"Tentu, pangeran." balas Sasuke. Naruto tersenyum penuh arti dan mengizinkan Sasuke untuk meninggalkan kamarnya sekarang. saat Naruto telah yakin jika Sasuke benar-benar telah jauh dari kamarnya, ia menghamburkan tubuhnya ke atas kasur empuk dengan hati yang berbunga-bunga.

'Kita akan bertemu, Hinata.'

.

.

DEVIL AND THE BAD BOY

.

.

.

Hanabi mengetuk pintu kamar Hinata berulang-ulang kali. Tapi, tak ada keinginan dari si pemilik kamar untuk membukakan pintu. Sesungguhnya Hanabi bisa saja menghancurkan pintu kamar milik Hinata dan menarik nee-san nya itu keluar. Tapi berhubung ayahnya telah memarahinya dengan mulut berbuih-buih, Hanabi berjanji tidak melakukannya lagi dan meminta maaf. Jujur, Hanabi begitu patuh agar ayahnya tidak mengancam untuk kembali mengirimkan kakaknya ke bumi. Kasihan tugas sekolahnya telah terlalu lama menunggu untuk diisi.

"Nee-san, bangun!" teriak Hanabi sambil menggedor-gedor pintu. Tapi tetap saja, tak ada jawaban dari dalam.

"Hanabi, kenapa teriak-teriak sih?" tanya Neji yang terbangun akibat ulah adiknya. Kini, Hanabi mulai merasa bingung. Yang dipanggil nee-san, kok yang malah bangun nii-san nya ya?

"Aku membangunkan nee-san. Soalnya sebentar lagi, pesta pernikahan kak Sasuke akan diadakan."

"Tapi ini masih jam tujuh pagi Hanabi. Resepsi pernikahannya diadakan jam satu siang nanti!" gerutu Neji sambil menggaruk-garuk kepalanya khas orang baru bangun tidur.

"Aku tahu nii-san, tapi waktu berdandan nee-san itu lama! Belum lagi gosok giginya lima belas menit, terus mandi tiga puluh menit. Keringin rambut pasti lama, kan rambut nee-san panjang. Lalu makan pagi, nii-san tahu kan kalau nee-san itu mengunyah 33 kali sampai nasi itu benar-benar sudah menjadi atom. Terus pilih baju untuk pergi ke…"

"Ya ya ya. Kalau begitu buka saja pintu kamarnya. Nii-san sudah kenyang mendengar celotehanmu." sela Neji dengan tampang datar.

"Tapi, kalau nanti ayah marah, bagaimana?"

"Kenapa ayah harus marah Hanabi?"

"Jadi, aku boleh buka pintu kamar nee-san?" tanya Hanabi dengan mata berbinar-binar. Neji langsung mengangguk malas dan menguap.

"Baiklah kalau begitu, ciaaaaatt!"

BRAAAAAK!

Neji terdiam. Hiashi yang baru lewat terdiam. Justin Bieber yang lagi nyanyi di tv juga ikut-ikutan diam. Hanya Hanabi yang tersenyum puas. Bagaimana tidak, Hanabi si bungsu Hyuga itu baru saja menendang pintu kamar Hinata hingga pintu kayu itu lepas! Lepas Saudara-saudara! Dinding di sekitar pintu juga langsung retak, ditambah vas bunga di tepi dekat pintu itu jatuh dan pecah.

"Apa yang kau lakukan, Hanabi?!" pekik Neji dengan wajah yang masih diambang antara mau tidur atau bangun. (karena tendangan Hanabi, sepertinya Neji lebih memilih untuk bangun dan menceramahi adiknya)

"Apa nii-san tidak melihat? Aku baru saja membuka pintu." balas Hanabi penuh kejujuran.

"Tapi, kenapa kau hancurkan pintunya?!" urat di leher Neji langsung terlihat saking emosinya.

"Kan tadi nii-san bilang kalau aku boleh membukakan pintu. Jadi, aku tendang pintunya biar terbuka. Kenapa nii-san malah bertanya? Ooh, IQ nii-san kurang tinggi sih makanya nii-san tidak mengerti." cela Hanabi dan menatap kakaknya dengan remeh.

