"Terjebak dalam masa lalu adalah suatu mimpi buruk yang kadang tak dapat kita musnahkan dalam hidup kita. Seorang wanita di masa lalu membuatnya menjadi merasa bahwa dirinya sudah tidak normal lagi. Namun, tak dapat disangkanya bahwa wanita itu ada kembali di kehidupan nyatanya... setelah 10 tahun lamanya."

Turnover The Past

[By: Natsume Rokunami]

Rated: T

Romance / Hurt, Comfort / Drama

{Sabaku no Gaara x Ryuuno Megumi}

.

A/N: Halahaah... sudah ada beberapa fict yang Natsu pertimbangkan untuk discontinued, karena udah gak punya ide dan mood. ._. Tapi Natsu takut kalau suatu saat nanti mood itu muncul, bagaimana ini?

.

Sabaku no Gaara: 25 years old

.

Disclaimer: Kishimoto Masashi (Naruto Shippuden)

.

This is my second fict GaaMegu. :) Don't Like It? Just don't read it. I don't wanna see uncouth flame in my review box, because you all have been warned. Okay? And tolerating me about my grammar and syhntax, because I'm was a newbie in . :D Got that, senpai? :D

.

Warning: OC and Full of Warning (in my opinion)

.

Suggestion: Kusarankan untuk mendengarkan lagu The Script – Nothing, The Script – Breakeven, atau The Script – Who Man Can't Be Moved. Pokoknya lagu semacam itu, lah. Agar 'rasa' FanFic ini semakin berasa. :D

.

Happy Reading! ^^

.

Chapter Yesterday:

"Kapan Megumi menulis ini?" gumamnya. Ia melihat potret disana, potret itu pastilah potret yang diambil Megumi dari koleksi foto dalam folder ponselnya. Megumi mencetak foto itu dan menaruhnya disana disertai menuliskan tulisan di bawah potret itu.

Dilihat dari ketebalan tulisan, Megumi memakai pena bertinta tebal untuk menulisnya, tetapi ia tidak tahu kapan tulisan itu ditulis oleh Megumi.

Ia membaca kembali tulisan itu dan mencoba memahaminya.

"Apa kamu berkata bahwa kamu akan hidup kembali?" Gaara tertegun saat sudah berhasil memahaminya. Namun, apakah memang benar begitu? Tetapi memangnya logis bila Megumi hidup kembali? Tentu tidak, kan?

Tulisan itu seakan-akan bahwa Megumi sudah menyadari bahwa ajalnya sudah dekat. Gaara terdiam seribu bahasa.

"Apa sebenarnya maksudmu, Megumi?"

.

II. Reincarnation, Megumi?

Sunagakure City, in Gaara's room...

Malam berganti pagi, hari sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Gaara telah mandi dan kembali berkutat dengan albumnya. Ia mengenakan kaus merah polos dan celana panjang hitam. Ia duduk di pinggir tempat tidur sambil kembali membaca kalimat yang ditulis Megumi sebelum hari kematiannya.

Kalau memang benar Megumi akan hidup kembali, bukankah hal itu sangatlah mustahil? Megumi sudah dikubur dalam tanah dalam keadaan tak bernyawa, mana mungkin bisa hidup kembali? Ia sama sekali tidak percaya ada mayat hidup.

Tetapi disana tertulis bahwa Megumi hidup kembali tidaklah menjadi 'Ryuuno Megumi', apa maksudnya Megumi menjadi orang lain?

"Apa maksudmu, Megumi?" gumamnya.

Krieett...

Kakak sulung perempuannya, Temari, masuk tanpa permisi ke dalam kamarnya. Gaara menutup kembali albumnya.

"Gaara, sarapan sudah siap." Temari tersenyum. "Ayo cepat ke bawah, Kankurou sudah mengeluh karena kelaparan."

Gaara mengangguk. Ia berpikir untuk mendiskusikannya dengan kedua kakaknya. Kedua kakaknya akrab dengan Megumi, tentu sewaktu Megumi masih hidup. Kedua kakaknya, terutama Temari, selalu saja menegur dirinya karena selalu bersikap cuek kepada Megumi. Namun Megumi selalu berkata 'tak apa-apa' kepada Temari. Kedua kakaknya dekat dengannya dan Megumi, tak ada salahnya ia membawa serta albumnya dan mendiskusikannya bersama kakaknya.

