BoBoiBoy © Animonsta Studios

Apakah benar bahwa Tuhan benar-benar menyayangi makhluk ciptaan-Nya? Apakah ada bukti bahwa Dia memang benar-benar mencintai kita? Dan yang paling penting, apakah 'Dia' benar-benar ada?

Orang muslim disekitarnya selalu berkata, "Alam semesta beserta isinya adalah bukti bahwa Dia ada" dan Boboiboy sampai sekarang masih belum mengerti apa yang membuat para ulama yang sering hadir dalam acara-acara besar islami mengatakannya. Hei bisa saja kan kalau penciptaan bumi itu hanyalah sebuah ilmu logika yang sampai sekarang kita tidak tahu apa penyebabnya? Dalam buku geografi saja dijelaskan beberapa teori penciptaan bumi—dimana jumlahnya jamak. Bagaimana bisa semua ulama islam hanya konsisten dengan satu alasan, yaitu dari Tuhan?

Boboiboy terlalu malas mencari faktanya. Tangannya mengayun-ayunkan sebuah jam tangan digital bernuansa gelap. Dalam pandangan menerawang. Sesekali mendesah, namun ia menggeleng dan mendesah kembali.

Laki-laki bertopi jingga itu membuka pintu jendela kamarnya. Ia menatap langit malam jengah.

Sudah dua hari sejak Fang melepaskan jam tangannya, dan sudah dua hari pula pria itu tidak menampakkan batang hidungnya. Yaya sang ketua kelas juga bilang Fang tidak ada kabar mengapa tidak masuk. Ying dan Gopal apalagi, mereka tidak tahu apa-apa.

"Dimana kau Fang? Tidak mungkin kau hilang karena aku kan?" Boboiboy membaringkan kepalanya pada tepi jendela. Ia menghentikan ayunan jam dari tangannya.

Aku pengen belajar bersyukur...

"Fang...," Boboiboy memanggil nama rivalnya lemas.

Aku ga bakal bisa lihat langit malam...

Boboiboy berusaha menahan kedua matanya. Ia tidak mau kembali menangis. Sudah puas ia merasakannya saat bersama dengan pria 'mantan' pengendali bayangan itu, masa' dia harus kembali menangis?

Ia mengalihkan pemikirannya dengan mengingat momen indah apa saja yang dialami mereka berdua. Pertama, saat mereka berlomba berlari cepat. Kedua, saat mereka berdua yang lolos dari tangkapa Ejo Jo dalam kawanan pahlawan super. Ketiga, Fang memujinya.

Kau hebat Boboiboy...

Lengkungan senyum tergerak dari bibir Boboiboy. Andai saja Fang mau mengulangi ucapannya saat Boboiboy menggodanya dengan kembali meminta ia mengatakan hal yang sama, ia akan menyuruh Ying untuk secepat mungkin mengambil perekam suara. Desisan kecil rivalnya itu sudah berarti dia mempercayakan seluruhnya pada Boboiboy sebagai pimpinan.

Tentu saja Fang kecewa berat. Boboiboy terlihat lemah, dan itu berarti mereka sudah tidak punya panutan pimpinan kembali. Boboiboy tentu sadar kenapa Fang begitu keras menyemangatinya—walau cara dia cukup salah.

Tapi bagaimana lagi?

Boboiboy sudah lemah sekarang. Ia bahkan sudah tidak tahu untuk apa lagi ada di Pulau Rintis malahan.

.

.

Bagaimana dengan keadaan Fang sendiri? Adakah yang penasaran akan dirinya?

"Ahaha...mana mungkin ada yang mengkhawatirkan aku. Apa aku bagi mereka?"

Suara bantingan kaleng minuman terdengar sesudah ucapan itu diucapkan. Walau lampu jalanan rusak hingga sekitar suara tersebut tidak terlihat sekitarnya, namun sedikit berpendar dari kilauan bintang memperlihatkan sedikit bahwa ada seseorang disana.

Susahnya rambut dan pakaiannya gelap, jadi hanya kulitnya yang terlihat terang.

Entah karena tendangan kecil atau apa, sosok yang berjalan dalam gelap sedari tadi akhirnya terlihat karena lampu jalanan kembali menyala. Wajahnya menunduk kecil, kedua matanya terhalangi oleh kacamatanya sendiri. Napasnya memburu kecil.

"Aku...lapar..."

Laki-laki berambut acak itu merendahkan kedua lututnya. Ia mendesah kembali, mengelus perutnya yang panas—memelas—minta diisi. Syukur saja perutnya tahu bahwa tidak ada gunanya memelas meminta makanan, dan memang sedari tadi perut Fang belum berbunyi. Hanya saja, namanya lemas...

