"Ngomong-ngomong dia siapa mu Naruto?" tunjuk Kiba ke arah Hinata yang tengah membuat sarapan pagi. Baik Hinata maupun Naruto sama-sama terkejut, karena mereka tidak punya ikatan selain iblis dan pemilik kamar. Ditambah lagi, Naruto bahkan tidak mengetahui nama Hinata. Ugh, sepertinya ini adalah pagi kesialanmu Tuan Bijaksana.

"Eeeum… itu.."

'Tamatlah riwayatku…'

.

.

DEVIL AND THE BAD BOY

.

.

"Dia itu… hmmm…kerabatku." jawab Naruto asal. Sungguh, otaknya buntu untuk memikirkan pertanyaan Kiba tadi. Jika Naruto berkata jujur dan mengatakan bahwa gadis itu adalah iblis dari kerajaan apapun itu, ia sudah yakin bagaimana cara Kiba menanggapinya. Seperti 'Iblis, kau pikir aku percaya dengan omong kosongmu itu? Ayolah, jangan bercanda. Siapa dia sebenarnya?' atau 'Ayo kita pulang Akamaru, lingkungan ini sudah dicemari dengan aura-aura kebodohan.' atau parahnya lagi 'Kawan, sudah seharusnya kau dibawa kepada psikiater. Jangan takut, aku sudah tahu siapa psikiater yang cocok denganmu, bahkan psikiater itu berhasil mengurangi depresi Akamaru karena bulunya yang selalu rontok.' (dan di saat itu Naruto akan menendang Kiba ke Afrika karena telah menyamakan pemuda setampan dirinya dengan anjing buluk rendahan setingkat Akamaru)

"Kerabatmu?" ulang Kiba.

"Ya, kerabatku." ucap Naruto meyakinkan. Usut punya usut, setelah mendengar jawaban Naruto, bukannya menghilang malah kerutan di kening Kiba semakin menumpuk. Sesekali ia memandang Naruto dan gadis yang baru saja ia ketahui sebagai kerabat Naruto secara berulang-ulang.

"Kerabat dari ayahmu, atau ibumu?" Kiba masih sibuk mengulas kebenaran dari ucapan sahabatnya itu.

"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Naruto menaikkan sebelah alisnya bingung, sedangkan Hinata berpura-pura tidak mendengar obrolan kedua pemuda tersebut dan sibuk membuat sarapan pagi sebagaimana telah diperintahkan.

"Bukannya aku tidak percaya padamu Naruto. Hanya saja…"

"Hanya saja apa?" potong Naruto.

"Hanya saja, aku tidak melihat kesamaan antara kau dan gadis itu. Jika dia kerabat dari ibumu, setidaknya dia memiliki rambut berwarna merah. Dan jika dia kerabat dari ayahmu, sudah pasti rambutnya sama sepertimu." jelas Kiba dan diperkuat dengan gonggongan Akamaru, seakan-akan anjing putih itu tengah berucap ' Itu benar, hei Naruto, apa kau mendengar ucapan tuanku tadi?'

Naruto kembali berpikir keras, bagaimana mungkin ia kesulitan dalam berbohong seperti sekarang? Bahkan ia dapat menyelingkuhi beberapa gadis dan mengucapkan kebohongan-kebohongan itu dengan lancar. Hinata yang tadinya sibuk membuat sarapan langsung terdiam. Dia bukannya takut jika kebohongan Naruto akan terbongkar, hanya saja pasangan suami istri berambut merah dan kuning yang diucapkan Kiba sebagai orang tua Naruto itu seakan sangat familiar baginya. Tanpa sengaja, manik matanya bertemu dengan iris biru Naruto, dengan cepat Hinata memalingkan wajah dan kembali membuat sarapan.

Lain halnya dengan Naruto yang masih menatap Hinata dengan intens. Pemuda itu baru sadar bahwa tidak ada kemiripan yang signifikan antara dia dan gadis itu. Lihat saja, kulit gadis itu putih bersih sedang Naruto tidak, mata Naruto beriris biru sedangkan gadis itu lavender, rambut Naruto kuning dan iblis aneh itu indigo, Naruto laki-laki dan dia perempuan. (memangnya dia fikir hanya laki-laki yang boleh menjadi kerabatnya). Ingin rasanya pemuda berambut jabrik itu teriak dan mengatakan 'Tolong jangan tanyakan hal serumit trigonometri ini padaku!' lalu menangis terisak-isak sambil memeluk lutut Kiba hingga Kiba merasa iba, tapi niat itu dia urungkan setelah mengetahui karakter Kiba yang tidak menyukai hal-hal berbau drama.

