Disclaimer: Boboiboy (c) Animonsta Studios
Bocah berkacamata biru bening itu mengintip dari sudut tangga, menengok keadaan ruang tamu dari rumah yang ia tempati. Fang hanya mau memastikan supaya rivalnya tidak berbuat tidak-tidak ketika depresi.
Keadaan masih tenang. Tidak ada tindakan mencurigakan dari orang yang diintip Fang. Di sisi lain, yang diintip masih terbaring lemah. Melamun entah apa. Tubuhnya begitu tidak ada gairah untuk bangkit, dan seperti tidak punya semangat untuk hidup. Sorot matanya pun kosong seakan melamun.
Tidak berselang lama, Boboiboy pun bangkit begitu lesu. Dipaksakan untuk bangun walau ia masih ingin kembali pada posisi awalnya. Ia berdiri kemudian, dan Fang yang sedari tadi mengintip langsung menuruni tangga pelan.
"Mau mencoba semangat meyakinkan orang-orang lagi, hmm?" Fang menyunggingkan senyum licik pada lawannya, dan berhenti menapaki kakinya setelah tiga anak tangga dituruninya. Ia melipat tangannya, dan kepalanya tertuju pada titik lain. Dia masih tidak mau memandang rivalnya.
Boboiboy memilih diam. Ia mendongak sebentar, memerhatikan wajah Fang diam. Lalu diturunkannya kepalanya. Beberapa saat kemudian, ia membalikkan badannya menuju pintu keluar.
Bocah berjaket jingga itu tersenyum tipis. Meski tidak menatap wajah Fang secara langsung, ia seakan ingin meminta izin pada penghuni rumah secara sirat. "Mungkin kau benar, Fang. Takkan ada orang yang mau melihat wajah buruk rupaku ini.
Fang terhenyak.
"Boboiboy? Kau mau kemana?"
Lelaki bertopi jingga itu menunduk. Ia masih menyunggingkan senyuman kecilnya. "Ada suatu tempat dimana aku bisa mengucilkan diri dari mereka."
Ada yang salah dari senyumnya. Fang sudah merasakan ada sesuatu yang aneh dari penuturan Boboiboy barusan. Segera ia mempercepat langkahnya menuruni tangga rumahnya. Firasatnya tidak enak.
"...Yaitu pada liang lahatku."
Sudah Fang duga! Cepat atau lambat, Boboiboy pasti akan berpikir untuk minggat atau hal paling ekstrim yaitu mati bunuh diri. Dia—yaitu Fang—juga pernah depresi. Pasti pria berambut hitam keunguan itu tahu bagaimana pemikiran orang yang merasa dikucilkan dari orang, karena dia juga pernah melintas pikiran sepertinya. Pria berzodiak Aries itu berpikir semua pikiran manusia akan sama ketika sudah mencapai titik pesimis untuk hidup.
Fang menaikkan kedua kakinya pada pembatas tepi tangga cepat. Langsung saja kedua lutut pria itu menekuk setelah menyeimbangkan diri, dan ia pun meluncur cepat turun menuju lantai satu. Walau Fang terlihat biasa-biasa saja, dia punya suatu bakat untuk bergerak secara praktis dan cepat.
"Boboiboy! Kau gila untuk mencoba ma—"
"Boboiboy Halilintar! Gerakan kilat!"
"—ti..."
Fang berdecak sebal karena kalah cepat dengan Boboiboy. Dia tidak bisa lagi melihat sosok rivalnya yang pergi sekarang. Ditambah kondisi hujan, membuat pandangannya kabur untuk menangkap wujud Boboiboy. Salahkan dirinya yang lupa menutup pintu rumahnya setelah pulang sekolah tadi.
Laki-laki berseragam lembab itu berpikir keras. Sebenarnya udara yang masuk dari pintu rumahnya membuat tubuhnya menggigil. Namun ia tidak punya waktu untuk setidaknya mengganti pakaian, atau Boboiboy bakal cepat bertindak aneh lagi.
