jadi, kalau kau memang berasal dari Kerajaan apapun namanya itu, kau pasti punya tujuan kan? Apa tujuanmu itu untuk memata-matai manusia bumi yang kelak akan menjadi budak bangsamu? Atau kau ingin melenyapkan manusia dan memerintahkan bangsamu itu untuk mengungsi ke bumi? Atau kau ingin menjadikan manusia sebagai bahan eksperimenmu dan mengubahnya menjadi makhluk hidup uniselular?" lontar Naruto dengan lancarnya. Sepertinya pemuda ini cocok menjadi juru bicara atau mempresentasikan hasil diskusi.
"Ckckckck, kau mendapatkan semua pemikiran itu darimana? Dari film kartun yang tonton dulu?" cercaan itu sangat menusuk sampai palung terdalam perasaan Naruto. Pemuda itu menatap Hinata dengan sengit dan menurunkan tangannya yang sempat terparkir di kedua pinggangnya.
"Kalau bukan untuk itu, lalu untuk apa?" mendengar ucapan Naruto, Hinata tersentak. Ingatannya kembali berputar di saat ia tertidur di tepi jalan dan mendengar suara sang Ayah yang begitu membahana dan memberikan sebuah informasi bahwa ia tengah dititipkan (atau lebih tepatnya dibuang) di bumi. Gadis manis itu menggigit bibir bawahnya yang tipis dan menghirup udara dengan pelan, semoga apa yang diucapkannya ini tidak membuat pemuda dihadapannya mulai berpikiran buruk.
"A… aku dibuang…"
"Kau? Dibuang? Ke bumi? Apa ini sebuah lelucon?" tutur Naruto dengan sedikit nada kekesalan yang berujung pada puncak kekesalan Hinata. Bagaimana tidak, Hinata telah mengutarakan hal yang sebenarnya terjadi dan Naruto menganggap itu sebuah lelucon. Memangnya semua kejadian nyata yang dialami Hinata adalah lelucon?
"Apa maksudmu dengan sebuah lelucon?!" bentak Hinata, tampak gadis itu mengepal tangannya kuat-kuat menahan agar kepalan itu tak mendarat di perut Naruto.
"Kenapa kau marah? Seharusnya aku yang marah! Kau pikir bumiku yang tercinta ini hanya tempat pembuangan dari kerajaan bodohmu itu?"
"Tapi memang itu kenyataannya! Bahkan pangeran Kerajaan Iblis dibuang ke bumi dan belum kembali sampai sekarang!"
"Ter-se-rah! Aku muak, aku bingung, aku kesal, aku letih, aku lapar, dan aku ingin tidur sekarang! Jadi, cepat angkat kaki dari kamarku!" titah Naruto panjang lebar dan mendorong tubuh Hinata untuk keluar dari kamarnya, dengan cepat Hinata menahan tangan Naruto dan menggenggamnya dengan hangat.
"Tapi, kumohon! Izinkan aku untuk tinggal disini! Kalau bukan di sini, aku harus tinggal di mana lagi? Ya? Ya? Ya?" sedetik kemudian Hinata memasang ekspresi imut berharap bahwa lelaki bernama Naruto itu luluh dan memberikan izin.
"Apa peduliku dengan tempat tinggalmu! Lagipula, apa untungnya aku mengizinkanmu untuk tinggal disini?" jawaban itu cukup menjadi alasan bahwa semua keimutan yang Hinata lakukan tadi gagal total! Hinata memutar otaknya dengan keras untuk mencari jawaban yang diucapkan Naruto.
"Eeumm… kau akan mendapatkan pahala karena telah membantuku."
"Kau pikir membantu iblis sepertimu akan mendapatkan pahala? Malahan aku akan masuk neraka!" geram Naruto, pemuda itu kembali mendorong Hinata menuju pintu keluar dan kembali ditahan oleh Hinata. Sepertinya Hinata harus bersikap manis di depan pemuda berambut kuning ini.
