"Di workshop kalian sudah ada Rosenkrantz, minta dia untuk mengulur waktu selagi kalian melakukan apa yang kuminta tadi," kata Miss Isolde.
"Aku mengerti," ujarku sambil mengangguk, serta membayangkan bagaimana ekspresi sedih dan kesal para murid kelas satu melihat pohon yang mereka incar telah terbakar.
.
.
Disclaimer: NIS, GUST
A/N: berusaha mengikuti alur asli MK1, kata asing ada yang tidak di italic karena akan sering dipakai, Tony x Renee.
.
Into My Heart
Chapter 4: Ujian Semester
by Fei Mei
.
.
"Aku tidak mengerti," kata Renee, setelah keluar dari ruangan Miss Isolde. "Kenapa sekarang kau jadi seperti mata-mata workshop-nya Flay?"
"Seru, tahu!" kataku senang, karena yakin yang kali ini pasti berhasil. "Flay menyuruh Vayne mengambil Huffin di bukit, dan hanya ada satu pohon Huffin disana. Semua murid kelas satu pasti akan mengincar pohon itu –karena mereka belum boleh masuk ke area-area lainya- untuk mendapatkan kualitas barang sintesis yang baik dan bisa dapat nilai A untuk ulangan semester 1 mereka. Kalau Vayne tidak berhasil mendapatkan Huffin, pasti Flay akan kesal, dan saat itu aku bisa menertawakannya!"
"Hhh..." Renee menghela nafas berat. "Terserahlah."
Lalu kami kembali ke workshop. Disana aku melihat Roxis dengan sangat serius mencoba membuat ramuan dari buku resep yang baru ia beli pagi tadi. Aku rasa adik kelasku yang satu ini pasti juga mengincar Huffin, buktinya ketika aku dan Renee masuk ke workshop, ia langsung bilang bahwa ia ingin ke bukit.
Langsung saja, kami bertiga segera keluar dari lingkungan akademi –setelah Roxis selesai dengan ramuannya tentu saja. Baru saja sampai di daerah bukit, kulihat tidak jauh dibelakang kami ada Vayne dengan dua orang gadis yang sekelas dengannya.
Kulihat Vayne dan Roxis saling bertukar tatap. Dari pandangan yang diluncurkan oleh Roxis, aku bisa lihat adik kelasku ini sangat tidak suka pada Vayne, dan aku tidak tahu apa penyebabnya. Pemuda berkacamata yang bersamaku ini lngsung berjalan meninggalkan tempat itu, aku dan Renee mengikutinya.
Ketika kami sudah nyaris tiba di puncak bukit, Renee mengeluh ingin istirahat. Ya sudah, kami bertiga duduk sebentar di batu besar. Dari tempat ketinggian, aku bisa melihat Vayne mungkin akan sampai di tempat ini sekitar lima menit lagi, berarti aku dan Renee harus segera meninggalkan tempat itu dan langsung menuju pohon Huffin yang ada di puncak bukit.
"Hei, Roxis, tolong ulur waktu untuk kami," ujarku.
"Menghadang Vayne, maksudmu?" tanya Roxis. Huh, dasar adik kelas yang tidak imut, seharusnya dia kan, bisa menambahkan embel-embel 'senpai' di akhir kalimatnya.
"Begitulah," jawabku, sambil menarik lengan Renee.
"Heee, tapi kan, aku belum lama duduk!" keluh perempuan ini.
Tapi aku terus menariknya sampai ia menyerah, kemudian kami berjalan jauh dari Roxis. Walau sudah berjalan agak jauh dari adik kelasku itu, aku bisa melihat pemuda yang setahun lebih muda dariku itu langsung mengeluarkan buku kecil dari sakunya, kemudian membaca buku itu sambil bersender di pohon. Huh, dasar kutubuku, padahal kan Vayne tidak mungkin selama itu sampai di tempat Roxis, buat apa melewatkan 2-3 menit menunggu sambil membaca? Aku tidak pernah mengerti cara berpiki orang yang kutubuku.
