Naruto © Masashi Kishimoto
Warning: AU, out of character [Haruno Sakura], [mungkin ada] mis/typos, dialog minim
No profit gained
Happy reading
o=o=o=o=o=o=o
Mimpi itu datang lagi untuk yang kesekian kali. Bayangan dari masa lalunya yang hadir saat ia memejamkan mata. Hal yang sesungguhnya sangat ingin ia lupakan lebih dari apapun juga. Bukanlah mimpi tentang malam musim gugur yang gelap dan dingin. Bukan kerumunan orang-orang dan kelap-kelip mobil polisi yang terparkir di tepi jalan. Bukanlah satu mobil yang sangat ia kenal, yang tampak terbalik dan ringsek tepat di bibir jurang, dengan kepulan asap tipis yang membumbung ke udara dan menyesakkan.
Bukan, tapi ini adalah mimpi yang lain, yang tak urung tetap membuatnya gelisah dalam tidurnya.
Adalah kilasan balik peristiwa tiga bulan dua minggu yang lalu—tepat dua minggu setelah tragedi memilukan keluarganya. Musim gugur pula, hanya saja langit berwarna oranye-merah dan matahari bersiap-siap mengucapkan sampai jumpa di batas cakrawala. Jalanan ramai dan padat kota Tokyo di hari senin—terjejali manusia dan kendaraan manusia yang melakukan perjalanan dari kantor atau sekolah.
Ia yang berlari sekuat tenaga. Tak peduli pada apapun juga—pada orang-orang yang tanpa sengaja ia tabrak, atau pada genangan air hangat yang sedikit mengaburkan pandangan matanya. Pun tak ia acuhkan teriakan yang memanggil namanya dari arah belakang punggungnya—terdengar jelas di antara suara hiruk-pikuk kehidupan sekitar di sore hari yang ramai.
Dan seakan waktu berputar cepat di mimpinya, ia seketika diperlihatkan pada hal paling penting dari seluruh rangkaian peristiwa di hari itu. Momok masa lalunya, tragedi menakutkan yang untuk kedua kalinya ia dapatkan belum ada sebulan lamanya. Kutukan yang lain, yang akan menjadi peristiwa yang tak bisa ia lupakan selain peristiwa di malam musim gugur saat ia harus kehilangan orang tuanya.
Suara dentinan keras yang disusul hantaman yang terdengar memekakkan, membuatnya berhenti dari larinya dan menoleh ke sumber suara—arah belakangnya.
Di saat ia melihat warna merah pekat itulah Sakura seketika bangkit terduduk dari posisi berbaringnya di ranjangnya.
Lagi napasnya tersengal. Peluh dingin membanjir, suara teriakan tertahan tampak dari mulutnya yang sedikit membuka tanpa suara. Matanya yang membelalak meneriakkan ketakutan yang tidak bisa ia teriakan. Yang hanya bisa ia ketahui dari degup jantungnya yang mengencang.
Mimpi buruk yang lain. Ingatan kelam yang terpaksa ia ingat bagai kutukan di setiap ia memejamkan mata dan melepas lelah.
Seakan seluruh tenaga di dalam tubuhnya hilang entah kemana, Sakura kembali terjatuh berbaring di kasurnya dengan posisi menyamping. Ia memejamkan mata. Namun ia tidak kembali tidur meski waktu masih menunjukkan pukul empat di pagi hari buta.
Hanya bahu yang gemetar, bibir yang tergigit keras, dan tangan yang mencengkeram seprai, yang menandakan bahwa ia tengah terluka.
Terisak tanpa suara.
o=o=o=o=o=o
Menatap ke pintu loker di depannya, Sakura membaca ukiran huruf yang menjadi tanda siapa pemilik loker yang tengah ia tatap itu. Benar, ini loker milik si murid baru yang bodoh dan terlalu mencampuri urusan orang lain itu. Loker yang terletak di deret paling atas, sekaligus di ujung paling kiri.