"Aku nekad amat kabur. Uhhh—" Fang menunduk kecil. Kedua pipinya muncul guratan merah.

Tidak! Tidak mungkin Fang bakalan demam!

"Maaf ya menyusahkanmu."

Fang menggerakkan lehernya pada sumber suara. Lawannya dengan wajah tertutup topi berwarna biru yang sangat familiar Fang kenali coraknya—motif dinosaurus. Ia dengan tubuh tegak namun sopan itu menyodorkan satu bungkus roti—atau lebih tepatnya donat. Donat lobak merah. Kesukaan Fang.

"...," Fang tidak mau berucap apa-apa.

"Makan," perintah lawannya.

"...Apa urusanmu?"

"Makan atau aku akan mengajakmu berkelahi."

"Aku tidak mau berkelahi dengan orang yang lemah."

"Aku bisa dengan mudah menyeret orang yang dalam keadaan lemah, dan akan aku kurung dalam kamar."

"Kalau kamar yang kau maksud itu penjara aku—"

"Kamarku," sukses lawannya menyahut pembicaraan Fang cepat. "Kau akan aku ringkus, dan menciummu lebih dari terakhir aku melakukannya."

"KAU BOBOIBOY! APA MAUMU!"

Senyuman penuh kemenangan dipamerkan Boboiboy Air sekarang.

"Makan."

Fang harusnya mengutuk Ochobot, mengapa ia memberikan Boboiboy kekuatan terkuat dengan menjadi orang berlainan sifat. Fang kadang tidak mengerti, mengapa harus ada empat orang (Gempa tidak dihitung) yang berlainan cara argumen padahal dari satu orang yang idiot? Beberapa kali Fang terkena kasus serupa berupa selalu berdebat dengan 'beberapa' sisi Boboiboy, dan kadang ia hanya bisa mengalah karena mereka semua rata-rata lebih hebat dan bertenaga darinya.

Laki-laki berkacamata itu menarik donat dari tangan Air langsung. "Aku penasaran kenapa kau tahu aku ada disini."

"Hihi, kau penasaran?" Boboiboy yang menjadi mode 'air' itu memiringkan kepalanya. "Kalau mau tahu jawabannya, kau harus rela aku cium kedua kalinya."

Tendangan langsung dilancarkan pada selangkangan, namun Boboiboy sukses menghindar dengan melompat kecil sebelumnya. Jadi ujung lutut Fang tidak mendarat dengan keras padanya.

"Sialan kau!" umpat Fang. "Jangan bercanda!"

Boboiboy Air itu susah ditebak. Kalau Boboiboy Api itu seperti penggabungan Halilintar dan Taufan, dia seperti penggabungan Taufan dan Gempa, ya?

Bersusah payah Boboiboy menutup mulutnya. Fang agak takut karena pria bertopi itu tidak terlihat sama sekali matanya. Jadi semakin suram kelihatannya.

"Kau percaya tidak kalau Tuhan sebetulnya menyayangimu?"

Fang hanya diam, memakan donatnya tenang.

"Padahal aku berharap ingin mati secepatnya. Padahal aku lelah menghadapi masalah sekarang."

Laki-laki berkacamata itu bergumam kecil, meng-ho'oh kan ucapan lawannya. Boboiboy yang masih berpakaian serba biru tanpa penutup jaket—seperti 'Boboiboy' kebanyakan, ikut bersender pada dinding lorong dimana Fang tempati.

"Padahal aku tidak tahu apakah Tuhan memang benar-benar ada. Tapi aku mendapat gambaran akan kekuasaannya," Boboiboy memperbaiki topinya ke depan, menenggelamkan kedua matanya. "Kita dihidupkan menjadi manusia, bebas mencari arti hidup."

Tubuh Fang seketika merinding mendengarnya. Mengapa? Ada apa dengan dirinya? Mengapa ucapan Boboiboy membuatnya takut?

"Ayam potong dilahirkan secara sengaja hanya untuk diambil dirinya. Dia tidak diberi kesempatan untuk melihat betapa indahnya cahaya matahari, sejuknya udara luar, apalagi bersosialisasi dengan hewan lain selain apa yang ada di dalam kandang. Dia hidup dengan mati yang hina, bagi kaumnya."

Fang berusaha menenangkan dirinya, "Kau sedang menasehati dirimu?"

Boboiboy Air menaikkan kedua pundaknya. "Siapa saja yang merasa diantara kita."