"Ah ya! Ochobot!" histeris Fang. "Dia pernah memanggil Boboiboy lewat jam tangan! Aku pasti akan cepat menemukannya."
Kedua mata Fang menyipit. Hujan yang terlalu lebat di luar membuatnya sulit melihat pemandangan laluan jalan.
Tidak peduli akan kemungkinan besok sakit, Fang dengan tangguh langsung menerjang hujan. Saat ini pikirannya hanya penuh untuk menyusul Boboiboy. Harapannya begitu penuh mudahan saja robot pemberi kuasa tersebut bisa membantu tugas dadakannya itu.
Sementara itu, Boboiboy yang berubah mode menjadi Halilintar hanya berlari. Saat menggunakan lari kilatnya, kedua telapak kakinya justru terasa kaku—kesemutan tiba-tiba, membuat Boboiboy jatuh tiba-tiba.
Dalam ilmu alam, listrik memang gampang mengamuk saat bergabung dengan air. Ditambah dengan tubuh manusia adalah satu dari beberapa material yang bersifat konduktor, membuat arus listrik semakin kuat menghantar.
Sebab itu Boboiboy kini hanya bisa berlari. Ia tidak peduli hujaman tetes air menyakiti kedua matanya. Ia terus memandang lurus. Urat-urat merah dari matanya begitu tampak terlihat.
Lelaki bertopi hitam dengan corak merah menyala itu terus meneriaki, "Maaf!". Matanya berkedut sedih. Rinai hujan tak sedikitpun kasihan untuk tidak menerjangnya meski wajah laki-laki yang tengah berlari itu terlihat meminta belas kasihan.
Tetesan air matanya tergabung dengan hujan, hingga kedua jenis liquid beda unsur itu terlihat sama saat dilihat oleh mata telanjang. Kedua pipinya begitu merah.
Entah sampai kapan dia akan terus berlari.
"Boboiboy mau bunuh diri?"
"Iya! Hhh—aku lelah berlari brrr—"
Sosok robot berbentuk bola kuning itu melayang sembari membawa handuk dari tangannya. Ia mencoba mendekati sosok pria yang terlihat menggigil—yang kini meringkuk di luar pintu rumah Boboiboy. Giginya bergemetar untuk saling beradu, menimbulkan suara ketukan. Bahkan bibirnya yang biasanya merah cerah, kini nyaris berwarna biru pucat.
Langsung dikibarkannya handuk berwarna putih itu untuk menutupi kepaka Fang, seperti memiliki naluri seorang ibu pada anaknya. Fang menarik kedua sisi handuk kuat. Ia meremasnya dalam pelukan.
"Kau sebaiknya menghangatkan diri dulu," nasehat Ochobot. "Kau kelihatannya tidak bakal bisa lakukan apapun kalau—"
"Kumohon jangan perhatikan kondisiku! Ayo kejar Ochobot!" potong Fang. Ia meminta mohon menggunakan nada melengking. Sepertinya ia sudah mulai cukup merasa hangat, sebab bibirnya tidak lagi menggigil kuat.
"Kau harus pastikan kondisimu baik, Fang!" Ochobot tidak kalah tegas. "Bila kau dapat dia, Boboiboy tidak mungkin tidak memberontak! Kau harus jaga staminamu untuk mencegatnya, karena dia pengendali tiga—maksudku, empat elemen!"
Fang mengapit kedua sisi bibirnya. Terpaksa ia menerima saran tegas dari robot yang pernah ia celakai untuk dikirim pada alien musuh dahulu.
Lelaki bertopi hitam dengan corak merah terang itu berdiri diatas sebuah batu karang tinggi. Tak peduli seberapa badai menerpanya, tidak peduli akan derasnya hujan turun. Ia memandang kosong pemandangan di depannya. Tempat yang ia pijaki mengingatkannya pada memori saat membantu Adu Du memulihkan Probe dahulu.
Bersyukur Boboiboy akan mulai mengisi waktu kehidupannya pada Pulau Rintis, yang terkenal cukup terpencil dari Kuala Lumpur—ibukota negeri Jiran. Semua pemandangan yang tidak pernah dilihatnya pada kota, kini ia bisa jadikan tempat melamun terkadang. Terlalu banyak memori kesenangan dia dan kawan-kawan saat di pulau ini.
