Lelucon apa lagi ini?
.
.
Kenapa sekarang,
.
.
Naruto
.
.
Menghilang?!
.
.
DEVIL AND THE BAD BOY
.
.
.
Di medan pertemuan, terdengar bunyi gong yang dipukul berulang-ulang kali. Bunyi itu terdengar sampai ke pelosok Kerajaan Iblis. Para iblis yang baru saja memulai aktivitasnya merasa bingung dan menatap medan pertemuan dari jauh. Tak sedikit dari mereka yang pergi ke medan pertemuan dan bertanya kepada si penjaga kenapa gong yang dianggap sakral itu dimainkan. Sang penjaga hanya tersenyum simpul dan menyuruh semua iblis untuk diam. Sontak penduduk Kerajaan tersebut mengunci mulut dan membiarkan si penjaga menjawab pertanyaan mereka. Melihat semuanya telah diam, si penjaga menarik napas dalam-dalam dan berteriak sekerasnya.
"Perhatian semua! Iblis yang diasingkan dari bumi akan datang!"
Semua penduduk bersorak sorai. Bagaimana tidak, penduduk mereka yang diasingkan kemarin telah kembali. Walau mereka tidak mengenalnya, tapi rasa kekeluargaan yang telah diajarkan turun-temurun membuat kebahagiaan yang satu menjadi kebahagiaan yang lainnya. Tapi dari segala klan iblis, klan Hyuga lah yang paling bahagia sampai berteriak kegirangan.
"Apakah itu Hinata?" tanya Hiashi tak percaya.
"Aku yakin itu Hinata ayah." jawab Neji meyakinkan.
"Akhirnya, anakku bisa membunuh! Anakku bisa membunuh!" pekik Hiashi sambil melakukan tarian selebrasi. Neji yang melihat tingkah ayahnya iu hanya tersenyum dan membiarkan Hanabi untuk mengikuti tarian sang ayah.
"Kita harus mengadakan pesta penyambutan!" ucap Hiashi, Hanabi yang sedari tadi menari jumpalitan langsung berhenti dan mendengar intruksi selanjutnya.
"Hanabi, sekarang pergi ke pasar lalu beli kue, terompet, minuman soda, pokoknya semua yang diperlukan!"
"Hai!" Hanabi langsung melesat pergi ke pasar dan membeli apa yang diperintahkan ayahnya. Tak lupa ia pergi ke toko buku untuk membeli alat tulis jika nanti tinta pena telah habis digunakan Hinata untuk menjawab tugas sekolahnya.
"Neji, dekorlah rumah ini sebaik mungkin. Jika perlu, undang semua teman Hinata untuk merayakannya!"
"Roger!" Neji pulang ke rumah dan mulai mempercantik rumahnya yang baru beberapa hari ini di renovasi. Salahkan saja Hiashi yang tidak mau membatalkan hukumannya kepada Hinata hingga Hanabi menghancurkan rumah mereka. Bahkan Hiashi terpaksa mengeluarkan uang lebih untuk menyewa hotel mahal, tempat mereka tinggal. Kenapa harus hotel mahal? Karena tidak boleh ada embel-embel murah bagi klan Hyuga. Camkan itu.
Hiashi pergi ke makam istrinya dan meletakkan beberapa tangkai bunga di sana. Pria paruh baya itu mengelus batu nisan bertandakan nama istrinya dan berbisik pelan,
"Anak kita telah berkembang."
.
.
Kita masih bercerita di kerajaan Iblis, tapi bukan di keluarga Hyuga. Kita berubah haluan ke istana besar nan tinggi menjulang di atas bukit. Tampak seorang pria dengan mahkota besar (menandakan pangkatnya) membuka jendela agar terdengar pengumuman dari medan pertemuan. Saat si penjaga mengatakan bahwa iblis yang diasingkan di bumi akan datang, pria itu langsung tersentak.
"Apakah itu anakku?" ucap sang raja sambil memandang medan pertemuan.