Bel tanda masuk pelajaran berbunyi nyaring dan para murid yang ada di sekitar berangsur-angsur tampak bubar menuju tujuan masing-masing—kelas yang menjadi tempat pelajaran di periode pertama mereka.
Sakura meletakkan payung berwarna putih transparan dan telah ia lipat, di permukaan atap loker, tepat di atas dari loker yang sudah ia tatap beberapa menit lamanya itu. Tanpa menghabiskan waktu lebih lama lagi, gadis itu berbalik dan melangkah pergi dari sana.
Ia sama sekali tidak ada niat untuk mengikuti pelajaran sejarah—pelajaran membosankan dengan guru Sarutobi tua yang membosankan. Lebih baik ke UKS, berpura-pura sakit, dan tidur di sana saja.
Peduli sekali jika Kakashi-sensei kembali mengadu pada Anko dan membuat masalah lagi untuknya.
o=o=o=o=o=o
Sakura senang ketika petugas UKS itu keluar entah kemana dan meninggalkannya sendirian di ruangan yang tak seberapa luas itu. Menjengkelkan—mengapa tak ada satu orangpun di sekolah ini yang tidak menjengkelkan? Mereka yang sok ikut campur urusan Sakura, dan mereka yang memberi Sakura tatapan seakan Sakura adalah manusia yang paling patut dikasihani di dunia. Sakura benci.
Termasuk petugas UKS itu. Ketika Sakura mengatakan bahwa ia pusing dan ingin istirahat, wanita itu justru memberi tatapan skeptis yang jelas sekali meragukan kejujuran Sakura. Bahkan terang-terangan menyuruh Sakura kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran saja. Tidak heran—sepertinya bahkan semut di sekolah ini saja tahu siapa dan bagaimana Haruno Sakura. Murid tukang bolos, dingin, acuh tak acuh, dan prestasi yang bahkan di bawah standar. Tapi Sakura tak peduli dan tetap menuju ke ranjang istirahat di UKS—yang penting tak ada yang ia rugikan, prinsipnya. Masih untung ia tidak membuat keonaran atau merusak fasilitas sekolah—hal yang sama sekali ia tak berniat lakukan.
Ruangan UKS sepi dan hanya terdengar bunyi detak jarum jam dinding. Sakura sudah memejamkan mata dan benar-benar akan tertidur, seandainya ia tidak mendengar suara pintu UKS yang terbuka dan langkah kaki yang terdengar mendekat ke arahnya.
Gadis itu membuka mata, dan ia sontak mengernyit ketika melihat, lagi-lagi, Uzumaki Naruto. Ada apa dengan hidupnya yang seakan menghadirkan pemuda itu hampir di manapun Sakura berada?
Namun kali ini lain. Alih-alih tersenyum ceria dan langsung mengoceh seperti Naruto yang biasanya, pemuda itu berjalan tertatih dan dengan napas tersengal. Peluh bermunculan di pelipisnya, dan pandangan matanya tampak tak fokus—seakan ingin pingsan saat itu juga. Bahkan sepertinya ia tidak menyadari keberadaan Sakura, karena pemuda itu langsung saja menuju ke ranjang di sebelah Sakura dan menghempaskan diri ke sana.
Gadis itu hanya menatap dan menautkan kedua alis. Mengapa pemuda itu tampak kesakitan sekali? Ia menoleh, menyibak tirai yang memisahkan ranjang istirahat dengan meja petugas, dan mendapati meja petugas UKS masih kosong. Kembali ia memandang Naruto yang berbaring sembari memejamkan mata dan napas berat-berat yang terhela dari mulutnya yang sedikit membuka.
Entah apa yang membuat Sakura turun dari ranjang lantas menghampiri gelas dan tempat air minum di ujung ruangan. Mengisi gelas kosong dan bersih itu hingga separuh, ia segera berbalik dan menuju ke ranjang tempat di mana teman sekelasnya itu berbaring lelah.
