"Turnamen? Aku?" tanya Roxis, memastikan.

Aku meminta Roxis untuk menjadi partnerku dalam turnamen sekolah. Aku tidak meminta Renee yang menemaniku. Alasan pertamanya karena aku sudah merencanakan suatu hal dan Renee telah terlibat di dalamnya, sehingga tidak bisa menemaniku di turnamen. Alasan kedua, sekalipun aku tidak merencanakan apa-apa dan seharusnya ia bisa menemaniku, ia pasti tidak akan mau. Seperti biasa, 'berkelahi' akau membuat kuku-kukunya mudah rusak dan ia tidak mau itu.

"Flay pasti ikut turnamen itu dengan Vayne. Tidakkah kau ingin bertarung dengannya?" tanyaku, karena kutahu Roxis membenci Vayne entah kenapa.

"Baiklah," kata Roxis akhirnya.

.

.

Disclaimer: NIS, GUST

A/N: berusaha mengikuti alur asli MK1, kata asing ada yang tidak di italic karena akan sering dipakai, Tony x Renee.

.

Into My Heart
Chapter 7: Turnamen

by Fei Mei

.

.

"Taruhan?" kini Renee yang bertanya memastikan padaku.

"Tadi setelah mengajak Roxis untuk ikut turnamen, kami bertemu dengan Vayne, lalu Flay datang," kataku. "Dan percakapan yang biasa terjadi saja."

"Apa isi taruhannya?" tanya Renee. "Tolong jangan ada hubungannya denganku."

"Sayangnya, ada," kataku, lalu wajah Renee langsung jadi cemberut. "Kalau kita menang, Vayne akan masuk ke workshop kita dan Flay akan menjadi pesuruh kita. Kalau kita kalah, Roxis akan masuk workshop Flay. Kalau sampai kita kehilangan Roxis, urusannya adalah dengan Miss Isolde, berarti kau ikut berurusan dengan dia."

"Sial," umpat Renee.

Lalu kami pergi mengambil kelas untuk hari ini.

Selama berminggu-minggu sebelum turnamen digelar, aku menjalani kelas seperti biasa dengan Renee. Miss Isolde tidak memberi perintah apa-apa akhir-akhir ini. Sesekali aku melihat sekilas Flay sedang latihan dengan mana-nya di halaman belakang sekolah sendirian. Tak jarang ia menggunakan semacam topeng berwarna merah –tapi topeng itu hanya menutup sebagian atas wajahnya. Walau pakai topeng, aku masih tahu jelas bahwa itu Flay. Maksudnya, ia masih mengenakan pakaiannya yang biasa.

"Aku mau ke Infirmary, kau mau ikut?" tanya Renee suatu ketika padaku, saat ia tadinya sedang berhadapan dengan kuali ramuan.

"Mau apa kesana?" tanyaku, menyerngitkan alis.

"Beli Heal Jar, untuk menyintesis," jawab Renee.

"Kenapa tidak buat saja, Heal Jar-nya?"

"Inginnya begitu, tapi Blue Petal-nya habis dan aku malas ke Living Forest, jadi aku ingin beli saja pada Miss Melanie."

Aku mengangguk, lalu ikut Renee keluar dari workshop, menuju Infirmary. Disana ternyata tidak ada Miss Melanie. Jadilah kami menunggu sebentar.

Walau tidak ada si guru, bukan berarti ruangan satu ini tidak ada orangnya sama sekali. Di salah satu ranjang Infirmary, ada seorang gadis berambut merah muda sedang berbaring. Gadis itu adalah anak dari workshop Flay, sekelas dengan Vayne. Kalau tidak salah namanya Jess Philomele.

Jess Philomele akan masuk dalam rencanaku agar bisa menang dari Flay dan Vayne. Rencananya adalah, Renee akan menculik Jess. Teman-teman se-workshop-nya pasti akan cemas, lalu memberitahu Flay dan Vayne yang ada di auditorium. Flay akan menyuruh Vayne untuk mencari Jess, dan Flay tidak akan sanggup kalau harus melawan aku bersama Rocis seorang diri. Atau yang lebih baik lagi, Flay akan ikut dengan Vayne mencari Jess, lalu didiskualifikasi karena tidak sempat ikut babak selanjutnya. Berarti semuanya tergantung berapa banyak waktu yang bisa diulur oleh Renee.

Sekitar lima menit menunggu di Infirmary dengan Jess yang tampaknya sedang tertidur, Miss Melanie datang juga. Renee membeli sejumlah Heal Jar, membayarnya, lalu kembali ke workshop.

.

.

"Pokoknya ini harus berhasil!" kataku pada Renee.

Aku mengulang susunan rencanaku pada Renee. Tetapi tentu saja, Roxis tidak tahu soal rencanaku dimana Renee akan menculik Jess. Sesungguhnya jika rencana ini berjalan dengan baik, justru aku akan mengkhianati keinginan Roxis yang ingin bertarung dengan Vayne. Bagaimana pun, kan, Roxis awalnya bersedia ikut turnamen karena aku memberi embel-embel 'bertarung dengan Vayne'.