'Sabar Neji… sabar...'

"Hanabi," panggil Neji.

"Iya, nii-san."

"tadi kan nii-san bilang, kalau kau boleh buka pintu kamar Hinata."

"Iya, makanya aku tendang pintunya." timpal Hanabi.

"Masalahnya sekarang, kenapa pintunya malah ditendang?! Apa kau tidak bisa membuka pintu secara normal? Kan pintunya bisa dibuka kalau kau pegang gagang pintunya, terus dorong, nah baru masuk ke kamar!" cerocos Neji dengan emosi yang meletup-letup, sudut bibirnya telah dikelilingi busa-busa saliva.

"Ooh, bener juga ya…" sahut Hanabi dengan wajah innocent. Membiarkan Neji memakan serpihan-serpihan vas bunga yang tersebar di lantai saking gemasnya.

'Dewa, apa dosa hamba sampai kau memberikan cobaan seberat ini? Padahal, hamba belum melakukan dosa secuilpun pagi ini dewa.'

"Tapi, kalau nee-san kunci pintunya, bagaimana?" sambung Hanabi.

"Hanabi sayang, nee-san mu itu tidak pernah mengunci pintu kamarnya." titah Neji menahan amarah. Hanabi mengangguk paham lalu menoleh ke arah Neji sekilas dan menjentikkan jarinya seakan-akan ia memiliki ide.

"Ya sudah, kalau begitu sekarang aku pegang gagang pintunya, lalu ku dorong, baru deh masuk ke dalam." ujar Hanabi yakin.

"Hanabi, maksud nii-san, kau melakukan itu sebelum kau tendang pintunya!"

"Memang kalau sekarang, tidak boleh ya nii-san?"

Kriiik kriiik kriiiik kriiiik…..

Boleh tidak kalau sekarang Neji membawa Hanabi ke dapur terus mensangrai adik bungsu nya itu? Kenapa anak seperti Hanabi bisa lulus masuk tes Sekolah Iblis dengan cara berfikir seperti ini? Benar kata ayahnya, kalau bodoh dan polos itu hanya dipisahkan oleh sehelai benang tipis.

"Kalau sekarang sudah sia-sia Hanabi. Kan pintunya sudah di rusak."

"Kalau begitu, sekarang kita perbaiki pintunya! Baru nanti aku lakukan seperti intruksi nii-san tadi."

'Neji udah nyerah… Neji udah nyerah! Batin Neji udah tersiksa!'

"Urgh… terserah kau saja Hanabi." Neji mengibarkan bendera putih menggunakan selembar serbet dan berjalan memasuki kamar. Tapi jalannya terhambat karena Hiashi berdiri tepat di hadapannya.

"Hanabi, kenapa kau menghancurkan rumah lagi?" tanya Hiashi geram, bola matanya seakan-akan dapat keluar lalu melakukan gerak translasi dan rotasi di atas lantai.

"Kata nii-san tidak apa-apa kok!"

Glek! Tamatlah riwayatmu Neji~

"Benar itu Neji?" Hiashi mengangkat dagu Neji agar putranya itu dapat melihat ekspresi yang kini ia tunjukkan dengan bersih. Sedangkan tangannya yang lain tampak memperagakan otot lengan dengan bisep dan trisep yang begitu memukau (untuk kalangan bapak-bapak tentunya) ditambah tato dengan lambang marga Hyuga di atasnya.

"Ti… tidak ayah, a…aku…"

"Ayah tidak mau tahu! Yang penting, saat ayah pulang dari acara pernikahan nanti, pintu kamar Hinata telah diganti dengan yang baru." tukas sang ayah dan meninggalkan anaknya.

