"Akan ada dua acara besar selama musim gugur tahun ini," ujar Miss Isolde. "Lomba maraton per-workshop, dan semua anggotanya harus ikut karena itu akan dinilai. Lalu di akhir musim akan ada Kontes Trivia, setiap workshop mengirimkan dua peserta, tetapi tidak wajib."
Hanya sampai itu saja aku mendengar pengarahan Miss Isolde. Sisanya aku hanya menatap keluar jendela kelas, dimana daun-daun yang berwarna coklat terang berguguran dari pohon.
Ya, sekarang sudah memasuki musim gugur. Daun-daun akan rontok, angin dengan suhu rendah mulai berhembus. Musim gugur terakhir akan kulewati di Al-Revis, dan belum sekalipun aku berhasil mengalahkan Flay.
.
.
Disclaimer: NIS, GUST
A/N: berusaha mengikuti alur asli MK1, kata asing ada yang tidak di italic karena akan sering dipakai, Tony x Renee.
.
Into My Heart
Chapter 9: Pengakuan
by Fei Mei
.
.
"Maraton dan Kontes Trivia," gumam Renee, ketika kami berjalan kembali ke workshop. "Kau mau ikut Kontes Trivia?"
"Tentu saja aku harus ikut!" kataku. "Sebab Flay pasti akan mengikuti kontes itu! Berarti itu adalah kesempatan terakhirku untuk bisa menang darinya!"
Kudengar Renee menghembuskan nafas berat, seakan sudah lelah. Mungkin iya sudah bosan karena aku selalu membicarakan tentang betapa aku ingin menang dari Flay. Akhir-akhir ini aku memang sering mengangkat pembicaraan itu. Habis bagaimana lagi? Selama nyaris tiga tahun di sekolah ini, aku hanya berhasil mendapatkan Roxis di workshop-ku saja –itu pun pada akhirnya ia direbut Flay. Sungguh, aku kesal.
"Berarti setidaknya kau harus berusaha di lomba maraton," kata Renee kemudian.
"Hah? Kau kan, juga ikut!" ujarku.
"Memang, tapi aku tidak mungkin bisa menang, kau tahu aku payah soal ini," katanya. "Jadi, kau harus berusaha sendiri."
"Tidak, tidak. Bagaimana pun caranya, kita berdua harus ada di paling depan, lalu menghadang setiap murid yang lain –bertarung kalau perlu- sampai Flay datang. Kita akan bertarung dengan Flay, dan setelah menang barulah kita pergi ke garis akhir," kataku, memberitahu Renee rencana yang baru saja masuk dalam kepalaku.
"Setelah menang? Bagaimana kalau kita kalah? Terakhir kali kita kalah melawan mereka di Mana Ruin, dan kini Flay punya anggota baru di workshopnya," kata Renee.
"P-pokoknya kita harus menang!" ujarku kesal.
Habisnya, berarti hanya tinggal dua kesempatan itu saja aku bisa menang dari Flay. Sebagai murid kelas tiga, semester ini begitu berat, karena ujian kelulusan sudah sangat dekat. Seingin-inginnya aku menang dari Flay, tentu saja aku tetap memilih untuk bisa lulus sekolah.
Sepertinya Miss Isolde pun paham soal sibuknya murid kelas tiga. Ia tidak pernah memanggil kami ke ruangannya untuk misi akhir-akhir ini. Dari semua misi yang ia berikan, aku paling tidak mengerti soal pohon Huffin, sampai saat ini aku tidak mengerti. Miss Isolde menyuruh kami merusak pohon itu, tetapi tiba-tiba pohon itu sehat lagi dan Miss Isolde tidak mempersalahkannya.
"Omong-omong, Miss Isolde memanggilmu," kata Renee. "Ia ingin kau ke ruangannya, sendiri."
Aku menaikkan sebelah alis, bingung. Tapi aku mengangguk, lalu keluar dari workshop, berjalan ke ruangan Miss Isolde, sambil berpikir apa yang ia inginkan. Mungkinkah ia marah karena aku kalah lagi melawan Flay? Atau ia marah karena hanya Renee yang datang kepadanya untuk mengumpul tugas kami?
