Terima Kasih

.

.

.


Casts : Jongin, Sehun, EXO members, Wendy (RV)

Pairing : KaiHun (Kai x Sehun)

Genre : romance, angst, fluff

Rated : T Length : chaptered

Warning : boys love, don't like don't read, don't plagiarism please


Chapter 7


Silau

Jongin berusaha membiasakan diri dengan cahaya menyilaukan mata di depannya.

Ia bangkit dari tidurnya dan mengamati sekelilingnya dengan penasaran.

Dimana ini?

Itulah pikiran pertama yang muncul di benak Jongin.

Tempat ini begitu asing. Sebuah tempat yang sangat luas berlantai putih dengan tiang-tiang putih tinggi menjulang yang berada di sekeliling tempat itu.

Keadaan di sana sangat terang tetapi tidak terasa panas sama sekali dan bahkan Jongin merasakan kenyamanan ketika berada di tempat itu.

Jongin mencoba mengelilingi tempat tersebut untuk mencari tahu siapa tahu ada pintu keluar di sana.

Tapi nihil.

Tidak ada satu jalan keluar pun di sana dan Jongin benar-benar bingung. Ruangan itu bagaikan tak berujung, selalu ada jalan baru setiap kau melangkah.

Tuk tuk tuk.

Suara ketukan sepatu yang bersentuhan dengan lantai tiba-tiba terdengar.

Siapa itu?

Jongin mematung di sana sembari melihat sesosok orang yang berjalan mendekatinya dari kejauhan.

"Hai," sosok itu tepat berada di depan Jongin sambil tersenyum ramah. Sosok cantik berkulit putih pucat dengan rambut pirang yang menawan. Dia mengenakan sebuah terusan putih yang sederhana tetapi terlihat begitu pas di tubuh rampingnya. Rambut pirangnya berhiaskan beberapa untaian bunga putih yang melingkar mengelilingi kepalanya. Orang yang sangat cantik.

"Siapa kau?" tanya Jongin ingin tahu.

"Aku malaikat penjagamu sayangku," orang itu tersenyum cerah, bibir mungilnya membentuk seulas senyum. Dia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, "Namaku Wendy"

Kai menjabat tangan gadis itu dengan ragu.

Sejak kapan dia bisa melihat malaikat penjaganya seperti ini?

"Namaku Jongin," Jongin memperkenalkan dirinya balik.

"Jangan khawatir, aku tak akan melukaimu," Wendy tersenyum lembut, seakan mengerti keraguan yang tersirat di wajah Jongin.

Jongin mengangguk, dia balas tersenyum. "Dimana ini? Apa kau yang membawaku keluar dari rumah sakit? Aku harus segera kembali ke sana, keluargaku pasti sangat khawatir—"

"Jongin sayang, kau mau mendengar ceritaku?" Wendy menatap anak itu dengan sendu, dia mengusap kepala anak yang dijaganya ini dengan lembut.

"Cerita?"

"Ya," Wendy mulai berjalan, dia mengisyaratkan Jongin untuk mengikutinya dan akhirnya mereka berjalan berdampingan di tempat asing tersebut. Melewati tiang-tiang raksasa yang berada di kanan kiri jalan.

"Jongin"

"Ya?"

Wendy menatap jalanan bercahaya yang mereka lalui. "Kau tahu heaven's waiting room?"

Jongin menggeleng, "Apa itu?"

"Sebuah tempat penantian" Wendy bergumam, lebih kepada dirinya sendiri.

"Apa maksudmu?"

"Heaven's waiting room , adalah tempat ini, sebuah tempat pemberhentian sebelum kau benar-benar dapat ke surga,". Langkah Wendy terhenti, gadis itu menatap Jongin lekat-lekat. "Kau sudah meninggal sayangku, maafkan aku..."

Mata Jongin membulat terkejut, "T-tidak mungkin, kau pasti bercanda kan?" dia berusaha mencari kebohongan di mata gadis itu, tetapi dia tidak menemukan apapun. Wendy berkata yang sebenarnya.

"Jongin—"

"DIAM!" Jongin bergerak mundur, dia memegangi kepalanya erat. Rasanya dia begitu gila sekarang

Ini tidak mungkin kan?

