Terima Kasih
.
.
.
Casts : Jongin, Sehun, EXO members
Pairing : KaiHun (Kai x Sehun)
Genre : romance, angst, fluff
Rated : T Length : chaptered
Warning : boys love, don't like don't read, don't plagiarism please
Chapter 5
"Mau piknik di halaman belakang rumahku?" tawar Sehun ketika Jongin tengah berkunjung ke rumahnya pagi itu
"Boleh," jawab Jongin sambil tertawa. Dia baru saja berdiri di kursinya dan hendak berjalan ketika dia tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan terjatuh—
"Jongin!" pekik Sehun, untung dia segera memegang Jongin sebelum dia sempat terjatuh. "Kau tak apa?" tanyanya khawatir, akhir-akhir ini Jongin semakin sering jatuh tanpa sebab, membuatnya khawatir. Sehun berusaha membantu Kai berdiri.
"Tidak—ugh" Jongin memegang erat lengan Sehun sebagai tumpuannya karena dirasanya kakinya tidak dapat menopangnya berdiri. Rasanya seperti mati rasa.
"Jongin, kau kenapa—?" Sehun begitu terkejut karena Jongin tiba-tiba hampir merosot lagi jika tidak memegang lengannya sebagi tumpuan.
"Tidak apa-apa, mungkin aku hanya kelelahan sedikit" sahutnya dengan senyum dipaksakan. "Maaf, apa aku menyakiti lenganmu—?"
Sehun menggeleng keras. "Tidak, tidak sakit samasekali kok" ujarnya cepat. Dengan sigap Sehun melingkarkan lengan Jongin disekitar lehernya, membantunya berdiri. Seolah mengerti kesulitan yang dihadapi Jongin saat ini.
"Tidak usah—aku bisa jalan kok" Jongin menolak dengan halus, tetapi ia kehilangan keseimbangan kembali dan —hampir terjatuh lagi jika Sehun tak menyambar lengannya dengan cepat. Kenapa? Kenapa dengan kakinya? Jongin ingin sekali berteriak sekarang. Kenapa semuanya menjadi begitu sulit? —menyedihkan.
"Berpeganglah padaku" ucap Sehun menenangkan, padahal dalam hati dia begitu khawatir dengan Jongin yang tiba-tiba tidak bisa berjalan hari ini.
Jongin kenapa?
o-o-o-o-o-o
"Kubuatkan nasi goreng kimchi untukmu" Sehun menyodorkan nasi goreng buatannya yang telah dimasukkan ke dalam kotak bekal dengan riang. Berusaha melupakan kejadian buruk yang terjadi pada Jongin beberapa waktu yang lalu. Mereka mengadakan pinknik kecil de halaman belakang rumah Sehun dengan menggelar tikar berwarna kuning di atas rumput hijau halaman belakang.
"Terima kasih" Jongin tersenyum. Dia menatap nasi goreng itu dengan mata bersinar. Nasi goreng buatan Sehun!
Sehun hanya tertawa. "Ayo makan," ajaknya. Dan Jonginpun mengangguk. Dia mengambil sendok di sebelah kanannya dan mulai menyendok.
Tangannya terulur untuk mengambil nasi di dalam kotak.
Deg
Sulit.
Tangannya tiba-tiba terasa sangat sulit digerakkan. Jongin menghela napas pelan dan mencoba menggerakkan tangannya lagi dengan sekuat tenaga.
Tetap tidak berhasil.
Tangannya hanya dapat menggerakkan sendok yang dipegangnya sia-sia. Nasinya tidak dapat terambil. Tangannya gemetar dengan tiba-tiba.
Perasaan takut mulai merayapi hati Jongin.
Bagaimana ini? Kenapa tangannya tak dapat menuruti perintahnya?
—Kenapa?
"Jongin"
Jongin terlonjak. "Y-ya?"
"Kau baik-baik saja?" Sehun bertanya khawatir, dia melirik nasi goreng Jongin yang masih utuh. "Tidak enak ya?" Sehun bertanya sedih.
"Tidak-tidak, aku tidak bilang begitu. Kau lihat aku bahkan belum memakannya" Jongin berkata buru-buru melihat raut wajah Sehun yang mulai terlihat menyedihkan.
"Lalu kenapa tidak dimakan?" tanya Sehun langsung.
"Aku—tangan-ku..." Jongin berusaha memikirkan alasan yang tepat.