"Mungkin saja Yang Mulia. Karena anak Hyuga Hiashi juga diasingkan di sana." balas sang Perdana Menteri Fugaku. Ooh, apa kalian merasa pernah mendengar nama tokoh yang satu ini di chap sebelumnya? Jika iya, maka kalian adalah pembaca yang teliti. Karena Uchiha Fugaku yang berperan sebagai ayah Sasuke juga menjabat sebagai perdana menteri di Kerajaan Iblis.
"Kumohon pulanglah nak…" panggil ratu dengan miris. Tak terasa, air matanya mengalir indah di pipinya tanpa ada keinginan untuk menghapusnya.
"Yang Mulia Ratu, hamba mohon jangan menangis. Masih ada kemungkinan jika pangeran lah yang kembali." hibur Fugaku.
"Apa yang dikatakan Perdana Menteri Fugaku itu benar, lebih baik sekarang kita tenangkan pikiran. Masih ada harapan jika iblis yang pulang itu adalah anak kita." timpal sang raja seraya memeluk istrinya yang tengah menangis. Ingatan raja melayang saat mengingat keputusannya untuk mengirim anak semata wayangya diasingkan ke bumi.
"Pangeran, aku membuatkan bekal untukmu." panggil gadis kecil sambil membawa sekotak makanan dengan tersenyum. Pangeran yang dipanggil hanya diam dan menatap sang gadis dengan datar.
"Kau pikir aku masih bocah apa? Aku tidak butuh makanan itu!" tolak si pangeran dan melanjutkan acara bermainnya dengan binatang peliharaan.
"Tapi kumohon, terimalah pangeran." pinta gadis kecil yang cantik itu.
"Ck, dasar merepotkan!" pangeran mengambil kotak itu dan kembali bermain dengan katak kesayangannya.
"Terima kasih pangeran!" ujar gadis itu dan tersenyum senang.
"Hm," gumam si pangeran. Pangeran yang masih berusia sekitar sepuluh tahun itu membuka kotak dan menyodorkannya ke binatang kesayangannya.
"Gamakichi, ini makanan untukmu." kata pangeran sambil mengelus katak mungil itu. sontak mata gadis kecil tadi berkaca-kaca.
"Pangeran, kenapa kau memberikannya kepada binatang peliharaanmu?" tanya nya dengan perasaan sedih. Ia berusaha agar air matanya tidak terjatuh.
"Memangnya aku sudi memakan makanan yang kau buat?" ujar si pangeran tanpa melihat lawan bicaranya yang telah menangis.
"Hiks…" mendengar isakan itu, pangeran hanya diam dan kembali bermain dengan Gamakichi. Tanpa kedua bocah itu sadari, tampak seorang pria dengan gaya elegant mendekati mereka dan membelai surai anak kecil yang tengah menangis.
"Pangeran, Anda tidak boleh melakukan itu kepada teman Anda. Apalagi jika ia adalah perempuan." tukas Perdana Menteri Fugaku kala itu. Pangeran yang mendengar nasihat itupun langsung mendecih dan menatap perdana menteri dengan kesal.
"Urgh, diamlah Perdana Menteri Fugaku! Aku tidak butuh nasihat darimu!"
"Jaga ucapanmu itu pangeran!" bentak raja yang tak sengaja melihat anak laki-lakinya tengah beradu argument dengan perdana menteri. Pria berambut kuning itu menatap anaknya dengan tajam.
"A… ayah…"
"Saya ada urusan yang lain, permisi Yang Mulia." perdana menteri mengajak gadis kecil yang tengah sesegukan itu untuk pergi agar pangeran dan raja dapat berbicara dengan leluasa. Kini, di taman bunga itu hanya tersisa raja, pangeran, dan seekor katak.
"Kenapa kau melakukan itu kepada Matsuri? Kau tahu, saat kau dewasa nanti kau harus menikah dengan seorang wanita. Tapi, kau malah bersikap kasar kepada perempuan." tegur raja dengan tegas.
