"Maaf kami gagal dalam tugas ini," ucapku.

Ia terdiam sambil menatap rak bukunya dan memunggungi kami seperti biasa. Aku dan Renee hanya bisa melihat punggungnya, tidak tahu ekspresi macam apa yang sedang dipasang wanita ini di wajahnya. Yang pasti ia kecewa, aku tahu. Tetapi entah apakah ia marah juga atau tidak. Kami sudah pernah gagal beberapa kali dalam mengerjakan tugas khusus darinya, dan kami langsung diberi hukuman. Kali ini berbeda, ia terdiam, tidak mengatakan sepatah kata pun, tidak ada suara, bahkan sekedar 'mm' pun tidak ada.

"Kami akan kembali ke workshop untuk merenungkan kegagalan kami," kataku akhirnya, sambil menambahkan dalam hati: 'Dan menyiapkan mental untuk tugas berikutnya'.

.

.

Disclaimer: NIS, GUST

A/N: berusaha mengikuti alur asli MK1, kata asing ada yang tidak di italic karena akan sering dipakai, Tony x Renee.

.

Into My Heart
Chapter 3: Roxis Rosenkrantz

by Fei Mei

.

.

"Dia kenapa, sih?" tanyaku setelah kami keluar dari ruangan itu, ruangan Miss Isolde. "Tak biasanya ia diam seperti itu!"

"Mungkin masuknya Vayne Aurelius dalam workshop kita merupakan hal penting untuknya?" ujar Renee.

"Hah? Jangan asal tebak!"

"Aku tidak asal tebak. Aku hanya menggunakan intuisiku sebagai perempuan," kata Renee. "Perempuan kan, lebih bisa mengerti perasaan orang lain dibanding laki-laki."

"Ya ya ya, terserah."

Aku dan Renee kemudian memutuskan untuk pergi ke toko untuk membeli bahan-bahan untuk sintesis yang sudah mau habis di workshop kami beserta buku-buku resep baru, kemudian baru kembali ke workshop.

Di workshop yang besarnya mungkin hanya sepertiga ruangan Miss Isolde itu, Renee langsung sibuk dengan kuali besar –ia memotong-motong bahan dulu, lalu memasukkannya ke kuali. Aku hanya terduduk saja di kursi, sambil membaca-baca buku resep yang tadi kubeli. Ada Tranquillizer, X-Heal, Bobomb Ice, dan sebagainya. Rata-rata namanya tidak begitu asing di telingaku. Jelas, saat Max, kakak Renee, masih di workshop ini, ia dan teman-temannya sering sekali membuat barang-barang yang tertulis di resep ini.

Sekitar satu jam kemudian, aku mulai bosan membaca buku resep, lalu memutuskan untuk pergi ke Living Forest untuk menggerakkan tubuh sedikit –walau disana monsternya rata-rata kelas teri.

"Kau mau kemana?" tanya Renee yang menyadari aku telah merapikan buku resep dan bersiap keluar.

"Living Forest," jawabku.

"Tunggu dulu, aku baru selesai lima menit lagi," katanya, membuat aku agak bingung.

"Hah? Kamu mau ikut?" tanyaku.

"Tentu saja aku ikut!" tegas Renee. "Nanti kalau disana kau bertemu dengan Flay, bagaimana?"

"Ya tidak bagaimana-bagaimana," kataku. "Kalau aku bertengkar dengan Flay pun kau juga tidak pernah bantu."

"... oh, ya sudah," kata Renee, sambil membalikkan tubuhnya menghadap kuali lagi, dan suaranya tadi terdengar ... kecewa.

Tak ingin memusingkan dia, aku pun keluar dan berjalan ke Living Forest seorang diri. Yah, tentu saja ada yang terasa berbeda. Selama ini aku kemana-mana selalu berjalan dengan Renee, tetapi kali ini mungkin untuk yang pertama kalinya aku berjalan keluar workshop sendirian.

Di Living Forest, aku langsung menyerang beberapa Koalaria dalam sekali serang. Ada beberapa ekor beruang juga dan beberapa macam monster lainnya. Dulu, saat pertama kali datang ke tempat ini ketika masih kelas satu, seekor Koalaria saja bisa membuatku kewalahan. Tetapi sekarang sekali serang, aku bisa langsung dapat beberapa woodchips. Ini menandakan latihan dan pengalamanku selama setahun terakhir ini tidak sia-sia.

Sesampainya di ujung hutan, alias di kebun, aku berniat mengambil beberapa sayur mengingat ada beberapa barang yang stoknya habis di toko sehingga tidak bisa beli. Begitu aku melangkah lebih dekat dengan kebun, aku melihat ada Flay disana. Astaga, jangan-jangan Renee menyumpahiku untuk bertemu dengan Flay!

"Ah! Si orang jahat!" kata Flay dengan nada seperti biasa. Heran juga, kenapa ia sering menyebutku seperti itu? "Kau tidak bersama dengan pengikutmu?"

"Pengikut?" tanyaku. Oh, maksudnya pasti Renee. "Dia sibuk dengan kualinya."

