BoBoiBoy (c) Animonsta Studios


Bila seseorang merasa dicintai, ada dua musibah yang ditakuti pada orang yang menyayangi dirinya. Satu, dilupakan. Dua, 'dia' kehilangan akal sehat.

Fang bukan orang yang begitu narsis bila masalah siapa yang dipedulikan Boboiboy—walau ia sering terkena menjadi orang yang selalu diselamatkan oleh mantan pahlawan ini jauh dibanding kawan-kawannya yang lain. Ia masih menganggap dirinya setara dengan orang lain, patut mendapat naungan dari pahlawan yang memiliki kekuatan dari Ochobot pertama kalinya.

Tapi entah kenapa saat ini hati bocah berkacamata ini teriris.

Ketika ia dan ketiga temannya mendatangi kedai Boboiboy pasca habis berunding tadi siang untuk berkumpul, Fang merasa ada yang janggal dari Boboiboy. Ia satu-satunya anggota yang tidak mendapat bagian jatah coklat panas dari uluran tangan Boboiboy. Entah Ochobot membaca situasi atau tidak, sebelum lelaki berambut hitam keunguan sempat ingin bangkit dari tempat duduknya ia langsung meletakkan coklat panas di depannya.

"Satu cangkir coklat panas siap!" seru Ochobot. Fang membulatkan sepasang matanya mendapati lensanya merekam benda familiar di depannya.

"Makasih Ochobot," malu-malu dengan sikap baik, Fang menarik cangkir putih di depannya. Asapnya mengepul-ngepul, membuat kedua tangan Fang sedikit hangat—walau sarung tangannya sendiri pun punya tugas untuk menghalangi hawa dingin sebenarnya.

"Sudah lama tidak seperti ini ya, Boboiboy?" Yaya memamerkan senyumnya. "Kedai sepi dan hanya kita mendominasi tempat ini—"

"Jangan menyumpahi kedaiku sepi dong," sahut Boboiboy cepat.

"T—tidak kok! Aku hanya mengatakan sesuatu yang sudah jarang—dan apakah itu tidak boleh?" Yaya menunduk sedih.

"Maaf, aku cuma merasa tersinggung sedikit tadi—" Boboiboy terlihat bingung bagaimana untuk mencairkan suasana. "—Maaf..."

"Mungkin memang keadaan hatimu sedang tidak baik, Boboiboy," lelaki bertubuh besar langsung meregap sahabat di dekatnya. Tidak peduli akan suara patahan antar engsel yang bengkok, ia memeluk Boboiboy erat. "Misalnya kamu butuh terapi dongeng cerita 1001 malam?"

"Itu mau membuat anak orang gembira atau bikin anak orang tidur?" sahut Ying datar.

"Aku selalu gembira setelah membaca buku—adaw!"

Mungkin merasa risih atau apa, Fang melempar batu berukuran kecil yang ia dapat darimana—langsung pada kening Gopal.

"Apaan sih! Itu bahaya tau! Kalau dahiku berdarah gimana?!" tukas Gopal yang melepas peluknya segera.

"Persetan dengan kondisimu. Aku bukan bapakmu."

"Tapi kan itu bahaya!"

"Emang apa urusanku?"

Boboiboy memerhatikan Fang dan Gopal yang saling adu sahut-sahutan. Ia melirik Ying dan Yaya yang masih sibuk menyeruput coklat ala kedainya, lalu melirik lagi Ochobot dimana robot kecil itu dengan tekun mencuci piring yang kotor. Kesempatan baginya, untuk pergi menghilang.

Pasca sifat pesimis menggerogoti hatinya, ia sudah merasa tidak ada muka lagi untuk dipamerkan pada temannya. Pikirannya hanyalah ingin sendirian, atau paling baik mungkin bermigrasi menuju tempat baru. Andai Tuhan mau mendengar doanya, dia sebenarnya ingin cerita kehidupannya pada memori-memori orang-orang yang ia sayangi di-reset kembali.

Boboiboy masih sakit dengan apa yang ia alami, dan itulah alasan ia tidak tahu mau ditaruh kemana mukanya.

Ia dengan sikap cuek, berjalan pelan lelaki bertopi jingga itu menapaki kakinya menjauhi kedai. Berterimakasih dengan sedikit kekuatan jamnya, ia mencicipi langkah bagaikan cahaya—yang ia sering sebut gerakan kilat—dan ia sudah tidak ada lagi dalam kedainya.

