Terima Kasih

.

.

.


Casts : Jongin, Sehun, EXO members

Pairing : KaiHun (Kai x Sehun)

Genre : romance, angst, fluff

Rated : T Length : chaptered

Warning : boys love, don't like don't read, don't plagiarism please


Chapter 4


"Jongin, wajahmu pucat lagi kau —baik?" Sehun menatap teman sebangkunya itu dengan khawatir. Jongin telah keluar dari rumah sakit beberapa hari yang lalu dan kini liburan musim panas telah berakhir. Perban di kepalanya sudah dilepas tapi entah mengapa Sehun rasa Jongin menjadi sering sakit belakangan ini. Dia menjadi begitu khawatir.

"Mm, aku baik—" kata Jongin tak yakin. Dia tersenyum tipis. Akhir-akhir ini tubuhnya memang sering terasa begitu lemas.

"Ayo, kau harus ke ruang kesehatan" Sehun menarik tangan Jongin, menggeretnya paksa dan tidak menggubris pernyataan Jongin barusan. Jelas-jelas dia sakit dan Sehun samasekali tidak ingin hal buruk terjadi pada Jongin seperti waktu itu—

"Tidak mau—"

"Ayolah—" Sehun terus berusaha menggeret Jongin yang terdiam seperti batu di tempatnya.

"Tidak"

"Ish, bagaimana supaya kau menurut padaku?" Sehun menyerah dia melepaskan Jongin dan menatapnya sebal.

Jongin tertawa. "Jangan marah—" dia menarik kedua sudut bibir Sehun yang cemberut menjadi sebuah senyuman. "—bagaimana kalau—" ucapan Jongin menggantung di udara.

"Kalau—?" desak Sehun tak sabar. "—cepat katakan padaku"

Jongin tersenyum. "Bagaimana kalau kau menjadi kekasihku?"

Mata Sehun membulat sempurna. Dia tidak salah dengar bukan? Sehun membeku di tempat.

"Jongin—"

"Kali ini aku serius" ucap Jongin tenang, dia menatap Sehun lembut "—bukan sebagai pernyataan seorang sahabat". Mata kelabunya berpendar menenangkan.

"Ak-aku" ucap Sehun gugup. Ini terlalu tiba-tiba, dia tidak siap! Tidak pernah terbayangkan olehnya bahwa Jongin akan menyatakan cinta padanya seperti ini. Setahu Sehun Jongin hanya menganggapnya sebagai sahabat—

Sehun menatap Jongin ragu, keseriusan terpancar di wajah Jongin yang pucat.

—sebenarnya bagaimana perasaan Sehun pada Jongin? Sehun juga tidak mengerti.

Kehadiran Jongin di sekitarnya, membuatnya terbiasa. Bersama Jongin memang menyenangkan. Dia selalu mengerti apa yang Sehun butuhkan. Mengerti bagaimana perasaannya. Mengerti bagaimana cara membuatnya tertawa...

Dan setelah beberapa saat merenung, Sehun menyadari—Jongin selalu di sisinya menjaganya.

Debaran aneh di jantungnya tiba-tiba bertambah kencang ketika Jongin menggenggam tangannya dengan lembut sambil tersenyum. Sehun baru menyadari sahabatnya ini begitu —tampan.

Sehun tidak mengerti apa yang terjadi dengan jantung bodohnya, dia meruntuk dalam hati karena mukanya kini juga mulai memerah. Sepertinya Jongin telah lama membuatnya —jatuh cinta?

"Boleh—" ucap Sehun tanpa sadar ketika manik matanya bertemu pandang dengan mata kelabu milik Jongin. Dan seketika wajahnya menjadi merah padam karena malu.

Jongin mengerjap. Secepat itu kah Sehun menjawabnya?

"Eh—benarkah?" Jongin terkejut. Tidak menyangka pernyataan cintanya yang—entah keberapa ini akhirnya ditanggapi Sehun. Walaupun mendadak dan langsung terucap begitu saja. Tapi dia serius kan? Tidak bercanda bukan? Tidak mengerjai Jongin?

Sehun tidak menjawab dan masih sibuk menetralkan detak jantungnya yang bertalu-talu. Dia kenapa sih?

"Oh—kau hanya mengerjaiku ya?" Jongin tersenyum pahit, dia perlahan melepaskan genggaman tangannya. Dia mundur perlahan, rasanya ditolak langsung itu seperti—

Belum sempat Jongin memikirkan lanjutan kalimatnya, Sehun sudah menarik ujung bajunya, terlihat terkejut karena Jongin tiba-tiba bergerak sedikit menjauhinya. "Kau mau kemana?"

