"Akhir tahun pembelajaran kali ini akan ada festival, seperti biasa," ujar Miss Isolde.
Hari ini adalah hari pertama masuk kelas kembali setelah libur musim panas. Seperti biasa, setelah libur musim panas atau musim dingin, jam pertama di kelas diisi oleh pengarahan wali kelas, dan wali kelasku adalah Miss Isolde.
"Festival kali ini akan diselingi turnamen, dimana 2 orang dari workshop yang sama akan bertarung di sebuah arena dengan 2 orang dari workshop yang lain. Ini tidak wajib, tetapi pemenangnya tentu akan mendapat hadiah," jelas Miss Isolde, tanpa senyum tentunya.
Setelah berkata demikian, Miss Isolde keluar kelas dan membiarkan kami tetap di dalam kelas sampai pergantian jam pelajaran. Kemudian aku jadi bingung sendiri. Yah, tentu aku ingin sekali ikut turnamen itu, karena Flay juga pasti akan ikut. Aku tidak akan membiarkan dia menang, aku akan ada disana dan mengalahkan dia!
Tetapi ... harus 2 orang ... berarti aku harus merekrut antara Renee atau Roxis. Aku lebih ingin Renee tentu saja. Tidak, aku sama sekali tidak meragukan Roxis. Tetapi aku sudah sangat paham tingkah laku Renee saat bertarung, bagaimana kekuatannya, dan segala macamnya. Sedangkan adik kelasku yang berkacamata itu, aku nyaris tidak tahu apa-apa tentangnya.
Masalahnya, mungkin aku tidak bisa mengajak Renee dalam turnaman. Karena sejak kejadian di cafe itu, ia tidak mau berbicara denganku sampai sekarang. Masih bersamaku, tetapi tidak mau bicara. Dia kenapa, sih?
.
.
Disclaimer: NIS, GUST
A/N: berusaha mengikuti alur asli MK1, kata asing ada yang tidak di italic karena akan sering dipakai, Tony x Renee.
.
Into My Heart
Chapter 6: Anak Remaja yang Gundah
by Fei Mei
.
.
Kulihat Renee berjalan keluar dari ruangan Miss Isolde. Aku melihatnya, tetapi ia tidak melihatku karena aku bersembunyi dibalik tiang. Tidak biasanya ia masuk ke ruangan itu seorang diri, ia selalu bersamaku selama ini. Mungkinkah tadinya Miss Isolde menyuruh kami untuk menemuinya tetapi aku lupa? Atau Miss Isolde meminta Renee memberitahuku agar kami menemuinya tetapi Renee tidak memberitahuu sehingga sekarang gadis itu pergi sendiri?
Penasaran, aku pun mengetuk pintu ruangan Miss Isolde. Mendengar kata 'masuk' dari suara wali kelasku, aku pun membuka pintu kayu tersebut.
"Ah, jadi sekarang giliran yang laki-laki," ujar Miss Isolde setelah ia melihatku sesaat.
"Eh?" gumamku bingung akan perkataannya.
"Barusan Renee habis dari sini, sekarang kau. Padahal aku tidak minta kalian untuk datang," katanya.
"L-Lalu tadi Renee kenapa datang kemari?" tanyaku.
"Ia hanya meminta pendapatku soal pergumulan hatinya. Ia sedang berada pada masa dimana seorang gadis akan gundah segundah-gundahnya. Wajar, untuk gadis seusianya," jawab Miss Isolde. "Jadi kedatanganmu kemari adalah untuk menanyakan dia?"
"Bukan seperti itu!" jawabku cepat, dan kupikir wajahku memanas saat ini.
Kupikir Miss Isolde menyadari perubahan rona wajahku ini, ia pun tersenyum –bukan senyum dingin yang biasa-. Ia melangkahkan kakinya, berjalan ke arahku. Dan dengan tangan kanannya, ia mengacak-acak rambut di puncak kepalaku.
"Tidak ada misi untuk festival kali ini dariku," ujarnya. "Temui Renee, katakan saja bahwa kau minta maaf."
Aku membelalakkan kedua bola mataku. Jelas aku terkejut saat mendengar guruku berkata demikian. Yang tidak kumengerti, kenapa aku harus minta maaf? Kesalahan apa yang sebenarnya kuperbuat, tetapi tidak kusadari, sehingga bahkan Miss Isolde memintaku untuk minta maaf pada gadis itu?
