Otakku berkata bahwa aku harus menghentikan apa yang aku dan Renee saat ini, tetapi tubuhku serasa tuli akan perintah otak ini. Tambah lagi mulut Renee begitu manis. Sial! Aku harus menghentikan ini! Dan syukurlah, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarku.

"Eisler! Ada surat untukmu!"

.

.

Disclaimer: NIS, GUST

A/N: berusaha mengikuti alur asli MK1, penambahan plot di sana-sini, kata asing ada yang tidak di italic karena akan sering dipakai, Tony x Renee, Tony's POV

.

Into My Heart
Chapter Terakhir

by Fei Mei

.

.

Renee segera beranjak dariku, dan aku berjalan menuju pintu. Kubuka pintu dan mendapati pengurus asrama putra ada di depan pintu, ia lalu menyerahkan sepucuk amplop putih padaku. Kuambil amplop itu lalu kututup pintu lagi.

"Dari ibuku," kataku, sebelum Renee sempat bertanya.

Sebenarnya sekitar dua-tiga hari yang lalu aku menulis surat pada ibuku. Oke, sebenarnya tiap seminggu atau dua minggu sekali aku pasti mengirim surat pada ibuku, dan ia akan balas sesempatnya. Tidak ada topik pembicaraan khusus di surat yang kutulis, hanya hal-hal normal seperti apa yang kualami di sekolah, pelajaranku, dan yang paling penting adalah soal kabarku. Tapi tiga hari yang lalu aku menulis soal aku dan Renee yang sudah resmi berpacaran.

Nama Renee bukannya tidak pernah kutorehkan dalam surat yang kutulis, sebenarnya. hanya saja selama ini aku menulis seakan gadis itu memang hanya orang yang ke mana-mana selalu bersamaku, dan satu-satunya teman yang kupunya. Setiap ibuku menanggapi paragraf di mana aku cerita tentangnya, ibuku selalu bilang bahwa ia tidak akan kaget kalau tiba-tiba aku bilang kalau aku suka pada Renee. Sampai saat ini aku tidak mengerti kenapa ibuku bisa sampai bilang seperti itu.

Aku membuka amplop putih itu, dan hanya ada satu lembar kertas surat di dalamnya, seperti biasa. Kalimat pertama dari isi surat itu adalah: 'Akhirnya! Ibu sudah tahu bahwa ini akan terjadi cepat atau lambat antara kau dan gadis itu!'.

Wajahku memanas seketika, dan sejujurnya aku jadi ragu untuk melanjutkan membaca surat itu.

"Kau kenapa?" tanya Renee, menghampiriku, berusaha mengambil surat dari tanganku.

"Aku belum selesai baca," ujarku, berusaha agar gadis itu jangan mengambil surat ini dari tanganku.

Mata Renee seakan menyuruhku cepat membaca surat itu karena ia sendiri juga ingin baca. Jadi aku teruskan untuk membaca. Inti isi surat itu hanya bagaimana ibuku senang bahwa aku dan Renee akhirnya berpacaran. Aku pernah cerita pada ibuku soal kejadian di cafe saat aku dan Renee saling salah paham, kemudian aku menyatakan perasaanku di cafe yang sama. Ibuku malah bilang ingin sekali ia bertemu dengan Miss Isolde yang sudah bagaikan Cupid bagi aku dan pacarku, ibu bilang ingin berterimakasih pada wali kelasku itu. Bahkan, lebih parahnya, ibuku bilang setelah aku lulus dari sekolah, aku harus langsung memperkenalkan 'calon menantunya' kepadanya, alias aku harus langsung membawa Renee menemui ibuku sebelum gadis itu menginjakkan kaki di rumahnya sendiri.

"Aku tidak yakin kau mau baca surat ini," kataku, memasukkan kertas surat itu kembali ke dalam amplop.

"Oh, ayolah!" desah Renee, tetapi aku tetap tidak memperbolehkannya.

Akhirnya aku memintanya untuk kembali ke kamarnya. Kubilang bahwa aku ingin kembali belajar. Itu tidak bohong, mengingat kertas-kertas soal yang belum kucoba kerjakan. Renee tersenyum, dan bilang kalau aku tinggal datang ke asrama putri jika butuh bantuan. Lalu ia mengecup pipiku, dan keluar kamar.

Oke, kuharap setelah ini aku bisa berkonsentrasi belajar. Aku tidak boleh memikirkan soal ciuman itu.

.

.

"Astaga, aku benar-benar tidak mengerti soal yang diberikan Mr Lorr tadi!" dengus Renee.