Jongin menghela napas pelan, hatinya terasa sakit. Dia membalik tubuhnya menghadap Sehun, dan memegang pundak pemuda itu. "Dengar Sehun, aku tau kau menolakku, tapi jangan seperti ini—"

"SIAPA YANG MENOLAKMU BODOH?!" Sehun berteriak keras memotong perkataan Jongin, dia menepis tangan Jongin dipundaknya dan menghentak-hentakan kakinya kesal —kebiasaan saat marah. Sahabatnya ini bodoh atau apa? Jelas-jelas dia bilang 'boleh' tadi. Itu artinya dia menerimanya bukan?

Atau—

"Jangan-jangan kau yang mengerjaiku ya?" tanya Sehun cepat. Wajahnya kembali memerah. Bagaimana kalau Jongin hanya bercanda tadi? Bagaimana jika hanya ingin mengerjai Sehun? Bagaimana—

"Apa maksudmu?" Jongin malah bertanya balik. Kenapa jadi rumit begini?

"Kau—apa serius saat menyatakan cinta padaku tadi?" tanya Sehun pelan sekali. Wajahnya tertunduk dalam, malu melihat wajah Jongin. Padahal dia sudah menjawab pernyataan Jongin dengan sepenuh hati tadi. Bagaimana bodoh wajahnya saat menjawab pertanyaan Jongin . Jongin pasti menertawakan mukanya yang sudah seperti kepiting rebus.

Aaarghhh

Sehun memaki dirinya sendiri dalam hati—

"Tidak, aku serius." ucap Jongin yakin.

Apa?

Perlahan Sehun mendongak dan menatap Jongin, memastikan apakah dia berbohong atau jujur. Dan Sehun tidak melihat satu kebohonganpun di matanya. Dia jujur. "—bagaimana denganmu, Sehun?" Jongin menatapnya dengan sorot mata yang penuh permohonan.

Sehun hampir saja terpekik karena terkejut, tubuhnya hampir saja terjungkal ke belakang kalau tangan Jongin tidak dengan sigap meraih pinggangnya dan menahan tubuhnya agar tidak membentur lantai. Jongin tidak pernah menatapnya dengan tatapan seperti itu selama ini!

"A-aku juga—" ucap Sehun malu-malu.

Jongin terkejut, dirasanya tangan Sehun meremas kemejanya dengan gugup. Jongin menelan ludahnya. "—Jadi?"

"Apanya?" tanya Sehun ambigu. Dia jadi bingung dengan arah pembicaraan Jongin yang berbelit-belit.

"Mmm, jawabanmu?" kali ini Jongin benar-benar ingin menceburkan diri ke dalam sumur saking gugupnya menanti jawaban Sehun. Dia sudah berusaha mempertahankan ekspresi cool nya sejak tadi, tapi jantungnya sama sekali tidak mau bekerja sama. Terus berdegup dengan frekuensi yang tinggi. Berada dalam jarak sedekat ini dengan Sehun membuat pertahanannya runtuh, wajah Jongin kini bahkan mulai memerah sekarang. Dia akan mele—

"Boleh"

HAH?!

Kali ini Jongin benar-benar tidak salah dengar!

"Benarkah?" tanyanya memastikan.

Sehun mengangguk malu-malu.

Grepp

Jongin memeluk Sehun erat-erat. "Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih!" ucapnya bahagia. Dia menenggelamkan tubuh kecil Sehun ke dalam pelukannya. Rasanya seluruh beban di pundaknya sudah benar-benar menghilang sekarang. Sehun akhirnya membalas perasaannya!

"Iya, iya, bisakah kau melonggarkan pelukanmu sedikit? Aku tidak bisa benapas—" Sehun berusaha berbicara di tengah pelukan Jongin yang begitu erat di tubuh kurusnya.

Jongin tersadar. "Ah—maafkan aku." Dia menggaruk tengkuknya malu dan melepas pelukannya. "—aku begitu bahagia"

Sehun tersenyum. Ah—dia rasa pilihannya untuk menerima Jongin tidak salah. Sehun yakin Jongin pasti bisa menjaganya dengan baik.

