Kedua insan itu dirundung kesedihan yang begitu mendalam. Hinata yang kini berada di seberang jalan apartemen Shiori menatap jendela kamar Naruto yang telah ditutupi gorden. Sedangkan Naruto memandang Hinata yang berada di seberang jalan dengan tatapan sedih. Dalam detik itu juga, Naruto dan Hinata bergumam pelan,

"Aku yang terlalu bodoh untuk mencintaimu, atau kau yang tidak peka?"

.

.

DEVIL AND THE BAD BOY

.

.

.

Kini, tujuan Naruto hanya satu. Persemayamannya pada malam hari yang orang awam sebut sebagai diskotik. Dengan beban pikiran yang tak dapat ditampung lagi, Naruto berjalan ke arah bartender yang tengah bekerja dan memasang wajah lusuh. Seorang lelaki berperawakan lumayan tinggi menoleh ke arah Naruto dan bertanya,

"Kali ini, apa yang ingin kau pesan Naruto?"

"Ck, seperti biasa!" balas Naruto gusar. Sang bartender hanya mengangguk paham dan mulai meracik minuman beralkohol sesuai pesanan dari konsumennya. Tak butuh waktu lama, segelas minuman telah disodorkan kepada Naruto.

"Ini." ucap si bartender. Naruto mulai menegak minuman beralkohol itu sekali teguk. Ia gebrak meja kayu di depannya dan menatap si bartender dengan sinis.

"Sudah kubilang seperti biasa! Kenapa kau memberikan minuman seperti ini kepadaku?! Kau pikir aku ini pemula, ha?!" bentak Naruto kasar.

"Tapi, ini memang pesanan mu yang biasanya Naruto." bela si bartender.

"Argh, kau jangan membantah! Sekarang, berikan aku minuman dengan kadar alkohol yang tinggi!"

"Ta… tapi, ini…" lekas Naruto menutup mulut sang bartender dan meletakkan gelas itu di atas meja.

"Cepat lakukan apa yang aku perintahkan!" dengan ketakutan, bartender di diskotik itu mengambil gelas yang betengger indah di atas meja dan kembali membuat minuman beralkohol untuk Naruto. Sedangkan orang yang melihat kejadian itu mulai menjarak dari Naruto dan mencari posisi aman untuk keselamatannya. Karena mereka telah hapal, jika Naruto mulai bertingkah seperti tadi, maka siapapun yang berani mendekatinya akan pulang dengan tubuh yang dipenuhi luka memar. Sebut saja salah satu korban dari Naruto adalah Kiba. Yups… pemuda bertampang preman itu pernah diberikan hadiah berupa bogem mentah oleh Naruto saat Naruto benar-benar mabuk. Karena pukulan itu, Kiba terpaksa menitipkan absen kepada teman sekelasnya selama seminggu hingga lukanya benar-benar pulih.

"Ini." bartender kembali menyodorkan segelas minuman beralkohol. Saat minuman itu telah berada dalam organ pencernaannya, semburat merah mencuat di pipi Naruto. Bibirnya yang tadinya terkatup berubah menjadi melengkung manis seakan-akan tengah memenangkan lotere.

"Hahahaha…" tawa Naruto menggelegar sampai membuat orang lain bingung.

"Naruto, kau baik-baik saja?" ucap si bartender khawatir. Mendengar itu, satu pukulan berhasil diberikan Naruto kepada bartender yang tak bersalah.

"Hahahahaha…." Naruto masih tertawa dan menghabiskan minumannya hingga tetes terakhir. Melihat kondisi ricuh itu, penjaga diskotik pun mulai bertindak dan membopong Naruto keluar dari klub malam. Dengan kasar, dua penjaga itu mendorong pemuda berambut jabrik hingga tubuh Naruto ambruk ke aspal.

"Kalian akan menyesal (hiks) karena telah mengusirku! Apa kalian (hiks) tahu, aku belum membayar (hiks) minuman yang kupesan!" teriak Naruto yang diselingi cegukan berantai. Pipinya masih tetap merona merah. Kedua tangannya memeluk tonggak lampu jalan agar sepasang kakinya dapat berdiri dengan benar.