Mereka hidup bertiga saja. Kedua orang tua mereka telah meninggal sejak Gaara berumur 10 tahun.

.

"Aku lapaaar..." Kankurou berleha-leha di kursi makannya sambil menunggu kakak dan adiknya turun menuju ruang makan. Ia menyadari mereka telah kembali. "Kalian lama sekali, sih."

"Baru ditinggal tiga menit sudah uring-uringan seperti beruang kelaparan ikan." Temari mencibir. Ia duduk berhadapan dengan kedua adik laki-lakinya. Gaara duduk di sebelah Kankurou.

Mereka memulai makan.

Kankurou dan Temari saling berbincang-bincang di sela makannya, sedangkan Gaara masih diam dan memandangi album yang ia taruh di kursi sebelahnya yang kosong. Pikirannya masih melayang kepada pesan Megumi di dalam album itu.

"Oh, kau melihat kemana, Gaara?" tanya Temari karena menyadari bahwa adik bungsunya sedang melihat entah kemana.

Gaara mengambil albumnya dan menunjukkannya kepada kedua kakaknya, "Aku ingin mendiskusikan sesuatu dengan kalian."

"Apa itu? Albummu?" Temari memandangi album berwarna merah dengan tulisan 'Sabaku no Gaara' berwarna hitam. Gaara mengangguk.

"Mendiskusikan apa? Mendiskusikan apakah posemu dalam foto-foto di albummu itu mengesankan?" goda Kankurou sambil terkekeh jahil.

"Bukan." Gaara tak memedulikan godaan Kankurou. "Aku mendiskusikan soal Megumi."

Mereka seketika terdiam.

"Ada yang ingin kutanyakan kepada kalian."

"Soal Megumi? Ada apa lagi, Gaara?" Temari merasa prihatin karena sepertinya Gaara masih terikat oleh masa lalunya.

Gaara membuka albumnya dan membalik halamannya ke halaman terakhir. "Tadi malam aku menemukan tulisan ini saat aku membuka album ini."

Gaara memberikan albumnya kepada Kankurou. Temari berdiri dari kursinya dan berjalan menghampiri Kankurou, ikut membacanya. Suasana hening saat Temari dan Kankurou membaca tulisan itu. Tak lama, muncul seraut muka heran di wajah mereka berdua.

"Apa maksudnya?" Kankurou berkata.

"Kapan Megumi menulis ini?" tanya Temari kepada Gaara.

"Entahlah, tapi kurasa Megumi menulisnya menjelang hari kematiannya."

Temari dan Kankurou semakin heran dan tak mengerti.

"Kulihat-lihat tulisan ini, sepertinya Megumi menyadari bahwa ajalnya sudah dekat, maka ia menulis ini beberapa hari sebelum kematiannya." Kata Kankurou.

"Aku pikir juga begitu, tapi apa maksudnya? Di tulisan itu, Megumi berkata bahwa ia akan kembali ke dunia ini, namun bukan dalam sosok 'Ryuuno Megumi'. Apa sebenarnya maksud Megumi?" tanya Gaara.

Mereka terdiam beberapa saat untuk berpikir.

"Kurasa tak mungkin ia akan hidup kembali, karena jelas-jelas kita semua melihatnya telah meninggal dan tubuhnya sudah dikubur dalam tanah." Kankurou menggeleng tak percaya.

"Tapi aku merasa bahwa apa yang dikatakan Megumi benar-benar terjadi." Gaara percaya dengan tulisan yang dibuat Megumi. Selama ini ia selalu tidak jujur mengenai Megumi, sekarang ia takkan melakukannya lagi.

"Apa yang dimaksud Megumi adalah reinkarnasi?"

Kankurou dan Gaara serentak mengalihkan perhatian kepada Temari yang sedang berwajah serius.

"Kalau dilihat-lihat, mungkin yang dimaksud Megumi adalah reinkarnasi, bukankah begitu?" Temari melihat kepada kedua adiknya.

"Reinkarnasi?" Gaara mengernyit. "Mana mungkin... tidak mungkin ada yang namanya 'reinkarnasi' di dunia ini."

"Tapi bagaimana kalau benar-benar akan terjadi?"

"Doppelganger!" Kankurou memotong. "Mungkin saja Doppelganger Megumi!"

