Declaimer: BoBoiBoy milik animonsta dan saya Cuma pinjem charanya. Dan bila Halilintar mau diberikan kepada saya, saya akan dengan senang hati menerimanya. #Plakk

Warning: Abal, Gaje (kayak yang nulis), OOC, OC (lumayan banyak), typo(s), alur kecepetan dan berbagai kesalahan lainnya...

.

.

.

2. serangan iblis dan pedang iblis

.

.

.

"Iblis" Ucap mereka bersamaan.
"Bagaimana mungkin di sekolah ini ada iblis?" Tanya Taufan tak percaya.
Teriakan para murid terdengar bersamaan dengan larinya mereka yang ketakutan menjauh dari sumber ledakan. Suara sirine tanda bahaya terdengar. Menambah panik dan kacaunya sekolah siang itu.
"Kalian berdua. Pergilah menjauh dari sini! Aku akan memanggil regu pembasmi iblis untuk membunuhnya." Perintah Yaya pada Halilintar dan Taufan.
Halilintar yang melihat ledakan itu, segera berlari menuju sumber ledakan.
"Ha-Hali... Tunggu.. Apa yang kau lakukan?" Teriak Yaya bingung ketika melihat Halilintar berlari.
"Halilintar... apa yang ingin kau lakukan?" Gumam Taufan pelan. Sejujurnya ia masih takut, ketika ada iblis didekatnya. Kenangannya 4 tahun yang lalu masih menghantuinya. Kenangan pahit ketika sang iblis mematahkan leher sang kakak didepannya.
"Jangan bilang dia akan melawan Iblis itu?" Ucap Yaya tak percaya.
Taufan yang mendengar ucapan Yaya tadi, tersentak dan menggerakkan kakinya. Berlari kearah Halilintar. Ia takkan mengulangi kesalahan yang sama lagi. Ia takkan membiarkan Halilintar, orang yang telah menolongnya mati karena menghadapi Iblis itu. Tidak, tidak akan pernah. Menghiraukan teriakan Yaya yang ada dibelakangnya, Taufan terus memacu langkahnya menuju tempat Halilintar.
"Hoi... kalian berdua..." teriak Yaya frustasi. "Huhh..." Yaya segera berbalik bermaksud memanggil regu pembasm Iblis.
OoooooO
Halilintar terus berlari. Menghiraukan banyaknya orang yang berlari ketakutan berlawanan arah dengannya. Ia segera berlari kearah loker tempatnya menyimpan katananya. Orang-orang menatapnya aneh. Namun ia tak peduli. Asalkan sekarang ia bisa membunuh Iblis itu, dan ia akan menunjukkan kemampuannya pada si bodoh Fang itu.
Dengan tergesa-gesa Halilintar meniti tangga. Melewati mayat mayat yang berjatuhan karena serangan iblis itu, Halilintar melewati lorong yang telah rusak.
"Disini..." ucap Halilintar pelan. Ia mengambil nafas dalam dan mengeratkan pegangannya pada katana miliknya. Perlahan ia membuka pintu itu dan melihat sang iblis.
Iblis berwujud manusia, dengan rambut berwarna hitam mengkilap sepinggang. Dan tubuh yang tinggi serta ramping sedang mencengkram leher seorang gadis yang diangkatnya didepan papan tulis. Gadis bersurai kecoklat sebahu itu, memjamkan matanya ketakutan. Wajahnya meringis menahan sakit yang disebabkan oleh Iblis itu.
"Sudah lama sekali ya, Iblis." Ucap Halilintar dingin. Ia mengambil katananya dan melempar sarungnya sembarangan.
"Manusia kah?" Ucap Iblis itu pelan dan melepaskan cengkramannya pada sang gadis. Iblis itu berbalik dan bersiap menyerang Halilintar.
Halilintar berjalan pelan kearah sang Iblis.
"Kelihatannya kau kuat." Ucap Iblis itu sembari menyeringai senang. Ia senang bisa menemukan tubuh yang lebih kuat dari tubuh yang digunakannya sekarang.
Halilintar mengeratkan pegangannya pada katana miliknya. Dengan gerakan yang cepat, Halilintar menyerang sang Iblis. Katana dan tangan kuat berkuku milik sang Iblis bertubrukan. Saling menyerang dan menghindar mereka lakukan. Halilintar bergerak mundur, dan melompat kesana kemari menghindari kursi-kursi yang dilemparkan sang iblis. Halilintar cukup terpojok ketika satu kursi mengenainya dan hanya mampu ditahan oleh tangannya.
"Ugh..." gumamnya pelan. Ia membuka tangan yang ada didepan wajahnya dan melihat sang Iblis menyerang dengan tangannya. Reflek Halilintar menebaskan katananya dan menyebabkan tangan dari sang Iblis terpotong, dan jatuh bersimbah darah didekatnya. Sang Iblis dengan cekatan mengambil tangannya kembali dan mundur menghidari Halilintar.
"Uhuk.. uhuk..."
Halilintar yang mendengar suara batuk, membalikkan tubuhnya dan mendapati gadis yang tadi dicekram oleh sang iblis, terbatuk batuk.