Naruto berjalan menggunakan sisa keseimbangan yang ia punya, tak jarang ia terjatuh dan kembali berdiri sebisa mungkin lalu melanjutkan perjalanannya. Tapi, kekuatannya telah terlalu terkuras hingga alat geraknya tak bisa lagi berfungsi. Naruto kini hanya bisa bersandar di dinding salah satu kios dekat apartemennya Bibirnya melantunkan lirik lagu yang masih ia ingat, yah… setidaknya otaknya masih bisa mengingat sesuatu.

Iya, ia masih ingat jika disini adalah tempat pertama kali ia bertemu dengan Hinata. Samar-samar Naruto mengingat saat Hinata membopong dirinya ke dalam kamar hingga iblis cantik itu terjebak di dalam pelukan Naruto. Ingatannya berlanjut saat ia menyuruh Hinata untuk membersihkan kamarnya yang hampir mirip dengan gudang rumah neneknya. Dengan polosnya, Hinata benar-benar melakukannya.

"Aku masih mengingat hal itu Hinata," gumam Naruto.

Otaknya masih menyimpan kenangan saat Hinata mengatakan jika ia adalah iblis dari suatu kerajaan (dan Naruto ingat betul suara tawanya saat Hinata mengatakan jika ia iblis buangan). Ia juga ingat saat Hinata berperan layaknya saudara waktu Kiba datang ke kamar Naruto. Di tambah lagi, ia sangat ingat rasa manis es krim strawberry yang disuapi Hinata. Jujur, saat itulah Naruto menyukai Hinata. Oke ralat, mencintai Hinata.

"itu adalah masa- masa yang manis." komentar Naruto dan menarik seulas senyum di bibirnya.

Tapi, senyuman itu berubah menjadi suram saat ia mengingat Hinata memeluk seorang laki-laki yang tidak ia kenal. Hatinya remuk hingga lelehan air mata meluncur begitu saja di pipinya.

"Baru kusadari…. Cinta ku bertepuk sebelah (hiks) tangaaaan~ huwoooo~ huwoo~" suara sumbang itu berasal dari pita suara Naruto.

"Kau pikir sudah jam berapa sekarang, Baka!" umpat kakek tua sambil menenteng sekantung sampah.

"Apa di rumahmu tidak punya jam (hiks), hingga kau bertanya kepada ku?" lawan Naruto. Kakek tua itu menoleh ke arah Naruto dan menatap pria berambut jabrik itu dengan malas.

"Ck, ternyata itu kau Naruto. Kenapa kau ada disini? Apa kekasihmu tidak lagi mengantarmu untuk pulang ke apartemen?" tanya kakek itu dan berjalan mendekati Naruto.

"Hiks? Maksudmu Hinata? Iblis polos itu?" lontar Naruto. Kakek itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengusak surai Naruto dengan hangat.

"Ooh, aku tahu jika kau telah putus dengan gadis itu. Tapi kau tidak boleh mengatakan mantan kekasihmu itu sebagai iblis."

"Tapi dia (hiks) memang iblis!" bantah Naruto. Si kakek tua tidak menggubris ucapan Naruto dan membopong tubuh Naruto lalu mengantarkannya ke apartemen.

"Padahal aku pikir, aku akan pensiun untuk mengantarkanmu ke apartemen saat mantan kekasihmu itu datang." cerocos si kakek sambil memandangi wajah Naruto yang tampak tertidur.

"Menurutku, kalian adalah pasangan yang serasi. Tapi, yah… mungkin dewa belum menakdirkan kalian untuk bersama." sambung kakek itu dan membuka pintu kamar Naruto. Dengan hati-hati, ia meletakkan Naruto di atas sofa dan mengunci kamar si pria yang tengah mabuk. Selang beberapa detik, Naruto membuka kelopak matanya dan memikirkan ucapan si kakek pemilik kios di depan apartemennya.

"Pasangan yang serasi…"

.

.

Di sebuah ruangan yang biasa disebut kelas, tampak lelaki berambut kuning tengah memainkan pensil mekaniknya dengan jengah. Jika tangan kanannya terasa pegal, maka pensil mekanik itu akan dimainkan oleh tangan kiri, dan begitu sebaliknya. Sesekali ia menghela napas pelan dan kembali memainkan pensil berwarna hitam itu. Tak sengaja ia mendengar percakapan teman sekelasnya.