"Minumlah," ujarnya pelan dan singkat, mengarahkan bibir gelas itu ke mulut Naruto dan membantu pemuda itu sedikit mengangkat kepalanya. Tanpa berbicara atau bahkan sekadar menatap Sakura, pemuda itu segera meneguk beberapa tegukan air putih itu hingga hampir tandas, "Sebentar lagi petugas akan kemari, tenang saja." Dan dengan perlahan, ia kembali membaringkan kepala pemuda itu di bantal.
Naruto tampak memejamkan mata dan napasnya masih berhembus berat, meski sudah tidak secepat sebelumnya.
Tanpa menyadari apa yang ia lakukan, gadis itu menaruh gelas itu di meja terdekat dan segera berbalik melangkah keluar UKS. Berjalan cepat, namun beberapa detik kemudian ia berlari menyusuri lorong—tak peduli pada suara larinya yang mungkin mengganggu pelajaran yang tengah berlangsung.
Kemana petugas sialan itu berada?!
Sakura tidak menganggap Naruto teman. Tetapi ia tidak bisa berdiam sedangkan ada orang yang tampak sangat membutuhkan pertolongan, bukan?
o=o=o=o=o=o
"Sakura-chan!"
Tanpa menghentikan langkahnya, gadis itu melirik ke arah samping dan mendapati pemuda Uzumaki itu telah berjalan di sampingnya. Senyum lebar itu ada di wajahnya yang kecoklatan. Matanya tampak menyipit—ciri khas ketika senyum itu terbentuk di bibirnya.
Sakura menaikkan sebelah alisnya. Bagaimana bisa ia sudah meringis dan teriak-teriak begitu ketika tadi pagi ia tampak begitu pucat dan sekarat?
"Hei, terima kasih atas yang tadi pagi," ucap Naruto ketika gadis itu hanya melangkah dan memandanginya dengan tatapan heran selama beberapa detik, "Maaf aku merepotkanmu."
Sakura mengalihkan pandang dan menatap ke depan. Langit yang tampak kelabu membawa ancaman hujan dan angin yang berhembus pelan. Beberapa murid sekolah mereka juga tampak menyusuri jalan ini untuk pulang ke rumah atau ke manapun yang ingin mereka tuju sepulang sekolah.
"Aku hanya tak mau berhutang budi padamu," Sakura menambahkan ketika pemuda itu tampak heran tak mengerti ucapannya, "Soal payung waktu itu."
"Aaaa," pemuda itu mengangguk beberapa kali, "Ya, aku sudah mengambilnya di atas lokerku. Tapi tetap saja, aku ingin berterima kasih padamu karena memberitahu petugas UKS tentang aku."
"Sudah kubilang, aku tidak ingin berhutang budi." Sakura berbelok di persimpangan, dan Naruto tetap mengikutinya. Dalam hati gadis itu mendecak kesal ketika teringat bahwa rumah pemuda itu ada di daerah yang sama dengannya—sekalipun ia tidak tahu di mana persisnya.
"Tulus atau tidak, itu tak merubah fakta bahwa kau menolongku," ucap Naruto, tertawa kecil ke arah gadis berhelai cerah di sampingnya itu, "Itu pada akhirnya tidak membenarkan ucapanmu bahwa kau tidak peduli pada siapapun, bahkan temanmu, bukan?"
Sakura terdiam sejenak, lantas ia berucap singkat tanpa mengalihkan pandang dari jalan, "Kau tidak mengenalku, tidak tahu apapun."
"Tapi kau rela mencari petugas UKS itu, bertemu dengan Kakashi-sensei yang kebetulan tengah berbincang dengan petugas itu, dan kau ketahuan bahwa kau membolos dan harus menerima hukuman. Demi melindungi dirimu sendiri, kau bisa saja mengacuhkanku, 'kan?"
"Aku tidak—"
"—bisa melihat orang lain membutuhkan pertolongan sedangkan kau ada di sana dan sanggup menolongnya," potong Naruto cepat, menyelesaikan ucapan gadis itu, "Itu artinya kau peduli. Itu artinya kau tidak benar-benar acuh tak acuh pada sekitarmu, seperti yang kau ucapkan, Sakura-chan."