Brukk...
"Huh?" Mendengar suara benda jatuh Halilintar membalikkan badannya dan mendapati orang yang tadi memukulinya meringkuk bersembunyi di balik meja kursi.
"Hoi... kau... bawa gadis itu pergi..." perintah Halilintar kasar.
"Ha?"
"Cepat bawa gadis itu keluar... kau pasukan pembasmi iblis kan?" Bentak Halilintar kehabisan kesabaran
"I-itu bohong." Ucap Yamanaka dengan suara bergetar.
"Ha?" Ucap Halilintar tak percaya. Namun perhatiannya segera teralihkan kepada sang Iblis yang telah menyatukan tangannya, yang tadi berhasil Halilintar potong.
Kembali pertarungan terjadi, namun kali ini Halilntar sedikit memimpin karena telah bisa membaca gerakan lawan.
Singg...
Darah memuncrat dari tangan sang iblis yang kembali terpotong. Dan lagi sang iblis menyatukan potongan tubuhnya. Halilintar hanya diam, ia segera menyerang dan berhasil menggoreskan pedangnya pada tubuh sang Iblis yang dengan cepat beregenerasi. Halilintar mundur beberapa langkah ketika tangan sang Iblis berhasil menggoreskan luka pada pipinya.
"Cihh,.." decih Halilintar kesal. Ia kembali menerjang sang iblis. Dan menusukkan katananya ketubuh sang iblis. Ia berhasil menusuk bahu sang Iblis. Namun ia tak bisa menghindari tendangan Iblis itu, yabg membuatnya terlempar beberapa meter.
"Ughh..." tubuhnya membentur tembok dengan keras, bersama dengan katanya yang masih tetap dipegangnya.
Kembali bahu yang terkena serangan Halilintar beregenerasi.
"Usaha yang bagus... kau cukup kuat ternyata. Yahh... kau pantas menjadi tubuhku." Ucap sang iblis sembari bersiap menusukkan tangannya ke jantung Halilintar.
"TIDAKK..." sebuah teriakan membuat sang Iblis membalikkan badannya dan mendapati seorang pemuda dengan topi miring menerjangnya hingga terjatuh.
"Ugh.. Taufan?" Gumam Halilintar yang masih merasa kesakitan.
"Kau..." ujar iblis itu geram. Dan bersiap menusuk Taufan. Taufan hanya melindungi kepalanya dengan tangannya.
Melihat hal itu Halilintar segera berlari kearah Taufan dan melindunginya. Tangan dan katana kembali beradu. Iblis itu tetap mencoba mendorong Halilintar.
"Hebat juga kau..." gumam Halilintar pada Taufan.
"Huhh.. kau seperti kakakku." Ucap Taufan pelan. Namun Halilintar bisa mendengarnya dan membuat konsentrasinya terganggu.
"Huhh? Akhhh.." teriaknya ketika sebuah tendangan mengenai perutnya telak dan membuatnya terlempar keluar jendela yang diikuti sang iblis yang melompat dari jendela.
"Halilintar..." teriak Taufan yang hanya bisa menatap Halilintar dari atas.
Sementara itu, Halilintar yang terlempar mencoba menghalabgi serangan sang Iblis dengan katananya.
"Ughh..." lenguhnya pelan ketika ia terjatuh disemak-semak, diikuti dengan tangan sang iblis yang mencekiknya.
"Kau memang kuat. Hanya dengan senjata biasa kau bisa memotong tanganku dua kali dan menusuk tubuhku dua kali. Yahh... meskipun itu takkan cukup untuk membunuhku." Ucap sang iblis sembari menyeringai ketika melihat katana Halilintar yang menembus tubuhnya.
"Jadi aku harus membunuhmu dengan apa iblis?" Ucap seseorang dengan sinis.
"Akk... ini... sen-jata... iblis." Ucap iblis itu tersenggal-senggal ketika sebuah pedang berwarna hitam menusuk jantungnya.
"Berhenti bicara, menyedihkan." Ucap orang itu dingin.
Tubuh iblis itu terangkat dan bersamaan dengan ditariknya pedang itu, tubuh sang iblis menghilang seperti asap, menyisakan bajunya yang tergelak.
Halilintar hanya diam terbelalak melihat sang iblis hancur didepannya. Perlahan ia bisa melihat pemuda bersuai ungu sedang memainkan pedangnya sebelum dimasukkan ke sarungnya.
"Kau bodoh kah? " Ucap Fang mengejek.
"Huhh..?" Ucap Halilintar yang masih linglung.
"Bagaimana bisa kau memburu iblis dengan pedang biasa?" Ucap Fang sembari berbalik.
"Kau bilang apa tadi? Aku sudah hampir membunuhnya ta..." ucap Halilintar kesal sembari berdiri.
"Kau hampir terbunuh. Bukan membunuh." Potong Fang cepat.
Halilintar hanya bungkam mendengarnya.
"Ck..." decaknya kesal dan berbalik pergi.