"Kau tahu, kemarin dia memegang tangan cewek lain." curhat seorang gadis.

"Benarkah? Kamu yang sabar ya…" hibur temannya dan memeluk tubuh ringkih lawan bicaranya. Ingin rasanya Naruto berjalan kesana dan berucap,

"Itu aja lo nangis, liat gue dong! Belum jadi pacar aja udah disakiti kayak gini. Mana yang lebih pedih coba? Hey, kok gue enggak di hibur sih? Pelukan buat gue mana?"

Naruto langsung menggubris ide gilanya itu dan melanjutkan memainkan pensil mekaniknya. Tatapan yang dulu tampak cerah apabila melihat gadis cantik memasuki kelasnya, kini berubah total menjadi tatapan kosong diikuti ekspresi malas pada wajahnya.

"Naruto, lihat! Si Ino makin seksi aja." komentar Lee seraya menyenggol lengan Naruto.

"Hm." gumam Naruto dan melihat Ino sekilas, lalu kembali memainkan pensil. Lee yang merasakan kejanggalan menatap Naruto dengan bingung. Kenapa Naruto berubah menjadi pendiam seperti ini? Apa ia tidak sarapan pagi sehingga ia tak memiliki tenaga untuk membalas ucapan Lee? Apa Naruto tidak menyukai gadis seksi dengan mata biru dan berambut pirang lagi? (Lee masih ingat saat Naruto mengatakan tipe pasangan idealnya itu adalah gadis dengan mata biru dan berambut pirang. Naruto menganggap, jika ia berkencan maka orang yang melihatnya akan berkomentar bahwa mereka adalah pasangan yang serasi, karena memiliki warna mata dan rambut yang sama. Well… saat itu Lee hanya bisa mengangguk paham dan menatap Naruto dengan penuh keanehan)

"Sepertinya aku harus pergi." ujar Naruto dan menggaet tas miliknya keluar kelas. Ia sudah terlalu kenyang mendengar celotehan (walau orang lain menganggap itu curhat) dari teman sekelasnya, menyisakan lelaki berambut hitam seperti mangkuk masih dengan tatapan bingung.

Dengan malas Naruto menatap teman-temannya yang berlalu lalang di lorong. Bahkan ia tak peduli jika tapak sepatunya tak sengaja menginjak permen karet. Entahlah, pikiran pemuda berkulit sawo matang itu tengah kosong. Sampai-sampai ia tak menyadari jika pundaknya tak sengaja menyenggol seseorang yang tengah berjalan.

"Perhatikan jalanmu, Bung!" umpat seorang pemuda kepada Naruto. Naruto melihat korbannya dan meminta maaf.

"Oh, maaf Kiba. Aku tidak sengaja." Naruto kembali melanjutkan perjalanannya masih dengan pikiran kosong. Tapi itu terhenti saat Kiba menahan lengan Naruto.

"Kau terlihat tidak bersemangat hari ini. Apakah kau memiliki masalah?"

Ugh, lagi dan lagi. Kiba menanyakan apakah Naruto memiliki masalah. Apa Naruto harus memuji Kiba seperti dulu bahwa pria pecinta anjing itu lebih cocok mengambil psikologi di banding Sastra Jepang? Lalu Kiba akan berucap, 'Ah, kau bisa saja Naruto!' dan sibuk mengorek-orek informasi mengenai masalahnya lalu Kiba akan membalasnya dengan pituah-pituah yang tidak penting? Hey, Naruto tidak ingin merasakan déjà vu aneh seperti itu.

"Itu hanya perasaanmu saja Kiba." elak Naruto diiringi tawa hambar. Kiba yang merasa iba memberikan sebotol minuman soda kepada Naruto. Dengan cepat pria beriris biru itu mengambil botol yang disodorkan Kiba dan meminumnya.

"Aku tahu sekarang kau tengah patah hati."

Pruuuuuffft!