Fang lagi-lagi diam. Ia memalingkan kedua bola matanya, kesal.

"Tapi dia sudah tahu arti hidupnya. Dia diciptakan untuk dimanfaatkan manusia, dan dia menerima nasibnya."

"Bodoh. Makanya jangan berotak kecil."

"Ah aku salah," tepis Boboiboy. "Tuhan membuatnya tidak punya akal, hidup tanpa senjata yang bisa ia gunakan untuk melawan tangan-tangan manusia. Sedangkan kita, dilahirkan menjadi manusia, diberi akal, bisa berlari kesana kemari. Tapi kita hinanya, jarang sekali bersyukur pada Tuhan. Bahkan kita mengesampingkan dirinya demi kepentingan dunia, seakan-akan kita hadir bukan karena-Nya."

"...," Fang menyipitkan matanya. "Jadi, kau mau bilang aku bukan orang yang bersyukur?"

"Kau penyingungan sekali," Boboiboy memejam matanya. "Intinya, coba seandainya Tuhan tidak menyayangi kita, kita tidak mungkin diwujudkan dalam wujud manusia. Aku bersyukur Tuhan menyayangiku. Aku selama ini salah."

Boboiboy Air mengangkat jam digital dalam tangannya. Ia setarakan dengan jajaran matanya ketika mendongak.

"Loh jam tangan Fang? Mengapa ada pada dirimu?"

"Ochobot malah tidak mau menyimpan jam tanganmu," kata lelaki bertopi biru tersebut. "Ini, kedua kalinya aku mengenggam jam tanganmu."

"Kembalikan padaku."

"Eh? Tadi katanya tidak mau kan?"

"Pada fajar hari, mari kita bertemu lagi disini, Boboiboy," tantang Fang sembari mengulur tangannya. "Aku ingin menantang 'Api' karena battle-ku dengannya belum selesai sebelumnya."

Boboiboy menengok ke arah lain, memberi jam tangan Fang dengan memalingkan wajah. Ia tersenyum.

Terima kasih Fang. Karena kau sendiri, Boboiboy Air menyadari posisinya untuk meredakan segala kesalahpahaman orang-orang akan-nya.

Kau mengajarkannya untuk dapat mengemukakan pendapat.

Boboiboy melirik robot bernuansa kuning yang melayang agak jauh dari mereka. Robot bermata bagaikan lensa biru melambaikan tangan mekaniknya.

"Aku minta kau naikkan level kekuatannya, agar dia dapat bertempur dengan sisi 'Api' aku."

'Hahaha, ternyata Boboiboy sudah tahu pikiran Fang bagaimana, tapi penuturan penjelasan dia tidak dapat membuat Fang menangis. Sewajarnya dia memang masih kaku dalam menjelaskan pendapat,' pikir Ochobot. 'Tidak heran Fang memang cocok saat disuruh memecahkan masalah pemimpin mereka. Ah aku harus cepat-cepat pergi.'

Kedua rival tersebut saling memandang empat mata, tanpa tahu bahwa robot pencipta kekuasaan mereka pergi secepat mungkin dari mereka.

'Boboiboy Air perlu lebih sering berbicara dengan orang lain. Aku tidak mau menemaninya ah.'

.

.

"Hei, kalau aku meminta ciuman lagi boleh?"

Lagi-lagi Fang dengan masih membisu pun melancarkan tendangan menuju selangkangan rivalnya. Dan tentu, kali ini lagi-lagi tidak kena.

Dasar tsundere.

.

.

Fajar menyingsing, waktunya perjanjian kedua rival untuk bertarung dilaksanakan. Lelaki berkacamata itu sudah memantapkan dirinya berdiri, sedangkan di depannya lawannnya dengan mata jingga kemerahan itu sudah menampakkan sorot bernapsu ingin segera perkelahian mereka dimulai.

"Aku tidak percaya kau mau melawanku lagi, Fang," mulai Boboiboy 'Api'. "Tidak puas waktu itu aku mengalahkan kalian telak?"

"Kau tidak memikirkan kondisi lawanmu, beda denganku," Fang mendengus. Ia mengusap hidungnya dengan jempol, memamerkan senyum sombong juga. "Aku akan serius kali ini untuk melawanmu."

'—Sekaligus meminta pernyataan apa yang membuat Boboiboy Air tiba-tiba datang dan mengajakku bicara, darimu,' lanjut Fang walau hanya berbicara dalam hati.

"Aku tahu kau pasti ingin meminta alasan mengapa aku saat itu mendatangimu kan?"