"Aku tidak akan menikah! Aku tidak membutuhkan perempuan selama aku hidup!" jawab pangeran dan melayangkan tatapan benci kepada Matsuri.
"Berarti kau tidak membutuhkan ibumu?"
"Ibu pengecualian." sela pangeran santai.
"Kau mengatakan itu karena kau belum merasakan cinta." keluh raja kepada anak laki-lakinya.
"Cinta? Apa itu?" tanya si pangeran cilik sambil mengerjabkan mata dengan polos. Raja yang melihatnya tertawa kecil.
"Yang Mulia, Panglima ingin bertemu dengan Anda." intrupsi salah satu pelayan kepada atasannya. Raja mengangguk mengerti dan meninggalkan anaknya dengan rasa ingin tahu mengenai suatu hal yang bernama cinta.
Pangeran yang masih memikirkan perkataan ayahnya itu, duduk termenung di tepi kolam dan melihat pantulan wajahnya di air. Senyumnya mengembang dan langsung berpose layaknya seorang model.
'Tampan juga wajahku.' pikirnya. Pangeran kecil itu semakin bergerilya untuk bergaya di depan air, dari stay cool sampai memonyong-monyongkan bibirnya. Tapi semua itu terhenti saat ekor matanya melihat sesosok anak kecil yang memegang setangkai bunga.
"Matsuri, menjauhlah dariku!" perintah pangeran geram.
"Tapi, aku tidak punya teman lagi disini."
"Karena itu kau harus mencari teman yang lain! Bukan berarti karena Gaara pergi, kau akan selalu menempel kepada ku kan?" bentak pangeran dan berjalan pergi menjauhi Matsuri.
"Hiks…" lagi, Matsuri menangis karena ulah pangeran yang satu ini. Pangeran memutar bola matanya malas dan merebut bunga yang dipegang Matsuri lalu menginjaknya hingga tak berbentuk.
"Dasar cengeng!"
" Hiks… hwaaa… " tangis Matsuri pecah. Ia memanggil teman akrabnya berulang-ulang kali. Berharap jika Gaara datang dan menyelamatkannya dari pangeran.
"Menangislah sekeras mungkin! Gaara tidak akan mendengarnya, iblis bodoh!" bentak pangeran dan mencaci Matsuri. Matsuri semakin sedih hingga matanya telah memerah.
"Tapi ibu mendengarnya." tampak wanita berambut merah penuh sisi keibuan memeluk Matsuri hingga gadis kecil itu tenang, didampingi oleh raja yang begitu geram melihat tingkah anaknya. Lain halnya dengan pangeran yang memasang ekspresi tegang. Wajahnya berubah menjadi pucat.
"I… ibu… ayah…."
"Harus berapa kali ayah katakan, jangan bertingkah seakan-akan kau bisa hidup sendiri!"tukas raja menahan amarahnya.
"Tapi, aku memang bisa ayah! Dan aku tidak butuh perempuan apalagi cinta!" lawan pangeran yang masih mempertahankan ego.
"Jaga ucapanmu, nak."nasihat sang ibu dengan lembut.
"Kenapa? Aku memang bisa hidup seperti itu, ibu."
"Kalau begitu, kau harus hidup di bumi sampai kau benar-benar paham pentingnya cinta dalam hidupmu."
Saati itu, langit di Kerajaan Iblis berubah menjadi kelam. Angin berhembus menyentuh dedaunan hijau yang masih bertengger di ranting pohon hingga jatuh menimpa tanah. Auman naga terdengar saling sahut menyahut, dan itu membuat raja, ratu, dan Matsuri menjadi takut. Saat keadaan mereda, ketiga iblis itu menghembuskan napas lega. Sayangnya itu hanya sementara, sampai mereka mengetahui bahwa pangeran tidak lagi bersama mereka.