Sukses! Naruto sukses mengeluarkan cairan soda yang baru beberapa detik menginap di dalam rongga mulutnya. Naruto menyeka tetesan air di sudut bibirnya dan langsung menatap Kiba dengan tatapan tak percaya. Sejenak pria itu berpikir. Apakah ia memang harus memuji Kiba, karena Kiba layak mengambil psikologi?

"Dan aku yakin jika gadis yang membuatmu seperti ini, sangat dekat denganmu."

Aji gile!

Ingin rasanya Naruto bertepuk tangan riuh dan mengacungkan kedua jempolnya ke arah Kiba. Kenapa pemuda bertampak sangar ini sangat peka dengan perasaan seseorang? Tapi, untuk menjaga image, Naruto hanya diam dan membiarkan Kiba kembali menerka-nerka apa yang dialami Naruto kini. Tapi, Kiba tampak tak ingin mengoceh lagi. Dengan kecewa Naruto kembali menegak minuman soda tersebut.

"Apa gadis itu Hinata?"

Pruuuuuuuuffffffffftttt!

Naruto kembali meyemprotkan minuman soda dari mulutnya hingga lantai di lorong terlihat becek. Oke, sekarang di kepala Naruto diisi oleh beberapa pertanyaan. Pertama, kenapa mulutnya tidak bisa menahan minuman yang sudah dua kali ia semburkan? Kedua, kenapa Kiba melanjutkan ramalannya dengan tiba-tiba? Yang paling penting, KENAPA SEMUA TEBAKAN KIBA ITU BENAR? URRGGGGHH!

"Ugh, kau begitu jorok Naruto." umpat Kiba seraya menghapus beberapa tetes soda yang melekat di baju nan ia kenakan. Lain halnya dengan Naruto yang malah mengguncangkan pundak Kiba berulang-ulang.

"Kau gila, ha? Mana mungkin aku menyukai saudara ku sendiri?!" protes Naruto.

"Kau pikir aku bodoh, ha? Mana mungkin aku percaya jika Hinata itu saudara jauhmu dengan penjelasan yang bertele-tele. Bahkan nenek-nenek katarak pun tahu kalau kalian itu tidak ada kemiripan sama sekali." Naruto tercengang dan membulatkan bibirnya.

"Kiba, kau memang pantas mengambil fakultas psikologi!" puji Naruto penuh dengan keikhlasan dalam lubuk hatinya. Kiba yang merasa dipuji, membusungkan dada dan tersenyum penuh berwibawa. Tidak lupa lubang hidungnya yang kembang-kempis menahan rasa bangga.

"Sudah sudah, lepaskan tanganmu dari pundakku Naruto." perintah Kiba dan langsung dipenuhi oleh Naruto.

"Jadi menurutmu, apa yang harus aku lakukan Kiba?" kini Kiba memasang ekspresi serius dan menatap Naruto dengan intens.

"Kau harus mengutarakan semua yang ingin kau katakan kepada Hinata."

"Heh? Tapi aku telah…"

"Ck, kau katakan sekarang, atau tidak sama sekali."potong Kiba spontan. Lambat laun, ucapan Kiba meresap kedalam hati Naruto. Naruto merenungi nasihat Kiba yang (kebetulan) berguna untuk kelanjutan kisah percintaannya.

"Tapi, aku tidak tahu Hinata ada di mana." keluh Naruto.

"Sobat, sekarang Hinata pasti ada di toko kue bibi ku." jawab Kiba santai.

"Ha? Bukannya toko kue itu kebakaran?"

"Dasar tidak sopan! Yang kebakaran toko kue yang lain! Jika bibi ku mendengar, ia akan mengukusmu bersama brownies!" Kiba menjitak kepala Naruto penuh kekesalan.

"Kalau begitu di mana toko kue milik bibi mu?" dengan sedikit kesal, Kiba menuliskan alamat toko kue milik bibinya dan memberikan secarik kertas yang telah ia isi dengan coretan tinta hitam. Naruto mengambil kertas itu dan berlari menjauhi Kiba. Sedangkan Kiba hanya tersenyum kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya,

"Untung kemarin Hinata curhat padaku. Kalau tidak, mana aku tahu masalah Naruto."

.

.