Jongin belum ingin mati!

Dia berlari sekuat tenaga menjauhi Wendy. Kemanapun asal jangan di dekatnya. Dia pembohong!

"S-sehun!"

"Sehun!"

"SEHUN!"

Jongin berteriak memanggil-manggil Sehun. Jongin ingin bertemu dengannya...

Ingin sekali bertemu, sampai rasanya tubuh Jongin menggigil hanya karena memikirkannya.

Sekali saja, ingin bertemu

Jongin belum benar-benar mati kan?

"Yoora-noona.."

Air mata meleleh di mata Jongin. Bagaimana keadaan mereka sekarang?

Jongin terus berlari. Dia mengusap air matanya kasar.

"Mereka pasti sedih sekali..." Jongin tertunduk putus asa, dia mengatur napasnya yang begitu memburu. "Ini tidak nyata kan?" gumamnya pilu.

Jongin memeluk tubuhnya sediri.

Bayang-bayang Yoora-noona dan Sehun yang sekarang histeris karena kematiannya membuat kepalanya serasa ingin pecah!

"Sehun, maafkan aku..." Jongin bergumam lirih.

Janji—

Ia bahkan tak dapat menepati janji terakhirnya pada Sehun...

Jongin meraba dadanya.

Denyut jantungnya telah benar-benar menghilang.

Dia juga baru menyadari bahwa dia bisa bergerak dengan bebas tanpa bantuan alat-alat rumah sakit lagi. Impian yang sudah sangat lama diidamkannya justru ada di saat yang sudah sangat terlambat.

Hati Jongin terasa tersayat.

"Kim Jongin..." Wendy tiba-tiba telah berada di samping Jongin, memandangnya prihatin.

Jongin hanya bergumam sedih dia turtunduk dengan pandangan kosong.

Apalagi yang bisa dilakukannya sekarang?

Dia sudah mati, tak bisa lagi mengucapkan terima kasih pada semua orang yang telah membantunya selama ini. Tak dapat meminta maaf karena tidak dapat lagi berada di samping mereka. Tidak dapat—

"Kematian tidaklah seburuk itu," Wendy mencoba menghibur Jongin. Tangan pucatnya menepuk bahu pemuda itu, menguatkannya.

"Tidak," Jongin menggeleng. Kematian begitu mengerikan hingga membuatnya serasa ingin tercekik, dikungkung oleh ketidakberdayaan. Jongin sangat membencinya.

Wendy menghembuskan napas pelan. Orang yang baru saja meninggal memang biasanya kurang bisa menerima takdir mereka sendiri. Tapi sebenarnya tak ada lagi yang dapat mereka lakukan karena Grace Yang Agung –pengantar jiwa-jiwa ke surga sebentar lagi akan datang menjemput dan membawa Jongin pergi dari tempat penantian ini.

"Jongin kau harus bisa menerimanya..."

"Tidak, tidak sebelum aku mengucapkan selamat tinggal pada keluargaku. Aku tidak akan pergi kemanapun!" teriak Jongin frustrasi. Bayangan-bayangan Sehun dan Yoora-noona berkelebat dengan cepat di kepalanya, dia sangat ingin menemui mereka.

"Jongin..." Wendy mendesah sedih. Dari kejauhan, dia melihat kegelapan mulai menyelimuti ruangan itu. Itu berarti Grace Yang Agung akan segera datang dan mereka tidak punya banyak waktu lagi.

"Kumohon..." Jongin terlihat begitu putus asa.

"Jongin tapi—"

"Sekali saja, tolonglah aku" pinta Jongin sedih. Dan Wendy tidak tahu harus melakukan apa sekarang sementara bayangan kegelapan mulai menyelimuti tempat itu. Kematian yang sesungguhnya sudah benar-benar dekat dengan Jongin.

"Baiklah..." Wendy akhirnya mengalah. Melihat Jongin yang terlihat begitu sedih saat ini membuatnya tidak tega juga. Biar bagaimanapun dia adalah anak yang ia jaga.

Jongin tersenyum cerah. "Terima kasih,"

Wendy hanya mengangguk. Dia menutup matanya dan seketika cahaya putih menyelimuti tubuhnya dan sepasang sayap perak muncul dari punggungnya.