"Baginda, Yang Mulia Ratu, lebih baik sekarang kita pergi ke medan pertemuan." lamunan raja buyar saat Perdana Menteri Fugaku berucap. Dengan penuh keyakinan, pasangan suami istri itu menuju medan pertemuan.
.
.
Penduduk Kerajaan Iblis tampak begitu antusias untuk menyambut iblis yang akan pulang. Beberapa dari mereka bahkan sibuk menata medan pertemuan semeriah mungkin agar iblis yang datang nanti akan merasakan kehangatan dan tidak ingin kembali ke bumi. Karena kecilnya kapasitas, ada beberapa klan yang tidak mendapatkan kursi dan memilih untuk terbang dan melihatnya dari atas. Saat raja dan permaisuri memasuki medan pertemuan, semua iblis memberikan hormat. Pasangan itu tersenyum dan menduduki kursi yang telah disediakan khusus untuk mereka.
Gong kembali berbunyi. Para iblis mempertajam penglihatan mereka ke tengah-tengah medan pertemuan. Tempat pertama kali yang dipijak oleh iblis dari bumi. Semakin lama, suara gong itu semakin keras. Saat itulah tampak sinar kuning cerah menyilaukan mata. Iblis yang tadinya melebarkan pandangan mereka menjadi menyipitkan mata. Selang beberapa waktu, tampak sepasang sayap berwarna kuning emas di punggung iblis yang baru datang itu.
"Wuaaahh!" sontak semua iblis terkagum-kagum melihat keindahan sayap itu. raja dan ratu berdiri, merasakan sebuah harapan besar. Harapan jika iblis yang baru pulang itu adalah anak mereka, sang pangeran.
"Aku pulang!" teriak iblis bersayap emas itu dengan lantang. Suaranya yang besar membuat semua iblis wanita terpesona dan tergila-gila. Situasi di dalam medan pertemuan penuh dengan sorak sorai yang memekakkan telinga. Sedangkan Hiashi menuduk lesu, bahwa iblis yang pulang itu bukanlah anaknya.
"Ternyata bukan Hinata." gumam Hiashi sambil tersenyum pahit.
"Mana mungkin? Padahal aku telah menyuruh nee-san untuk pulang!" bisik Hanabi kepada kakaknya.
"Mungkin sebentar lagi, Hanabi." hibur Neji seraya mengelus punggung sang adik agar Hanabi tidak terlalu emosi. Cukup rumah mereka saja yang direnovasi, jangan ditambah dengan medan pertemuan.
"Selamat datang di Kerajaan Iblis, pangeran." sambut perdana menteri.
"Terima kasih Perdana Menteri Fugaku." balas pangeran dengan tersenyum.
"Ternyata, keputusan Ayah untuk mengirim mu ke bumi bukan pilihan yang salah." sela raja dan menepuk pundak anaknya dengan bangga. Sang pangeran menoleh ke belakang dan langsung memeluk kedua orang tuannya.
"Ayah! Ibu!" pangeran melepas kerinduannya, air matanya telah menggenang menumpahkan ekspresi betapa ia ingin bertemu dengan orang tuanya. Tak jauh beda dengan raja dan ratu yang memeluk anaknya penuh kasih.
"Anakku…" bisik ratu lirih. Selang beberapa detik, pasangan suami istri itu melepaskan pelukannya dari sang anak yang baru saja pulang merantau dari bumi. Sang penjaga medan pertemuan kembali menarik napas dalam, lalu mulai berteriak.
"Tolong semuanya diam!" sontak semua iblis yang berada di medan pertemuan berhenti berbicara. Saat kondisi telah stabil, si penjaga melanjutkan ucapannya.
"Beri sambutan yang meriah kepada pangeran kita. Pangeran Uzumaki Naruto!" medan pertemuan spontan riuh akan ucapan sambutan selamat datang dan tepuk tangan. Ekspresi senang terpatri jelas di setiap wajah para iblis yang hadir. Yah… walau yang pulang itu bukan anaknya, tapi Hiashi masih tetap bersimpati untuk menyambut kedatangan pangeran. Berhubung klan Hyuga termasuk keluarga dalam kasta tinggi, Hiashi diiringi oleh Neji dan Hanabi menghampiri Naruto dan tersenyum bahagia.
