"Aku punya ide," kataku, dan Renee hanya menaikkan sebelah alisnya.

"Ide apa?" tanyanya.

Aku berjalan keluar dari workshop, Renee mengikutiku setelah mematikan api di bawah kuali. Kami menuju aula. Masih agak ramai di sana, padahal para peserta sudah tidak di aula –mungkin mereka sudah keluar untuk mengerjakan babak ketiga. Tetapi aku tidak melihat adanya profesor. Lalu aku menghampiri seorang murid yang tidak kukenal, aku tanya padanya tentang keberadaan profesor. Murid itu bilang bahwa orang yang kucari sedang ke toilet. Jadilah aku pergi menuju toilet yang paling dekat dengan aula.

.

.

Disclaimer: NIS, GUST

A/N: berusaha mengikuti alur asli MK1, penambahan plot di sana-sini, kata asing ada yang tidak di italic karena akan sering dipakai, Tony x Renee, Tony's POV

.

Into My Heart
Chapter 12: Menjelang Ujian
(Chapter ini agak menjurus ke rated M)

by Fei Mei

.

.

"Aargh!" pekikku, ketika Renee sedang mengobati luka di tanganku.

Aku kesal bukan main. Di toilet tadi, aku menghadang profesor yang akan keluar dari sana. Aku berniat untuk mengerjainya sedikit. Kupikir kalau dia pingsan atau apa maka dia tidak akan bisa menilai di babak tiga –sehingga tidak ada yang menang di babak ini termasuk Flay dan Vayne. Tetapi malah aku kalah telak dari si tua bangka.

Oke, aku tahu profesor adalah orang hebat. Tapi dia sudah tua! Masa iya, dia tetap kuat di umurnya yang mungkin dua kali umur ayahku? Kalau dia yang sudah tua begini saja bisa sekuat itu, bagaimana saat dia masih muda?

"Akh!" pekikku lagi, kali ini Renee mengobati luka di wajahku.

Pacarku ini benar-benar tidak mau membantuku saat kubilang ingin mengerjai profesor. Tapi kalau kupikir-pikir, seandainya Renee ikut membantuku, itu tidak akan banyak membantu. Kalau aku saja kalah telak, apalagi Renee?

"Sudahlah," ujarnya. "Masih ada beberapa minggu sampai kelulusan. Cobalah untuk menang dari Flay dalam waktu yang tersisa ini."

"Kalau hanya bicara saja ya, mudah. Kau kan, tidak mau membantu!" dengusku.

"Aku selalu membantumu kok, kecuali saat aku tidak bersamamu dan saat kau ingin mengerjai profesor," katanya.

"Hah? Selain dalam dungeon, kau kan, tidak pernah mau berkelahi, bagaimana kau membantuku melawan Flay saat di sekolah?" tanyaku bingung.

Sungguh, aku bingung. Kalau di dungeon, Renee memang mau tak mau membantuku. Tetapi di area sekolah, ia bahkan bersikap acuh. Dan entah kebetulan atau apa, setiap aku pergi ke dungeon seorang diri, lukaku akan selalu lebih banyak dan sakit dibanding jika bersamanya.

Renee mengatupkan bibirnya, ia seakan ragu untuk menjawab. Tetapi ia membuka mulutnya dan mengeluarkan suara perlahan.

"Tidakkah kau sadar bahwa setiap kali kau berkelahi tanpa aku di dekatmu, kau pasti akan mendapat banyak sekali luka dan memar?" tanyanya. Aku mengangguk, lalu ia melanjutkan. "Kau hanya mendapat sedikit luka saat bersamaku, itu karena sebelum kau mulai bertarung, aku mengucapkan mantra perlindungan untukmu. Jadi wajar saja kau mendapat jauh lebih banyak luka saat tidak bersamaku."

Aku tercengang. Sungguhkah ia melakukan itu padaku? Berarti ... sejak tahun pertama kami, dia sudah melakukan itu padaku setiap kali akan berkelahi dengan Flay?

"Kau serius?" tanyaku, memastikan.