Apakah Boboiboy tidak sadar, bahwa ekor mata Fang selalu memerhatikannya. Seakan sudah terekat oleh lem, bagaimanapun Fang keadaannya ia selalu dapat menatap gerak-gerik rivalnya. Seperti cctv tanpa sepengetahuan maling.

'Aku tahu kalau kau akan menjauh dari kami, cepat atau lambat,' Fang menutup kedua matanya. Ia bosan karena segala tebakannya tentang Boboiboy selalu tepat. Mulai dari saat Boboiboy ingin cepat mati, mengejeknya, dan sekarang pun ia masih bisa membaca semua pikiran lawannya tersebut. Ia ingin menegur tadi, namun entah mengapa mulutnya tidak bisa membuka sekarang.

Bukan berarti Fang adalah peramal. Tapi, ia sudah merasa hal yang sama dengan Boboiboy—bahkan sebelum Boboiboy mengalaminya. Ia diprasangka buruk oleh geng Boboiboy sendiri. Ia kalah telak bertarung dengan Boboiboy pasca berkelahi saat itu. Dan yang paling penting, Fang adalah laki-laki—sama sepertinya, harus bisa bersikap tegar walau telapak kaki mereka tertanam ujung paku sekalipun. Ingin menangis namun adat istiadat kaumnya membuat gengsi.

Tentang menangis, bersyukur Fang cepat tanggap untuk berlari menuju wastafel sekolah sebelum Ying menjemputnya. Walau sepertinya gadis berketurunan negara sama dengannya itu sempat menanyakan mengapa mata Fang begitu bengkak, laki-laki berkacamata itu menjawab dengan tenang.

"Aku kalah bertarung dengan seekor kura-kura."

Makanya, Fang tidak mau peduli dengan Boboiboy kembali. Ia capek disinggung ketua gengnya, dan selalu menolak mentah-mentah setiap uluran tangannya. Fang berusaha menahan segala gejolak hatinya untuk menolong. Ia tahu usaha yang ia lakukan bakalan sia-sia belaka.

Bagaimana untuk menolong seekor kura-kura yang selalu sembunyi di dalam tempurung?


Fang tahu teman-temannya begitu cemas tidak mendapati sosok Boboiboy lama sekali, apalagi sudah 10 menit berlalu dari ukuran waktu Fang mengingat awal Boboiboy pergi. Menyesal sedikit karena laki-laki berkacamata itu memilih diam saat melihat rivalnya kabur. Ia mendesah sedikit karena ia harus turut tangan membantu membersihkan kedai yang akan tutup.

Seusai ia mengelap kedua tangannya yang berair—karena ia bertugas mencuci perabotan makan, Fang menarik tas sekolahnya segera.

"Kayaknya kamu susah ya cucian, karena melepas sarug tanganmu?" tanya Yaya perhatian. Fang menduga Yaya mungkin sudah selesai menyimpan perabotan kedai kembali pada lemarinya. "Kamu juga tidak melepas jaketmu. Biasanya kamu ikat di pinggang kan?"

"Jawabannya, satu—aku tidak masalah dengan cucian dan aku memang hanya hobi saja memakai sarung tangan. Kedua, aku memakai jaket karena aku bukan memakai seragamku," jelas Fang. Ia bersyukur diberkati kebiasaan rajin bersih-bersih, hingga ketika dihadapkan dengan cucian yang agak menggunung ia bisa cepat membereskannya dalam kurun waktu belum satu jam.

"Oh ya, berarti salah satu curhatanmu soal mengapa benci Boboiboy itu benar," Yaya tertawa mengingat momen saat Fang menggertakkan giginya ketika dipinta alasan ia membenci Boboiboy. Fang tentu sakit hati mendapati ketua kelasnya malah ingat peristiw konyol dulu. "Yang waktu kau bilang membersihkan satu kelas tapi karena Boboiboy memegang sapu makanya dia yang dipuji kan?"

"Hhh—daripada itu, aku izin pulang dulu ya," pamit Fang.

"Ying dan Gopal masih mencari-cari Boboiboy—kamu tidak ikut?"

Fang terdiam sejenak. Ia mencoba memberanikan menatap Yaya secara empat mata, "Untuk apa mencarinya? Dia punya otak—pasti bakal kembali ke sini. Tidak mungkin dia kabur lagi."