"Hoyy... kau mendengarku tidak?" Tanya Fang kesal. Halilntar berhenti melengkah, namun tetap tak membalikkan badannya. "Kau bisa mendapatkan pedang iblis seperti ini. Tapi kau harus menghilangkan dendammu itu. Dan cara untuk menghilangkan dendammu itu adalah teman." Jelas Fang.
"Ck... berhenti membicarakan masalah dendam dan teman. Aku sudah cukup kuat untuk membunuh para iblis it..." bentak Halilintar seraya berbalik menghadap Fang.
"Tapi kenyataannya kau hampir terbunuh tadi." Ucap Fang kembali memotong perkataan Halilintar. Halilintar menatap Fang dengan tatapan marah. Tangannya terkepal menahan marah. Ingin rasanya ia menonjok wajah memuakkan didepannya itu. Hingga sebuah suara yang sangat keras menghentikan pertengkaran mereka.
"Halilintar... kau masih hidup..." teriak Taufan dari atas jembatan, senang. Disampingnya berdiri Yaya yang tersenyum kearah mereka. Taufan yang melihat Halilintar tanpa pikir panjang melompat kearah Halilintar.
"Halilintaaaaaaaarrrr..." teriak Taufan senang.
"Akh... hoyy... aduhhh..." teriak Halilintar kesakitan karena tertindih Taufan.
"Hahahha... ku fikir kau sudah mati." Ucap Taufan sembari tersenyum lebar.
"Hoyy... bodoh. Sakit."
"Ahh... maaf maaf." Ucap Taufan sembari berdiri. Diikuti Halilintar yang berdiri.
"Dia siapa?" Tanya Fang pada Yaya yang berdiri di atas jembatan.
"Kelihatannya temannya."
Halilintar hanya melihat mereka sekilas dan pergi, dengan tangan yang dimasukkan ke saku jaketnya dan satu tangannya membawa katananya.
"Halilintar tunggu... tunggu..." teriak Taufan dan berlari mengejar Halilintar.
"Kau harus menepati janjimu letnan!" ucap Yaya yang masih menatap punggung Halilintar.
"Hah? Ini bohong kan?" Teriak Fang tak percaya.
OoooooO
"Dasar Fang sialan. Enak sekali bilang teman.. teman... kau fikir enak mencari teman." Gumam Halilintar kesal.
"Yahh... mungkin jika aku itu Mika, pasti aku mudah mencari teman." Gumam Halilintar sembari berhenti.
"Halilintar... tunggu... tunggu..." teriak Taufan di belakang Halilintar
"Hoyy... tunggu dulu... kau itu kenapa sih.. marah-marah mulu..." sungut Taufan menepuk pundak Halilintar.
"Ck... bukan urusanmu." Ucap Halilintar kesal.
"Kau itu... huhh... sebenarnya ada apa sihh?"
"Sudah kubilang itu bukan urusanmu." Ucap Halilintar kesal sembari menepis tangan Taufan. Dan pergi meninggalkannya.
"Kau itu kenapa sih.. padahal aku cuma ingin berteman." Desah Taufan tak mengerti.
"Dia memang seperti itu. Masa lalunya yang pahit membuatnya sulit untuk berteman. Yahh.. karena itulah aku meminta tolong padamu. Bertemanlah dengannya." Ucap seseorang dibelakangnya. Reflek Taufan membalikkan badannya dan mendapati Yaya yang berjalan pelan kearahnya.
"Maksudmu?" Tanya Taufan tak mengerti.
"Ini semua tentang keluarganya yang tewas karena serangan Iblis 4 tahun yang lalu..."
OoooooO
Halilintar menghentakkan kakinya kesal. Semua benar benar membuatnya kesal, dari perkataan Fang dan semua tentang pertemanan. Semua membuatnya kesal dan membuatnya merasa bersalah. Ia masih tak bisa menghilangkan trauma akan kehilangan semua anggota keluarganya.
Halilintar terus berjalan tanpa terasa ia sudah ada di pinggir taman sekolah. Ia memutuskan untuk membaringkan diri diatas rerumputan. Ia menurunkan topinya sangat rendah, namun matanya masih bisa melihat indahnya sang langit biru. Pikirannya melayang mengingat semuanya. Hingga ia menutup matanya dan tertidur.
OoooooO
Halilintar POV
Semuanya putih... ini dimana? Kuputarkan tubuhku mencoba mengenali tempat ini. Sebenarnya aku ini dimana?
"Hali..."
Kudengar seseorang memanggilku dari belakang. Reflek aku memutar tubuhku menghadap ke asal suara.
"M-Mi-Mika." Ucapku tergagap. Bagaimana tidak, sekarang berdiri didepanku seluruh keluargaku yang telah tewas didepanku 4 tahun yang lalu. Semua keluargaku.
"Kalian masih hidup?!" Tanyaku tak percaya.
Peralahan aku berjalan mengarah pada Mika.
"Hali... kau harus melepaskan dendammu. Kau harus mencari teman. Kau tidak bisa hidup hanya untuk balas dendam lhoo?" Kata Mika lembut.
"Ha? Mi-Mika apa maksudmu?" Ucapku tergagap. Kulihat Mika hanya tersenyum dan berbalik diikuti dengan teman-temanku yang lain.