Masih tersenyum, guru yang ada di hadapanku itu berhenti mengacak-acak rambutku, kemudian berkata lagi,
"Ia sudah menceritakan tentang libur musim panas kalian. Kubilang padanya bahwa tidak semua laki-laki akan peka terhadapa lingkungan di sekitarnya, jadi kubilang padanya untuk memaklumi dirimu yang seperti ini. Jangan khawatir, kalian bukanlah dua orang remaja pertama di dunia ini yang mengalami masalah kecil seperti ini. Salahpaham sederhana, jadi kuminta Renee untuk menjelaskan apa yang ia rasakan padamu nanti. Saat nantinya kau menyadari letak kesalahpahaman kalian, kau minta maaflah."
Menganggukkan kepala 2 kali, kulihat Miss Isolde masih tersenyum, lalu ia mempersilakan aku keluar dari ruangannya. Hmm ... menemui Renee, ya? Tapi dimana? Kalau ia sedang di asrama, jelas aku tidak akan bisa kesana. Ah, sudahlah, kuharap ia ada di workshop.
Memasuki worskhop, aku hanya melihat Roxis di dalam. Ia sedang berhadapan dengan kuali panas sambil membaca buku resep. Di meja sampi kuali ada berbagai macam bahan ramuan yang sudah siap direbus. Tidak ada tanda-tanda bahwa Renee disini. Aku bertanya pada Roxis, dan adik kelasku dengan entengnya bilang bahwa Renee sudah kembali ke asramanya.
Bagus, sekarang aku memutar otak. Bagaimana caranya aku bisa menemui Renee jika ia di asrama? Kenapa anak laki-laki tidak boleh ke asrama perempuan sedangkan anak peremupan boleh ke asrama laki-laki? Sial!
Aku nekad ke menara asrama perempuan, bertemu dengan penjaga asrama iu, menanyakan Renee, ia bilang bahwa temanku itu memang belum lama kembali ke asrama dan tidak melihatnya keluar lagi. Si penjaga tidak bisa memanggilnya, karena saat itu di lobi sedang tidak ada anak perempuan yang bisa dimintaitolong, dan si penjaga sedang menjaga seorang diri –harusnya berdua atau bertiga sih, tapi entah kenapa ia sedang sendiri.
Kuingat-ingat perkataan Renee tahun lalu, tentang kamarnya.
'Kamarku nomor 209, lantai 2. Jendela kamarnya menghadap langsung ke samping halaman sekolah.'
'Kenapa kau memberitahuku hal itu?'
'Yah, siapa tahu jika kau sebegitunya membutuhkanku tapi aku sedang di kamar, kau bisa memanjat ke kamarku. Tidak akan begitu sulit, kok, kan hanya di lantai dua, paling pojok pula.'
Ah, ternyata ada gunanya juga ia memberitahuku letak kamarnya waktu itu. Jadi kuputuskan untuk ke halaman sekolah. Eh, kalau halaman sekolah bagian samping, berarti dekat tempat pembakaran sampah, kan?
Aku menghampiri tempat itu, dan kulihat tidak ada jendela kamar di samping kiri-kanan tempat tempat pembakaran sampah itu. Kucaba melangkah keluar, mungkin jendela yang dimaksud tidak benar-benar di samping. Dan ... aha! Kutemukan jendelanya. Lantai 2 di paling pojok, berarti paling pinggir, kan?
Disana ada tumbuhan menjalar sekitar dinding, seakan menantangku untuk memanjat menuju kamar Renee. Ya sudah, aku langsung memanjat kesana. Sampai di lantai dua, kuintip jendela yang paling pinggir tersebut, dan kulihat seorang gadis duduk di hadapan meja rias. Meja rias itu memiliki cermin, dan aku bisa melihat pantulan wajah Renee disana.
Kuharap cermin itu tidak bisa menangkap pemandangan jendela –karena jika ya, maka ia akan menyadari keberadaanku. Lewat pantulan cermin, aku bisa melihat Renee sedagn berkomat-kamit tidak jelas. Seperti sedang berbicara, tetapi aku tidak melihat ada orang ain selain dirinya sendiri dalam kamar itu. Jadi ia sedang apa?
Kulihat isi kamar itu, ternyata tidak jauh beda dengan apa yang kubayangkan. Yang paling meleset dari pikiranku hanyalah warna utama dari kamar tersebut. Kupikir Renee akan mengecat dan menggunakan furnitur warna merah muda untuk kamarnya, ternyata kulihat warnanya jingga. Di sebelah meja rias terdapat lemari baju yang mungkin besarnya 3x lebih besar dari lemari kamarku. Ada meja belajar berwarna putih, kemudian di sebelahnya ada rak buku ukuran sedang. Rapi sekali, mungkin kamar perempuan memang seperti ini –ini baru pertama kalinya aku melihat langsung seperti apa kamar seorang gadis.