Yaya sepertinya sudah dapat menerka apa jawaban Fang setelahnya. "Ahaha, yah tentu saja," Yaya memainkan jemari-jemari tangannya. "Tapi... boleh aku bertanya satu hal? Tolong jawab dengan jujur."

"Waktuku hanya sedikit disini. Masih banyak tugas menungguku."

Yaya mendengus kesal. "Aku takkan bertele-tele lagi. Aku ingin tanya, apa yang kalian bicarakan kemarin? Aku tahu kau punya hubungan dengan Boboiboy, makanya kau terlihat paling cuek diantara kita. Kau tahu kan dimana tempat persembunyian Boboiboy sekarang?"

Laki-laki berkacamata itu mengejang. Astaga Yaya terlalu pintar, dan berkatnya ia terlalu memendam curiga padanya juga. Tidak salah gadis islam ini ditunjuk sebagai ketua dari segala organisasi SD-nya.

"Bahkan wajahmu pun terlihat ketakutan," lanjut Yaya curiga. "Katakan saja, hanya di depanku saja kok."

Biar bagaimana Yaya memancingnya dengan kata santai, tapi tetap saja Fang sudah merasakan jawaban yang tidak enak dari sang ketua kelas. Tadi pagi ia sudah disindir dengan menyembunyikan sesuatu dari Yaya. Sekarang kalau dia mengaku, semua apa yang ia katakan tadi pagi berarti hanya tipuan saja kan?

Fang terpaksa berbohong. Ia memasang ekspresi wajah sebaik-baiknya, "Aku tidak suka mengurusi urusan orang, apalag dia—orang yang aku benci. Kau salah jika menuduhku."

Tanpa menunggu jawaban Yaya selanjutnya, ia memalingkan kedua iris matanya dari wajah gadis berhijab merah muda di dekatnya. Ia berjalan, menjauhi kawan sekelasnya itu.

Sebenarnya Fang mau saja membeberkan semua hal yang ia datai dalam otaknya saat terakhir kali bersama Boboiboy. Dimulai dari Boboiboy yang menangis saat hujan, Boboiboy yang pasrah ia marahi, Boboiboy yang mau bunuh diri, dan Boboiboy...yang punya kekuatan baru...

Fang menggeleng. Bukan karena ia menepis fakta bahwa rivalnya kini mulai bertambah lagi keberagaman kekuatan elemennya. Hanya saja, saat ia mengingat lelaki itu sempat mendekati wajahnya dengan sorot mata intens, ia merinding panas. Seingatnya, kedua bibir mereka bersentuhan saat itu.

"HOEEEKKKK!"

Wajah Fang mual mengingatnya. Yaya yang belum jauh darinya, melakukan sesuatu yang jauh diduga Fang kalau gadis akan menaruh perhatian pada temannya yang kesusahan.

"KALAU MENGEJEK ITU DARI DEPAN! TIDAK USAH SAMPAI MUAL DI BELAKANG KAN?!"

Yaya yang telah menendang pantat Fang, langsung menginjak bokong pengendali kegelapan yang kini terkulai lemah diatas tanah.

Tolong sebagai muslim yang baik, jangan meniru gadis tersebut. Karena suami-suami takut istri sudah pernah menjadi eksistensi sebab perkara yang mirip dengan yang barusan terjadi.


Sementara itu Boboiboy berjalan kecil menelusuri jalanan tanpa tujuan. Ia menatap sekitar dari depan, namun kepalanya penuh dengan pemikiran aa yang akan ia lakukan dikehidupan selanjutnya.

'Aku...punya kekuatan baru? Apakah aku akan kembali menjadi pahlawan kembali?' Boboiboy mendongak, menatap langit yang mulai gelap. Waktu malam sudah tiba. Umurnya memang masih anak-anak, tapi kalau seorang 'Boboiboy' keluar malam-malam siapa yang akan memperingatinya? Semua larangan anak kecil tidak boleh bermain keluar rumah dengan jam orang dewasa berpesta itu karena mereka tidak bisa menjaga diri. Tapi Boboiboy beda.

Perhatian Boboiboy ditarik saat melihat seorang anak kecil mengguncang tubuh seekor kucing. Anak kecil tersebut berteriak dengan kata-kata kasar.

Saat Boboiboy sudah mendekatinya, ia memberanikan diri bertanya, "Kenapa kucingnya disakiti? Dia kan makhluk hidup!"

"Kembalikan! Kembalikan 'punyaku'!"