"Tu-tunggu... apa maksudnya ini? Mika... tunggu.. Mika...?!" Ucapku terus mencoba menggapai Mika. Perlahan kulangkahkan kakiku lebih cepat. Tanpa kusadari ruangan berubah menjadi putih kembali, dan sebuah cahaya yang menyilaukan menerpa mataku. Reflek aku menutup mataku.
Halilintar POV end
OooooO
"Mika..." tangan Halilintar terangkat mencoba menggapai sesuatu. Perlahan ia menurunkan tangannya. Yang dilhatnya sekarang bukanlah ruangan putih apalagi keluarganya. Namun sebuah taman, dengan langit yang menunjukkan degradasi orange.
"Eh... kau sudah bangun." Ucap seseorang disampingnya. Reflek Halilintar membalikkan badannya dan mendapati Taufan yang terduduk disampingnya dan Yaya yang duduk dibawah pohon taman itu.
"Huh?" Ucap Halilintar bingung.
"Kau tidur sejak tadi. Kata Yaya jangan membangunkanmu. Kau kelelahan?" Tanya Taufan khawatir.
"Sebenarnya kenapa kau sangat khawatir padaku. Aku bahkan baru bertemu denganmu tadi pagi." Ucap Halilintar bingung. Taufan tersenyum lebar sebelum menjawab pertanyaan Halilintar.
"Karena kita adalah teman, bukan?" Ucap Taufan ceria.
"Kau menganggapku teman? Kau gila? Kita baru bertemu hari ini." Ucap Halilintar meninggikan suaranya.
"Huh? Tak apa kan." Ucap Taufan bingung.
Halilintar mendengus keras dan mendudukkan dirinya sebelum menjawab pertanyaan Taufan.
"Bodoh... kau tak tahu siapa aku. Dan tiba-tiba kau mau berteman denganku?" Ucap Halilintar tak percaya.
"Sudah kukatakan bukan 'tak apa'" ucap Taufan sembari tersenyum ceria.
"Ahh... apa kalian sudah berbicaranya? Kalau sudah aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian." Ucap Yaya yang berjalan kearah mereka.
"Eh.. ada apa Yaya?" Ucap Taufan menghadap Yaya. Sementara Halilintar hanya menatap langit yang telah sore.
"Sebenarnya... Halilintar. Kau masuk kedalam pasukan pembasmi Iblis. Dan juga kau Taufan juga masuk ke dalam kemiliteran. Datanglah ke ruangan Kolonel, besok." Terang Yaya pada mereka berdua.
Taufan yang mendengar itu, menatap Yaya tak percaya, namun Halilintar hanya terdiam dan terus menatap langit.
"Kau dengar tidak Halilintar?" Ucap Taufan sembari menggoyangkan bahu Halilintar. Halilintar yang tadi melamun tersentak kaget karena Taufan menggoyangkan bahunya.
"KITA MASUK KE PASUKAN PEMBASMI IBLIS LHOO... HALI..." teriak Taufan antusias.
"Hahh...?" Kata Halilintar tak percaya.
"Dengan syarat kalian harus berteman. Yahh... lebih baik kalian pulang. Ini sudah sore." Ucap Yaya pada mereka.
Halilintar segera mengambil katananya dan berbalik mengambil tasnya yang ia tinggalkan dilokernya karena masalahnya dengan Yamanaka tadi.
OoooooO
5 hari telah berlalu sejak insiden yang menimpa sekolah mereka. Sekolah mereka kembali pada kegiatan rutin mereka sebagai seorang pelajar. Namun tidak untuk Halilintar, ia memilih untuk bolos pelajaran dan menidurkan diri di atap sekolah.
Dibawah atap seolah ia menidurkan diri, dengan topi yang di turunkannya hingga menutupi matanya dari sinar matahari. Dan tangannya yang digunakan sebagai alas kepalanya.
"Tak kusangka kau benar-benar ada disini. Bagaimana bisa sang pahlawan sekolah, membolos jam pelajaran dan memilih tidur diatap sekolah?" Tanya Yaya mengejek.
"Aku tak mau mendengar itu dari orang yang juga membolos." Ucap Halilintar sarkatik. Tanpa membuka topinya yang menutupi mata.
"Yahh.. kalau aku sih... tidak bisa dibilang membolos. Tugasku kan mengawasimu." Ucap Yaya sembari berjalan kearah Halilintar.
"Berisik." Gumam Halilintar dingin.
"Hahaha... sudah kuduga kau akan bilang begitu... Ara... apa ini?" Tanya Yaya ketika melihat sebuar surat didekat Halilintar. Ia mengambilnya dan membuka surat itu untuk dibaca.
"Sebuah surat cinta ehh? 'Halilintar-san, terimakasih telah menolongku dari serangan Iblis 5 hari yang lalu, aku menulis ini, dan terimakasih telah membaca suratku. Jujur aku menyukai mu...' huhhh... panjang sekali. Sudahlah... heee.. si pahlawan sekolah langsung menjadi populer dan mendapat seorang penggemar kahhh?" Ucap Yaya memebaca surat itu dan mengejek Halilintar. Suratnya dikipas kipaskan didepannya.
"Berisik." Ucap Halilintar singkat.
