"Maaf," ucap Hinata lirih. Ia melihat siapa orang yang telah menabraknya itu dan menunjuk si pelaku dengan tangan gemetar,

"Kaaauu…"

.

.

DEVIL AND THE BAD BOY

.

.

Si tersangka yang telah menabrak Hinata tadi langsung memeluk gadis bermata lavender itu dengan erat. Kerap kali bibirnya mengucapkan 'Akhirnya aku menemukanmu!' atau 'Aku merindukanmu!' yang membuat telinga Hinata begitu pengang. Berusaha keras iblis manis itu melepaskan pelukan mendadak tersebut namun hasilnya nihil, Hinata hanya bisa pasrah menunggu orang yang memeluknya itu lelah dan melepaskannya.

"Nee-san, kenapa diam saja? Nee-san tidak merindukanku ya?" tanya Hanabi lalu mengerucutkan bibirnya imut.

"Tentu aku merindukanmu. Dan kenapa kau di sini? Apa kau dititipkan juga?" Hanabi menepis ucapan Hinata dengan keras.

"Iiish, nee-san pikir aku ke sini jika aku ditendang dari rumah? Aku ke sini untuk mengetahui keadaanmu! Aku begitu merindukanmu nee-san!" gerutu si bungsu sambil memeluk kakaknya dengan erat seperti tadi. Dengan cepat Hinata melepaskan pelukan itu dan menatap adiknya dengan ragu.

"Aku tidak yakin kalau kau jauh-jauh datang ke sini hanya untuk mengetahui keadaanku. Ini pasti ada maunya kan?" Hinata menggelitik Hanabi hingga adiknya itu meronta agar Hinata menghentikannya. Setelah merasa puas, barulah Hinata berhenti dan menunggu jawaban Hanabi.

"Ya… ya… ya… nee-san benar! Aku bertemu denganmu karena tugas sekolah yang tidak bisa ku kerjakan." Hanabi menendang kerikil kecil yang terparkir indah di depan ujung sepatunya.

"Kalau hanya masalah itu, tanyakan saja kepada nii-san. Kau tidak perlu repot-repot datang kesini." ulas Hinata seraya mencubit hidung adiknya gemas.

"Nii-san tidak akan mau! Nii-san bilang, ia sedang sibuk mengurus pekerjaannya! Huufh… padahal aku tahu, ia bukannya sibuk tapi ia tidak bisa mengerjakan tugas itu!" ujar Hanabi tak lupa memasang ekspresi meremehkan Neji.

"Tapi kau kan tahu, aku tidak bisa membuat tugasmu itu. Aku di bumi Hanabi. Di bumi! Tempat dimana kriminalitas selalu terjadi disetiap detiknya, dan aku disini bukan dalan rangka liburan ataupun study tour sekolah. Aku disini menjalankan hukuman dan tentu saja aku tidak bisa pulang sampai tugasku selesai." terang Hinata mencoba membuat adiknya mengerti.

"Aku tahu nee-san, aku tahu! Kalau begitu cepat bunuh seseorang dan kita pulang sekarang! Apa nee-san tidak kasihan melihat kondisiku seperti ini?" sahut Hanabi sambil menyerahkan sebilah pisau padanya. Hinata tersenyum simpul dan mengembalikan pisau itu kepada si empunya.

"Kau belum tahu semuanya Hanabi. Bukan hanya itu yang membuatku bisa pulang, masih ada satu masalah lagi yang harus terselesaikan. Jika hal itu telah selesai, aku janji akan pulang secepatnya." hibur Hinata.

"Tapi, apa masalah itu nee-san? Mungkin aku bisa membantumu?"

"Kau ingin membantuku?" Hanabi langsung mengangguk mantap.

"Kalau begitu sampaikan kepada Sasuke agar hari pernikahannya dengan Sakura dipercepat."

"Heeh?" Hanabi mengerjapkan matanya imut. Memang apa hubungan kepulangan kakaknya dengan pernikahan Sasuke?

"I… itu saja?" sambung Hanabi penasaran. Hinata mengangguk dan mengusak rambut adiknya. Mendengar hal itu Hanabi hanya bisa terdiam pasrah dan menyerahkan sebuah tas kepada kakaknya.

