"Tonyyy! Ayo bangun!" seru seseorang dari luar kamarku.

Aku membuka mataku dengan sangat malas. Sungguh, aku ingat sekali kalau hari ini masih libur musim panas, tidak perlu bangun pagi untuk bersiap masuk kelas. Dan suara yang memanggilku itu ... bukan, bukan suara ibuku, melainkan suara Renee.

Heran deh, kenapa sih, anak perempuan boleh masuk ke daerah asrama laki-laki, sedangkan anak laki-laki tidak boleh masuk ke daerah asrama perempuan? Yang kuherankan juga, kenapa Renee makin lama tingkahnya makin mirip dengan ibuku?

"Tonyyy!" teriaknya lagi sambil mengetuk pintu kamarku.

"IYA IYA AKU SUDAH BANGUN!" balasku, ikut berteriak.

.

.

Disclaimer: NIS, GUST

A/N: berusaha mengikuti alur asli MK1, kata asing ada yang tidak di italic karena akan sering dipakai, Tony x Renee.

.

Into My Heart
Chapter 5: Libur Musim Panas

by Fei Mei

.

.

Kami memesan makanan untuk sarapan di cafeteria, kemudian mengambil makanan yang kami pesan, lalu duduk di kursi. Setelah duduk, aku langsung neyuap sup itu ke dalam mulutku, sedangkan Renee melakukan ritualnya dulu sebelum makan, yakni berdoa. Tahun lalu aku pernah bertanya apakah ia selalu melakukan itu –berdoa- setiap kali melakukan sesuatu. Dia bilang sih, iya. Seperti sebelum dan sesudah makan, tidur, pergi mengerjakan tugas sekolah atau dari Miss Isolde, atau sekedar pergi ke suatu dungeon. Religius sekali, seperti ibuku.

"Jangan cemberut begitu," kata Renee setelah ia selesai berdoa. "Kau kan, sudah janji akan menemaniku belanja."

"Aku tidak pernah ingat pernah janji seperti itu," dengusku, sambil menyuapkan sup dalam mulut.

"Sehari setelah kita menyelesaikan tugas Isolde yang terakhir kali itu, kau bilang bahwa kau ingin melakukan apa saja untuk berterimakasih padaku karena sudah mengerjakan tugas akhir semester bagianmu," ujar Renee. "Dan aku bilang bahwa ingin kau temani saat belanja, kau bilang oke."

"Oh, ya, aku lupa," akuku. Memang benar, aku lupa akan janji itu.

Usai sarapan, Renee menarikku keluar dari sekolah, kemudian membawaku ke suatu pusat perbelanjaan. Gadis yang bersamaku ini bilang bahwa para gadis diperbolehkan untuk ke pusat perbelanjaan ini setiap kali libur semester. Tapi kenapa hanya perempuan saja yang boleh? Dasar, diskriminasi. Yah, bukannya berarti aku ingin belanja juga sih, hanya saja aku bosan di dalam area sekolah. Aku bisa keluar dan masuk pusat perbelanjaan ini juga karena bersama dengan Renee, kalau tidak dengan dia atau murid perempuan lain atau dengan guru, aku mana boleh menginjakkan kaki disini sebelum lulus?

Renee membawaku ke toko baju. Iya, toko baju perempuan tentu saja. Dia langsung mengambil sejumlah baju yang ia bilang 'imut' –padahal aku tidak tahu dimana letak imutnya-, lalu dibawanya ke ruang ganti. Bingung, baju sebanyak itu, dan ia harus mencoba semuanya dalam waktu singkat. Apa itu adalah 'super power' yang dimiliki perempuan?

Fashion show oleh Renee pun dimulai. Setiap kali ia mencoba baju yang tadi ia ambil di rak, ia keluar dari ruang ganti dan memperlihatkannya padaku, meminta pendapatku akan baju itu. Jelas saja aku bingung harus memberi pendapat apa. Jadilah kalau ia tanya 'cocok apa tidak', aku hanya bisa bilang 'cocok'.

Tapi aku tidak mengerti, setiap kali ia keluar dengan baju yang baru, aku selalu merasa wajahku agak lebih panas daripada biasa. Memang aku tidak mengerti bagian mana yang imut dari baju-baju itu, tapi entah kenapa kalau baju-baju itu dipakai oleh Renee ... ia terlihat begitu ... eh, manis. Mungkin jantungku berhenti sesaat setiap kali melihat dia dengan baju-baju itu.