Anak kecil tersebut tidak mendengar tegurannya sepertinya. Sedikit tersinggung, ia mencoba menahan emosinya dan kembali berkata, "Hei kucing ini kan baik. Dia imut loh, kenapa disakiti?"

Anak laki-laki itu menangis. Boboiboy semakin panik dibuatnya. Mondar-mandir kepalanya mencari seseorang yang dapat menolongnya. Ah lorong memang sepi, dan ia baru sadar kalau dirinya berjalan sampai kesini. Dasar Boboiboy.

"Ah ya, mereka tidak imut—"

"Ikanku! Ikanku mau ditelannya!" anak itu menjerit. Boboiboy menatap mulut kucing tersebut. Ah benar, ada seekor ikan berukuran kecil. Ikan bernuansa hitam dengan ekor berkibar. Ah itu cupang.

"Sini aku ikut bantu!" Boboiboy merampas kucing dari tangan anak kecil itu, dan menahan kedua sisi mulutnya. Kucing tersebut tentu memberontak. Ia mencakar telapak tangan Boboiboy menggunakan kedua kakinya.

Boboiboy tidak mau kalah. Masih meringis—ia semakin memperkuat tarikannya, tidak peduli dengan tetesan darah yang mulai keluar dari goresan yang diukir sang hewan karnivora. Sedangkan anak kecil tersebut berhenti menangis, karena ikan dalam mulutnya melompat keluar sebab diguncang.

"Kucing nakal," kesal, Boboiboy langsung mencubit bagian leher kucing diatas. Sang kucing yang sudah terbiasa dari kecil dibawa sang induk dengan gaya seperti Boboiboy itu langsung bersikap manis—kedua tangannya ia turunkan lemas. Boboiboy meletakkannya agak jauh dari mereka. Bersyukur kucing tersebut sepertinya tidak mau berkelahi lagi, dan ia berjalan pergi saat Boboiboy sudah menaruhnya.

Ia mengerti kalau Boboiboy tidak akan menyakitinya, jadi ia tidak perlu menyerang guna melindungi diri.

Sementara Fang yang ingin berjalan pulang, melihat seekor kucing berjalan keluar dari lorong. Ia merendah dengan menekuk kedua lututnya, dan kedua jemari Fang—telunjuk dan tengah—mengelus dagu sang kucing langsung gemas.

"Makasih kakak!" anak kecil tadi mengambil ikan yang terkapar tadi segera.

"Eh tunggu!" Boboiboy menahan kedua tangan anak kecil yang akan menyambut hewan berinsang di depannya. "Dia butuh air!"

Suara familiar yang dikenal Fang tentu saja. Ia mengintip sedikit dari sisi ujung lorong, dan mendapati sosok orang yang tidak ia mau peduli lagi. Ia menghilang demi bermain dengan anak kecil? Fang mau tertawa melihatnya.

"Aku akan membawanya cepat ke rumah kak!" seru anak itu. Ia memberontak berusaha melepas tangannya dari cengkeraman tangan Boboiboy.

"Tidak! Aku bisa membawa 'air'," kata Boboiboy. Ia mendorong sedikit tangan anak kecil tersebut. Percaya atau tidak, anak kecil itu berhenti bertindak.

Boboiboy mendekatkan tangannya pada tubuh ikan yang lemas. Ia memejamkan matanya, berkonsentrasi selagi kedua tangannya menggapai kulit ikan yang diselimuti pasir. Lalu sebuah kalimat terlintas pada pemikirannya. "Bola air!"

Air dari kedua tangannya tiba-tiba saja tercipta, dan mengurung makhluk dari tengah tangan tersebut. Ikan berkulit hitam itu merasakan kesejukan dari hidrogen bercampur oksigen itu, dan menarik asupan napas sepuas-puasnya. Ia berenang-renang di dalamnya.

"Bersyukur kucing itu belum menggores tubuhnya dengan taringnya ya?" Boboiboy ikut merasa terhibur melihat ikan dalam kedua tangannya—bola airnya—meliuk-liuk.

"Kak! Bagaimana caranya mengeluarkan air? Menakjubkan kak!" girang anak tersebut.

"Eh? Kau belum tahu aku?" tanya Boboiboy heran. "Aku—"

"Aku ingin seperti kakak! Bisa menyelamatkan orang dengan kekuatan super!"

Boboiboy tercengang.