"Ini apa?" tanya Hinata.

"Itu tas."

"Iya, aku tahu ini tas. Tapi apa isinya Hanabi?"gerutu Hinata.

"Pakaianmu nee-san. Ayah lupa mengirimkan baju ganti padamu, jadi aku meminta agar aku yang mengantarkannya." Hinata langsung memeluk adiknya bahagia dan mengucapkan 'Terima kasih' berulang-ulang. Kini, giliran Hanabi untuk pasrah menunggu kakaknya melepaskan pelukan.

"Tapi nee-san janji, saat hari pernikahan kak Sasuke terjadi nee-san harus pulang dan membantuku mengerajakan semua tugas-tugas! Aku tidak ingin tinggal kelas nee-san." Hanabi mulai merajuk dan menarik lengan baju Hinata manja. Sang kakak tersenyum kecil dan merengkuh Hanabi dengan hangat.

"Iya! Bagaimana sebelum kau pulang, kita beli es krim? Hmmm… panas-panas begini melihat es meleleh itu menyegarkan lho..." goda Hinata yang berhasil membuat Hanabi tertarik dan mengajak kakakanya untuk membeli es krim.

.

.

Hinata risih. Ya, tentu saja ia risih. Bagaimana tidak, kini iblis itu tengah duduk manis ditemani es krim rasa strawberry dan siaran televisi mengenai perkembang biakan penguin di Antartika dan semilir angin yang berhembus pelan menggelayuti setiap helai rambut indigonya. Tapi, jauh dari itu semua Hinata juga didampingi oleh tatapan seseorang yang menatap dirinya dan es krim strawberry miliknya secara bergantian.

"Ehm… kenapa kau menatapku seperti itu?" Hinata mulai memberanikan diri untuk bertanya.

"Karena aku ingin tahu, reaksi kimia apa yang terjadi jika api bertemu dengan es krim rasa strawberry." jawab Naruto tanpa menghentikan tatapan ingin tahunya.

"Apa maksudmu? Aku membeli es krim ini untuk ku makan! Bukan untuk ku buang ke dalam api!" protes Hinata.

"Benarkah? Kudengar, iblis itu tercipta dari api yang membara?" Naruto menunjuk salah satu poster yang tertempel di dinding dimana terlihat gambar iblis dengan trisula runcing di tangan kanannya, tanduk tajam yang bertengger di atas kepala, senyuman mengerikan lengkap dengan gigi taring yang berjejer, dan api merah sebagai latarnya.

"Jadi maksudmu, aku iblis yang seperti itu?" melihat anggukan Naruto, Hinat memutar sepasang lavendernya dengan jengah.

"Dengar Tuan Sok Tahu, aku bukan iblis yang berasal dari api neraka dengan raja satan, Lucifer atau sejenisnya! Yaah, walau keadaan lingkungan kerajaanku bisa dikatakan sangat terlihat seperti neraka, tapi itu tidak membuktikan aku iblis seperti postermu itu. Lagipula, iblis itu terlihat jelek!" decih Hinata sambil menunjuk wajah Naruto dengan sendok es krim mini miliknya.

"Memangnya kau pikir kau itu cantik?" guyon Naruto dan memandang Hinata dengan remeh. Hinata hanya bisa diam dan menyuapi es krim strawberry dengan kesal, bisa-bisanya lelaki beriris biru itu bertanya pertanyaan yang begitu mudah. Sudah tentu Hinata cantik! Jika Naruto tidak percaya, coba saja tanya kepada Hiashi sang ayah.

"Hinata, bagi es krim mu itu. Kau tidak lihat, air liurku sudah menetes satu liter karena melihatmu memakan es krim." perlahan Naruto mencoba mengambil sendok mini kepemilikan Hinata dan mencoba memakan es krim strawberry yang terlihat menyegarkan. Hinata tersenyum usil dan malah memakan es krim itu dengan amat pelan, seolah-olah ia tengah membintangi iklan es krim yang kini ia cicipi.