"Setelah berkata begitu, aku melihat ada beberapa wortel yang siap panen. Aku langsung buru-buru mendekatinya sebelum –oke, aku sudah telat, Flay langsung menghadangku.

"Kau ingin wortel-wortel itu? Kau harus mengalahkanku!" ujarnya sambil tertawa.

Sialan. Kekanak-kanak sekali dia. Masakah hanya karena ingin wortel lantas aku harus berkelahi dengan dia? Absurd.

Tetapi aku memang sedang membutuhkan wortel-wortel ini untuk workshopku. Jadi ya, sudahlah, kuladeni saja si Flay Gunnar itu.

.

.

Aku mengerjap-erjapkan kedua mataku, sambil berusaha menahan sakit di sekujur tubuh yang tiba-tiba terasa begitu aku mendapatkan kesadaranku. Apa yang terjadi? Masakah aku tertidur? Seingatku tadi aku sedang di Living Forest, kemudian bertemu dengan Flay, kami berkelahi karena menginginkan wortel. Oh, ya ampun, masakah kali ini aku kalah telak sampai tubuhku terasa lebih sakit daripada biasanya?

"Tony!" pekik sebuah suara yang sama sekali tak asing. "Akhirnya kau sadar juga!"

Itu suara Renee. Melihatku akhirnya membuka kedua kelopak mata, ia langsung melangkah cepat ke sebelah ranjangku. Ketika akhirnya aku pandanganku sudah jernih, aku bisa lihat bahwa sekarang aku sedang di ranjang ruang kesehatan, dan Renee membawa ember berisi es batu –mungkin untuk mengompres luka dan bengkak tubuhku.

"Ya ampun, aku cemas sekali!" ujarnya menyentuh bagian lenganku yang tak terluka, sambil menunjukkan wajah cemasnya. "Bagaimana perasaanmu sekarang?"

"Tubuhku terasa sakit semua," jawabku. "Aku tak sadarkan diri berapa lama?"

"Mr Zeppel membawamu kesini sekitar tiga jam lalu. Ia bilang menemukanmu terkapar di kebun di Living Forest, lalu membaringkanmu disini dan segera memberitahuku. Jadi mungkin kau tidak sadarkan diri tiga jam lebih," jawabnya panjang lebar. "Kau pasti berkelahi dengan Flay."

"Begitulah," jawabku. "Tapi aku heran kenapa tadi bisa kalah telak begitu, biasanya kan tidak."

"Wajar, sih ..." gumam Renee, tidak cukup pelan sehingga tertangkap di telingaku.

"Apa? Kau bilang apa?" tanyaku.

"Tidak apa-apa," sergahnya. "Kau lapar? Tadi aku beli sup."

.

.

Minggu-minggu berlalu sejak terbaringnya aku di ruang kesehatan. Masih ada satu-dua bekas luka yang masih belum juga sembuh –padahal memar dan luka-luka lainnya sudah tak berbekas. Tinggal luka sayatan pedang pada punggungku saja yang belum sembuh. Sudah tidak sakit, tapi masih berbekas. Untungnya akhir-akhir ini aku tidak pernah bertemu dengan Flay, jadi aku punya kesempatan untuk menenangkan diri.

Akhir-akhir ini juga Miss Isolde tidak ada di akademi. Ruangannya selalu terkunci, diketuk pintunya pun juga tidak ada jawaban. Aku pernah bertanya pada Arsha, dia bilang Isolde memang sedang ambil cuti sebulan –berarti ia akan kembali ke akademi beberapa hari lagi.

Beberapa hari kemudian, saat aku sedang lari pagi dengan Renee di halaman sekolah, kepala sekolah menghampiri kami. Kupikir ada masalah apa, atau aku melakukan kesalahan apa yang tidak kusadari –ternyata kepala sekolah menghampiri kami hanya untuk menyampaikan pesan Miss Isolde: aku dan Renee diminta menghadap Miss Isolde di ruangannya.

"Anda memanggil kami?" tanya Renee berbasa-basi ketika kami memasuki ruangan penuh rak buku itu.

"Ya," jawab Miss Isolde. "Akan ada murid baru kelas satu yang akan sampai di akademi besok pagi, namanya Roxis Rosenkrantz. Buat ia menjadi anggota workshopmu, kali ini jangan sampai gagal."

"Rosenkrantz?! Itu kan, nama keluarga alkemis terkenal!" ujar Renee.

"Pokoknya jangan sampai gagal," tegas Miss Isolde lagi.

Aku mengangguk dan langsung menyeret Renee keluar dari ruangan itu sebelum ia celetuk lagi.

"Kali ini harus berhasil!" kataku setelah kami keluar ruangan Miss Isolde.

"Berdoalah biar jangan sampai Flay mengganggumu lagi," kata Renee.

"Mengganggu kita, Renee," ujarku sambil menekankan kata 'kita'. "Besok pagi, kita harus sudah stand by di stasiun. Sehingga ketika ia baru keluar dari stasiun, kita bisa langsung menyuruh dia masuk workshop kita!"