Ini pertama kalinya aku mendengar Renee mendengus soal pelajaran. Tidak, dia bukan si jenius, tapi dia memang tidak pernah menganggap soal yang diberikan guru-guru itu seulit. Apa mungkin karena ini adalah soal ujian akhir, makanya dia bisa seperti ini?

"Yah, setidaknya semua ujian telah selesai, kita tinggal tunggu hasilnya," kataku.

Ya, minggu ujian berlalu dengan cepat tanpa kusadari. Lebih tepatnya, tiga tahun aku sekolah di Al-Revis berjalan lebih cepat dari yang kubayangkan. Seingatku baru saja kemarin aku berpisah dengan ayah dan ibuku di stasiun untuk ke sekolah berasrama ini, tapi sekarang aku telah menyelesaikan ujian akhir. Bulan depan aku akan naik kereta untuk pulang ke rumah. Oh, tentu saja aku yakin kalau aku lulus dalam ujian akhir.

Aku dan Renee hendak berjalan menuju Worskhop, sampai tiba-tiba kami melihat Miss Isolde sedang mengobrol dengan Mr Zeppel. Tidak hanya itu, Mr Zeppel menggendong kucing hitam yang sama sekali tidak asing untuk kami, itu adalah kucing Vayne Aurelius. Kalau itu adalah kucing Vayne, berarti ini mungkin berhubungan dengan Flay. Aku dan Renee langsung bersembunyi di belakang tiang, mencoba mencuri dengar.

Jika pendengaranku tidak salah, Mr Zeppel bilang bahwa Vayne dan teman-temannya sedang mencari Moon Flower agar sang guru bisa meramu obat. Obat yang diramu itu akan diberikan kepada kucing Vayne yang sedang sakit. Lalu Miss Isolde menawarkan diri untuk merawat kucing Vayne sementara Mr Zeppel menyiapkan bahan-bahan lain untuk meramu obat. Mrz Zeppel mengucapkan terimakasih lalu pergi meninggalkan guru yang wanita.

"Apa kalian berdua ada di sana?" tanya Miss Isolde tiba-tiba.

Tidak ada orang lain selain aku dan Renee di tempat itu yang mungkin diajak bicara oleh Miss Isolde. Astaga, dia itu ninja, ya? Sampai bisa tahu kalau kami bersembunyi...

"Ya, kami di sini," kataku, memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyian bersama Renee.

"Kukira tadi kita sudah cukup baik dalam bersembunyi," kata Renee pelan.

"Kalian mendengar pembicaraan kami?" tanya Miss Isolde lagi.

"Ya, kami dengar semuanya," kataku. "Aku tahu, pasti anda ingin kami merecoki Vayne seperti biasa, kan?"

"Tidak, kali ini tidak seperti itu," kata Miss Isolde sambil mengelus kucing Vayne yang sepertinya benar-benar sekarat. "Aku ingin kalian membantu mereka."

"M-maaf?!" tanya Renee agak keras. Dia kaget, tentu saja, sebab aku juga sangat kaget.

"Di sana banyak monster, dan yang paling berpengalaman karena sudah kelas tiga di Workshop itu hanya Flay. Walau jumlah anggotanya banyak, kalau masih amatir, percuma. Jadi kalian datang ke sana, pastikan Vayne dan teman-temannya mendapatkan bunga itu dan keluar dengan selamat. Kalian tahan monster-monster itu sampai Vayne berhasil keluar, lalu kalian langsung kabur," jelas Miss Isolde.

Wow. Ia sudah cukup lama tidak memberi kami misi, dan sekarang ia memberi misi yang benar-benar 'baru'? Misi yang sangat berbeda dengan apa yang pernah ia berikan pada kami! Dia pasti punya maksud tersendiri, maka dari itu aku tidak bertanya macam-macam. Aku langsung mengajak Renee untuk bersiap-siap dan pergi ke Gedung Sekolah Lama.

Sampai di Gedung Sekolah Lama, aku dna Renee langsung mencari tempat-tempat yang mungkin menjadi tempat tumbuhnya Moon Flower. Tapi masalahnya, aku bahkan tidak tahu seperti apa rupa bunga tersebut.

Sampai suatu ketika, aku mendengar suara berisik, seperti suara pertempuran, dan aku langsung curiga bahwa di sanalah Vayne dan teman-temannya berada sekarang. Jadi aku segera menarik Renee ke sana, dan melihat Flay dan teman-temannya bertarung melawan seekor ... eh, mungkin seekor Chimera. Vayne tidak ikut bertarung, ia hanya menonton di barisan belakang, mungkin karena senjata miliknya satu-satunya hanyalah kucing hitam itu. Di belakang Chimera masih ada banyak monster. Banyak.