Sehun meraih jemari Jongin dan menggenggamnya dengan kedua tangannya erat, matanya menatap lembut Jongin yang tengah salah tingkah. "aku juga" dan Sehun menarik sahabatnya, ah tidak —kekasihnya itu dalam sebuah pelukan hangat.


o-o-o-o-o-o


"Kenapa kau tersenyum terus?" Sehun memandang Jongin di sebelahnya dengan tatapan aneh. Mereka kini tengah berjalan kaki bersama dalam perjalanan pulang. Memutuskan untuk tidak naik bus karena ingin menikmati sore yang begitu indah dengan berjalan kaki saja.

"Tidak apa-apa, aku kan sudah bilang bahwa aku sangat bahagia hari ini," ujarnya ceria, tawanya berderai. Rona merah samar mulai merambati pipnya ketika Sehun mulai memandangnya. Kenapa Sehun baru menyadari bahwa Jongin terlihat begitu lucu—dan tampan saat ini?

Sehun memalingkan mukanya segera saat Jongin menatapnya balik, tiba-tiba dia begitu gugup. Kenapa dengan jantungnya, kenapa berdetak tidak tau aturan begini? Semburat kemerahan kini juga mulai merambati pipinya. Kenapa hari ini Jongin bisa membuatnya merona seperti ini berkali-kali?

"Sehun" panggil Jongin lembut.

"a-apa?" jawab Sehun gugup tanpa menolehkan kepalanya ke arah Jongin. Wajahnya! Kaca, kaca, Sehun sangat butuh benda itu sekarang karena ia ingin mengetahui seberapa merah wajahnya sekarang. Ugh...

"Sahabat—" Jongin berusaha merangkai kata yang tepat. "—kau tidak menganggap pernyataanku tadi sebagai pernyataan seorang sahabat kan?"

"Hah? Apa maksudmu?" sontak Sehun menoleh ke arah Jongin.

"Suka—?" pertanyaan Jongin malah semakin ngelantur.

"Jongin—katakan dengan jelas, aku tidak mengerti" Sehun berkata dengan raut wajah bingung.

"M-maksudku, kau menerimaku bukan sebagai 'sahabat'kan tetapi kekasih—?" tanyanya ragu.

Sehun tertawa keras, jadi hanya karena itu Jongin jadi aneh seperti ini. Ingin memastikan perasaannya? Manis sekali.

"Tentu saja, aku memandangmu sebagai—" Sehun berpikir sejenak. "—orang yang kucintai," jawabnya.

Senyum seketika terukir di wajah Jongin. Dia merasa begitu lega setelah mendengar kepastian Sehun dengan jawabannya. Sebenarnya dia masih berpikir ini adalah mimpi, tapi perlahan dirinya yakin bahwa ia tidak sedang bermimpi ketika senyum Sehun disebelahnya terasa begitu nyata.

"Sehun—" ucap Jongin setelah mereka terdiam beberapa lama.

Sehun menoleh. "ya?"

"Bolehkan aku—menggandeng tanganmu?" tanya Jongin gugup.

Sehun tersenyum. "Tentu saja—" dia mengulurkan tangan pucatnya ke hadapan Jongin dengan senang hati. "—kenapa denganmu? Bukankah kau biasa memelukku waktu dulu. Kenapa mendadak jadi pemalu begitu?" godanya.

Jongin hanya tertawa. "—entahlah, aku tiba-tiba merasa gugup di dekatmu. Kau begitu mendebarkan" katanya. Dia meraih tangan Sehun dan menautkan jemari mereka dengan gembira. Tidak menyadari Sehun di sebelahnya yang menjadi salah tingkah ketika jemari hangat Jongin mulai menelusup di sela-sela jemarinya. Dia merona mendengar ucapan polos Jongin.

"jangan menggombal—" Sehun memukul lengan Jongin pelan. Dia begitu malu saat ini.

"tidak" ucap Jongin santai, dia jujur. Bersama Sehun memang membuatnya berdebar—menyenangkan.

"terserah kau saja" Sehun mengeratkan tautan jemarinya dengan Jongin untuk meredam rasa gugupnya.

"Kau manis sekali" Jongin tertawa.

Dan sore itu mereka habiskan dengan saling bergandengan tangan sepanjang perjalanan pulang. Menikmati sinar hangat matahari sore yang membelai kulit mereka dengan lembut sambil memandang goresan oranye yang terlukis di langit yang mulai menggelap.

Melupakan fakta bahwa Jongin tengah sakit saat itu.


o-o-o-o-o-o


"Cieee," Luhan mencubit pipi si cuek Sehun dengan gemas. Mendadak pagi ini seluruh kelas tahu tentang hubungannya dengan Jongin. Sehun dan Jongin jadi bahan godaan gratiss pagi ini, terutama oleh Luhan -tukang gossip. Padahal mereka belum mengatakan pada siapapun? Entah bagaimana berita itu bisa cepat tersebar.

