Disclaimer: BoBoiBoy © Animonsta Studios
Sosok lelaki berambut hitam itu terduduk di atas alas berpasir. Tidak peduli dengan tepi air yang akan membasahi tubuhnya—walau tubuhnya sendiri pun sudah basah kuyup, ia mendongak menatap kosong. Langit hitam betabur bintang bercahaya, sinar bulan setengah sempurna masih cukup menjadi penerang agar Fang dapat melihat sekitar.
Mungkin orang-orang akan berpikir kalau Fang sedang bingung karena susah kembali naik ke atas. Tebing yang cukup curam di belakang punggungnya, siapa manusia biasa yang sanggup menaikinya bila seumur hidupnya tidak pernah memanjat tebing. Ditambah banyak karang-karang laut yang siap menamncapkan ujungnya menembus daging-daging makhluk besar yang jatuh di atasnya.
Tidak, Fang bisa pulang sebenarnya. Temannya yang menyelamatkan dirinya tadi masih pada lokasi. Laki-laki bertopi jingga akan membawanya naik ke atas kapan saja. Fang bersyukur dirinya dilihat kawan sekelasnya saat tenggelam menuju dalam laut.
Tapi Fang tengah memikirkan sesuatu yang lain. Pelan, ia menyentuh bibirnya dengan jemari telunjuk juga tengahnya. Pipinya merona merah—panas. Ia mendesis kecil, mengatakan satu kalimat yang takkan didengar oleh kawan berjaket jingga di sebelahnya.
"Bibirku... terasa panas..."
"Tapi, kalau saja Halilintar, Taufan, dan satu lagi itu punya perwakilan, kenapa Api dan Gempa tidak ada?"
Ochobot masih melayang di sebelah tubuh Fang. "Nanti tidak jadi tiga lagi."
"Berarti, sebenarnya ada?"
"Ya, mereka punya. Gempa mewakili tanggung jawab, dan Api mewakili ketakutan. Tapi karena mereka berdua begitu susah dijabarkan perwakilannya, makanya aku hanya mengatakan tiga."
"Tanggung jawab bukanlah sifat."
Robot berbentuk bola itu tertawa, "Ahaha, apa yang cocok? Emmm, keberanian?"
"Jadi Gempa mewakili sifat keberanian, dan Api mewakili sifat ketakutan?"
"Keberanian, kepemimpinan, rasa bertanggung jawab, dan peduli. Oh ya tentu, Gempa cocok dengan hal tersebut!" seru Ochobot. "Sedangkan ketakutan, ada rasa tidak percaya diri, egois, dan..."
"Egois terlahir dari ketakutan? Apakah lebih cocok dengan kata 'pecundang'?"
"Aih, pecundang jadi pokok kata terakhir saja. Egois itu sebenarnya dari ketakutan, yaitu tidak bisa bertanggung jawab. Makanya dimasukkan ke dalam sifat Api."
"Dan bila dalam status pasangan Angin itu berlawanan dengan Tanah, mengapa Petir yang harus bersengketa dengan Angin? Ugh—aku susah menjabarkan siapa sosok selanjutnya yang akan mewakili sifat sedih itu."
"Coba dilihat dari segi pemberontakan mereka. Berpikirlah Fang."
Fang berpikir keras. Biar bagaimanapun, rumus simbolis pribadi Boboiboy memang rumit. Bila ia menebak kemungkinan lawan api nanti adalah air, tapi mengapa lawan Petir adalah Angin? Bukankah Angin berlawanan dengan Tanah? Dan jika didefinisikan sesuai suatu kolaborasi, api cocoknya dengan tanaman—atau apalah yang penting cocok dengan api. Lelaki pengendali kekuatan bayang itu terlalu pusing memikirkan rumusnya. Lebih sulit daripada mendapat ujian matematika dengan soal ngaco khas guru Papa Zola.
"Sedang apa kau Ochobot?" Fang menyerah berpikir dan melihat robot mungil itu mencoret-coret suatu kertas. Ochobot membalas terkekeh.