"K-kau punya sayap!" pekik Kai terkejut.

Wendy tersenyum, "Ini bukan saatnya membicarakan hal itu sayang, kau harus bergegas sebelum kegelapan menelan habis ruangan ini," Wendy menunjuk ke arah belakang Jongin, tempat dimana ruangan tersebut mulai ditelan oleh kegelapan –kematian.

Kai bergidik panik. "Apa yang harus kulakukan sekarang?"

"Tutup matamu," perintah Wendy. "Aku akan mengembalikanmu ke waktu 12 menit sebelum kematianmu, setelah itu kau harus benar-benar pergi sayangku,"

Jongin mengangguk patuh. Dia menutup matanya cepat.

Sesuatu yang lembut menyentuh dahinya dan Jongin tiba-tiba merasa kesadarannya memudar.

"Aku akan menghilangkan sedikit penyakitmu agar kau bisa lebih mudah melakukan perpisahan..." Jongin mendengar Wendy berbisik sebelum semuanya menjadi gelap.

Jongin tersenyum, "Terima kasih..."


o-o-o-o-o-o


Pukul berapa ini?

Jongin menoleh ke sampingnya, ada Sehun tertidur di sana, dia benar-benar telah kembali ke raganya. Bau antiseptik khas rumah sakit kembali tercium.

Pukul 3 pagi.

Jadi inilah saat-saat kematiannya...

Aroma hujan menyeruak ke rongga hidung Jongin. Hujan gerimis di luar membuat pagi itu terasa begitu dingin.

Tik tik tik

Detik jarum jam terasa bagaikan sebuah bom waktu sekarang.

Jongin mencoba bangkit dari tempat tidurnya dan bersender pada kepala ranjang. Dia bersyukur karena dapat menggerakkan tangannya sedikit lebih mudah. Terakhir kali Jongin ingat dia bahkan sama sekali sudah tidak dapat bangkit dari tempat tidurnya.

Jongin menggerakkan tangannya, menyentuh rambut halus kekasihnya yang kini tertidur tepat di samping ranjangnya. Dia tersenyum sendu, pasti pegal sekali tidur dengan kepala saja yang bertumpu pada ranjang seperti itu.

Jongin memindahkan posisi Sehun agar dapat tidur lebih nyaman dengan susah payah. Berusaha agar tidak membangunkan kekasihnya tersebut.

Sehun menjadi begitu kurus dan pucat.

Wajahnya menyiratkan gurat-gurat kelelahan.

Pasti karena ia begitu lama mengurus Jongin sehingga jarang terpapar sinar matahari, kulitnya menjadi pucat begini.

Jongin jadi merasa begitu bersalah telah membuat Sehun seperti ini, sepertinya ia telah menyusahkan banyak orang

Kilasan-kilasan balik mengenai kisahnya dengan Sehun berputar cepat di benaknya. Tingkah konyol Sehun semasa kecil, sikap jutek tapi perhatiannya semasa SMA, kencan pertama mereka, cokelat, ciuman pertama...

"Jongin?" suara kecil Sehun tiba-tiba terdengar. Pemuda itu bangun dari tidurnya dan menatap Jongin terkejut. "Kau dapat bangun?" pekiknya terkejut. Terlihat raut kebahagiaan yang begitu kentara di wajahnya, dan Jongin ikut senang melihatnya.

"Begitulah, keajaiban?" Jongin tersenyum dan mengusap wajah tirus Sehun. Ah, dia harus lebih banyak makan nanti setelah Jongin pergi.

"Keajaiban yang menyenangkan," Sehun tertawa, dia memeluk erat-erat Jongin. Begitu rindu untuk memeluk kekasihnya ini.

Jongin membalas pelukannya, senang dengan Sehun yang terlihat begitu ceria saat ini. "Kau harus banyak makan, jangan tidur terlalu larut, dan banyaklah pergi untuk berjalan-jalan," nasihat Jongin.

"Baiklah," Sehun mengangguk dalam pelukan mereka, saling berbagi kehangatan di cuaca dingin pagi itu.

03.05

"Sehun,.."

"Hmm?"

"Terima kasih untuk segalanya..."