"Roxis Rosenkrantz ini pasti ada hubungannya dengan Vayne Aurelius," kata Renee.

"Intuisi perempuan lagi?" tanyaku.

"Yep," Renee menganggukkan kepalanya. "Aku curiga, misi-misi berikutnya pun pasti ada hubungannya dengan Aurelius itu."

Hmm ... benarkah demikian? Aku tidak pernah mempertanyakan perintah Miss Isolde, sih.

Keesokkan harinya, sesuai dengan perkataanku, aku dan Renee sudah stand by di stasiun. Masih mengantuk sih, soalnya aku belum pernah bangun sepagi itu. Apalagi Renee, sepanjang perjalanan menuju stasiun ia mengomel terus tentang betapa mengantuknya dia.

Akhirnya kereta yang ditunggu-tunggu pun tiba. Seorang pemuda berambut pirang panjang diikat dan menggunakan kacamata turun dari kereta. Wajahnya begitu dingin dan tanpa ekspresi, sepertinya ia adalah tipikal pemikir yang tidak suka bicara.

"Kau pasti Roxis Rosenkrantz," ujarku menghampirinya.

"Mmm, dan kau?" tanyanya.

"Tony, kakak kelasmu. Dan perempuan ini adalah Renee, sekelas denganku," jawabku. "Selama bersekolah di akademi Al-Revis, kau harus tergabung dalam suatu workshop. Nah, aku mengajakmu untuk masuk ke workshop ku!"

Roxis tidak berekspresi apa-apa. Ia membetulkan posisi kacamatanya, mengamati aku dan Renee. Mungkin ia bingung kenapa aku harus menunggunya pagi-pagi disini hanya untuk mengajaknya masuk workshopku. Ah, aku tak peduli.

"Baiklah," kata Roxis akhirnya, membuatku amat sangat lega. "Omong-omong ... kalian berpacaran?"

"HAH?!" sontak aku dan Renee terpekik.

"Jelas bukan! Aku bisa stres kalau berpacaran dengan dia, bisa ceramahi terus, aku!" kataku sambil menunjuk wajah Renee.

"Enak saja! Aku juga ogah mengurusimu!" seru Renee tidak mau kalah.

Roxis mengangkat sebelah bahunya, kemudian mengambil barang-barangnya. Renee masih saja terus berceloteh di sebelahku, sambil aku mengantar Roxis masuk akademi. Hah, aku jadi ingin melihat wajah Flay begitu ia tahu bahwa seorang bermarga Rosenkrantz telah masuk workshopku.

Setelah mengajaknya berkeliling sebentar dan menunjukkan kamarnya di asrama, aku mengantarnya masuk kelas. Dia masuk kelas 1B, bersebelahan dengan kelas Vayne yang kelas 1A. Jika dugaanku benar, Flay pasti sudah mendengar gosip bahwa seorang Rosenkrantz masuk akademi ini dan sedang mencarinya, apalagi tinggal sepuluh menit sampai bel tanda sekolah mulai berbunyi. Jadi kuputuskan untuk menunggu di bagian belakang kelas sambil Roxis melihat-lihat buku di rak kelas itu.

Tidak perlu tunggu lama, Flay memasuki kelas itu dengan tergesa-gesa bersama Vayne, langsung menghampiri Roxis. Dari kursi belakang, aku tidak bisa mendengar jelas perkataan Roxis. Tetapi aku bisa mendengar perkataan Flay karena suaranya itu begitu besar.

"Aku senang akan orang seperti kau! Kalau begitu mulai hari ini, kau menjadi anggota workshopku!" ujar Flay keras.

Nah, inilah saatnya aku maju dan berhadapan dengan Flay.

"Hahaha! Sayang sekali, Flay! Dia sudah terlanjur bergabung denganku!" ujarku amat sangat bangga dan bahagia.

"Maaf, kalian kurang cepat," ujar Renee sambil terkekeh pelan.

"Ap-apa?!" tanya Flay terkejut. "Seorang yang jenius malah bergabung dengan kelompok orang jahat?!"

"Enak saja bilang seperti itu!" kataku kesal. Sungguh aku tidak pernah mengerti kenapa ia selalu menyebutku seperti itu.

"Aaargh! Tunggu pembalasanku!" ujar Flay kemudian keluar dari kelas ini bersama Vayne di belakangnya.

"Ahahahaha! Kau lihat wajah Flay tadi?! Wajah kekalahan!" kataku sambil tertawa kegirangan. Ini adalah pertama kalinya aku menang dari Flay –walau bukan dalam berkelahi.

"Siapa anak yang bersama Flay itu tadi?" tanya Roxis.

"Oh, itu Vayne Aurelius, dia murid kelas 1A," jawab Renee.

"Jadi dia orangnya ..." gumam Roxis, kemudian ia kembali membaca buku.

Apa Roxis mengenal Vayne, ya? Kok, kesannya dia terkenal begitu, sih?

.

.

~TBC~

.

.