"Nanti kalau ada teman aku yang kesulitan, aku bisa membantu mereka! Aku tidak mau menjadi orang tidak berguna lagi!"

Kedua mata Boboiboy berkedut sedih. Bagaimana ia bisa lupa?

Semua kegembiraan dari saat ia menyelamatkan semua orang-orang yang ia bantu selama ini. Rasa kagum dari orang yang ia selamatkan. Semua perasaan positif dari apa yang selama ini ia perjuangkan.

Sewaktu semua teman-temannya ditangkap Ejo Jo, mereka yang tadinya khawatir menjadi gembira karena Boboiboy menampilkan aksi ia mengendalikan jam kekuatannya. Mereka bersorak. Hati mereka lega tanpa rasa takut saat Boboiboy menyerang unggul. Juga yang paling penting, adalah sorotan publik yang memandangnya tinggi. Menjadi pahlawan yang akan selalu menolong apapun dari kejahatan.

"Airnya dikasi sini aja kak."

Lelaki bertopi jingga itu tersadar dari lamunan. Ia menangkap sosok anak kecil tadi sudah berdiri di depannya, jadi Boboiboy harus mendongak saat akan berbicara dengannya.

"Oh tentu!" Boboiboy memasukkan bola air beserta ikan tadi ke dalam gelas air mineral bekas dari tangan anak kecil itu. Sambil tersenyum.

Ia seakan ditepuk bahunya, untuk kembali mengingat peran aslinya.

"Makasih kak!" anak kecil itu pamit dan berlari menjauh. Boboiboy berdiri kembali, dan pandangannya tidak goyah untuk menatap punggung anak kecil yang tadi bersamanya.

'Apaan sih, aku kan juga anak kecil. Mungkin dia beda 5 tahun dariku,' pikir Boboiboy geli. 'Aku belum merasa dipanggil kakak sih, jadi cukup canggung juga dipanggil begitu.'

Boboiboy Air tercipta dari kesedihan Boboiboy mendengar semua gunjingan, terutama dari Boboibot sendiri. Dan sikap Boboiboy Air yang tidak suka repot dan memilih istirahat, adalah karena dia sudah merasa segala usahanya tidak dipandang penduduk. Itu yang dipikirkan Fang awalnya, saat diskusinya bersama Ochobot kemarin.

Dia, adalah sosok yang gampang intropeksi juga suka menengok masa lalu. Dia tidak mau terkena sakit hati untuk kedua kalinya. Dia terlalu lelah untuk menerima segala kenyataan pahit.

"Jadi Boboiboy, kau tidak ingin bilang tentang kekuatan barumu karena pamermu takkan dipandang kami?"

Teguran ringan dari Fang membuat Boboiboy terlonjak dari posisi berdirinya. Tentu ia kaget mendapati satu kawan sekelasnya memergoki dia yang padahal ia sendiri sempat kabur dari mereka. Kalau saja Yaya marah, takut semua biskuit dia bakal disumpal dalam mulutnya. Ah ngaco.

"Takut pamer maksudnya Fang?"

"Jangan mengoreksi!" bentak Fang. "Kau menciumku Boboiboy! Kau—kau mempunyai kekuatan baru tapi kau tidak mau bilang pada kami! Kau kan punya peluang untuk megalahkan Boboibot—atau apalah nama robot buatan Adu Du itu!"

"Berhenti mengurusiku! Aku mau emmakai kekuatanku untuk apa itu terserah aku!"

"Tapi kau mau dipandang baik lagi kan? Kalau begitu, kau harus—"

"AKU LELAH! KENAPA DISAAT AKU MAU MATI AKU JUSTRU MENDAPAT KEKUATAN BARU? DAN ITU SALAHMU FANG! AKU BENCI KAU! PADAHAL AKU INGIN LENYAP DARI DUNIA INI! AKU BENCI KALIAN YANG CUMA BISA BILANG SABAR DARI TADI!"


Boboiboy Air selalu memiliki pandangan bahwa dia tidak dibutuhkan oleh masyarakat. Dia pernah berharap untuk lenyap—tidak pernah dilahirkan dari dunia ini.


"...kau sama saja dengan meragukan takdir Tuhan-mu sendiri."

"Meragukan?" Boboiboy berdelik. "Anugerah seperti ini sebenarnya tidak cocok dengan usiaku!"

"Terima kasih..."

Boboiboy mengerjapkan matanya. Apa? Fang kenapa tiba-tiba berucap lain dari topik permasalahan mereka? Dan lagi, kenapa Fang tiba-tiba bisa berucap maaf?

