Terima Kasih
.
.
.
Casts : Jongin, Sehun, EXO members
Pairing : KaiHun (Kai x Sehun)
Genre : romance, angst, fluff
Rated : T Length : chaptered
Warning : boys love, don't like don't read, don't plagiarism please
Chapter 6
Minggu pagi yang cerah.
"Ayo bersepeda" Jongin tiba-tiba sudah berada di depan kamar Sehun dan mengejutkan pemiliknya yang baru beberapa detik yang lalu bangun pagi. Dia sudah berbau wangi dan menggunakan kaus hitam serta celana jeans selutut berwarna biru tua. Benar-benar sudah siap.
"Mwo? Sepagi ini?!" ujarnya terkejut. Ayolah, ini baru jam 6 pagi dan Sehun sedang ingin bermalas-malasan dulu di hari Minggu tapi Jongin mengacaukan semuanya dengan rencana-tanpa-pemberitahuannya ini.
"Ya, cepatlah bersiap aku akan menunggumu di bawah" katanya kalem, tidak mendengarkan bantahan Sehun. Dengan langkah santai dia berjalan turun melewati tangga dan meninggalkan Sehun yang menatapnya dengan mulut terbuka lebar. Jongin tidak mendengarkannya?!
Aarghhh!
Dengan malas Sehun mandi dan memakai pakaian seadanya, dia benar-benar sedang tidak ingin bepergian hari ini sebenarnya. Tapi apa boleh buat..
"Jongin ayo" suara Sehun membuat Jongin yang sedang duduk di ruang tamu sendirian itu menoleh. Jongin terpaku.
Sehun terlihat begitu menakjubkan dengan kaus putih berbalut jaket dengan warna senada yang membuat kesan 'cute' padanya.
"Sehun, kau—"
Tapi perkataan Jongin terpotong. "Tunggu, aku ambil sepedaku dulu ya," Sehun berkata cepat dia hendak beranjak dari sana namun tangan Jongin lebih cepat menangkap lengannya, mencegahnya pergi.
"Siapa bilang aku mengizinkanmu bersepeda sendiri?" kata Jongin tenang.
"Apa yang kau katakan?" Sehun menyahut tidak mengerti. Bukankah Jongin mengajknya bersepeda bersama tadi. Tentu saja dia juga harus menyiapkan sepedanya juga bukan?
"Kau akan satu sepeda denganku, hehe. Ayoo!" Jongin menautkan jemarinya dengan Sehun dan langsung mengajaknya beranjak dari sana.
"Yak! Kim Jongin!"
o-o-o-o-o-o
"Naiklah, kenapa malah diam begitu?" Jongin menatap Sehun dengan heran karena pemuda itu hanya menatap sepeda Jongin dengan tatapan kosong.
Sehun menggeleng pelan. "Tidak mau, aku takut—"
"—takut?" ulang Jongin. "Kenapa"?
"Bagaimana kalau kau terjatuh lagi? Bagaimana kalau kau terluka? Bagaimana kalau—" ucapan Sehun tiba-tiba terhenti karena Jongin menatapnya dengan begitu lembut.
"Sudah?" tanya Jongin menenangkan.
Sehun hanya diam.
Jongin membelai lembut wajah pucat Sehun lalu tersenyum. "Dengarkan aku, aku tidak apa-apa. Aku tidak akan terjatuh, terluka, atau apapun yang kau khawatirkan selama ini. Kau tahu kenapa?"
Sehun menggeleng pelan, matanya terlihat berkilau karena air mata yang tiba-tiba menggenang secara tidak sadar di pelupuk matanya. "Kenapa?"
"Karena aku membawa seseorang yang sangat berharga, orang yang kucintai, dan aku tidak akan membuatnya ikut terluka hanya karena kecerobohanku" Jongin mencium bibir Sehun. "Kau percaya padaku?"
Sehun meremas kuat ujung kaos Jongin. Sedikit khawatir sebenarnya, tapi akhirnya dia mengangguk juga.
"Bagus" Jongin tertawa. "Sekarang naiklah"
Dan hari itu, mereka menikmati kencan mereka untuk pertama kalinya.
o-o-o-o-o-o
Ini hari ulang tahun Sehun.
Jongin sedang menanyainya tentang apa yang paling dinginkannya hari ini.
"Berjanjilah untuk menikah denganku suatu hari nanti, dan kita akan membangun sebuah keluarga yang bahagia," begitulah jawab Sehun, dia menatap Jongin dengan mata bersinar bahagia sambil memegang sebuah boneka beruang besar hadiah dari Jongin.
Jongin tercekat, ia sangat ingin mengiyakan permintaan Sehun tapi dia tahu bahwa tak akan dapat menepati janjinya. Jongin tak ingin berbohong. "Se-sehun—"
"Kenapa? Apa kau tak mau menikah denganku?" mata Sehun yang beradu pandang dengan Jongin saat itu berubah sayu.