"Naruto yang tampan…" puji Hinata dengan halus, semoga strategi bermulut manis dapat mengubah pendirian Naruto untuk mengusirnya.
"Aku tahu aku tampan!" ujar Naruto dengan pongah. Hinata mengembangkan senyuman secara terpaksa dan menggerutu di dalam hati. 'PD sekali anak ini, bahkan telapak sepatu nenekku lebih bagus dibanding wajahnya!'
"Baiklah, wahai Naruto yang baik hati…"
"Baik hati itu adalah sifat dasarku!" lagi, pemuda itu melawan ucapan Hinata dengan arogan. Hinata tersenyum jahil dan merasakan hawa kemenangan menghampiri dirinya.
"Karena baik hati itu adalah sifat dasarmu, maka kau akan mengizinkanku untuk tinggal disini kan?"
Skakmat! Naruto tak bisa lagi melawan ucapan Hinata yang jelas-jelas telah menyudutkan dirinya. Hinata menatap Naruto yang tak mau menerima kekalahan dengan bangga. Sepertinya Hinata telah memberikan sebuah peringatan kepada Naruto untuk tidak bermain-main dengannya. Dengan berat hati Naruto mengangguk dan memanyunkan bibirnya.
"Ck, baiklah! Kau boleh tinggal di sini. Tapi dengan satu syarat!" sambung Naruto seraya mengacungkan jari telunjuknya.
"Apa itu?"
"Kau, harus patuh atas semua perintah yang aku berikan nanti. Mengerti?"
"Aku setuju! Jadi, aku boleh tinggal disini kan?" tanya Hinata dengan polos. Jujur, suasana hatinya tengah berbunga-bunga sekarang.
"Iya iya. Ya sudah, aku tidur dulu!" gumam Naruto dan menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya, tangan kirinya meraih bantal guling dan memeluknya dengan erat. Sekelebat ia tatap wajah Hinata yang begitu damai mengarungi alam mimpinya, entah mengapa perasaan damai tersalur hebat dalam sanubari Naruto. Ia begitu terpesona menatap Hinata di saat sang gadis tengah berada di dalam kondisi tidak sadar, tak sengaja Naruto tersenyum simpul,
'Kerajaan Iblis? Dasar gadis aneh.'
.
.
Pagi datang terlalu cepat, bahkan Hinata merasa ia memejamkan mata hanya lima detik saja. Dengan berat hati Hinata beranjak dari sofa dan menoleh ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul enam pagi. Merasa terlalu pagi, Hinata kembali mengantuk dan tertidur di atas sofa. Tapi itu berlangsung beberapa detik saja sebelum sebuah tepukan mendarat di lengannya.
"Kau masih ingat dengan perjanjian tadi malam kan?" tanya Naruto dengan sebuah seringaian di wajahnya.
"Perjanjian yang mana?" ujar Hinata yang masih berada di ambang kesadaran. Dengan geram Naruto melempari dompetnya dan membuat Hinata terbangun dari rasa kantuk yang sempat menyerangnya.
"Ya! Kenapa kau hobi sekali melemparku dengan dompet lusuh itu?!"
"Apa peduliku? Yang terpenting, sekarang bersihkan kamar ini, cuci bajuku, bersihkan meja belajarku, buatkan sarapan, dan pilihkan baju yang cocok untuk kupakai hari ini."
"He? Bisakah, kau mengulangnya kembali?"
"Tidak ada pengulangan." balas Naruto singkat dan berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan Hinata dengan rasa bingung yang menghantuinya. Hinata menghembuskan napasnya kasar dan mengucek matanya berulang-ulang.
"Congrats Hinata, kau kembali menjadi babu disini." gumam Hinata lalu membuka gorden dan membiarkan sinar matahari masuk melalui celah-celah jendela. Hinata tersenyum bahagia disaat bunga mawar yang ia letakkan dia atas meja tampak begitu segar bila tersorot cahaya mentari pagi. Tapi kebahagiaan Hinata lenyap seketika di saat mendengar suara bel yang begitu bising.