"Ehehe, nanti aku mau jadi komikus mengalahkan kak Rus. Sempurna! Dengan referensi sifat Boboiboy, aku yakin ide komik ini akan diminati orang-orang!"
"...," Fang hanya membisu mendapati robot di depannya bertingkah gila, yaitu melayang sambil memeluk kertas coretannya.
"Fang, kau melamun?"
Laki-laki yang ditegur membelalakkan matanya kaget. Ia berlonjak menjauhi rival yang menegurnya tadi.
"A—aku tidak melamun!" ketus Fang.
"Tapi kau selalu mendongak ke atas. Aku takut kita dicari kalau kelamaan menghilang," peringat Boboiboy lembut.
Fang tersenyum paksa, "Hanya kau yang dicemaskan. Siapa yang mencemaskan anak tanpa orang tua?"
Kedua mata Fang berkedut pilu. Boboiboy merasa salah karena baru saja bertutur seakan menyinggung teman rekannya sendiri. Ia tahu kalau Fang memang datang sendirian ke pulau ini, bersekolah tanpa perlu diurus orang lain yang sudah sanggup mandiri—tidak seperti dirinya yang bisa saja meminta kakeknya atau Ochobot mencuci pakaiannya yang kotor. Ia pernah berpikir bagaimana Fang mengurus semua biaya sekolahnya sedangkan dia sendiri belum masuk ke dalam kategori orang yang cukup umur untuk bekerja.
Boboiboy memberanikan diri menatap wajah Fang, "Maaf menyinggungmu. Aku tidak sengaja."
"Aku takkan mudah tersinggung untuk urusan tidak punya orang tua," balas Fang. Ia ikut menatap wajah Boboiboy, dan Boboiboy yakin kedua matanya mengatakan Fang tengah sedih disinggung 'kasih sayang'.
Memang betul Fang tidak tersinggung dengan keberadaan orang tua, tapi setiap anak pasti sedih bila diungkit masalah kasih sayang. Fang masih manusia, juga anak kecil. Patut jika Fang sendiri merasa hatinya teriris tidak mendapat pelukan hangat dari orang yang lebih tua, saat ia melihat anak seangkatannya semuanya mendapat bagian.
Kadang dunia itu tidak adil.
Rasanya Boboiboy ingin sekali memeluk teman di sampingnya sekarang. Berbagi rasa hangat mungkin tidak salah baginya.
"Benar ucapanmu. Lebih baik kita kembali daripada Ochobot diganggu kakekmu untuk mencari kita."
Kedua tangan bocah bertopi segera menurunkan kedua tangannya yang tadi ia sempat naikkan. Ia mengangguk kecil, lalu tersenyum lembut.
Fang sedikit menyesal berucap tiba-tiba dengan mengajak temannya kembali ke Pulau Rintis. Dia sendiri padahal ingin sekali bertanya lebih banyak pada Boboiboy, apalagi jarang-jarang mereka bisa berduaan agar privasi obrolan mereka terjaga. Ia ingin bertanya siapa yang menyelamatkannya tadi. Mengapa tenggorokannya tidak terasa kembung, tidak seperti terakhir kali Fang pernah tenggelam 2 tahun yang lalu. Dan yang paling penting, apakah Boboiboy punya kekuatan baru.
Laki-laki berkacamata itu hanya bisa menghela dalam diam. Ia memejam kedua matanya ketika salah satu tangannya ditarik teman yang lebih tua satu bulan darinya itu.
"Tentu! Boboiboy Taufan!"
Rutinitas sekolah berjalan lancar tanpa hambatan. Bersyukur Iwan, teman sekelas Fang, mau meminjamkan celana dan bajunya yang lebih terhadap pria berambut hitam keunguan tersebut. Jadi Fang yang awalnya ingi membolos sekolah terpaksa, bisa bernapas lega.
Namun Fang harus melepaskan kedua ikatan tangan jaketnya itu untuk menutupi seragamnya walau setengah, karena baju yang pendek tidak sampai masuk pada pinggangnya. Saat Fang meregangkan badannya dengan menaikkan kedua lengannya, ia merasa pinggangnya begitu dingin. Disana ia sadar kalau Iwan sepertinya lebih pendek darinya. Bersyukur celana masih bisa ditoleransi dengan panjang kaus kakinya.