"Selamat datang Pangeran Naruto." Naruto membalas senyuman itu lalu berjabat tangan dengan Hiashi, Neji, dan Hanabi. Minato dan Kushina yang melihat adegan itu merasa senang, akhirnya anak lelaki mereka yang dulunya tidak tahu etika menjadi begitu sopan. Hey ratu dan raja, apa kalian yakin jika Naruto bersikap seperti itu memang dari sifatnya? Bukan untuk pendekatan dengan calon mertua?
.
.
Hanabi kesal, Hanabi marah, Hanabi kecewa. Seharusnya beberapa jam yang lalu adalah detik terakhirnya untuk mengunjungi sebuah planet bernama bumi. Tapi, kini ia harus memanggil kakaknya itu untuk pulang. Dan betapa terkejutnya Hanabi saat melihat iblis yang ia kunjungi tengah membongkar sebuah ruangan dengan ekspresi kebingungan.
"Nee-san, apa yang nee-san lakukan? Kenapa nee-san belum pulang?" tanya Hanabi lalu berjalan ke dalam ruangan dengan hati-hati. Ia takut jika kakinya terluka karena menginjak sesuatu.
"Dia hilang Hanabi!" pekik Hinata.
"Dia? Dia siapa?" kini, Hanabi yang kebingungan.
'Dia Hanabi, dia!" mendengar penuturan kakaknya yang tidak jelas, Hanabi memegang pundak sang kakak dan menatap Hinata dengan tegas.
"Jangan bertele-tele nee-san! Cepat bunuh seseorang!" perintah Hanabi, Hinata langsung terdiam. Lagipula, apa yang dikatakan adiknya itu benar. Ia harus lekas pulang, tidak ada gunanya ia di sini. Bahkan orang yang baru saja menjadi kekasihnya telah hilang begitu saja. Hinata menarik napas dalam lalu mengangguk pelan,
"Aku akan pulang. Kumohon bersabarlah…" Hanabi tersenyum riang, ia melepaskan tangannya dari pundak Hinata dan kembali terbang lalu menghilang. Dengan berat Hinata memegang sebilah pisau dan memasang kuda-kuda untuk membunuh kecoak. Sedetik kemudian, iris lavender itu membulat sempurna dan kembali mengubrak-abrik ruang peristirahatan.
"Oooh Tuan Kecoak, di manakah dirimu? Aku ingin pulang…"
.
.
Sedangkan di istana, tampak Naruto tengah memandang pantulan dirinya di cermin besar. Kini ia kembali memakai baju kebesaran layaknya seorang pangeran. Dan dengan hati-hati, Kushina memasangkan sebuah mahkota di atas kepala Naruto. Kushina menepuk pundak Naruto pelan, lalu memuji anaknya,
"Kau sangat pantas memakai mahkota itu Naruto."
"Tentu saja!" balas Naruto bangga. Ia tak henti-hentinya menatap bayangannya di cermin.
"Dasar, jauh-jauh kau dikirim ke bumi, tapi sikap narsis mu itu tidak juga luntur." decak Minato dan mencubit pipi Naruto dengan gemas. Naruto melepaskan tangan sang ayah dan tersenyum.
"Seperti ayah tidak saja." jawab Naruto. Dialog keluarga Uzumaki itu terhenti saat penjaga dari medan pertemuan kembali memukul gong berulang-ulang kali. Minato membuka jendela kamar dan mempertajam pendengarannya. Saat itu juga, sang penjaga menyerukan sebuah pengumuman.
"Perhatian semua, iblis yang diasingkan di bumi akan datang!" raut wajah Naruto langsung berubah dari yang bahagia menjadi sumringah. Kushina yang melihat keanehan ekspresi putranya itu hanya memaklumi. Mungkin saja itu efek dari kepulangan sang anak dari bumi.