"Iya, tunggu sebentar!" teriak Hinata keras, gadis itu melebarkan langkah kakinya dan membuka pintu dengan cepat. Tampak seorang laki-laki dengan setelan jeans dan jacket hitam tengah berdiri di hadapannya sambil memasukkan sebelah tangannya ke saku celana.
"Anda mencari siapa?" tanya Hinata sopan, baru kali ini ia melihat pemuda seperti ini.
"Oo… itu, anu… ini kamarnya Naruto kan?" sahut pemuda tersebut gelagapan, ia memastikan bahwa ia tidak salah kamar.
"Iya, Anda temannya Naruto ya?"
"Iya, apa Naruto ada di dalam?"
" Ada, silakan masuk." Pemuda itu masuk ke dalam kamar Naruto dengan tenang, beberapa detik kemudian pemuda misterius berteriak dan memeluk anjing putih yang berlari ke arahnya.
"Kyaaa! Akamaru!"
"Guuuk!" gonggong anjing putih yang Hinata ketahui bernama Akamaru. Hinata tersenyum kecil di saat pemuda misterius itu melepas rindu dengan Akamaru. Sungguh, tontonan yang mengharukan di pagi hari.
"Itu anjingmu?" tanya Hinata masih dengan senyuman tipisnya.
"Yup, dia menghilang beberapa hari yang lalu." ucap Kiba tanpa memandang Hinata, ia terlalu sibuk memeluk Akamaru dan menghapus jilatan sang anjing yang bertebaran di pipi tirusnya.
"Lain kali, jangan tinggalkan rangka tubuhmu disini Kiba!" sontak semua tatapan mengarah pada Naruto yang baru saja keluar dari kamar mandi. Badannya diiringi asap tipis yang menjelaskan bahwa pemuda itu telah mandi dengan air panas dan tangannya sibuk menggosokkan handuk ke kepala agar rambutnya kering. Menurut Hinata, Naruto cukup tampan dengan gaya seperti itu.
"Iya iya iya, Tuan Bijaksana!" tukas Kiba lalu menatap Naruto dengan datar. Beberapa menit kemudian, rasa penasaran Kiba mencuat. Dengan mudahnya ia bertanya kepada Naruto,
"Ngomong-ngomong dia siapa mu Naruto?" tunjuk Kiba ke arah Hinata yang tengah membuat sarapan pagi. Baik Hinata maupun Naruto sama-sama terkejut, karena mereka tidak punya ikatan selain iblis dan pemilik kamar. Ditambah lagi, Naruto bahkan tidak mengetahui nama Hinata. Ugh, sepertinya ini adalah pagi kesialanmu Tuan Bijaksana.
"Eeeum… itu.."
'Tamatlah riwayatku…'
.
.
.
TBC
Mwawaawawa….
Sumpah, Megumi nggak tahu lagi mau lanjutin ni cerita kayak apa! Soalnya Megumi sempat kena wabah WB belakangan ini, jadi gomeeeeeeenn readers kalu chap ini terkesan maksa! Dan bagi readers yang nggak suka kalau Hinata kayak gini, silakan 'back' atau enggak klik tombol x di atas. Megumi udah buat peringatan besar-besar loh di atas, jadi jangan salahkan Megumi lagi ne? Dan masalah typo, hehehehe... tolong dimaklumi saja kalau sempat bertemu, soalnya aku enggak edit-edit selesai di ketik (aku tahu aku pemalas, I know I know)
Reviewmu ditunggu wahai readers sekalian, Megumi nampung semua review kok asal itu berupa kritik, saran, pesan, komentar yang membangun! Wokeh? ^_^V
Sankyuu buat yang udah review/like/fav/read fanfic aku! LAAAFFFYAAA!
Big thanks to:
Zero Kiryuu 1, blackschool, guest, Misti Chan, Anaatha Namikaze, guest, mangetsuNaru, barloxs, hqhqhq, guest, SBY, guest.
The last of my bacot : review plis…