Bukan hanya kali ini saja sebenarnya aku seperti ini. Setiap hari aku bersama dia, baik di kelas, di luar kelas, saat akhir pekan yang tidak ada kelas, aku selalu bersama dia. Melihat dia mengenakan baju seragam sekolah sebenarnya sudah biasa, apalagi semua siswi mengenakan seragam yang sama. Tapi saat akhir pekan, ada beberapa pakaian yang ia pakai yang membuatku merasa wajahku kembali hangat. Dan aku masih tidak mengerti kenapa. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak terlalu melihat kepadanya, agar wajahku jangan jadi hangat.

"Oke, aku akan bayar dulu, ya!" ujar Renee senang.

Aku hanya mengangguk sekali, dan masih duduk di tempat dudukku. Kulihat dari sekian banyak baju yang awalnya dicoba Renee, gadis itu hanya membeli 2 potong baju saja, sisanya dikembalikan. Haaaahh, dasar. Mungkin pada dasarnya ia memegang prinsip 'mencoba itu gratis, jadi cobalah sebanyaknya'.

Empat jam berlalu, mungkin kami sudah memasuki sekitar nyaris sepuluh toko sejak kami datang ke pusat perbelanjaan ini. Ya toko baju lah, toko perhiasan, pernak-pernik, dan lainnya. Renee selalu menghebohkan hal-hal kecil yang ia temukan di setiap toko, seperti anak kecil saja. Aku hanya bertugas membawakan belanjaannya yang sudah berkantung-kantung, dan juga menanggapi setiap baju yang ia coba pakai..

Mungkin ia akhirnya sadar bahwa aku sudah bosan dan lelah mengikutinya, terutama di hari yang cukup terik ini. Renee mengajakku makan siang di suatu kafe disana. Pelayan kafe itu adalah para maid dan butler, dan makanan yang terdaftar di menu itu agak kebaratan –tepatnya rata-rata adalah makanan Prancis. Renee menyebut satu nama makanan beserta minuman dalam bahasa Prancis dengan lancar. Untungnya aku menemukan satu nama makanan dalam bahasa Jepang.

"Omurice," ujarku pada maid yang melayani meja kami.

"Minumannya?" tanya maid tersebut.

Nah, aku bingung lagi. Aku membaca daftar menu bagian minuman, dan kali ini semuanya ada dalam bahasa Prancis. Lalu dengan pasrah, aku berkata dengan ketus.

"Kopi hitam saja," kataku akhirnya.

Maid itu tersenyum dan mencatat pesananku dan Renee. Setelah mengulang daftar pesanan, maid itu pun undur diri dari meja kami.

"Omurice, di kafe, seriusan?" ledek Renee.

"Aku kan, tidak mengerti bahasa Prancis!" kataku kesal.

"Oh, aku juga tidak mengerti bahasa Prancis, kok," ujar Renee.

"Lalu kenapa kau bisa memesan makanan dalam bahasa itu?"

"Hah? Di bawah tulisan bahasa Prancis itu kan, ada bahasa Inggris-nya!"

Astaga! Aku terlalu sibuk memikirkan betapa aku buta soal bahasa Prancis, sampai aku tidak melihat ada terjemahan dalam bahasa Inggris di bawahnya! Yah, tapi itu tidak terlalu banyak membantu sih, aku pun tidak begitu lancar berbahasa Inggris.

"Setelah makan, bagaimana kalau kita beli kebutuhanmu?" tanya Renee.

"Kebutuhanku?" ujarku. "Aku tidak sedang membutuhkan apa-apa."

"Oh, ayolah! Seperti baju baru, sepatu baru mungkin?" desak Renee.

"Baju dan sepatuku semua masih bagus dan bisa dipakai," kataku.

"Uuuhh! Pokoknya setelah ini aku akan menyeretmu ke toko baju pria!" kata Renee memaksa sambil mengerucutkan bibirnya.

Aduh, kok dia jadi memaksa seperti ini, ya?

Tidak lama kemudian, maid yang tadi mencatat pesanan kami datang lagi dengan makanan dan minuman yang kami berdua pesan. Ia meletakkan omurice dan kopi hitam di hadapanku, kemudian sepotong kue coklat besar serta teh dengan empat buah kelopak mawar di permukaannya di hadapan Renee.