Gadis itu terdiam, pandangannya sama sekali tak teralih pada pemuda yang kini tersenyum dan melembutkan pandangan ke arahnya. Hanya berjalan diam beberapa saat, seakan-akan banyak hal yang berputar di kepalanya.
"Sejak pertama aku melihatmu di kebun belakang sekolah waktu itu, aku tahu kau adalah gadis yang baik dan hangat, Sakura-chan."
Sontak kepala berhelai merah muda itu menoleh. Di sepasang emerald-nya yang sedikit melebar, ia melihat sepasang iris biru itu kembali melengkungkan senyuman. Meski tidak lebar seperti biasa, namun Sakura bisa melihat adanya ketulusan di sana.
Hangat, tulus, tanpa ada sekecil apapun dusta.
Mendengus, gadis itu menatap ke arah depan, dan entah mengapa mulutnya melontarkan hal yang sama sekali tak dimaksudkan otaknya untuk terucap, "Apa yang terjadi padamu? Tadi terlihat sekarat dan seakan sudah mengoceh hal yang bodoh?"
Ia bahkan menggigit ujung bibirnya, menyesal mengucapkan kalimat itu. Bahkan tanpa melihat, ia bisa merasakan Naruto yang tengah tersenyum geli ke arahnya.
"Nah, kau peduli padaku," ucap pemuda itu yang hanya dibalas oleh dengusan Sakura, "Akhir-akhir ini memang kesehatanku menurun. Kau tahu, hujan dan hawa dingin terus-terusan—kekebalan tubuhku selalu lemah pada hawa dingin."
"Kenapa tidak istirahat saja di rumah daripada merepotkan orang lain seperti tadi?"
Alih-alih tersinggung, Naruto justru semakin tertawa, membuat Sakura berdecak kesal karena pemuda itu justru menganggap lucu hinaan pedas darinya, "Ah, aku tak ingin mengkhawatirkan Kakek. Lagipula sebentar lagi adalah ujian kenaikan kelas—aku tak boleh ketinggalan materi pelajaran, bukan?"
"Apa pengaruhnya? Kau tetap bodoh juga, 'kan? Paling-paling tinggal kelas."
Naruto otomatis cemberut dan memandang tidak terima, "Hei, fakta bahwa aku berhasil diterima di SMA ini membuktikan bahwa aku pintar, 'kan?" kilahnya, "Lagipula aku cuma demam biasa, untuk apa harus tidak masuk sekolah segala."
Sakura terdiam dan tak merespon lagi. Dan Naruto tetap mengoceh—dari perihal keadaannya hingga keluar topik dan membicarakan mengenai hampir apapun: cuaca yang dingin, PR sekolah, warung ramen yang baru buka di ujung jalan, hingga ia yang tanpa sengaja melubangi salah satu kausnya karena lupa mengangkat setrika.
Dan sepanjang itu, mereka tetap berjalan beriringan.
Sakura tak banyak bicara. Pun tak sering ia menoleh ke pemuda itu atau memberikan ekspresi dan kesan seakan-akan ia mendengarkan dan peduli pada apapun yang didengarnya.
Namun toh ia juga tidak berucap dingin, mengumpat, dan menyuruh pemuda itu untuk menjauh dari dirinya.
o=o=o=o=o=o=o
Poto dalam pigura kecil itu tak lepas dari tatapan emerald-nya. Tertaruh di atas meja di samping tempat tidurnya. Sedangkan dirinya duduk di kursi belajar, menghabiskan beberapa menit sudah hanya untuk menatap potret tiga orang manusia di sana.
Seorang gadis remaja berhelai merah muda yang tersenyum bahagia, berdiri di tengah sepasang laki-laki dan perempuan yang juga memasang ekspresi tak beda. Ekspresi yang begitu kontras dengan air mukanya yang datar tanpa ekspresi. Tiga orang dalam poto itu tersenyum ke arahnya—seakan mengolok-olok kesedihan dan duka yang tergambar jelas di wajahnya kini.
Poto dirinya dan orang tuanya, hampir dua tahun yang lalu.