"Aku tidak mau meninggalkan pulau ini. Tapi bila aku harus meninggalkannya, aku tidak bisa memberontak," desis Boboiboy. Rambut coklat kehitamannya terlihat lembab walau sudah ternaungi dengan topinya. Iris merah delimanya begitu pilu.
Ia hanya bisa pasrah.
Bila akhirnya cara satu-satunya untuk menjaga kehormatan kakeknya adalah dengan pergi kembali ke kota, Boboiboy akan menerimanya secara ikhlas. Walau jujur ia lebih merasa hangat dengan satu-satunya keluarga di Pulau Rintis, tapi dia tidak mau menurunkan reputasi kakeknya karena keegoisannya.
Boboiboy tidak tahu sejak kapan ia jadi suka intropeksi diri.
"Boboiboy!"
Suara seruan tersebut tidak menggoyahkan yang dipanggil untuk melengok. Ia masih berkonsentrasi menatap ombak besar di depannya.
"Boboiboy! Kau tidak boleh menyiksa dirimu!"
Fang dengan napas terengah-engah, masih sanggup untuk menasehati rivalnya menggunakan nada tinggi. Wajahnya terlihat amat murka. Ia kesal melihat wajah Boboiboy yang terlalu pasrah itu.
Ia tidak peduli dengan tubuhnya yang telah terkontaminasi air hujan—juga debu-debu. Fang juga tidak mau berpikir tentang kacamatanya yang berembun di bagian dalam. Yang ia pikirkan, bagaimana untuk menyelesaikan tugasnya membawa Boboiboy pulang.
Boboiboy yang telah berubah kembali menjadi dirinya semula, melengok pada sang pengendali kegelapan. "Oh hai Fang. Aku tidak tahu bahwa kau mau ke tempat ini untuk menyaksikanku."
Nada suara Boboiboy yang ringan membuat Fang tersinggung. Bisa-bisanya pengendali elemen itu bersikap santai, padahal sudah tertangkap basah ia akan mencoba melakukan praktek bunuh diri.
"Kalau kau berani bertindak aneh, aku takkan segan-segan memukulmu!" Fang berucap dengan kasar. Ia memandang lawan di depannya secara intens.
"Manusia itu ada tiga sifat dasar. Satu, mewakili kemarahan, kedengkian, rasa iri, dendam. Dua, mewakili kasih sayang, keceriaan, kebahagiaan, tawa. Tiga, mewakili kesedihan, pesimis, tidak percaya diri, menangis."
Ochobot tanpa ragu melayang menuju ke depan wajah Fang, setelah sebelumnya ia hanya menetap dari belakang punggung bocah keturunan negara cina ini. Robot berukuran bola itu terus berbicara sesuai opininya.
"Boboiboy memiliki kekuatan dari emosi dan perasaan. Semakin terguncang, ia akan semakin kuat. Jadi, seharusnya kau tidak perlu khawatir."
"Tapi bagaimana kalau dia menghancurkan bumi?! Kau sudah lihat bagaimana kekuatan Api dulu kan?! Karena 'Api', dia menjadi sorotan ketakutan publik!" meski Fang tahu Ochobot pasti akan mengetahui takaran potensial kekuatan mereka, namun tetap saja Fang sangat didera gelisah. Ia tidak mau seluruh orang takut dengan kawan satu kelasnya itu. Sudah cukup baginya dengan propaganda Adu Du untuk menjatuhkan Boboiboy saja.
"Ketiga perwakilan tersebut akan terlihat mencolok atau samar-samar, ketika salah satu dari akal sehat atau napsu ada yang menang," balas Ochobot panjang, tanpa selingan jawaban atas pertanyaan Fang. "Api adalah napsu. Seperti kekuatan alam dasarnya, api akan menyerobot mangsanya tanpa pilih kasih."
