Terima Kasih

.

.

.


Casts : Jongin, Sehun, EXO members

Pairing : KaiHun (Kai x Sehun)

Genre : romance, angst, fluff

Rated : T Length : chaptered

Warning : boys love, don't like don't read, don't plagiarism please


Chapter 3


Ini pukul 8 malam.

Jongin sedang mengerjakan PR di kamarnya ketika didengarnya suara ketukan pintu.

"Siapa?" tanya Jongin malas, tangannya tergerak untuk membuka pintu yang terkunci.

Pluk

Sesosok tubuh tiba-tiba terjatuh ke pelukannya. "Se-sehun?" Jongin kaget setengah mati melihat Sehun yang tiba-tiba datang ke rumahnya malam ini.

"J-jonginnnnn, huweee" Sehun tiba-tiba menangis keras di pelukan Jongin. Membuat Jongin bertambah bingung.

"Kenapa? Ada apa denganmu eum?" Jongin bertanya sabar. Dia menepuk-nepuk punggung pemuda itu pelan, berharap tangisnya segera mereda. Dengan pelan dia mendudukkan tubuh itu di kursi belajar(?) nya.

"Kris sunbae sudah punya kekasih, aku patah hati, hiks" Sehun berkata sesungukan. Dia mengguncang-guncang tubuh Jongin histeris.

Jongin menangkap tangan Sehun, menghentikan kegiatan brutalnya mengguncang-guncang tubuhnya. "Apa? bagaimana itu bisa terjadi?" Jongin menatap Sehun prihatin.

Sehun menggeleng keras. "aku tidak tahu, tau-tau ketika kami di mobilnya tadi, handphonenya tiba-tiba berbunyi dan dia menjawabnya dengan 'iya chagi' dengan begitu mesra Jonginieeee, huwee" Sehun memekik lagi. "aku merasa terkhianati" lanjut Sehun mendramatisir. Padahal tadinya ia begitu yakin jika Kris juga menyukainya karena ia selalu mentraktrinya makan, menyapanya penuh senyum, mengacak rambutnya... apa lagi ya? Sehun rasa itu juga sudah cukup banyak.

"Oh, jadi dia sudah punya kekasih—" sahut Jongin singkat. Dia menopang dagunya dengan kedua tangannya. "—baguslah", ucapnya tanpa sadar. Perlahan senyum terukir di wajahnya.

"Bagus apanya?! Aku membencimu!" Sehun memukul-mukul pundak Jongin kuat karena kesal dengan tanggapan Jongin. Seharusnya sebagai sahabatnya, dia kan menghiburnya. Huh!

"Akh—hentikan. Kau menyakitiku" Jongin segera menghindar dan balas menggelitiki Sehun untuk pembalasan.

"Hahaha, geli, geli, hentikan!" Sehun bergerak-gerak, berusaha menghindari gelitikan Jongin tanpa ampun.

Hup

Jongin tiba-tiba memeluknya. "Baguslah, kau sudah kembali tertawa—" dia memeluk Sehun erat-erat.

"Jongin?" Sehun terpaku dengan perlakuan Jongin, tapi lalu tersenyum. Sahabatnya ini memang yang paling mengertinya. "Terima kasih—"

"Untukmu" Sehun menyodorkan sebuah kotak dengan pita berwarna merah muda yang cantik di atasnya ke hadapan Jongin. Setelah beberapa saat yang lalu, Sehun sudah sepenuhnya melupakan Kris. Padahal ia begitu mengaguminya dulu, gara-gara melihatnya bermain basket dengan begitu lihai di sekolah. Waktu yang sangat singkat untuk move on! Terima kasih atas Jongin yang menghiburnya dengan terus bertingkah konyol tadi.

"Huh?" Jongin menatap kotak itu dengan curiga. "Apa ini?"

"Cokelat yang tidak jadi kuberikan pada Kris sunbaenim" ucap Sehun tanpa mengalihkan pandangannya dari PR matematika di depannya. Memang dasar anak rajin, dia kemari, curhat dan menangis pada Jongin, sambil membawa tas berisi buku PR di punggungnya. Benar-benar aneh. Dia begitu mempersiapkan semuanya sampai kemungkinan akan mengerjakan PR bersama setelah curhat pada Jongin lalu ia membawa semua buku PRnya sekaligus kemari.

Mata Jongin berpendar. "Benarkah untukku?" tanyanya tak percaya. Tangannya terulur untuk meraih cokelat itu.

Grep.

Tangan Jongin meraih udara kosong di depannya.

Kenapa?

Dia tertegun. Cokelat itu bahkan tidak dapat tersentuh oleh tangannya.

Dia mencobanya lagi.

Tidak bisa juga.

Jongin mematung. Ini terlalu cepat—

Kini tubuhnya bahkan tidak mampu meraih benda yang ada di depannya dengan benar. Matanya tidak dapat fokus—

"Jongin?"

Jongin terlonjak, dilihatnya Sehun sedang menatapnya heran. "Kau baik-baik saja?"