"Kalau begitu, tolong bangunkan nee-san ya nii-san. Pai pai!" kini giliran Hanabi yang meninggalkan Neji. Dan apa? Membangunkan Hinata? Membangunkan Hinata itu lebih sulit dibanding adu panco dengan Agung Hercules! Neji benar-benar merasakan kesialan bertubi-tubi, dan ini berawal karena Hinata yang tidak ingin bangun. Neji melirik Hinata yang tertidur pulas di atas kasur dan menatap miris dirinya. Bahkan bunyi hantaman pintu kamarnya yang menggelegar saja, tidak mengusik tidur Hinata. Lalu apa yang harus Neji lakukan?

Ya, Neji mulai bepikir mengambil sebuah keputusan. Menggali tanah lalu mempersiapkan peti mati dan juga batu nisan, mendandani dirinya sendiri setampan mungkin, lalu masuk ke dalam peti mati. Tak lupa ia tancapkan batu nisan sebagai tanda. Membiarkan keluarganya menangis tersedu-sedu saat melihat makam dirinya nanti, dan Neji tidak akan merasakan penderitaan lebih dibanding hari ini.

R.I.P. Hyuga Neji

Ooh, Neji yang malang... Tak tahukah dia jika tidak ada kata mati untuk makhluk iblis dengan tingkatan kingdom seperti dirinya?

.

.

"Kau sangat cantik Sakura! Beruntung sekali Sasuke dapat menikahi iblis cantik dan pintar sepertimu!" puji Hinata sambil menjabat tangan dokter tersebut. Kenapa Hinata bisa ada di sana? Kondisi Neji yang begitu mengiris hati plus aura suram yang menyeruak di sisi tubuhnya, mungkin dapat dijadikan petunjuk.

"Terima kasih atas pujiannya." sela Sasuke.

"Aku memuji Sakura, bukan dirimu Sasuke!" Hinata spontan menjitak kepala Sasuke.

"Hinata, kau akan mencoba tes Sekolah Iblis lagi, kan? Semoga kali ini kau bisa lulus." balas Sakura.

"Tentu saja Sakura! Aku akan lulus kali ini!" ujar Hinata ambisius. Tangannya ia kepalkan kuat dan ia angkat setinggi dada. Sekelebat Sasuke mengingat ucapan pangeran kepada dirinya kemarin.

"Ngomong-ngomong, apakah di bumi kau bertemu dengan pangeran?" tanya Sasuke.

"Pangeran? Aku tidak tahu. Kau tahu sendirikan Sasuke, jika kita ingin tahu siapa pangeran Kerajaan Iblis, kita harus lulus tes masuk Sekolah Iblis. Sedangkan aku?"

"Tapi sepertinya, pangeran kenal denganmu."

"Benarkah? Apa aku seterkenal itu?" Hinata membelalakkan matanya tak percaya.

"Mungkin dia mengenalimu sebagai iblis yang tidak pernah lolos dalam ujian tes masuk Sekolah Iblis." canda Sasuke diiringi derai tawa yang begitu keras.

"Awas kau!" Hinata mengambil ancang-ancang untuk membuat tubuh Sasuke babak belur. Tapi tangannya langsung ditahan oleh Neji.

"Hinata, cukup. Apa kau tidak melihat masih banyak tamu undangan yang ingin bersalaman dengan mempelai." tukas Neji.

"Iya, nii-san." Hinata menundukkan kepalanya. Jujur, Hinata sedih melihat nasib kakaknya itu. Kalau saja Hinata dapat bangun lebih cepat, maka Neji tidak akan dizalimi seperti kejadian tadi pagi. (Hinata mengetahui cerita itu dari Hanabi saat ia berangkat ke rumah Sasuke) Dengan langkah gontai Hinata menjauh dari mempelai dan menduduki salah satu kursi yang tersedia. Tampak dengan jelas karisma Sasuke dan Sakura saat bersalaman dengan tamu undangan yang telah hadir.

"Kapan ya aku berada di posisi Sakura?" gumam Hinata pelan.

"Kau selesaikan dulu pendidikan mu." bisik seseorang tepat di belakang daun telinga Hinata. Sontak Hinata merasa geli dan menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya Hinata saat pemuda yang dicintainya kini tengah berdiri di belakangnya lengkap dengan senyuman nakal.