Sehun melepas pelukan mereka, dan mengangguk senang.

Jongin tersenyum dan meraih tengkuk pemuda itu, membawanya ke dalam sebuah ciuman yang begitu lembut. Ia menutup matanya erat, ingin menciumnya selamanya...

Tapi ia tau bahwa perjalanannya hidupnya akan berakhir hari ini juga, ia tidak akan bisa...

Seluruh kenangannya bersama Sehun nantinya juga akan menghilang seiring berjalannya waktu bukan?

Ia akan terlupakan

"Jongin kenapa?" tanya Sehun terkejut ketika menyadari air mata turun dari pipi Jongin. Ia menghapusnya dengan khawatir. "Apa ada yang sakit?"

Jongin menggeleng lalu tersenyum lemah. "Aku hanya terlalu mencintaimu"

"Aku juga sangat mencintai Jongin," Sehun tersenyum dan Jongin mengusap rambutnya dengan lembut.

Hening beberapa saat sampai suara Jongin menginterupsi mereka. "Sehuna, bisakah kau memanggilkan Yoora-noona, aku ingin bicara," pinta Jongin.

Sehun mengangguk dan dia membangunkan Yoora -noona yang tidur di sofa panjang di seberang ruangan Jongin.

"Jonginie? Ada perlu apa sayang?" Yoora noona tersenyum lembut pada Jongin. Matanya terlihat sayu dan dia kelihatan kurang sehat. Mungkin dia bekerja terlalu keras untu pengobatan Jongin. Ah, Jongin telah membuat banyak orang yang disayanginya menderita rupanya...

"Aku ingin memeluk noona" pinta Jongin, dia merentangkan kedua tangannya. Yoora-noona kelihatan sedikit terkejut walaupun akhirnya memeluk adik semata wayangnya ini. Dia senang Jongin terlihat lebih sehat sekarang, hanya Jonginlah satu-satunya keluarga yang dia miliki. Yoora akan melakukan apapun untuk menyembuhkannya, mengembalikan senyumnya, keceriannya...

Tubuh adiknya terasa begitu kurus di pelukannya dan Yoora merasa Jongin memeluknya dengan begitu erat...

"Aku sayang noona," bisiknya.

Yoora tersenyum, "Aku juga menyayangi Jonginie, cepatlah sembuh, ne?"

Jongin hanya tersenyum, air matanya mengalir lagi.

03.09

Ah, dia tidak memiliki banyak waktu lagi.

Jongin melepas pelukan mereka, "Aku akan pergi hari ini," bisiknya parau. Ia benar-benar tak akan bisa berada di sisi kedua orang yang sangat dikasihinya ini. Tak lagi dapat menemani mereka tertawa. Tak dapat menemani mereka melewati suka dan duka lagi seperti dulu.

Kim Jongin akan segera pergi ke tempat yang sangat jauh dan hanya akan bisa mengamati mereka dari kejauhan tersebut.

"A-apa maksudmu Jonginie?" Sehun mulai was-was melihat senyum ganjil di wajah pucat Jongin. Senyum yang terlihat dipaksakan.

"Sudah waktunya..." Jongin berusaha memberi mereka pengertian. "Sudah waktunya aku pergi dan kaliah harus bisa menjalani hidup tanpaku..."

"Jongin! Jangan bicara yang tidak-tidak!" Sehun menjerit di sampingnya dan mulai menangis. "Kau tidak akan pergi kemanapun, kau akan sembuh, percayalah padaku" Sehun menggenggam erat tangan Jongin. Yoora-noona mulai terisak di samping mereka.

Jongin menggeleng, "Tidak Sehuna, aku harus benar-benar pergi," Jongin menatap Sehun putus asa dan mengusap air matanya. "Sehuna dan noona jangan menangis..."

"Jonginie..."

03.11

"Ma-af tidak dapat m-nenepati janji, kaliah harus bahagia.." suara Jongin mulai melemah. Kondisi tubuhnya yang sebenarnya sepertinya perlahan mulai kembali. Jongin tersenyum lemah ketika Yoora noona dan Sehun mulai memeluknya.

Ah sudah waktunya kah?

"Jangan pergi..."

Suara siapakah itu?