"Hmm~ rasanya manis sekali~" promo Hinata yang sukses membuat Naruto marah, dengan beringas Naruto mengambil es krim itu dan langsung menerima penyerangan dari Hinata. Jika lelaki itu ingin memakan es krim, kenapa tidak ia beli sendiri?

"Cepat kembalikan es krim ku!" perintah Hinata dengan tegas, tapi Naruto malah terlihat bahagia dan menjulurkan lidahnya.

"Kalau aku tidak mau, bagaimana?" Naruto berjalan mendekati Hinata dan menyembunyikan barang sengketa itu di belakang punggungnya.

"Aku akan mengambilnya secara paksa!"

"Kalau begitu, silahkan Anda coba Nyonya Sok Cantik!"

Amarah Hinata yang terlalu mudah terpancing membuat gadis bersurai indigo itu bertingkah brutal layaknya buruh yang melakukan aksi demo di salah satu instansi pemerintahan. Bedanya, Hinata tidak sempat membakar ban di tengah jalan, menghancurkan pintu gerbang dan membopongnya sebagai tanda kesuksesan, mengangkat karton setinggi mungkin yang bertuliskan 'Kembalikan es krim ku Tuan Sok Tahu!', berteriak dan mengumandangkan kata-kata yang menentang ketidakadilan yang dialami oleh es krimnya menggunakan toa, dan mengajak rekan seperjuangan dalam membasmi hal yang ia rasakan kini lalu membuat KPES (Komisi Perlindungan Es krim Strawberry) dimana ia menjabat sebagai ketua.

Sekali sentakan, Naruto telah oleng dan memegang salah satu pondasi kamarnya dengan erat. Sesekali ia mengangkat kotak es krim itu agar Hinata tidak bisa menggapainya, Hinata mengusak rambut berkilaunya dengan gemas. Bagaimana mungkin iblis dengan kasta tinggi sepertinya kalah dengan pemuda bumi antah berantah yang baru beberapa hari ini ia kenal?

"Kembalikan es krim ku Naruto! Kalau tidak…"

"Kalau tidak, apa?" potong Naruto.

"Kalau tidak, kupatahkan tanganmu itu seperti tangkai sapu rumahmu kemarin!" ancam Hinata, Naruto terdiam dan mengembalikan es krim Hinata secara baik-baik. Ia masih ingat kejadian mengerikan itu, dan ia masih ingat bahwa tangannya ini masih perlu digunakan untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya yang menumpuk. Hinata tersenyum bahagia lalu menepuk pundak Naruto pelan,

"Good boy~"

"Jangan panggil aku seperti itu! Kau pikir aku ini anak anjing apa?" Hinata tertawa renyah yang semakin membuat pipi Naruto memanas menahan malu.

"Hey, berhenti tertawa! Kepalaku berdenyut mendengar suaramu itu!" gerutu Naruto masih dengan pipi merona, Hinata mencoba menetralisir tawanya dan menghembuskan napasnya perlahan.

"Naruto, ayo buka mulutmu!"

"Untuk apa?" ujar Naruto kesal.

"Ck, cepat buka saja!" dengan malas Naruto membuka mulutnya dan menatap Hinata dengan datar. Lain halnya dengan Hinata yang langsung menghujani lidah Naruto dengan sesendok es krim yang sempat mereka rebutkan. Naruto langsung terdiam dan pipinya kembali berwarna merah saat Hinata tersenyum kecil.

"Aku sudah memberikan es krim, kalau begitu jangan minta lagi ya!" iblis cantik itu meninggalkan Naruto dan berpaling menuju siaran penguin yang sempat ia lewatkan lalu memakan es krim itu dengan lahapnya. Tak memperdulikan kondisi Naruto dengan jantung berdebar keras, pipi yang merona, dan mata yang melebar sempurna. Sepertinya, pemuda ini telah jatuh dalam pesona iblis manis yang kini tinggal bersama dengannya.

.

.