Ia menarik napas dan memejamkan matanya. Berniat menenangkan dirinya ketika kini perasaan sesak itu kembali menyerang. Ia tidak ingin lebih terpuruk dari apa yang sudah ia rasakan hampir setiap hari. Ia ingin lupa, ia ingin sedikit saja, kesedihan ini menghilang.
Namun ia salah. Karena ia memejamkan mata, justru ia kembali teringat semuanya. Semua kejadian yang ia usahakan untuk tenggelam di dasar ingatannya, terkubur dalam di memorinya dan tak akan pernah tergali lagi. Kini semua ingatan itu menyeruak jelas di pandangannya yang gelap. Jelas, seakan baru kemarin saja semua itu ia lihat dan dapatkan.
Hari musim gugur yang beku. Sarapan pagi yang tenang dengan masakan yang hangat dan mengenyangkan—menu kesukaan Sakura yang dibuat langsung oleh sang Ibu. Ucapan Ayah bahwa Beliau dan Ibu akan pergi ke Kyoto, mengunjungi teman Ibu yang baru saja melahirkan putra pertama. Pesan bahwa Sakura hanya tinggal menunggu di rumah dan Beliau berdua akan pulang sebelum makan malam tiba.
Sakura hanya tinggal menunggu dan mereka akan makan malam di rumah bertiga—seperti biasanya.
Namun yang ia dapat di malam yang dingin itu justru adalah ketukan keras di pintu rumahnya. Hampir berlari ia ketika menuju ke pintu depan, dengan ucapan selamat datang yang sudah berada di ujung lidah siap terucapkan. Namun semua ucapan itu tertelan kembali. Rasa antusias memudar berubah menjadi kebingungan. Alih-alih orang tuanya, justru adalah salah satu temannya yang menjadi tetangga rumahnya, yang kini berdiri di depannya. Wajah sang teman tampak pucat, gugup, ketakutan, dengan napas tersengal-sengal seakan ia habis berlari kuat-kuat. Belum sempat Sakura berucap satu katapun, ketika sang teman sudah menunjuk ke kanan dengan sembarang koordinat, dan berucap kalimat terburuk yang pernah Sakura dengar seumur hidupnya.
"Ayah—Ibumu, di dekat tebing." Sang teman berucap terbata dan tak teratur, ekspresinya tampak begitu takut seakan ia terburu-buru dan terkejar sesuatu, "Mereka—Ayah dan Ibumu—mobilnya terbalik—"
Kebingungan yang berubah menjadi rasa takut. Jantungnya seakan berdegup di saat itu juga. Sekalipun ucapan sang teman tampak tak beraturan, namun dari ekspresinya, Sakura seketika tahu bahwa ada hal yang buruk yang terjadi. Hal mengerikan yang ingin sang teman sampaikan namun tak ada kuasa. Dua irisnya membelalak, mulutnya setengah membuka.
Ayah dan Ibu. Tebing. Mobil terbalik.
Cukup dengan tiga deskripsi singkat yang membuat Sakura seketika memperoleh gambaran jelas akan maksud ucapan sang teman.
"Sakura—"
Kakinya yang terasa lemas ia paksakan untuk bergerak. Menabrak kuat bahu sang teman yang sedikit menghalangi jalan keluarnya dari pintu depan. Berlari sekuat tenaga bahkan di langkah pertamanya keluar dari pintu rumahnya. Lari. Lari. Dan lari. Tak hirau pada angin yang berhembus dingin. Tak hirau ia hanya memakai celana selutut dan kaus lengan pendek. Tak hirau pada udara yang terasa menggigit pipi, hidung, dan telinganya. Atau pada kedua kakinya yang hanya berlindung pada sandal rumah.
Ia berlari sekuat tenaga. Irisnya membelalak seakan di depannya adalah mimpi buruk—mimpi buruk yang justru ia datangi dan ingin ia lihat. Peluh mengalir di pelipis. Jantungnya berdegup seirama dengan langkah kakinya yang berdebum di aspal. Napas tersengal, kaki merasa kebas oleh dinginnya udara.