Waktu itu, aku sebegitu takutnya menghadapi Miss Isolde, Renee menawarkan diri untuk pergi sendiri menghadapnya. Proyek musim panas kami adalah ramuan ... yah, Renee bilang ramuan kreasi kami yang asal-asalan itu bisa menyembuhkan luka lebih cepat dari Healing Item lainya. Renee sudah mencatat resep dan cara pembuatannya, kemudian membawa kertas catatan dan ramuan itu menghadap Miss Isolde seorang diri. Mungkin pada saat itulah ia diminta wali kelas kami untuk memanggilku ke ruangannya seorang diri.
Sampai di depan ruangan, aku mengetuk pintu, tetapi tumben sekali kali ini tidak ada jawaban. Aku mengetuk pintu lagi dan memanggil Miss Isolde, masih tidak ada jawaban. Kucoba untuk memutar kenop pintu, tetapi ternyata pintu itu dikunci.
"Oh, Tony?" panggil seorang pria dari belakang.
"Mr Zeppel," sapaku pada pria yang memanggilku.
"Kau mencari Isolde?" tanyanya, kujawab dengan anggukan. "Tadi aku bertemu dia di lorong, ia bilang mau ke perpustakaan. Mungkin kau bisa menemuinya disana."
"Terimakasih Mr Zeppel," ucapku, kemudian berjalan cepat ke arah perpustakaan.
Benar juga, ternyata Miss Isolde memang sedang di perpustakaan. Ruangan itu sepi pengunjung hari ini. Pengurus perpustakaan sedang tidak di tempat, mungkin itu sebabnya perpustakaan sepi –karena jika tidak ada pengurus perpustakaan berarti mereka tidak bisa meminjam buku. Mungkin hanya ada empat atau lima murid yang sedang duduk membaca di kursi.
Aku pun menghampiri Miss Isolde yang sedang berdiri menghadap rak buku, tampaknya sedang mencari bacaan.
"Miss Isolde," panggilku, lalu ia mengalihkan matanya padaku. "Renee bilang anda memanggil saya."
"Ah, ya," kata Miss Isolde, tersenyum seperti biasa. "Ayo duduk. Tadi kau mencari ke ruanganku?"
"Ya, tapi tidak ada jawaban disana, lalu Mr Zeppel memberitahu anda ada disini," jawabku. "Ada misi baru?"
"Tidak," kata Miss Isolde, menggelengkan kepalanya.
"Anda marah karena yang pergi mengumpulkan proyek musim panas kami hanya Renee?" tanyaku lagi.
"Tidak, aku tidak masalah soal itu," katanya lagi. "Aku hanya ingin menanyakan beberapa pertanyaan mengenai Renee."
"Renee? Ada apa dengannya?" tanyaku, bingung.
"Sewaktu mengumpulkan proyek musim panas kalian waktu itu, karena ia sendirian tanpa kau, aku mengajaknya berbicara santai tentang beberapa hal, dan ia menceritakan beberapa hal yang menarik buatku," katanya.
Renee membicarakan banyak hal pada Miss Isolde? Miss Isolde yang ditakuti banyak murid ini? Ah, pantas saja Renee lama sekali waktu itu. Aku menungguinya di workshop, mungkin sekitar tiga jam kemudian ia baru kembali. Kupikir ia dimarahi Miss Isolde, tapi ia bilang tidak, ia malah berkata bahwa ia habis melewatkan waktu yang cukup menyenangkan dengan guru satu itu.
"Ia cerita tentang kau yang memanjat dinding untuk mengintip kamarnya," kata Miss Isolde terus terang.
Aku terperanjat. Jangan-jangan pembicaraan antara Renee dan Miss Isolde itu adalah tentang aku?!
"Lalu kau memeluknya di kamarnya," lanjut Miss Isolde, masih tersenyum. "Cara yang meminta maaf yang menarik."
"E-eh?" tanyaku pelan.
