"Kau ingin ikut festival hanya biar bisa bertarung dengan Flay, kan?" tanya Renee.
"Tentu saja!" jawabku. Heran, bukankah itu sudah jelas? Untuk apa lagi Renee tanya?
"Kutekankan sekali lagi, ya, aku tidak akan ikut dan membantumu bertarung," katanya.
"Huh, biasanya kalau aku bertarung dengan Flay di luar dungeon juga kau tidak pernah bantu, hanya menonton!" kataku.
Renee terdiam, wajahnya tanpa ekspresi, dan aku tidak mengerti apa yang ada di pikirannya sekarang. Yang kutahu adalah, aku harus menang melawan Flay hari ini. Tidak masalah kalau aku tidak jadi juara di festival ini, yang pasti aku harus lebih dari Flay!
.
.
Disclaimer: NIS, GUST
A/N: berusaha mengikuti alur asli MK1, penambahan plot di sana-sini, kata asing ada yang tidak di italic karena akan sering dipakai, Tony x Renee, Tony's POV
.
Into My Heart
Chapter 11: Festival Terakhir
by Fei Mei
.
.
Peserta festival tahun ini tidak sebanyak festival turnamen tahun lalu. Kurasa wajar, karena tahun lalu itu setiap workshop diwajibkan mengirim minimal dua orang anggotanya untuk ikut festival. Sedangkan, tahun ini idak diwajibkan, tapi jika ingin ikut harus mengirim minimal dua orang anggota setiap workshop. Kalau tidak wajib, kupikir wajar jika sepi.
Rata-rata peserta berasal dari kelas satu dan dua –paling banyak dari kelas satu yang masih antusias dengan acara sekolah. Anak kelas tiga banyak yang sudah malas untuk ikut kegiatan seperti ini –apalagi karena ini tidak wajib. Sebenarnya aku pun juga malas, kuyakin Renee juga seperti itu. Tetapi kupaksakan diri untuk tetap ikut, karena aku harus bertemu dengan Flay.
Seluruh peserta berkumpul di aula, penonton juga ada di aula sih, tapi pesertanya berada di tengah. Aku dan Renee ada di barisan yang agak paling belakang, kulihat Flay dan Vayne –aku penasaran kenapa Flay hobi sekali menyeret Vayne dalam acara-acara seerti ini padahal anggota workshopnya kan tidak hanya Vayne– ada di di barisan tengah dan kupikir mereka pasti tidak sadar aku menatap tajam ke arah mereka.
MC memperkenalkan seorang kakek tua yang perlu tongkat untuk berjalan, katanya kakek itu adalah juri tunggal di perlombaan ini. Wah, tidak biasanya mereka memanggil orang luar sekolah untuk menjadi juri. Aku tidak begitu mendengar jelas namanya, tetapi begitu namanya disebutkan MC, orang-orang di sekitarku langsung mendecak kagum seakan menjadi fans atau sebagainya.
"Dia terkenal, ya?" tanyaku pada Renee yang berdiri di sampingku.
"Begitulah," jawab gadis itu. "Ia pernah membuat sekitar dua atau tiga teori soal alkemi."
Aku mengangguk dan bergumam'oh' pelan. Jadi itulah sebabnya MC memanggil kakek itu dengan sebutan 'profesor'.
Kemudian MC berkata bahwa rangkaian lomba ada tiga babak. Pemenangnya adalah orang yang mendapat jumlah nilai tertinggi dari tiga babak tersebut. Huh, terlalu lama.
"Babak pertamanya adalah ... memancing ikan besar!" kata sang MC.
Aku terkejut. Jelas saja, kenapa harus memancing?! Tetapi tidak hanya aku yang bingung, peserta lain pun juga terkejut mendengar itu. Lalu sang profesor memberitahu kaitan memancing dengan alkemi. Para peserta pun menyerah dan pergi dari aula untuk mencari tempat memancing yang enak.
Dengan segera aku mengajak Renee pergi ke bukit. Ia bingung, tetapi kujelaskan padanya bahwa Flay dan Vayne pasti akan pergike bukit untuk memancing. Tempat-tempat memancing yang lain pasti sudah langsung penuh, dan satu-satunya tempat yang sepi ya di bukit. Sekalian, biar aku bisa menunjukkan batang hidungku di hadapan Flay.