"Sepertinya itu anaknya Hiashi." komentar Fugaku. Mendengar pengumuman itu, Fugaku melangkahkan kaki keluar istana untuk mempersiapkan transportasi raja dan ratu ke medan pertemuan.
"Lucu sekali, kalian kembali dalam hari yang sama." sahut Kushina, sontak Naruto melepaskan mahkotanya dan menyerahkan langsung ke tangan ibunya. Dengan kecepatan penuh, lelaki beriris biru itu berlari keluar istana.
"Naruto, kau mau ke mana?" tanya Minato dengan suara keras.
"Aku ingin menyambut menantu mu, ayah!" ujar Naruto tanpa menoleh ke arah raja. Minato dan Kushina saling menatap bingung.
"Apa maksudnya?"
.
.
"Ayah, aku yakin sekarang jika itu adalah nee-san!" bisik Hanabi penuh semangat. Selang beberapa menit, tampak pasangan Minato-Kushina memasuki medan pertemuan. Ada dua hal yang patut menjadi alasan kenapa mereka datang ke medan pertemuan. Yang pertama, karena telah sepatutnya seorang kepala kerajaan mendatangi acara penting yang menyangkut penduduknya sendiri. Dan yang kedua, mereka ingin tahu siapa yang disebut Naruto sebagai calon menantunya.
"Bukankah tadi kau bilang, jika yang pulang sekarang itu anaknya Hiashi?" tanya Minato.
"Benar Paduka Raja, karena hanya pangeran dan anak Hiashi saja yang diasingkan di sana." jawab Fugaku sopan.
"Apakah dia perempuan?" sahut Kushina. Ia khawatir jika anaknya telah menyimpang selama menjalani kehidupan di bumi.
"Tentu saja ratu." Kushina spontan menghembuskan napas lega.
"Apakah dia cantik?" kali ini Minato yang bertanya.
"Iya, paduka."
"Apakah dia pintar?"
"Dia sangat pintar, Yang Mulia Raja."
"Woah, lalu dia tipe gadis seperti apa? Apakah dia lembut? Tsundere? Atau loli? Hobinya apa? Apa dia juga hobi memelihara katak? Dia suka makanan apa? Kuharap dia tidak terlalu menyukai ramen seperti anakku. Kau tahu, itu tidak baik untuk pencernaan. Ooh, apa dia suka makanan yang manis? Lalu, apa kau tahu warna kesukaannya? Tinggi dan berat badannya berapa? Yang penting tubuhnya ideal kan? Bla… bla… bla…" Minato mulai betanya panjang lebar mengenai calon menantunya. Pria berwajah tampan itu tidak mengindahkan ekspresi Fugaku yang dengan jelas menyatakan 'kapan-pertanyaanmu- ini-selesai?'
"Untung aja si pirang ini menjabat sebagai raja. Coba kalau enggak, udah disumpal pake gong medan pertemuan deh itu mulut!" itulah kata hati yang dibaca Kushina saat melihat tatapan Fugaku kepada suaminya..
"Jadi, dia gadis seperti apa?" akhirnya, Minato mengakhiri sesi tanya-jawab. Fugaku menatap raja dan menjawab,
"Yang terpenting, dia gadis yang baik raja."