"Na… Naruto…" bibir Hinata bergetar, Naruto langsung menarik lengan Hinata dan membawa gadis bersurai indigo itu beranjak dari keramaian.

.

.

Siang itu, situasi taman Kerajaan Iblis tak begitu ramai. Terlihat jelas dengan minimnya masyarakat yang berkunjung ke sana ditambah tak adanya suara gaduh. Hanya beberapa iblis yang menghampiri taman kerajaan yang sangat tidak pantas disebut taman (bayangkan saja, tak ada setangkai bunga yang dapat bertahan hidup disana) dan mereka pun bermaksud untuk sekedar melepas penat di perjalanan atau kabur dari pekerjaan yang menumpuk. Detik itu juga Naruto merasa lega karena telah berhasil mencari lokasi yang tepat untuk berbincang.

"Hinata, lihatlah! Taman di sini sangat berbeda dengan di bumi. Tak ada yang berpacaran, memetik bunga, mengajak anjing jalan-jalan, foto bersama teman, atau melukis di bawah pohon rindang. Suatu saat nanti, aku akan mengubah taman ini penuh dengan bunga yang berwarna cerah!" Naruto menghirup napas pelan "Tapi, tanah disini tidak subur. Sedikit zat hara dan tak ada kemungkinan jika hujan turun. Huffh… sepertinya itu akan menjadi mimpi yang berat." keluh pangeran lalu menoleh ke arah Hinata.

"Kenapa kau diam saja, heum?" Naruto mencolek dagu Hinata dan menggerlingkan matanya.

"Kau berhutang penjelasan padaku Naruto." ucap Hinata tegas, ia menyilangkan tangan di depan dada dan memandang Naruto dengan serius. Hey, walau wajah Hinata begitu tenang dengan bola mata yang teduh, itu tidak menjamin jika Hinata tidak bisa mengeluarkan amarahnya. Lagipula, Hinata berada di bawah naungan klan Hyuga! Sekali lagi, KLAN HYUGA! Kelompok terkuat pada posisi runner up di kerajaan iblis yang terkenal dengan kesangarannya dan tak mengenal kata murah. Jadi, sudah sewajarnya Hinata bertingkah seperti itu.

"Apa yang harus kujelaskan? Apa kau meragukan perasaanku?" guyon Naruto dan menggenggam tangan Hinata. Sedetik kemudian Hinata melepaskan tangannya dan menatap Naruto dengan kesal.

"Aku tidak bercanda, Naruto! Kenapa kau ada disini? Bukankah kau tidak percaya dengan Kerajaan Iblis?"

"Kenapa aku disini?" Naruto memasang ekspresi berpikir "Heum… Karena ini kerajaan ayahku."

WHAT? WHAT? WHAAAAT!

Ehm… ok. Naruto yang begitu jujur, atau Hinata yang begitu lamban untuk mencerna ucapan Naruto barusan? Gadis bersurai indigo itu tampak terkena penyakit adenoid secara tiba-tiba setelah Naruto memberikan jawaban. Bibir mungilnya terbuka membentuk 'O' sempurna diiringi pancaran tatapan kosong.

"Kerajaan ayahmu?" ulang Hinata dengan polos. Matanya membulat sempurna saat otak cemerlangnya telah menemukan sebuah jawaban.

"Kau, pangeran?" Naruto tertawa kecil lalu mengusak surai Hinata.

"Kenapa kau begitu terkejut? Bukankah aku memang pangeran dalam hidupmu, heum?" goda Naruto, seperti biasanya.

"Ja… jangan menggodaku Na- maksudku pangeran." ok, sekarang Hinata merasa pipinya sangat panas. Hinata menundukkan kepalanya dan menutup wajah dengan rambut indahnya.

"Lihatlah, iblis yang dapat mematahkan tongkat sapu menjadi dua kini tunduk padaku." Naruto mengangkat dagu Hinata "Dan pipinya tampak memerah."