"Eeeh… itu, dia itu eemm… kerabat jauhku Kiba." satu kebohongan bodoh lagi yang dilontarkan Naruto, ia mengutuk dirinya sendiri yang tidak pandai berbohong akan masalah seperti ini, Kiba hanya terdiam dan menatap Naruto ingin tahu.

"Kerabat jauhmu? Maksudmu?" mendengar itu, tampaknya Naruto menahan dirinya untuk tidak mengambil pisau yang digunakan Hinata untuk mengoleskan selai pada roti dan menodongnya ke hidung Kiba, lalu berkata 'Jika kau masih bertanya maka hidungmu akan berhenti kembang kempis seperti sekarang dalam beberapa menit yang akan datang!'

"Ya, dia kerabat jauhku. Maksudku, seperti ini. Pamanku memiliki anak, anaknya menikah dengan seorang pria, nah pria itu memiliki sepupu, sepupu tersebut memiliki kakek dan kakeknya memiliki seorang kakak. Kakak kakek tersebut mempunyai seorang istri dan istrinya mempunyai beberapa anak, salah satu dari anaknya bertunangan dengan seorang wanita dan wanita tersebut memiliki saudara," Kiba yang mendengarnya hanya bisa menganga tak percaya, hubungan Naruto dengan gadis ini terlalu rumit untuk dicerna otaknya. Naruto merasa puas bahwa kebohongannya berhasil membuat temannya bingung hanya bisa tersenyum kecil.

"Ja… jadi, maksudmu gadis itu salah satu saudara dari wanita yang bertunangan itu?" kata Kiba mulai memastikan, Naruto menatap Kiba seakan-akan tengah mengatakan 'Masih berani bertanya eoh?'

"Bukan!" tolak Naruto mentah-mentah.

"Lalu?"

" Saudara dari wanita yang bertunangan itu telah menikah dan juga mempunyai anak. Nah anaknya itu adalah gadis yang kini membuat sarapan untukku." Naruto melanjutkan kebohongannya dan menoleh ke arah Hinata yang mendecih. Entah kenapa, mata lavender Hinata kembali bertemu dengan iris biru Naruto yang terang. Sekejap Naruto berkedip nakal ke arah Hinata dan membuat pipi Hinata terasa memanas.

"Oooh… begitu ternyata." gumam Kiba berusaha untuk mengerti, namun sedetik kemudian sebuah pertanyaan kembali mencuat.

"Lalu kenapa ia datang ke kamarmu Naruto?" Naruto berhenti menggoda Hinata dan kembali memikirkan kebohongan baru. Uuugh, ini masih pagi dan Naruto telah menoreh sikap di buku amal buruknya.

"Dia sedang mencari pekerjaan Kiba." balas Naruto santai, Hinata yang baru saja menyuguhkan teh hangat kepada tamunya menginjak kaki Naruto dengan kuat. Sedangkan Naruto menahan teriakan kesakitan akibat ulah Hinata dan membalas tatapan Hinata yang mengatakan 'Apa yang kau lakukan?'

"Benarkah? Waaah, kalau begitu tepat sekali!" senyum Kiba mengembang yang merupakan sinyal hati-hati kepada Hinata.

"Kebetulan kenapa?"

"Kebetulan sekali, bibiku tengah mencari karyawan untuk bekerja di toko kuenya!"

"Betulkah? Kalau begitu kau pasti senang mendengar berita ini." lontar Naruto seraya merangkul Hinata seakan-akan mereka adalah teman dekat. Hinata yang melihat gelagat itupun hanya bisa memaklumi dan membalas perlakuan Naruto dengan sebuah senyuman paksa.

"I… iya, aku senang sekali. Sangat senang, tidak sia-sia aku menginap disini." imbuh Hinata masih dengan senyuman yang dipaksakan, Kiba yang melihat kejadian itupun mulai tersenyum simpul.

"Nah! Kalau begitu euuum…."

"Hinata, namaku Hinata." jawab Hinata setelah melihat gelagat Kiba. Dengan cepat Hinata menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dan dibalas oleh Kiba dengan hangat. Sedangkan Naruto menatap datar temannya dan kembali merangkul Hinata hingga Hinata menyudahi acara jabat tangannya. Entah kenapa, perasaan kesal menyapa diri Naruto disaat melihat gadis berambut indigo yang baru ia ketahui bernama Hinata itu terlihat senang bertemu dengan Kiba. Hey, apa yang terjadi padamu Naruto?