"Kau ada masalah Hinata?" intrupsi salah satu rekan Hinata yang juga bekerja di toko milik bibi Kiba. Hinata menoleh ke sumber suara dan menatapnya dengan sendu.

"Ti… tidak… aku hanya lelah."

"Kalau begitu, sebaiknya kau beristirahat dulu." saran temannya itu dan menyabet nampan yang dipegang Hinata.

"Terima kasih." balas Hinata dan berjalan lunglai ke tempat istirahat. Jari lentik miliknya memijat pelipisnya berharap akan semua beban pikiran benar-benar sirna. Ingatannya masih jernih menerangkan momen di mana Naruto mengusirnya dengan alasan yang tidak pernah ingin Hinata dengar. Ya, Hinata tidak ingin jika pria yang ia cintai malah membencinya. Hinata menghempaskan tubuhnya ke atas sofa dan menerawang langit-langit ruangan, mencoba menetralisir masalahnya dengan pria berkulit sawo matang tersebut. Terdengar suara ketukan dari balik jendela yang menyadarkan Hinata untuk menghentikan pikirannya agar tidak melayang lebih jauh. Dengan malas Hinata membuka jendela lalu menoleh ke kiri dan ke kanan.

"Nee-san! Nee-san!" panggil seseorang dengan setengah berteriak. Hinata melihat ke atas dan membulatkan matanya sempurna.

"Kenapa kau di sini Hanabi?" tanya Hinata dengan penuh kepanikan. Bagaimana tidak, kini adik kandungnya itu tengah berada di pinggir jalan dan dengan beraninya mengepakkan sayap mungil di punggungnya sambil tersenyum bahagia. Tak memperdulikan tatapan bingung dari pengguna jalan yang dengan polosnya menganggap bahwa ia hanya melihat gadis kecil yang tengah cosplay di pinggir jalan dan sayap kecil di punggungnya itu telah dikaitkan tali hingga ia terlihat layaknya peri yang bisa terbang.

"Untuk menjemput nee-san pulang. Nee-san tahu, besok kak Sasuke akan menikah dengan kak Sakura!" balas Hanabi yang masih mengepakkan sayapnya yang kecil. Hinata terjerembab tak percaya dan memastikan bahwa adiknya tidak berbohong agar semua tugas sekolahnya dapat selesai dengan cepat.

"Benarkah?" Hanabi mengangguk mantap.

"Kalau begitu, cepat selesaikan urusan nee-san di bumi, aku akan menunggu nee-san di rumah nanti!" tak butuh waktu lama, Hanabi terbang ke langit dan menghilang begitu saja. Sedangkan Hinata menutup jendela dan mengerutkan keningnya.

"Tapi, apa yang harus kubunuh?"

.

.

Terdengar suara ketukan sepatu yang menghebohkan seisi toko. Semua tatapan pelanggan terpaku kepada lelaki dengan rambut yang urak-urakan dan baju yang tidak tertata rapi. Mata lelaki itu menyisir setiap sudut toko dengan teliti diiringi deru napasnya yang tak beraturan. Ekor matanya bertemu dengan salah satu pelayan yang berjalan menuju meja kasir.

"Permisi, apa Hinata ada?" tanya Naruto. Pelayan itu menoleh ke arah Naruto dan mengangguk paham.

"Oh, Hinata. Tentu, sekarang dia sedang beristirahat."

"Kalau begitu, bolehkah aku bertemu dengannya? Ada yang ingin kusampaikan."

"Silahkan." pelayan itu berjalan menuju ruang istirahat dan diikuti oleh Naruto. Beberapa detik kemudian wanita itu menunjuk pintu kayu berwarna putih di lantai 2. Mengisyaratkan bahwa Hinata tengah berada di sana, Naruto mengucapkan terima kasih walau tidak diantarkan sampai ruang yang dimaksud. Mungkin saja pelayan itu terlalu lelah untuk menaiki tangga. Dengan detak jantung yang bertempo cepat, Naruto memegang gagang pintu dan mendorongnya hingga terlihat punggung sempit layaknya seorang gadis dengan rambut indigo terurai cantik.