Namun ia tak peduli, selain harapan dan doa yang terbatinkan agar apapun yang diucapkan temannya tadi adalah kekeliruan. Candaan. Kebohongan.
Orang tuanya baik-baik saja. Pasti.
Namun matanya justru mulai memanas ketika dari kejauhan ia melihat daerah sekitar tebing telah ramai oleh kumpulan manusia. Degup jantungnya semakin menggila saat ia menyadari bahwa orang-orang itu tampak menggerombol—seakan-akan tengah melihat hal yang menarik perhatian mereka. Rasa takutnya semakin kuat ketika ia menatap kelap-kelip merah-kuning dari mobil polisi yang terparkir di tepi jalan. Langkahnya sesaat memelan saat di antara kaki-kaki para manusia yang bergerombol, ia bisa melihat bagian dari mobil berwarna hitam yang tengah mengepulkan asap.
Bahkan saat itu ia masih memegang kuat harapan bahwa tak terjadi apa-apa. Sekalipun ada, ia berharap bahwa hal itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Ayah dan Ibunya.
Beliau berdua masih baik-baik saja, dalam perjalanan pulang, dan akan tiba di rumah. Sebentar lagi.
Ia hanya perlu memastikan. Ya, Sakura harus memastikan. Bahwa itu bukan mobil kedua orang tuanya. Bahwa orang-orang itu tidak sedang melihat hal yang berhubungan dengan orang tua Sakura. Tak ada Beliau berdua di sana—tidak ada.
Namun sama sekali keliru, ketika ia sudah sampai dan berhasil menyeruak di antara kumpulan orang-orang.
Mobil yang sangat ia kenali telah rungsek dan berasap—terbalik beberapa jauh dari jalan. Seakan sebelumnya kendaraan itu keluar jalur dan berakhir menggelinding di tebing yang curam, sebelum pada akhirnya tertahan dan tersangkut di pohon besar yang tertanam di sisi miring tebing.
Namun bukan itu yang membuat Sakura seketika terpaku. Mata melebar dan tubuh membeku—ah tidak hanya tubuh, jantungnya seakan tak berdegup lagi dan terselimuti rasa dingin yang juga membuat seluruh syaraf di tubuhnya terasa lumpuh.
Ia jatuh terduduk, ketika menatap sepasang laki-laki dan perempuan yang amat ia kenal lebih dari siapapun di dunia ini, tengah dikeluarkan oleh para aparat dari dalam mobil yang ringsek.
Mata yang terpejam. Kepala dan bagian tubuh lain yang berlumur cairan merah pekat.
Kedua orang tuanya yang tak bernyawa. Tak bernapas.
Tidak akan pulang ke rumah dan makan malam bersamanya—selamanya.
Sakura berteriak perih dan ngilu—dan hanya itu yang ia ingat sebelum semuanya berubah menjadi gelap.
Gadis itu membuka matanya yang sudah beberapa menit terpejam. Melirik ke arah pigura di mejanya, menatap poto itu, dan menyadari bahwa pandangannya tampak mengabur. Terasa panas, dengan sesuatu yang basah terasa di kedua pipinya.
"Tsk," ia mendecak kesal sembari mengusap lelehan hangat di wajahnya. Sudah empat bulan berlalu, tetapi itu bukan waktu yang cukup untuk mengeringkan air matanya. Untuk memendam memori pahit itu di sudut gelap ingatannya. Dan sepertinya tak akan pernah ada waktu yang cukup bagi Sakura untuk melakukan itu semua.
Selamanya, ia akan merasa berduka dan kehilangan.
Selamanya.
Waktu masih menunjukkan pukul tujuh malam, tapi ia segera berbaring di ranjang dan bergelung selimut. Tak ingin hirau pada apapun lagi. Tak ingin ingat pada hal lain lagi. PR. Ulangan di esok hari. Maupun panggilan Bibi Anko untuk makan malam.
Tak ingin peduli pada apapun—selain memori akan masa lalu dan duka yang tertoreh karenanya.
o=o=o=o=o=o
o= see you next chap =o
Mind to give feedback?
Thanks!