"Huhh.. kau itu... jadi selanjutnya kau akan membuatnya patah hati ya?" Ucap Yaya sembari menerawang kelangit lepas.
"Selanjutnya?" Ucap Halilintar bingung. Ia membuka topinya dan mendudukkan dirinya.
"Bukan apa apa" ucap Yaya masih menerawang langit. Halilintar membuka mulutnya hendak bertanya lebih jauh, melihat ekspresi dan perubahan sikap Yaya, Halilintar tau ada yang disembunyikan gadis menyebalkan didepannya itu. Waktu 5 hari yang hampir selalu dihabiskannya dengan Yaya membuatnya sedikit banyak mengerti tentang gadis itu. Namun Halilintar hanya mengangkat bahu dan memutuskan untuk tidak peduli. Tohh.. apa sangkut pautnya dengannya.
"Aku punya sesuatu kau pasti menyukainya." Ucap Yaya segera bediri dan mundur beberapa langkah dari Halilintar.
Halilintar menatap Yaya dengan heran.
Yaya mengangkat tangannya kedepan, dan Halilintar merasa tubuhnya sangat berat. Perlahan ia melihat sebuah pedang transparant mulai terbentuk ditangan Yaya. Perlahan pedang itu semakin jelas dan menampakkan sebilah pedang bersarung pink, yang jika dilihat sekilas tidak berbahaya, namun jika kau sudah bertarung dengan pedang itu...
Halilintar yang melihat pedang Yaya menyeringai tertarik. Ia bisa merasakan betapa hebatnya pedang itu dan ia ingin memilikinya. Halilintar berdiri dan mengambil katana yang ada disampingnya.
"Yaya, berikan pedang itu padaku." Ucap Halilintar.
"Kau benar-benar tak mendengarkan penjelasan pembimbingmu ya? Pedang in hanya bisa digunakan oleh seseorang yang memiliki tandanya. Yang artinya pedang ini hanya bisa digunakan olehku." Ucap Yaya sembari menatap pedangnya.
"Kalau begitu bertarunglah denganku." Ucapa Halilintar sembari mengeluarkan katananya dari sarungnya.
"Biar kukatakan satu hal dulu. Aku di juluki Graviti Girl. Meski aku tak menyukai julukan itu tapi aku kuat lhoo..." Ucap Yaya sembari mencabut pedangnya dari sarungnya. Grafiti disekitarnya terasa memberat. Begitu pula tubuh Halilintar, ia meringis kecil ketika merasakan tekanan dari pedang itu.
"Ughh... lumayan juga kau." Ucapnya sembari menerjang Yaya. Kecepatan Halilintar yang lebih cepat darinya, menyulitkan pergerakannya. Namun ketika Halilintar berhasil menyerang pedang Yaya. Yaya menghempaskan Halilintar hingga menabrak pagar pembatas.
"Aghh..." rintih Halilintar pelan dan kembali berdiri.
"Ara... apa aku lupa mengatakan satu hal. Kekuatan dari pedang ini membuat seranganku lebih kuat 100 kali dari saat aku menyerang biasa. Ingat itu." Ucap Yaya sambil memutar-mutar pedangnya.
Halilintar kembali menerjang, namun kali ini yang di incarnya bukanlah pedang Yaya, namun tubuhnya. Berkali-kali Halilintar terhempas dan menabrak pagar pembatas ketika Yaya berhasil menangkis pedang Halilintar. Namun Halilintar tetap berdiri dan kembali menyerang Yaya.
"Hooo... kau pantang menyerah ternyata." Ucap Yaya sembari menyeringai senang.
Halilintar tetap menebaskan pedangnya sembari menghindari kontak pedang Yaya dengan katananya. Halilintar Menghindar kekanan dan kekiri, sembari mencari celah. Hingga ia meloncat dan hampir menebas Yaya. Yaya yang melihat hal itu tak dapat mengelak lagi. Namun...
"Pemberat grafitasi." Gumamnya pelan.
Belum sempat katana Halilintar mengenai Yaya, tubuhnya terasa sangat berat dan tak bisa menahan dirinya lagi. Dengan keras ia terjatuh kelantai dan tak bisa bangun lagi.
"Egggghhh... ini apa?" Ucap Halilintar mencoba berdiri. Yaya berdiri didepan Halilintar.
"Ini adalah kekuatanku 'pemberat grafitasi'. Yahhh... kau hebat juga bisa membuatku terpojok dan membuatku mengeluarkan teknik andalanku itu." Ucap Yaya menyeringai senang. 'Tak heran kau merupakan...' ucap Yaya dalam hati.
"Ughh..." lenguh Halilintar mencoba berdiri. Perlahan ia bisa bangkit namun kembali terjatuh setelah ia berhasil duduk.
'Hmm... kau bisa bangun setelah aku menggunakan 'pemberat grafitasi'?' Pikir Yaya kagum.
"Ck... arrrrrrrrrgggg..." teriak Halilintar frustasi.
"Kau sudah mengaku kalah Halilintar?" Ucap Yaya sembari berkacak pinggang.
"Egggghhhh..." lenguh Halilintar masih terus mencoba berdiri.
"Hahh..." desah Yaya pelan.