Fang bergidik. "—sial kenapa bisa ketahuan?"

"Boboiboy Air itu pintar, mampu membaca situasi. Dia saudaraku yang paling hebat otaknya," Boboiboy Api mengupil. "Dia menulis catatan dalam memo sebelum tidur, dan menyuruh Ochobot menjagaku kalau-kalau aku mengamuk. Soalnya dia sudah mendapat catatan pribadimu yang nyaris mirip dengannya, suka merasa janggal."

Kali ini Fang harus bertepuk tangan kepada Ochobot tentang prediksinya akan pribadi yang baru, Air. Ia ingat ucapan Ochobot sebelum berlari menyusul rivalnya dari derasnya hujan waktu itu. Akal sehat, eh?

"Tapi tentu informasi ini takkan gratis," lelaki berjaket dengan resleting terbuka itu segera mengambil ancang-ancang memasang kuda-kuda. Tangannya ia jentikkan, dan cipratan api muncul dari kedua jari yang bergesekan.

"Aku memang sejak pertama bertemu kesal denganmu!" Fang ikut-ikutan memainkan jemari-jemarinya, menampakkan aura gelap dari sekitar tangannya.

"Bola api!" seru Boboiboy melancarkan api dari tangannya langsung. Fang tersenyum dan mengayunkan tangannya ke atas.

"Perisai bayang!"

Cukup cerdik Fang memblokir kontak tubuhnya dengan serangan lawan. Boboiboy melompat, dan mengangkat kedua tangannya, "Hya hya hya!"

Bola-bola api bertubi-tubi menuju ke arahnya. Fang segera membuka perisainya, membentuk cepat-cepat tangannya dan menaikkannya ke atas. Muncul bayangan dengan bentuk burung, dan ia menaiki punggung makhluk tersebut cepat lalu berucap, "Elang bayang!"

Mereka sekarang bertempur di atas udara. Boboiboy Api yang mengambang itu dibuat bingung dengan terbang burung milik Fang yang sedari tadi berputar-putar tanpa jelas.

"Aku tidak mau menyerang bila kau tidak memberi informasi sedikit saja padaku. Aku tidak mau kau curang!" Fang sebenarnya ingin—malah bisa saja menghabisi bocah di depannya itu segera. Tapi ia tidak mau kalau saja anak itu tertidur, dan kembali menjadi normal. Ia tahu Boboiboy akan berucap tidak tahu apa-apa.

"Hhh—kuberitahu ya, Boboiboy Air itu mencarimu semalaman," tutur Boboiboy Api malas.

"Tanpa kau beritahu pun aku su—"

"Lalu dia diajak Ochobot bicara. Ochobot bilang, hanya dia yang dapat membuatmu kembali ke sekolah. Boboiboy Air sudah gelisah hatinya, merasa bersalah."

Hei...

"Boboiboy Air rela memotong barisan demi mendapat donat kesukaanmu, dan stoknya kebetulan hanya tinggal satu. Saat itu ia melihat ayam peliharaan bu kantin, dan sempat melihat cara bu kantin merawat mereka bagaimana."

Fang memberi telepati pada miliknya untuk segera berhenti terbang kemana-mana. Boboiboy Api bersama burung miliknya pun mendarat pada tanah. Fang merasa bahwa Boboiboy Api lebih tertarik ingin berbicara daripada bertarung sekarang.

"Lalu disaat itu ia bertanya...,"

.

.

"Ayam ini mau diapakan?" tanya Boboiboy Air penasaran dengan maish memegang satu-satunya donat yang ia dapatkan dari bu kantin langsung. Bibi berambut kuning dengan terusan merah muda dan tidak lupa memasangkan celemek putih itu memegang ayam putihnya.

"Mereka bakal bertelur," jawab bu kantin.

"Bertelur? Adakah manfaat mereka lain dari itu?"

"Mereka punya daging yang bisa dikomsumsi kita. Memang kenapa dek?"

"Apakah mereka memberontak?"

Bu kantin sebenarnya risih dengan pertanyaan polos dari Boboiboy di depannya. Tapi tidak salahnya juga menjawab, "Mereka mau saja memberontak, tapi mereka sadar peran mereka."

Boboiboy Air membulatkan matanya.

"Mereka sadar arti hidup mereka. Mereka bisa saja merasa tidak adil terhadap Pencipta mengapa diciptakan hanya untuk dikurung dan mati dalam keadaan tidak dapat melakukan apa-apa."

"Itu—mereka bukannya tidak punya akal sehat?"