Ketika Flay akhirnya menang melawan Chimera, monster-monster yang lainnya mulai maju untuk menyerang kelompok rivalku. Pada saat itu pula aku dan Renee langsung maju menghadang para monster.

"Oh, kalian? Sedang apa?" tanya seorang gadis anggota Workshop Flay, kupikir itu Nikki.

Kebingungan mewarnai pertanyaan itu. Huh, jangankan kau, aku pun bingung kenapa Miss Isolde memintaku dan Renee untuk membantu kelompok Flay.

"Ambil bunga itu lalu pergi!" kataku sambil menyiapkan senjata.

"Kalian yakin?" tanya Vayne.

"Cepat!" seruku, tidak sabar.

Flay segera menyuruh Vayne mengambil Moon Flower lalu menyuruh teman-temannya untuk pergi. Aku bisa melirik sekilas lewat sudut mataku, Flay adalah orang terakhir yang meninggalkan tempat itu, soalnya dia sempat menatapku. Aku tidak mengerti arti tatapan itu karena tidak begitu jelas. Tapi kemungkinan besar adalah tatapan keheranan.

Setelah Flay akhirnya pergi, seekor monster memberanikan diri untuk maju menyerangku. Dan mungkin ini akan menjadi pertarunganku melawan monster di sini untuk terakhir kalinya sebelum lulus.

.

.

"Tonnnyy!" seru seseorang dari luar kamarku. Itu suara perempuan. Itu suara Renee. Jika pintu kamarku tidak dikunci, dia pasti akan berteriak membanguniku tepat di telinga.

"Aku banguunn!" balasku, berseru kesal, karena sebenarnya paling tidak suka dibangunkan dengan cara seperti ini.

Langsung aku membuka kunci kamar, membiarkan Renee masuk. Kemudian aku langsung mandi dan berpakaian seragam. Ini akan menjadi hari terakhir aku mengenakan seragam sekolah Al-Revis, sebab hari ini adalah hari pengumuman sekaligus kelulusan kelas tiga.

Setelah siap, aku dan Renee langsung ke aula. Di sana sudah banyak anak kelas tiga yang berkumpul untuk mendengarkan ceramah kepala sekolah untuk terakhir kalinya. Nanti kami akan masuk ke kelas masing-masing untuk mendapat penentuan lulus atau tidaknya. Dan entah nasib, takdir, atau apa, aku harus berbaris di samping Flay.

Ceramah kepala sekolah membosankan seperti biasa. Untung kami sedang dalam posisi berdiri. Kalau duduk, mungkin aku sudah pulas. Jadi kuputuskan untuk mengobrol diam-diam dengan Renee yang ternyata sudah bosan juga. Sampai suatu ketika Flay menendang kakiku.

"Hei!" bentakku, kesal.

"Cepat jalan! Kau menghalangi!" kata Flay.

Aku melihat ke sebelahku dan Renee, ternyata semua sudah berjalan menuju kelas. Berarti ceramah kepala sekolah sudah selesai dan aku tidak menyadarinya.

Lalu aku dan Renee berjalan ke kelas. Di kelas, Miss Isolde membagikan rapor dan ijazah kepada kami semua, ini berarti anak kelasku lulus semua. Kulihat nilai ujianku, tidak buruk, rata-rata angka delapan. Nilai rata-rata Renee malah sembilang. Huh, dasar anak pintar.

Miss Isolde bilang bahwa besok kereta untuk anak kelas tiga akan berangkat menuju stasiun kota, membawa kami pulang. Syukurlah, aku bisa segera pulang! Tapi ...

"Sepertinya aku tidak bisa ikut pulang besok," kata Renee, saat kami sedang membereskan Workshop.

"Apa? Kenapa?" tanyaku bingung.

"Barang-barangku banyak, dan aku tidak yakin akan selesai mengepak barang besok pagi," jawabnya.

Aku menghela nafas berat. Oh, ya. Barang-barangnya. Aku tahu, terutama baju-bajunya, itu amat sangat banyak. Apa koper yang ia bawa dari rumah cukup untuk membawa pulang baju-bajunya? Karena besok dia tidak bisa ikut pulang, kupikir aku akan menemani dia di sini. Maksudku, paling hanya satu-dua hari saja kan? Lagipula kereta yang akan mengantar kami kembali ke stasiun kota itu beroperasi selama seminggu ini.