Fang memilih mendengarkan robot yang diciptakan bukan dari planetnya itu. Ia menyimak. Tidak salahnya ia bersikap tenang dahulu.
"Halilintar adalah perwakilan kemarahan dan dendam. Taufan adalah perwakilan keceriaan dan tawa. Gempa adalah akal sehat. Api adalah napsu," jelas Ochobot. "Elemen kekuatan Boboiboy seperti simbol perwakilan kepribadian manusia. Tiga sifat dan dua tindakan."
"Tiga sifat dan dua tindakan?"
"Halilintar, Taufan, dan Api termasuk dalam tindakan napsu. Mereka mengendalikan elemen masing-masing menggunakan insting napsu mereka. Semakin marah, semakin besar kekuatannya."
"Dan Gempa adalah akal sehat."
Ochobot menyipitkan kedua cahaya biru dari kedua teropong matanya. Ia membenarkan pemahaman Fang. "Gempa lebih kuat dari Halilintar dan Taufan karena akal sehatnya yang tinggi. Dia bahkan nyaris sama sepertimu, Fang. Dapat memanggil bantuan."
"Tidak apa. Kalau kau menyakitiku jauh membuatmu lebih baik, aku akan terima."
Dia berusaha menenangkan diri? Menurut Fang, itu adalah munafik. Dia bukan menenangkan, namun tidak punya gairah untuk hidup kembali. Begitu pasrah dan lelah dengan takdir yang ia genggam sekarang.
Apakah... sebegitu rendahnya dia memandang pribadinya, saat orang-orang mulai takut padanya? Dia membenci dirinya sama saja dia membenci Tuhannya sendiri.
"Jangan munafik. Katakan apa yang kau benci dariku," ucap Fang serius. Ia saat ini tidak berdelik untuk beremosi. Sia-sia saja segala tenaga ia kerahkan, bila berujung rivalnya masih belum sadar.
Boboiboy tertawa nyengir. Cukup seram dilihat untuk Fang sendiri.
"Tidak tahukah Fang, bahwa sikapmu yang mengatur kehidupanku adalah memuakkan. Aku yakin saat aku berbohong dengan terus tersenyum, kau tidak lama pasti akan muak dengan sikapku."
Tak berapa lama, Boboiboy tertawa kesal. Ia mencoba mengejek lawannya itu. Saat Fang mendengar suara Boboiboy yang jelas, ia menatap langit sebentar. Ah hujan mulai mereda. Namun langit mulai menghitam tanda akan malam. Bahkan matahari masih belum muncul, dan apakah tandanya jatah ia menghangatkan bumi dikurangi dalam hari ini?
"Hh, mana mungkin. Kau bergurau kalau aku muak," tatapan Fang melecehkan lawannya. "Aku bahkan tidak mau peduli dengan hidupmu—bahkan mengurusi kehidupanmu saja aku enggan mau. Aha, disini kau kelihatan sekali berharap aku akan membantumu menyelesaikan masalah—"
Plak!
Belum sempat Fang mengejeknya panjang lebar, Boboiboy menamparnya beringas. Pria yang ditampar segera memegangi area tamparan lawannya. Kedua matanya terlindung oleh kacamata yang ia kenakan.
"Kalau kau tidak peduli, kenapa kau membuntutiku! Kenapa kau selalu ada seharian ini dari wajahku! Aku muak!" Boboiboy mulai marah. Suaranya melengking kuat. "Setidaknya, pergi dari hadapanku! Aku mati atau apapun, itu bukan urusanmu!"
Fang tidak bisa lagi membendung amarahnya. "KALAU KAU TIDAK MAU DIURUS OLEHKU, KENAPA KAU MEMINTA IZIN DARIKU UNTUK KELUAR RUMAH?! ITU TANDANYA KAU MANJA! KAU SENGAJA MEMINTA ULURAN TANGANKU!"
Memang benar yang dikatakan Fang. Boboiboy bukannya sudah diingatkan Fang untuk jangan bilang-bilang saat pergi, tapi ia meminta izin saat itu. Lelaki bertopi jingga itu sebetulnya juga mengharapkan Fang setidaknya membantu masalahnya, meski ucapannya bertolak belakang. Dan itu yang membuat Fang mengatainya munafik.