Sinar berwarna ungu itu terpancar terang hingga menyilaukan mata. sepasang sayap berwarna lavender mulai menampakkan jati dirinya di belakang punggung Hinata. Sayup-sayup ia mendengaar ucapan selamat datang saat sinar ungu itu masih berada di sekelilingnya. Dan ketika sinar ungu itu menghilang, barulah ia menyadari betapa hebohnya latar yang disebut sebagai medan pertemuan itu. Hinata membuka kelopak matanya dan melihat ke segala arah. Ia melihat ayah, kakak, dan adiknya melambaikan tangan dan menangis haru. Di sudut lain, tampak Sasuke bersama Sakura tengah saling bergenggaman tangan. Di samping pasangan yang nantinya akan menikah itu, terlihat teman-temannya memanggil Hinata dengan keras. Hinata memandang ke depan, iris lavendernya menangkap Fugaku yang berdiri di samping raja dengan tersenyum. Entah penglihatan Hinata yang salah atau memang itu yang terjadi, Hinata merasa bahwa raja dan ratu begitu bahagia dan menyembutnya dengan senang hati. Hinata membungkukkan badannya sebagai tanda hormat kepada raja dan ratu lalu melirik rambut mereka. Kuning dan merah? Hm… sepertinya Hinata pernah melihat pasangan warna itu di bumi.
Si penjaga kembali menyuruh semua iblis untuk diam dan menyambut Hinata, "Selamat datang kembali, Hyuga Hinata!"
"Hinata!" teriak Neji lalu merangkul adiknya.
"Nii-san." Hinata membalas pelukan sang kakak dan menghapus air mata haru yang tadi sempat mengalir di pipi Neji.
"Akhirnya kau pulang, nak." bisik Hiashi. Hinata menoleh ke arah sang ayah dan memeluk ayahnya dengan erat.
"Aku merindukan ayah." tangis Hinata pecah saat ia kembali merasakan kehangatan Hiashi, ayahnya. Terakhir kali Hinata dipeluk seperti ini saat ia merayakan ulang tahunnya yang ke-7. Setelah itu, ayahnya malah bersikap keras dan diktator. Dikarenakan Hinata tidak pernah lulus dari tes masuk Sekolah Iblis.
"Hey Hinata! Ternyata kau benar-benar menepati janjimu." sapa Sasuke.
"Tentu saja." lagi, Hinata dengan mudahnya menjitak kepala anak Fugaku tersebut.
"Hey, jangan melakukan itu lagi! Seharusnya kau memelukku, bukan menjitak kepalaku!" gerutu Sasuke kesal.
"Aku tidak akan memelukmu lagi Sasuke, karena aku telah berjanji untuk selektif memilih orang yang akan kupeluk."
"Preeeet!" cibir Sasuke.
"Jangan acuhkan Sasuke, Hinata. Oh iya, selamat datang kembali!" sambut Sakura dan memeluk gadis beriris lavender itu.
"Terima kasih Sakura. Kau tahu, kau terlihat cocok memakai jas dokter seperti itu." puji Hinata.
"Benarkah?" Hinata mengangguk mantap.
"Ngomong-ngomong, tadi aku melihat raja dan ratu tampak begitu bahagia." bisik Hinata.
"Mungkin karena anak mereka telah kembali dari bumi." jawab Sakura.
"Jadi, pangeran telah pulang?"
"Yups, dua puluh menit lebih dulu dari mu." terang Sasuke.
"Jaa! Ayo kita pulang Hinata." panggil Neji dengan semangat. Hinata berlari menghampiri kakaknya dengan bahagia.
"Nee-san, ayo kerjakan tugasku…" rengek Hanabi manja.
"Dasar, lain kali kerjakan tugasmu sendiri!"
Begitulah sekiranya dialong keluarga Hyuga yang kembali bersatu. Derai tawa tak dapat dielakkan dalam sela-sela perbincangan. Tanpa mereka sadari, di balik dinding seorang pria dengan pakaian ala pangeran melemparkan senyuman manis. Manik matanya mengikuti langkah yang diambil klan Hyuga tersebut. Saat Hinata telah memasuki rumah, sejenak pria berambut kuning itu bergumam,
"Syukurlah, kau pulang dengan selamat Hinata."
.
.