Jujur, pikiran Naruto melayang jauh dari apa yang ia perhatikan. Semerdu apapun suara dosen yang mengajar di kelasnya kini, tak akan dapat mengalihkan dari apa yang ia bayangkan sekarang. Otaknya hanya dipenuhi oleh nama Hinata, wajah Hinata, senyum Hinata, mata tenang Hinata, dan suapan sesendok es krim yang diberikan Hinata kepada dirinya secara cuma-cuma. Sesekali pemuda bersurai kuning itu tersenyum aneh yang sempat membuat teman sekelasnya ketakutan, salah satu temannya (yang masih berani melihat senyum gigi sehat Naruto) melempar kepala Naruto dengan kertas kecil. Sontak pemuda itu tersadar dan menatap papan tulis yang dipenuhi tulisan-tulisan aneh milik dosennya. Dengan cermat Naruto mulai mencoba memahami materi kuliahnya pada saat itu.

Naruto anggap, tak ada yang baru dari tulisan di papan tulis. Hanya ada tulisan monosakarida, disakarida, polisakarida, lalu maltosa, fruktosa, selulosa, pedrosa, sentosa, rasa manis, Hinata manis… ah, seperti pemuda berkulit sawo itu kembali membayangkan wajah manis Hinata dan terbuai dengan segala hal yang berhubungan dengan Hinata. Lelaki itu kembali tersenyum aneh dan lagi-lagi seseorang melempar kepalanya dengan suatu benda. Bedanya, jika tadi berupa kertas kecil akibat ulah temannya, sekarang adalah spidol hitam yang dilemparkan dosennya penuh amarah.

"Sudah sampai mana perjalananmu itu Tuan Uzumaki? Apakah Anda telah transit di Singapura?" cerca pria gendut dengan mata sipit kepada Naruto yang sukses membuat kelas itu menjadi riuh penuh tawa. Naruto menunduk pelan dan meminta maaf kepada dosennya lalu mengembalikan benda sakral berupa spidol hitam kepada si empunya. Dengan pelan Naruto menghela napasnya lalu mengembalikan seluruh pikirannya kepada papan tulis yang masih dipenuhi coretan-coretan tinta hitam.

"Naruto, kau kenapa sih? Lagi mikirin hutang ya?" cerocos Lee yang tepat menduduki kursi di sebelah Naruto.

"Kau pikir hidupku sesulit itu apa?" Naruto memukul kepala Lee hingga rambut mangkuk itu berarak spontan.

Tak butuh waktu lama, sang dosen memasukkan semua alat-alat yang telah dikeluarkannya dan memasukkannya ke dalam tas hitam jenjeng yang telah dipenuhi buku-buku tebal. Dengan bahagia ia menutup kelas pada saat itu juga dan berjalan keluar dengan langkah ringan seakan-akan telah menyelesaikan misi tersulit yang bahkan FBI belum tentu bisa menempuhnya.

"Uuugh… akhirnya dosen itu keluar juga…" Naruto menyandarkan bahunya dan memijit pelipisnya.

"Aku yakin, kau sedang memikirkan hutang. Aku mau meminjamkan uangku padamu saat ini juga." Lee mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dan menyuguhkannya kepada Naruto. Ooh, apa Naruto lupa mengatakan jika Lee ini adalah mahasiswa yang selalu ingin dianggap orang kaya namun saat melihat penampilannya lebih pantas dikatakan sebagai pengamen jalanan yang begitu menyukai The Beatles?

"Tutup mulutmu itu Lee!" Naruto kembali memukul kepala Lee, bedanya kini ia memukul dengan buku tulis.

"Kau pikir pukulanmu itu tidak sakit, Bodoh?"

"Kau pikir ucapanmu itu tidak menganggu, Baka!"

Sontak seisi kelas hening setelah mendengar dua pria yang baru saja berteriak diiringi kata sifat yang mencerminkan diri mereka masing-masing dan deru napas mereka yang tak terkontrol. Naruto melihat ke sekeliling kelas, dan semua temannya juga melihatnya dengan takut-takut. Spontan Naruto menggaet tas miliknya dan melangkah menuju keluar kelas. Mengikuti jejak sang dosen yang lebih dulu beberapa menit darinya.