"Mana mungkin ada orang yang bisa begitu mirip dengan Megumi. Anak kembar saja masih punya perbedaan." Sanggah Gaara.

"Lagipula yang ditulis disini bahwa Megumi hidup kembali, tetapi tidak menjadi 'Ryuuno Megumi'. Artinya ia menjadi orang lain, kan?" ucap Temari.

"Tapi siapa?"

"Tentu kalau itu yang dikatakannya, berarti yang ia maksud adalah reinkarnasi. Kamu kira mayat hidup itu benar-benar ada?" Temari melempar pertanyaan kembali kepada Gaara. Gaara terdiam seketika.

"Aku rasa yang dimaksud Megumi memang reinkarnasi." Kankurou sependapat dengan Temari.

"Iya, kan? Masuk akal, kan?" Temari memandang penuh yakin kepada mereka berdua. "Memang sulit untuk dipercaya, tapi bisa saja ini memang benar akan terjadi."

Gaara sedikit mengerutkan dahinya. Ia tidak percaya akan adanya 'reinkarnasi' di dunia ini, karena belum ada bukti yang menguatkan hal tersebut. Tetapi, tulisan di album beserta tebakan Temari, entah mengapa ia merasakan adanya firasat.

.

.

"Gaara, kau mau kemana?" tanya Temari, melihat adiknya beranjak dari kursi makan setelah menyelesaikan sarapannya. "Biasanya kau duduk dulu sebentar disini sambil minum secangkir kopi."

"Aku ingin cari udara segar." Jawabnya. Ia mengambil kunci mobilnya di tempat gantungan kunci. "Aku akan kembali sore hari."

Temari dan Kankurou terdiam.

"Aku pergi dulu." Pamit Gaara sebelum ia menutup rapat pintunya.

"Hati-hati dijalan." Sahut Temari. Suasana hening sejenak sampai Kankurou membuka suara.

"Apakah dia juga ingin mencari kepastian akan tebakanmu tadi, Temari?"

Temari menggeleng pelan, "Entahlah. Tapi kurasa tak mungkin, aku sendiri tak percaya adanya reinkarnasi."

"Hah? Lalu kenapa kau katakan tadi reinkarnasi?"

"Mau jawab apa lagi? Tak ada yang bisa kujawab selain reinkarnasi. Meskipun aku tak tahu apakah memang benar-benar ada, tapi tulisan di album tadi menunjukan tanda bahwa Megumi akan bereinkarnasi, sekalipun aku memang tak memercayai adanya reinkarnasi."

Kankurou menatapi cairan hitam kecoklatan dalam cangkirnya, kopinya sudah dingin. "Gaara terus terikat dengan masa lalu. Ia tidak bisa melupakan Megumi dan selalu menganggap bahwa dirinya bersalah. Aku bukannya ingin mematahkan harapan Gaara, tetapi kurasa sekalipun ia mencari kepastiannya ke seluruh dunia, jawaban yang ditemukan pasti hanyalah 'reinkarnasi tak mungkin terjadi'. Itu hanya khayalan."

Temari tak menjawab. Ia meratapi keadaan adiknya yang masih saja terikat oleh masa lalu.

.

.

.

: =Natsu: Turnover The Past= :

.

.

.

Gaara mengendarai mobilnya dengan tak semangat. Ia hanya berkeliling-keliling kota tak menentu, hanya menghabiskan bahan bakar mobilnya. Tapi ia tak peduli, ia menginginkannya dan tak ada seorangpun yang bisa menghentikannya.

Itu kalaupun ia tak melihat seseorang di lapangan basket taman.

Gaara langsung menginjak rem. Ia seperti mengenali orang yang sedang bermain basket sendirian disana. Ia menajamkan pandangan, memfokuskan matanya pada orang tersebut.

Seorang gadis berambut raven dengan mengenakan t-shirt berwarna hitam dan rok pendek sepaha berwarna putih dengan dua garis hitam disisi kanan-kiri roknya. Gadis tersebut sedang melakukan dribble dan shooting, tak jarang bolanya dengan mulus masuk kedalam ring.

Sebetulnya Gaara tak akan memedulikan orang yang sedang bermain basket di lapangan, itu hanya membuang waktunya saja. Tetapi entah mengapa kini ia merasa tertarik. Ditambah warna rambut gadis tersebut mirip dengan 'dia'.

