Selama dua tahun kemarin aku bersekolah di Al-Revis, mungkin kekalahanku di turnamen akhir tahun ajaran kemarin itu yang paling menyebalkan. Tidak, aku tidak masalah akan hal kalah ditonton oleh seluruh murid lain. Bukan itu. Melainkan untuk kesekian kalinya aku kalah dari Flay. Ditambah lagi, mau tak mau Roxis harus pindah dari workshop ku ke workshop Flay. Ini parah luar biasa.

Miss Isolde memang tidak tahu soal taruhanku dengan Flay –karena maksudnya jika menang, ini akan menjadi kejutan untuk wali kelasku itu. Di hari turnamen beliau juga tidak datang. Sehari setelah turnamen, Nikki, anak dari workshop Flay tiba-tiba datang ke workshop kami, lalu menyeret Roxis keluar. Dari situ aku tahu, bahwa aku harus segera memberitahu Miss Isolde tentang hal ini.

Ia tidak marah, hanya sangat kecewa. Selama musim semi di tahun ketigaku di sekolah ini, Miss Isolde tidak memberi kami misi atau hukuman karena Roxis terpaksa masuk workshop Flay. Karena tidak ada misi, Miss Isolde pun memberi kami pekerjaan dan tugas sama dengan murid-murid kelasku lainnya.

Tetapi ia masih mengistimewakan aku dan Renee. Terakhir kali ia bilang, aku tetap boleh merecoki apa yang dikerjakan oleh kelompok Flay. Miss Isolde berkata bahwa ia akan membela kami jika perbuatan kami terhadap Flay diketahui guru lain.

.

.

Disclaimer: NIS, GUST

A/N: berusaha mengikuti alur asli MK1, kata asing ada yang tidak di italic karena akan sering dipakai, Tony x Renee.

.

Into My Heart
Chapter 8: Proyek Musim Panas

by Fei Mei

.

.

"Menyebalkan!" kataku, begitu aku dan Renee sampai di workshop.

Workshop itu kini hanya beranggotakan aku dan Renee saja. Baik aku maupun perempuan satu ini sama-sama tidak berniat menambah jumlah anggota. Berdua tidak masalah, apalagi kami mendapat izin dari Miss Isolde.

"Yah, setidaknya tugas itu tidak hanya untuk kita berdua," kata Renee, sambil mengambil tempat dudul di sofa. "Seluruh murid kelas kita mendapat tugas yang sama. Malah, seluruh murid sekolah ini mendapat tugas menyebalkan ini sekarang."

Aku merebahkan tubuhku di atas sofa yang lain, yang ada tepat di sebelah jendela besar di workshop. Cahaya matahari masuk menembus ke dalam ruangan dari jendela, dan menyirami tubuhku dengan sinar hangat mentari.

Saat ini sudah masuk musim panas, ini akan jadi musim panas terakhirku di sekolah ini. Aku sudah kelas riga, dan akan lulus tahun ini. Tentu saja akan lulus, aku optimis akan dapat nilai baik untuk kelulusan.

Mulai besok libur musim panas dimulai. Seperti biasa, libur musim panas adalah libur terpanjang dengan tugas yang menumpuk. Tetapi untuk tahun ini, tugas-tugasnya tidak menumpuk, bahkan kudengar para guru di setiap pelajaran tidak diperbolehkan untuk memberi tugas. Sebagai gantinya, wakil kepala sekolah memberikan sebuah tugas proyek yang cukup besar kepada setiap murid, dan dikerjakan per-workshop. Tugasnya adalah membuat sebuah uji coba, atau penemuan, atau apa pun, yang bisa disebut sebagai 'proyek besar'.

Tugas ini sudah diberitahukan sejak awal semester tahun ajaran ini. Dan aku sudah mncari-cari hal yang akan aku dan Renee kerjakan untuk tugas musim panas sejak itu, tapi tidak ada ide sama sekali. Sepertinya Renee pun tidak mendapat ide, sebab jika ia sudah mendapatkannya, pasti ia langsung memberitahuku.

Seandainya Roxis masih di workshop ini, mungkin ia akan punya segudang ide, walau ujung-ujungnya mungkin adalah penemuan ramuan baru –dan dia akan bekerja jauh lebih banyak dari kami untuk proyek itu.

Ditambah lagi, aku tidak berani memikir soal proyek besar yang merepotkan. Maksudku, ini dikerjakan per-workshop, dan di workshop ini hanya ada aku dan Renee. Hanya berdua, tidak berani melakukan hal besar yang merepotkan, takutnya kami tak sanggup.

Yang membuat lebih menyebalkan adalah ketika tahu Flay berhasil menculik seorang siswi kelas satu untuk masuk workshop-nya. Tidak, aku tidak iri. Tapi kini anggota workshop Flay sekarang sudah terbilang banyak, dan akan mudah baginya untuk melakukan proyek besar. Sial.