"Bagaimana jika aku kalah? Aku hanya berdua dengan mana-ku, lho, sedangkan mereka ... " ujar Renee, sambil menghitung-hitung dengan jarinya. "Ada bertiga. Berempat kalau tambah Flay."

"Kalau kalah tidak masalah, sih, asal kau dapat mengulur waktu lama-lama, setidaknya sampai final," kataku. "Lagian kau pasti menang, kok, lawanmu kan hanya adik-adik kelas."

"Hanya, sih, tapi aku sendirian," dengus Renee pelan, tapi aku dapat mendengarnya.

Lalu setelah saling mengucapkan 'semoga beruntung', kami menjalani 'tugas' masing-masing. Renee memasukkan obat tidur ke dalam sebuah kue yang akan ia berikan pada Jess. Kami optimis sekali bahwa Jess akan menerima dan memakan kue itu dengan senang hati dan tanpa rasa curiga sama sekali –ia kelewat polos dan inosen soalnya. Lalu aku menyiapkan beberapa barang yang mungkin akan aku pakai dalam turnamen.

Setelah selesai, Renee pergi mencari Jess, sedangkan aku mencari Roxis. Sejujurnya saat pertama kali Roxis bergabung dengan workshop-ku, sangat mudah menemukan ia –ia selalu di perpustakaan soalnya. Tetapi ketika libur musim panas usai, aku tidak pernah menemukan Roxis lagi di perpustakaan, ia bilang bahwa ia trauma, tapi aku tidak pernah tanya trauma akan apa dan kenapa.

Terakhir kali aku mencari Roxis, aku menemukan ia sedang membaca buku di teras. Mungkin ia ada disana juga saat ini, jadi tanpa pikir panjang, aku langsung ke teras. Benar juga, ia sedang disana, membaca buku tebal.

"Hei, Roxis! Kau siap untuk ikut turnamen?" sapaku, dan tanyaku juga.

"Ya," jawabnya singkat, menutup buku yang ia baca, lalu menghampiriku. "Pergi sekarang?"

"Ayo!" kataku, lalu kami berjalan ke auditorium.

Auditorium sudah sangat ramai ketika aku dan Roxis sampai disana. Para peserta turnamen sudah siap di depan panggung dengan pasangan masing-masing, sedangkan para penonton sudah di kursi. Kulihat Flay dan Vayne ada di barisan depan. Pasti Flay yang menarik Vayne untuk ada di barisan itu.

MC memberi arahan singkat tentang turnamen, lalu memperlihatkan susunan pertandingan di papan. Karena ada banyak peserta, maka pertandingan dibagi menjadi dua grup. Aku dan Roxis ada di grup B, sedangkan Flay ada di grup A. Flay bertanding duluan, jadi ia dan Vayne bersama kedua lawan mereka naik ke atas arena.

Aku tidak mengenal siapa lawan Flay. Yah, aku sangat parah dalam mengingat nama dan wajah orang. Tapi siapa pun lawannya, keduanya begitu lemah sehingga Flay dan Vayne menang mudah.

Usai pertandingan pertama, kulihat seorang dari workshop Flay, kalau tidak salah namanya Nikki, menghampiri sisi arena, berlari menuju Vayne dan Flay yang ingin turun dari sini. Wajahnya begitu panik, sepertinya ia sedang memberitahu suatu hal pada Vayne dan Flay. Dari situ aku mengerti, pasti Nikki sedang memberitahu bahwa Jess menghilang. Berarti Renee sudah menyelesaikan tahap pertamanya.

Dengan senyum sinis, aku meninggalkan Roxis yang ada di sampingku untuk menghampiri rivalku yang berbadan kekar itu.

"Hei, aku tidak melihat temanmu yang berambut merah muda itu," ujarku.

"Aku tahu ini pasti ada hubungannya denganmu, whai orang jahat!" kata Flay.

Yah, tentu saja. Kalau ada hal yang salah di workshop Flay, pasti aku yang jadi sumber masalahnya. Dan kalau ada yang bermasalah dengan workshopku, pasti itu diperbuat oleh Flay.

"Vayne, kau pergi cari Jess," titah Flay.

Oh, ini dia. Tapi kenapa kau tidak ikutan, Flay?

"Tetapi bagaimana dengan turnamen?" tanya Vayne.

"Aku akan mengatasinya disini," ujar Flay, heroik sekali kedengarannya. "Kembalilah sebelum final."

Vayne mengangguk, kemudian pergi dengan Nikki. Aku kembali ke Roxis sambil mendengus.

"Yakin sekali dia akan bertahan sampai final ... " dengusku, sepertinya tidak cukup pelan karena Roxis langsung melirikku.

"Kau bilang apa?" tanyanya.

"Tidak bilang apa-apa," jawabku.

"Ada apa dengan Vayne dan Flay tadi? Kenapa Vayne keluar dari auditorium?" tanya Roxis lagi.