"Hiks… maafkan aku Tuan Kecoak, tapi aku tidak mungkin membunuh manusia." isak Hinata sambil memegang sebilah pisau. Mendengar itu, Naruto terkekeh kecil dan berjalan mendekati Hinata.

"Apa yang ingin kau lakukan, Hinata?" tanya Naruto berusaha menyembunyikan gelak tawanya. Akhirnya, iris biru itu bertemu dengan manik lavender yang sangat ia rindukan. Naruto menatap Hinata dengan lembut. Ia sadari jika tidak ada yang berubah dari Hinata, gadis di hadapannya ini masih tetap seperti Hinata yang ia temui beberapa waktu lalu.

"Na… Naruto? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Hinata dengan mata yang terbelalak sempurna. Naruto tertawa geli melihat ekspresi Hinata dan mempersempit jarak di antara mereka.

"Menemuimu," Naruto mengecup kening Hinata sekilas dan memandang manik lavender Hinata dengan dekat. Bahkan Hinata dapat merasakan kehangatan napas Naruto yang menerpa pipi kirinya.

"dan merindukanmu." sambung Naruto hingga membuat pipi Hinata merah merona. Sedetik kemudian, Naruto menjauhi wajahnya dari Hinata dan melirik seekor kecoak yang tengah menggerak-gerakkan kumisnya.

"Katakan padaku, apa yang ingin kau lakukan dengan seekor kecoak tak bersalah ini?"

"A… aku ingin membunuhnya." jawab Hinata. Kening Naruto langsung berkerut.

"Untuk apa?"

"A… aku, ingin pulang ke Kerajaan Iblis. Karena, tugasku telah selesai." ucap Hinata yang lebih pantas disebut sebagai bisikan.

"Jadi, kau akan meninggalkan ku di sini?" protes Naruto tidak terima.

"Bukankah kau seharusnya bahagia, jika aku tidak lagi mengusik kehidupanmu?"

"A… aku berbohong. Aku berbohong jika aku membencimu. Aku hanya cemburu saat melihatmu berpelukan dengan pria lain." titah Naruto sambil menunduk. Dasar Naruto, tak henti-hentinya ia membuat pipi Hinata memerah karena malu mendengar godaannya. Untung saja sekarang pria itu tengah menunduk. Kalau tidak, Hinata yakin bahwa Naruto akan menggodanya lebih dari ini.

"Dan sekarang, aku ingin mengekang kebebasanmu." sambung Naruto dengan tegas. Kepalanya terangkat dan memandang Hinata dengan tatapan serius.

"Apa maksudmu?" tanya Hinata bingung. Naruto menggenggam jemari lentik Hinata dengan lembut dan tak menghiraukan semburat merah di pipi sang gadis pujaan.

"Untuk hari ini hingga selanjutnya, kau tidak boleh memeluk pria lain selain diriku. Kau tidak boleh mengumbar kemesraan dengan pria lain selain aku. Kau tidak boleh memikirkan pria lain selain aku. Dan yang terpenting, kau tidak boleh memberikan hatimu dengan pria lain selain diriku." terang Naruto dengan jelas. Pipi Hinata yang telah memerah semakin memerah seperti kepiting rebus, plus kepulan asap kasat mata yang mengepul di atas kepalanya. Mulut Hinata terkunci rapat, ia tak dapat melontarkan satu katapun untuk membalas ucapan Naruto tadi. Naruto yang memaklumi perlakuan Hinata tersenyum kecil dan meletakkan telapak tangan Hinata tepat di jantungnya. Kini, Hinata dapat merasakan debaran keras layaknya pukulan drummer metal pada konser-konser yang diadakan malam hari.

"Aku Uzumaki Naruto, pria tertampan se-galaksi Bima Sakti…" Hinata langsung menyela ucapan Naruto dan berkomentar,

"PD sekali." Naruto menggerlingkan matanya nakal dan melanjutkan perkataannya. Karena, petuah Kiba tadi sangat menohok perasaannya. 'Sekarang, atau tidak sama sekali.' Dan sepertinya Naruto mendapatkan quote baru dalam dirinya.

"Begitu mencintai iblis cantik bernama Hyuga Hinata yang kini berada di hadapanku." lanjut Naruto dengan penuh ambisius. Yah… itu adalah salah satu keuntungan faktor jika kita tidak memiliki urat malu.