"Dan ia cerita soal pertarungan dengan Flay yang terakhir itu," kata Miss Isolde. "Katanya kau langsung memegang lengannya dan membawanya kembali ke owrkshop, lalu membantu merawat lukanya."
"H-Habisnya, bisa berbahaya jika lukanya dibiarkan begitu saja!" kataku cepat, begitu aku merasa wajhku mulai hangat.
"Pertanyaanku sekarang, bagaimana perasaanmu pada Renee?" tanya Miss Isolde.
Aku terbelalak mendengar pertanyaan itu. Sungguh, aku terkejut. Sepanjang perjalanan melewati lorong sekolah, aku telah menyiapkan diri untuk dimarahi atau diceramahi oleh guruku ini. Tetapi tidak, aku tidak menyiapkan diri untuk pertanyaan semacam ini.
Perasaanku pada Renee ... perasaan apa? Aku tidak tahu. Bahkan tepatnya, aku sama sekali tidak pernah berpikir soal itu. Renee adalah anak yang baik, periang juga, cukup cerdas kurasa. Pertama kali kulihat dia saat kelas satu, kupikir ia seperti boneka, ia cantik –tidak, dia manis, tepatnya. Dia sering membantuku belajar. Dan sejujurnya dia sangat feminim, pakai kutek, rias wajah, baju-baju yang ia beli pun begitu feminim. Walau begitu, kadang aku lupa menganggapknya sebagai anak perempuan tiap kali aku berhadapan dengan Flay.
Jadi intinya bagaimana?
"Renee ... eh, dia anak yang baik," kataku akhirnya.
"Kau tidak menjawab pertanyaanku," tegas Miss Isolde. "Yang kutanyakan adalah tentang perasaanmu padanya, bukan pendapatmu tentangnya."
"Perasaanku ... eh, aku tidak tahu," akuku.
"Baiklah," katanya. "Pendapatmu tentangnya? Selain 'dia anak yang baik'."
"Dia ... periang?" kataku, lalu melihat Miss Isolde seperti menuntutku mengatakan hal selanjutnya. "Cerdas, kelewat feminim, m-manis."
"Manis?" ulang Miss Isolde. Dari cara bicaranya, kupikir ia senang aku mengatakan kata itu. "Apa kau juga berpikir dia cantik?"
Dengan agak ragu, aku mengangguk pelan. Miss Isolde tersenyum puas. Kemudian bergumam seperti 'Tony, Tony, Tony...'.
"Jadi kau suka padanya?" tanya Miss Isolde tiba-tiba.
"Ap-APA?! TIDAK! Tidak, tidak, TIDAK!" jawabku, agak kelewat keras.
"Hei, ini di perpustakaan!" seru seseorang darijarak beberapa meja dari aku dan Miss Isolde.
"Aku tidak menyukainya, tidak seperti itu," ulangku.
"Tapi kau selalu bersamanya," kata Miss Isolde lagi.
"Karena di workshop tidak ada orang lain."
"Kau tidak mencari anggota lain. Dan sekalipun ada Roxis waktu itu, kau tetap hanya dengan Renee."
"Aku malas mencari anggota. Dan Roxis adalah adik kelas, wajar jika aku tidak dekatnya."
"Anggota Flay adalah adik kelasnya semua, jadi alasanmu untuk Roxis tidak kuterima," kata Miss Isolde. "Apa yang terjadi jika suatu ketika kau terbangung di asrama, kemudian mendengar kabar bahwa Renee hilang?"
"Aku akan mencarinya," jawabku.
"Ia diculik oleh monster besar yang sangat kuat, berkali-kali lipat dari kekuataanmu, dan dibawa ke sebuah dungeon asing yang sangat berbahaya. Bagaimana?"
"Aku akan pergi kesana."
"Dengan siapa?"
"Seorang diri."
"Kau sanggup menolongnya?"
"Aku tidak tahu, tapi aku harus menyelamatkannya."
"Kenapa?"
"Karena dia ... dia temanku?" jawabku, sungguh ragu.
Miss Isolde menatapku lekat-lekat. Ada apa ini? Apa aku telah mengatakan hal yang salah? Mengatakan hal yang tidak memuaskannya?