"Entah, sepertinya mereka sedang punya masalah," jawabku cuek, lalu Roxis pun tidak menanyakan apa-apa lagi.

Tidak lama kemudian, namaku dan Roxis dipanggil untuk naik ke arena. Aku tidak mengenal siapa yang menjadi lawanku. Lawanku adalah sepasang gadis kelas satu. Keduanya berkaki pendek, dan tubuhnya kecil pula. Kuyakin kekuatan fisik mereka begitu lemah, tapi mungkin mereka memiliki jurus sihir yang keren.

Tetapi aku salah. Keduanya memang lemah di kekuatan fisik, tetapi mereka tidak bisa menyihir sama sekali. Jadilah ... aku dan Roxis menang telak. Membosankan.

Kami kembali duduk di kursi, berharap pertandingan kedua kami akan lebih menarik. Sebelum mencapai final, kami memang harus menang 3 kali pertandingan dulu.

Lalu nama Flay dan Vayne dipanggil. Aku sungguh berharap bahwa Flay akan didiskualifikasi karena ia tidak muncul bersama dengan Vayne, partnernya yang sudah terdaftar. Tetapi Flay memang tidak bisa dikalahkan dengan cara apa pun. Ia malah meminta seorang sisw yang menjadi panitia bagian keamanan untuk menjadi partner-nya selama Vayne tidak ada. Menyebalkan.

Kuharap Flay jadi kesulitan karena tidak ada Vayne, tetapi ternyata tidak begitu juga. Flay masih menang dalam pertandingan walau tanpa Vayne. Partner baru Flay tidak begitu ikut bertanding, ia hanya dimanfaatkan agar Flay masih tetap boleh di arena.

Pertandingan kedua dan ketigaku ternyata memang lebih baik dari yang pertama, dan aku menang. Oke, kami –aku dan Roxis- menang. Dan Renee masih belum kembali, berarti Renee sedang berusaha gila-gilaan untuk mengulur waktu.

Kini aku sedang menunggu babak final. Pertandingan Flay adalah pertandingan terakhir sebelum final, dan ia masih dengan partner 'sampingan'. Setelah Flay menyelesaikan pertandingannya, aku menghampiri ia yang akan turun dari arena.

"Kau akan didiskualifikasi, Flay, karena kau tidak bisa ikut final jika tidak dengan partner yang sudah kau daftarkan!" ujarku senang.

"Hah, tidak akan!" katanya penuh percaya diri. "Coba kau lihat belakangmu!"

Eh? Belakangku? Aku langsung membalikkan tubuhku, dan melihat Renee berjalan menghampiriku. Bajunya lusuh karena habis bertarung, rambutnya agak berantakkan, dan aku bisa melihat kakinya ada sekitar dua-tiga goresan luka.

"Maaf, mereka mengeroyok aku," katanya, dengan tersenyum. Dan itu bukan senyum sinis, sarkastik, atau sejenisnya. Hanya ... tersenyum biasa.

Lalu kulihat Vayne berlari menghampiri Flay.

"Maaf, Flay, apa aku terlambat?" tanya Vayne sambil berusaha mengatur nafasnya.

"Tidak, kau tepat waktu," kata Flay, lalu ia menghampiri panitia yang menemaninya selama dua pertandingan. "Terimakasih, tanpa kau, ku tidak akan bisa mencapai final."

Kemudian MC memanggil nama Flay, Vayne, aku, dan Roxis untuk naik ke arena. Pertandingan final. Roxis pasti senang sekali karena ia akan bertarung dengan Vayne. Dan bukannya aku pesismis, tetapi ... eh, aku tidak begitu yakin kami akan menang.

Renee menyadari kecemasanku. Ia menggenggam erat tanganku dan berkata 'semoga berhasil' sambil tersenyum. Aku mengangguk. Sebelum naik ke arena, aku menyuruhnya ke Infirmary, ia menurut.

Aku dan Roxis, serta Flay dan Vayne, kini ada di atas arena. Saat MC mengatakan 'mulai', kami bertarung dengan segenap hati. Terlihat jelas, kupikir, bahwa kami berempat menyimpan tenaga kami untuk final ini. Dan kami menyerang satu sama lain dengan sungguh-sungguh.

Saat merasa sudah terdesak –kulihat Roxis sudah kelelahan dan aku merasa sudah tidak sanggup lagi-, aku baru mengeluarkan manaku. Tetapi mungkin seharusnya aku mengeluarkan manaku lebih awal, karena saat aku akan mulai menyerang menggunakan mana, Vayne menyerang kami.

MC langsung menyatakan pertandingan selesai, berarti Flay dan Vayne menang. Sial.

Kini aku tidak hanya gagal memasukkan Vayne dalam workshop-ku, tetapi aku juga harus kehilangan Roxis dari workshop-ku. Apa yang harus kukatakan pada Miss Isolde kalau seperti ini?!

.

.

~TBC~

.

.