Jongin tersenyum samar, lalu mengangguk. "Sehun, bisakah kau—" Jongin menggelengkan kepalanya agar raut sedihnya segera menghilang. "—bisakah kau mengambilkan cokelat itu untukku?"

Sehun berjalan mendekati Jongin dan menyerahkan cokelat itu tepat di pangkuannya. "Kau tidak berbohong bukan? Wajahmu pucat—" dia meraba dahi pemuda itu, mengecek suhu tubuhnya yang ternyata baik-baik saja.

"Ya, aku baik" Jongin tersenyum, dia berusaha keras menyembunyikan kekhawatirannya yang begitu besar saat ini. Tentang bagaimana 'sesuatu' yang selama ini ia sembunyikan dari Sehun mulai bertambah parah— tentang bagaimana tangannya tidak bisa meraih benda di depannya dengan benar— tentang intensitas jatuhnya yang semakin banyak belakangan ini —bagaimana

—bagaimana jika hidupnya sebentar lagi akan berakhir?

"Jongin, kau melamun lagi" Sehun mengguncang tubuhnya pelan, membuat Jongin tersadar.

"Ah—aku tidak melamun, aku hanya terlalu senang, ya senang—" Jongin berusaha memikirkan alasan yang tepat agar Sehun tidak curiga dengan keadaan menyedihkannya sekarang. "—begitu senang dengan cokelat pemberianmu, sampai rasanya aku ingin menangis, terima kasih" Jongin memeluk cokelat itu hati-hati seolah takut merusaknya.

Sehun tertawa geli. "hei, tidak usah berlebihan begitu, kau bisa memintaku membawakan cokelat untukmu kapan saja, aku akan membawanya"

Jongin tertawa. "Baiklah kalau begitu, aku akan memintamu membawakan cokelat untukku setiap hari!" katanya jahil.

Sehun mencubit lengan Jongin, kesal. "Tidak begitu juga" dia cemberut sebentar lalu tak lama kemudian dia tertawa. Tawa yang begitu indah seperti bunyi lonceng yang berdenting merdu. Tawa yang disukai Jongin.

Jongin ikut tertawa.

Ia tahu bahwa ia akan merindukan saat-saat seperti ini nantinya...

Seandainya waktu berhenti berputar sekarang. Jongin akan menjadi manusia yang paling bahagia di dunia.


o-o-o-o-o-o


Sekarang hari pertama di musim panas.

Waktunya liburan!

Sehun dan Jongin bergelung malas di lantai ruang tamu yang dingin karena cuaca di luar begitu panas saat ini. Membuat mereka malas keluar rumah.

Di tangan kiri Sehun terdapat sebuah kipas elektrik kecil untuk membantu mendinginkan tubuhnya sedangkan tangan kanannya memegang ice cream rasa jeruk yang terlihat hampir meleleh.

Jongin tak jauh beda, dia mengibaskan buku yang di pegangnya di sekitar lehernya berharap cuaca panas segera berakhir karena itu begitu mengganggu.

"Uh panas sekali hari ini ya Jongin?" keluh Sehun sambil menjilati ice cream yang dipegangnya. Dia berbaring telentang dan membiarkan punggungnya menyentuh lantai yang dingin, mengurangi rasa panasnya —menurut Sehun, walaupun sedikit sekali sih.

"Ya—mau kubuatkan jus limun?" tawar Jongin, dia tertawa geli melihat Sehun yang terus menggerutu seperti anak kecil dengan peluh mengalir di pelipisnya, pertanda dia begitu kepanasan saat ini.

"Boleh" ujarnya senang, ia langsung bangkit dan berkata dengan penuh semangat. "tambahkan banyak es di dalamnya ya" pesannya sebelum Jongin menuju dapur untuk membuatkan mereka minum.

Tak berapa lama kemudian Jongin kembali. Di tangannya terdapat dua buah nampan berisi jus limun yang kelihatan menyegarkan. Semuanya baik-baik saja ketika Jongin berjalan hati-hati menuju Sehun, sampai—

Pranggg

Jongin tiba-tiba terjatuh —tanpa sebab. Gelas limun yang di bawanya pecah berkeping-keping. Kepala Jongin membentur lantai dengan begitu keras, pecahan kaca yang berserakan mengenai kepala dan tubuhnya. Darah segar mengalir dari kepala Jongin, lukanya menganga lebar.

Jongin meringis, dia ingin bangkit tapi, —tubuhnya tidak bisa bergerak.

Dalam kepanikan dan kesakitan luar biasa, samar-samar Jongin mendengar teriakan terkejut Sehun dari ruang tengah sebelum semuanya menggelap—

"JONGINNN!"

Dan awal musim panas yang seharusnya ceria berubah menjadi begitu mengerikan.


o-o-o-o-o-o


"Yoora noona, Jongin sadar!" suara Sehun adalah yang pertama kali didengar Jongin ketika ia membuka matanya. Jongin mengerjap, begitu banyak cahaya yang tiba-tiba masuk membuatnya silau. Bau antiseptik yang begitu menyengat memasuki indera penciumannya dan hal pertama yang Jongin pikirkan adalah...