Sesampainya di bawah pohon Huffin, aku langsung mengambil beberapa Huffin dan meminta Renee menyimpannya, setelah itu aku menyiapkan barang yang sudah kubawa hati-hati sejak dari sekolah. Barang yang kubawa itu semacam flame. Jika 'kakak' dari flame adalah teraflame, maka ini adalah 'adik'nya. Sekolah tidak mengajari kami tentang cara membuat barang ini, sih, tetapi Miss Isolde mengajarkannya pada kami –aku dan Renee. Kami berdua adalah murid kesayangannya, ingat?
Aku mengantongi 2 flame kecil dalam sakuku, sedangkan Renee tidak membawanya. Bukan, bukannya dia lupa untuk membawanya melainkan aku yang melarang dia untuk membawa. Jelas saja, ini kan barang yang berbahaya, jika dia tidak hati-hati lalu flame-nya meledak bagaimana? Tunggu, ini bukan berarti aku mengawatirkan dia, ya!
Dengan segera aku meletakkan 2 flame kecil yang kubawa ke sisi kiri dan kanan pohon Huffin. Sebelum meletakkannya, aku sudah mengatur timer agar keduanya meledak lima detik setelah diletakkan di tanah. Usai itu aku langsung menarik Renee mundur dan agak menjauhi pohon.
Bunyi 'boom' pelan terdengar, kini pohon Huffin yang berdaun hijau dan dihiasi warna putih bunga Huffin pun kini menjadi warna hitam. Daun dan bunga Huffin yang harusnya ada di dahan pohon kini sudah habis, tinggal batang pohon yang berwarna hitam saja, dihiasi dengan asap.
Aku tersenyum bahagia melihatnya. Bukan,bukannya aku senang 'menyiksa' tumbuhan lho, tetapi aku senang karena akhirnya tugas dari Miss Isolde ini bisa berhasil kulakukan, tanpa gangguan dari Flay. Tapi aku bingung juga, kenapa Miss Isolde meminta kami untuk membakar pohon ini? Ah sudahlah, aku tidak peduli.
Tidak lama kemudian Vayne Aurelius datang dengan dua temannya, serta Roxis yang menyusul mereka di paling belakang.
"Kau telat, Roxis," kataku sambil tersenyum.
Roxis terkejut melihat apa yang sudah kulakukan pada pohon Huffin. Ekspresi wajahnya yang bisa kutangkap ya hanya terkejutnya itu saja. Aku tidak tahu apakah ia juga merasa sedih atau senang.
Nikki memaki aku dan Renee, Jess dan Vayne hanya menatap sedih ke arah pohon yang sudah tak berdaun lagi. Aku tersenyum penuh kemenangan melihat itu, aku tinggal kembali ke akademi untuk melihat bagaimana ekspresi Flay jika tahu ketiga adik kelasnya gagal mendapat Huffin.
.
.
"Katanya pohon Huffin yang kau hanguskan itu sudah berbunga lagi," kata Renee tiba-tiba, ketika aku sedang asyik membaca manga.
"Hah?" tanyaku bingung.
Jelas saja bingung. Baru kemarin aku menghanguskan pohon Huffin –satu-satunya pohon Huffin yang bisa diraih oleh murid kelas satu-, masakah tiba-tiba pohon itu sudah kembali sehat?
"Mungkin ada guru yang membuat ramuan untuk menyelamatkan pohon itu?" ujar Renee.
Aku mengangguk mendengar perkataan sahabatku satu-satunya ini. Tapi ... jika memang pohon itu sudah sehat lagi, berarti Vayne bisa mengambil Huffin, bukan? Ini, sih, sama saja bohong, aku jadi gagal lagi walau tak dihalangi Flay! Bagaimana jika Miss Isolde sampai tahu soal ini?!
"Omong-omong, tadi di cafeteria aku bertemu dengan Miss Isolde, ia minta agar kita ke ruangannya," kata Renee lagi.
SIAL!
Aku langsung bangkit dari kursiku, meletakkan manga-ku di atas meja, kemudian keluar dari workshop, diikuti oleh Renee. Sepanjang perjalanan menuju ruangan Miss Isolde, aku berusaha merangkai kata dan kalimat untuk menjelaskan pada guru itu. Yang pasti sih, aku tidak akan berbohong, ku akan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi: aku berhasil menghanguskan pohon itu tetapi pohon itu kembali seperti sediakala begitu saja. Sudah, aku akan memberitahunya seperti itu.