"Mau kusuapi?" tawar Sehun melihat Jongin yang kesulitan menjawab. Sehun pikir Jongin lucu sekali ketika malu-malu seperti itu. Menggunakan alasan yang cukup cerdas. Setidaknya begitulah pikir Sehun saat itu.
"Tidak usah nanti merepotkan—" tolak Jongin halus.
"Tidak kok—" dan sebelum Jongin sempat menolak lagi Sehun telah mengarahkan sendok berisi nasi goreng di depan mulutnya. "—aaa, buka mulutmu" perintahnya.
Jongin membuka mulutnya dengan patuh dan Sehun berhasil menyuapkan nasi itu dengan cukup baik.
"Bagaimana rasanya?" tanya Sehun cepat. Dia tidak sabar ingin mendengar komentar Jongin.
"Enak, ini enak sekali" ujarnya dengan mata berbinar saking enaknya. "Kau pintar memasak" pujinya lagi.
Sehun tersipu. "Terima kasih"
Jongin tersenyum, Sehun begitu manis dan baik, dia benar-benar beruntung. "aku bisa memakannya sendiri sekarang, kau bisa melanjutkan makanmu" ucap Jongin. Tangannya kini bisa bergerak dengan normal lagi, Jongin mendesah lega. Setidaknya dia ingin menggerakkan tangannya dengan bebas seperti ini untuk beberapa lama lagi sebelum semuanya menjadi mustahil baginya—
"Tidak boleh, aku akan menyuapimu" ucap Sehun cepat. Dan Jongin tidak akan bisa menghentikan permintaan Sehun.
Tak terasa hari mulai beranjak sore, matahari mulai menenggelamkan dirinya di balik bumi. Pertanda hari akan segera berakhir. Sehun dan Jongin telah memakan habis semua nasi goreng kimchi buatan Sehun beberapa saat yang lalu. Kini mereka hanya saling bersandar sambil memandang matahari terbenam yang tidak begitu jelas terlihat karena tertutup celah-celah pagar rumah Sehun.
"Cantik sekali" ucap Sehun tanpa sadar, dia merebahkan kepalanya dengan nyaman di bahu Jongin sambil memandang matahari terbenam.
"Kau lebih cantik," Jongin mencubit ujung Sehun dengan gemas.
"Aku tampan tau!" protesnya tak terima. Dia mendelik pada Jongin dengan bersungguh-sungguh, walaupun dalam hatinya sebenarnya senang sekali karena mendengar pujian Jongin.
"Haha, baiklah" Jongin tertawa. Suaranya begitu indah seperti gemerincing lonceng di teiinga Sehun. Dia mengeratkan pelukannya di bahu kekasihnya.
"Jongin—" bisik Sehun. Dia mengangkat kepalanya dari bahu Jongin dan menangkup wajah pemuda itu dengan kedua tangannya. Terlihat raut keterkejutan di wajah Jongin.
"Hmm?"
"Ada sisa makanan di sudut bibirmu—" Sehun mengusap sudut bibir Jongin dengan lembut, menghilangkan sedikit serpihan nasi yang menempel di sana. Gerakan tangannya tiba-tiba terhenti karena Jongin menggenggam tangannya erat.
"Sehun—" Jongin berbisik, dia mendekatkan wajahnya. "—aku mencintaimu"
Sehun merona lalu perlahan menutup matanya. "aku juga—"
Kedua insan tersebut akhirnya saling menyatukan bibir mereka di bawah hangatnya sinar matahari sore yang mulai memudar. Saling menyalurkan kasih sayang mereka satu sama lain lewat sebuah ciuman lembut yang penuh makna.
Cinta memang indah bukan?
Bersambung...
Sorry Momo telat ngepost dan ini chapternya pendek(khusus chapter ini adalah drabble). Sebenernya sih, ini sambungan dari chapter kemarin tapi takutnya terlalu panjang kalau disambung, jadilah Momo pisah.
Menurut kalian, apa chapter-chapter sebelumnya juga terlalu pendek? Cenderung ke drabble ya? Tapi yang ini paling parah ya? Kalau emang iya, nanti Momo tambahin deh ini yang terakhir chapter super pendek. Maaf ya :'( Momo sibuk banget ngurus ini itu, maunya aku tambahin tapi ga ada waktu.
Warn : beberapa chapter lagi sebelum tamat
Terima kasih buat para reviewer dan reader yang udah meluangkan waktu buat baca dan review ff ga jelas Momo ini. Makasih banget.
Momo