Naruto mengerutkan kening bingung. Baiklah, Naruto mengerti jika lorong memang selalu riuh kecuali di malam hari. Tapi keadaan lorong sekarang dapat dikatakan berbeda. Lorong masih tetap riuh, tapi sepertinya kebisingan itu terjadi hanya karena satu tema. Ya! Satu tema yang tidak diketahui Naruto. Tak sengaja manik birunya melihat Kiba yang juga tampak ikut meramaikan situasi lorong. Naruo berlari kecil dan memukul pundak Kiba dengan pelan.

"Ada apa sih Kiba?" tanya Naruto. Kiba menoleh ke belakang dan menjawab pertanyaan tersebut.

"Oooh… itu, terjadi kebakaran."

"Kebakaran? Kok sampai seheboh gini?"

"Soalnya kebakarannya di salah satu toko kue yang enggak jauh dari sini." lapor Kiba dan kembali mengikuti pembicaraan mengenai kebakaran itu bersama temannya. Sedangkan Naruto diam tak berkutik, wajahnya tegang dan memucat. Pikirannya hancur dan hanya bisa mencemaskan keadaan Hinata saat itu juga. Dengan langkah seribu Naruto berlari dan memastikan jika Hinata baik-baik saja. Jika tidak, Naruto tidak tahu lagi apakah masih ada hari esok atau tidak.

.

.

Sasuke menyesap cappuccino hangat dengan elegant. Cangkir putih dengan corak garis-garis biru beserta piring kecil dengan motif serupa semakin menunjukkan kasta sang pemuda berambut hitam itu. Suasana begitu damai, saat itulah Sasuke mencoba untuk membaca buku dan membuka halaman pertama buku hitam tersebut. Tapi itu terhalang saat mendengar bunyi 'Gedebukk!' di lantai kamar santainya.

"Auuuhhh!" rintih Hanabi. Sasuke mendekati adik Hinata itu dan membantunya untuk berdiri.

"Kau baik-baik saja Hanabi?"

"Apakah jatuh di lantai rumah Uchiha yang licinnya minta ampun dapat memastikan keadaanku baik-baik saja?" sanggah Hanabi sambil memasang muka 'Jangan berpura-pura polos Uchiha.'

"Hey, aku bertanya dengan sopan. Kenapa kau malah kesal padaku?" Sasuke merasa tidak terima lalu meletakkan bukunya di atas meja.

"Wajar saja aku kesal! Pertama, aku berkunjung kesini dan pelayan bilang 'Maaf, Tuan Sasuke sedang sibuk, mungkin kau bisa menemuinya lain kali.'. Kedua, aku mencoba menyelinap dan malah terjatuh dengan posisi yang tidak elit. Ketiga, aku merasa dibohongi oleh pelayan Uchiha setelah melihat kondisi kakak yang jauh dari kata sibuk. Dan yang terakhir, gara-gara kakak tidak nikah dengan kak Sakura, nee-san tidak mau pulang dan tugas sekolahku tidak selesai sampai sekarang!"

Sasuke hanya bisa diam. Jujur, ia tidak dapat mendengar pidato Hanabi dengan jelas. Ia tahu jika Hanabi telah sampai menemuinya dengan perjuangan yang keras (menurut Hanabi) ditemani emosi yang meletup-letup berarti ia dalam situasi genting. Sasuke meminta si bungsu Hyuga itu untuk duduk dan mengontrol emosinya. Setelah merasa aman, Sasuke mulai membuka pembicaraan.

"Jadi, kau kesini untuk apa Hanabi?"

"Aku kesini untuk menyampaikan pesan dari nee-san agar kak Sasuke menikah dengan kak Sakura dalam waktu dekat."

Sasuke menunduk dalam. Ucapan Hanabi barusan suskes membuatnya tertohok akan menghadapi kenyataan. Sedangkan Hanabi hanya bisa menatap Sasuke dengan bingung.

"Eeumm… apa ada yang salah dari ucapanku kak?" tanya Hanabi ragu-ragu. Sasuke mengangkat kepalanya lalu menggeleng.

"Tidak ada yang salah, hanya saja…"

"Hanya saja apa?"