Sebenarnya bukan hanya kendala seragam Fang tidak yakin akan sekolah hari ini. Kemarin malam, beberapa guru dari sekolahnya bersama Yaya dan kawan-kawan membawa obor untuk mencari mereka. Saat Fang dan Boboiboy menghampiri mereka menggunakan hover board, kakek Aba memeluk Boboiboy rindu.
Ia tidak tahu lagi apa yang terjadi setelahnya, karena tiba-tiba ia kehilangan kesadaran. Yang ia tahu, yang menangkap tubuhnya saat loyo adalah Ochobot sendiri.
Fang duduk pada kursi miliknya dengan posisi seperti biasa, menengok keluar jendela. Salah satu pipinya bersimpuh pada salah stau lengannya. Mencuri-curi pandang, iris coklat yang terlindung bingkai biru beningnya melirik Boboiboy, mengawasi. Rivalnya terlihat jauh lebih tenang dari hari terakhir nyawanya sempat terancam. Namun sifat pendiamnya tidak sirna.
Masih gelisah, Fang mencoba bertanya dengan Boboiboy sendiri perihal apakah dirinya yang menyelamatkan nasibnya, dimana nyawanya terancam diambil sang malaikat maut.
"Boboiboy, apakah kau yang menyelamatkan aku waktu itu?"
"Ah? Menyelamatkan?" tanya Boboiboy. "Kapan?"
"Kemarin, seseorang menyelamatkanku. Kau lihat sendiri kan aku tenggelam dan tahu-tahu kau sudah menyanggah punggungku untuk duduk di atas karang. Apakah kau punya kekuatan baru?"
"Engh i—itu—"
Fang setia menunggu jawaban yang terlontar dari mulut kawannya itu. Walau wajah Fang menunjukkan ia tidak tertarik dengan jawaban yang akan diterimanya nanti, namun jauh dari dalam hatinya ia menunggu dengan tidak sabar apa yang akan dilontarkan Boboiboy nanti. Ia harap itu benar, dan berarti prediksi Ochobot benar.
"Enghh..." Boboiboy menggaruk sisi keningnya. Ia tertawa cengegesan.
"Eh ada apa ini? Kalian main rahasiaan ya?"
Fang dan Boboiboy terlonjak mendapat teguran manis dari ketua kelas. Mereka punya sesuatu yang membuat keduanya sungkem dari Yaya, yaitu senyum tidak relanya.
"Apa? Kami main rahasiaan? Kami hanya saling bercerita, ya kan Fang?" Boboiboy menarik kepala Fang mendekatinya, lalu meninju (pura-pura) batok kepalanya dengan sebelumnya berdiri spontan.
"Eh—i—iya!" Fang tidak kalah bermain sandiwara. "Boboiboy tersinggung aku ejek, biasalah kalah bicara terus."
"APA?! AKU BAHKAN TIDAK BERUCAP APAPUN!" Boboiboy menjitak kepala Fang sungguhan. Sang korban berdiri, dan mencekik leher Boboiboy gemas.
"Ingat tidak kau belum jawab pertanyaanku!" Fang mengguncang tubuh Boboiboy melalui lehernya. "Dasar kau!"
Yaya memerhatikan mereka. "Oh ya sudah lah, dikira ada apa. Tapi kalau ada masalah, bicaralah pada kami ya? Kita kan kawan, kemarin aku khawatir kalian menghilang."
"Ingat kami juga lah! Jangan main rahasia sama kami ya?" gadis berambut kuncir dua ikut bicara. Ia tiba-tiba muncul dari belakang punggung Yaya.
"Dan sebagai tetua yang baik, aku bisa memberi kalian konsultasi nantinya," Gopal mendemonstrasikan perannya sebagai kakak kelas yang nyasar masuk tingkatan. Sama seperti Ying caranya muncul.
"Tetua? Tetua yang bisa memasukkan keuntungan jualan ada lah," celetuk Ying. "Nanti jadikan saja semua barang bekas jadi makanan enak."