Kedua mata Boboiboy membesar.
"Ahaha—" suara tawa kecil mengiangi telinga Fang. Boboiboy tertawa. "Tidak. Aku yang justru akan menyelamatkan kalian kok. Aku tidak mungkin merasa selemah itu! Ahaha!"
Fang pun sadar. Dia, memang lebih rendah dari Boboiboy. Fang lebih banyak ditolong daripada Boboiboy tersendiri.
Senyum getir tercetak dari wajah Fang.
"Sifat kebaikan asli Boboiboy ada pada Gempa. Makanya dia bisa membuat bala bantuan," Fang ikut menganalisis. "Tapi aku, aku tidak baik."
"Kau itu kesepian, dan kekuatanmu melengkapi kekuranganmu," sebat Ochobot. "Kau suka sesuatu yang tidak bisa bicara tapi bisa bergerak. Oleh sebab itu aku pernah berkata, semua kekuatan kalian terdefinisi dari sifat dan kekurangan kalian."
"Maksudmu dalam arti, karena aku tidak suka makhluk yang banyak bicara maka kekuatanku mewakili keinginanku itu? Makanya aku bisa mengeluarkan hewan-hewan, begitu? Tapi aku punya jari bayang."
"Hatimu tahu Fang. Semua pikiranmu untuk menciptakan bayang dari hewan, karena kau juga ingin punya teman."
Ucapan lembut Ochobot langsung membuat Fang berpikir. Apa yang dikatakannya benar. Ia hanya berpaut untuk membuat hewan saja, dan hanya beberapa yang bukan seperti jari, cakar, gerakan, maupun perisai. Ia tidak suka juga mencampuri fisiknya untuk bertarung, karena ia belum pernah berpikir untuk menggunakan serangan dari badannya secara langsung. Dia tidak percaya dengan kekuatan dari diri sendiri.
Kini Fang mengerti mengapa ia kalah dari Boboiboy. Rivalnya itu mempercayai kekuatan fisiknya tersendiri, sehingga dia yang paling kuat diantara anggotanya. Sedangkan Fang, dia hanya mengandalkan jemari-jemarinya untuk mengontrol sesuatu yang ia tidak bisa tambah kurangkan kekuatannya. Intinya kekuatan Boboiboy itu nilainya tidak terdefinisi, sedangkan nilai momentum kekuatannya pasti.
Fang masih tidak bisa terima semua fakta bahwa dirinya lebih lemah dari Boboiboy. Dia itu kuat! Dia itu bisa mengontrol semua kekuatannya, tidak seperti Boboiboy yang tidak bisa mengontrol api. Bahkan Fang hanya perlu satu pribadi untuk mengawal kekuatannya, tidak seperti Boboiboy yang harus berpecah menjadi beberapa klon.
"Kalau begitu, coba selamatkan aku. Aku akan terjun ke laut sendirian," tantang Fang seketika.
Memang pikirannya gila. Menghilangnya matahari adalah keadaan buruk dari pihaknya tersendiri, karena ia tidak punya media untuk mengeluarkan kekuatannya. Ditambah lagi, jauh dalam hati pria berkacamata itu menegak ludah saat memandang ombak laut di depannya. Terlihat sekilas mereka ingin sekali membanting habis tubuhnya, seandainya ia tenggelam ke dalam mereka.
Tapi Fang yakin Boboiboy akan menyelamatkan dia—
"Aku tahu kau takut untuk terjun."
—atau mungkin malah menambah parameter nekad Fang mencelakai dirinya.
Pria berambut hitam keunguan itu segera berlari ke ujung karang. Sesampainya iua memijakkan kedua kakinya rapat pada ujung karang, ia bentangkan kedua tangannya. Ia menantang, "Cerewet! Aku akan ter—"
Bwoosh!