"Kue coklat? Kau menyebut nama kue yang ribet dalam bahasa Prancis, ternyata itu hanyalah kue coklat?" ledekku, gantian.

"Ini tidak hanya kue coklat, tahu! Ada lapisan buah, keju, dan stroberi di dalamnya!" balas Renee.

Yah, terserahlah, bagiku itu hanya seperti kue coklat biasa. Aku segera melahap omurice yang terhidang di depanku dengan lahap. Enak, mungkin ini malah lebih enak dari yang biasa kumakan di kafeteria sekolah.

Aku sudah menyelesaikan makan dan minumku selama sepuluh menit, sedangkan Renee baru selesai lima menit setelah aku. Kami memanggil seorang maid yang kebetulan lewat di dekat meja kami untuk meminta bon.

Maid itu menyebutkan sejumlah angka sebagai harga total. Sebelum Renee mengeluarkan dompet dari dalam tasnya, aku lebih dulu membayar semuanya. Bukan, aku bukannya berniat ingin mentraktir Renee –harusnya malah dia yang mentraktirku karena dialah yang menarikku kemari-, tetapi orangtuaku mengajarku soal hal ini. Katanya jika suatu saat nanti aku makan berdua dengan seorang gadis, siapa pun itu, aku harus membayar semuanya, itu etika yang baik untuk seorang laki-laki. Jadi kuturuti saja sekarang.

"Oh, omong-omong, kami menyediakan servis khusus pasangan yang kencan di kafe ini, yakni dua tiket bioskop!" ujar sang maid ketika ia sudah menerima uang yang kubayar, lalu menyodorkan dua lembar tiket padaku dan Renee.

Tunggu, dia bilang apa? Pasangan? Kencan?! Mak-maksudnya berarti ia pikir aku dan Renee –?!

Kulihat wajah Renee menunjukkan rasa terkejut dan agak ... yah, agak bersemu merah. Aku tidak tahu apa maksudnya itu. Yang kutahu adalah, maid ini salahpaham!

"Tunggu dulu, kami bukan pasangan dan kami tidak sedang berkencan!" ujarku, mungkin agak sedikit keras sampai beberapa orang di sekitarku melihat ke arah kami.

"O-oh, m-maaf kalau begitu," kata maid itu salah tingkah. "Terimakasih sudah makan disini, silakan datang lagi di lain waktu."

Maid itu membungkukkan badan, kemudian meninggalkan kami. Aku menarik dan menghembuskan nafas lega, lalu melirik Renee. Kali ini wajahnya terlihat kesal dan mungkin kecewa juga. Lagi-lagi, aku tidak mengerti kenapa. Anehnya, kenapa ia begitu cepat mengganti ekspresi?

"Dasar, kenapa kau tidak terima saja tiketnya? Kan lumayan, gratis," ujar Renee. Astaga, jadi itukah sebabnya ia kesal?

"Jelas tidak kuterima, kan maid itu salahpaham, mengira kita adalah pasangan yang sedang berkencan ... " kataku sambil melipat tangan.

"Kau ... " ujar Renee pelan, dan kulihat matanya agak berkaca-kaca. Masakah ia menangis? "Dasar kau payah! Tidak peka!"

Setelah mengatakan itu, Renee segera mengambil barang-barang belanjaannya kemudian berlari keluar dari kafe. Aku bingung. Jelas saja, kenapa ia marah? Sungguh aku tidak mengerti, apa maksudnya aku telah melakukan kesalahan? Tapi apa, yang mana yang salah?

Hal berikutnya yang kutahu adalah, tiba-tiba kakiku melangkah dengan cepat keluar kafe, berusaha menyusul Renee yang sudah jauh di depanku tetapi masih tertangkap jarak pandang mataku.

Entah kebetulan atau apa, sepertinya aku sedang kena sial. Renee berlari semakin jauh, tetapi orang-orang yang ada di depanku makin banyak, sehingga aku makin tertinggal di belakang. Tetapi aku tahu, ia pasti langsung menuju asrama. Ia akan mengurung dirinya dalam kamar, dan aku yang adalah laki-laki tidak boleh menginjakkan kaki dalam wilayah asrama perempuan.

Sial. Mengapa kaum hawa itu sulit dimengerti?

.

.

~TBC~

.

.