Gaara turun dari mobilnya, tak lupa sebelum itu ia memarkirkan mobilnya di tepi jalan dekat taman. Ia berjalan menuju taman tempat lapangan basket berada.

Baru lima langkah berjalan, ia terbelalak.

Astaga..., batinnya, terkejut. Ia sama sekali tak bisa memercayai matanya, tetapi sosok yang berada di lapangan basket begitu nyata.

Tanpa pikir panjang, Gaara berlari menghampirinya.

.

.

"Haah... lumayan, lah." Gadis berambut raven tersebut tersenyum sambil menyeka peluh di keningnya menggunakan punggung tangannya. Ia bisa merasakan ada kemajuan dalam teknik dribblenya. Ia sedang mengembangkan teknik dribble kilat.

Hendak ia mengambil botol air mineral yang tergeletak di dekat tiang ring basket, ia mendengar derapan langkah kaki berlari menuju arahnya.

Gadis itu menoleh, kemudian terkejut saat merasakan tubrukan di tubuhnya. Seseorang memeluknya.

A-Apa?, batinnya, kaget sekaligus bingung.

.

.

Gaara mengeratkan pelukannya kepada gadis tersebut. Desiran rindu yang sangat besar langsung mengalir ke seluruh pembuluh darahnya. Ia begitu rindu dengan sosok wanita yang selalu ia mimpikan setiap malam, yang selalu ia pikirkan setiap saat, dan yang selalu membuatnya merasa berdosa.

"Megumi." Gaara menekan belakang kepala gadis tersebut agar merapat ke dadanya. "Megumi... akhirnya, aku bisa bertemu denganmu."

Gaara hampir saja ingin memberinya ciuman penuh kerinduan, bila suara gadis tersebut tidak menginterupsinya.

"Maaf... tolong lepaskan saya."

Gaara menurutinya. Ia ambil kesempatan tersebut untuk menjelajahi setiap inci wajah gadis dihadapannya. Gadis... yang mirip dengan Megumi.

Tidak. Gaara membatin. Dia memang Megumi. Dia Megumiku, bukan perempuan yang wajahnya mirip dengan Megumi. Dia memang Megumi, bahkan suaranya mirip, tanpa kecuali.

Gaara pandangi lekat gadis dihadapannya. Tak ada cela sekalipun, gadis tersebut mirip sekali dengan Megumi. Suaranya pun mirip. Meskipun di dalam album, Megumi mengatakan bahwa ia akan bereinkarnasi, tetapi sekalipun ia akan bereinkarnasi pasti ada perbedaannya, kan?

Tidak, sebenarnya ada.

Gadis dihadapannya memiliki rambut raven pendek seleher dengan dibagian bawahnya sedikit bergelombang. Poninya rata kedepan. Usianya pun terlihat masih muda, sekitar belasan tahun.

Tidak, hanya begitu saja, tidak ada pengaruh. Gaara membatin. Gaara beri gadis tersebut sebuah senyuman tulus, senyuman yang menyiratkan akan kerinduan yang luar biasa.

"Megumi, kemana saja kau? Sebetulnya kau memang masih hidup, kan? Sebetulnya kau belum mati, kan? Wanita yang berada dalam peti mati sewaktu pemakaman dulu itu hanya orang yang mirip dengan dirimu, kan? Sebenarnya kau hanya bersembunyi dariku dan mengubah gaya rambutmu agar tak bisa dikenali olehku, kan?" ujarnya, panjang.

.

Gaara, kau harus bisa menerima kenyataan bahwa Megumi Ryuuno memang sudah mati. Ia tidak mengubah gaya rambutnya dan bersembunyi darimu. Ia tidak memalsukan kematiannya.

Ia memang sudah mati.

.

"Maaf?" Gadis itu menautkan kedua ujung alisnya keatas. "Anda siapa, ya?"

DEG!

Gaara mengkaku, jantungnya berdetak sekali lebih keras. Sorot matanya menyiratkan rasa tak percaya.

"A-Apa...?" bibir Gaara gemetar. "Kau tidak mengenaliku, Megumi?"

"Ng, saya rasa, kita belum pernah bertemu sebelumnya. Tapi, darimana anda tahu nama saya?" tanya gadis tersebut, sopan.