Naruto memandang kerajaannya dari jendela kamar. Jujur, melihat rumah-rumah di kerajaannya sendiri adalah impiannya saat masih berada di bumi. Bahkan Naruto sempat pesimis, jika dia tak akan bisa melihat pemandangan indah (yang bagi manusia akan terlihat seperti neraka) di Kerajaan Iblis. Naruto merasakan, bahwa ia berhasil menggapai utopia nya sendiri. Lamunan Naruo terhenti sejenak saat mendengar ketukan pintu kamarnya.
"Silahkan masuk." perintah Naruto. Saat itulah, terlihat pria paruh baya berambut gelap memasuki kamar.
"Pangeran, anakku ingin bertemu dengan Anda." lapor Fugaku.
"Silahkan." Fugaku memanggil anaknya dan meninggalkan Sasuke bersama Naruto disana.
"Selamat sore pangeran." salam Sasuke, Naruto membalasnya dengan anggukan. Tunggu, sepertinya Naruto familiar dengan wajah pemuda ini?
'Dia kan laki-laki yang memeluk Hinata waktu itu! Apa yang dia inginkan?' ujar batin Naruto kurang suka.
"Aku datang ke mari untuk mengundang Anda dalam pernikahan saya." sambung Sasuke. Naruto yang telah merasakan firasat buruk dari awal menatap Sasuke dengan tatapan mengintimidasi. Hati kecilnya bagaikan membaca jampi-jampi 'Jangan bilang itu Hinata, jangan bilang itu Hinata, jangan bilang itu Hinata.' berulang-ulang.
"Kau ingin menikah dengan siapa?" tanya Naruto penuh penekanan di akhir kalimat.
"Aku ingin menikah dengan Haruno Sakura." ingin rasanya Naruto menyanyikan lagu Waka Waka dari Shakira sambil mempraktekkan tariannya secara berjamaah bersama semua pelayan yang berada di istana saat itu juga (dan pastinya Naruto berada di tengah, kan dia main dancer).
"Kapan acaranya berlangsung?" sahut Naruto penuh semangat.
"Besok, pangeran."
"Baiklah, kalau begitu aku akan datang."
"Terima kasih, Pangeran Naruto. Kalau begitu saya permisi dulu." Sasuke melangkahkan kakinya ke luar kamar lalu memegang gagang pintu.
"Tunggu!"
"Ada apa pangeran?" Sasuke menoleh ke arah Naruto penuh rasa takut. Apa dia tadi berbuat kesalahaan?
"Apakah Hyuga Hinata akan datang di resepsi pernikahanmu?" tanya Naruto yang dikategorikan sebagai bisikan. spontan Sasuke mengerinyitkan keningnya bingung.
'Kenapa pangeran menanyakan Hinata?'
"Tentu, pangeran." balas Sasuke. Naruto tersenyum penuh arti dan mengizinkan Sasuke untuk meninggalkan kamarnya sekarang. Saat Naruto telah yakin jika Sasuke benar-benar jauh dari kamarnya, ia menghamburkan tubuhnya ke atas kasur empuk di sana dengan hati yang berbunga-bunga.
'Kita akan bertemu, Hinata.'
.
.
.
TBC
Minna, Megu datang nih bawa kelanjutannya! Bagi yang kepo sama chap ini, monggo dibaca. Bagi yang ngerasa alurnya kecepatan, gomen ne~ Soalnya Megumi enggak ada niat buat bikin fic ini sampai lebih dari 10 chap. Setelah baca chap ini, para readers udah pada tahu kan gimana endingnya! Nah, sesuai dengan janji yang udah Megumi bilang di chap sebelumnya, fic ini akan tamat di chap depan. Tunggu dengan sabar ya tomodachi sekalian -3-
Big thanks to:
Antoni Yamada, streetfordx, blackschool, The KidSNo OppAi, guest, renji dragnell, Sena Ayuki, mitosenju, hqhqhq, linkinpark . hoobastank, The Black Water, arif . doang . 12576, yare yare, darkcitrus, fjuknii . lotogg, Misti Chan, Kunou UzuNamiHyuu, ShadowRyu-kun, ile kun.
The last of my bacot : review plis…