"Hinata, kau bisa pergi ke alamat ini nanti sore. Dan katakan bahwa aku menyuruhmu datang kesana. Oke?" Kiba menyerahkan secarik kertas dan diterima Hinata.

"Terima kasih, aku tidak tahu bagaimana jadinya jika aku tidak bertemu denganmu." sahut Hinata yang sukses membuat Kiba tersipu malu. Naruto yang merasa tak dianggap ada langsung menarik Kiba menuju pintu keluar dan menyeret anjing putih tak bersalah itu.

"Sudah sudah, sekarang kau pulang dan bawa pergi anjingmu ini." usir Naruto sambil membuka pintu.

"Tapi kami belum selesai bi…"

"Bye Kiba, nanti malam kita bertemu di klub."

BLAAAAAM!

Pintu itu ditutup dengan keras menyisakan seorang pemuda dengan wajah kusut yang dipampangnya. Naruto berjalan menuju sofa dan menyalakan televisi dengan kasar. Hinata menatap Naruto dengan bingung dan beranjak mendekati Naruto.

"Seharusnya kau tidak perlu mengusir temanmu. Bahkan ia belum mencicipi teh buatanku." ucap Hinata pelan, gadis itu langsung mengambil secangkir teh dengan asap yang masih mengepul di atasnya. Naruto menggenggam tangan Hinata dan sukses membuat Hinata menoleh ke arahnya.

"Ada apa?" tanya Hinata.

"Mau kau apakan teh itu?"

"Ku buang, toh tidak ada lagi yang akan meminumnya." simpul Hinata.

"Biar aku yang meminumnya." Hinata membulatkan matanya tidak percaya dan meneliti bahwa kini Naruto masih berbohong.

"Kenapa kau menatapku seperti itu?" ucap Naruto yang merasa risih dengan tatapan Hinata.

"Hmmm… tidak ada!"

"Ya sudah." Naruto mengambil alih cangkir yang tadinya di tangan Hinata dan menyeruput teh hangat buatan iblis cantik itu.

"Ngomong-ngomong, aktingku tadi bagus kan?" tanya Hinata dengan senyuman indah andalannya. Ia yakin bahwa sekarang ia akan mendapat pujian seperti 'Iya, aku tidak percaya kau bisa senatural itu. Kau berguru dimana?'

"Huh, itu adalah akting terburuk yang pernah kulihat!" decih Naruto dan beranjak pergi meninggalkan Hinata. Meninggalkan iblis cantik dengan perasaan kecewa dan pikiran yang kacau mengenai aktingnya tadi.

'Separah itu kah? Apa penghayatanku kurang? Ekspresiku terlalu berlebihan? Atau intonasiku yang terlalu tinggi? Huufh… sepertinya aku harus belajar seni drama…'

.

.

Naruto menghempaskan tubuhnya kesal. Pertama, ia kesal kenapa Kiba begitu baik kepada Hinata. Kedua, ia kesal kenapa Hinata juga membalas kebaikan Kiba itu dengan senang hati. Ketiga, ia kesal karena tidak tahu alasan kenapa ia bisa sekesal itu setelah melihat Kiba dan Hinata berjabat tangan. Pemuda itu bangkit dan tangannya telah bersiap-siap untuk memporak-porandakan meja belajarnya yang tampak terlihat bersih, tapi otot-otot tangannya terasa kaku mengingat Hinata yang telah membuat meja belajarnya hingga terlihat begitu rapi. Dan kini ia bertambah kesal, kenapa ia tak sanggup menghancurkan semua yang telah Hinata perbuat.

Dulu, di saat kekasihnya membuatkan minuman, tak pernah sedikitpun niat Naruto untuk meminumnya. Dia lebih memilih minum di klub dan menghilangkan semua beban pikiran. Sedangkan tadi, ia baru saja meminum teh buatan iblis yang mungkin saja telah dicampuri oleh bahan makanan berbau mistis. Ditambah lagi, ia tidak begitu menyukai teh. Karena menurutnya, teh itu minuman yang tidak cocok untuk pria manly seperti dirinya.

Naruto semakin menundukkan kepala yang terasa kacau, tapi sedetik kemudian ia mengangkat kepalanya setelah berhasil menemukan titik temu. Yah, mungkin saja ia kesal karena setelah ini pengeluarannya akan bertambah jika Hinata masih tetap menginap di rumahnya. Tapi semua itu langsung ia tepis mengingat iblis cantik itu telah mendapatkan pekerjaan dan dapat menghasilkan uang untuk menghidupi dirinya sendiri.