"Kau benar-benar keras kepala ya?" Ucap Yaya sembari menambah pemberat grafitasinya.
"Arggg..." teriak Halilintar semakin frustasi.
"Huhh... kau benar-benar keras kepala. Kau yakin tak mau menyerah Halilintar?" Tanya Yaya yang masih menambah berat grafitasinya. Halilintar masih mencoba berdiri dan menolak untuk menyerah.
"Huhhh... sudahlah." Ucap Yaya sembaru berbalik dan menghilangkan pemberat grafitasinya pada Halilintar.
"Kenapa kau lepas? Aku belum menyerah." Tanya Halilintar kesal karena tak bisa keluar dari medan grafitasi Yaya sendiri.
"Sampai besok siang pun kau takkan menyerah." Ucap Yaya sembari berbalik meninggalkan Halilintar.
Halilintar hanya mendudukkan dirinya dan menatap langit biru.
"Dengan kekuatan seperti itu, mengapa kau tak melawan iblis yang kulawan itu?" Ucap Halilintar yang masih menengadah ke langit. Yaya yang mendengar perkataan Halilintar menghentikan langkahnya, namun tak berbalik pada Halilintar.
"Aku belum mampu menghadapi iblis sendirian. Sejujurnya semua orang belum mampu. Makanya letnan memintamu untuk mencari teman karena dia pun masih belum bisa mengalahkan iblis sendirian.".jelas Yaya panjang lebar.
"Huhh? Tapi aku berhasil memotong tangan iblis itu. Tapi aku bahkan tak bisa menyentuhmu?" Ucap Halilintar tak percaya.
"Bukan hanya kita para manusia yang memiliki senjata iblis. Mereka juga punya, ahh tidak mereka lah pemilik sebenarnya. Mereka memiliku senjata yang lebih kuat dibandingkan senjata milik kita. Iblis yang kau lawan juga mempunyainya. Tapi dia terlalu meremehkanmu sehingga tak menggunakan senjatanya. Maka dari itu kau bisa menusuknya. Namun jika aku yang melawannya saat itu..." ucap Yaya sembari menengadah kelangit biru.
"Iblis itu pasti akan menggunakan senjatanya dan membunuhmu dengan cepat." Ucap Halilintar menimpali. Ia berdiri dan berjalan kearah pembatas atap sekolah. Yaya yang mendengar gerakan Halilintar membalikkan badannya dan menerawang jauh keluar sekolah. Yaya berjalan pelan kearah Halilintar dan ikut berdiri disampingnya. Dari kejauhan ia bisa melihat, bagaimana keadaan dunia diluar tembok besar yang mengelilingi kotanya. Hanya ada reruntuhan yang disebabkan oleh serangan monster diluar sana. Ia bahkan ragu bila ada kehidupan diluar sana. Dan ia merindukan adiknya. Ia tak tahu adiknya masih bisa bertahan hidup atau malah sudah pergi diluar sana. Tapi yang bisa ia lakukan hanyalah menjadi prajurit disini, sembari menunggu para prajurit kerajaan yang mencoba mencari orang-orang yang masih hidup diluar sana.
"Maaf karena aku tak bisa menolongmu saat kau melawan Iblis, 5 hari yang lalu." Ucap Yaya pelan. Halilintar bungkam. Ia tidak marah, bahkan ia tak berfikir meminta Yaya membantunya saat itu. Ia masih diam dan menatap reruntuhan itu. Hingga ia melirik Yaya dan mendapati bulir air mata yang mengalir dari kedua pipinya. Halilintar yang tak tahu caranya menghadapi orang yang menangis, apalagi seorang gadis, kelabakan menenangkan Yaya.
"E-eh... tak apa Yaya. Aku tak memintamu untuk membantuku kemarin.. jadi jangan menangis." Ucap Halilintar yang kebingungan menenangkan Yaya.
Yaya tersenyum melihat kebingungan Halilintar. Tak disangkanya Halilintar punya sisi lembut juga. Ia mengangkat tangannya dan menghapus air mata yang mengalir dari kedua bola matanya.