"Pi… pipiku, tidak memerah! Itu efek cahaya." elak Hinata dan membuang mukanya kesal. Tawa Naruto semakin keras saat melihat reaksi Hinata. Lain halnya dengan pipi sang gadis pujaan yang semakin merona. Jika kalian tahu, membuat pipi Hinata memerah adalah suatu prestasi besar yang pernah dilakukan Naruto, plus sebagai nilai hiburan.

"Ke… kenapa dulu kau tidak bilang kalau pangeran itu adalah dirimu?" Hinata menyudahi acara 'Promo! Pipi Anda akan memerah hanya dengan pria ini!' lalu menjaga jarak beberapa langkah. Ia tak mau pipinya yang merah seperti pantat bayi di iklan pampers itu terlalu menonjolkan eksistensinya.

"Jika aku mengatakannya, apakah kau percaya?"

Pertanyaan yang masuk akal. Toh, jika Naruto mengungkapkan dirinya kepada Hinata saat pertama kali bertemu bahwa ia adalah pangeran Kerajaan Iblis, pastilah Hinata tidak akan percaya. Kalau Hinata ditanya kenapa, yah… karena Naruto tidak pernah sedikitpun menampakkan sisi iblisnya. Oke, untuk kegiatan menggoda dan mabuk-mabukkan itu pengecualian. Maksudnya, kenapa Naruto tidak menampakkan karisma nya sebagai pangeran yang disegani? Hmm… melakukan sihir mungkin?

"Tapi, kenapa kau bertingkah seperti manusia pada umumnya? Aku tidak pernah melihatmu menggunakan kekuatan?"

Ctaaak!

Naruto menjentik kening Hinata hingga tampak rona merah di tengah dahinya persis layaknya perempuan India. Gadis bermata lavender itu merengut dan menutup kening dengan poni indahnya lalu menatap Naruto dengan kesal. Lain halnya dengan Naruto yang malah tersenyum melihat ekspresi Hinata.

"Hinata-chan," tunggu, Naruto memanggilnya Hinata-chan? Dapat ilham apa lelaki berambut kuning ini semalam?

"Hey, kenapa kau terdiam?" Naruto menatap Hinata dengan bingung.

"Ka…kau, tadi me… memanggilku tadi apa?" ulang Hinata dengan gagap.

Naruto memandang Hinata diiringi senyuman jahil. Lelaki itu berjalan mendekati Hinata dan berhenti sekitar beberapa senti dari Hinata. Ia menatap Hinata dengan teduh dan kembali memanggil Hinata dengan suara seserak mungkin.

"Hinata-chan~"

Aaaarrggh!

'Kenapa suaranya seksi sekali? Kenapa? Kenapa? Kenapa!' rutuk Hinata sambil menutup bibirnya untuk tidak bersuara. Naruto terkekeh pelan melihat reaksi kekasihnya itu dan menangkup wajah Hinata dengan hangat.

"Menurutmu, apa komentar manusia di bumi jika melihatku memakai kekuatan?" hembusan napas Naruto saat berbicara menerpa pipi Hinata yang membuat perasaan gadis bersurai indigo itu merasa tenang.

"Heum… mereka akan takut."

"Yups, dan aku tidak ingin jika manusia di bumi takut padaku. Lagipula, aku di bumi untuk diasingkan, bukan untuk ikut acara pertunjukkan bakat."

"Tapi, kenapa kau tidak menunjukkannya padaku? Saat kita hanya berdua mungkin?" protes Hinata tak terima.

"Hanya berdua?" oke, Naruto mulai berpikir ambigu.

"Mak… maksudku, saat kita berdua di kamarmu. Eeh, maksudnya kan di bumi kita tinggal sekamar jadi. Eeh, bukan begitu! Naruto, bisakah kau buang pikiran kotormu itu?" ujar Hinata salah tingkah.

"Aku tidak berpikiran kotor."

"Tapi wajahmu menunjukkannya!" lawan Hinata.

"Semesum itukah wajahku?"