Sasuke menghela napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Sedetik kemudian, pemuda itu tersenyum kecil dan berucap,

"Hanabi, katakan kepada kakakmu bahwa aku tidak bisa menikah dalam waktu dekat."

"KENAPA SEPERTI ITU?!" pekik Hanabi tidak terima. Alasannya? Jika Sasuke tidak bisa menikahi Sakura secepat mungkin, maka kakaknya tidak akan pulang dan TUGASNYA DAPAT DIPASTIKAN TIDAK AKAN SELESAI SAMPAI LIBURAN BERAKHIR DAN IA TIDAK AKAN MEMBIARKAN HAL BURUK ITU TERJADI!

"Ta… tapi, kenapa kak?"

"Aku sudah menyerah Hanabi, ayahku begitu sulit untuk diajak berkompromi."

"NGGAK BISA GITU DONG KAK!" protes Hanabi dengan keras, sampai-sampai membuat telinga Sasuke berdengung.

"Kakak itu macho! Kakak harus terus mencoba sampai titik darah penghabisan!" ujar Hanabi dengan semangat yang menggelora.

"Tapi ayahku itu terlalu keras untuk diajak bicara Hanabi, dia seperti batu."

"Kak, sekeras apapun batu, jika ia selalu ditetesi air maka ia akan terkikis juga!"

Sontak semangat Sasuke terisi setelah mendengar khutbah singkat dari Hanabi yang lebih mirip seperti Bung Tomo yang ingin mengenyahkan Belanda dari tanah Bandung. Sasuke mengepalkan tangannya kuat dan meyakinkan dirinya bahwa ia bisa mengubah pendirian sang ayah. Sasuke berjalan dengan gagah menuju ruang kerja ayahnya meninggalkan Hanabi yang terdiam. Beberapa saat kemudian gadis itu tersenyum lebar dan merayakan keberhasilannya. Itu berarti, masih ada peluang mengenai ketuntasan tugas sekolahnya.

.

.

Sedangkan di lain tempat, tampak seorang lelaki tengah berlari dengan napas terengah-engah. Sering kali ia menoleh ke kiri dan ke kanan seolah-olah mencari sesuatu. Langkahnya yang lebar semakin mempercepat jaraknya dari satu titik ke titik yang lain, rambut jabriknya bergoyang-goyang pelan jika kepalanya tengah berputar. Tak jarang pemuda tersebut bertanya kepada orang berlalu-lalang lalu berterima kasih.

"Hosh… hosh…" deru napas Naruto, ia yakin betisnya akan semakin membesar setelah berlari sprint dari kampus menuju jalan yang sama sekali tidak ia ketahui. Ia menyeka keringat yang sempat mengalir di dahinya dan menyandarkan punggung lebarnya di salah satu dinding kios. Matanya menatap jalan dengan nanar, rasa haus yang menggerogotinya tak ia pedulikan. Otaknya hanya bisa memikirkan satu hal, yaitu Hinata.

"Huufhh… dimana kau sekarang?"

.

.

"Ayolah ayah, ini permintaanku yang terakhir!" bujuk Sasuke kepada Uchiha Fugaku. Fugaku hanya diam dan tidak mengacuhkan anak bungsunya itu.

"Ayaaah…" Sasuke mulai merajuk. Fugaku melepaskan kaca mata yang sempat menduduki hidung mancungnya lalu menatap Sasuke dengan seksama.

"Sekali ayah katakan tidak. Maka hal itu tidak akan terjadi!" pertegas Fugaku.

"Tapi ayah, apa salahnya ayah mengizinkan aku menikah dengan Sakura?" tanya Sasuke.

"Sasuke, kau tahu jika kita ini adalah keluarga terpandang dan memiliki kasta yang tinggi? Lalu apa mungkin ayah mengizinkan keturunan Uchiha menikah dengan kasta bawah? Jawabannya tidak Sasuke." Fugaku kembali memasang kaca mata dan membaca buku.

"Tidak ada hubungan kasta dengan cinta ayah!"