—dimana dia?

Sepasang lengan kurus langsung memeluknya erat —lengan Sehun dan suara lembut Sehun mengiringinya kemudian "—terima kasih Tuhan"

Yoora—kakak Jongin tersenyum di sampingnya. Dia adalah satu-satunya keluarga Jongin karena kedua orang tua mereka telah lama meninggal.

"Bagaimana keadaanmu?" suara jernihnya terdengar menyenangkan ditelinga Jongin.

"Baik noona, dimana ini?" Jongin berkata parau, suaranya entah kenapa terasa begitu aneh bahkan di telinganya sendiri. Selain itu dia juga harus berjuang di tengah pelukan Sehun yang begitu erat di sekitar lehernya —tapi dia suka sih.

"Kau di rumah sakit, koma selama seminggu gara-gara pecahan gelas yang melukai kepalamu cukup dalam" ucapnya sedih.

Ouch, Jongin merasa mual mendengarnya.

Apakah keadaannya begitu parah—?

Dia meraba kepalanya, terdapat perban yang cukup tebal melilitnya.

"Kalian mengacuhkanku" Sehun melepas pelukannya pada Jongin, merajuk.

"Tentu saja tidak—" Jongin meringis. Kepalanya sedikit terasa sakit ketika ia berbicara barusan. "—aku merindukanmu".

Sehun menatap Jongin galak lalu tersenyum. "Benarkah?" katanya senang lalu memeluk Jongin kembali. Entah bagaimana Sehun jadi suka memeluk Jongin belakangan ini, terasa menyenangkan baginya. Tadinya dia begitu panik karena Jongin tidak kunjung sadar setelah jatuh waktu itu. Darah yang keluar begitu banyak dan Sehun histeris melihat Jongin seperti itu. Dia menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk menjenguk Jongin di rumah sakit, menemani Yoora noona. Dan ketika melihat Jongin sadar hari ini.

Sehun menyadari, bahwa ia begitu bahagia.

Entah bagaimana sehari saja tidak bersama Jongin membuatnya sangat kesepian dan sedih. Kehadran Jongin membawa begitu banyak warna dalam hidupnya...

"Tentu, aku benar-benar merindukanmu" Jongin tersenyum lalu membalas pelukan Sehun dengan erat. Dia memberikan tatapan 'kau tidak memberitahunya kan?' pada kakaknya selagi Sehun tidak melihatnya.

Yoora tersenyum pahit lalu mengangguk kecil, membuat Jongin mendesah lega. "—terima kasih" ucapnya tanpa suara.

Yoora hanya mengangguk, dia lalu mendudukkan dirinya di samping ranjang Jongin sambil memerhatikan kedua dongsaeng yang disayanginya itu saling berpelukan. Terlihat begitu bahagia.

Yoora menatap Jongin pilu, bagaimana adiknya itu bisa menyembunyikan penyakitnya dengan baik di depan Sehun? Bagaimana ia bisa menahan semuanya sendiri?

Dia menghembuskan napasnya putus asa.

Ia tahu semuanya. Tahu tentang sebuah penyakit mengerikan yang sedang menggerogoti tubuh adik satu-satunya saat ini. Tahu bagaimana ia berjuang begitu keras meminum semua obat yang terasa percuma itu hanya agar ia dapat bertahan hidup lebih lama. Tahu bagaimana perasaannya pada Sehun yang selama ini disembunyikannya. Tahu bagaimana khawatinya Jongin jika—jika ia akan meninggalkan Sehun sendirian suatu hari nanti.

"Kau harus sarapan sekarang" ujarnya tanpa sadar, dia lalu buru-buru pergi mengambilkan makanan Jongin. Dia harus segera pergi dari sana karena melihat Jongin yang yang tertawa-tawa bahagia di dekat Sehun justru membuatnya ingin menangis. Yoora menghapus air matanya kasar, ini terlalu —menyedihkan.

Jongin menutupi semuanya dengan begitu baik.

Yoora tidak ingin kehilangan anggota keluarganya lagi.


Bersambung...


Momo hadir kembali teman. Maafkan Momo karena chapter ini begitu pendek, kesibukan Momo tidak bisa ditunda. Jadi harus sedikit trik supaya bisa nyelesain.

Maaf kak Yoora (kakak Chanyeol) saya pinjem buat jadi kakak Jongin. Semoga Chanyeol gak nimpuk saya karena ngambil kakaknya XD

Sedikit kata, ini bukan remake dan pasti sad ending.

Ini fluff dengan konflik ringan. harap diperhatikan :)

Terima kasih telah berkenan membaca dan review, review kalian bikin Momo ketawa gila saking bahagianya. Reviewnya lucu-lucu, Momo suka deh :3 Maaf belum bisa bales :(

Sekian aja ya, Momo harus berkutat dengan tugas Momo lagi. Silakan review karena chapter depan adalah chapter kejutan :)

Momo