"Hey, jawab saja pertanyaanku!" balas Hinata gusar.

"Pertanyaan yang mana? Pertanyaan apakah aku bisa membuang pikiran kotor?"

Oh, no.

Alright, sepertinya Naruto terlalu asyik menggoda Hinata sampai ia tak tahu apakah pipi Hinata memerah karena malu, atau karena marah. Pangeran itu masih sibuk mentertawakan reaksi Hinata yang (menurutnya) begitu unik. Berbanding terbalik dengan Hinata yang telah memasang kuda-kuda untuk mematahkan leher Naruto. Masa bodoh dengan jabatannya sebagai pangeran di Kerajaan Iblis. Sedetik kemudian, ia tersadar bahwa Naruto itu adalah kekasihnya. Setidaknya Hinata harus menahan diri agar tempat kencan mereka untuk ke depan bukanlah di taman rumah sakit.

"Naruto, sebaiknya kau jawab sekarang atau aku akan mengubah sendi atlasmu menjadi sendi peluru!" gertak Hinata dengan gigi geraham yang telah saling bertemu. Naruto berdehem pelan, dan kembali memasang gaya 'cool man' miliknya.

"Aku pernah melakukan sihirku saat di bumi. Mungkin karena kau kurang peduli padaku, kau tidak menyadarinya."

"Heeh? Kapan?" Hinata benar-benar bingung mendengar penuturan Naruto. Wahai pangeran, cukup sudah. Jangan biarkan calon istrimu ini memasang wajah adenoidnya secara berlarut-larut.

"Menurutmu, bagaimana caranya aku dapat membeli semua kebutuhan hidupku selama di bumi tanpa helaian kertas bernama uang?" sanggah Naruto dan menduduki salah satu kursi taman.

Hmm… lagi-lagi Naruto mengajukan pertanyaan yang logis. Tampak mustahil bagi lelaki tak bermodal seperti Naruto dapat hidup makmur, sejahtera, sentosa, tanpa adanya beban selama-bertahun-tahun di bumi. Lagipula, tidak mungkin raja mengirimkan uang kepada Naruto sekali sebulan agar anaknya itu dapat mengisi perutnya yang kosong (Naruto datang ke bumi untuk diasingkan, bukan untuk kuliah dan menetap di kos). Hinata melirik Naruto yang asyik mengelus-elus kepala naga dan Hinata tidak tahu itu naga siapa (berarti itu naga liar, di Kerajaan Iblis naga itu adalah hewan multifingsi. Terkadang ia dapat bekerja sebagai kuda atau unta untuk mengantarkan majikannya pergi, ia juga bisa menjadi anjing polisi dan menjaga Tuannya, atau ia dapat bertingkah layaknya kucing kecil yang tersesat dan menginginkan seseorang untuk memungutnya).

"Na… Naruto…"

"Ya?" pangeran Naruto menghentikan aktivitas bermanja-manja dengan naga dan menolehkan kepalanya ke arah Hinata.

"Ka… kau, tidak men… mencuri u… uang di bank kan?" tanya Hinata gagap.

"Tidak." Hinata menghembuskan napas lega.

"Tapi," sambung Naruto "aku mencetak uang palsu."

Ctaaarrr!

Tidak ada awan hitam, tidak ada tetesan hujan. Entah mengapa, Hinata merasa tersengat bagaikan disambar petir. Anggota geraknya terasa kaku dan matanya enggan berkedip. Hinata berpendapat, bahwa kekasihnya itu bukanlah penjahat kelas kakap. Melainkan penjahat kelas hiu putih yang sulit ditemukan dengan populasi satu banding seratus juta spesies ikan di bumi. Hinata tidak percaya, di balik sikap Naruto yang hangat, tersirat sisi kejam di dalamnya.

"Hinata-chan," Naruto merusak konsentrasi Hinata untuk frustasi dan menarik tubuh Hinata agar duduk di atas pangkuannya.