"Tidak kok. Aku tidak menangis karena itu. Aku hanya menangis karena aku rindu pada adikku." Ucap Yaya pelan pada kalimat terakhirnya. Halilintar yang tak mengetahui apa-apa tentang hadis itu hanya berdiri diam disampingnya. Setidaknya Yaya sudah tak menangis sekarang. Dilihatnya sang gadis masih menerawang jauh kearah luar kota ini.
Mereka hanya berdiri dengan keheningan. Tak ada yang memutus keheningan panjang diantara mereka. Tidak Halilintar, tidak pula Yaya. Hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Hingga sebuah teriakan yang sangat familiar ditelinga mereka memecah keheningan.
"Hee... kalian ternyata disini.., hosh...hosh... aku mencari kalian kemana-mana. Dan ternyata... hosh... kalian membolos?" Tanya Taufan sembari terengah-engah.
"Seperti kau tak membolos saja?" Komentar Halilintar dingin.
"Huhh... aku bosan dengan pelajarannya. Makanya aku memutuskab untuk mencari kalian. Tapi kalian tak ada dikelas. Aku cari-cari nggak ada... tak kusangka kalian berdua ada disini." Ucap Taufan panjang lebar.
Halilintar hanya mendengarkan dalam diam, begitu pula Yaya yang masih menatap reruntuhan diluar kota.
"Kalian kenapa sih..? Hei Yaya..."
"..." tak ada jawaban.
"Yaya..." panggil Taufan sekali lagi.
"..." Masih diam..
"YAYA.?!" teriak Taufan
"Ah.. iya ada apa?" Tanya Yaya gelagapan.
"Aku memanggilimu sejak tadi tapi kau tak menyahut juga." Ucap Taufan kesal.
"Ohh... maaf." Gumam Yaya pelan.
"Yaya, tadi kau menggunkan pemberat grafitasi di atap bagaimana nasib para pecundang di bawah sana?" Tanya Halilintar acuh.
"Mereka tak apa-apa. Yang merasakan bagaimana beratnya medan grafitasi hanyalah kau." Terang Yaya.
"Oh." Jawab Halilintar singkat.
"'Pemberat grafitasi'? Kalian baru ngapain sih?" Tanya Taufan bingung.
"Kami hanya baru saja berlatih. Dan ngomong-ngomong soal berlatih kalian diminta kolonel datang ke ruang pelatihannya nanti. Err... atau itulah namanya, aku tak yakin itu bisa disebut ruang pelatihan." Ucap Yaya tampak ragu.
"Jangan membuatku memikirkan yang aneh aneh, Yaya." Ucap Taufan sedikit begidik. Jika dibilang begitu hanya ada 2 kemungkinan baginya. Satu, ruangannya sangat lembek, atau seperti ruangan seorang perempuan. Kedua, ruangannya sangat mengerikan, semengerikan ruang penyiksaan.
"Selera si bodoh Fang itu sejak dulu memang buruk. Jadi tak heran dia punya ruangan yang keadaannya tak bisa disebut saking anehnya." Cibir Halilintar dingin.
"Siapa yang kau bilang 'selera buruk'?" Ucap seseorang dibelakang mereka.
"Dasar ngapain kau disini?" Tanya Halilintar sarkatik.
"Hanya memanggil 3 murid bandelku untuk segera masuk kelas karena kelas pelatihan pembasmi Iblis akan segera dimulai." Ucap Fang santai.
Halilintar hanya menatapnya malas sebentar lalu menyadari satu hal penting yang dilewatkannya.
"Jangan bilang kau yang akan mengajari kami?" Teriak Halilintar kaget.
"Yahhh... bisa dibilang, aku adalah pengajar kalian." Ucap Fang masih santai.
"Jangan harap aku mau diajari oleh orang yang memyebalkan seperti kau." Geram Halilintar marah.
"Itu terserah kau. Yaya, aku tunggu 15 menit." Perintah Fang pada Yaya dan ia menghilang bersama bayangan hitam yang dipanggilnya tadi.
"Yahh... mau tak mau. Kau harus mengikuti pelatihan ini. Halilin-kun." Ucap Yaya pada Halilintar.
"Apa aku juga harus?" Tanya Taufan yang dari tadi tidak mengerti dengan pertengkaran Halilintar dan Fang.
"Ya... secara teknis ini pelatihan para prajurit yang dipilih. Mereka dilatih di kelas khusus disekolah ini. Jadi kalian harus ikut. " Terang Yaya lagi.