"Tentu saja," jawabnya. "Ketika kau mulai sering bertengkar dengan Flay, aku khawatir kau akan luka-luka. Aku minta tolong pada Miss Isolde untuk mengajariku membuat ramuan penyembuh sebanyaknya. Tetapi ia malah mengajariku mantra itu."

"Jadi selama ini kau selalu ...?"

"Yep," jawabnya lagi. "Nah, sudah selesai."

.

.

"Aaargh!" erangku dalam kamar.

Sudah sekitar dua jam aku duduk di kursi meja belajar di kamarku, mencoba menghadapi contoh latihan soal yang para guru berikan untuk murid-murid, karena minggu depan aku dan anak-anak kelas tiga lainnya akan menghadapi ujian akhir. Mungkin ada dua puluh lembar soal di meja belajarku saat ini, dan selama dua jam ini aku baru berhasil mengerjakan tiga lembar atau empat puluh lima soal. Dan seminggu ini tidak ada kelas, anak kelas tiga diberi minggu tenang menjelang ujian.

Renee pernah bilang kalau aku masih punya waktu untuk bisa mengalahkan Flay sebelum kelulusan. Masalahnya, kalau sejak beberapa minggu sebelum kelulusan ini saja otakku dipenuhi oleh soal-soal ujian, bagaimana aku bisa menghadapi Flay? Yah, berharap saja nilai ujian Flay ada di bawahku, setidaknya aku akan bisa menang dalam urusan pelajaran.

Menggaruk kepalaku yang tidak gatal, otakku sudah mumet di soal nomor 49. Kupikir aku akan istirahat sebentar sebelum belajar lagi, tapi tanggung, aku ingin memaksakan otakku sampai nomor 50. Baru saja akan menjawab soall nomor 49, pintu kamarku di ketuk. Ah, siapa, sih?!

"Siapa?!" tanyaku, berteriak, agak membentak. Aku agak enggan berpisah dengan kursiku.

"Aku," jawab si pengetuk pintu.

Suara perempuan, itu suara Renee. Wah, tumben sekali. Biasanya kalau sudah menjelang minggu ulangan, dia akan mengurung diri di kamarnya untuk belajar.

"Masuk saja, pintunya tidak dikunci!" seruku, sambil menorehkan jawaban soal nomor 49 di kertas.

Renee masuk ke kamarku. Kupikir dia pasti terkejut karena melihatku belajar. Bukan, aku bukannya malas untuk belajar, tapi kuyakin ini adalah pertama kalinya dia melihatku mengerjakan latihan soal.

"Kau tidak belajar?" tanyaku, lalu membaca soal nomor 50.

"Hari ini sudah, aku bosan, jadi aku main ke kamarmu," jawabnya. "Dan aku sudah menyelesaikan kertas-kertas itu."

Gadis itu menunjuk kertas-kertas soal yang sedang kukerjakan. Lembar-lembar kertas ini sudah dibagikan sejak bulan lalu sebenarnya, tapi aku baru mengerjakannya hari ini, karena kemarin-kemarin aku ingin membaca buku pelajarannya dulu. Sedangkan Renee? Perempuan ini terlalu rajin, dan aku tidak heran.

"Bisa bantu aku untuk soal yang ini?" pintaku, menunjukkan soal nomor 50.

Ia tersenyum, membaca soal itu, lalu menyebutkan jawabannya. Aku mengangguk, kemudian menuliskan jawabannya. Sesudah itu aku merapikan kertas-kertas soal dan pensilku.

"Jadi, kau mau melakukan apa?" tanyaku, setelah merapikan meja belajar.

"Sebenarnya aku ingin belanja, tapi ini kan bukan libur panjang. Dan anak kelas tiga dilarang keluar area sekolah dua minggu ini," ujarnya.

Aku mengangguk mengerti. Dua minggu. Seminggu awal adalah minggu tenang. Seminggu yang kedua adalah minggu ujian –ujian berlangsung selama seminggu penuh. Dan aku tahu kenapa Renee ingin belanja, dia pasti sedang sangat lelah belajar saat ini.

"Jadi kupikir, aku ingin mengobrol saja denganmu," lanjutnya.

"Mengobrol apa?" tanyaku bingung. Jelas saja, kami bertemu tiap hari, membicarakan hal dari A sampai Z, sampai sering habis topik pembicaraan. Sekarang apa lagi yang harus kami bicarakan?