"Ya…" jawab Hinata malu. Hey, siapa yang tidak malu jika kau dipangku layaknya anak kecil sedangkan umurmu sudah cukup dewasa untuk tidak melakukan itu?

"Kau bilang, kau ingin menjadi mempelai wanita bukan?" bisik Naruto seraya memilin ujung rambut Hinata dengan jari telunjuknya hingga rambut itu menjadi ikal. Hinata terdiam, ia tak berani untuk menatap Naruto dalam suasana romantis seperti ini. Gadis berambut panjang itu tak membalas ucapan Naruto dan membiarkan kekasihnya mengubah ujung rambutnya menjadi ikal.

"Bagaimana kalau nanti, kau menjadi mempelai wanita dan aku mempelai prianya. Apa kau mau?" sambung Naruto masih dengan posisi memangku Hinata. Tanpa berpikir panjang, gadis cantik itu mengangguk hingga rambutnya bergerak ke depan. Merasa kurang puas, Naruto memeluk pinggang Hinata dan menumpukan dagunya di atas pundak sang gadis.

"Hey, jawablah!"

"Bukankah aku telah mengangguk." balas Hinata sambil mencoba melepaskan tangan Naruto dari pinggangnya.

"Tapi aku ingin mendengar jawaban dari mulutmu." rajuk Naruto manja.

"Kenapa begitu?" protes Hinata. Ia berhasil melepaskan diri dari Naruto dan berdiri di hadapan pangeran. Melihat kekasihnya berdiri, Naruto juga ikut berdiri.

"Mau," Naruto mengecup pipi kiri Hinata "atau iya?" lalu mengecup pipi kanan. Tubuh Hinata terasa memanas setelah mendapatkan serangan combo dari Naruto. Kedua telapak tangannya menoba menutupi wajah manisnya dan kembali merengut kesal.

"Ma…mana ada pilihan seperti itu!"

"Hey, jawab saja!" tukas Naruto sedikit memaksa. Hinata menoleh ke arah pangeran dan menghirup udara sedalmam-dalamnya. Lalu ia hembuskan secara perlahan. Setelah merasa keberaniannya terkumpul, Hinata kembali berucap

"A…aku, ma…mau."

Naruto tanpa ragu-ragu menerjang tubuh Hinata dan memeluknya. Tubuh Hinata yang terhuyung langsung ditahan oleh tangan Naruto agar tubuh gadis yang kelak menjadi istrinya itu tidak berbenturan dengan tanah. Kedua pasangan itu tak henti-hentinya tersenyum dan mengeratkan pelukan masing-masing. Selang beberapa waktu, Hinata melepaskan pelukannya dan menatap Naruto penuh haru. Sedangkan Naruto menghapus air mata bahagia Hinata yang mengalir indah di pipinya dengan hangat.

"Kalau begitu, kau harus cepat lulus dari Sekolah Iblis dan jangan pernah menggagalkan diri dalam setiap test lagi." pesan Naruto.

"Siap, kapten!" Hinata memasang ekspresi antusias dan tersenyum yakin. Naruto kembali mengelus surai Hinata dan berdecak pelan.

"Sepertinya, aku akan sibuk."

"A… apa?" Hinata tersentak lalu membelalakkan mata tak percaya.

"Ya, aku hanya memliki dua waktu untukmu, Hinata-chan." balas Naruto penuh penyesalan.

"Kapan?" tanya Hinata lirih.

"Sekarang dan selamanya."

Siiiinnnnggg~

Aho~ Aho~ Aho~

Suasana langsung hening. Naruto yang merasa tersinggung oleh naga yang kebetulan mendapatkan peran sebagai burung gagak itu melempar sebungkah tanah yang lumayan padat ke tubuh naga yang tak bersalah. Naruto yakin, seharusnya pipi Hinata sekarang merona dan gadis itu kembali menunduk setelah mendengar rayuannya. Tapi lihatlah, ekspresi apa yang dipasang Hinata? Gadis itu hanya diam dan menatap Naruto dengan datar.

"Kenapa pipi mu tidak memerah?" tanya Naruto penasaran.