"Tentu saja ada!" Fugaku menatap Sasuke tajam. Sasuke telah membatin untuk menyerah, ia hembuskan napasnya perlahan dan mengintropeksi diri. Seharusnya ia tidak mendengarkan ucapan Hanabi tadi. Mungkin ayahnya seeperti batu, tapi tidak serapuh batu kapur yang bisa dihancurkan dengan menggesekkannya ke lantai kasar atau ditetesi air .

"Baiklah jika itu mau ayah, tapi dengan siapa aku harus menikah?" Sasuke menduduki sofa dan memandang Fugaku dengan memelas. Mungkin saja ayahnya itu luluh setelah melihat tampak menyedihkan anaknya itu dan mengizinkannya menikah dengan Sakura, plus ia akan diberi uang lebih untuk operasi plastik agar wajahnya tidak senista tadi. Tapi, memang sudah dasarnya tak berhati, Fugaku tak memperdulikan ekspresi anaknya yang persis anak anjing yang ditelantarkan tuannya di pinggir jalan dan memohon untuk dipungut, malah pria tua itu berdehem pelan.

"Sesungguhnya, ayah telah lama memilihkan calon untukmu." sekarang Sasuke tahu, kenapa ia tidak bisa mengganggu gugat keputusan sang ayah. Sasuke mulai heran, ia bertaruh bahwa ayahnya telah memikirkan hal ini matang-matang bahkan sebelum ia berpacaran dengan Sakura.

"Siapa itu ayah?"

"Yang pasti ia memiliki kasta yang tinggi seperti keluarga kita."

Bolehkah Sasuke mengambil mikrofon Adam Levine lalu berteriak 'Gue mah juga tauuuu kalau tu cewek kastanya tinggi!' sambil joget-joget seperti di video klip Move like Jagger nya Maroon 5? Kalau kasta perempuan pilihan itu rendah, tidak mungkin kan Sasuke dilarang menikah dengan Sakura?

"Siapa perempuan itu ayah?"

"Sepertinya kau sangat ingin tahu?"

Hyuuuhh… sabar Sasuke, sabar… ini hanya segelintir ujian dari ayah kandungmu dengan hati tak bernurani. Tampak pria bermabut hitam itu mengelus dada bidangnya berulang-ulang.

"Iya, aku ingin tahu. Siapakah dia sebenarnya ayah?" Fugaku berhenti membaca buku lalu menapa Sasuke dalam-dalam.

"Dia itu Hinata, Hyuga Hinata."

"WHAAAAT?"

.

.

.

TBC

ANCUUUUUUUUUURRRRR!

Ada yang miss sama Megumi? (Plisss… ada dunk #plaak! * just kidding) seperti biasa, author yang hobinya telat atau slowly update meminta maaf kepada para readers. You know lah ya ; tugas numpuk, makalah numpuk, bahan presentasi harus dicari, ulangan empat mata pelajaran dalam satu hari (ini serius loh! Kalau enggak salah Megumi uh empat kali hari Rabu kemarin) buku cetak belum dapet, pokoknya sedihlah! Ini Megumi sempet-sempetin ngetik biar kesannya Megumi enggak nelantarin fic, kalau agak amburadul gitu, yaaaah… mohon dimalkumi aja. Kadang ide Megumi dateng, tapi enggak sempat ngetik. T.T

Nah di chap ini, para readers udah tahu kan siapa yang nabrak Hinata, dan mengenai apakah Hinata tahu orang tua Naruto, sebenarnya (eheeem) hime kita yang polos itu tahu, tapi dia lupa. Nanti di chap akhir (mungkin) Hinata akan bertemu dengan orang tua Naruto (minta dijadiin istri kayaknya *ditendang Hinata ke Afrika)

Yowes lah, kalau gitu makasih buat yang udah review/follow/fav/read. Kalian itu, bweeeh… number one laah pokoknya!

BIG THANKS TO:

Awim Saluja, blackschool, Hayati JeWon, OneeKyuuChan, Himamura Kiiromaru, fjuknii . lotogg, The KidSNo OppAi, linkinpark . hoobastank, ORI, oxcid, penguin, nemo, Misti Chan, Namaki Shidota, Naruhina-san, D. oktaviani, sitieuhye, hqhqhq.

The last of my bacot : review plisss…