Ya, kupikir hanya satu sampai dua hari, ternyata malah nyaris seminggu! Heran, dia mengepak barang apa saja, sih?! Bahkan pada akhirnya kami jadi mengambil jadwal kereta terakhir, dan semua anak angkatan kami sudah pulang duluan –kebanyakan dari hari pertama. Saking banyaknya barang gadis itu, ia dengan enaknya meminta tolong pada seorang petugas dari kereta api untuk membawakan barang-barangnya ke dalam kereta api.

Kami lalu berkeliling sekolah, mencari Miss Isolde. Dan tidak perlu waktu lama, karena saat kami ke halaman depan, ia ada di sana. Lalu kupanggil dia.

"Oh, kalian masih di sini?" tanya Miss Isolde, terkejut karena kami belum pulang.

"Renee terlalu lama mengepak barang," dengusku.

"Barangku kan, banyak!" kata Renee sambil memukul lenganku.

"Hn," Miss Isolde tersenyum. "Berhati-hatilah dalam perjalan pulang."

Lalu Miss Isolde berbalik untuk terus jalan. Tapi kuhentikan ia lagi.

"Miss Isolde! Terimakasih untuk tiga tahun ini!" kataku.

Setelahnya Renee juga menyampaikan terimakasihnya pada wali kelas kami. Lalu kami keluar dari gerbang sekolah, menuju stasiun. Naik ke dalam kereta, lalu kereta itu mulai bergerak.

"Ibuku bilang ingin bertemu denganmu," kataku, saat kami tengah perjalanan.

"Aku tahu," katanya, membuatku bingung. "Ibumu pernah mengirim surat padaku beberapa hari lalu."

Aku ber-hah-ria, tidak menyangka kalau ibuku akan melakukan itu.

Perjalanan masih panjang di dalam kereta. Aku dan Renee pun tertidur di jok kereta.

.

.

-14 tahun kemudian-

Aku terbangun tiba-tiba ketika mendengar suara tangisan bayi yang begitu keras. Renee, yang sudah menjadi istriku sejak beberapa tahun lalu ini langsung beranjak dari ranjang kami dan menuju ranjang bayi. Ia menggendong bayi laki-laki kami, dan berusaha menidurkannya kembali. Kulihat jam dinding, sudah jam lima pagi, dan agak tanggung kalau mau tidur lagi.

Beberapa tahun setelah lulus dari Al-Revis, aku dan Renee membuka toko untuk menjual barang-barang alkemi. Soalnya aku maupun dia sama-sama tidak suka kerja dengan waktu yang terikat, sih. Walau tidak ingin terikat waktu, tapi kami sellau berusaha untuk membuka toko jam tujuh pagi. Dua jam lagi, makanya tanggung sekali.

Jadilah aku mandi lalu menyiapkan sarapan. Renee membaringkan putra kami di ranjang bayi, lalu keluar mengambil koran dan surat di kotak surat. Ketika ia masuk ke ruang makan, ia menyerahkan sepucuk surat, katanya itu ditujukan padaku.

"Al-Revis?" gumamku, saat melihat dari mana asal surat itu.

Lalu kubuka amplopnya, kukeluarkan kertasnya dan langsung kubaca. Kubaca dengan saksama, meyakinkan diri kalau aku tidak salah baca, atau jangan-jangan surat ini salah kirim. Tidak, suratnya memang benar ditujukan padaku, Tony Eisler.

"Apa isinya?" tanya Renee.

"Al-Revis menawariku pekerjaan sebagai guru di sana," kataku sambil memperlihatkan surat itu.

"Wow," kata Renee sambil membaca surat itu. "Kau mau ambil tawaran ini?"

"Entah, kita kan, punya toko. Dan Rory masih kecil," kataku, menyebut nama putraku.

"Kalau kau mau ambil kerjaan ini tidak apa, kok. Aku bisa urus toko sambil merawat Rory. Lagi pula kalau memang tidak sanggup, aku bisa minta kakakku atau ibumu untuk bantu di sini," ujar Renee.

"Benar tidak apa, kalau aku jadi guru di Al-Revis? Aku akan tinggal di sana, lho," ucapku.

"Tidak apa, asal kau tetap mengabariku lewat surat," ujar Renee, lalu ia nyengir. "Lagipula di antara kita berdua, aku tahu kalau kau yang paling merindukan sekolah itu."

Aku tersenyum. Renee benar. Dan aku akan menjadi guru di Al-Revis!

.

.

TAMAT

.

.