"Terima kasih, untuk menerimaku," Fang menatap secara empat mata pada Boboiboy. "Terima kasih untuk menjadi orang yang ingin kusaingi. Kau membuang waktu luangku untuk hal tidak bermanfaat."

"Tunggu, apa maksudmu?"

"Makasih untuk menciumku," merah semu menggurat dari pipi Fang. "Makasih untuk membiarkanku hidup kedua kalinya—"

—Dan pertama adalah saat Boboiboy mengalahkan naga bayangnya, tentu saja. Kalau seandainya Boboiboy kalah, mereka mungkin sudah ditelan ke dalam galaksi tanpa unsur oksigen.

"Terima kasih... aku sungguh, berterima kasih...," nada suara pengendali bayang begitu lemah. "Aku suka dengan dirimu yang tanpa lelah berbuat baik. Tapi kalau kau mau berhenti, aku ingin mengucapkan 'terima kasih' sebanyak mungkin sebelum terlambat."

"Kau aneh, Fang," sebenarnya Boboiboy hanya ingin diam mencerna semua ucapan lawannya yang sedari tadi tidak ia mengerti maksudnya. Tapi Fang begitu lama berdiam membisu, dan ia mencoba menyambung kembali koneksi obrolan mereka.

"Sampaikan pada Ochobot kalau aku berhenti."

Fang melepas jam tangan digitalnya. Ia lambungkan jam yang merupakan sumber koneksinya dengan kekuatannya, dan Boboiboy segera menangkapnya.

Laki-laki berambut acak itu memalingkan tubuhnya. Ia berbalik, dan lampu jalanan sudah dinyalakan. Waktunya malam. Tidak baik masih diluar rumah bagi anak-anak yang tubuhnya rentan cuaca.

"Hei, hari ini indah sekali ya? Sama seperti malam waktu kau menyelamatkanku kemarin."

"Bulan setengah ya?"

Fang berdeham mengiyakan. "Apalagi bintangnya. Banyak banget. Aku pengen di dalam kamarku di dalamnya dipasang oleh mereka. Soalnya begitu gelap dan dingin."

Boboiboy merasa dadanya begitu sesak. Ia sedikit mengerti mengapa Fang menjadi orang yang banyak bicara untuk hari ini. Tapi ia tidak yakin, dan memilih mendengarkan penuturan rivalnya selagi ia masih bicara.

"Kacamata ini menghalangi kontak mataku dengan cahaya mereka. Begitu menganggu."

Hembusan angin malam mulai terasa diantara mereka.

"Tapi aku bersyukur dapat melihatnya. 'Dia' membantuku memandang indahnya malam, tapi aku malah tidak mensyukuri keberadaannya."

—yang Fang maksud 'dia' adalah kacamatanya sendiri.

"Tapi kalau 'dia' retak, aku bakalan panik," Fang menarik napas dan menghembus teratur. Ia sudah merasakan kedua pelupuk matanya basah. Ia juga merasa kedua hidungnya begitu mampet—dan ia berusaha menarik napas agar kembali normal. "Ka...kalau 'dia' rusak... aku ga bakal bisa lihat langit malam... aku pengen belajar bersyukur..."

Boboiboy tentu merasa ucapan Fang begitu menggambarkan dirinya dari pandangan sang pengendali bayangan. Rivalnya begitu membenci keberadaannya, tapi rivalnya berusaha menyentuhnya lembut agar tidak mudah retak. Fang tidak suka Boboiboy, tentu saja. Namun Fang berusaha mensyukuri adanya Boboiboy di depannya.

Sebab Boboiboy adalah 'jembatan' yang membuat bibirnya dapat bergerak untuk tersenyum. Karena adanya dia, ia mendapat benda yang sekarang ia lempar pada Boboiboy kembali. Juga karena Boboiboy sendiri, Fang bisa menjadi kekanakan—banyak bicara ketika menyahut.

"Tapi kalau dia rusak, aku...aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi juga," Fang menghembus napas kencang, merasa kedua saluran hidungnya mampet. Ia berusaha menahan tangis sebelum semua ucapannya selesai.

"Maaf Fang, maaf kalau seandainya dia tidak mau lagi bekerja untukmu," desis Boboiboy halus. "Tapi aku suka kalau kau berusaha menjaganya sebelum dia total hancur."