Gaara memberinya tatapan tak percaya, aneh, dan tak mengerti.

"Aku Sabaku no Gaara, kekasihmu. Kenapa kau tidak mengenaliku?" Gaara mencengkram kedua bahu gadis tersebut, mengguncangkan tubuhnya. Matanya terbelalak, bola matanya mengecil. "Kau pasti mengenaliku!"

"Apa?" Gadis dihadapannya memberi pandangan aneh. "Maaf, saya tak mengenalimu. Lalu, apa maksud anda bahwa saya kekasihmu?"

"Kau pasti mengenaliku, Megumi!" sentak Gaara. "Kita sudah bertahun-tahun menjalin hubungan. Meskipun kau sudah berpisah denganku bertahun-tahun pula, bukan berarti kau bisa dengan mudah melupakanku, kan!?"

"Maaf!" Gadis tersebut mulai terbawa emosi. "Saya tak mengenali anda sekalipun dan tolong lepaskan saya!"

"KAU PASTI MENGENALKU!" bentaknya. Gadis itu tersentak kaget. "Kau adalah Megumi Ryuuno, kekasihku, dan kau mencintaiku! Kau selalu mengatakannya padaku! Dan kau sudah mengatakan padaku bahwa kau akan kembali padaku! APA-APAAN KAU MENGATAKAN BAHWA KAU TAK MENGENALIKU, HAH!?"

"MAAF, YA!" balas gadis itu, tak kalah keras. "SAYA TAK PERNAH MELIHAT ANDA SEBELUMNYA, APALAGI MENGENAL ANDA! BAHKAN SAYA BELUM PERNAH MENDENGAR NAMA ANDA SEBELUMNYA! JANGAN KONYOL, LEPASKAN SAYA!"

"Kau...!" Gaara mengeratkan cengkramannya pada bahu gadis itu. "Jangan mempermainkanku! Jangan berpura-pura, Megumi!"

"Akh..." gadis itu merasa kesakitan akan cengkraman Gaara. Gaara yang menyadari itu, tersentak dan langsung melepaskan cengkramannya. Ia langsung didera rasa khawatir. Ia takkan melukai Megumi untuk kesekian kalinya. Ia sudah berjanji takkan mengulanginya.

"A-Apa kau tak apa-apa, Megumi? Maaf, kau pasti kesakitan." Gaara mengusap-usap lembut bahu gadis itu yang baru saja ia cengkram. Tapi gadis tersebut langsung menepisnya.

"Tolong jangan dekati saya. Anda sebenarnya siapa? Apa hubungannya dengan saya? Apa maksud anda?" tanya gadis itu bertubi-tubi.

Gaara mencoba menenangkan dirinya. Mungkin memang benar, gadis dihadapannya memang reinkarnasi dari Megumi, bukan Megumi Ryuuno asli yang mengubah model rambutnya dan bersikap tak mengenali dirinya.

Model rambut Megumi Ryuuno asli adalah raven panjang sepinggang dengan poni menyamping ke kiri, kadang ke kanan sesuai keinginan Megumi sendiri. Tetapi gadis dihadapannya memiliki rambut raven pendek seleher dengan sedikit bergelombang dibagian bawahnya dan memiliki poni rata ke depan. Ada sedikit rambut yang lurus membingkai wajahnya dibagian kanan-kirinya. Selain itu, semuanya mirip, kecuali wajahnya yang kelihatan lebih muda dari Megumi Ryuuno yang asli.

"Maaf, apa aku membuatmu takut?" tanya Gaara, disertai senyum kecil.

Gadis itu menggeleng, "Tak apa-apa, mungkin ada sedikit kesalahpahaman. Jawab saja pertanyaanku."

"Tidak, itu nanti saja." Gadis itu mengernyit bingung. "Aku ingin bertanya lebih dulu padamu."

"Apa?"

"Namamu siapa? Berapa usiamu?"

"Namaku Tatsuno Megumi, 19 tahun." Gaara terbelalak mendengarnya. "Aku mahasiswi semester 1 di Universitas Kouou jurusan hukum."

Gaara terbelalak. 19 tahun, katanya? Megumi Ryuuno yang asli sekarang berumur 25 tahun, sama seperti dirinya. Tapi gadis yang bernama Tatsuno Megumi ini berumur 19 tahun?