Benar juga, ketika kami di bukit, menuju tempat memancing, kulihat Flay dan Vayne sudah lebih dulu di sana. Tetapi mungkin mereka baru sampai juga, karena Vayne bahkan baru mulai menyiapkan kailnya.
"Ah! Orang-orang jahat!" kata Flay, tidak senang. Oh ayolah, aku juga tidak senang padanya!
"Jangan panggil aku begitu!" kataku. "Nah, ayo kita bertanding, lihat siapa yang akan memancing ikan yang lebih besar!"
"Tentu saja kami yang akan menang!" kata Flay, sangat meremehkanku.
"Huh! Asal kau tahu, di tempat asalku, aku dikenal dengan sebutan Tony si Pemancing Terhebat!" seruku.
Kemudian aku menarik Renee ke sudut yang lain dari sungai untuk memancing. Dia bilang dia tidak akan mau ikut campur dalam hal ini. Tidak mau memegang umpan, kail, tempat ikan, apalagi memancing. Itu akan membuatnya kotor, begitu katanya. Ya, sudahlah, lagian ini juga aku bukan baru pertama kali kenal Renee, aku sudah kenal dia sejak lebih dari dua tahun yang lalu.
Kailku bergerak, aku langsung menariknya, ternyata hanya sampah yang hanyut. Kedua kalinya kailku bergerak, itu hanya rumput laut. Ketiga kali, itu adalah Blowfish. Keempat kali, aku mendapat Joker Fish. Sial, apa di sini benar-benar tidak ada ikan yang lebih besar?
Aku melirik ke arah Vayne dan Flay. Kupikir, kasihan sekali Vayne yang disuruh-suruh Flay terus. Maksudku, Flay tidak memancing sama sekali, tetapi ia terus berseru agar Vayne mendapatkan ikan yang lebih besar. Huh, dasar Flay bodoh, justru ikan-ikan akan kabur karena mendengar suaramu yang besar itu. Pada akhirnya Vayne menangkap Joker Fish, dan Flay mengajak adik kelasnya itu untuk kembali ke sekolah, karena waktunya sudah mau habis.
Joker Fish, seriusan? Masih sangat banyak ikan yang lebih besar dari Joker Fish dan Flay puas hanya dengan ikan satu itu?
"Mungkin kita juga harus segera kembali," kata Renee. "Waktunya memang sudah mau habis. Nanti kalau kau dapat ikan yang besar tapi jamnya sudah lewat, kan jadi percuma."
"Baiklah, kalau yang kali ini aku mendapat minimal sebesar Joker Fish, kita akan kembali ke sekolah," dengusku, karena perkataan Renee memang benar.
Sekitar sepuluh menit kemudian, aku hanya bisa mendapat Joker Fish. Kupikir biarlah, toh, ini kan, ikan yang sama dengan milik Flay. Aku tinggal berharap Joker Fish yang kutangkap itu lebih besar daripada yang ditangkap Vayne.
Kami berdua segera kembali ke sekolah, langsung ke aula. Aula sudah tidak seramai tadi, mungkin karena penontonnya sudah berkurang. Tepat ketika aku masuk ke aula, MC dan profesor sedang menilai ikan milik Vayne.
"Tidak cukup besar," kata profesor.
"HAHAHAHA!" tawaku. "Punyaku pasti lebih besar dari milik kalian!"
Baru saja aku melangkah sekali ke arah profesor, tiba-tiba bel berbunyi dan MC menyatakan babak pertama telah selesai.
"Ap-apa?! Bagaimana dengan ikanku?!" tanyaku.
"Maaf, yang bisa ikut ke babak kedua adalah mereka yang ikannya telah dinilai oleh profesor!" kata MC.
"Tidak apa, setidaknya dia tiba di sini sebelum bel berbunyi. Sini, biar kulhat ikanmu," kata profesor. Wah, ternyata dia kakek yang baik.
Sama seperti milik Vayne, ikanku juga dibilang kurang besar. Wajar sih, karena tipe ikannya sama. Tetapi aku beruntung memang saat ini, karena profesor mengijinkanku dan Renee ikut babak kedua.