Fang hanya diam mendengarkan. Boboiboy menatap punggung Fang sendu.

"Kalau kau banyak komentar, itu tandanya kau peduli," lanjut Boboiboy. "Kalau kau sering memasukkannya pada toko optik, tandanya kau mau membuatnya berfungsi kan?"

Senyuman kecil terukir dari bibir Fang, begitu seram.

"Aku memasukkannya pada toko optik karena aku tidak percaya dengan kemampuannya lagi. Aku meragukannya."

"Fang..."

"Besok kau harus sekolah. Aku juga mau ke rumah Iwan, mau mengembalikan seragamnya," tanpa melengok, lelaki berambut hitam keunguan itu berbicara selagi kedua kakinya menapak dan ia sudah memutari tubuhnya.

Saat mereka berpapasan, Boboiboy berucap kecil, "Apa kau yakin mau berhenti bersaing denganku?"

"Bodoh. Aku takkan melakukan hal konyol seperti itu."

"Tapi..."

Lelaki berkacamata itu membisu. Ia terus melangkahkan kakinya maju.

"Apalagi bintangnya. Banyak banget. Aku pengen di dalam kamarku di dalamnya dipasang oleh mereka. Soalnya begitu gelap dan dingin."

Boboiboy mengerti maksud ucapan Fang itu adalah tentang 'dirinya' seandainya selalu bersama dengannya memerangi kejahatan. Tidak peduli ada Yaya, Ying, juga Gopal, dimana semakin banyak akan justru membuat perasaan Fang begitu hangat.

"Ka...kalau 'dia' rusak... aku ga bakal bisa lihat langit malam... aku pengen belajar bersyukur..."

"Uhhh—" Boboiboy menggigit bibir bawahnya. Bersusah payah ia mengusir segala ucapan Fang, namun jadinya ia semakin larut ke dalam kesedihan sebabnya.


Sementara Fang sendiri, ia berhenti di depan pagar mansion besar. Sesekali ia menatap tangan kanannya yang tidak lagi terlilit jam digitalnya.

"Aku memasukkannya pada toko optik karena aku tidak percaya dengan kemampuannya lagi. Aku meragukannya."

"Aku bicara apa?" Fang menunduk kecil. Ia memukul dinding pagar di dekatnya kuat, kesal.

"Aku meragukannya."

"Aku tidak mungkin meragukan Boboiboy..."

Fang mendekatkan dahinya pada pagar.

'Aku lelah untuk terus menangis. Air mataku juga telah mongering sendiri. Aku bahkan tidak bisa lagi menangis.'

Kedua tangan diselimuti sarung tangan itu mencengkeram dadanya tanpa perintah.

'Buatlah aku amnesia, Tuhan... Aku ingin melupakannya... dan buatah ia tidak tahu akan aku...'


-Next Chapter-


"Loh jam tangan Fang? Mengapa ada pada dirimu?"

Terima kasih Fang. Karena kau sendiri, Boboiboy Air menyadari posisinya untuk meredakan segala kesalahpahaman orang-orang akan-nya.

Kau mengajarkannya untuk dapat mengemukakan pendapat.

"Aku minta kau naikkan level kekuatannya, agar dia dapat bertempur dengan sisi 'Api' aku."


A/N: Saya tahu mereka anak SD, namun kalau bikin hurt/comfort memang cocok pakai bahasa orang dewasa gini! Maafkan sayaaaa...!

Sesuai pertanyaan Honey Sho kenapa saya pake 3rd POV, karena saya takut kayak yang fanfic 'Kolaborasi Api dan Kegelapan' dimana saya ga bisa buat pertarungan monsta melawan Boboibot. Begitu susahnya memanipulasi pandangan Fang sedangkan Fang sendiri saat itu masuk ke alam bawah sadar 4 Boboiboy. Dan... kok saya ketagihan yak? Cara untuk menulisnya lebih masuk dari 1st POV loh. Bikin plot twist juga enak wkwkwk. Iya sih susahnya masukin Api bijimana coba.

Untuk furutoYang, mungkin bisa jadi Probe berkhianat. Tapi aneh juga sih kalau Probe bisa marah sama Adu Du juga, karena dia robot yang setia kok.

Banyak rupanya yang support BBB Air itu mewakili emosi sedih. Sejak nonton ep 17 katanya. Ah saya bakal nge-fav Air seandainya memang benar BBB Air itu seperti pandangan saya!