"Tentu. Tapi mereka tentu bisa berpikir, bahkan biar begitu masih tahu siapa Tuhan mereka. Dan seandainya mereka tidak bersyukur, mereka tentu akan menyalahkan Tuhan mereka kenapa harus ada di dunia."

Kedua pelupuk mata Boboiboy begitu perih.

"Setidaknya mereka masih bersyukur untuk dapat menyantap menginjak dunia buatan Tuhan, di bumi. Mereka bersyukur tidak berotak, maka dapat membuat manusia tidak terancam kelaparan. Harusnya kita menghargai sikap rela berkorban dari mereka."

.

.

Dari pertemuan ayam, Boboiboy merasa bodoh harus mengundurkan diri sebagai pahlawan. Itu takdirnya. Itu mainan yang Tuhan berikan padanya, sebagai kasih sayang. Sudah diberi bagus peran, menjadi pahlawan, malah ingin menyia-yiakannya.

"Jadi Air merasa bodoh untuk mementingkan egonya. Dia tidak mau kalah dibanding ayam potong," jelas Api. "Makanya, dia sebenarnya ingin meminta maaf malam itu tapi malah ujung-ujungnya menggodamu."

"J—jadi begitu," wajah Fang suram seketika. Ia tidak habis pikir, Boboiboy Air mudah intropeksi diri karena melihat... ayam? Kenapa harus ayam? Tidak adakah alasan yang lebih baik lagi dari 'itu'?

"Air orangnya memang bisa intropeksi diri. Aku jadi iri dengannya," Boboiboy Api menunduk kecil. "Andai aku sepertinya, aku tidak mungkin bisa menyeret diriku sendiri untuk mendapat masalah seperti sekarang."

"Kalau kau menjadi orang lain, itu namanya bukan Boboiboy Api."

Api menatap mata Fang yang terlindung oleh kacamatanya. Sang pengendai bayang itu melenyapkan burung di belakangnya.

Ia tersenyum, "Kalau kau berubah, dunia ini takkan berwarna. Jadilah diri sendiri."

"Fang..."

"Asalkan kau tidak melukai orang yang kau cintai, kau boleh menjadi diri sendiri. Kalau semua Boboiboy bersifat sama kayak Air kan bikin bosan," Fang tertawa geli. "AHAHA—APALAGI KALAU SEMUANYA JADI SEDIH KARENA 'AYAM'," olok Fang dengan penekanan di kata terakhir.

Boboiboy Api ikutan geli melihat Fang tertawa, "HAHAHA—AYAM—AHAHAHAHAHA!"

Di kejauhan, lelaki bertopi biru dengan robot kuning disampingnya menatap mereka mengawasi. Boboiboy Air menampakkan wajah suram mendengar suara seruan mereka. Mungkin dia sekarang memang kesal.

"Siap-siap kalian berdua, mati saat kita bertemu."

Satu sifat yang baru diketahui Ochobot, Boboiboy Air juga bisa tersinggung.

-Finn-

A/N: Eh Fin? Padahal rencananya mau sampai chap 6 loh. Tapi sudahlah, otak mentok banget.

Saya sudah ga ngerti lagi gimana caranya nulis. Sejak saya pernah peringati satu author bahwa dia melanggar guidelines dan dia malah apdet chap 2, saya mulai mogok baca semua karya Boboiboy. Jadi pas mau apdet cerita, malah lupa gimana sih sifat Boboiboy dkk yang mau ditonjolin saking ga punya inspirasi penyemangat.

Boboiboy Air adalah alasan saya mulai merhatiin Boboiboy elemental split memang bisa jadi karakter berbeda. Rasanya mau masukin list character 'Boboiboy Siblings' untuk mencakup kelima Boboiboy dalam satu keluarga. Tapi karena saya belum buat genre gituan, saya belum berani ajuin. Lagian, saya gimanapun masih demen Fang.

Terima kasih buat: Guest, dari firda ratna dewi, guest, Namika Rahma, marmut2002, Nanas RabbitFox, Arina nee-chan, furutoYang,Fadhjimori, barbie, rin-san, TsubasaKEI, Honey Sho, Helena, The Amityville Horrot of phyco, Dressmaker from Hades, Charlotte-chan, Coffey Milk, Dea Puspa,roleparody, Silver Celestia, ichigomeichan, Wenky Mell, dan Yuriko-chan to Miyako Moe. Review kalian akan jadi kenang-kenangan saya ahahah-

Nanti akan diedit begitu saya ol di kompi deh ;w;