"Ish, lepaskan! Sakit tau!" bentak Sehun kesal, pipinya sakit sekali sampai memerah karena sedari tadi Luhan menggoda mereka sambil mencibit pipi Sehun saking senangnya.

"Hei, hei, kau harus merubah sikap kasarmu itu. Itu tidak baik. Bagaimana jika kau menikah nanti? Jongin bisa kerepotan. Iya kan Jongin sayang?" Luhan menasihati Sehun panjang lebar sambil menepuk-nepuk punggung Jongin dengan sayang. Sedari tadi anak itu hanya senyum-senyum dan tidak banyak bicara, padahal biasanya bawel sekali.

"Ck, terserah aku," Sehun cemberut, tapi di pipinya tercetak rona merah samar yang manis.

Luhan tertawa. "Aduh, Jonginku sayang. Kau harus bersabar menghadapi Sehun yang galak ya? Malang sekali nasibmu," Luhan berkata melebih-lebihkan sambil membelai kepala Jongin dengan lembut. Sehun jadi tidak suka melihatnya.

"Lepas!" bentaknya. Dia maju dan menyingkirkan tangan Luhan dari kepala Jongin dengan cepat. Lalu berdiri di depan Jongin sambl merentangkan tangannya -gaya seperti ingin melindunginya.

Luhan terkikik begitu pula Jongin. "Ada apa denganmu?" tanya mereka bebarengan.

"M-mwo?" Sehun tergagap, tidak menyangka dia akan ditertawakan oleh dua orang sekaligus seperti ini, ia malu sekali. Tadi itu dia reflek sekali sih.

"Dia cemburu Jonginku sayang," goda Luhan memanas-manasi.

"T-tidak! Mana m-mungkin?!" elak Sehun, yang sikapnya justru menunjukkan yang sebaliknya.

"Benarkah?" goda Luhan lagi. "Kalau begitu, jika Jongin kupeluk tidak masalah bukan—?" tanyanya jahil. Tangannya kini sudah melingkar di sekitar leher Jongin dan memeluknya mesra. Jongin juga samasekali tidak terlihat keberatan.

"Jangan—" cegahnya cepat, tanpa Sehun sadari tangannya sudah menepis tangan Luhan di leher kekasihnya itu. "—kumohon Lu, jangan seperti ini" ucap Sehun lemas. Dia benar-benar tidak tahan karena Luhan terus menggodanya dan Jongin sejak tadi. Sehun rasanya sudah sangat ingin meledak sekarang.

"Ciee, benarkan kau cemburu—?" ucapnya dengan senyum penuh kemenangan. Dia mengacak rambut Sehun dengan sayang. Senang sekali bisa menggoda Sehun sekali-sekali. Biasanya dia jutek setengah mati pada Luhan. "—tenang saja aku tidak akan merebut 'Jongin' mu, cintaku hanya untuk Kris, asal kau tahu" ucapnya santai.

"Ishh, kau ini—cepatlah pergi sana, huss" usir Sehun galak. Walaupun begitu dia lalu tersenyum pada Luhan. Walaupun jahil tapi sebenarnya sangat perhatian pada mereka, sosok kakak kesayangan mereka di sekolah.

"Baik, baik, sebentar lagi juga bel masuk. Aku akan pergi tanpa kau suruh pun" ujar Luhan pura-pura merajuk.

"Baguslah" ucap Sehun dengan nada jahil.

"Dasar kau—bye" Luhan pun pergi ke kelasnya karena bel masuk telah berbunyi. Meninggalkan pasangan baru yang masih malu-malu itu di kelasnya.

Ah, semoga mereka menikmati kebersamaan mereka dengan baik.


Bersambung.


Chapter ini Momo buat full oleh happiness :) untuk itulah Momo sebut chapter kejutan karena sebenarnya ini hanya sisipan dari keseluruhan cerita yang isinya hampir angst semua.

Untuk pertanyaan-pertanyaan yang gak Momo jawab maaf ya, selain gak punya waktu dan bukannya gak mau atau gimana, tapi kalau Momo jawab itu kayak ngasih tau itu ceritanya seperti apa dan jadi gak seru, jadi pendam keingintahuanmu dulu di akhir cerita karena saya akan menjawab semua yang review pada chapter itu nanti kalau belum jelas :)

Terima kasih sudah berkenan mampir dan review. Momo jadi full of spirit! Silakan review kembali ya Momo tunggu :)

Momo