"Tidak-tidak, bukan begitu..." Jongin berkata cepat-cepat, tak ingin merusak kebahagiaan Sehun di hari yang sangat bersejarah baginya itu.
"Berjanjilah padaku kalau begitu" Sehun menatap Jongin lembut lalu menariknya mendekat.
Jongin menghela napas pelan.
Maafkan aku.
"Baiklah, aku berjanji..."
"Terima kasih, Jongin" dan Sehun memeluk kekasihnya itu dengan senang lalu meniup lilin di kue ulang tahunnya dengan gembira.
Semoga harapannya dapat terkabul.
o-o-o-o-o-o
Waktu berputar terlalu cepat.
Sehun samasekali tidak menyangka bahwa hari ulang tahunnya yang ke-17 kemarin adalah terakhir kalinya dia bertemu dengan sosok Jongin yang masih sehat. Selang beberapa lama kemudian kekasihnya itu bahkan tidak dapat berjalan lagi samasekali dan ia harus duduk di kursi roda sepanjang waktu jika ia ingin bepergian.
Jongin begitu kurus sekarang, seperti tinggal tulang berbalut kulit. Ia sudah berhenti sekolah dikarenakan kondisi kesehatannya yang semakin memburuk. Kini ia tinggal di rumah sakit sepanjang hari untuk pengobatannya. Tidak ada lagi nada-nada jahilnya ketika menggoda Sehun. Tidak ada lagi protes kesalnya ketika Sehun balas menjahilinya. Tidak ada lagi cengiran bodohnya ketika Sehun memarahinya, dan tidak ada lagi belaian lembut Jongin dirambutnya.
Karena Jongin...
...juga begitu kesulitan menggerakkan kedua tangannya sekarang.
Sehun menunduk, air matanya sudah tidak terbendung lagi.
Melihat Jongin yang tidak pernah mengeluh dan berusaha tetap tersenyum di samping Sehun justru membuat hatinya semakin sakit.
Kenapa harus Jongin? Orang yang paling disayanginya—yang harus terkena penyakit bodoh itu?
Sehun ingin sekali mengutuk penyakit itu—jahat.
Dia merenggut semuanya. Tawa Jongin. Kebebasan Jongin.
—Kebahagiannya.
Penyakit yang begitu jahat yang perlahan mengambil alih seluruh kendali sistem saraf Jongin, membuatnya tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya sesuai keinginannya.
Kenapa harus Jongin?
Jongin begitu pintar menyembunyikan semuanya dari Sehun, padahal jelas-jelas gejalanya begitu nyata di depannya. Jongin yang sering terjatuh tanpa sebab, Jongin yang terkadang tak dapat meraih benda di depannya, Jongin yang sering menjatuhkan sumpitnya dengan begitu tiba-tiba... Sehun benar-benar bodoh karena tidak menyadari bahwa kekasihnya itu mengindap penyakit itu sampai penyakitnya sudah terlanjur terlalu parah saat ini.
— Spinocerebellar Degeneration—penyakit mengerikan yang menyerang sistem saraf dan bahkan belum di temukan obatnya sampai saat ini. Terapi dan pengobatan hanya akan sedikit memperpanjang waktu hidupnya yang memang sudah memendek sejak awal.
Penyakit yang menakutkan.
Yoora noona memberitahunya beberapa hari yang lalu tepat ketika Jongin tiba-tiba tidak dapat berjalan samasekali dan akhirnya noona membawanya ke rumah sakit. Jongin lalu dirawat di sana sampai hari ini, menjalani berbagai macam terapi dengan pengawasan dokter. Walaupun semuanya terlihat sia-sia...
Sehun ingat, bagaimana sedih dan terkejutnya ia saat itu...
"Sehunn-n" suara serak Jongin menyadarkan Sehun dari lamunan panjangnya. Dia menoleh lalu tersenyum pada Jongin yang terlihat sedang berusaha keras untuk berbicara.
"Ya?" jawabnya lembut. Jemari lentiknya membelai wajah Jongin yang terlihat semakin tirus. Mereka kini berada di taman rumah sakit untuk beristirahat sejenak setelah Jongin selesai melakukan terapinya seperti biasa.
"Jangan menangis" tangan ringkihnya terulur dengan gemetar dan menghapus air mata di pipi putih Sehun.
Sehun menangkap tangan Jongin di pipinya dengan lembut dan menahannya di sana. Dia menggenggam tangan Jongin erat. Sehun memejamkan matanya, merasakan sentuhan lembut Jongin di pipinya yang sudah lama dirindukannya. "—aku tidak menangis"
Jongin tersenyum pedih. Ia tahu Sehun benar-benar menangis. Butiran kristal jelas-jelas mengalir di pipi putihnya.
"Kau tidak boleh menangis..." Jongin berujar pilu. Melihat Sehun menangis membuat hatinya terasa tersayat.
"Kubilang tidak—" Sehun mengusap air matanya kasar. Tapi kelihatannya sia-sia karena bulir bening itu terus mengalir dari mata jernihnya."—lihat kan?" dia memaksakan sebuah senyum di depan kekasihnya.