Halilintar hanya melihat mereka dengan pandangan malas. Dan beralih dengan mengambil katananya yang terjatuh dilantai. Ia berjalan meninggalkan mereka yang masih berbicara dibelakangnya.
"Hey... Hali, kau tau tempatnya ya? Kalau kau pergi duluan... hey..." teriak Yaya yang diacuhkan oleh Halilintar. Taufan ya g sedari tadi hanya bingung melihat mereka berdua melangkahkan kakinya mengikuti mereka berdua.
Mereka berjalan pelan melewati lorong-lorong hingga Yaya membuka pintu yang mengarah pada ruangan bawah tanah.
"Sudah kuduga selera si bodoh itu tetap buruk." Ucap Halilintar sembari berjalan pelan melewati tangga yang berkarat.
"Kalau kai terus berkata seperti itu, kau bisa dihukum oleh kolonel lo.." timpal Yaya yang masih terus berjalan kedepan.
"Hah... dia akan menghukumku? Memang siapa dia berani menghukumku." Ucap Halilintar acuh.
"Yahh... itu terserah kau sih.. kau yang menjalani hukumannya." Ucap Yaya sembari memutar knop pintu besi yang cukup berkarat. "Kolonel, mereka sudah datang." Ucap Yaya pada Fang.
Disana terlihat sebuah ruangan seperti ruang kelas yang cukup luas. Ruangan itu diisi dengan sekiar 10 kursi yang telah diisi oleh sekitar 6 murid, dan beberapa lukisan di dinding. Di depan terlihat Fang yang menaruh kakinya diatas meja dan malah tidur.
"Apanya yang aneh dengan ruangan ini?" Ucap Taufan sembari melihat lihat ruangannya.
"Bukan ruangannya yang salah, orangnya yang salah." Ucap Halilintar dingin sembari melirik Fang yang mulai membuka matanya.
"Tak bisakah kau sopan pada gurumu, Halilintar?" Tanya Fang sarkatik.
"Ah.. sayang sekali, aku tak berminat untuk sopan padamu." Balas Halilintar dingin.
"Ini si pengacau Halilintar, yang itu Taufan. Yang satu lagi pengawas, Yaya." Ucap Fang memperkenalkan mereka.
"Salan kenal." Ucap Yaya sopan sembari membungkuk hormat.
"Salam kenal." Ucap Taufan dengan senyum lebarnya yang ceria.
"..." Halilintar hanya diam tak berniat untuk memperkenalkan diri.
"Ucapkan sesuatu, bodoh." Tegur Fang pada Halilintar.
"Berisik... tanpa aku mengatakan apapun mereka juga sudah tahu. Ucap Halilintar sembari menurunkan topinya.
"Huhh... terserah kau saja. Duduk sana." Perintah Fang, kesal.
Halilintar hanya melangkah santai ke salah satu kursi kosong yang ada dipojok ruangan. Tempat favoritnya.
"Berarti tinggal 1 orang lagi." Gumam Fang pelan.
Ditengah ruangan yang gelap terdengar langkah kaki seseorang, yang berlari tergesa-gesa. Orang itu memutar knop cepat dan segera membuka pintunya.
"Maafkan saya terlambat kolonel." Ucap orang itu sembari membungkuk.
Terlihat seorang pemuda berusia sekitar 16 tahun, menggunakan setelan jaket kuning dan topi senada yang digunakan terbalik. Pemuda yang itu tersenyum ramah dan memperkenalkan diri.
"Perkenalkan namaku, Gempa."

To Be Continued

Aduhh… saya nulis di HP nggak taunya 4k+…

Hahaha..

Yoo.. minna-sama ada yang merindukan nama saya muncul di ffn? (all: enggak) #pundung

Oke abaikan yang diatas.

Maaf jika ini typonya banyak banget… saya nulisnya lewat HP sihh…

Maaf saya kemaren hiatus. Bukannya ngerjain fic yang lain malah ngerjain owari dulu..

Maaf ya minna Cuma ini yang ada diotak saya.

Maaf aiko chiharu… kakakmu ini beneran deh (siapa kau?)… maaf yang ini nggak bisa saya kirimin ke Iko dulu… gomene

Terimakasih telah membaca minna-sama

Dan tinggalkan jejak yaaaaa….

Review please…