"Babak kedua! Sekarang kami meminta kalian membuat suatu benda yang sangat besar!" kata MC.
Hah? Benda yang sangat besar? Dari babak pertama sudah ikan besar, sekarang benda besar, apa babak ketiga nanti berhubungan dengan yang besar lagi?
"Benda besar?" gumam Renee, tidak cukup kecil sehingga aku bisa mendengarnya. "Benda terbesar apa yang bisa kau buat?"
"Hanya seperti senjata atau baju petarung," jawabku.
"Mau coba cari di perpustakaan?" tanyanya, aku mengangguk.
Lalu kami berdua menuju perpustakaan. Di sana, ia segera mengambil beberapa buku resep lalu mulai mmeriksa satu persatu. Aku pun sama, memerksa isi buku-buku itu. Diam-diam kulirik gadis yang belum lama ini resmi menjadi kekasihku itu. Bukan apa-apa, sih, tapi tadi pagi kan, dia sendiri yang bilang kalau dia tidak mau ikut campur soal festival ini, namun sekarang malah dia yang begitu serius mencari resep. Huh, dasar tsundere.
"Ah, ini ada benda yang langka," ujar Renee, lalu ia memperlihatkan halaman yang ia bilang ada resep benda langka.
"Renee, kita harus membuat benda yang besar, bukan yang langka," kataku ketika melihat benda di gambar.
"Ini adalah benda langka yang besar," kata Renee. "Lihat, di sini tertulis bahwa awalnya benda ini sangat kecil, lalu ia bisa membesar dengan sendirinya sehingga dapat memenuhi ruangan!"
"Oke, kau bisa membuatnya?" tanyaku, tertarik.
"Entah, aku baru pertama kali melihat resep ini," jawabnya jujur. "Bahan-bahan yang digunakan semuanya tidak asing, mudah didapat dan dibuat. Tapi cara membuat benda ini ... aku tidak pernah melakukan cara-cara begini."
"Baiklah, kalau begitu kita pinjam buku itu dan kembali ke workshop," ujarku.
Renee mengangguk. Ia segera baris di depan meja pustakawan untuk meminjam buku, sementara aku mengembalikan buku-buku yang dia ambil ke rak. Setelahnya kami setengah berlari ke 'markas'.
Sampai di workshop, Renee memintaku segera membersihkan alat-alat, sedangkan dia mulai menyiapkan bahan-bahan. Kami bekerja secepatnya, dan Renee yang paling cekatan. Alias aku hanya membantu yang kecil-kecil saja. Nah, kan, sekarang siapa yang jadi semangat pada lomba ini?
"Oke, sekarang tinggal tunggu didihan air dalam kuali menjadi merah muda," kata Renee, sambil membaca resep untuk memastikan.
"Berapa lama?" tanyaku cemas, karena sekarang tinggal tiga puluh menit sampai bel bunyi.
"Katanya sih, tidak lama, tapi tidak dituliskan seberapa lama," jawab Renee jujur.
Aku mengangguk, lalu mulai membesarkan apinya, berharap dengan begitu air akan lebih cepat mendidih dan berubah warna.
Sepuluh menit, dua puluh menit, tiga puluh menit waktu telah berlalu dan didihan air belum menjadi merah muda. Sial, bukankah harusnya hanya perlu tunggu sebentar? Apa kami melakukan kesalahan?
"Kau dengar itu?" tanya Renee.
"Dengar apa?" tanyaku, tidak melihat padanya, dan masih begitu serius melihat ke dalam kuali.
"Belnya, Tony! Belnya sudah berbunyi!" kata Renee.
"Ap-apa?! Lalu bagaimana dengan ... dengan benda aneh ini?!" tanyaku.
"Jadi percuma begitu saja," jawab Renee pelan, tapi kutahu dia pasti kesal.
Kalau kami tidak memberikan benda itu pada profesor, berarti kami gugur di babak kedua, kan? Kalau tidak ikut ke babak selanjutnya, berarti otomatis aku akan kalah dari Flay, kan? Aaaargh sial!
Eh, tunggu.
"Aku punya ide," kataku, dan Renee hanya menaikkan sebelah alisnya.
.
.
~TBC~
.
.