"M-maaf," Jongin tertunduk. Merasa begitu bersalah melihat Sehun saat ini.
Sehun menangkup wajah Jongin dengan jemari putihnya, memaksa pemuda itu menatapnya. "Jongin tidak perlu minta maaf—" katanya lembut dengan mata sayu.
"Tap-pi Sehu-un menangi-s—" Jongin berkata dengan susah payah. Ia begitu merasa sedih hari ini, tapi seorang namja tidak boleh menangis bukan? Sudah cukup ia bersikap kekanakan dengan mengurung diri di kamarnya selama dua hari sejak Yoora noona memberitahunya bahwa ia tidak akan bersekolah lagi karena penyakitnya sudah hampir mencapai stadium akhir. Sudah cukup ia menyesali hidupnya yang begitu menyedihkan. Sudah cukup baginya untuk membuat Sehun sangat mengkhawatirkan kesehatannya yang semakin menurun. Sudah cukup.
Jongin sangat mengerti bahwa waktunya tidak akan lama lagi. Yang terpenting sekarang adalah menjalani sisa hidupnya dengan baik bersama orang yang dikasihinya dan bukan malah berputus asa. Jongin harus memastikan mereka semua bahagia sebelum ia benar-benar pergi nanti.
"Kau ingin aku berhenti menangis?" Sehun menatap Jongin sedih. Dia meraih kedua tangan Jongin dan menggenggamnya hangat.
Jongin mengangguk.
"Berjanjilah padaku—" Sehun tercekat. Matanya mulai kembali memanas. "—berjanjilah untuk tetap disisiku. Kau harus sembuh sehingga kita bisa menikah suatu hari nanti. Kita akan membangun sebuah keluarga kecil bersama dengan begitu banyak cinta di dalamnya. Secangkir kopi hangat di pagi hari akan selalu tersedia untukmu. Aku akan melahirkan banyak anak untukmu, bukankah kau menyukai anak kecil? Kita akan menjadi mama dan papa. . .Selalu bersama mendampingi mereka sampai dewasa. Kau dan aku akan berbahagia dan selalu berbagi tawa. Jonginn...kumohon, kau harus sembuh—" bahu Sehun bergetar pelan ketika ia mengatakan itu semua. Air matanya mengalir kembali. Kenapa ia begitu takut sekarang? Begitu takut Jongin akan pergi meninggalkannya suatu hari nanti...
Tangan Jongin balas menggenggam tangan Sehun lembut. Tak ingin membuat kekasihnya itu menangis lagi.
"Hey, aku tidak pernah ingkar janji kau tahu? Tapi kaulah yang sering melupakannya" Jongin terkekeh jahil. Sudah lama sekali rasanya sejak Sehun terakhir kali mendengar tawa Jongin.
Tangan Jongin mengeratkan genggamannya pada tangan Sehun, ia kan hanya bercanda, Sehun kelihatannya jadi terpuruk sekali. Jongin jadi merasa bersalah. Dia meraih kepala Sehun dengan sebelah tangannya dan membuatnya menatapnya.
"Jongin..." Sehun tertegun, Jongin tersenyum lebar kepadanya. Sudah lama sekali ia tidak melihat senyum itu. Dia kemudian tertawa, membuat Sehun merasa begitu —dicintai
"A-aku berjanji..." jawab Jongin dan Sehun tersenyum, kemudian merengkuh tubuh kekasihnya ke dalam sebuah pelukan hangat. Saling menyalurkan kasih sayang masing-masing yang begitu membuncah sekarang. Tangan Sehun melingkar erat di leher Jongin dia menghirup dalam-dalam aroma tubuh kekasihnya itu, aroma mint yang menyegarkan. Membuatnya tenang. "Terima kasih Jongin..."
"Hey..." tegur Sehun setelah ia melepas pelukannya.
"Hm?" Jongin menatap Sehun dengan tatapan bertanya.
"Kau sudah berjanji padaku, jangan mengingkarinya..." Sehun terlihat sedih kembali. Padahal tadi sudah ada seulas senyum yang terukir di bibirnya.
"Ya, tentu saja" Jongin menatap Sehun, menunjukkan kesungguhannya. Ya dia sudah berjanji, tak akan mengingkarinya. Dia harus sembuh.
Sehun terkekeh pelan.
Setidaknya Jongin telah berjanji bukan?
Bersambung...
Momo update kilat, yehet! Bakalan aku selesaikan minggu ini (kalau review memenuhi)
Aku bakalan sisipin keceriaan dikit kok, tenang aja.
Semakin banyak review semakin cepat update, Momo harap kalian ga lumutan nunggu, hihihihi
Warn : kematian tokoh di end chapter nanti agak mengerikan dan aneh, jangan baca kalau gak kuat. Aku buat kematian yang ga normal penyebabnya.
Jadi jangan sungkan untuk review :)
Momo