"Oh tidak bisa. Aku punya ide lebih hebat, yaitu mengubah mereka menjadi batang emas 24 karat!"
"Eh betul itu! Kita nanti bikin acara yuk makan-makan gitu," ajak Yaya. "Kita sekarang kan tidak perlu pusing lagi untuk menyelamatkan orang-orang. Ya kan Boboiboy?"
Laki-laki bertopi jingga tersenyum ceria, "Ah bagaimana kalau nanti jajan di kedai kakekku saja? Betul kata Yaya, kita punya waktu bermain lebih banyak nanti!"
"Atau... kita mengadakan acara menginap? Masing-masing membawa tenda malamnya!"
"Aww! Itu pasti menyenangkan!"
"Dan nanti kita nonton film horor bareng dengan cemilan biskuitku!"
"Mending makan sampah yang kuubah daripada memakan punya ketua kelas."
"APA KAU KATA?!"
"Eh—aku bicara tentang tidak ada yang bisa mengalahkan kelezatan biskuit Yaya!"
Fang yang sedari tadi diam tanpa bicara, melirik lawan yang ia cekik tadi. Tersenyum, namun palsu. Itu yang dikomentari Fang pertama. Ia bisa melihat kesedihan hati kawannya itu saat diungkit perannya yang kini tidak diperlukan lagi.
Sebenarnya kau hanya perlu menjadi seekor ikan salmon. Lawanlah arus air, karena dari ujung arus malaikat pencabut nyawa telah menyiapkan scythenya untuk menyayat jiwamu.
Setiap ucapan diutarakan karena ada dua penyebab. Satu, trauma. Dua, dia tidak bisa mengatakan sejujurnya.
Saat ia berkata, "Untuk apa aku berbohong?" padahal kita tidak perlu kalimat tersebut untuk menjawab pertanyaan kita, itu berarti ada dua kemungkinan dalam pikirannya. Ia pernah dicap sebagai pembohong dan takut kejujurannya diragukan, atau dia memang tengah berbohong namun tidak dapat mengutarakannya.
Dan Fang masih meragukan kejujuran Boboiboy sekarang.
"Aku tidak mungkin menyelamatkanmu! Aku saja lemah begini, mana bisa menyelamatkanmu!"
Ia hanya perlu mendapat jawaban iya atau tidak dari rivalnya itu, bukannya dua kalimat dengan inti penolakan dimana salah satunya adalah kalimat pendukung bukti yang diucapkannya.
"Aku tidak percaya denganmu," kata Fang tiba-tiba. Ia tidak mau usaha mencegat pemilik kuasa empat elemen itu sia-sia dengan jawaban yang menurutnya tidak jujur. Ia masih meragukan pengungkapan rivalnya.
"Butuh bukti apa lagi? Coba tanya pada Api, mungkin dia yang menolongmu," ujar Boboiboy cuek.
"Semakin kau mencoba menolak pertanyaanku, aku semakin curiga padamu," Fang konsisten pada pemikirannya. Ia seakan sudah hafal Boboiboy yang tengah ragu dengan jawabanya itu bagaimana raut wajahnya.
"Sudah aku katakan aku tidak tahu apa-apa! KAU TIDAK PUNYA HAK MENGATUR HIDUPKU!"
Boboiboy mendorong tubuh Fang kuat, sampai tubuh lawannya itu terhantam dinding lorong sekolah. "Boboiboy Halilintar! Gerakan kilat!"
"KAU TAKKAN BISA LOLOS DARI PENGAWASANKU, BOBOIBOY!" pekik Fang yang kini mengelus pundaknya. Sakit yang ia rasakan saat merasakan tulang belikatnya bertubrukan dengan dinding semen. "Tch! Apa yang salah dariku?"
Salah satu tangan Fang memegang keningnya, lalu naik menuju rambutnya yang berantakan. Ia memejam matanya, berdecak kecil.
"... aku bahkan tidak tahu kenapa aku peduli denganmu, Boboiboy," satu bulir air mata turun dari salah satu mata Fang yang tertutup. Ia menggertakkan giginya.