Sehun?

Yoora noona?

Entahlah, Jongin tidak dapat mendengarnya dengan baik. Seluruh tubuhnya terasa sangat sakit sehingga ia sudah tidak mampu lagi menahan rasa sakitnya.

Kesadarannya mulai menjauh...

Jongin tersenyum

Terima kasih

Tik Tik Tik

03.12

"Jongin!" sebuah teriakan memilukan terdengar. Teriakan yang terkahir kali Jongin dengar sebelum ia benar-benar menutup matanya.

Ternyata begini ya akhirnya

Ternyata perjalanan hidupnya cukup sampai di sini saja

Sekonyong-konyong Jongin melihat Wendy tersenyum di sampingnya. Matanya menyiratkan penyesalan yang mendalam atas kematian Jongin.

"Ayo, Grace Yang Agung telah menunggumu" Wendy mengulurkan tangannya dan Jongin menyambutnya. "Kau sudah berjuang dengan keras selama 1,5 tahun ini," dia berusaha menghibur Jongin. Di belakang mereka, Sehun dan Yoora-noona menangis hebat di samping tubuhnya yang kini terbujur kaku. Membuat hatinya berdenyut sakit.

Jongin hanya mengangguk. Dia memandang mereka lama sebelum ia benar-benar pergi dari sana.

Wendy tersenyum, "Ingin mengucapkan selamat tinggal sekali lagi?" tawarnya.

Jongin terlihat terkejut, "Bolehkah?"

Wendy mengangguk, ia melebarkan sayapnya, cahaya putih yang Jongin lihat sebelumnya kini tampak kembali.

Dan Jongin perlahan melihat kedua orang ang sangat dicintanya itu menatap ke arahnya dengan tatapan terkejut, mereka bisa melihat arwah Jongin...

"Jongin..." Yoora-noona berbisik takjub. Adiknya kini terlihat begitu sehat dan bersinar sekarang, seorang malaikat putih yang cantik tampak di sana untuk menjaganya...

Jongin telah sepenuhnya terbebas dari rasa sakitnya.

Dilihatnya Sehun juga memandang Jongin takjub.

Jongin tersenyum hangat, ia melambaikan tangan kepada mereka berdua untuk terakhir kalinya.

Selamat tinggal...

Sehun dan Yoora-noona hanya bisa menangis, ketika tubuh Jongin dan malaikat di sampingnya perlahan berubah menjadi kabut putih yang kemudian melayang di angkasa lalu lenyap.

Jongin telah benar-benar pergi.


o-o-o-o-o-o


Kepada: Yoora-noona dan Sehun

.

Hai noona, hai Sehunnie

Ah, waktunya sudah benar-benar tiba ya

Kuharap kalian tidak terlalu bersedih ketika aku pergi

Maaf ya aku tidak bisa menemani kalian sampai akhir

Ternyata aku hanya sampai di sini saja untuk menemani kalian.

Aku sangat menyayangi kalian

Terima kasih atas waktu-waktu yang sangat berharga yang kalian beri untukku

Terima kasih atas segala cinta dan kasih yang kalian berikan

Terima kasih atas kesabaran kalian dalam mengurusku

Terima kasih atas segalanya

.

-Kim Jongin


Fin.


Udaah tamat kaaaan? huhuhu maaf baru update dan jadinya malah ancur gitu.

Silakan tuangkan pendapat readers ya, gimana dengan ending yang ini? Kritik saran? Boleeh looh

Atau ada yang gak ngerti sama ceritanya? bisa PM saya :D

Oh ya, ini kematiannya terinspirasi dari sana-sini dan ga jadi terlalu mengerikan ataupun sama kayak ending filmnya~

Ada yang tau Wendy Red Velvet? Cantik banget pas MV Ice Cream, berasa liat malaikat. Jadi Momo buat jadi malaikat deh disini :P

Finally, terima kasih buat yang udah ngeluangin waktu buat baca bahkan review, Momo ngehargain banget looh.

Seperti janji di chapter awal, saya akan balas semua review atau pertanyaan di ff ini di akhir cerita. Saya bakal balas lewat PM jadi harus pake akun resmi yaa :D silakan komen mau tanya apa.

Love,

Momo