Usai bertemu dengan Miss Isolde di perpustakaan, aku berjalan kembali ke workshop. Aku berjalan dengan amat sangat lambat. Tentu saja, setelah wali kelasku 'memaksa' aku untuk mengakui perasaanku sendiri, aku langsung bingung harus memasang tampang apa pada Renee –yang ada di workshop-. Jika bisa, aku tidak mau kembali ke workshop, aku ingin mencari air terjun dan bersemedi di sana. Tetapi tidak bisa, yang kutahu adalah aku harus ke workshop. Untuk apa? Aku tidak tahu.
Walau berjalan lambat, akhirnya aku tiba juga di depan workshop-ku. Sambil berharap Renee tidak ada di dalam, aku membuka pintu perlahan. Sayang, ada Renee di situ. Ia sedang duduk santai di sofa sambil membaca majalah. Ia duduk sambil memunggungi aku yang ada di pintu. Mungkin saking seriusnya ia membaca majalah, ia tidak menyadari bahwa aku telah kembali.
Tidak tahu setan apa yang merasukiku. Detik berikutnya yang kutahu adalah aku berjalan cepat dengan hati-hati –agar ia tidak sadar aku di sana- ke arahnya, lalu membungkukkan tubuhku agar bisa memeluk tubuhnya dari belakang.
"Tony?" tanyanya pelan, sambil berusaha menoleh ke belakang, kepadaku.
Ia terkejut, itu pasti. Tapi aku tidak bisa membiarkan dia menghadap wajahku, ia tidak boleh melihat wajahku yang sudah semerah tomat ini.
"Akhir pekan ini ..." kataku pelan, setengah berbisik. "Kau mau pergi jalan-jalan?"
.
.
Disclaimer: NIS, GUST
A/N: berusaha mengikuti alur asli MK1, penambahan plot di sana-sini, kata asing ada yang tidak di italic karena akan sering dipakai, Tony x Renee, Tony's POV
.
Into My Heart
Chapter 10: Akhirnya
by Fei Mei
.
.
Aku menyisir rambutku berkali-kali sambil melihat ke cermin. Astaga, aku gugup bukan main! Dan bingung juga, kenapa aku bisa seperti sekarang? Maksudku, aku sudah pernah beberapa kali pergi menemani Renee belanja, tetapi kenapa hari ini aku bisa begitu repot? Tidak, aku tidak menyiapkan apa-apa, yang kumaksud repot di sini adalah perasaan hatiku.
Kamarku memang agak berantakan, tapi pagi ini lebih berantakan lagi karena aku mengeluarkan baju-bajuku dari dalam lemari. Mencoba baju yang ini, yang itu. Menyisir rambut entah sudah berapa puluh kali. Astaga, kenapa aku jadi seperti ini?!
Lewat pantulan cermin, kulihat jarum pendek di jam dinding sudah mau menunjuk ke angka sembilan. Gawat. Aku harus segera pergi ke cafeteria, kami janjian jam sembilan pagi bertemu di sana. Aku harus sampai di sana lebih dulu. Entah, aku tidak tahu kenapa, tetapi begitulah yang diajarkan orangtuaku: kalau janjian dengan gadis, maka yang pria harus sampai duluan, tidak boleh membuat gadis itu menunggu.
Aku sudah pasrah dengan rambutku yang sulit diatur –dari dulu juga tidak bisa diatur, sih, sebenarnya-. Akhirnya aku meninggalkan kamarku, mengunci pintunya, dan berjalan cepat ke cafeteria.
Di sana ternyata Renee sudah ada duluan. Ia mengenakan baju terusan berwarna merah muda yang tidak asing buatku. Aku ingat itu adalah baju yang kubelikan untuknya saat ia ulangtahun di tahun ini.
"Maaf aku membuatmu menunggu," kataku, menghindari kontak mata dengannya.
"Tak usah minta maaf, kau kan, tidak telat. Kau sudah sarapan?" tanyanya.
"Sudah," jawabku, berbohong. Tentu saja, sepanjang pagi aku terlalu repot dengan pakaianku, mana sempat sarapan? "Kau sudah?"