"Aku tahu, kau melihat gombalan itu dari buku bacaan mu di bumi kan?" ujar Hinata sekali telak.

"Tidak, aku tidak…"

"Jujur saja, kau tidak perlu malu."

"Gombalan itu murni dari kepalaku, mungkin saja penulis buku itu menjimplaknya!"

"Kau pikir aku percaya?"

"Hinata-chan, percayalah padaku…"

.

.

Dua tahun kemudian, berlatarkan di bumi. Pada malam hari, tampak seorang kakek dengan ribuan uban yang melekat di kepalanya, mengikat plasik hitam ukuran besar dengan erat. Kedua lengannya bak tulang berselimut kulit itu membopong plastik hitam keluar dari kios dan meletakkannya di tong sampah. Tak sengaja, ekor matanya tertuju ke sebuah amplop yang tergeletak di depan pintu kios.

"Amplop apa?" pikirnya bingung, dengan ragu kakek tua itu membuka amplop tersebut. Sedetik kemudian, beliau tersenyum tenang. Di dalamnya terdapat selembar foto pernikahan dengan mempelai pria dan wanita yang ia kenal. Tampak lelaki berambut kuning jabrik memakai jas hitam yang membantu memancarkan ketampanannya didampingi seorang wanita cantik berambut indigo yang menatap ke arah kamera dengan pandangan teduh. Keduanya mengangkat tangan mereka untuk memperlihatkan jari manis yang telah disematkan sebuah cincin. Kakek tua itu berdecak pelan dan membaca tulisan di balik foto tersebut,

'Hey pak tua, sepertinya dewa telah menakdirkan kami untuk bersama. Apakah aku terlihat serasi dengan istriku? Etto, terima kasih telah membantuku selama aku berada di Jepang. Aku tahu aku sangat merepotkan, tapi aku yakin kau sekarang merindukan seorang pria mabuk dengan nyanyian yang pantas diiringi oleh Apollo. Kekeke… arigatou. (Naruto)'

.

.

.

THE END

Akhirnya, fic ini selesai juga! Terima kasih atas dukungan yang telah readers berikan kepada Megumi sampai fic ini benar-benar kelar ampe tulisan THE END di atas! Fyuuh… *ngelap keringat masih banyak fic yang belum Megumi lanjutin (makanya jangan numpuk fic MC dunk!) dan jika ada readers yang berkenan, monggo dibaca dulu fic lain yang udah Megumi publish *promosi harus tetep jalan sista!

Betewe, gimana nih endingnya? Mengecewakan kah? Gomen gomen kalau scense romantisnya kurang krazaa, Megumi masih belajar bwat bikin fic romantis dengan ending yang bahagia tomodachi sekalian, harap dimaklumi ne? Dan enggak lupa buat Uda Neji lovers, Megumi juga minta maaf karena membuat idola kalian (yang telah berada di alam sana hiks… hiks… hiks… kasian kan Tenten *lho, kok malah curhat?) terlihat begitu nista di chap ini. Percayalah, Uda Neji itu pria yang baik kok! (Neji: emang kita pernah ketemu? Tahu darimana lo gue orang baik? Megumi: Uda Neji jauh2 dari surga datang ke kamar Megu sendirian? Kyaaa, Megumi terharu! *ketchup basah Uda Neji penuh cinta. Neji: cewek sarap lu, thor. *kembali ke surga terus trauma buat balik ke bumi. Megumi: Udaa… daa…. da…. *bergema ceritanya)

Yosh, tanpa bacot aneh lagi,

BIG THANKS TO:

fancy0976, Hayati JeWon, fjuknii . lotogg , Guest, hqhqhq, Lucifer, Saputra Kage Bunshin, Sena Ayuki, Antoni Yamada, arif. doank . 12576, SparkyuRindi, The KidSNo OppAi, ile kun, The Black Water, Kazeko05, mitosenju, Kunou U.N.H, virgo shaka mia, penggemar,namikazeshinigami007.

The last of my bacot : review plis….