Angin deras membuat tubuhnya oleng menuju laut. Siap tidak siap, Fang pun terjun ke dalamnya. Kedua mata Fang terbelalak menatap kini di depannya adalah air.
"—AHHHH!"
"Dan jika dua sifat sudah ada perwakilan, berarti tinggal satu lagi."
Fang terbangun dari lamunannya. Ah ya, yang dibahas Ochobot adalah yang mewakili kesedihan.
"Saat ini Boboiboy sedih, dan akan muncul kekuatan lagi yang baru."
"Maka kita harus cepat sampai dilokasi!"
Dibukanya kedua matanya setelah enggan berani menatap air laut dari atas. Ia merasakan kedua matanya perih, ditambah lagi kacamatanya menghilang. Kedua paru-parunya begitu sesak terasa, tidak dapat asupan oksigen dari udara. Juga tubuhnya tidak bisa bergerak karena lemas. Ia tidak punya kekuatan untuk setidaknya keluar dari permukaan laut yang jauh membentang dari pandangannya.
Gelembung-gelembung betebaran di depan wajahnya saat ia terbatuk. Oh tidak, ia kehabisan waktu untuk meminta oksigen yang baru. Dan itu artinya, air sudah masuk melalu lubang hidung maupun mulutnya, lalu mengalir pada kerongkongan juga tenggorokannya.
Satu-satunya yang bisa pria pengendali bayang itu hanya menutup mata. Ia hanya bisa pasrah.
'Bila aku mati, aku hanya ingin Boboiboy mengingat namaku.'
Dalam lubuk hatinya ia memohon. Ia sadar mungkin ini akhir hayatnya untuk hidup. Ia hanya bisa meminta satu hal bila dirinya diperbolehkan mengucapkan satu permohonan. Ia tidak mau meminta lebih—apalagi seenaknya. Ia tahu dirinya tak pantas mendapat kebahagiaan lebih besar dari satu permohonannya tersebut.
Baginya, permohonannya itu sudah wujud apresiasinya untuk balas budi.
'Karena Boboiboy yang mengenalkan diriku pada dunia 'pertemanan'.
Karena Boboiboy yang mengenalkan diriku bagaimana tuk tersenyum.
Ia yang telah membuatku sadar, aku tidak bisa munafik. Aku tidak boleh terus-menerus tidak merespon ucapan semua orang yang menegurku.
Dunia sepiku berwarna karenanya.
Boboiboy, engkaulah orang yang berarti bagiku. Yang memberiku banyak alasan untuk tetap ceria. Yang menyemangati hidupku.
Tapi aku gagal balas budi.'
Ochobot tertawa kecil. "Dimana-mana, perbandingan selalu beda tipis. Tidak pernah banyak, Fang. Kalau tiga diantaranya dari napsu, kau akan tahu kekuatan baru itu bakal menjadi apa kan?"
Fang mengerjapkan matanya. "Akan menjadi teman Gempa untuk perwakilan akal sehat?"
"Dan kita tidak perlu khawatir akan dia."
"Tapi perwakilan sifat sedih... Sedih dengan akal sehat, kurasa akan jadi sosok yang cukup misterius."
"Akan jadi sosok yang pendiam. Ahaha, aku tidak bisa bayangkan kalau prediksiku benaar, Fang!" Ochobot tertawa lepas.
Sementara itu, tanpa sadar Boboiboy ikut menyeret dirinya masuk dalam air. Memang mahir menyelam belum ia dapatkan predikatnya karena memang dari awal ia tidak punya bakat untuknya. Hebatnya Boboiboy nekad ingin menyelamatkan rivalnya walau ia sendiri sebenarnya masih ragu tentang gerak renangnya.
Kekuatannya tidak membantu. Mau membuat tanah tinggi saja, dia harus menyentuh tanah kalau begitu. Tapi dalamnya menuju permukaan bawah laut sudah mengikis waktu untuk sadar dari dirinya.
Napasnya seiring waktu sesak. Padangannya mulai buram. Ia tidak tahu bagaimana akhirnya. Tapi saat ini pikirannya ia akan mati segera.