Fang berpikir sejenak. Mengapa ia harus melakukan semua hal konyol demi rivalnya sendiri? Dari kemarin ia nyaris mati tenggelam, dan sekarang ia kembali diteriaki sampai batinnya teriris. Walau Fang sudah kebal dituduh jahat, namun kalau masalahnya itu karena ego-nya dia takkan malu semalu sekarang.
Saat Boboiboy menuduhnya menangkap Ochobot itu tidak seperih saat Boboiboy berteriak untuk bilang tidak peduli kondisinya.
Fang tentu tahu kalau alasan ia peduli karena ia tidak mau rivalnya hancur sebelum ia berhasil mengalahkannya. Impian yang digenggamnya sedari saat masuk ke sekolah rendah Pulau Rintis adalah mengalahkan segala bentuk kesombongan rivalnya sendiri. Hanya dia yang boleh menginjak harga diri Boboiboy sendiri.
"Tapi jika aku peduli karena aku tidak mau dia sedih, apakah itu terlalu berlebihan?"
Tubuhnya turun walau masih menempel pada dinding lorong sekolah. Sampai Fang kini hanya bisa terduduk dengan pantat, dan salah satu tangannya yang tadi menyisir rambutnya ia gunakan untuk mengangkat kacamatanya.
"A—apakah aku tidak boleh baik? H—hiks... Huwaaaa!"
Fang menangis.
-Next Chapter-
Boboiboy Air tercipta dari kesedihan Boboiboy mendengar semua gunjingan, terutama dari Boboibot sendiri. Dan sikap Boboiboy Air yang tidak suka repot dan memilih istirahat, adalah karena dia sudah merasa segala usahanya tidak dipandang penduduk.
Dia, adalah sosok yang gampang intropeksi juga suka menengok masa lalu. Dia tidak mau terkena sakit hati untuk kedua kalinya. Dia terlalu lelah untuk menerima segala kenyataan pahit.
"Jadi Boboiboy, kau tidak ingin bilang tentang kekuatan barumu karena pamermu takkan dipandang kami?"
Boboiboy Air selalu memiliki pandangan bahwa dia tidak dibutuhkan oleh masyarakat. Dia pernah berharap untuk lenyap—tidak pernah dilahirkan dari dunia ini.
"...kau sama saja dengan meragukan takdir Tuhan-mu sendiri."
A/N: Nyaris satu minggu ini jaringan di desa saya hilang, dan saya cuma bisa pinjam wi-fi kantor sekedar cek fb sama DA. Jadinya gak bisa ngawasin perkembangan fandom ini sekarang, karena wi-fi hanya berlaku selama saya kerja tapi di jam istirahat.
Ada yang tanya saya tahu sifat Air darimana, saya aslinya cuma main logika. Saya mantan anak IPA, nilai sosiologi saat kelas 1 SMA saja rendah. Tapi entah karena pengalaman atau bakat (oke saya merinding dengan kata ini), saya bisa membaca semua alur sifat orang dengan berbekal minim petunjuk. Dahulu saya ditunjukin foto sama salah satu teman sosmed saya, dan saya menebak dengan benar sifatnya. Padahal bicara dengan orang yang di foto saja belum pernah.
Saya baru berpikiran buka petunjuk sifat Air saat mau membuat chapter 2 ff ini, dan astaga hintsnya mirip dengan ff one-shot saya yang 'Anak Cengeng'. Pas lagi nonton ep 17 Boboiboy ternyata disiksa Adu Du lewat batin, lalu preview ep 18 ada Boboiboy Air.
Oh ya kalau mau tahu tentang liang lahat, itu maksudnya lubang kubur sendiri. Mau mati cepat maksudnya.
SAYA JUGA SUKA HINTS FANG ITU CARE SAMA BBB, APALAGI PAS BBB NYELAMATIN FANG SECARA GENTLE HWHWHW—aduh saya kembali fangirlingan. Makasih review penyemangatnya! Dan saya salut ada yang komentar nunjuk adegan kissu. Padahal scene paragrafnya tidak terlalu menonjol.