"Na… Naruto…" ujar Hinata pelan, sepertinya Naruto tidak mengizinkan pipi iblis cantik itu untuk tidak merona barang sedetikpun.

"Dan aku akan menunggu jawaban Tuan Putri Hinata." Naruto mengeratkan genggaman tangannya pada jari Hinata yang kini bersender di dadanya.

"Kalau aku terima?" tanya Hinata polos.

"Aku akan menjadi kekasihmu!" balas Naruto mantap.

"Kalau aku tolak?"

"Aku akan mengutarakan perasaanku berulang kali sampai kau menerima perasaanku." Hinata memandang Naruto dengan teduh. Jujur, Hinata dapat merasakan detak jantung Naruto lebih cepat dibanding beberapa detik lalu. Hinata memasang ekspresi sedih dan melepaskan tangannya dari genggaman tangan Naruto. Naruto yang merasakan firasat buruk mulai takut.

"Aku, aku tidak bisa…" jawab Hinata sambil menggigit bibir bawahnya.

"A… apa? Ke... kenapa?" sela Naruto kesal, Hinata spontan meletakkan jari telunjuknya tepat di depan bibir Naruto. Mengkode agar pria itu diam.

"Aku tidak bisa menolak untuk menerima perasaan dari pria yang sangat kucintai." sambung Hinata tenang. Naruto yang mendengar penuturan itu langsung sumringah dan memeluk tubuh kekasihnya dengan erat. Kini, kedua insan itu dapat bersatu dengan suatu perasaan yang disebut dengan 'cinta'.

Entah mengapa, manik Naruto tertuju ke bibir kenyal Hinata. Dan Naruto tidak tahu, dorongan dari mana yang memaksa bibirnya mendekati bibir Hinata. Hinata menutup matanya dan diam, menunggu benda lembab itu bertemu dengan bibirnya. Detik berikutnya, bibir lembab Hinata telah bertemu dengan bibir kekasihnya. Kini Naruto sadar, bibir Hinata jauh lebih manis dibanding es krim strawberry kesukaan Hinata.

Hinata tetap kekeuh menutup matanya, hingga ia tak lagi merasakan kehangatan bibir Naruto seperti tadi. Hinata membuka kelopak matanya dan dirundung kebingungan. Ia menoleh ke segala arah dengan cemas. Wajah Hinata berubah menjadi kusut dan mengubrak-abrik semua benda yang ada di ruangan itu.

Lelucon apa lagi ini?

.

.

Kenapa sekarang,

.

.

Naruto

.

.

Menghilang?!

.

.

.

END

.

.

Enggak, bercanda kok!
masih TBC

Gomennasai minaaaaa!

Awalnya Megumi pengen bikin kalau ini adalah chap terakhir. Tapi, waktu Megumi liat berapa page di word, ternyata eh ternyata… chap ini nyampe 30 page. Dan Megumi pikir 'Buju buneng! Kenape bisa sebanyak ini? Bisa mabok ni readers kalau baca sepanjang ini!' dan yah… Megumi mengambil keputusan berat *ceilaaah buat bagi ni chapter jadi 3.

Makasih buat yang udah ninggalin jejak sama yang udah kasih komentar tentang tulisan Megumi. Dan Megumi minta maaf kalau scene NaruHina-nya singkat n pelit banget Megumi bikin. Megumi masih belajar bikin cerita yang bergenre romance… dan masalah ni fic bakal sad ending atau happy ending yah… mungkin para readers udah bisa nebak!

Ada yang tahu, Naruto ngilang kemana? *dasar, udah nyium cewek, main kabur aja tu orang!

BIG THANKS TO:

Namikaze Anwar, Misti Chan, The Black Water, Hayati JeWon, Crow, Lucifer, mitosenju, darkcitrus, blackschool, fjuknii . lotogg, KunouUzumaki, arif . doang . 12576, linkinpark . hoobastank, Antoni Yamada, sefaniatangkere, hqhqhq, Rischa Mendokusai, NamakiShidota, sitieunhye, Sena Ayuki, Ammaya, guest, kaori.

The last of my bacot : review plis…