"Mau minta pendapat Miss Isolde?" tanya Renee. "Kita masih jadi murid kesayangannya, mungkin ia akan membantu?"

Aku mengangguk dan berharap Miss Isolde akan memberi kami jalan keluar. Aku pun bangkit dari sofa, lalu keluar dari ruangan workshop bersama Renee. Kami langsung berjalan menuju ruang guru.

Ruang Miss Isolde adalah ruang guru yang paling dekat dengan workshop-ku, letak dari workshop ke ruang guru pun tidak jauh. Walau tidak jauh, tetap saja kami melewati banyak murid lalu lalang. Seperti, yah, Vayne dan Flay yang tiba-tiba berlari melewati aku dan Renee sambil mengenakan topeng biru dan merah, yang mana kedua topeng itu hanya menutup setengah atas wajah mereka –yang membuatku yakin dan percaya itu Vayne dan Flay. Ada lagi Koropok, si tukang gosip yang hobinya mandek di kafeteria. Ada seorang anak perempuan yang sedang berusaha membuat seekor kucing turun dari pegangan di tangga. Dan lain sebagainya.

Sampai di depan ruang Miss Isolde, aku mengetuk pintu, lalu ia mempersilakan masuk.

"Ah, kalian rupanya," ujar Miss Isolde. "Tidak ada misi untuk saat ini."

"Eh, yah, tentu saja, kalau ada misi anda pasti memanggil kami," kataku.

"Kami hanya ingin tanya pendapat anda, tentang apa yang mungkin bisa kami jadikan proyek musim panas," kata Renee. "Mungkin kau bisa membantu kami?"

"Hm," Miss Isolde mengangguk-angguk. "Apa yang dikerjakan oleh Flay dan teman-temannya untuk proyek?"

"Entah, aku tidak mencari tahu," jawabku jujur.

"Kalian bisa memakai keistimewaan yang kuberikan pada kalian," ujarnya. "Kau boleh merecoki Flay saat akan mengerjakan tugas proyeknya, atau mungkin mencuri idenya."

"Tapi bukankah akan sulit bagi kami berdua untuk mengerjakan proyek yang seharusnya dikerjakan oleh ... astaga, berapa jumlah anggota workshop Flay sekarang?" ucap Renee.

"Itu hanya pendapatku," kata Miss Isolde.

Aku mengangguk. Dan sejujurnya aku ingin ikut usul wali kelasku ini. Tetapi permasalahannya ya, yang tadi diucapkan Renee. Pun kami tidak tahu apa yang akan dikerjakan Flay.

.

.

Tinggal dua hari sampai libur musim panas usai. Baik aku dan Renee sama-sama belum mengerjakan proyek apa pun. Aku pun curiga bahwa workshop Flay belum kerja apa-apa, sebab aku tidak melihat mereka ... eh, seperti ke dungeon atau apa, tidak ada. Aku cemas, jangan-jangan workshop Flay bahkan sudah menyelesaikan proyek mereka tanpa aku sadari? Kemudian aku tiba-tiba melihat Nikki dan Jess sedang berlari menuju workshop mereka. Dan jika aku tidak salah dengar, mereka mengatakan hal seperti:

"Ayo cepat! Flay bisa marah jika kita terlambat!"

"Proyek macam apa, sih, yang akan kita kerjakan?"

Mendengar keduanya berbicara seperti itu, aku langsung semangat lagi. Ketika Nikki dan Jess masuk ke dalam workshop, aku menguping lewat pintu mereka.

Aku bisa mendengar bahwa Flay akan membawa para adik kelasnya ke Mana Ruin, reruntuhan yang di dalam. Katanya, ada sebuah gudukkan yang cukup besar disana, lalu Flay mencurigai di dalam gundukkan itu pasti ada hal yang menarik dan itu akan menjadi penemuan besar.

Tersenyum lebar, aku langsung meninggalkan pintu workshop Flay untuk kembali ke workshop ku sendiri. Renee sedang asyik membaca majalah ketika aku kembali, lalu aku langsung menyuruh bersiap-siap ke Mana Ruin.

"Memangnya Flay akan melakukan aoa disana?" tanya Renee, sembari menyiapkan barang-barang.

"Entah," jawabku. "Menggali, atau apa, entah. Kita akan kesana duluan dan menunggu sampai mereka datang dan mendapatkan barang yang mereka cari. Setelah itu kita akan keluar dan merampas penemuan mereka –biar kita yang meneliti."

"Astaga, kau kejam sekali," kata Renee dengan sarkastik.

"Yeah? Kalau begitu apa yang harus kita kerjakan untuk proyek, Renee?" tantangku.

"Entahlah, mungkin kita bisa mencoba-coba mencampurkan ramuan-ramuan?" katanya.

Aku mendengus. Yah, itu tidak ada salahnya untuk dicoba sebenarnya. Tapi dengan kemampuan alkemiku dan Renee yang hanya tergolong 'baik', sepertinya tidak cukup untuk bermain-main mencampur beberapa ramuan.