Renee mengangguk dan tersenyum. Ya sudah, pada akhirnya kami langsung berangkat ke pusat pertokoan yang sering Renee kunjungi. Walau akhir pekan, tempat itu tidak begitu ramai. Ini wajar, karena sebenarnya tempat itu hanya boleh didatangi para murid saat libur semester saja, kecuali keadaan mendesak dan sudah diberi izin oleh wali kelasnya. Dan dalam kasus ini, Miss Isolde-lah yang memberi izin pada kami.
Gadis berambut kuning agak pendek itu mulai menyeretku masuk ke dalam toko-toko baju. Seperti biasa, fashion show pun dimulai oleh Renee, dan aku menjadi penontonnya. Sebenarnya setiap kali gadis itu memperlihatkan baju yang ia coba, aku selalu mendengus dalam hatinya, 'Kau itu ingin buat aku mati karena tidak dapat menahan diri, ya?'. Dan sepertinya Renee sama sekali tidak sadar bahwa wajahku agak bersemu merah tiap kali dia keluar dari ruang ganti.
Dua jam berlalu, sekarang sudah jam 11 siang. Entah sudah berapa puluh baju yang Renee coba, tetapi gadis itu menghampiriku dengan tangan kosong. Ia tidak membeli baju apa pun.
"Kau tidak beli?" tanyaku.
"Tidak," jawabnya sambil menggelengkan kepalanya. "Beberapa hari lalu ibuku mengirimi surat, ia bilang bahwa aku tidak boleh beli baju-baju lagi, sudah kelewat banyak."
Aku mengangguk, setuju dengan ibunya Renee. Aku tidak tahu berapa banyak baju yang ia punya, sih. Tapi karena aku selalu menemani dia belanja, aku tahu berapa banyak yang ia beli. Dan selama tiga tahun ini bersamanya ... total baju yang ia beli itu sangat banyak.
"Sudah siang, mau makan?" tanya Renee, sembari kami berjalan keluar dari toko.
"Kau sudah mau makan?" tanyaku balik. Sesungguhnya, aku sudah sangat lapar. Aku belum sarapan tadi pagi, ingat?
Renee mengangguk sebagai jawaban pertanyaanku. Aku memintanya untuk pilih restoran mana untuk tempat makan siang. Dia pun mengajakku makan rumah makan Prancis, yang pelayannya adalah butler dan maid, dan musim panas tahun lalu salahpaham antara kami berdua terjadi di sana.
"Omurice dan kopi hitam," kataku tanpa melihat buku menu pada maid yang melayani meja kami.
Setelah aku, Renee memesan makanan dan minuman dalam bahasa Prancis. Mungkin ia akan memesan kue coklat dan teh mawar seperti waktu itu.
"Jadi," kata Renee, memulai pembicaraan denganu sambil menunggu pesanan kami dibuat. "Tumben sekali, kau tidak pernah mengajakku belanja sebelumnya. Biasanya selalu aku yang menyeretmu untuk menemaniku."
"I-itu, kau sudah sering mengerjakan tugas kelompok kita. Kau yang mengerjakannya sendiri, tapi kau malah bilang pada guru bahwa aku kerja juga. Aku jadi berhutang budi, jadi aku mengajakmu jalan," jawabku.
"Oh, hanya itu?" tanya Renee, aku mengangguk, lalu melihat wajahnya tiba-tiba menjadi seperti kecewa.
Pesanan kami tiba. Benar juga dugaanku, Renee memesan kue coklat dan teh mawar yang pernah ia pesan. Kami mulai makan, tanpa bicara dan mengobrol apa-apa lagi. Aku sungguh berharap bahwa kali ini aku tidak melakukan kesalahan yang kulakukan tahun lalu.
Usai makan, aku memanggil seorang pelayan untuk meminta bon. Seperti yang sudah-sudah, aku yang membayar semuanya –sesuai yang diajarkan orangtuaku. Sebenarnya Renee selalu menolak jika aku yang bayar, bahkan sering ingin mengganti uangku. Ia bilang bahwa ia tidak suka kalau selalu aku yang membayar makanan, ia takut kalau ia jadi terbiasa dibayari. Oh well, ini poin tambah untuknya di mataku.