"Apa saja," jawabnya sambil mengangkat bahu. "Seperti tentang hubungan kita misalnya."

Oh tidak. Ini dia. Banyak anak kelas tiga di sekolah kami yang sudah berpacaran dengan teman sekelasnya, atau anak kelas sebelah, atau adik kelas. Aku sendiri sudah resmi berpacaran dengan Renee. Dan di lorong-lorong kelas, minimal seminggu sekali aku dan Renee pasti tanpa sengaja menyaksikan sepasang kekasih yang berciuman. Setiap kali tanpa sengaja melewati mereka, aku selalu pura-pura tidak melihat atau melihat ke arah lain lalu berjalan lebih cepat. Tetapi Renee tidak seperti itu, dia melihat adegan itu lalu merlirik padaku. Aku tahu itu, aku melihatnya dari sudut mataku.

Kami tidak pernah berciuman. Hanya sebatas bergandengan tangan dan Renee mengecup pipiku setiap kami berpisah. Tetapi bibir ketemu bibir itu tidak pernah. Hubungan kami terlihat kurang lebih sama seperti saat kami berteman biasa, seakan hanya status saja yang berubah.

Dan minggu lalu Renee bertanya padaku, apakah kami benar-benar berpacaran atau tidak. Maksudku, apa maksudnya pertanyaan itu? Kan, kami memang dari awal sudah selalu sama-sama, dan ketika kami berpacaran ya kami tetap sama-sama. Kenapa dia jadi ragu begitu?

"Ada apa dengan hubungan kita?" tanyaku akhirnya.

"Tidak ada perkembangan," jawabnya.

"Perkembangan seperti apa?" tanyaku lagi.

"Yah, pokoknya perkembangan, kemajuan, begitulah," ujar Renee.

"Kemajuan seperti apa yang kau mau?"

"Seperti ... adanya perbedaan antara kita masih berteman dan kita yang berpacaran."

"Ada bedanya kok. Aku menggenggam tanganmu saat berjalan, kau mengecup pipiku saat kita akan kembali ke kamar masing-masing. Kita pernah kencan –walau menurutku itu biasa saja, seperti biasa aku menemanimu belanja lalu makan siang."

"Aku ingin yang lain," kata Renee.

Tentu aku tahu dan mengerti apa yang dia inginkan, tetapi aku tidak yakin bisa memberikan itu sekarang. Dan lagi, sekarang bukan waktu yang tepat. Bagaimana jika aku menciumnya saat ini kemudian aku jadi tidak bisa konsentrasi belajar dan akhirnya tidak lulus? Setidaknya dia bisa menunggu sampai kelulusan, kan? Tapi bagaimana kalau ternyata kami sudah tidak bersama lagi ketika kami lulus? Lalu –

Aku menghentikan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di otakku secara tiba-tiba. Karena aku merasakan adanya sepasang bibir menempel di bibirku. Aku tidak sadar, selagi aku berpikir, ternyata Renee bangkit dari ranjangku, membungkuk di hadapanku yang masih duduk di kursi meja belajar, lalu menempelkan bibirnya sendiri pada bibirku.

Kedua tangannya memegang pundakku, kedua matanya terpejam. Akhirnya aku memutuskan untuk membalas ciumannya, lalu kurasakan senyumnya mengembang saat sadar aku membalasnya. Aku memegang pinggangnya, dan kududukan tubuhnya di pahaku, setelah itu memeluk tubuhnya.

Bibirnya terasa seperti buah stroberi, dan itu lembut. Gawat, aku bisa ketagihan akan bibirnya. Aku berusaha mengontrol diriku. Otakku sudah menyuruhku untuk melepas ciuman itu, tetapi tubuhku tidak mau mendengarkan suara otakku. Yang terjadi adalah aku mulai mengeluarkan lidahku dan berusaha menerobos masuk ke dalam mulut Renee. Gadis itu membuka mulutnya, dan lidah kami bertarung dengan sengit.

Sial, aku harus menghentikan ini sebelum terlalu jauh!

.

.

~TBC~

.

.