Suara desiran air dalam terdengar seperti musik dalam pikirannya. Tekanan dalam otaknya terasa ringan, seperti beberapa masalah kehidupannya seakan lenyap—tidak pernah terjadi.
Pikirannya pun tenang. Ia merasa semua masalahnya baik dahulu maupun sekarang hanya mengalir layaknya air.
Boboiboy membuka matanya perlahan. Sorot matanya yang kosong menampakkan pupil matanya yang berubah dari kecoklatan menjadi kebiruan dengan pinggir hitam. Sinar biru mengelilingi dirinya, memutari tubuhnya.
Laut seakan disinari matahari dari dalam. Begitu bercahaya dari dasarnya. Ikan-ikan yang berlalu lalang terlihat menyambut suasana aneh dari keadaan dalam laut. Karang-karang laut bahkan ikut terpantul oleh pesona sinarnya.
Sosok laki-laki berambut hitam keunguan juga terkena bias cahaya laut. Ia terkulai lemas turun ke dasar laut secara perlahan. Ia tidak kuat menahan kekuatan tarikan dasar bumi, membuatnya semakin menjauhi permukaan tanah.
Kesadarannya memang saat itu masih belum penuh. Tapi dengan ketipisan ukuran sadar, Fang merasa aneh dengan pemandangan laut yang berubah ketika ia membuka matanya walau hanya setengah.
Sebuah bola bening berukuran besar mengelilingi dirinya dan... seseorang. Orang itu menarik kedua tangannya dalam dekapannya. Sang penyelamat langsung menyentuh bibirnya, dan Fang merasakan air laut yang ia telan berangsur-angsur naik dari tenggorokannya.
Pandangan pria yang kini tanpa kacamata itu kabur. Ugh mengapa saat ini tidak ada kacamatanya? Ia tidak bisa melihat dengan jelas siapa penolongnya!
Namun melihat topi biru yang menutupi wajah penyelamat, Fang menduga hanya satu orang yang selalu berstyle dengan memakai topi setiap harinya. Seseorang yang sama, yang bisa membuat dirinya menjadi beberapa orang dengan pribadi berbeda sedikit antar satu dengan yang lain. Yang... ia harapkan akan menolongnya secara surat.
'B-Boboiboy? Kau berubah... wujud baru?'
Tidak kuat lagi, ia memejamkan matanya pelan. Seluruh rasa sesak dalam respirasinya ia paksa acuhkan. Kini ia memberikan seluruh tubuhnya pada orang tersebut. Ia menyerahkan segala kondisi dan nasibnya, dalam tangan orang yang ia sendiri bahkan tidak tahu siapa dirinya.
- Next Chapter -
Rivalnya terlihat jauh lebih tenang dari hari terakhir nyawanya sempat terancam. Namun sifat pendiamnya tidak sirna.
Masih gelisah, Fang mencoba bertanya dengan Boboiboy sendiri perihal apakah dirinya yang menyelamatkan nasibnya, dimana nyawanya terancam diambil sang malaikat maut.
"Boboiboy, apakah kau yang menyelamatkan aku waktu itu?"
A/N: Vote dimenangkan oleh Fang. Hore! Dan juga saya berterima kasih sama satu author yang ngasi petunjuk gimana rekomendasi nama dalam fandom. Alhasil, saya jadi aneh sama namanya. Air B. *pokerface*
Btw saya harap yang membaca sampai tuntas tolong kasi jejak berupa review. Saya ingin tahu apakah banyak yang suka karya saya. Saya lihat kayaknya ada satu dua author yang sekarang jadi panutan kalian dalam berkarya, dan saya rencananya bakal hiatus. Pengen lempar tanggung jawab gitu. /kenarajam
Maaf dulu saya cuek dengan review karena saya sendiri merasa daripada review nyepam (cuma nulis update kilat atau lanjut doang) lebih baik gak usah sekalian. Sejak diskusi tentang review dalam grupnya, saya ditelakin sama author lain secara bengis karena pemikiran saya. Berasa ditampar secara telak. Ugh.
Mind to review?