"Kami menyediakan servis khusus pasangan yang kencan di kafe ini, yakni dua tiket bioskop! Silakan," kata pelayan itu sambil menyodorkan dua tiket bioskop padaku.
"Oh, kami bukan –" kata Renee, terpotong olehku.
"Terimakasih," kataku, mengambil dua lembar tiket itu.
"Terimakasih sudah makan di sini, silakan datang lagi," kata pelayan itu sambil meninggalkan meja kami.
Aku mengantungi tiket bioskop itu dalam sakuku, mengacuhkan tatapan bingung Renee.
"Kenapa kau terima tiketnya?" tanya Renee.
"Tidak masalah, kan? Lagipula ini kan, gratis," ujarku cuek, meniru kata-katanya yang tahun lalu.
"Kita kan, bukan pasangan," katanya mengingatkan.
"Kalau begitu ... " kataku pelan, dan nekad. "Apa kau mau jadi pasanganku?"
"E-eh?" tanyanya, mengerjap-erjapkan kedua bola matanya.
"Renee," kataku sambil meraih tangannya yang sedang memegang sangkir teh di atas meja. Aku berani bertaruh wajahku pasti sudah merah padam. "Renee, maukah kamu jadi pacarku?"
Hening. Tidak ada jawaban. Padahal di ruangan itu tidak hanya ada kami berdua, masih ada sejumlah pengunjung yang lain. Aku yakin mereka masing-masing sedang mengobrol, tetapi aku tidak dapat mendengar suara mereka. Karena yang menjadi prioritas telingaku adalah suara Renee.
"Tadi itu serius?" tanya Renee, akhirnya membuka suara.
"Apa aku pernah bercanda?" tanyaku.
"Tidak sih ... tapi kau memintaku menjadi pacarmu itu ... bukan karena kau ingin pakai tiket gratis itu tanpa rasa bersalah, kan?" tanyanya memastikan.
"Demi Uroboros!" kataku yang tidak panjang sabar. "Renee Kearse! Aku menyukaimu! Astaga, aku sangat menyukaimu! Kau harus tahu, kau hampir membuatku gila setiap harinya karena memikirkan tentangmu! Kau tidak tahu betapa aku menahan rona merah di wajahku tiap kali melihatmu dengan baju-baju itu! Sungguh demi Uroborus, bahkan kupikir aku jatuh cinta padamu!"
Aku terengah-engah. Renee terdiam. Kulihat gadis itu mulai bersemu merah wajahnya, kemudian berusaha menutupinya dengan menunduk. Dia tidak tahu kalau aku telah lebih dulu melihat rona merah di pipinya, dan itu terlihat ... yah, manis.
"Jangan menyumpah seperti itu di depanku, Tony," katanya pelan masih terus menunduk, tetapi aku bisa mendengar suaranya.
Dan ya, aku berharap tidak ada orang lain selain aku dan Renee yang mendengar sumpahanku itu. Tetapi sekilas kulihat sekelilingku tidak ada yang memandangi kami, kusimpulkan memang tidak ada yang mendengar perkataanku.
"Tapi ... "kata Renee pelan, perlahan ia mengangkat wajahnya lagi, menatap lurus ke mataku. "Demi Uroborus, Tony, aku telah menyukaimu sejak tahun pertama mengenalmu ..."
"E-eh?" kini giliran aku yang bertanya. Dan ya, dia pun ikut menyumpah juga.
"Asal kau berjanji tidak akan ada yang berubah setelah ini, aku mau menjadi pacarmu," katanya lagi.
Dia tersenyum. Oh astaga, aku masih menggenggam tangannya dan kini makin erat, dan kulihat senyumnya, dan ... dia menangis?
"Kau, menangis?" tanyaku bingung.
"A-aku menangis karena begitu senangnya!" katanya sambil menghapus air matanya dengan tangan yang satu.
Lalu aku beranjak dari kursiku, masih memegang tangannya. Aku mendekati dia, membantu menghapus air matanya, lalu mengecup pelan keningnya.
.
.