"Maaf, apa saya salah ucapan?" gadis bernama Tatsuno Megumi itu bertanya sewaktu melihat ekspresi Gaara yang sepertinya terkejut.

Gaara langsung saja mengendalikan dirinya. Ia kembali berwajah datar tanpa ekspresi seperti biasa. "Tak ada. Kau mahasiswi jurusan hukum?"

Gadis itu mengangguk.

"Lalu kenapa bermain basket?"

Megumi tertawa ringan, "Memangnya salah, ya, kalau mahasiswi jurusan hukum suka bermain basket? Saya mengikuti klub basket putri di universitas, saya rasa tak masalah kalau saya mengikutinya meskipun saya anak hukum."

Memang benar. Gaara membatin. Ia tadi hanya sekedar berbasa-basi saja.

"Anda siapa, kalau boleh tahu? Sepertinya ada mengenal saya, mungkin?" tanya Megumi.

"Namaku Sabaku no Gaara, 25 tahun, pengacara." Gaara memperkenalkan dirinya. "Mungkin aku memang mengenalmu. Kau mirip dengan kenalanku."

"Berarti anda salah orang, Sabaku-san." Megumi tertawa kecil. "Kalau boleh tahu, siapa nama kenalan anda? Mungkin saya bisa membantu anda."

"Namanya Megumi Ryuuno, dia begitu mirip denganmu." Gaara menjawab. Ia menatap dalam kepada Megumi. "Suaranya pun mirip, walaupun kau lebih muda darinya."

"Eh? Benarkah?" Megumi terperangah kaget. Ia tertawa ringan kembali, "Ahahaha, mungkin saya Doppelganger kenalan anda?"

Gaara diam saja.

"Maaf, mungkin hanya kebetulan saja kami berdua mirip. Saya tak mengenal kenalan anda yang namanya... Megumi Ryuuno, kan? Ah, ya, benar. Saya tak mengenalnya." Kata Megumi.

"Tidak, kau adalah reinkarnasinya." Gumam Gaara, sangat pelan hingga hampir tidak terdengar oleh Megumi.

"Sepertinya tadi baru mengatakan sesuatu...?" Megumi bertanya. Ia tidak mendengar apa yang Gaara katakan tadi.

Gaara menggeleng pelan, "Bukan apa-apa. Mau kubelikan minum? Sepertinya kau terlihat lelah."

Megumi menggeleng sambil tersenyum, "Aku sudah punya ini." Megumi menunjukan botol air mineralnya.

Gaara langsung berpikir keras untuk mencari alasan agar ia masih bisa bersama Megumi lebih lama lagi.

"Kalau begitu... mau kubelikan makanan ringan?"

"Tapi nanti merepotkan—"

"Sudahlah, tak apa-apa."

Megumi memberinya tatapan waswas. Gaara langsung bisa menangkap maksudnya.

"Aku tak punya niat jahat padamu. Aku hanya ingin mengenalmu karena kau mirip dengan kenalanku. Aku ingin berbicara denganmu."

Meskipun masih ragu, Megumi akhirnya mengangguk. "Baiklah."

Mereka berdua berjalan beriringan ke pinggir lapangan, menuju mesin penjual makanan ringan.

Ditengah mereka berjalan, Gaara melihatnya dari sudut matanya. Ia menyipitkan matanya.

Aku takkan mengulang kesalahan untuk kedua kalinya. Kali ini, aku takkan membiarkanmu lepas dariku, Megumi.

.

.

TBC

.

.

Balasan review untuk yang tidak login:

Natsume Rokunami: Wah, iya, Natsu juga sedih kenapa "When I Have Trouble"nya tidak dilanjutin. :(

Kayaknya Natsu lagi gak ada mood buat lanjutin fictnya, deh. Soalnya gara-gara canon udah jelas, Natsu gak punya mood lagi buat melanjutkan. Malah jadi kayak SaIno ceritanya.

Natsu jadi gak sabar menunggu lanjutan fictnya. :3 Natsu, kenapa gak dilanjutin fictnya cepet-cepet? Kayaknya Natsu lebih suka lanjutin yang Gaara x OC aja, deh. Natsu tunggu terus lanjutannya. Semangat, ya! ^^9

Mind to Review?