Lalu ada tempat tidur dengan bebeberapa boneka yang salah satunya tidak asing buatku. Boneka itu diletakkan disamping bantal kepala, sedangkan boneka lainnya diletakkan di ujung lainnya dari ranjang itu. Boneka itu adalah boneka beruang berwarna merah muda yang pernah kuberikan padanya tahun lalu sebagai hadiah ulangtahun. Tidak, aku tidak berinisiatif sendiri membeli boneka itu. Max, kakak Renee, minta tolong pada kekasihnya untuk menemani aku dan dia ke suatu toko –tentu saja bukan toko yang kudatangi bersama Renee saat liburan kemarin. Kakak laki-laki Renee itu menyuruhku memilih hadiah untuk adiknya. Pada akhirnya malah kekasih Max yang memilihkannya untukku: boneka beruang berwarna merah muda. Renee tahu tentang cerita ini, dan ia menganggap itu cerita yang lucu serta tak heran jika itu menyangkut aku.
Masih asyik melihat ke dalam kamar Renee, tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang berjalan di tanganku. Sesuatu itu adalah ... ulat bulu.
Tidak, aku tidak takut, hanya terkejut. Tetapi aku sangat ingin segera menyingkirkan serangga satu itu dari kulitku. Berusaha mengusirnya malah membuatku kehilangan keseimbangan, untungnya aku tidak terjatuh. Namun, aksiku barusan kupikir menimbulkan suara aneh yang bisa terdengar oleh Renee.
Benar saja, ia langsung beranjak ke jendelanya yang berada tepat disamping ranjangnya ini. Lalu ia membuka jendela dan menemukan aku.
"Tony?!" pekik Renee pelan.
Setelahnya ia membantuku masuk ke dalam kamarnya lewat jendela. Aku berusaha agar jangan sampai mengotori ranjangnya dengan sepatu yang masih melekat di kakiku. Lalu kami berdua terduduk diam di ranjangnya.
"Jadi ..." ujarku memulai pembicaraan. "Tadi –"
"Aku minta maaf!" ujarnya, mendahuluiku.
Lho, tadi Miss Isolde bilang padaku untuk meminta maaf pada Renee, tetapi kenapa sekarang malah Renee yang minta maaf?
"Waktu itu aku keluar dari cafe dan beralri meninggalkanmu, kemudian aku tidak mengajakmu bicara sama sekali setelahnya ... kamu pasti kebingungan ..." ujarnya.
Renee tidak mengarahkan wajahnya padaku. Matanya tetap tertumpu pada tangannya yang ia letakkan di lututnya sendiri. Wajahnya tidak seperti biasa, dan aku tidak mendeskripsikannya.
"Waktu itu ... aku kesal padamu ..." katanya lagi. "K-kau dengan sebegitunya membantah ketika maid cafe itu mengira kita berpacaran. Ng, memang kita tidak berpacaran sih, tetapi kupikir kau tidak perlu sampai berseru kencang seperti itu ... dan lalu aku berpikir ... mungkin kau membenciku, makanya kau sampai seperti itu saat si maid salahpaham. Aku kesal dan sedih ... jadi ... eh, aku langsung lari begitu saja ..."
Kulihat Renee kewalahan mencari kata-kata untuk dikatakan selanjutnya. Mungkin tadi di cermin ia sedang mencoba merangkai kata-kata yang ia ingin katakan padaku sekarang. Dan sekarang ia memejamkan matanya, asti menahan air matanya yang sudah siap tumpah.
Lalu kutarik bahunya, mendekap ia dengan kedua tangannya, dan membuat wajahnya terbenam di dadaku.
"Justru kupikir kau yang membenciku, sampai kau tidak mau bicara denganku," ujarku. Maafkan aku, aku sudah membuatmu sedih dan kesal seperti itu. Aku salah."
Kurasakan kedua tangan Renee menarik pelan baju seragamku, lalu ia mendekatkan tubuhnya padaku, seakan memintaku lebih memelukku. Aku menghembuskan nafas berat –merasa lega karena akhirnya 'salah paham' itu usai. Aku pun mengusap pelan kepala Renee.
Di ruangan itu hanya ada aku dan Renee. Saat ini tidak ada seorang pun yang mengucapkan sepatahkata. Tidak ada yang mengeluarkan suara. Anehnya, aku bisa mendengar sebuah suara, itu adalah suara jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Tapi itu milik siapa? Milikku? Milik Renee? Atau milik kami berdua?
Dan lagi ... perasaan apa yang tiba-tiba menyelinap dalam diriku ini?
.
.
~TBC~
.
.