Tiba-tiba senyuman licik terpatri indah di wajah Naruto. Ia menemukan sebuah penemuan! Ia berpikir bahwa ia tidak perlu memikirkan uang ke klub karena ia akan memakai gaji Hinata untuk itu semua. Sekarang Naruto memuji kepintaran otaknya dan kembali berbaring di atas kasur. Memimpikan semilir pundi-pundi uang yang akan mengalir kepadanya.

Asoi.

.

.

Hinata menatap selembar kertas yang diberikan Kiba dan menatap toko kue di depannya dengan senang. Ia memastikan bahwa toko kue itu yang dimaksud Kiba sebagai toko kue bibinya. Dengan bahagia Hinata memasuki toko itu dan bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang tengah memegang nampan di tangan kirinya.

"Ada yang bisa dibantu nak?" tanya wanita itu sopan, aura keibuan wanita tersebut membuat Hinata mengenang mendiang ibunya.

"Apakah toko ini tengah membutuhkan karyawan?"

"Betul, apakah kau ingin bekerja disini?" Hinata mengangguk pelan.

"Iya. Kiba yang menyarankan ku untuk bekerja disini."

"Oooh… kalau begitu ayo masuk ke dapur. Akan kuberikan seragam untukmu." ajak wanita itu dan mengelus surai Hinata dengan lembut. Hinata mengikuti wanita itu dan memasuki dapur.

Hinata menatap pantulannya di cermin. Jujur, Hinata pikir seragam yang dimaksud berupa pakaian. Ternyata, yang dipakainya kini tetap baju yang ia pakai yang dihiasi sebuah celemek putih berlogo toko kue bibi Kiba. Hinata keluar dari dapur dan menghampiri wanita paruh baya yang ternyata adalah bibi Kiba.

"Apa yang bisa kulakukan?" tanya Hinata mendengar hal itu wanita itu tersenyum.

"Kue apa yang bisa kau masak?"

"Hhm… aku rasa, semuanya bisa." jawab Hinata, karena ia bisa saja menggunakan kekuatan iblisnya dan menyulap tepung terigu di dalam kemasan itu menjadi rainbow cake dalam sekejap mata.

"Kalau begitu, bisakah kau membuat tiramisu super lezat untuk ku cicipi?" goda wanita itu dan mengusak surai Hinata.

"Siap kapten!" balas Hinata diiringi derai tawa dari sang pemilik toko.

Hinata menyerahkan tiramisu hasil jerih payahnya kepada bibi Kiba. Setelah satu suapan, wanita tua itu langsung memeluk Hinata dan berkomentar bahwa itu adalah tiramisu terlezat yang pernah ia coba. Hinata hanya bisa tersenyum kikuk, bibi itu langsung menjadikan tiramisu buatan Hinata sebagai sampel gratis dan merasa yakin bahwa pelanggannya akan memesan tiramisu itu lagi dan lagi. Beberapa jam kemudian sang pemilik toko memberikan beberapa lembar uang untuk Hinata atas hasil yang memuaskan tersebut. Gadis bermata lavender itu membungkukkan badannya sebagai tanda terima kasih dan meninggalkan toko kue tempat ia bekerja.

Langkah kakinya terasa ringan menuju pasar, keperluannya hanya satu. Menghabiskan uang itu dan membeli pakaian bagus untuk ia kenakan. Namun lamunannya membuyar di saat tubuhnya tak sengaja bertubrukan dengan pengguna jalan yang lain.

"Maaf," ucap Hinata lirih. Ia melihat siapa orang yang telah menabraknya itu dan menunjuk si pelaku dengan tangan gemetar,

"Kaaauu…"

.

.

.

TBC

Lohaaa…

Nih, Megumi bawa kelanjutannya! Ada yang nungguin nggak? Ada yang penasaran nggak? Ada yang pengen baca enggak? #plaaak, abaikan yang satu ini.

Gomen gomen kalau Megumi publishnya terlalu lama, wkwkwk… terlalu asyik liburan jadi enggak sempat lanjutin ni epep. Tapi ini udah dilanjutin, kasih review ya kawan-kawan!

Again and again Arigatou buat yang udah luangin waktu buat baca/review/follow/ fav ni cerita.

BIG THANKS TO:

blackschool, Misti Chan, DiRa-cchi 7ack, linkinpark. hoobastank, The KidSNo OppAi II, Po-chan, guest, hqhqhq, guest, Hayati JeWon, guest.

The last of my bacot : review plis...