"Dari jawaban-jawabanmu, aku tidak yakin alasannya hanya karena ia temanmu," kata Miss Isolde lagi. "Dia berharga untukmu."
"Mungkin," jawabku sambil mengangguk.
"Kau sangat menyukainya," katanya lagi.
"T-tidak! Tidak seperti itu, aku tidak ... eh, bukan begitu."
"Kalau begitu, katakan dengan tegas padaku, bahwa kau tidak menyukai Renee Kearse dan hanya menganggapnya sebagai teman biasa serta tidak lebih," tantang Miss Isolde.
"A-aku tidak me-menyukai ... R- ahhh!" kataku, lalu menggaruk-garuk kepalaku dengan kedua tangan.
Aku frustasi. Aku tidak mengerti. Kenapa kata-kata itu tercekat dan tidak mau keluar? Wajahku terasa begitu hangat –telingaku juga. Kupikir wajahku pasti sudah merah sekali saat ini. Ada apa ini sebenarnya?!
"Aku berani bertaruh Renee sering masuk dalam mimpimu beberapa kali," kata Miss Isolde.
Sering.
"Kau selalu khawatir saat melihatnya terluka."
Sudah pasti.
"Kau sering terpesona dalam hatimu, ketika melihatnya di pagi hari, padahal ia hanya mengenakan sergama sekolah."
Begitulah.
"Kau senang memikirkan dia."
Selalu.
"Kau menyukainya, dan kau tidak pernah menyadarinya," kata Miss Isolde. Lalu ia menepuk pelan kepalaku yang ertunduk, meratapi betapa benarnya kata-kata yang ia ucapkan. "Dasar, anak laki-laki memang sering tidak peka soal perasaan sendiri."
"Kenapa anda seakan memaksaku mengakui soal ini?" tanyaku akhirnya.
"Aku gerah melihat kalian berdua," ujar guruku. "Mungkin tidak ada orang lain yang sadar, tetapi karena aku mengenal kalian berdua, aku menyadarinya. Kalian berdua saling menyukai, tetapi sama-sam tidak sadar. Dan aku ingin kalian menyadarinya."
"Lalu anda melakukan hal yang sama pada Renee?" tanyaku. "Lalu memintanya agar saya menemui anda?"
"Tidak, aku bahkan tidak bertanya apa-apa, ia yang menceritakan begitu saja padaku," jawabnya. "Lalu aku memintanya memberitahu kau untuk menemuiku, kubilang karena ada beberapa hal yang ingin kubicarakan. Tentu saja ia tidak tahu kalau yang ingin kubicarakan denganmu adalah tentang dirinya."
Lalu diam. Aku tidak berkata apa-apa, Miss Isolde juga. Mungkin ia sedang menunggu aku berbicara. Tetapi sesungguhnya aku sedang bingung, mau membicarakan apa? Beberapa saat tadi aku serasa pikiranku sedang ditelanjangi, sehingga perasaanku bisa dilihat jelas oleh Miss Isolde.
"Sekarang saya harus apa?" tanyaku akhirnya.
"Terserah kau," katanya. "Ajak kencan, menyatakan perasaanmu, memintanya jadi kekasihmu. Itu mudah."
MUDAH DARIMANANYA?! Sungguh, Miss Isolde tidak bertanggungjawab karena telah membuatku sadar akan perasaanku. Lalu kini ia bilang semuanya mudah?
"Bilang bahwa kau ingin menemaninya belanja akhir pekan ini. Dan bertindaklah seperti biasa," kata Miss Isolde. "Bertindaklah sesuai dengan situasi."
Setelahnya Miss Isolde bangkit dari kursi, lalu kembali mencari buku di rak perpustakaan. Sedangkan aku masih terduduk diam, menopang dagu. Aku tidak tahu harus bagaimana. Apa aku sanggup mengajaknya belanja tanpa menimbulkan kecurigaan?
Huh, jangankan mengajak jalan, setelah aku tahu tentang perasaanku ini, untuk bertemu dengannya sekarang saja aku bingung harus berwajah bagaimana!
.
.
~TBC~
.
.