Setelah selesai dengan segala persiapan, kami pun berangkat ke Mana Ruin. Sampai di reruntuhan dalam Mana Ruin, aku dan Renee mengambil tempat untuk sembunyi. Ternyata kami agak terlambat dari jadwal seharusnya. Aku berencana untuk sampai disini sebelum Flay, tetapi ternyata Flay sampai lebih dulu. Ya sudahlah, setidaknya saat ini bahkan Vayne baru mulai menggali gundukkan yang dimaksud Flay.

Vayne yang sedang menggali tiba-tiba berhenti, ia bilang sepertinya sudah meraih benda yang dimaksud. Adik kelasku yang berambut abu-abu itu langsung jongkok, lalu mengangkat keluar sebuah benda dari tempat ia menggali. Benda itu seperti sebuah pot tanaman yang terbuat dari bahan metal. Warnanya biru-putih. Tetapi kutahu itu pasti bukan sekedar pot biasa.

Dengan segera aku menarik lengan Renee untuk keluar dari tempat sembunyi, kemudian kami berhadapan dengan Flay dan teman-temannya.

"Menjauhlah dari ... eh, dari benda itu!" seruku.

"Orang-orang ini lagi," kata Flay setengah mendengus.

"Siapa orang-orang ini, Flay?" tanya seorang gadis kecil berambut biru dengan pedang yang panjang. Kupikir gadis ini pasti murid kelas satu yang Flay culik.

"Tony dan Renee," jawab Flay. "Orang-orang jahat."

"H-HEI! Enak saja kau bilang seperti itu!" kataku. "Pokoknya serahkan benda itu atau kami kalian harus berhadapan dengan kami!"

"'Kami'?" tanya Renee. "Aku tidak bisa, tadi siang aku baru saja mewarnai kuku-kuku jari tanganku."

"Kau kan, bisa melakukannya lagi setelah ini!" kataku.

"Aku tidak ingin membuang-buang kutek, harganya cukup mahal dan aku malas pergi ke toko hanya untuk beli itu," jawab Renee.

"Eh, bisa tidak kalian melakukan lelucon pasangan kalian di tempat lain?" tanya Nikki.

"P-Pasangan?! Jangan bercanda!" bentakku.

Dan sebelum aku membentak lebih lanjut soal itu, aku teringat akan kejadian saat musim panas tahun lalu, dimana aku bilang pada seorang pelayan bahwa aku dan Renee tidak berpacaran lalu Renee jadi menghindariku. Oke, aku tidak akan melakukannya lagi. Jadinya aku langsung ke topik awal.

"Pokoknya aku akan mendapatkan benda itu!" kataku.

Lalu kami bersiap untuk bertarung. Flay dan teman-temannya langsung mengeuarkan senjata dan Mana mereka. Dengan enggan Renee pun ikut mengeluarkan Mana miliknya. Perarungan pun dimulai. Aku hanya berdua dengan Renee, sedangkan Flay bertujuh. Ini, sih, nyaris bisa dibilang keroyokan!

Kulihat Roxis kini menggunakan kekuatan Mana. Seingatku dulu ia bilang bahwa ia tidak punya Mana. Berarti Mana of Light miliknya itu baru ia dapatkan beberapa belum lama ini. Aku pun memutuskan untuk mengeluarkan kekuatan Mana milikku lebih cepat dari seharusnya.

Dipihak Flay ada Jess yang bisa menyembuhkan luka, serta Pamela yang imortal. Sedangkan aku dan Renee tidak punya kekuatan untuk menyembuhkan, jadi paling kami hanya memakai Healing Item saja dan itu kurang efektif.

Dan karena jumlah orangnya saja sangat kurang, aku dan Renee pun ... tidak sanggupp bertarung lagi. Aku masih bisa sebenarnya kalau memaksakan diri, tetapi sepertinya Renee sudah tidak sanggup lagi. Jadilah aku memegang lengannya dan kami ber-telerport kembali ke workshop.

"Jadi, bagaimana dengan proyeknya?" tanyanya ketika sudah di workshop, sambil memulihkan kekuatannya engan Item yang ada.

"Mau bagaimana lagi? Kita akan campurkan ramuan-ramuan seperti yang kau mau saja!" kataku, sambil memberikan sapu tangan yang telah kubuat lembab dengan air padanya, dengan maksud agar ia bisa mengelap tangan dan kakinya yang kotor.

Renee tersenyum sambil menerima sapu tanganku, lalu mulai mengelap lukanya.

Aku berjalan menuju lemari dan rak penyimpanan yang ada di workshop, memikirkan ramua macam apa saja yang bisa dan akan dicampurkan. Masih tidak tahu mau menggunakan ramuan apa, aku memutuskan untuk memanaskan air dalam kuali lebih dulu.

"Tony?" panggil Renee.

"Apa?" tanyaku, melirik padanya.

"Terimakasih sudah membawaku kembali kesini," ujarnya, sambil tersenyum

.

.

TBC

.

.