Hari-hari telah berlalu sejak aku berpacaran dengan Renee. Sesuai janjiku, nyatanya memang tidak ada yang berubah di antara kami berdua. Kami tetap menjadi Tony dan Renee yang biasa. Mengobrol hal yang biasa kami obrolkan, pergi ke dungeon atau kelas sama-sama, dia tetap tidak mau ikut berkelahi dengan Flay, dan sebagainya. Semuanya sama. Yang berbeda hanyalah status kami. Kami yang dulu adalah sahabat, kini kami berpacaran. Itu saja. Ah, sepertinya tidak hanya itu. Karena sebenarnya aku sudah mulai sering menggenggam tangannya jika sedang berjalan, dan ia mengecup pipiku saat kami akan kembali ke asrama. Selebihnya, semua masih sama.
Tibalah hari di mana lomba maraton per-workshop diadakan. Walau hanya berdua, aku sangat berharap untuk menan –setidaknya bisa mengalahkan Flay.
"Kau tidak perlu berharap banyak padaku," kata Renee untuk kesekian kalinya, setiap kali aku bicara soal maraton.
"Jangan khawatir, kita pasti akan ada di garis terdepan untuk menghadang Flay!" kataku.
"Kita? Maksudnya kau sendiri?" tanyanya.
"Kita berdua, Renee," kataku. "Kita akan ke bukit lewat jalan pintas. Max pernah memberitahu aku soal jalan pintas itu."
"Kakakku?" tanya Renee, mendengar aku menyebut nama kakaknya, Max.
Akhirnya Renee menurut juga. Ia begitu percaya pada kakaknya, makanya ketika aku menyebut nama kakaknya, ia pun setuju untuk ikut. Yah, aku juga tidak berbohong soal Max, karena nyatanya laki-laki yang lebih tua dua tahun dariku itu memang memberitahuku tentang berbagai hal dan salah satunya adalah jalan pintas menuju bukit.
Para murid semuanya dikumpulkan di bawah bukit. Setelah ceramah panjang oleh kepala sekolah –yang sepertinya tidak akan berhenti jika tidak diingatkan oleh Mr Zeppel-, akhirnya lomba maraton pun dimulai. Aku sengaja mengajak Renee untuk tidak berlari cepat, agar kami bisa ada di barisan paling belakang, biar kami bisa berbelok ke jalan pintas.
Ternyata jalan pintas yang diberitahu Max memang benar ada. Ia memberitahuku soal ini dua tahun lalu, tetapi aku belum pernah mencobanya. Aku berusaha mengingat-ingat jalan yang harus dilewati, kemudian aku dan Renee sampai di jalan utama menuju puncak lagi. Kulihat di atas puncak belum ada siapa-siapa, berarti memang sekarang kami berada di garis paling depan. Aku menyuruh Renee untuk duduk di batu agar istirahat sebentar, karena aku tahu pasti Flay dan teman-temannya akan datang sebentar lagi.
Dan benar dugaanku. Tidak sampai 10 menit, Flay datang, aku langsung menghadangnya. Renee yang tadi duduk di kursi langsung berdiri, menyiapkan pedang dan memanggil mana-nya. Sama seperti dia, aku pun menyiapkan senjata dan lansung memanggil mana-ku.
Pertarungan itu berlangsung dengan cukup cepat, dan ... kami kalah. Ini menyebalkan. Aku tahu bahwa akhir-akhir ini aku tidak berlatih, tetapi ini memalukan!
Flay menertawaiku kemudian menarik Vayne untuk melanjutkan maraton. Ingin sekali aku berlari mengejar laki-laki berambut merah itu, tetapi aku tidak mungkin meninggalkan Renee yang masih lelah. Untungnya peserta lainnya masih jauh di belakang kami, dan Renee memaksakan diri untuk tetap berjalan sampai puncak bukit.
Sampai di bukit, Mr Zeppel meminta kami untuk mengeluarkan buku murid kami. Ia memberi nilai A, walaupun kami ada di posisi kedua. Setelah itu, aku langsung membawa Renee kembai ke worshop dengan teleport. Gadis itu langsung tiduran di sofa sambil merentangkan tangan dan kakinya.
"Aaaargghh! Pokoknya saat festival nanti aku harus menang!" kataku, kesal.
.
.
~TBC~
.
.