Aku mengetuk pintu ruangan Miss Isolde dan beliau mempersilakan kami masuk. Ruangan itu masih sama seperti yang kulihat terakhir kali, dan posisi Miss Isolde berdiri saat kami datang pun selalu sama – berdiri menghadap rak buku dan memunggungi kami.
Sudah siap kena marah, sih, sebenarnya, tapi sebelum kena marah, aku mengeluarkan suaraku untuk menjelaskannya lebih dulu.
"Maaf, sepertinya kami ga–" kata-kataku diputus oleh Miss Isolde.
"Kalian sudah berhasil," ujar Miss Isolde. Aku langsug memasang wajah 'hah?', lalu Miss Isolde melanjutkan. "Kali ini kalian berhasil menjalankan tugas dariku dengan baik."
"Tapi kan, pohonnya sudah benar lagi, Vayne pun pasti sudah kesana untuk menambil Huffin," cicit Renee.
"Aku tidak mempermasalahkan itu. Aku meminta kalian menghanguskan pohon itu bukan agar mereka tidak bisa mengambil Huffin, tetapi karena aku ingin menyaksikan sesuatu," kata guru kami itu, kemudian ia berbalik badan dan menghadap kami. "Bagaimana dengan tugas akhir semester kalian?"
Aku melirik pada Renee. Sungguh, saking sibuknya aku membuat flame kecil demi 'tugas sampingan' dari Miss Isolde, aku sampai lupa bahwa kami juga sedang menjalani akhir semester. Tetapi kulihat wajah Renee tidak terkejut atau tegang seperti yang kulakukan saat ini. Dengan tenang ia memasukkan tangannya ke saku, mengambil satu botol yang kupikir isinya adalah ramuan –entah ramuan apa-, kemudian menyerahkan botol itu pada Miss Isolde.
Miss Isolde mengambil botol itu, membuka tutupnya, lalu memeriksa apa yang ada di dalamnya. Setelahnya ia tersenyum.
"Bagus, kalian berdua dapat nilai A," katanya. "Libur musim panas akan dimulai lusa, selama sebulan. Tidak ada tugas dariku, karena aku tidak ada di sekolah selama liburan ini."
Ia masih tersenyum sambil mengatakan itu, kemudian ia senyumnya berbeda ketika ia melihat pada Renee, mungkin itulah yang tepat dengan frasa 'senyuman penuh arti'. Renee pun membalas senyum itu pada si guru. Tapi aku tidak tahu apa maksud senyuman itu, sungguh, aku tidak mengerti kaum hawa.
Kemudian aku dan Renee keluar dari ruangan Miss Isolde. Di luar, aku pun bertanya padanya.
"Aku tidak tahu kalau ia memberikan kita tugas akhir semester," kataku. "Maksudku, iya aku tahu kita juga akan dapat tugas, tapi aku tidak tahu kalau ia sudah memberikannya pada kita."
"Soalnya aku berinisiatif meminta izin pada Miss Isolde agar tugas akhir yang harusnya dikerjakan kita berdua itu kukerjakan sendiri, tapi atas nama kita berdua," jawab Renee sambil tersenyum. "Kau begitu sibuk mempersiapkan misi Miss Isolde, kupikir kau pasti akan kelelahan jika harus riset dan uji coba membuat Elixir demi tugas akhir."
"Oh ..." gumamku, agak tercengang.
Renee itu memang hobi melakukan hal-hal yang feminim seperti merawat kuku, mengurus rambutnya, memusingkan pakaiannya, sampai tidak mau ikut bertarung dengan alasan itu akan mengotori kukunya. Aku tidak mengerti kenapa aku bisa betah ada di workshop yang sama dengan dia yang seperti itu.
Kupikir dia adalah anak yang egois –karena tidak mau membantuku berkelahi. Tapi kupikir-pikir lagi ... ternyata dia gadis yang punya sisi baik juga.
.
.
~TBC~
.
.
